PENGKHIATAN CINTA

PENGKHIATAN CINTA
Ujian Oh Ujian


__ADS_3

Mario mengemudikan mobil dengan perlahan lalu berhenti di depan sebuah showroom mobil bekas.


"Lu serius bro? ini mobil baru juga dua tahun lalu lu beli, masa udah mau lu lepas lagi? mau ganti yang baru lagi boss?" tanya Aliong sang pemilik showroom.


"Iya serius, gue lepas dulu deh. Lagi butuh modal," jawab Mario dengan santai.


"Wah, percaya deh gue, modal buat apaan lagi boss. Masa lu mau kawin lagi...hahahaha," Aliong menggoda Mario.


"Udah lu tawar berapa mobil gue?"tanya Mario lagi.


"Hahahaha, bisa aja nih orang becanda aja. Masa elu kemari mau jual mobil, udah masuk dulu deh kita ngopi dulu," ajak Aliong kepada Mario.


Lalu Mario ikut ke dalam showroom milik Aliong.


Lalu Aliong meminta salah satu karyawannya untuk membuatkan kopi bagi Mario dan dirinya.


"Lu kenapa mau jual mobil segala sih? masa Mario yang gue kenal sampai harus jual mobil buat cari modal?"Aliong mempertanyakan maksud Mario yang hendak menjual mobilnya.


"Gue serius bro, asli gue ditipu sama anak buah gue. Lu tahu Darman kan? dia bawa lari duit kantor gue," jawab Mario sambil mengambil sebatang rokok yang disodorkan oleh Aliong.


"Emang lu ketipu berapa banyak sih? masa sampai kelabakan begini".


"Dibilang gede enggak, dibilang kecil juga enggak. Masalahnya gue lagi enggak banyak proyek belakangan ini. Eh...sialnya malah ditipu sama anak buah sendiri," Mario kesal sekali kalau ingat perbuatan Darman.


"Udah lu cari belum ke rumahnya?".


"Udah Liong, kata bininya itu orang kagak balik sebulan ini ke rumahnya," rokok dihisap dengan sangat dalam sekali.


"Repot juga yah," Aliong juga menghisap rokoknya sambil menatap Mario.


"Kalau lu dibantu sama gue mau kagak?"tanya Aliong menatap serius kepada Mario.


"Bro, gue kagak bisa bro. Nanti gue ganti duit lu pakai apa?"balas Mario sambil geleng kepala.


"Gue bukan mau ngasih duit, tapi mau ngasih proyek".


"Maksud lu apa Liong?".


Aliong tersenyum lebar saat Mario bertanya seperti itu, lalu dia menelepon seseorang untuk bertemu di suatu tempat.


"Rio...Rio...mobil masih bagus begini mau lu jual, kagak ada duit segala. Untung lu datang ke gue, jadi gue ingat ada tawaran dari teman gue dulu," kata Aliong sambil melihat dan mengelus bagian dalam mobil Mario.


Mereka berdua sedang melaju menuju sebuah rumah makan seperti yang ditunjukkan oleh orang yang tadi dihubungi oleh Aliong.


Ternyata mereka bertemu dengan seseorang yang bekerja di Dinas Pekerjaan Umum.


(Ditahun itu belum ada aturan khusus untuk proyek pemerintah, masih banyak kasus proyek bawah tangan. Walau Presiden di masa itu sudah bertindak tegas tapi masih ada beberapa kasus korupsi yang bisa lolos)


"Kenalkan bro, ini temanku namanya Mario, dia pemilik CV. MAJU MANDIRI," kata Aliong kepada pria itu yang sebut saja bernama Mr. A.


Mario dan Mr. A saling berkenalan, dan sambil makan mereka mulai berbincang soal kerjasama proyek yang akan mereka garap.


"Jadi gitu Liong, nanti kalian masukan penawaran, harga di naikan dong. Gue nanti yang akan maju ke atasan, begitu disetujui dan ada pencairan dana, bagian gue lima belas persen. Deal enggak?" kata Mr. A sambil menghembuskan asap rokoknya.


Mario masih tampak bingung, lalu Aliong menjelaskan lagi ajakan kerjasama dari Mr. A tadi.


