PENGKHIATAN CINTA

PENGKHIATAN CINTA
Big Beauty Resto 1


__ADS_3

Keesokan paginya Magenta terlihat tengah menatap kakaknya yang sedang bernyanyi kecil sambil mengaduk susu hangat di dalam gelas.


"Kak Etha berhutang cerita sama aku. Kemana saja kalian semalam. Pergi dari pagi, pulang jam sebelas malam," ujar Magenta sembari menyipitkan matanya.


"Kemarin aku menemani Mas Fuad mengurus beberapa hal terkait almarhumah istrinya," sahut Aletha dengan santai.


"Mas???...hmmm...cepat sekali berubah dari pak menjadi mas," ledek Magenta.


"Ya, karena kami merasa seperti saudara. Sama-sama merasakan kehilangan orang yang dicintai karena kecelakaan kemarin. Lalu ternyata ada kisah yang sama dibalik kematian pasangan kami masing-masing," Aletha menjelaskan kepada adiknya.


"Oh, dia diselingkuhi oleh istrinya?" tanya Magenta sambil mengunyah sarapan paginya.


"Kira-kira seperti itu, nanti kami akan ke tempat kost yang dulu ditempati oleh almarhumah istrinya. Barang-barangnya belum ada yang mengambil, jadi mau sekalian membereskannya," ujar Aletha lagi.


"Kok kami? bukan dia saja sendiri?" Magenta penasaran.


"Hmmm, nanti juga sekalian bertemu dengan istri lelaki yang menjadi selingkuhannya istri Mas Fuad," sahut Aletha.


"Lama-lama jadi partner main detektif ini sih. Aku yakin lama-lama ceritanya jadi urusan hati," goda Magenta.


"Tidaklah, kami masih berduka dengan kematian pasangan masing-masing. Apapun yang telah terjadi, tapi kami masih belum bisa melupakan kejadian kemarin," sahut Aletha terlihat sedih.


"Kak Etha, aku memang belum pernah merasakan kepedihan seperti yang kakak rasakan. Tapi aku mohon kakak harus kuat dan tabah menghadapi kenyataan ini," ujar Magenta sambil mengelus punggung kakaknya.


"Iya, aku berusaha tegar, walau hati ini perih tapi tak boleh hidup terlalu lama dalam kesedihan," ucap Aletha membesarkan hatinya.


Magenta memeluk kakaknya dan mencium pipinya, lalu pamit karena harus segera pergi ke kantor untuk bekerja.


"Kemarin sore jadinya di jemput sama Oom Aliong atau Oom Jimmy?" tanya Soraya kepada kedua anak gadisnya saat mengantar mereka ke sekolah.


"Sama Oom Aliong, naik mobil Oom Jimmy dan ada Ahan juga anak Oom Aliong. Dia ternyata seumur sama aku," jawab Mega.


"Kamu naksir Ahan, yah?" Maya menggoda adiknya.


"Enak saja, orang baru juga ketemu kemarin," tukas Mega.


"Dulu waktu kecil suka main bareng kalian tuh," sahut Maya lagi.


"Oh, berarti Kak Maya juga naksir sama Ko Aming kakaknya Ahan," Mega tak mau kalah sengit.


"Astaga, kalian itu apa sih. Masih sekolah juga ribut naksir-naksir segala. Belajar yang benar, bukan ribut naksir," tegur Soraya tak senang mendengar pembahasan tak penting yang dibicarakan kedua anaknya.


Langsung keduanya terdiam, karena kalau ibunya sudah marah pasti akan susah juga mereka berdua nantinya.


Pagi itu juga di kantor Jimmy sedang meeting bersama stafnya, mereka hari ini akan presentasi di depan pemilik lahan yang akan dijadikan perguruan tinggi.


"Jadi yang berangkat meeting adalah aku, Aliong dan Ferry. Tugas Ferry nanti sebagai operator komputer, nanti aku yang presentasi, sementara Aliong menjadi moderator sekaligus mencatat apabila ada permintaan perubahan desain atau apapun dari pemilik".


"Yang lain tetap di kantor, dan sebagian yang mendapat tugas dari Pak Wildan, tolong selesaikan rancangannya. Nanti pulang meeting kita bahas di sini," Jimmy memberikan instruksi dan pengarahan kepada seluruh stafnya.


