PENGKHIATAN CINTA

PENGKHIATAN CINTA
Rabu Pemakaman Mario


__ADS_3

Keesokan paginya, Jimmy sudah berada di bandara, dia sedang menanti kedatangan pesawat yang membawa jenazah Mario dari Kota Palembang.


Saat itu Jimmy mengenakan kemeja tangan panjang berwarna hitam, celana panjang blue jeans, bersepatu sneaker dan memakai kacamata hitam.


Di usianya yang sebentar lagi menginjak tiga puluh enam tahun, terlihat sekali Jimmy itu lelaki tampan yang mandiri dan sukses dalam kariernya.


Dengan meninggalnya Mario, maka secara otomatis kepemilikan perusahaan jatuh ke tangannya.


Walau belum sah diumumkan oleh notaris, tapi sudah pasti Jimmy akan segera menjadi pemilik perusahaan dan menjadi direktur menggantikan posisi Mario sebelumnya.


Tapi itu jelas tak membuat dirinya bahagia, karena setidaknya dia harus kehilangan seorang kakak yang paling dekat dengannya.


Dengan menggantikan posisi Mario di perusahaan itu malah membuat hatinya perih terluka.


"Pak Jimmy, mohon tunggu sekitar tiga puluh menit lagi. Menurut informasi tadi di bandara Kota Palembang ada sedikit masalah tapi sudah bisa diatasi," kata Junel yang mendampingi Jimmy saat itu.


"Ya, tak apa-apa, saya masih menunggu dengan sabar di sini," jawab Jimmy.


"Saya akan mencari kopi dulu, apakah Pak Julian juga mau?" tanya Jimmy.


"Tidak, terima kasih. Silahkan Pak Jimmy mencari kopi saja dulu, biar saya yang tunggu kedatangan pesawat tersebut," sahut Junel kepada Jimmy.


"Pasti orang itu tidak tidur semalaman," guman Junel sambil memandang punggung Jimmy yang melangkah gontai menuju salah satu cafe di bandara.


Tak lama ada pesawat milik TNI mendarat, di dalamnya ada dua peti jenazah.


Pada peti tertulis nama Mario Maliangkay, dan lainnya Asmila Maryana.


Peti jenazah bertuliskan nama Mario segera dimasukan ke dalam mobil ambulans, sementara yang bertuliskan nama Asmila dimasukan ke dalam sebuah helikopter untuk perjalanan pengiriman lagi ke Cirebon.


Junel beserta anggota Polisi lain sudah memasukan peti jenazah ke dalam ambulans, dan ada formulir yang butuh ditanda tangan oleh keluarga korban.


Jimmy yang seharusnya melakukan itu ternyata tak ada di tempat, segera Junel mencari ke dalam bandara.


"Ya ampun!" Junel menepuk dahinya.


Bagaimana tidak, dia melihat Jimmy sedang tidur di meja cafe, kedua tangannya dijadikan tatakan kepalanya dan luar biasa dia tidur sangat nyenyak sekali.


Mau tak mau, Junel harus membangunkan dia. Tentunya Jimmy gelagapan, dan untung segera sadar. Lalu dia bersama Junel segera melihat peti di dalam ambulans.


Jimmy menandatangani formulir penyerahan jenazah, dan dia ikut ke dalam mobil ambulans menuju ke rumah Mario.


Sementara di rumah Mario sudah banyak orang berkumpul, tak pelak lagi hampir seluruh anggota jemaat gerejanya hadir memenuhi halaman rumah tersebut.


Sejak kemarin sampai hari ini, Kristy tertahan dan menjadi ikut sibuk layaknya bagian anggota keluarga.


Kemarin selesai membantu mengemudikan mobil milik Rosalinda sewaktu menjemput Opa Hansen dan Oma Regina, malah Rosalinda memintanya untuk tetap di rumah Mario.


"Kamu kata Marsela punya rumah makan, yah. Kalau begitu, sekarang banyak tamu berdatangan. Tolong kamu siapkan kue dan juga makanan yah".


"Nanti malam ada kebaktian di rumah ini, namanya kebaktian penghiburan untuk keluarga yang ditinggalkan. Kamu nanti siapkan makanan untuk sekitar lima puluh orang. Ini saya kasih dulu uang sebagian untuk pembayaran," kata Rosalinda yang langsung memesan makanan untuk tamu yang terus berdatangan.