Sebenarnya itu salah, jelas sekali melanggar peraturan dan jelas ini salah satu bentuk korupsi.


Mario tak berani sedikit juga berkata apapun, dia diam saja mengamati bagaimana Aliong begitu semangat dengan ajakan Mr. A.


"Rio, lu jangan khawatir, nanti kita buat perusahaan baru lagi. Gue yang bikin CV baru, dan lu sebagai pelaksana pekerjaan proyek itu nanti. Akan banyak proyek bro, gue yang urus keuangan dan lu akan punya banyak proyek, sehingga lu bisa punya uang untuk bayar hutang," Aliong mencoba meyakinkan Mario.


"Liong, untuk mendapat proyek dari dinas harus ikut tender sesuai ketentuan, tak bisa kita main belakang seperti itu," Mario mencoba berargumen untuk menolak.


"Paham...gue paham...tapi si A itu yang pegang tender, itu kesempatan buat kita. Lu kerja sesuai ketentuan, dan soal uang biar gue sama A yang atur," Aliong terus mencoba meyakinkan Mario untuk bergabung.


"Gue minta waktu yah, biar gue pikirkan dulu bagaimana baiknya".


Sambil menghisap rokok ditemani secangkir kopi, Mario duduk di atas atap kantornya sambil bersandar ke tangki penampungan air.


Mario berpikir keras, ada tawaran menggiurkan tapi sangat beresiko tinggi yang ditawarkan oleh Aliong si pemilik showroom mobil dan juga Mr. A salah seorang oknum dalam dari Dinas Pekerjaan Umum.


Akan banyak pekerjaan yang akan dia terima kelak, asal saja kerjasama jangan sampai bocor.


Teknisnya Aliong membuat perusahaan fiktif, lalu mengajukan penawaran melalui tender tertutup.


Mr. A nanti yang menangani akan langsung meminta persetujuan atasannya untuk proposal dari perusahaan fiktif milik Aliong tadi.


Markup nilai proposal, uang muka cair masuk kantong Mr. A sebesar 15% dan 5% untuk sang atasan.


Mario mendapatkan nilai uang untuk pelaksanaan pekerjaan, dan uang untuk pekerjaan sesuai dengan harga pada umumnya.


Kelebihan uang dari proposal nanti dibagi dua dengan Aliong, dan untuk urusan uang itu nanti Aliong yang akan menanganinya.


Uang perusahaan habis dibawa kabur, tagihan berjajar menanti pembayaran lalu sekarang ada tawaran menggiurkan seperti ini.


"Aku coba saja deh, misalkan lunas hutangku lalu berhenti berurusan dengan Aliong," guman Mario yang masih merasa bimbang.


"Ya Tuhan, haruskah aku terjun ke jalan haram seperti itu? aku tak punya jalan lain saat ini. Ampuni aku Tuhan," batin Mario bergejolak perang antara menolak atau turut menjalani.


Maya sudah bisa duduk di usia yang menjelang satu tahun, anak itu sudah makan, sudah mandi dan sudah wangi.


Sejak sore Soraya mengajak bermain sambil dia membaca buku untuk bahan mengajar esok hari.


Sekarang Maya sudah bisa menunjukkan yang mana mata, hidung, telinga dan semua anggota tubuh.


"Papa" itu merupakan ucapan pertama yang meluncur dari mulut kecilnya, dia belum bisa membedakan antara "Mama" dan "mamam".


Memang agak sulit, karena hampir semua ibu di bumi pertiwi ini akan mengatakan kata "mamam" bila mengajak anak bayinya makan.


Sudah satu bulan Soraya mengajar di sekolah, dan selama ini juga Mario sering pulang malam.


Kalau ditanya oleh Soraya pasti jawabannya karena banyak pekerjaan baru saat ini.


Mario memang terlihat sangat sibuk, bahkan pulang ke rumah juga selalu menghadapi laptop dan sibuk menghitung kalkulasi biaya-biaya proyek pembangunan.


Biasanya menghabiskan waktu bersama Maya kecil, bahkan tidur juga bersama anaknya. Tapi sebulan ini tampak tak terlalu peduli dengan anaknya.


Tapi Soraya tak bisa berkata apa-apa, dia hanya bisa berdoa saja semoga suaminya diberikan kelancaran dalam pekerjaannya.


