PENGKHIATAN CINTA

PENGKHIATAN CINTA
Awal Jena


__ADS_3

Karena Aletha dan bayi ada di rumah mertua, maka Asrul meminta ijin kepada istrinya untuk sementara menjadikan rumah mereka studio untuk membuat gambar dan maket bangunan.


Kebetulan ada teman sekolah dulu menjadi seorang pengusaha dan memberi sebidang tanah yang luas untuk dijadikan hotel berbintang dan apartemen.


Bisnis ini diluar kampus, tapi Asrul ingin mengajak beberapa mahasiswanya untuk bergabung dalam tim ini.


Sekolah Tinggi tempatnya bekerja memang baru berdiri sekitar empat tahun lalu, dan baru akan ada lulusan sarjana di tahun ini.


"Daripada beberapa anak ini magang di tempat lain, lebih baik aku yang bantu mereka ," guman Asrul sambil menatap nilai index prestasi beberapa mahasiswanya.


Namun ada juga angkatan ketiga yang punya prestasi baik, salah satunya Jena sahabat adik iparnya.


Walau baru menginjak angkatan ketiga tapi Jena sangat pandai, terampil dan rapih dalam membuat maket.


Nama Jena akhirnya masuk dalam daftar mahasiswa yang akan diajaknya untuk bergabung dalam proyek ini.


"Jena, kamu mau apa hari minggu kemari?" tanya Arman mahasiswa tingkat akhir yang dipanggil Asrul pagi ini.


"Aku dipanggil Pak Asrul, kak," sahut Jena apa adanya.


"Loh, bukannya hanya kami yang tingkat akhir saja. Kok, kamu terbawa juga?" Nurdin teman Arman juga merasa aneh.


"Entahlah, aku sih hanya menurut saja. Kata Pak Asrul disuruh ke kampus hari minggu jam delapan pagi, ya sudah aku datang. Gitu aja kok repot," timpal Jena merasa tak senang serasa ditolak oleh kakak tingkatnya.


Arman dan Nurdin saling bertatapan, lalu keduanya sama-sama mengangkat bahu.


Jena yang merasa kesal juga mengangkat bahunya, lalu duduk sendirian menjauhi mereka berdua.


Tak lama mobil Asrul terlihat memasuki halaman kampus, ketiga mahasiswanya segera mendekati tempat Asrul memarkirkan mobilnya.


"Maaf yah saya terlambat, anak saya menangis terus saat saya mau berangkat, jadi tadi saya bawa dulu berputar mengelilingi perumahan, baru dia diam dan saya bisa kemari," Asrul langsung meminta maaf dan menceritakan alasannya datang terlambat.


"Tak apa pak, kami juga belum lama menanti," sahut Arman sambil senyum-senyum.


"Kalian membawa kendaraan atau tidak?" tanya Asrul kepada ketiganya.


Semua menggelengkan kepala karena ketiganya ke kampus naik kendaraan umum.


"Kalau begitu kalian semua naik ke mobil saya, kita ke langsung ke lokasi dan juga ke studio," ujar Asrul meminta ketiganya segera naik mobilnya.


Jena duduk di kursi depan samping kemudi, dan kedua mahasiswa lain yang duduk di kursi belakang merasa heran karena Jena bercakap-cakap dengan dosen mereka sangat akrab sekali.


"Saya sudah lama tidak melihat Ewin, sekarang sudah besar yah pak. Mungkin sudah lima bulan yah usianya?" Jena menanyakan kabar Edwin anaknya Asrul.


"Hmmm, sudah mau tujuh bulan. Sekarang sudah besar, sudah makan bubur bayi, dan sudah senang jalan-jalan," jawab Asrul menceritakan anaknya.


"Wah, saya sudah lama tidak ke rumah sejahtera, bapak sih memisahkan saya dengan Genta. Coba kalau kami satu kelompok kan enak, saya bisa main ke rumah Genta jadi bisa sering ketemu Ewin," ujar Jena dengan sok manja kepada dosennya.


"Kalau saya jadi mentornya Genta, nanti dikira orang saya tidak adil dalam memberi nilai. Tidak mungkin dong saya memasukkan adik ipar sendiri di kelompok mentoring saya," sahut Asrul sambil menatap Jena.