Sambil berjalan keluar kantor, Jimmy memerintahkan Aliong sesuatu," Ko Aliong, tolong ambil uang di Marsela. Untuk beli bahan bakar dan juga untuk makan siang nanti".


"Minta berapa?" tanya Aliong.


"Marsela sudah tahu".


Aliong dan Marsela tertawa-tawa saat Aliong meminta uang sesuai perintah Jimmy.


"Jaman dulu kalau Ko Aliong di kasih dua juta pasti marah. Minimal harus keluar uang lima juta dan tak mau tanda tangan nota pengeluaran uang," ledek Marsela.


"Waduh, itu kisah lama Sela. Aku sudah tobat, sekarang aku di dompet cuma punya selembar lima puluh ribu. Itu juga di kasih sama Yu Chen. Tobat gue, sungguh tidak akan mau lagi urusan uang, apalagi uang haram kayak dulu," ujar Aliong sambil tertawa-tawa ketika menandatangi nota pengeluaran uang yang disodorkan Marsela.


"Cici Yu Chen apa kabarnya? Sudah lama aku tidak ketemu, enak dulu kalau Cici Yu yang mengajar senam. Sekarang di sanggar sama orang lain, beda cara ngajarnya," kata Marsela menceritakan tentang sanggar senam yang selama ini dia ikuti.


"Yu Chen kan dulu di usir dari sanggar waktu aku ditahan. Sekarang masih ngajar senam, tapi ke kumpulan ibu-ibu di kampung atau di perumahan," sahut Aliong.


"Wah, aku minta nomor kontaknya dong. Nanti aku ajak ibu-ibu di perumahan tempat tinggalku, pasti semua tertarik," ujar Marsela senang saat tahu Yu Chen masih mengajar senam.


TET....TEEEETTTT...TEEETTTTT


Terdengar suara klakson mobil dibunyikan beberapa kali.


"Walah boss Jimmy ngamuk, hahahaha, mana uangnya," pinta Aliong.


"Eh, iya, hahahah, kita ngobrol terus. Ini uangnya, nanti aku minta nota bensin dan nota lainnya yah!!!"seru Marsela kepada Aliong yang berlari keluar kantor karena sudah diklakson oleh Jimmy.


"Lama amat, ada apa sih?" tanya Jimmy sambil wajahnya berkerut kesal.


"Sorry boss, biasa Marsela, tanda tangan nota dan lain-lain dulu," sahut Aliong sambil


ngos-ngosan.


"Ferry, jalan sekarang sambil sekalian beli bahan bakar dulu. Aku sedang menunggu pesan chat dari orang kemarin, belum tahu dimana lokasi meetingnya. Tapi tak masalah, sambil jalan sambil beli bahan bakar dulu," perintah Jimmy.


Aliong memberikan kode kepada Ferry kalau uang sudah ada di sakunya, kemudian mereka melaju menuju stasiun pengisian bahan bakar


"Sialan!!!"pekik Jimmy dari kursi belakang.


"Ada apa boss?" tanya Ferry.


Aliong juga menoleh ke belakang dari kursi samping pengemudi sambil merasa aneh.


"Kenapa setiap pertemuan harus ke Big Beauty Resto, barusan aku terima pesan chat dari orang yang mengajak meeting, mintanya ketemu di sana," keluh Jimmy terlihat jengkel.


Aliong hanya tersenyum saja, sementara Ferry yang belum paham jadi bertanya.


"Memangnya kenapa boss? Ada apa dengan rumah makan tersebut? Dulu kan kita yang merombak bangunan itu," Ferry polos bertanya.


"Hmmm, kagak apa-apa. Sudah mau apalagi, mau tak mau sekarang kita kesana," Jimmy terlihat wajahnya kusut.


"Padahal enak masakannya di rumah makan itu, dulu Ibu Kristy pemiliknya sering mengirimkan makanan promo ke kantor," ujar Ferry bercerita kepada Aliong.


