
Rumah tangga Mario dan Soraya berjalan dengan penuh keharmonisan dan keromantisan, apalagi setelah keduanya saling terbuka dan saling mencoba memahami satu sama lain.
Soraya terus berusaha mengimbangi Mario yang orangnya keras, tapi di balik itu semua Mario orang yang sangat penuh kasih sayang.
Ada kalanya Mario emosi, Soraya lebih memilih untuk diam. Dan ketika Mario sudah melunak barulah dirinya mulai berani bicara menjelaskan dengan perlahan.
Begitu juga sekarang ada saatnya Soraya juga berani bicara keras, dan ketika itu terjadi biasanya Mario malah mencoba menggodanya sehingga selalu terjadi Soraya jadi batal marah.
Ketika Soraya melahirkan anak pertamanya, Mario menemani dan menyemangati istrinya. Bahkan ketika bayi lahir, Mario yang pertama memeluk anaknya setelah dimandikan.
Mario membisikan doa untuk anak bayi perempuan pertamanya, dan karena kebetulan lahir di bulan Desember, maka anaknya diberi nama Natalia Mayana Maliangkay.
Soraya bahkan merasa begitu semakin cinta kepada suaminya karena Mario begitu perhatian kepadanya dan anak mereka.
Keputusan mereka berdua untuk tidak memakai jasa pengasuh bayi, tapi Soraya sendiri yang akan mengurus anak mereka.
Hanya saja mereka memakai jasa pembantu sambatan yang datang pagi atau siang hari, sekedar membersihkan rumah, mencuci dan menyetrika pakaian, setelah selesai bisa pulang.
Setiap sore sepulang bekerja, Mario segera mandi lalu setelah itu langsung bersama bayi kecilnya.
Mario tak merasa jijik ketika mengganti popok yang kotor, bahkan tengah malam pun bangun ketika harus membersihkan kotoran anaknya.
Urusan memandikan anak itu menjadi tugasnya setiap pagi dan sore hari, begitu juga urusan berjemur bersama anaknya di pagi hari selalu dilakukannya.
Mario tegas kepada Soraya, tidak ada acara istrinya menginap bersama bayi di rumah ibunya atau mertuanya hanya berdua saja.
Kalau harus menginap juga harus satu paket dengannya atau mertua dan orang tuanya bertandang saja ke rumah mereka juga sebaliknya.
"Aku tak mau anakku seperti anaknya Bang Robert, mereka menjadi anak nenek dan kakek juga tergantung kepada pengasuh, manja semuanya. Anakku harus menjadi anak yang mandiri," itu yang Mario katakan kepada Soraya.
Kadang suka ada rasa kasihan kepada Ibu Wongso, beliau sering rindu dengan cucu kecilnya tapi mau bagaimana,
Soraya dan bayi tak boleh menginap di rumahnya, kalau mau Ibu Wongso menginap di rumah sewa menantunya juga tak mungkin.
Rumah kecil, memang ada dua kamar tidur yang satu ditempati anak mantu sedangkan satu lagi penuh dengan lemari dan berbagai barang lainnya.
Mario sebenarnya memang sedang membangun rumah sendiri, dulu Hansen Maliangkay ayahnya membeli tiga petak tanah di beberapa lokasi.
Tanah itu untuk ketiga anak lelakinya, Robert sudah mendirikan rumahnya sementara Mario saat ini sedang tapi sering tersendat.
Pekerjaan Mario adalah membangun atau merenovasi rumah konsumen yang meminta jasanya, sehingga untuk menyelesaikan rumahnya sendiri menunggu kalau sedang tidak ada permintaan pekerjaan, baru dia bisa meminta timnya mengerjakan pembangunan rumahnya.
Sudah hampir dua tahun mereka menyewa rumah dan rumah tinggalnya masih belum selesai sempurna.
"Bang Rio, maaf aku ingin tahu sebenarnya rumah yang sedang Abang buat itu tinggal apa lagi yang belum selesai, kalau misal sudah ada sekedar kamar tidur dan kamar mandi sih, kita pindah saja kesana. Sayang Bang uang sewanya, kan bisa untuk hal lain," tanya Soraya di suatu sore.