Setelah menerima sebagian uang pembayaran, lalu Kristy menelpon ke rumah makannya dan meminta anak buahnya mempersiapkan makanan dan segera dikirim ke alamat rumah Mario.


Sambil menunggu pesanan datang, Kristy melihat banyak tamu yang datang untuk mengucapkan bela sungkawa kepada keluarga Soraya.


Lalu Kristy kemarin langsung masuk ke dapur rumah Soraya dan menanyakan kepada Mince punya bahan makanan apa.


Melihat ada tepung, telur dan mentega, maka tak banyak pikir lagi segera Kristy membuat adonan kue. Karena suasana sedang hiruk pikuk, Mince tak bisa menemukan oven untuk memanggang kue.


Kristy tak hilang akal, dia melihat ada kukusan di dapur, maka segera dia membuat kue brownis kukus.


Dia melihat banyak mie instant, lalu dia rebus dan setelah ditiriskan lalu dicampur dengan sisa tepung, dan dia buat bulatan-bulatan bola mie instant lalu digoreng.


Di lemari es ada susu dan juga di lemari makan ada teh, segera menjerang air dan membuat teh susu atau biasa disebut teh tarik.


Sore kemarin sambil menanti makanan dari rumah makannya datang, ada sebagian tamu yang disuguhi kue brownis kukus dan bola-bola mie goreng.


Rosalinda menjadi sangat terkesan melihat Kristy begitu cekatan dalam memasak, membuat panganan sederhana yang enak rasanya.


Sehingga Rosalinda tentu memesan lagi makanan untuk suguhan tamu yang akan datang di hari pemakaman.


"Diperkirakan pagi hari sudah akan datang tamu rombongan dari gereja dan juga teman-teman saya. Lalu akan ada kebaktian pelepasan jenazah dan setelah pemakaman kemungkinan masih akan ada tamu juga yang kemari. Tolong Kristy siapkan konsumsi jangan sampai kurang. Soal pembayaran nanti aku yang bayar semua," perintah Rosalinda kepada Kristy.


"Aku adalah kakak ipar tertua di keluarga Maliangkay. Namaku Rosalinda, panggil saja aku Kak Rosa. Suamiku Bang Robert, kakak tertua dan merupakan seorang dokter ahli bedah jantung terkenal, lalu yang kedua adalah almarhum Mario dan itu Soraya istrinya, serta yang bungsu itu pacarmu si Jimmy," Rosalinda menjelaskan seperti itu.


Kristy mencoba menjelaskan kalau dia bukan kekasih Jimmy.


"Aaaahhhh, aku juga pernah muda. Dulu aku juga begitu waktu Bang Robert belum menyatakan cinta kepadaku, pasti aku mengelak. Sudahlah nanti juga Jimmy pasti akan menyatakan cintanya, apalagi kamu terlihat begitu akrab dengan keluarga kami," Rosalinda malah menjawab seperti begitu kepada Kristy.


Mince dan Bik Tati walau sedih kehilangan Mario, tapi ada sedikit rasa bahagia melihat ada sosok Kristy yang begitu cepat akrab dan sangat ramah kepada mereka berdua.


"Alhamdulillah, semoga saja nona Kristy benar-benar jodohnya Oom Jimmy," kata Mince dalam hati saat melihat Kristy yang begitu cekatan dan telaten dalam membuat makanan juga dalam menyajikan makanan.


Bukan hanya Mince dan Rosalinda, hampir seluruh keluarga Maliangkay diam-diam memperhatikan Kristy walau tidak disengaja.


Kecuali Jimmy, dia sibuk kesana kemari, mengurus dokumen ini dan itu seputar proses kedatangan jenazah dan juga untuk pemakaman.


Dan yang paling pasti dekat dengan sosok Kristy tentu saja para keponakan, anak-anak Robert dan Rosalinda, juga anak-anak Mario dan Soraya.


Seakan sudah punya tante baru, mereka berempat cepat akrab sekali dengan Kristy dan sangat berharap kalau Kristy kelak akan menjadi istri pamannya.


Sementara Kristy selama dua hari di rumah Mario, selama itu juga ada seorang lelaki kecewa sekali karena dua hari ke rumah makan dan tidak bisa bertemu dengan Kristy.