"Ya deh, yang penting saya jangan dikasih nilai kecil yah. Pak Asrul kan baik, saya kan sahabat Genta, anggap saya adik ipar juga yah pak," Jena lagi-lagi sok manja.


"Berarti kamu harus pindah kelompok kalau mau jadi ipar saya," tukas Asrul sambil senyum.


"Jangan dong, nanti saya di kelompok Genta. Ogah ah... hahahaha," Jena menolak sambil tertawa.


Arman dan Nurdin yang duduk di belakang merasa aneh melihat kedekatan Jena dengan Pak Asrul.


Tapi lelaki lebih acuh tak acuh, mereka pikir bukan urusan mereka jadi memilih diam saja tak ambil pusing.


Mobil Asrul memasuki suatu lahan terbuka yang cukup luas di sekitar pinggiran kota Semarang.


Di lokasi itu sudah ada Husein dan juga seseorang lain yang belum dikenal ketiga mahasiswa itu.


Setelah mobil parkir, lalu mereka berempat turun dan langsung mendekati Husein.


"Halo Arya, apa kabar bro?" Asrul menyalami lelaki yang sedang berdiri bersama Husein.


"Asrul, sudah jadi boss, mantu konglomerat....hahahah!!!" kata Arya sambil membalas salam Asrul lalu merangkul bahunya.


"Bisa saja kamu, aku cuma mantu, tapi kamu tuh anak boss....hahahah!!!" timpal Asrul sambil tertawa.


"Bapakku cuma kutu di mata mertuamu sih...hahahaha!!!".


Asrul, Arya dan Husein lantas tertawa-tawa lagi sambil berbincang yang tidak terlalu dipahami oleh ketiga mahasiswanya.


Ketiga mahasiswa hanya diam di bawah terik matahari pagi sambil memandang lahan yang luas, dalam benak ketiganya bertanya-tanya untuk apa lahan seluas itu.


Tak lama datang lagi sebuah mobil jeep mewah memasuki lahan tersebut, dan setelah parkir turun seorang pria tinggi besar, berkulit putih dan memakai kaca mata hitam.


Ketiga mahasiswa melihat kedua dosennya dan temannya segera menghampiri pria yang baru turun dari mobil tadi.


Lalu keempatnya berjalan menuju ke posisi tadi Husein dan Arya berdiri sebelumnya.


"Kalian bertiga, kenalkan ini Pak Arya seorang insinyur sipil, dan ini adalah Pak Louis Orlando. Pasti kalian pernah dengar nama tersebut," Asrul mengenalkan ketiga mahasiswa kepada teman- temannya.


Sontak ketiga mahasiswa terkejut dan sedikit gemetar saat mendengar nama terakhir, begitu juga saat bersalaman, tangan ketiga anak muda itu bergetar karena gugup.


Siapa tak pernah mendengar nama Louis Orlando, seorang pengusaha muda dibidang property yang sangat terkenal.


"Jadi begini, aku punya lahan ini. Dan rencananya aku mau buat hotel dan apartemen di sini. Ada water boom juga dan cafe-cafe di sekitarnya," Louis Orlando membeberkan keinginannya atas lahan tersebut.


"Aku mau kalian buatkan rancangan gambar maupun maket untuk proyek ini. Dan juga budgetnya sekalian berapa untuk seluruh pembangunan tersebut," lanjut Louis lagi kepada semuanya.


"Aku tak mau ada mark up atau apapun yah, ingat aku juga anak sipil sekaligus anak arsitek. Jadi aku minta kalian buat yang sebagus mungkin rancangannya beserta budget yang masuk akal. Nanti aku tunggu proposal kalian," ujar Louis lagi sambil tersenyum.


"Tenang bro, pasti kami bekerja profesional. Kami tak mau sampai kehilangan kepercayaan dari kamu dong," sahut Arya sambil menyenggol lengan Louis.


"Hahahah...habis aku suka kesal, banyak kontraktor nakal. Mereka pikir aku tak paham soal bangunan dan juga soal perhitungannya. Jadi kalau bawa proposal pasti dengan nilai tak wajar," kata Louis lagi menceritakan pengalaman buruknya.


"Kami akan berusaha memberikan yang terbaik bro. Ini suatu kesempatan besar bagi kami semua. Besar harapan kami agar nanti bisa dipercaya untuk menggarap proyek ini," ujar Asrul juga kepada Louis.