Mario diam merenung, rumah mereka memang belum juga selesai, kalau dihitung baru sekitar tujuh puluh lima persen.
Melihat bayinya yang sekarang sudah berusia empat bulan, Mario menjadi khawatir juga kalau harus segera pindah ke sana.
Selain debu, juga banyak besi dan bahan bangunan lainnya, bahkan air juga belum mengalir.
"Iya yah, tengat waktu sewa rumah ini tinggal tiga bulan lagi, sementara sekarang masih ada pekerjaan pembangunan pabrik dan gedung perkantoran. Bulan depan ikut tender pembangunan jalan tol. Nanti aku pikirkan yang terbaik yah. Kamu sabar saja dan urus anak kita dengan baik," sahut Mario sambil terlihat berpikir keras, melihat itu Soraya tak berani lagi bicara atau membahas soal rumah.
Soraya mulai paham, Mario kalau sudah sekali bicara pasti akan sungguh memikirkan apa yang terbaik untuk keluarga, jadi tinggal tunggu saja pasti sebentar lagi juga akan segera melakukan hal yang diminta tersebut.
Suatu hari di rumah orang tua Mario akan diadakan acara, seluruh keluarga besar diundang. Perayaan ulang tahun Oma Elisabeth sekaligus syukuran karena Oma sudah sembuh dari sakitnya.
Beliau tahun akan berulang tahun yang ke tujuh puluh lima tahun, walau sering sakit karena usia tuanya tapi Oma selalu berusaha untuk sembuh dan hidup sehat.
Robert sebagai dokter selalu memantau kesehatan Oma, hampir dua hari sekali selalu menjenguk Oma, memeriksa tekanan darah, gula darah dan sebagainya.
Sudah sebulan ini beliau sehat dan terlihat bugar, jadi semua sangat bersyukur karena menjelang ulang tahun di usia bonus, Oma masih diberikan kesehatan.
Bahkan adik Oma Elisabeth yang tinggal di Manado juga akan datang, namanya Opa Jonas Lopies yang merupakan seorang petani sawit di tanah Manado.
Selama ini Soraya termasuk cucu mantu yang paling dekat dengan Oma Elisabeth, karena di satu sisi karena Oma jugalah dia bisa hidup lebih layak dan menjadi bagian keluarga Maliangkay.
"Soraya, terima kasih yah sudah mau menjadi istri Rio dan kamu sudah memberi Rio seorang anak. Dia juga banyak berubah tampaknya, apalagi saat sudah ada anak," ujar Oma Elisabeth sambil melihat Soraya tengah menyusui anaknya.
"Aya yang berterima kasih kepada Oma, karena Oma sudah banyak menolong keluarga Aya, terutama menolong mamanya Aya," sahut Soraya sambil mendongak dan tersenyum kepada Oma Elisabeth.
"Kamu baik-baik yah menjadi istri Rio, maaf Oma tak akan bisa lama menemani anakmu. Jagalah dia yah baik-baik, anak itu harta yang tak ternilai yang sudah Tuhan beri kepada kalian".
"Iya Oma, maaf kami jarang menjenguk Oma, apalagi setelah melahirkan kemarin banyak waktu tersita mengurus Maya," kata Soraya sambil menghela nafas.
"Tak usah kau pikirkan, Oma sudah sangat bahagia kalian berdua baik-baik saja," kata Oma lagi sambil menepuk bahu Soraya.
Maya tertidur setelah disusui oleh Soraya, perlahan bayi kecil dipindahkan ke kereta bayinya agar tidak terbangun.
"Ayaaaa!!!! aku ikut mandi dipinggir!!!!!"seru seseorang di saat bayi Maya baru saja tertidur di dalam kamar saat Mario masih lajang.
"Sssttt!!!! nanti anakku bangun, dia baru saja tidur," bisik Soraya sambil mengelus punggung anaknya yang terlihat kaget habis mendengar orang berteriak.