"Memangnya siapa yang meninggal?" tanya Laksamana Muda Samsul kepada Oci pegawai kepercayaannya Kristy.


"Saya juga tak begitu paham, tapi pasti kerabatnya," sahut Oci apa adanya.


Samsul hanya mengangguk dan kecewa sekali, kemarin dia mau mengenalkan Kristy kepada sahabat-sahabatnya tapi tak bisa bertemu.


Hari ini mencoba datang lagi, dan hasilnya sama saja tak ada Kristy di rumah makannya.


Komandan Polisi sedang berdiri dihadapan banyak awak media sosial, semua menuntut pernyataan nama korban yang meninggal dunia akibat tenggelam kemarin ini.


Karena sudah ada pernyataan tidak keberatan dari pihak keluarga korban, maka Komandan Polisi siang itu menyatakan nama korban dan asalnya satu persatu.


Mendengar pernyataan resmi dari pihak Kepolisian, maka Direktur Utama kantor Asuransi Jiwa segera memerintahkan kepada seluruh karyawannya di cabang Cirebon untuk menanti kedatangan jenazah Asmila dan turut menghadiri pemakamannya nanti.

__ADS_1


Begitu juga Direktur Utama tersebut memerintahkan kepada stafnya di Jakarta untuk mengirimkan bunga papan tanda turut berduka cita untuk keluarga Mario Maliangkay, karena nama tersebut adalah salah satu nasabah perusahaan Asuransi Jiwa tersebut.


Seluruh kolega dan rekanan kerja CV. Maju Mandiri yang merupakan perusahaan konstruksi dan arsitektur milik Mario juga segera memesan bunga papan dan meminta segera mengirimkan ke rumah Mario hari itu juga.


Bahkan ada beberapa awak media sudah berjaga dari pagi hari baik di Kota Depok di kediaman Mario dan juga di Kota Cirebon di depan kediaman Asmila.


Para awak media akan meliput langsung kediamannya jenazah berikut acara pemakaman kedua korban tersebut.


Sudah pasti awak media mengendus sesuatu kedekatan hubungan antara almarhum Mario dengan Asmila.


Bagaimana tidak Asmila seorang Direktur Agency bisa menjadi korban dan tenggelam bersamaan dengan salah satu nasabah prioritasnya.


Tentunya awak media akan mengejar dan ingin mencari tahu sesuatu yang tersembunyi dibalik kematian kedua insan tersebut.


Ratna menangis tersedu-sedu ketika melihat tayangan berita di televisi, pernyataan dari Komandan Polisi Kota Palembang yang menyebutkan secara rinci nama-nama korban yang meninggal dalam peristiwa naas atas tenggelamnya sebuah mobil yang telah menewaskan tujuh orang di dalamnya.


"Bang Ali, aku mau ke Cirebon. Aku harus menjelaskan kepada Mas Fuad soal rencana Asmila kemari....huhuhuhu," ujar Ratna sambil menangis kepada suaminya.


"Astaga, mana ada uang untuk ongkos kesana. Semua uang dan tabungan sudah kita gunakan untuk modal membuka toko grosir sembako ini," sahut Ali suaminya.


"Pinjam saja kepada orang atau saudara, nanti kita ganti pasti uangnya," Ratna mulai merajuk seperti biasa.


"Janganlah, sudah sabar saja. Aku yakin Mas Fuad pasti akan ke Palembang, pasti mau tahu tempat istrinya meninggal. Nanti kita temui dia saat menyambangi sungai tersebut," sahut Ali sambil berusaha memberikan istrinya pengertian.


Akhirnya Ratna juga mengalah, nanti dia akan berusaha menghubungi Fuad lewat telepon dulu kalau urusan pemakaman sudah selesai.


Di kabupaten Palembang, tepatnya di Desa Besemah, Kecamatan Pagar Alam, terlihat awak media mulai menyerbu ke rumah orang tuanya Jena.


Mau tak mau, terungkap juga rahasia menantunya seorang pengusaha dan politisi terkenal dari Kota Semarang yaitu Edmun Nayoan, memiliki menantu yang berselingkuh dengan mantan mahasiswanya sampai memiliki seorang bayi di luar nikah.