Seiring Soraya menikmati pekerjaannya menjadi guru, maka seiring Mario semakin banyak terlihat urusan pekerjaan dengan Aliong dan Mr. A.


Soraya semakin hari semakin dicintai oleh siswa-siswa di sekolah karena dia merupakan guru yang baik dan selalu penuh sukacita saat di dalam kelas memberikan materi pelajaran.


Mario semakin sering pulang malam dan sekarang ada tambahan semerbak bau alkohol saat tengah malam pulang ke rumah.


Hampir seminggu dua kali ada kewajiban membawa Mr. A dan atasannya juga jajaran terkait lainnya untuk hiburan karaoke.


Memang karaoke adalah hiburan menyanyi melepas penat, tapi kalau plus plus malah jadi membuat ruwet.


Minuman keras dan wanita pemandu lagu menjadi menu wajib yang harus selalu tersedia saat hiburan karaoke.


"Rio, cari pemandu lagu itu yang murahan dong, yang bisa gue raba-raba, remas-remas, jangan yang sok alim. Gimana sih lu itu, muka kagak cantik-


cantik amat kagak masalah. Yang penting bisa gue pegang, paham kan lu?!!!" itu biasanya yang Mario dengar kalau Mr. A sedang minta hiburan.


Waktu terus berjalan, tak terasa setengah tahun sudah lamanya Mario bekerjasama dengan Aliong dan Mr. A.


Hutang lunas, tentu sajalah. Sekarang tujuannya adalah rumah segera selesai, maka Mario lanjut terus gabung dengan mereka.


Di kantor Mario semakin hari semakin kasar, proyek tambah banyak, pendapatan tentu saja meningkat tapi emosional semakin tinggi.


"Susi, lu g*bl*k atau tol*l yah, kan udah jelas model dan ukuran jembatan yang diminta itu bagaimana. Ini gambar lu salah, baca lagi lagi kriteria dari surat dari dinas itu. Gue heran sama lu, kenapa bisa jadi bodoh begini!!!" makian Mario seperti itu sudah hampir menjadi santapan Susi setiap harinya sejak proyek dari dinas meluncur deras.


Saat ini arsitek memang bukan Susi saja, ada dua orang lagi namun Susi adalah koordinator mereka.


Dan Mario tentu tak mau tahu, pasti Susi sebagai koordinator yang akan menjadi sasaran apabila ada kesalahan di timnya dalam mengerjakan gambar atau membuat maket.


Begitu juga Marsela, tambah pusing kepalanya, dulu hanya mengatur jadwal Mario, membayar tagihan rutin dan melakukan pembukuan perusahaan.


Sekarang, ada jadwal Aliong juga yang harus dia urus, ada tagihan kartu kredit Mr. A yang harus dia bayarkan.


Lalu mengerjakan pembukuan CV. FIKTIF yang semua angkanya palsu selain mengerjakan pembukuan perusahaannya sendiri.


Bahkan sekarang dia juga harus sering membuat nota atau kwitansi palsu, bahkan punya beberapa cap rumah makan palsu dan juga cap toko palsu.

__ADS_1


Sedih hatinya bila harus melakukan itu semua, tapi apa daya anak tiga semua sekolah sementara suaminya kerja serabutan tak punya penghasilan yang jelas.


Kadang kalau Mario tak ada di kantor, Marsela dan Susi sering menangis berdua di gudang kantor.


"Pak Mario beda banget yah, dulu waktu belum gabung sama Koh Aliong sih semua nyaman walau gaji dan bonus kita kecil. Sekarang gaji naik, bonus besar tapi harus menerima makian setiap hari," keluh Susi sambil berurai air matanya.


"Aku juga takut Susi, tapi mau bagaimana lagi. Kamu sih bisa sewaktu- waktu keluar kerja karena masih lajang, aku ada anak tiga dan suami kerja tak jelas. Umur sudah kepala tiga, mau kerja dimana lagi coba," Marsela juga merasa sedih tak terkira.


"Mau keluar kerja juga banyak pertimbangan Mbak Sela, aku dulu sejak awal kantor berdiri saat cuma punya satu proyek kecil bersama pak Rio, masa sekarang saat sibuk aku tinggalkan. Ada rasa kasihan sama Pak Rio, tapi kalau ingat dia berubah jadi kesal juga rasanya".


