
"Kak Etha, hati-hati di jalan, yah. Maaf Gen tidak bisa ikut ke Palembang," ujar Magenta ketika mengantar kakaknya ke bandara Jakarta.
"Tak apa-apa, kan aku ada Anwar dan Raya yang menemani," sahut Aletha.
"Mas Anwar, Mbak Raya, titip ka Etha, yah," pinta Magenta.
"Iya dong, kami jagain Mbak Etha. Kalau Mbak Etha hilang, nanti kami jalan kaki pulang ke Semarang. Tak punya ongkos, hahahaha," celoteh Raya yang memang suka asal ceplos.
"Hahaha, jangan jalan kaki, Mba Raya, naik becak saja. Paling nanti abang becaknya minta gantian menggowes. Hahahah," Magenta juga sama saja nyambung kalau soal bicara asal-asalan.
Lalu keduanya tertawa, dan saling bicara yang tidak-tidak lagi.
"Coba kamu ikut, Gen. Setidaknya aku punya teman tertawa," keluh Raya.
"Tenang, nanti kan kembali ke Jakarta lagi. Nanti kita jalan-jalan berdua saja. Hihihi," Magenta berbisik-bisik dengan Raya.
"Ayo Raya, kita harus segera check in ke dalam," ajak Anwar sambil geleng-geleng kepala karena istrinya masih saja seperti anak kecil.
Aletha hanya geleng-geleng kepala melihat adiknya ternyata cocok dengan istrinya Anwar, sama-sama tukang bicara ceplas-ceplos.
Lalu ketiganya masuk ke bandara untuk melakukan check in bagasi dan pemeriksaan lain-lain.
Tak lama terdengar panggilan Pesawat PLB Air dengan nomor pesawat PLB 1970 akan segera berangkat dan calon penumpang diminta untuk segera memasuki pesawat.
Aletha duduk di samping seorang ibu berusia setengah baya, dan tampaknya ibu itu suka tidur. Belum lagi pesawat lepas landas, beliau tampak sudah terlelap.
"Hmmm, mungkin kalau ibu itu terjaga, nanti aku akan coba memberi saran untuk beliau memeriksakan kesehatan. Takutnya orang di usianya, jam segini sudah tidur pasti ada penyakit yang tak disadarinya," ujar Aletha dalam hati sambil memandang ibu tersebut.
Sambil duduk Aletha memperhatikan penumpang lain yang menyusul masuk belakangan.
Dari seberang kursinya dia juga melihat Anwar yang pusing dengan kelakuan istrinya yang sejak tadi ruwet ingin duduk di samping jendela, tapi merasa takut juga. Dari tadi keduanya sibuk bolak-balik saling bergeser tempat duduk.
Aletha kembali geleng-geleng kepala melihat kelakuan adik iparnya yang merupakan pasangan pengantin baru yang masih suka kekanak-kanakan.
Sambil merebahkan punggungnya, tiba-tiba dia melihat seorang pria memakai kemeja coklat dan celana panjang blue jeans, dengan tubuh tingginya masuk ke dalam kabin.
Kulitnya hitam manis, wajahnya kejawa-jawaan, tapi di mata Aletha pria itu sangat tampan.
Matanya sempat tak berkedip memandang pria itu, dan mungkin pria itu sambil mencari kursinya, merasa juga Aletha tengah menatapnya.
Lalu pria itu menganggukan kepala sambil senyum kepada Aletha.
Melihat itu, Aletha tersadar sendiri, lalu dia segera membuang muka, berpura-pura melihat ke arah lain agar tidak terkesan sedang menatap wajah pria tadi.
"Astagfirullah, aku ini baru saja kehilangan suami. Ada-ada saja, Ya Allah, ampuni aku telah melihat pria yang bukan mahramnya," ujar Aletha dalam hati sambil menahan rasa malu.
Memang Fuad baru saja memasuki kabin pesawat PLB Air dengan nomor pesawat 1970, tadi setibanya di stasiun Jakarta, langsung naik taksi menuju bandara Jakarta.
Dia datang menjelang pesawat akan segera lepas landas, sehingga dia barusan setengah berlari memasuki lorong menuju pesawat karena sudah hampir terlambat.
Fuad mencari nomor kursinya, sambil melihat nomor-nomor kursi, dia merasa ada wanita cantik sedang menatap dirinya.
Lalu Fuad melemparkan senyum kepada wanita itu, dan terlihat wanita itu jadi salah tingkah sampai berpura-pura membuang muka ketika dia memberi senyum kepadanya.