Bahkan pemakamam dan juga kondisi makamnya Asrul beserta Jena dan bayi mereka juga menjadi sorotan awak media


Begitu selesai Komandan Polisi Kota Palembang menyampaikan pengumuman nama korban, segera di depan pagar rumahnya Edmun Nayoan dipenuhi awak media untuk minta penjelasan.


Seluruh keluarga Edmun Nayoan tidak ada satupun yang muncul keluar rumah, semua berdiam di dalam rumah untuk menghindari pertanyaan dari para wartawan.


Klinik gigi milik Aletha juga tak luput dari kejaran awak media, tapi atas perintah Aletha meminta seluruh karyawan klinik gigi jangan mengeluarkan pernyataan apapun dan jangan menjawab pertanyaan apapun yang diajukan wartawan.


Aletha sudah mengajukan cuti panjang ke teman-teman di klinik, saat ini sedang duduk di depan televisi, melihat ada tayangan berita tentang kepulangan jenazah orang yang meninggal bersama suaminya ke tempat kelahirannya masing-masing.


Disamping Aletha banyak sekali gumpalan tisue bekas mengelap air mata yang meluncur deras di pipinya, ada tayangan awak media yang mewawancarai orang tua Jena dan juga makam suaminya beserta istri sirinya dan bayi mereka.


Berbagai analisa dikemukakan oleh awak media seputar kematian Asrul dan juga soal perselingkuhannya.


Kampus dan juga kantor milik Husein tak luput dari kejaran awak media yang ingin tahu siapa sebenarnya sosok Asrul Mubarok selain dosen dan juga menantu dari seorang Edmun Nayoan.


"Berani banget yah, menantu orang seperti Edmun Nayoan selingkuh di depan mata tapi tak ketahuan. Masa orang penting begitu bisa kecolongan".


"Istrinya padahal kurang gimana baik, mana dokter gigi terkenal pula. Bisa saja dosen mengelabui istri".


"Tak selamanya orang pintar itu bisa mengetahui segalanya, buktinya selingkuh sama teman adiknya sendiri bisa tak ketahuan".


Itu adalah omongan dari orang-orang yang mengenal bagaimana keluarga Edmun Nayoan dan khususnya Aletha Nayoan bisa tertipu di depan mata.


Magenta adik Aletha yang bekerja di Jakarta, mengajukan ijin cuti pulang ke Semarang. Tapi karena ternyata awak media sudah membuntuti dirinya, maka dia lebih baik diam di kantor disembunyikan oleh teman-teman kerjanya.


Mobil ambulans yang membawa peti jenazah Mario sudah mendekati kediaman Mario.


Di halaman rumah sudah dipasangi tenda dan banyak kursi-kursi lipat disusun di sana.


Banyak orang hadir dari gereja, dan pendeta Yosep juga sudah ada di sana sedang memberikan nasehat penghiburan kepada Soraya dan kedua anaknya.


Mereka harus percaya bahwa Tuhan selalu punya rencana indah walau Mario sudah tidak bersama mereka lagi.


Ada rombongan ibu-ibu dengan tampilan serba wah turun dari tiga mobil yang datang berurutan.


Ada sekitar sebelas orang wanita berpakaian putih-putih tapi tampilannya bak artis papan atas, semua berdandan full make up, bersepatu tumit tinggi, dan tentu saja perhiasan juga tas jinjing berharga fantastis tergantung di lengan masing-masing.


Kalau melihat dari tampilan demikian, sudah pasti mereka semua adalah para sahabatnya Rosalinda yang datang untuk menyampaikan rasa simpati kepada Soraya dan anak-anaknya, juga kepada keluarga besar Maliangkay.


Rosalinda segera menyambut para sahabatnya, lalu mengajak semuanya bersalaman dan mengucapkan bela sungkawa kepada Soraya, Maya, Mega, Robert suaminya dan kedua mertuanya.


Setelah itu mengajak kesebelas sahabatnya duduk di tempat yang sudah ditandai sejak tadi oleh Rosalinda dan mereka berbincang bersama di sana.


Rosalinda menceritakan soal kecelakaan berdasarkan laporan dari Polisi, sambil menyuguhkan makanan yang dibawa oleh Kristy.