"Husein, kamu diam saja. Kenapa sih, kok tidak bersemangat?" tanya Louis kepada Husein yang sedari tadi memang diam melulu.


"Tidak bro, aku sedang berkhayal memikirkan rancangan hotel nanti bagaimana jadinya," sahut Husein sambil menggoyangkan kepalanya.


"Jangan dikhayalkan, nanti munculnya khayalan jorok, hahahahah," goda Louis lagi sama menyenggol bahu Husein.

__ADS_1


Setelah Louis mengutarakan semua maksud dan keinginannya, lalu dia pamit meninggalkan lahan tersebut.


"Sekarang kalian masuk mobil, kita menuju studio," ujar Asrul kepada ketiga mahasiswanya.


Husein dan Arya menyusul Asrul dengan naik mobil lain, dan kelihatannya itu milik Arya karena Arya yang terlihat mengemudikan.


Jena merasa aneh karena perjalanan serasa menuju ke rumah kediaman Asrul dan Aletha.


"Pak, ini sih ke rumahnya bapak sama Kak Etha yah. Apa benar yah mau kesana?" tanya Jena dengan berharap benar.


"Iya memang benar, kenapa sih ?" tanya Asrul melirik Jena.


"Ada Ewin...!!! iihh gemes deh. Saya pengen gendong Ewin pak," Jena terlihat senang karena seakan mau bertemu dengan anaknya Asrul.


"Ewin kan di sejahtera, rumah kami kan kosong. Jadi dipakai studio," sahut Asrul membuat Jena terlihat sedih.


"Kirain ada di rumah bapak. Yah...gagal deh ketemu anak itu," keluh Jena.


"Nanti main saja ke rumah sejahtera, nanti setelah selesai rapat di studio, saya ajak kamu ke rumah mertua saya," kata Asrul membuat Jena senang.


"Wah...mau dong, sekalian sudah lama tidak bertemu dengan Genta," Jena terlihat sangat gembira.


Tak lama mereka tiba di sebuah rumah berlantai tiga, tapi ketika masuk ke dalam baru terlihat jelas kalau sebenarnya bukan tiga lantai namun dua setengah lantai.


"Ayo silahkan masuk!" ajak Asrul kepada ketiganya.


"Jena, coba tolong buatkan minuman segar yah. Di dalam lemari es kalau tidak salah masih ada sirup. Buat enam gelas yah karena Pak Husein dan Pak Arya akan segera kemari juga," pinta Asrul kepada Jena.


"Siap pak !!!".


Jena seperti paham, dan langsung menuju dapur rumah itu, membuka lemari es dan segera membuat minuman segar sebanyak enam gelas.


"Kok kamu paham banget sih sama rumah pak Asrul, bahkan sama keluarganya juga?"tanya Arman terlihat menyelidik.


"Hmmm, aku kan sahabatnya Magenta adik iparnya Pak Asrul. Itu loh yang hitam manis, yang rambutnya bergelombang," papar Jena kepada kedua kakak tingkatnya.


"Oh, iya, aku tahu. Yang tinggi dan pakai kacamata, benar manis banget gadis itu," sela Nurdin yang ingat kepada sosok Magenta.


"Nah iya benar, dia itu sahabat aku dari awal semester satu. Jadi aku tahu banget dari awal Pak Asrul pacaran sama Kak Etha, bahkan waktu mereka menikah juga aku kan tim penerima tamu," ujar Jena menceritakan kenapa dia terlihat akrab dengan dosennya.


"Oh pantesan, sekarang juga kamu di bawa kemari. Tadinya aku curiga, jangan-jangan kamu sama pak dosen ada apa-apanya," goda Nurdin sambil mengangkat alisnya.


"Enak saja, aku tuh sudah dianggap seperti saudara oleh keluarga istri Pak Asrul. Dulu sering kemari juga, kalau ke rumah mertua Pak Asrul sih sering menginap di sana," sahut Jena sambil kesal mendengar ucapan Nurdin.


"Sorry dong, kami kan tidak tahu kalau kamu sahabat adik iparnya beliau. Jadi wajarlah kalau kami curiga," kata Arman juga sambil menyenggol lengan Nurdin.


Jena melotot kepada kedua lelaki itu sambil mengacungkan tinju, dan sontak kedua lelaki itu tertawa.