"Iya, aku juga pernah diajak boss Wildan kesana beberapa waktu lalu. Benar enak masakan di sana, senang juga lihat penampilan Ibu Kristy," Aliong mencoba menanggapi sambil sedikit iseng menyindir Jimmy.


"Nah benar Ko Aliong, ibu Kristy itu bikin gemas menggiurkan, gimanaaaa gitu. Andai saya belum nikah pasti sudah saya pepet terus. Kadang suka enggak kuat kalau lihat ibu Kristy, kulit putih halus, body montok, bbrrrrr...merinding...


hahahahah," Ferry menggambarkan penampilan Kristy.


"Fer, kurang ajar lu, itu nasabah kita tahu. Kalau orangnya dengar nanti tidak enak, sinting lu kalau ngomong," Jimmy menegur Ferry.


"Boss Jimmy cemburu atau apa nih? masa sih tidak suka sama Kristy?" goda Aliong.


"Elu lagi Ko Aliong, dia itu nasabah. Masa gue punya pikiran macam-macam sama nasabah. Ferry saja otak ngeres, sinting elu Fer. Awas saja elu nanti bikin malu di sana," Jimmy mengomel sebal.


Aliong dan Ferry bertatapan, lalu keduanya saling memberi kode sama-sama paham kalau yang di belakang sebenarnya punya hati juga sama Kristy.


Fuad dan Aletha naik bus way menuju tempat kost Asmila, letaknya tidak jauh dari kantor tempat kerja Asmila dulu.


Tepatnya di belakang kantor, tapi kalau naik mobil harus berputar dulu berkeliling masuk dari jalan lain menuju ke jalanan belakang perkantoran.

__ADS_1


Tapi kalau naik bus atau angkutan umum, tinggal turun di depan kantor, lalu berjalan sedikit melalui dua gedung, di sampingnya gedung ketiga ada gang kecil yang menyambungkan jalanan depan menuju ke tempat kost Asmila.


Sementara Soraya mengikuti petunjuk arah dari internet untuk menuju ke jalan tersebut.


Di dekat rumah kost ada sebuah warung kecil, Fuad dan Aletha sedang minum air teh kemasan yang dingin menyegarkan. Tak lama terlihat sebuah mobil yang dikemudikan oleh seorang wanita, mobil itu berhenti tepat di depan sebuah bangunan rumah kost.


"Pasti itu Ibu Soraya," ujar Fuad mencoba menebak.


"Kelihatannya begitu, soalnya terlihat ragu-ragu barusan saat mau parkir di depan sana," sahut Aletha sambil menengok keluar warung.


Lalu Fuad membayar minuman itu, dan bersama Aletha bergegas mendekati mobil Soraya.


Ponsel Fuad berdering, dan bersamaan dengan seorang wanita turun dari sebuah mobil tipe double cabin yang berukuran besar.


"Ibu Soraya?!" panggil Fuad.


Soraya yang tengah mencoba menghubungi Fuad, terlihat terkejut saat ada sepasang pria dan wanita memanggil dirinya dan mendekatinya.


"Pak Fuad?" tanya balik Soraya.


"Iya, saya Fuad, dan perkenalkan ini Mbak Aletha yang sama seperti kita, suaminya meninggal dalam kecelakaan kemarin," sahut Fuad sambil menyodorkan tangan sekalian memperkenalkan Aletha.


"Sungguh kebetulan sekali, kok bisa kenal dengan bapak?"tanya Soraya hampir tak percaya.


"Panjang ceritanya, kami kebetulan bertemu di lokasi kecelakaan. Dan Mas Fuad bersama temannya telah menolong saya selama di Palembang," jawab Aletha.


Soraya hanya mengangguk saja sambil tidak terlalu paham atas penjelasan Aletha.


"Ibu siap? kalau sudah siap, ayo kita masuk," ajak Fuad.


Kembali Soraya hanya mengangguk saja lagi, lalu mengikuti langkah Fuad menuju ke dalam bangunan rumah kost tersebut.


Mereka disambut oleh sepasang petugas pengurus rumah kost itu.


Petugas terlihat bingung saat mendengar kalau yang datang sekarang ini adalah suami dari Asmila dan juga istri dari Mario.