"Rosa, ini kue beli dimana? rasa dan bentuknya seperti ini aku hafal sekali. Biasanya adikku yang membuatnya," Stevie salah satu sahabat Rosalinda mempertanyakan kue yang disuguhkan.


"Oh, itu aku pesan dari pacarnya Jimmy, namanya Kristy. Itu orangnya," sahut Rosalinda sambil menunjuk Kristy yang tengah mengatur kue dan panganan lainnya di atas sebuah meja panjang yang memang sengaja untuk menyimpan makanan.


"Loh, itu adik tiri aku. Benaran dia pacaran sama Jimmy adik iparmu?" tanya Stevie terlihat bahagia.


"Oh, dia adik tirimu. Kebetulan sekali yah, tenyata dunia sempit. Aku tak sangka Jimmy bisa pacaran sama adikmu," Rosalinda juga bahagia mengetahui hal itu.


"Semoga saja adikku segera menikah dengan Jimmy, kasihan dia. Usianya sudah kepala tiga, dulu gagal menikah karena ternyata calon suaminya punya prilaku menyimpang".


"Surat undangan sudah tinggal disebar karena dua minggu lagi Kristy akan menikah dengan seorang dokter. Tak tahunya lelaki itu punya kekasih lain, dan kekasihnya itu sesama jenis. Waktu itu kekasihnya mengancam akan bunuh diri, ternyata lelaki itu lebih memilih kekasihnya dibanding Kristy," Stevie menceritakan kisah adik tirinya yang pernah gagal menikah.


"Kalian saudara tiri tapi akrab yah?" tanya yang lain kepada Stevie.


"Tentulah, aku ini kakak yang baik," sahut Stevie.


"Hahaha, Stevie mana berani tidak baik kepada adik tirinya, memangnya dia mau miskin. Bahaya buat Stevie kalau suatu saat sampai tidak kebagian warisan Sumargo Handoyo," sindir salah satu temannya.


Semuanya tertawa karena sudah saling paham kalau mereka semua wanita-wanita yang takut jatuh miskin.


Gaya hidup serba mewah yang selama ini dijalani, tentu membuat semuanya harus penuh drama dalam menghadapi kehidupan ini.


Mobil ambulans memasuki halaman rumah Mario, tentu saja Soraya langsung lemas


merasa tak sanggup kalau harus melihat jenazah suaminya.


Jimmy turun dari pintu belakang ambulans, lalu petugas ambulans dan beberapa orang karyawan dari kantor tampak membantu menurunkan peti jenazah.


Pendeta Yosep dan Robert segera menyambut peti jenazah tersebut, lalu mereka berdiskusi sejenak.


"Apakah harus kita buka lagi peti ini? mungkin istri dan anak-anaknya juga kedua orang tua mau melihat kondisi jenazah," pendeta Yosep menyampaikan pertanyaan kepada keluarga Maliangkay.

__ADS_1


"Saya rasa harus, setidaknya keluarga juga ingin melihat wajah Mario untuk terakhir kalinya," sahut Robert.


Lalu Jimmy dibantu beberapa orang membuka peti jenazah, dan terlihat wajah Mario yang membengkak sepertinya sudah mulai ada proses pembusukan pada tubuhnya.


Bau menyengat mulai tercium keseluruh ruangan di sana, Soraya dan kedua anaknya mendekati peti jenazah. Sontak mereka menjerit menangis melihat kondisi Mario seperti itu.


Opa Hansen dan Oma Regina juga tak bisa dicegah, mereka berdua memaksa ingin tahu Mario seperti apa keadaannya setelah beberapa hari dinyatakan meninggal.


Oma Regina langsung pingsan begitu melihat kondisi jenazah Mario, untung ada beberapa orang di sana yang segera menangkap tubuh Oma Regina sebelum terjatuh ke lantai.


William sejak awal terus memegangi Opa Hansen, khawatir kakeknya akan kumat sakit jantungnya.


Mega dan Maya saling berpelukan saat melihat kondisi jenazah ayahnya, tentu saja Mega sudah tak bisa lepas dari inhaler karena sejak kemarin ini terus sesak nafas ketika pertama kali mendengar ayahnya meninggal.


Kesepakatan keluarga akhirnya jenazah kembali dimandikan lagi, kebetulan Robert juga membawa tim perawat dari rumah sakit sehingga segera menangani jenazah Mario untuk dibersihkan kembali.