"Ada apa nih, seru amat ?" tanya Asrul yang baru saja turun dari lantai atas.


"Eh, tidak pak. Ini Jena pak," sahut Nurdin.


"Huuhhh!!! enak saja. Mereka yang mengejek saya pak," Jena melotot lagi kepada Nurdin.


Asrul hanya senyum saja sambil geleng-geleng kepala.


Tak lama Husein dan Arya datang, dan langsung masuk ke dalam rumah.


"Terima kasih Jena, segar banget minumannya. Nanti fisika bangunan kamu dapat nilai A yah," kata Husein yang terlihat sangat menikmati sirup buatan Jena.


"Wah, serius pak....asyikkk!!!" seru Jena.


"Iya, minta sama Pak Wijoyo yah besok. Saya kan tidak mengajar itu...hahahah," lanjut Husein sambil tertawa.


"Memang Pak Husein jahil deh," Jena langsung cemberut.


Arman dan Nurdin cekikikan mendengar Jena dikerjai oleh Husein.


"Ayo kita ke lantai atas saja!" ajak Asrul kepada semuanya dan diikuti oleh semua yang ada disitu.


Di lantai atas terlihat ada dua meja gambar untuk membuat rancangan arsitektur, juga ada dua buah meja panjang untuk membuat maket bangunan.


Ada bahan-bahan seperti styro foam, karton, mika, kain, kawat, lalu cat semprot dan lain sebagainya.


"Arman, Nurdin dan Jena, kalian bertiga kami panggil karena kami para dosen ada pekerjaan di luar kampus".


"Mungkin terlihat curang, tapi bukan begitu karena saya dan Pak Husein juga Pak Arya di luar kampus juga memiliki pekerjaan lain yaitu yang bergerak di bidang konsultan pembangunan".


"Pak Arya adalah teman SMA Pak Husein yang merupakan insinyur sipil, sedangkan saya dan Pak Husein adalah teman kuliah. Dan yang sekarang yang memberi pekerjaan kepada kami yaitu Pak Louis Orlando adalah teman SMP saya. Dunia memang sempit berputar di situ-situ saja yah," kata Asrul saat membuka pertemuan di siang itu.


"Kalian kami ajak dalam proyek ini, karena selain Arman dan Nurdin memang mahasiswa tingkat akhir yang butuh magang. Maka kami ajak, karena kalian punya keahlian masing-masing yang menurut kami bisa membantu dalam pelaksanaan proyek ini," lanjut Asrul lagi.


"Sementara Jena yang masih tingkat bawah, kami ajak karena dia punya keahlian membuat maket dengan sangat rapih dan teliti".


Jena senyum-senyum saat dipuji oleh dosennya itu.


"Saya tambahkan yah, Arman kami nilai kamu bagus dalam membuat rancangan gambar bangunan, sedangkan Nurdin bagus dalam rancangan interior. Jadi saya dan Pak Asrul bersepakat mengajak kalian bergabung. Bagaimana? apakah kalian bersedia?"tanya Husein kepada kedua mahasiswa lelaki itu.


Keduanya tentu saja senang mendengarnya, lalu Nurdin menyeletuk kepada dosennya.


"Pak, maaf apakah kami nanti mendapat honor?"tanya Nurdin sambil memerah wajahnya.


"Hahaha...belum kerja sudah nanya honor, hahahaha!!!" Arya tertawa mendengar pertanyaan Nurdin.


"Aduh pak, butuh uang sih pak. Lumayan kalau ada honor kan buat nambah bayar kos dan ongkos juga pak," jawab Nurdin lagi sambil menunduk malu.


"Hahaha, tentu ada dong. Makanya kalian mulai besok kerja yang benar, nanti pasti ada honornya," sahut Asrul merasa geli melihat mimik wajah Nurdin.


Lalu mereka langsung menuju ke inti teknis pekerjaan yang akan segera dilakukan.


Mereka juga mengatur jadwal pekerjaan, agar jangan sampai berbenturan antara kegiatan kampus dengan proyek yang sedang digarap.


Jena sebagai perempuan satu-satunya dalam tim, mendapat tugas lebih yaitu memasak makanan kalau kebetulan ada di studio.


Tentu saja dia menerima tugas itu, tapi sambil mengancam kedua kakak tingkatnya kalau mengejeknya maka tidak akan dibuatkan apapun.