"Pak, maaf yah. Bukan saya lancang, tapi apa boleh saya melihat identitas kalau bapak adalah itu adalah suami dari almarhumah ibu Asmila," ujar pengurus yang pria.


"Ada, ini saya bawa. Ibu Soraya juga membawa berkas, bukan?" ujar Fuad.


Fuad mengeluarkan kartu keluarga dari dalam tas gendongnya, begitu juga Soraya mengeluarkan benda yang sama dari dalam tasnya.


Kedua petugas saling bertatapan ketika membaca dua lembar kartu keluarga yang jelas mencantumkan bahwa antara Asmila dan Mario dulu tidak ada kaitan apapun secara hukum selama mereka hidup.


"Pak, bu, maaf, sepertinya saya harus menghubungi dulu ibu pemilik kost. Biar nanti bapak dan ibu bicara langsung dengan beliau," pengurus pria minta ijin demikian dan disetujui oleh Fuad dan Soraya.


"Mau minum apa, pak, bu?" tanya pengurus wanita.


"Kami sudah minum, mungkin ibu ini belum minum," Fuad menunjuk Soraya.


"Oh, tidak usah, saya bawa minuman sendiri," sahut Soraya sambil memperlihatkan botol minum berisi air mineral yang dibawa dari rumah.


Petugas tadi pamit, lalu mereka sekarang ditinggal bertiga duduk di teras rumah kost tersebut.


"Ibu Soraya rajin sekali sampai membawa air minum sendiri," Aletha membuka percakapan.


"Oh, kebetulan saya kan dosen, pekerjaannya bicara terus. Jadi harus membawa air minum sendiri agar tidak kehausan. Walau di ruang kelas ada disediakan air mineral," sahut Soraya menjelaskan.


"Beruntung yah, ibu Soraya dan saya walau ditinggal suami, tapi kita wanita bekerja. Kebetulan saya juga dokter gigi di Semarang," Aletha setengah memberitahu tentang dirinya.


"Hehehe, dibilang beruntung, ya benar, beruntung kita bekerja. Tapi tetap saja saya ada rasa khawatir, anak sulung saya menjelang kuliah tahun depan. Katanya ingin kuliah kedokteran, tentunya biayanya sekarang sangat menjadi pikiran," sahut Soraya menjelaskan keadaanya.


Fuad tersenyum lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.


Sambil menerima buku tersebut, wajah Soraya terlihat seperti berpikir keras.


"Itu buku tabungan dan kartu ATM yang saya ceritakan melalui telepon kepada ibu


beberapa waktu yang lalu. Kedua benda itu ada di dalam tas milik istri saya," Fuad melanjutkan ceritanya.


Soraya membuka buku tabungan tersebut, dan tercantum nama suaminya sebagai pemilik buku itu. Lalu ketika membuka halaman yang mencantumkan nominal uang di tabungan tersebut, matanya membelalak karena melihat ada nilai yang cukup fantastis.


"Lima puluh juta?"Soraya tak percaya dengan isi di dalam tabungan tersebut.


Fuad hanya tersenyum sambil angkat bahu.


"Saya tidak paham itu uang apa? yang pasti antara suami anda dan istri saya yang tahu tentang semua itu," kata Fuad.


"Hahahaha, mau bagaimana menanyakannya mas? ternyata sama saja bapak dan ibu, punya kasus yang hampir mirip dengan saya," Aletha jadi tertawa melihat Fuad dan Soraya yang tenyata punya masalah juga dengan perselingkuhan pasangannya.


Soraya terdiam dan masih tampak kebingungan, sementara Fuad terlihat sudah mulai bisa menguasai keadaan hatinya.


"Selamat siang, maaf menunggu lama," tiba-tiba ada seorang wanita setengah baya masuk ke rumah dan menyapa mereka bertiga.


"Perkenalkan, saya Mirna pemilik rumah kost ini. Tadi saya di telepon oleh pegawai saya, katanya ada Pak Fuad, suaminya Asmila. Juga ada ibu Soraya, istrinya Mario," Ibu Mirna memperkenalkan diri sambil menatap Fuad dan terlihat mencari yang mana sosok Soraya.


"Saya Soraya," ujar Soraya memberitahu.