"Maaf, aduh...aku tak tahu ada Maya di sini...aku ikut mandi di kamar mandi sini yah. Soalnya kamar Robert dulu akan dijadikan kamar tidur Opa Jonas," kata Rosalinda setengah berbisik saat tahu si bayi Maya sedang tidur.
Soraya mengangguk saja ketika Rosalinda bercerita seperti itu.
"Sorry aku masih keringatan, habis senam sama ibu-ibu temanku. Ayo gabung yuk Aya, enak loh kita bisa ikut arisan tas GEMEZ, juga ada arisan berlian dan lain-lain deh," kata Rosalinda bercerita dan tangannya yang mengibas menarik kerah kaosnya jadi berisik karena suara gemerincing gelang tangannya.
Soraya ingin bilang jangan berisik tapi tak enak, dia terus saja menenangkan Maya yang tidurnya gelisah.
"Aku punya tas GEMEZ juga arisan, sepatu NIKA ini juga arisan, ah...semua arisan sih tapi kan kita dapat barang bermerek bukan abal-abal," lanjutnya lagi seakan tak peduli bayi Maya yang terus gelisah.
Untung saja Jimmy melewati kamar itu dan melihat kedua iparnya sedang tampak seru berbincang.
"Waduh Kak Rosa baru pulang olah raga juga tetap cantik nih!!!"seru Jimmy dan sontak Soraya melotot karena takut anaknya bangun.
"Sttt..Jimmy jangan berisik, Maya baru juga tidur," bisik Soraya berbisik ketus.
"Iya Jimmy berisik kamu, kenapa sih teriak-teriak segala!!!"Rosalinda sok marah dan tentu saja suaranya jadi meninggi.
__ADS_1
Soraya terlihat kesal sekali, wajahnya memerah dan bibirnya cemberut. Untung Jimmy segera sadar dan segera meminta Rosalinda untuk mandi dan berdandan di kamarnya saja.
"Kak Rosa, lebih baik mandi dan berdandan di kamar Jimmy saja. Soalnya di kamar ini kasihan Maya, nanti nangis akan merepotkan semua," ujar Jimmy segera memahami keadaan.
"Ya sudah aku di kamar Jimmy saja deh, takut nanti keburu datang semua dan acara di mulai," Rosalinda langsung bergegas menuju ke kamar Jimmy.
Kebetulan di rumah itu hampir semua kamar tidur ada kamar mandi di dalam.
"Jimmy!!!!! Sini!!!! jorok kamu!!!! ini pakaian dalammu angkat dulu semua ke tempat pakaian kotor. Aduh Jimmy!!!" teriak Rosalinda dari arah kamar Jimmy.
Mendengar itu segera Jimmy mengangkat pakaian dalam yang kotor dan dimasukan ke tempat penyimpanan pakaian kotor.
Rosalinda mengomel panjang lebar karena dia merasa kesal kamar mandi di kamar Jimmy sangat kotor sekali.
Soraya tertawa cekikikan mendengar istri kakak iparnya yang mengomel dari kejauhan.
Masa bodoh pikir Soraya, yang penting anak bayinya sudah bisa tidur tenang sekarang.
Menjelang makan siang terdengar suara mobil berdatangan di halaman rumah keluarga Maliangkay.
Papi Hansen dan Mami Regina baru datang menjemput Opa Jonas Lopies dari Bandara, sementara Robert baru menjemput kedua anaknya dan juga kedua perawat pengasuh anaknya.
Mario juga baru hadir sehabis menjemput ibu mertuanya.
"Ah...ini kacamata tinggi besar, pasti Robert yah...," ujar Opa Jonas adik langsung Oma Elisabeth yang baru datang dari Manado.
Robert memberi salam kepada Oma Jonas.
"Mana istrimu dan anak-anak mu?".
Lalu Robert mengenalkan Rosalinda yang baru selesai mandi dan anak-anaknya yang digendong oleh masing- masing perawat yang mengasuhnya.
"Nah, mana Mario dan mana Jimmy? aku suka tertukar karena mereka hampir mirip wajahnya," kata Opa Jonas sambil menatap Mario dan Jimmy.