"Kalian bertiga itu harus kompak loh, kita ini satu tim. Jangan saling meledek," kata Husein yang merasa geli melihat tingkah mahasiswanya.

__ADS_1


Jena puas sekali dan dia menjulurkan lidah kepada keduanya menandakan dia merasa menang.


Pulang dari pertemuan itu, Jena diajak oleh Asrul menuju ke rumah mertuanya.


"Nanti kamu jangan bilang apa-apa sama Magenta yah, nanti dia pasti marah sama aku," kata Asrul mengingatkan Jena.


"Memangnya kenapa sih pak, kok Genta tidak diajak dalam proyek ini?" tanya Jena merasa aneh.


"Kamu tahu sendiri dia itu anak manja, nanti dia malah bikin runyam. Sementara proyek ini kan butuh cepat, Genta kan anaknya kalau aku kasih tahu atau aku tegur nanti ngambek, tersinggung. Jadi serba salah aku nantinya," Asrul mengatakan kondisi sebenarnya kepada Jena.


"Iya pak, siap. Saya paham betul kok," sahut Jena sambil senyum kepada dosennya.


Asrul melirik Jena ,"Astaga, anak ini manis banget kalau senyum".


Lalu sepanjang jalan Asrul mengucapkan Istighfar dalam hatinya karena melihat tak sengaja menaruh sedikit rasa kepada wanita lain.


"Jena, kok bisa bareng sama Mas Asrul sih?" tanya Magenta ketika melihat sahabatnya datang bersama kakak iparnya.


"Kami bertemu di depan ujung jalan tadi, aku sedang jalan kaki menuju kemari lalu kebetulan Pak Asrul lewat jadi menebeng mobilnya ," sahut Jena dengan nada riang.


Asrul hanya diam saja tak berkata apapun, dan segera masuk ke dalam rumah mertuanya.


Jena segera minta Magenta bertemu dengan keponakan kecilnya anak Asrul dan Aletha.


Edwin kecil sedang diberi makan oleh baby sitter, anak itu menatap Jena karena merasa asing dengannya.


Tapi Jena bisa segera mengajaknya tertawa, sehingga anak kecil itu juga merasa tidak asing lagi kepadanya.


Seharian Jena di rumah Magenta, selama ini memang mereka jarang bertemu karena berbeda mentor.


Selama di rumah Magenta, terlihat Asrul jarang bicara bahkan jarang sekali keluar kamarnya.


Lebih banyak berdiam di dalam kamar menghadapi komputer dibandingkan berkumpul mengobrol dengan istri dan mertuanya.


Jena malah lebih banyak terlibat perbincangan dengan keluarga Magenta.


Kalaupun sesekali Asrul keluar kamar untuk makan bersama, terlihat lebih banyak berdiam diri daripada terlibat pembicaraan dengan mertuanya.


Diam-diam Jena memperhatikan sikap Asrul, dalam hatinya bertanya- tanya mengapa dosennya itu seakan tidak terlihat bahagia dalam pernikahannya.


"Kak Etha sudah mulai praktek lagi?" tanya Jena ketika ikut duduk santai di ruang keluarga rumah Magenta.


"Sudah Jena, sejak dua bulan lalu aku sudah praktek. Kenapa? kamu giginya ada lubang?"tanya Aletha sambil menatap Jena.


"Iihh, gigiku baik-baik saja kok. Kan Kak Etha yang selalu bilang harus rajin gosok gigi dan merawat gigi," sahut Jena.


"Hihihi, kirain gigimu ada lubang tapi takut sama aku," kata Aletha lagi sambil cekikikan.


"Nih gigiku rapih dan bersih kak, tapi aku tidak takut kalau ke dokter gigi juga," sahut Jena memperlihatkan barisan gigi putihnya.


"Ya gigimu putih dan bersih, lain sama Genta. Dia jorok jarang gosok gigi malam hari, tuh lihat giginya kuning," kata Aletha sambil menunjuk adiknya.


"Mulai, selalu aku yang menjadi bahan perbandingan," Magenta protes lalu cemberut.


Aletha dan Jena menutup mulutnya dengan tangan masing-masing, menahan tawa melihat mimik wajah Magenta yang seperti baju belum disetrika.