Marsela dan Susi saling memandang sambil sama-sama beruraian air mata, mereka berpelukan menangis membuang rasa kesal di hati.


Maya sudah tidur, untung anak itu seharian anteng sekali karena mungkin sudah besar. Ibu Sunaryo tadi berkata agak kewalahan saat Maya sudah banyak berjalan dan berlari.


Anak itu sudah hampir dua tahun sekarang umurnya, Soraya jadi berpikir untuk membawa Maya ke sekolah saja karena di sana ada kelas untuk anak batita atau bawah tiga tahun.


Sekarang Soraya sedang mengetik soal-soal ujian di komputer, minggu depan siswa-siswa harus ujian tengah semester.


Karena sibuk beberapa hari ini, ada yang terlupa dilakukan oleh Soraya yaitu minum pil KB, dan kebiasan lama terus terjadi yaitu dia tak pernah mencatat tanggal haidnya.


Selama ini dia menjaga kehamilan dengan menggunakan pil KB saja, karena dia merasa kurang nyaman dengan metode lainnya.


Soraya memang agak santai untuk urusan itu, karena Mario sering pulang malam hari sambil setengah mabuk juga. Dan sampai rumah langsung tidur tanpa menyentuh dirinya.


Jadi saat dia lupa minum pil tersebut juga, dia tak ambil pusing.


Di luar hujan cukup deras, Soraya harus mengebut mengetik karena khawatir listrik padam kalau hujan disertai kilat seperti ini.


Jam dinding sudah di angka sembilan, berarti sudah pukul sembilan malam hari.


Akhirnya setengah jam kemudian rampung sudah semua soal ujian untuk bahan ujian semester minggu depan.


Soraya mengintip ke kamar, dan Maya masih tidur dengan sangat nyenyak apalagi hujan begini, cuaca dingin tentu akan membawa diri masuk ke alam mimpi lebih dalam lagi.


Secangkir teh hangat pasti akan membuat tubuh lebih nyaman di cuaca hujan seperti ini, dan hal itu juga yang sedang dilakukan Soraya saat ini.


Di luar terdengar suara mobil Mario masuk ke halaman rumah, Soraya segera membuka pintu utama agar Mario bisa segera masuk rumah karena di luar hujan masih sangat deras.


Soraya berdiri di depan pintu yang terbuka menanti Mario masuk ke dalam rumah, sambil tampak sedikit terhuyung, Mario turun dari mobil lalu menatap Soraya sambil masuk ke dalam.


Mario menghempaskan diri ke kursi meja makan, sambil menelungkupkan wajahnya ke meja bertatakan tangannya.


Soraya menutup dan segera mengunci pintu, lalu melihat suaminya masih memakai sepatu, dan Soraya membantu melepaskan sepatu suaminya.


Mario melirik Soraya yang tengah mencoba melepaskan sepatu dari kakinya, tiba-tiba dagu Soraya diangkat dan Mario mencium istrinya dengan ganas.


Lalu Soraya ditindih tubuhnya, Soraya meronta dan berusaha mendorong suaminya yang tengah mabuk dan berusaha memperkosa dirinya.


Namun segala upaya dia lakukan tak berhasil, malam itu Soraya dipaksa untuk melayani hasrat Mario di lantai depan kamar tidur mereka.


Pakaiannya ditarik paksa oleh Mario sehingga robek dari atas ke bawah memanjang, begitu juga pakaian dalamnya di tarik dan dilempar entah kemana.


Bau hembusan alkohol menerpa wajah Soraya dan baunya tercium membikin pusing kepalanya, Soraya menangis tapi Mario tak peduli dia terus menindih, menekan Soraya sampai dia puas.


Mario menghempaskan tubuhnya di samping tubuh Soraya yang menangis sambil menutupi tubuhnya dengan pakaiannya yang di koyak oleh suaminya.


Sakit hatinya, mengapa Mario harus memperkosanya, mengapa tidak meminta dengan baik-baik saja karena dia juga paham kewajibannya sebagai seorang istri.