"Opa...apa kabar? ini Jimmy yang ganteng dan Bang Rio ini yang sudah mulai tua... hahaha," sahut Jimmy sambil memeluk Opa Jonas.
"Hahaha...kamu bisa saja... sekarang sudah kuliah belum?" tanya Opa Jonas lagi.
"Sudahlah, aku calon arsitek yang ganteng dan mempesona banyak wanita," kata Jimmy lagi dan tentunya membuat Opa Jonas tertawa.
"Apa kabar Opa, ini Mario dan ini istriku Soraya," kata Mario sambil menggandeng istrinya.
"Ya...ya...ya...tadi ada ibu siapa yang kamu bawa?"tanya Opa Jonas lagi kepada Mario.
"Oh...ini kenalkan mertua saya, ibunya Soraya dan teman baiknya Oma Elisabeth," Mario mengenalkan mertuanya kepada Opa Jonas.
Oma Elisabeth keluar dari kamar tidurnya dan melihat adiknya datang, beliau segera memeluk adiknya sambil menangis terharu.
"Kita so tua Jonas, ngana bae- bae saja kan?"tanya Oma sambil memeluk adiknya.
(Kita sudah tua Jonas, kamu baik-baik saja kan)
"Kak Liz, bae-bae juga kan? Kita pun sama," sahut Opa Jonas.
Setelah meniup lilin, Oma memotong kue dan membagikan kepada semua yang hadir di sana.
"Terima kasih sekali, anak ku Hansen dan menantu ku Regina, cucu-cucu ku Robert dan Rosalinda, Mario dan Soraya juga si ganteng Jimmy. Tak lupa cicit semua, William, Annabella dan bayi kecil Maya".
"Oma bahagia sekali, Tuhan beri Oma kesehatan dan kebahagiaan sampai di usia ini. Mohon maaf bila Oma ada salah suka tiba-tiba marah, maklum sudah tua sekarang. Dan buat Jonas, terima kasih sudah datang kemari, aku senang kau datang".
"Jimmy, ayo kau paling muda dan paling nakal, pimpin doa makan untuk keberkatan kita semua," pinta Oma yang tentu saja dibarengi tawa oleh semua karena Jimmy yang saat itu cengengesan melulu.
Tapi Jimmy membawakan doa dengan penuh hikmat, mendoakan Oma agar selalu sehat dan bahagia di hari tua, mendoakan Opa Jonas juga yang baru tiba agar betah berlama-lama di rumah mereka, mendoakan kedua orang tua dan semua abang dan kakak ipar, juga untuk ketiga keponakan kecilnya.
Terakhir memanjatkan doa syukur atas makanan yang sudah tersedia agar menjadi kebaikan bagi semua keluarga.
"Bisa juga kamu berdoa yah, syukurlah semoga kau menjadi anak baik selamanya," bisik Mario sebelum duduk di samping kiri istrinya.
Jimmy tak mau kalah, dia juga segera duduk di samping kanan Soraya.
Sementara Mario berada di antara istrinya dan Ibu Wongso mertuanya, selagi makan Mario selalu mengambilkan sayuran dan ikan untuk mertuanya.
Kedua orang tua Mario sangat senang melihat anaknya perhatian kepada Ibu mertuanya tersebut.
Opa Jonas sambil bercerita tentang masa muda dulu, bagaimana almarhum Henry Maliangkay merebut cinta Elisabeth Lompies, padahal waktu jaman itu Elisabeth telah memiliki kekasih.
"Jaman itu Oma kalian ini bekerja di pabrik kayu milik kakek buyut kalian. Oma jadi penulis jaman itu, kalau sekarang mungkin bagian administrasi".
"Kerja ada setahun, tak lama pulang anak majikannya yaitu kakek kalian, namanya Henry. Tampan wajah kakek kalian itu, mirip dengan Mario," kata Opa Jonas sambil menatap kepada Mario.
"Waduh Opa, aku juga tampan loh, masa cuma Bang Rio," tukas Jimmy segera setelah mendengar kalimat tadi.
"Iya benar, Bang Robert juga tampan, suamiku malah lebih tampan dari kedua adiknya," Rosalinda juga tak mau kalah.