Lalu ibu Mirna duduk di hadapan mereka bertiga, sambil seraya berkata,"Maaf, jadinya ada kejadian tidak enak, dan berbuntut panjang. Bukan saya membongkar aib, tapi kenyataan yang bicara".


"Sekali lagi saya mohon maaf kepada Pak Fuad dan Ibu Soraya, benar dulu Asmila selalu mengakukan kalau Mario adalah suaminya. Bukan saya fitnah, tapi benar Mario pernah menginap di kamar Asmila".


"Saya juga mengaku salah, karena saya selama itu tidak pernah menagih identitas pernikahan. Karena Asmila selalu membayar tepat waktu, jadi saya mau tegas susah. Ini benar salah saya, jadi pelajaran buat saya selanjutnya siapapun penyewa akan saya tanya identitas dan status pernikahannya".


Ibu Mirna terlihat sangat menyesal karena selama ini kurang tegas kepada orang yang membayar tepat waktu, padahal seharusnya siapapun juga wajib memberikan keterangan identitas yang benar.


Soraya berusaha menahan air mata yang sedari tadi menggenang di pelupuk matanya, dia berusaha agar air mata jangan sampai jatuh bercucuran.


Tentunya hatinya sakit mendengar penuturan ibu Mirna, siapa juga yang tak akan terluka hati begitu mengetahui pasangannya telah berselingkuh.


"Saya belum membongkar apapun dari kamar Asmila, selain kunci utama dan cadangannya juga tidak ada di saya. Lalu saya mendengar bapak dan ibu akan kemari, jadi saya menunggu kedatangan anda berdua selama ini," ujar Ibu Mirna lagi.


"Apakah ini kunci kamarnya?"tanya Fuad sambil memperlihatkan sebuah kunci yang diambil dari tasnya kepada ibu Mirna.


"Nah, benar sekali. Itu kunci kamarnya," sahut Ibu Mirna terlihat senang.


Soraya melihat bentuk kunci, lalu dia juga mengeluarkan anak kunci yang sama dari dalam tasnya.


"Berarti ini kunci cadangannya?" Soraya menyodorkan kunci itu kepada Ibu Mirna.


Melihat itu Ibu Mirna tak kuasa berkata apa-apa, dia juga wanita tentunya sekarang merasakan perasaan Soraya yang pastinya sedang sangat terluka dalam.


Lalu Ibu Mirna memandu mereka bertiga menuju ke kamar yang dulu ditempati Asmila, dan benar saja kunci yang diterima dari Fuad telah membuka pintu kamar itu dengan sukses.


Tercium aroma bau lembab dari kamar yang tidak pernah dibuka selama beberapa minggu.


Aletha berdiri di depan pintu, sementara Fuad dan Soraya masuk ke dalam kamar tersebut.


Setelah ibu Mirna membukakan jendela, lalu beliau permisi keluar kamar tersebut.

__ADS_1


Di depan kamar ada beberapa orang penghuni kost lain yang pura-pura lewat, atau pura-pura berbicara di depan kamar Asmila. Padahal mereka sedang berusaha mencari tahu siapa yang sedang berada di dalam kamar tersebut.


Soraya melihat di meja rias Asmila dan foto Mario bersama dengan Asmila yang berpose berpelukan mesra, entah foto itu dulu diambil kapan dan dimana.


Fuad juga melihat ada jam tangan pria di dalam lemari pakaian Asmila, dan sudah pasti itu bukan miliknya.


Soraya tak sengaja membuka laci yang berisi pakaian dalam Asmila, dan jelas bentuk juga modelnya sama dengan yang ada di dalam koper Mario.


Di situ Soraya terduduk di kursi meja rias sambil mulai menangis, Aletha segera mendekati Soraya lalu berusaha memberikan pelukan untuk menguatkannya.


"Saya juga merasakannya, saya tahu apa yang sedang ibu rasakan. Tak apa menangis saja, luapkan saja semua perasaan sakit hati ibu," ujar Aletha sambil memeluk Soraya yang tengah menangis tersedu-sedu.


Ibu pemilik kost dan juga pengurus wanita yang melihat dari luar kamar ikut menitikan air mata, ikut merasakan sakit hati dan juga kesedihan yang sedang dialami oleh Soraya.