Sambil merasa perih di bagian intim tubuhnya, Soraya berdiri dan berjalan tertatih menuju kamar mandi.


Di bawah guyuran air pancuran kamar mandi, Soraya terus menangis meratapi nasibnya yang terasa memilukan hati.


Mengapa harus menikah dengan Mario, mengapa dulu Oma Elisabeth harus meminta dirinya untuk menikah dengan lelaki itu.


Ternyata yang dia takutkan benar terjadi bahkan lebih parah dari dugaannya selama ini.


Lebih baik Mario pergi dengan wanita lain daripada harus menyiksa diri dan batinnya.


Keluar dari kamar mandi, dengan tubuh masih dililit handuk lalu Soraya berjalan menuju kamar tidurnya.


Di depan pintu terlihat Mario masih tergeletak mendengkur, tanpa ambil peduli Soraya melangkahkan kakinya melangkahi tubuh suaminya lalu segera masuk ke dalam kamar tidur.


Setelah berpakaian lalu Soraya berbaring sambil memeluk Maya yang terlelap. Dalam hatinya bersyukur anaknya tidak tahu betapa tadi ayahnya telah melukai diri dan hatinya.


Mario masih tertidur, Soraya diam-diam keluar rumah sambil menggendong anaknya memakai tali khusus untuk gendongan bayi.


"Mau kemana?" tanya Ibu Sunaryo dari seberang jalan.


"Mau ke rumah neneknya," sahut Soraya sambil melambai ke arah Ibu Sunaryo.


"Ya, hati-hati di jalan," Ibu Sunaryo membalas lambaian sambil tersenyum.


Mario membuka matanya, kepalanya terasa pusing sekali. Dia baru sadar kalau semalaman tidur di lantai, dia berusaha duduk dan dilihatnya sebelah kakinya masih memakai sepatu, lantas dia melepasnya.


Seleting celananya terbuka, dia berusaha mengingat kejadian tadi malam.


"Soraya!" panggil Mario sambil bangkit dan duduk di atas kursi meja makan.


Saat duduk baru dia lihat kalau pintu kamar tidur terbuka dan kosong, anak dan istrinya tidak ada di dalam sana.


"Pasti di rumah seberang," pikir Mario sambil bangkit menuju kamar mandi.


Setelah mandi dan berpakaian, lalu dengan langkah mantap Mario menuju rumah Bapak dan Ibu Sunaryo untuk menjemput anak dan istrinya.


"Loh, tadi berjalan ke depan perumahan, naik becak mau ke rumah neneknya," jawab Ibu Sunaryo saat Mario bertanya keberadaan anak dan istrinya.


Mario segera pamit, tapi hatinya mulai kalut. Soraya membawa anaknya ke rumah nenek yang mana, ibunya kah atau ibu mertuanya kah.


Sambil mengambil kunci mobil, matanya melirik ke arah meja dan ada lembaran soal ujian sekolah SMP.


Mario paham kalau istrinya baru menyelesaikan soal ujian untuk siswa-siswa di sekolah tempatnya mengajar.


Tapi ada satu yang membuat jengkel, Soraya pergi dan tak membawa telepon selularnya. Benda itu terletak dengan manis di sisi tumpukan kertas soal ujian.


"Rio, kok sendirian? Padahal hari ini hari sabtu, kok Soraya dan Maya tak dibawa kemari?" tanya Ibu Wongso ketika Mario mencoba mendatangi rumah mertuanya.


Mario tak langsung menjawab tapi matanya menerawang seluruh ruangan, menyelidiki apakah istri dan anaknya ada di rumah mertuanya atau tidak.


Ketika yakin tak ada, lalu Mario menjawab kalau Soraya sedang sibuk membuat soal ujian dan dia sendiri sedang menanti waktu karena ada janji dengan orang di dekat rumah mertuanya itu.


Mario menanti sekitar satu jam lamanya, berharap istri dan anaknya datang ke rumah mertuanya. Dan rencananya ketika datang akan segera dia bawa pergi.


Soraya tak datang juga, berarti kemungkinan ke rumah orang tuanya Mario. Lalu Mario tak lama pamit untuk segera menuju ke rumah orang tuanya.