Opa Jonas tertawa mengakak mendengar ada yang protes seperti itu.
"Robert tentu saja tampan , tapi wajahnya lebih mirip keluarga Van Koenraad, jadi tampannya lebih ke Belanda. Kalau Mario tampan Manado, dan kamu Jimmy mana bisa Opa sebut tampan karena pacarpun tak ada," balas Opa Jonas sambil tertawa lagi.
"Sudah Opa, teruskan saja ceritanya, jangan hiraukan Jimmy, dia memang jomblo," sahut Mario sambil meledek Jimmy.
"Memang yah, aku selalu jadi bahan diskriminasi," jawab Jimmy pura-pura cemberut kesal.
Semua tertawa lagi melihat tingkah Jimmy saat itu.
"Opa lanjut yah, Henry ini pulang dari Jakarta, dia kuliah di sana dan lulus sarjana. Jaman itu hanya segelintir orang yang bisa kuliah dan jadi sarjana. Apalagi sampai ke kota Jakarta, hanya anak oranh kaya saja yang mampu seperti itu".
"Oma kalian tak paham kalau anak majikannya suka, karena dia sudah ada pacar, namanya siapa Kak Liz, aku lupa... hahaha," Opa menatap Oma Elisabeth yang terlihat malu- malu.
"Siapa yah...kalau tak salah Daniel, dia anak pejabat desa waktu itu," sahut Oma sambil setengah malu-malu menjawabnya.
Soraya merasa lucu melihat Oma seperti gadis muda yang salah tingkah saat diceritakan soal kekasih masa lalunya itu.
__ADS_1
"Ya benar...!!! Daniel yah...kala itu pacar Oma suka mengantar dan menjemput Oma kalian bekerja dengan naik sepeda termahal di masa itu".
"Opa Henry tampaknya tak suka melihat hal itu, karena dia yang sedang mengincar untuk merebut perhatian Oma kalian".
"Opa Henry waktu itu bekerja di perusahaan kakek buyut kalian, belajar untuk kelak membuka cabang usaha di sini. Sampai sekarang usaha kayu keluarga kalian ini bertahan dan dilanjutkan oleh Papih kalian ini," kata Opa sambil menunjuk Papih Hansen.
"Nah, singkat cerita Opa Henry selalu memperhatikan kalau Daniel menjemput kerja jam berapa dan mengantar kerja jam berapa, sampai dia itu diam- diam mengikuti Oma ke rumah kami".
"Daniel menjemput setiap jam empat sore, dan Henry sengaja selalu memberi pekerjaan menjelang sore hari, sehingga Oma harus menyelesaikan terlebih dahulu".
"Lalu Opa Henry duduk di depan kantor, menunggu Daniel datang, saat datang menjemput lalu Opa kalian bilang kalau Oma sudah pulang sejam yang lalu, katanya ijin mau beli obat. Dan itu dilakukan setiap sore hari, sehingga Daniel pulang dengan tangan hampa. Ada saja alasannya, Liz sudah pulang akan ke pasar dulu atau apa saja".
"Nah, jadi Opa kalian yang mengantar pulang Oma dengan alasan tanda terima kasih karena pekerjaannya diselesaikan sampai melebihi jam pulang kerja".
Oma Elisabeth tertawa-tawa mendengar cerita itu dan membenarkan apa yang adiknya ceritakan tersebut.
"Pagi hari juga begitu, Opa berangkat ke rumah Oma naik skuter jam tujuh pagi. Alasan Opa katanya tak sengaja bertemu Daniel, dan ban sepedanya kempes jadi minta Opa yang antar Oma kerja".
Mario juga geli mendengar kisah Opa yang ada saja usahanya untuk merebut cinta Oma nya.
"Malam minggu lebih lagi, Opa kalian memberi aku uang, jaman itu dua puluh lima rupiah dan aku bahagia sekali karena bisa membeli apapun. Uang itu untuk upah agar aku menghalangi Daniel agar tidak bertandang ke rumah kami. Aku menunggu di ujung jalan dan berkata kalau Oma Liz tidak di rumah karena diajak ke kota. Padahal Opa kalian sedang apel ke rumah kami ... hahahahahha," Opa Jonas mengakak saat ingat kejadian di jaman itu.