Soraya menyiapkan pakaian setelan jas terbaik milik Mario untuk nanti dikenakan sebelum dimasukan kembali ke dalam peti jenazah.


Jimmy ternyata sudah memesan peti jenazah yang lebih baik, peti sebelumnya diserahkan kembali kepada pihak rumah sakit.


Setelah dimandikan, lalu Mario dipakaikan setelan jas dan tampilan rambutnya juga wajahnya dibenahi oleh tim rumah sakit agar terlihat lebih tampan dari sebelumnya.


Soraya menyaksikan proses tersebut sambil terus menagis karena merasa sangat terpukul dengan kematian suaminya.


Robert membaca laporan hasil pemeriksaan forensik sambil melihat wajah Mario yang terbujur kaku, dilaporan tertulis pada wajah terlihat ada trauma sebelum meninggal dan itu dibenarkan olehnya.


Ada beberapa lebam pada pipi dan mata, mungkin karena benturan ketika mobil terguling, lalu ada luka pada tangannya terlihat upayanya berusaha memecahkan kaca mobil sebelum meninggal.


Dan ketika membaca baris pertanyaan ditemukan ada kanker pada paru-paru korban, itu yang membuat Robert sangat terkejut. Karena selama ini dia sama sekali tidak mengetahui kalau adiknya sakit kanker paru-paru.


Di kejauhan Robert melihat ada sosok Samuel yang selama ini telah menangani penyakit Mario, ingin bertanya tapi ternyata tidak memungkinan karena tiba-tiba waktu begitu mendesak Mario harus segera dimasukan ke dalam peti jenazah.


"Bang, rupanya harus segera kebaktian penutupan peti sambil pelepasan jenazah. Tidak bisa ditunda lagi, tubuh Bang Rio sudah mulai proses pembusukan lebih cepat karena habis terendam air sungai. Tim perawat barusan mengatakan tidak bisa di suntik formalin karena sudah terlanjur ada proses pembusukan," Jimmy menuturkan perihal kondisi jenazah Mario kepada Robert.


"Oke, aku akan bicara kepada pendeta Yosep dan juga kepada Soraya serta Papih dan Mamih," sahut Robert sambil melipat kertas laporan forensik itu dan memasukan ke dalam sakunya.


Soraya beserta kedua mertuanya setuju dengan pendapat Robert, kalau penutupan peti jenazah dan pemakaman harus segera dilakukan karena kondisi Mario sudah tidak bisa disimpan lebih lama sedikit lagipun.


Pendeta Yosep memberikan sedikit khotbah untuk kekuatan bagi keluarga dan juga doa permohonan ampun agar seluruh dosa Mario bisa diampuni oleh Yang Maha Kuasa.


Setelah itu, Opa Hansen dan Oma Regina menyiramkan minyak wangi ke pakaian Mario. Hal tersebut diikuti oleh Soraya dan anak-anaknya, lalu keluarga Robert dan Jimmy.


Menyusul di belakang Mince dan Bik Tati juga ikut menyiramkan minyak wangi, setelah itu semua karyawan di kantor Mario dan sisanya semua orang yang hadir pada upacara itu sampai minyak wangi itu habis.


Setelah itu peti jenazah ditutup secara permanen sehingga tidak akan bisa dibuka lagi oleh siapapun.


Maya berdiri di depan peti jenazah sambil membawa foto ayahnya, disampingnya Mega membawa lilin dan juga karangan bunga.


Mereka berdua berjalan berdampingan, sementara di belakangnya Jimmy, William dan juga beberapa lelaki lain mengangkat peti jenazah dan memasukkannya ke dalam mobil jenazah.


Maya dan Mega juga Soraya turut dalam mobil tersebut, Opa Hansen dan Oma Regina dibawa ke dalam mobil Robert.


Beberapa orang ada yang masuk ke dalam mobil masing- masing dan juga ada yang masuk ke bis yang sudah dipesan untuk membawa para pelayat menuju ke pemakaman.


Bunyi sirine mengiringi perjalanan menuju ke pemakaman, sepanjang jalan Soraya dan kedua anaknya memeluk peti jenazah Mario sambil air mata tak berhenti mengalir.