Mamih Regina sedang berbincang berdua dengan Rosalinda, seperti biasa menantu yang ini sambil membawa kue enak dan mahal, lalu cerita soal acara-acara sosialita yang selalu diikutinya.


"Sialan ada Ayamor," guman Mario ketika memasuki rumah orang tuanya.


"Rio, mana Maya? kamu sendiri saja? mana anakmu dan Soraya ?" Mamih langsung bertanya begitu pertanda kalau Soraya juga tidak ada di rumah ini.


"Soraya sibuk bikin soal ujian? paling besok saja pulang dari gereja akan aku bawa kemari," jawab Mario sambil langsung masuk ke ruang makan dan segera membuka tudung saji.


"Kamu belum makan, Rio?" tanya Mamih Regina saat melihat anaknya tampak kelaparan.


"Belum, tadi aku pergi pagi ke nasabah jadi tak sempat sarapan," Mario berbohong lagi sambil mengambil piring lalu menuangkan nasi dan mengambil lauk yang ada di meja itu.


"Tati!!! tolong bawakan sup baksonya dong, ada Rio nih belum makan," Mamih Regina meminta Bik Tati untuk membawakan makanan lainnya.


Bik Tati segera datang sambil membawa semangkuk sup bakso yang hangat dan segelas air putih untuk anak majikannya ini.


"Padahal Maya dibawa saja kemari, kan ada Tati yang urusin," ujar Bik Tati saat tahu kalau Mario datang hanya sendirian.


Mario hanya melirik saja, tak menjawab ucapan Bik Tati barusan.


Sambil makan sambil berpikir keras, kemana gerangan istri dan anaknya. Di sini tak ada, tadi di rumah mertuanya juga tak ada.


Mau bicara kepada Mamih Regina, ada Rosalinda yang sudah pasti akan memberi komentar yang sangat menyebalkan.


"Rio, kalau sesekali aku ajak Soraya kumpul bareng teman- temanku, boleh tidak? biar dia gaul dong," tanya Rosalinda sambil meletakan tas tangan yang mahal dihadapan Mario.


"Tak bisalah dia sih, pulang mengajar sore hari, lalu hari Sabtu dan minggu seringnya digunakan untuk memeriksa hasil ujian. Jadi rasanya tak ada waktu untuk kumpul- kumpul seperti itu," jawab Mario sambil mendengus sebal.


Rosalinda tak berkata lagi, dia hanya menatap sebal kepada Mario, lalu dengan gaya sok nyonya besar dia meraih ponselnya dan menelepon seseorang entah siapa.


Berjanjian untuk acara arisan yang akan diadakan di suatu restoran mahal di kota itu.

__ADS_1


Mario duduk di teras halaman belakang rumahnya sambil menghisap sebatang rokok, kepalanya penat sekali, dia berpikir keras kemana istrinya pergi membawa anaknya.


"Kamu masih saja merokok, coba berhenti dong Rio," ujar Mamih Regina yang saat itu terlihat seperti hendak pergi.


Mario hanya diam saja tak menjawab ucapan ibunya.


"Mamih tinggal yah, mau pergi dulu diajak Rosalinda," kata Mamih Regina pamit kepada anaknya itu.


"Coba ada Soraya, pasti akan aku ajak serta nih. Kami mau creambath rambut sambil pijat refleksi," ujar Rosalinda sambil setengah menyindir Mario.


Tak ada ucapan apapun dari bibir Mario, hanya anggukan kepalanya saja kepada ibunya.


Soraya menikmati naik bis bersama anaknya, terlihat bayi


yang hampir dua tahun usianya itu sangat senang sekali menikmati perjalanan tersebut.


Khayalan Soraya melayang kepada film masa lalu yang berjudul "Baby days out", film tentang petualangan bayi yang baru bisa merangkak bisa lolos dari usaha penculikan dan berhasil mengecoh sang penculiknya.


Ada adegan bayi itu naik ke dalam bis, dan saat Soraya melihat anaknya kegirangan sambil menepuk-nepuk kaca bis, membuatnya teringat akan film lama itu.


"Sekarang kita jalan-jalan di mall, Maya sayang pasti suka main di kolam bola sama Mama yah," ujar Soraya sambil mencium gemas anaknya yang juga tampak begitu senang dibawa pergi jalan-


jalan seperti ini.