Sampai sehabis makan malam Jena pamit pulang, terlihat Asrul hanya sesekali saja muncul tapi tidak banyak berinteraksi dengan siapapun.


Namun pemandangan berbeda sekali ketika esok harinya Jena bertemu Asrul di kampus dan studio.


Terlihat Asrul ceria seperti biasanya, dosen yang bijak selalu membimbing setiap mahasiswanya.


Di studio juga begitu, menjadi ketua tim yang menyenangkan karena selalu berusaha membantu ketiga mahasiswa yang ditariknya ke dalam tim kerjanya.


Suatu saat di studio, ketika hanya ada Asrul dan Jena saja sedang mengerjakan maket.


Dengan hati-hati Jena memberanikan diri bertanya mengapa Asrul berbeda sikapnya antara di rumah dengan di kampus juga di studio.


Awalnya Asrul menjawab asal saja, tapi lama-lama keluar juga curahan hatinya kepada Jena.


Rupanya Asrul kesal kepada kedua mertuanya juga kepada istrinya.


Awalnya mertuanya meminta Aletha dan bayi tinggal bersama mereka untuk sementara. Alasan mereka masih kecil sekali dan khawatir Aletha tak bisa mengurusi.


Tapi nyatanya malah ada baby sitter, lalu ketika melewati tiga bulan di sana. Ada lagi alasan mertuanya, karena Aletha sudah bekerja kembali nanti khawatir tidak ada yang menjaga.


Yang membuat Asrul semakin kesal adalah sikap Aletha yang tampak bimbang.


Hari ini sepakat pindah ke rumah sendiri, tapi ketika mertua menyampaikan alasan batal lagi dan memilih tinggal lagi bersama orang tuanya.


"Bahkan aku ingin berdua dengan anak juga diatur mertua. Tak bisa aku bisa merasakan puas bermain bersama anak. Baru sebentar sudah ribut kedua mertuaku".


"Cara menggendong dianggap salah, cara menyuapi dianggap salah, bahkan aku ingin tidur bersama bayiku sendiri juga dilarang. Sungguh aku merasa tertekan tinggal di sana," keluh Asrul kepada Jena.


"Sabar pak, namanya juga nenek dan kakek. Mungkin Oom Edmun dan tante sangat sayang kepada cucunya," Jena berusaha menghibur.


"Nah, soal nenek dan kakek, ada juga yang membuat aku kesal. Kalau Edwin aku bawa ke rumah orangtuaku, belum juga satu jam. Aletha sudah di telepon berkali-kali, minta agar anak saya jangan lama-lama perginya. Alasannya nanti masuk angin atau sejenisnya," Asrul kembali mengutarakan kekesalannya.


"Tapi mungkin Kak Etha bisa bilang kalau orang tua bapak masih kangen sama cucunya juga".


"Iya, Aletha sih bilang begitu, nanti pulang dari rumahku. Itu anak langsung dimandikan, seakan rumah keluargaku banyak kuman dan virusnya. Sakit loh hati saya, tapi saya tidak bisa berkata apa-apa. Jadi lebih baik apatis saja di rumah mertua," Asrul terlihat begitu kecewa mendalam.


Jena hanya diam saja tak berani bicara dan bertanya lagi.


Namun dalam hatinya timbul rasa kasihan melihat Asrul, dia setidaknya ikut merasakan kekecewaan hati dosennya itu.


Karena hampir setiap hari bertemu, maka Jena menjadi semakin akrab dengan Asrul.


Dia selalu mencoba menghibur Asrul dengan sesekali memasak di studio tersebut.


Dalihnya untuk makan ramai-ramai, tapi sebenarnya hanya untuk Asrul seorang.


Membuat maket begitu banyak dan memakan waktu berminggu-minggu, menjadikan keduanya semakin dekat lagi.


Apapun sudah saling bercerita, soal keluarganya Jena, soal keluhan Asrul. Bahkan kadang mereka sudah tak sungkan lagi sudah bisa saling menggoda satu sama lain.


Jena dan Asrul akhirnya sangat menikmati kedekatan mereka, walaupun keduanya masih menjaga jati diri masing- masing.

__ADS_1


Entahlah, apakah ini kesalahan atau memang kesempatan.


Yang pasti proyek pembangunan hotel dan apartemen ini merupakan awal kedekatan Jena dengan Asrul.


__ADS_2