Setibanya di pemakaman, tampak sudah ada teman-teman sekolah Maya dan Mega bersama dengan guru sekolahnya.


Pendeta Yosep kembali memimpin kebaktian pemakaman, serangkaian doa dipanjatkan untuk pengampunan dosa dan melapangkan jalan bagi almarhum.


Tak lama peti jenazah mulai diturunkan ke dalam tanah, kembali jerit tangis melanda dalam prosesi tersebut.


Soraya pingsan, begitu juga Oma Regina kembali pingsan. Untung Mince sigap memegangi tubuh Soraya, begitu juga Oma dipeluk erat oleh Jimmy.


Opa Hansen dipeluk erat oleh William dan Robert agar jangan sampai ikut pingsan juga.


Kedua anak Soraya duduk bersama Kristy, karena Mega sesak nafas dan untung Kristy cekatan karena sudah terbiasa mengahadapi orang sesak nafas. Hal itu karena salah satu keponakannya juga ada yang mempunyai masalah yang sama dan Kristy yang selalu mengurusinya sejak masih kecil.


Siapa lagi kalau bukan anaknya Stevie yang sejak kecil selalu bersama Kristy, sementara Stevie ibunya terlalu sibuk menjadi ibu-ibu sosialita.


Setelah pemakaman Mario selesai, hampir seluruh tamu satu persatu meninggalkan makam tersebut.


Ada yang langsung pulang ke rumah, ada juga yang kembali ke rumah keluarga Mario.


Hari sudah menjelang sore hari, masih cukup banyak kerabat dan sahabat berkumpul di rumah Mario sehabis acara pemakaman tersebut.


Karena banyak orang berkumpul, maka tugas Kristy juga masih sangat banyak yaitu menyediakan makanan dan minuman bagi para tamu.


Setelah satu persatu pamit sambil memberikan semangat kepada Soraya dan juga orang tua Mario, maka rumah mulai menjadi sepi.


Kini giliran para sahabat Rosalinda yang akan pamit pulang, sambil satu persatu berjalan menuju ke Soraya, terlihat Stevie agak belok sedikit menuju dapur rumah itu.


"Kristy, kamu memang benar akan jadi bagian keluarga Maliangkay ini?" tanya Stevie.


"Kak Stevie, aku sudah sampaikan kepada kakak sedari tadi, aku bukan siapa-siapanya Jimmy. Aku disini murni bekerja mencari uang, karena Kak Rosa memesan makanan kepadaku," Kristy terlihat menjelaskan kepada kakaknya.


"Aku tak masalah, Jimmy juga pria yang baik. Aku justru mendukung kalau kamu bisa menikah dengan Jimmy," sahut Stevie.


"Sudah, lupakan. Sekali lagi aku sampaikan, aku bukan pacar Jimmy. Please, aku nanti malu kalau sampai Jimmy mendengar percakapan kosong ini," bisik Kristy.


Tapi Stevie hanya tersenyum sambil mencium pipi adik tirinya itu.


"Aku hanya mendukung dan mendoakan yang terbaik untukmu, sayang," ujar Stevie sambil pamit pulang.


Sekarang hanya tinggal keluarga saja yang tersisa, Opa Hansen dan Oma Regina masih menginap di rumah Mario.


Keluarga Robert juga demikian, mereka masih tidak tega meninggalkan Soraya dan anak-anaknya.


Jimmy juga baru selesai mengurus semua administrasi pengiriman jenazah tadi, lalu pemakaman dan sebagainya.


"Kak Rosa, untuk pemesanan makanan selama beberapa hari ini, aku harus membayar berapa?" tanya Jimmy sambil memegang ponselnya bersiap untuk melakukan transfer uang ke rekening Rosalinda.


"Aku sudah membayar pesanan itu setengahnya kemarin, kekurangannya berapa aku tak paham. Kamu tanya saja kepada pacarmu," sahut Rosalinda dengan enteng.


"Pacar?" Jimmy keheranan mendengar kata itu.


"Ya, dia kan pacarmu, silahkan kamu bereskan saja tagihannya dengan dia," jawab Rosalinda sambil menunjuk kepada Kristy.

__ADS_1


Selanjutnya sudah bisa dipastikan Jimmy hanya bingung sendirian ketika mendengar kakak iparnya menyatakan seperti itu.


__ADS_2