Saat memasuki mall, Maya kecil terlihat sangat menikmatinya. Matanya memandang ke segala arah, andai saja sudah bisa bicara lancar pasti akan banyak yang akan ditanyakan kepada Ibunya.


Di arena bermain anak batita, Maya sangat gembira sekali. Dia merangkak dan berjalan ke sana kemari karena banyak bola, boneka dan berbagai mainan lainnya di ruangan itu.


Puas bermain, lalu Soraya membawa anaknya ke area makan, dan menyuapi bubur makanan anaknya.


Setelah makan, tampak Maya terlihat mulai mengantuk, lalu Soraya segera mencari ruangan untuk menyusui bayi yang selalu ada disetiap mall besar.


Maya minum susu dari payudara ibunya dengan sangat banyak, anak itu terlihat sangat lelah sampai mengantuk dan tertidur saat bibir kecilnya masih menempel di ****** ibunya.


Soraya melepaskan bibir kecil itu secara perlahan, lalu memeluk erat anaknya itu sambil air mata menetes lagi.


Diliriknya jam tangan sudah menunjukkan pukul empat sore, dan dia masih tak tahu harus pulang kemana.


Mau ke rumah ibunya atau ke rumah mertuanya pasti hanya akan menjadi menambah beban masalah dan pikiran semua orang.


Tak ada lagi jalan lain, hanya naik bis lagi dan kembali lagi menuju perumahan tempat tinggalnya.


Matahari sudah tak nampak lagi saat keduanya tiba di depan rumah dengan diantar oleh becak yang dinaikinya dari depan halte bis.


Mobil Mario tak ada di halaman, pertanda belum pulang ke rumah. Lalu Soraya segera mandi dan juga membersihkan anaknya.


Setelah Maya selesai diberi makan malam, lalu dia mengajak anaknya bermain di atas tempat tidur.


Dari luar terdengar suara mobil memasuki halaman rumah, rupanya Mario pulang padahal masih belum lagi pukul sembilan malam.


"Kamu darimana seharian?" tanya Mario saat mendapati istrinya sedang berbaring bersama anaknya.


Soraya diam tak menjawab, juga tak menatap ke arah suaminya yang sedang berdiri di depan pintu kamar yang terbuka.


Maya merangkak mendekati Mario, lalu dengan penuh rasa kangen kepada anaknya, segera Mario meraihnya dan memeluk anaknya.


"Anak Papa darimana saja sih? seharian Papa cari, Papa kangen sama anak Papa satu ini," ujar Mario sambil memeluk dan menciumi anaknya.


Soraya beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju keluar kamar.


"Kamu kok tak jawab, aku tanya kamu kemana sama Maya seharian," kata Mario sambil memegang lengan istrinya.


Soraya menatap Mario dengan tajam, lalu mengibaskan tangan Mario dan segera melangkah keluar kamar lagi.


Mario segera menghalangi sambil menggendong anaknya.


"Aku mau minum, tolong jangan halangi pintunya," ujar Soraya dengan nada dingin.


"Jawab dulu kamu kemana? dan mengapa tak bilang sama aku?" Mario memaksa Soraya untuk menjawab pertanyaan yang dia tanyakan.


"Harus aku ijin sama orang mabuk?".


"Aku suamimu, dalam kondisi apapun aku, tetap saja kamu harus ijin kepadaku kalau mau pergi".


Soraya menatap tajam ke arah Mario, terlihat sekali dia saat ini begitu kesal dan benci kepada suaminya.


"Kami naik bis keliling kota, lalu main di mall".


Mario mendekati Soraya," Aku minta maaf kalau semalam menyakitimu. Aku sungguh tak sadar".


Soraya diam dan membuang muka ke arah tembok saat wajah Mario mendekati dirinya.


"Kamu mau kan memaafkan aku?".


Soraya mendorong tubuh Mario, lalu berlari ke arah kamar mandi. Segera masuk ke dalam kamar mandi, dan menangis meluapkan seluruh kekesalan di hatinya.


Malam itu Mario tidur di kamar sebelah yang ukurannya lebih kecil juga penuh dengan lemari dan barang-barang.