Setegar-tegarnya Fuad, dia juga terlihat beberapa kali mengelap matanya dengan kemejanya.


Siapa yang tak akan terluka, melihat di dalam lemari pakaian istrinya, ada beberapa pasang pakaian pria lain yang jelas bukan miliknya.


Fuad meminta sebuah dus kepada pengurus pria, lalu tak lama pengurus itu datang sambil menyerahkan dus itu kepadanya.


Semua pakaian dimasukan ke dalam dus tadi, Soraya melihat itu segera bangkit dan mulai ikut menyimpan barang-barang milik Asmila ke dalam dus besar tadi.


Foto Mario dan Asmila ditatapnya lama, lalu dia sobek-sobek menjadi beberapa bagian kecil.


"Ibu Soraya, kemarin saya mengambil barang-barang dari kantor istri saya bersama mbak Aletha. Lalu kami membakar semua barang-barang tersebut di pinggir pantai tadi malam," ujar Fuad memberitahu Soraya.


Mendengar itu Soraya menghela nafas, lalu berkata kepada Fuad.


"Kalau begitu, kita minta saja pegawai rumah kost ini untuk membakar atau melakukan apa terserah mereka atas semua barang ini. Saya tidak mau menyimpan apapun yang bisa mengingatkan saya kepada Mario".


Aletha mengelus-elus punggung Soraya, agar jangan terbawa emosi. Tapi tampaknya sudah terlalu dalam luka Soraya, sehingga dia tak mau menyimpan barang milik suaminya yang ada di kamar itu.


"Kami pamit, sebelumnya apakah ada uang tertunggak dari istri saya?" tanya Fuad kepada ibu Mirna.


"Tidak, semua sudah lunas. Seperti saya sampaikan kalau istri bapak selalu membayar tepat waktu," jawab Ibu Mirna.


Lantas Soraya, Fuad dan Aletha pamit dari rumah kost tersebut, kedua pengurus juga segera merapihkan dan membersihkan kamar bekas Asmila.


"Lumayan jam tangan mahal".


"Ini juga lumayan tas mahal".


Keduanya tampak senang karena mendapatkan warisan dari Asmila dan Mario yang diberikan oleh pasangan sahnya masing-masing kepada mereka.


"Pak Fuad mau kemana?" tanya Soraya.


"Tadinya saya mau mengajak ibu makan siang sambil memperlihatkan beberapa hal di komputer saya," jawab Fuad.


"Hmmm, ini kunci mobil saya. Silahkan mengemudi, mbak Aletha duduk di depan dan saya ingin selonjoran di belakang," ujar Soraya sambil memberikan kunci mobil kepada Fuad.


"Tujuan kita kemana ini?" Fuad merasa bingung.


"Saya tahu rumah makan yang enak dan kita bisa lama berbincang di sana. Tapi saya mau tidur sebentar, mbak Aletha silahkan cari petunjuk jalan lewat internet. Namanya Big Beauty Resto," sahut Soraya.


Lalu Aletha mengeluarkan ponselnya dan mulai perjalanan menuju rumah makan tersebut.


Jimmy memasuki Big Beauty Resto, beruntung tidak menemukan sosok Kristy. Kedatangannya bersama Aliong dan Ferry disambut oleh Oci seperti biasanya, dan mereka dibawa ke lantai atas.


"Nanti meetingnya di sini, cuma tadi pak Andre menelpon kemari mengatakan akan sedikit terlambat karena ada urusan mendadak," ujar Oci memberitahukan kepada Jimmy dan teman-temannya.


"Siap, terima kasih Mbak Oci," sahut Jimmy dengan senyum yang manis.


"Wah, sudah diatur rupanya tempat duduk dan mejanya," Aliong terkesima melihat ruangan di lantai atas sudah teratur rapi meja dan kursinya.


"Untuk pak Jimmy nanti komputernya di sebelah ujung depan, karena di sebelah belakang nanti dipakai oleh pak Andre," Oci memberitahu kepada Jimmy.


"Makanan sudah dipesan Pak Andre, nanti kami antar ke atas saat sudah ada petunjuk dari boss. Sementara yang ada baru minuman teh, kopi dan cemilan di meja sudut," lanjut Oci.