"Memangnya Daniel itu tak pernah tahu kalau dia ditikung oleh Opa Henry?" tanya Jimmy penasaran.
"Tahu juga akhirnya, tapi mau apa lagi. Oma dan Opa cuma pacaran satu bulan, lalu bulan depannya segera persiapan pernikahan. Masalahnya Opa kalian sudah tiap hari datang ke rumah kami, orang satu kampung ribut melihatnya," sahut Oma Elisabeth menjawab pertanyaan sang cucu.
"Jaman itu kalau lelaki bertandang ke rumah wanita setiap hari, pasti geger satu kampung. Jadi tak mungkin pacaran lama-lama, seperti dulu Robert dan Rosalinda sampai dua tahun pacaran pasti sudah di demo oleh orang sekampung," kata Oma lagi sambil menatap kepada pasangan Robert dan Rosalinda.
"Makanya aku dan Soraya juga gerak cepat yah Oma, kalau tidak pasti di demo juga oleh orang di gang mitra yah," ujar Mario sambil menyenggol istrinya.
"Kamu sih lain nak, kamu itu kebanyakan pacar, sampai Mamih kesal karena tiap hari dicari perempuan. Ada yang telepon ke rumah atau ada yang mencari kemari. Pusing Mamih kalau ingat kamu dulu," terdengar Mamih Regina segera menyambar kalimat anaknya.
Soraya tertawa kecil saat mendengar apa kata ibu mertuanya, lalu dia juga berkata ," Masih banyak kok Mamih yang suka telepon, bahkan pernah ada yang sampai memaki Soraya segala".
"Awas saja kau Rio, sampai macam-macam nanti Mamih dan Papih yang akan bertindak. Ingat sekarang sudah punya anak, jangan sampai kamu melukai hati istri dan anakmu," Mamih Regina sambil melotot ke arah Mario.
Mario mengerucutkan bibirnya, Soraya menutup mulutnya dengan tangan sambil cekikikan, Jimmy dan Rosalinda mengarahkan jempolnya ke Mario tanda meledeknya.
Robert hanya tertawa saja melihat tingkah istri dan adiknya yang begitu senang meledek Mario.
"Papih ingatkan kepada kalian semua, kalian tiga anak Papih dan semuanya lelaki, jadi Papih minta jadilah lelaki yang bertanggung jawab".
"Jangan sampai selingkuh atau main api di belakang pasangan kalian. Tidak ada sejarahnya lelaki Maliangkay menyakiti perempuan apalagi pasangan hidup. Ingat dan camkan itu!!!" Hansen Maliangkay berkata cukup keras mengingatkan ketiga anak lelakinya.
"Soraya, bilang pada Mamih kalau misal Mario masih saja di telepon oleh perempuan tak karuan. Awas kamu Rio, akan Mamih siksa kalau berani macam-macam sama istrimu," Mamih Regina menatap tajam ke arah anak keduanya.
"Tidak Mamih, sekarang sudah tidak ada lagi yang menelpon aneh-aneh, kalau ada yang tidak disukai pasti Bang Rio juga akan minta Soraya yang menjawab panggilan telepon tersebut," kata Soraya berusaha menenangkan ibu mertuanya.
Mamih Regina menghela nafas berharap anaknya keduanya tidak berbuat yang tidak baik di luaran sana.
Melihat jadi suasana jadi tegang, lalu Opa Jonas bercerita lagi hal-hal yang lucu tentang Oma masa lalu sehingga suasana kembali cair dan penuh tawa lagi.
"Mario, menginaplah di sini. Oma ingin ditemani olehmu," ujar Oma ketika selesai makan di siang hari itu.
"Iya Oma, tapi Rio harus membawa pulang dulu Mama Wongso dan mengambil keperluan Maya di rumah," sahut Mario sambil memegang tangan sang nenek.
"Oma ikut yah, sambil kita bawa Opa Jonas berkeliling kota".