Mario tidur beralaskan tikar, dan Soraya tak ambil pusing dengan hal itu, dia tidur sambil memeluk anaknya.


Keesokan harinya mereka pergi ke gereja bersama, dan sepanjang jalan tidak ada sepotong kata terucap dari bibir suami istri tersebut.


Hanya Maya kecil saja yang ramai mengoceh sepanjang jalan entah apa yang sedang diucapkannya.


Pulang gereja berkumpul makan siang di rumah Mamih Regina dan Papih Hansen, tak ada yang menyangka kalau Soraya sebenarnya sedang marah besar kepada suaminya.


Soraya masih melayani makan dan minum untuk suaminya, masih menitipkan Maya kepada suaminya saat dirinya sibuk membantu di rumah mertuanya.


Duduk masih di samping suaminya saat makan bersama keluarga besar, tak ada yang berubah.


Aksi diam Soraya ini terus berlangsung hampir dua bulan lamanya, tapi selama itu sarapan pagi masih tersedia, makan malam tersedia.


Pakaian Mario ke kantor masih tersedia rapih dipilih oleh Soraya setiap harinya.


Semua tak berubah, yang berubah hanya tak ada pembicaraan, lalu Mario tetap tidur di kamar sebelah beralaskan tikar.


Sampai suatu hari Soraya merasa mual-mual dan pusing, lalu dia ingat-ingat juga kalau sudah hampir dua bulan dia tidak haid.


Sepulang mengajar pergi ke apotik membeli test pack, esok paginya saat dicoba dan hasilnya positif.


Mario baru bangun, seluruh tubuhnya pegal karena tidur di lantai beralaskan tikar selama ini. Dia duduk di kursi yang di hadapannya ada secangkir kopi panas.


Di sebelah cangkir dia melihat ada plastik kecil, dan di dalam plastik ada lempengan tipis. Dia meraihnya dan terlihat ada dua garis merah terpampang pada lempengan itu.


Mario tersenyum melihatnya, lalu dia memasuki kamar tidur dan dilihatnya Soraya sedang menangis di ujung tempat tidur.


"Soraya, kamu....".


Soraya mendongak dan melihat Mario mendekati dirinya, lalu Mario merangkul bahu istrinya itu.


"Maya belum juga dua tahun, aku selama ini selalu berharap besar bisa memberikan ASI eksklusif kepadanya sampai usianya dua tahun. Bulan depan dia baru akan ulang tahun kedua tahun, tapi aku hamil".


Sambil terisak-isak Soraya mulai bicara mengeluarkan isi hatinya.


"Sialnya lagi aku hamil sehabis aku diperkosa suami yang sedang mabuk. Benih itu tumbuh, dan aku takut anakku bermasalah karena tertanam benih pemabuk".


"Aku benci kamu, jahat kamu Bang. Apa salahku padamu sampai harus memperkosa istri sendiri dengan cara yang sekasar itu," Soraya semakin kencang menangisnya sampai Mario meraihnya masuk ke dalam pelukannya.


Soraya menangis di dada Mario, dia luapkan seluruh emosinya yang selama ini terpendam.


Mario memeluknya erat dan menciumi berkali-kali kepala istrinya yang memiliki rambut yang sangat harum sekali.


"Maafkan aku sayang, maaf, sekali lagi maafkan aku. Kemarin ini aku khilaf," kata Mario sambil mengangkat wajah istrinya yang basah dengan air mata.


"Sekarang kamu hamil anak kedua kita, jangan berpikir buruk. Aku akan menjagamu, yakin anak kedua kita juga akan baik-baik seperti Maya".


Soraya terdiam, lalu dia mulai menganggukan kepalanya sambil menghela nafas.


"Papapapapapa...mamamamama...," ada suara kecil yang memanggil mereka berdua yang sedang saling maaf- memaafkan.


Gadis kecil merangkak, lalu berdiri dan berjalan di tempat tidur mencoba meraih pelukan ayah dan ibunya.


Ketiganya saling berpelukan, tak kuasa menahan haru kalau mendengar suara kecil memanggil mereka berdua.


Mario mencium pipi anaknya dan juga pipi istrinya, ingin rasanya dia juga berubah untuk menjadi suami yang lebih baik lagi.

__ADS_1


__ADS_2