Lalu Oci turun ke bawah lagi, Jimmy dan Ferry mempersiapkan laptop dan juga bahan presentasi nanti. Aliong tengah mencatat beberapa hal yang akan dia sampaikan nanti di awal pembukaan presentasi.


"Halo ko Aliong, wah sudah datang rupanya," sapa Kristy yang baru saja datang dan terlihat badannya penuh keringat.


"Nona Kristy yang cantik, baru datang dari mana ?" Aliong balik menyapanya.


"Hahaha, baru pulang tenis. Setiap selasa saya olah raga tenis bersama beberapa pejabat pemerintah yang pelanggan tetap rumah makan ini," sahut Kristy.


"Rajin sekali olah raga, biasanya olah raga apa saja ?" pancing Aliong.


"Oh, senin saya fitness, selasa tenis dan kamis melatih karate di kampus," jawab Kristy.


"Pantas saja badannya kencang dan maaf, ini tangan ototnya kuat. Saya dari awal ketemu curiga, pasti mbak Kristy tukang olah raga," Aliong berkata sambil memegang lengan atas Kristy.


"Iya, saya berotot tangannya kayak cowok," ujar Kristy sambil tertawa.


"Bagus, istri saya juga sama kayak mbak Kristy. Soalnya istri juga guru senam".


"Oh, siapa namanya?" tanya Kristy.


"Yu Chen, seringnya dipanggil cici Yu," sahut Aliong.


"Oh, cici Yu? Ya ampun, baru tahu kalau beliau istri ko Aliong. Cici Yu itu sudah seperti kakak sendiri, saya kenal dekat sama beliau. Sesekali saya juga ikut senam kok, kan saya fitness di sanggar tempat cici Yu mengajar," Kristy memberitahu Aliong.


"Hahahaha, Jakarta sempit. Kemana-mana nyambung deh kita," sahut Aliong.


"Hmmm, saya pamit dulu ke dalam. Mau mandi dulu, bau keringat," kata Kristy dan Aliong mempersilahkannya.


"Duh, boss, berkeringat gitu juga kelihatan cakep. Ampun, saya gemetar lihat ibu Kristy. Kalau saya bujangan sudah saya peluk deh, iiihhh, gemas," Ferry berbisik kepada Jimmy seperti itu ketika Kristy sudah masuk ke dalam ruang pribadinya.


Jimmy tak berkata apa-apa, hanya melirik tajam kepada Ferry. Sudah pasti Ferry jadi terdiam ketakutan, sementara Aliong yang mendengar hanya senyum-senyum saja.


Sambil mempersiapkan bahan presentasi, Jimmy tak sengaja pikirannya jadi tertuju kepada Kristy.


Setidaknya yang merancang bangunan itu dulu adalah Jimmy, sehingga dia sudah pasti hafal sekali seluk beluk bangunan itu termasuk ruangan pribadi Kristy.


Beberapa menit kemudian terdengar suara air dari pancuran kamar mandi dari dalam ruangan pribadi Kristy.


Seharusnya tak bisa terdengar jelas, namun karena suasana sepi jadi terdengar suara gemericik air cukup jelas.


Tiba-tiba pikiran kotor melintas ke otak Jimmy, dia membayangkan seorang Kristy yang bertubuh montok padat, berkulit putih sedang mandi di pancuran air.


Apalagi barusan Ferry mengatakan hal-hal yang membangun opini orang yang mendengar akan berpikir ke arah keseksian tubuh Kristy.


"Sialan Ferry, gue jadi kacau pikirannya," guman Jimmy dalam hati.


"Gue lapar, mau makan dulu di bawah," ujar Jimmy.


"Itu ada kue," kata Aliong.


"Enggak ah, mau makan yang lain," sahut Jimmy sambil berdiri lalu melangkah ke bawah.

__ADS_1


Saat Jimmy tadi berdiri, tak sengaja Aliong melihat ada yang sedikit berubah dari bagian depan celana Jimmy.


"Hihihi, itu anak pasti mikirin yang jorok," guman Aliong cekikikan sendiri ketika melihat ulah Jimmy.


__ADS_2