Mario mengangguk dan dia segera menemui istrinya untuk memberitahukan kalau Oma minta mereka menginap.
Soraya setuju saja cuma keperluan Maya belum banyak yang dibawa, sehingga dia mencatat semua keperluan anaknya dan juga dirinya yang harus dibawa oleh Mario.
"Robert, Rosa, terima kasih yah sudah merayakan hari ulang tahun Oma. Kalian selalu memberikan kejutan kepada Oma, sekali lagi terima kasih yah".
"Oma, yang penting Oma harus sehat dan menurut apa kata Robert, lalu makan dan minum teratur serta obat yang Robert berikan harus dihabiskan,"ujar Robert menyambut pernyataan sang nenek tadi.
Rosalinda memeluk nenek suaminya sambil berkata,
" Sehat selalu yah Oma, Rosa dan Robert akan selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk Oma".
"Tapi maaf sekarang Rosa dan Bang Robert mau pamit, ada undangan yang harus kami hadiri. Jadi kami tak bisa lama- lama di sini".
"Tak apa-apa, Oma juga akan pergi. Sebentar lagi Mario mau antar Ibu Wongso pulang, sekalian mengajak jalan-jalan Opa Jonas," Oma Elisabeth memandang lama wajah Robert dan Rosalinda sampai keduanya merasa berat meninggalkan rumah mertuanya.
Tapi mau bagaimana lagi, ada undangan yang mereka berdua harus hadiri, sehingga keduanya pamit sambil membawa semua anak beserta perawat pengasuhnya masing-masing.
"Hebat yah Robert, dua anak dua pula pengasuhnya. Entah berapa uang yang harus keluar setiap bulannya. Mario belum sampai ke tahap itu rupanya yah," celoteh Opa Jonas saat melihat cucu kakaknya yang sudah sukses itu.
Oma Elisabeth hanya senyum saja mendengarnya dan beliau segera mengajak adiknya itu untuk berangkat bersama Mario mengantar pulang Ibu Wongso.
"Mama, maaf yah Soraya tak ikut mengantar karena Maya baru bangun nanti rewel di jalan," kata Soraya sambil memeluk erat ibunya.
"Iya, Mama paham, anakmu ini sama denganmu waktu kecil dulu, segalanya harus nyaman baru tenang," sahut Ibu Wongso sambil mencium bayi Maya yang baru bangun itu.
Soraya tersenyum mendengar penuturan ibunya, dan dia juga merasa geli melihat Mario tampak pusing melihat catatan keperluan harus dibawa dari rumahnya.
"Tak salah ini? seperti mau tinggal sebulan saja di sini," ujarnya ketika membaca catatan dari Soraya yang di berikan kepadanya.
"Namanya juga punya anak bayi, pasti harus banyak persediaan pakaian dan lain-lainnya," sahut Ibu Wongso sambil merasa lucu melihat mimik wajah menantunya yang kebingungan.
Lalu Mario membawa mertuanya, Oma Elisabeth dan Opa Jonas ke rumahnya untuk mengambil keperluan sesuai permintaan Soraya.
Setelah itu memperlihatkan rumah yang sedang dibangun untuk Mario dan keluarga tinggal nanti.
"Bahkan Soraya belum pernah saya bawa kemari".
"Kapan bangunan ini akan selesai Rio? masih semrawut begitu," ujar Oma yang bingung melihat bangunan rumah Mario sudah hampir dua tahun tak selesai juga.
"Mungkin nak Rio membangun sedikit-sedikit yah?" tanya Ibu Wongso juga.
"Ya, kalau pekerjaan kosong baru tukang saya suruh kemari, kalau ada pekerjaan mau tak mau mendahulukan permintaan konsumen," jawab Mario sambil senyum lebar.
__ADS_1
"Benar Rio, tak apa yang penting kamu sudah punya usaha untuk memberikan yang terbaik bagi anak dan istrimu," kata Opa Jonas sambil menepuk bahu sang cucu keponakan.
"Oma yakin pasti akan menjadi rumah yang bagus, walau mungkin Oma tak tahu kapan selesainya".