Pesawat sudah meninggalkan bandara Jakarta, dan sekarang sudah terbang tinggi menuju Kota Palembang.
Sekitar satu jam lebih perjalanan, akhirnya mendarat juga di bandara Palembang dan mereka satu persatu turun dari pesawat.
Aletha melangkah perlahan menuju pintu keluar bandara, hatinya galau luar biasa, entah akan bagaimana kalau mereka nanti tiba di kampungnya almarhumah Jena.
Tiba-tiba pria yang menurut Aletha tampan melangkah disampingnya bermaksud mendahuluinya, dan sambil berjalan di samping Aletha dia sempat melempar senyum lagi kepada dirinya.
Tentu saja Aletha kembali salah tingkah, tapi dia hanya menatap pria itu tanpa membalas senyum dari pria tadi.
Anwar mencari taksi, lalu ketiganya diantar taksi tersebut menuju sebuah hotel di kota Palembang.
Hotel Kota Palembang, bukan hotel berbintang tapi cukup nyaman untuk dipakai menginap di sana.
Mereka memesan dua kamar tidur yang letaknya berseberang-seberangan, Aletha seorang diri dan Anwar tentu saja sekamar dengan istrinya.
Hari sudah menjelang sore saat itu, jadi mereka berkeputusan untuk menginap dulu dan baru esok hari akan melanjutkan perjalanannya.
Setelah selesai mandi lalu menunaikan ibadah, lantas mereka berencana mencari makanan khas kota itu, apalagi kalau bukan pempek.
Anwar bertanya dimana rumah makan yang menjual pempek paling enak kepada petugas penginapan, lalu petugas itu menunjukan jalannya bahkan sekalian menawarkan mobil sewaan beserta sopirnya.
"Mbak Etha, ternyata kita bisa sekalian menyewa mobil di penginapan sini beserta dengan sopirnya. Biaya sewa mobil dan sopir juga terhitung murah per harinya dibanding tadi naik taksi," Anwar menyampaikan kepada kakak iparnya.
Aletha mendengar penawaran itu, langsung setuju dan bahkan sekarang langsung minta diantar sopir berkeliling kota Palembang sambil mencari penjual pempek yang paling enak.
Sopir segera membawa mereka ke salah satu rumah makan penjual pempek yang paling enak di kota itu.
Ketiganya masuk ke dalam rumah makan, sementara sopir hanya menanti saja di depan rumah makan. Alasannya masih kenyang, dan hanya memesan satu gelas kopi hitam.
Raya duduk sambil memandang ke kiri dan kanan, dia senyum-senyum sendiri, entah mengapa dia seperti sedang merasa geli akan sesuatu hal.
"Kamu kenapa sih? dari tadi kayak orang tak waras, cekikikan sendiri," tegur Anwar ketika tahu istrinya bertingkah aneh.
"Hihihihi, aku merasa lucu mendengar orang Palembang bicara. Tadi aku mendengar beberapa orang bicara, bahasanya lucu, seperti bahasa Indonesia tapi pakai akhiran O. Dan anehnya, ada kata pacak, galak, cak nyo, kayak gitu. Hahahaha, aku sejak tadi merasa geli mendengarnya," Raya menjelaskan kepada suaminya.
"Itu memang bahasa mereka, jangan begitu. Tidak baik mentertawakan bahasa dan budaya orang lain," tegur Anwar lagi.
"Aku tidak menghina, malah aku suka. Cuma aku merasa lucu saja mendengar bahasa mereka. Apalagi kalau ada kata yang berkaitan R, mereka mengatakannya seperti ada getaran gitu. Hahahaha, sungguh unik sekali bahasa mereka," Raya tak tahan mendengarkan orang sekitar berbicara, baginya logat bicara orang Palembang sangat unik dan terkesan lucu.
"Kamu diam saja, kalau sampai mereka mendengar disangkanya kita menghina atau mengejek mereka. Jangan sampai membuat orang lain tersinggung," Anwar mengingatkan istrinya dengan nada penuh tekanan.
Jujur kadang Anwar suka merasa pusing karena istrinya suka tidak bisa menahan tawa, kadang lepas kontrol dan bertingkah seperti anak kecil.
Tapi mau bagaimana lagi, dia cinta sama Raya, walau tahu istrinya suka bertingkah konyol dan menjengkelkan, hanya bisa geleng kepala sambil terus berusaha menegur istrinya.
Untung saja Raya orang yang sangat easy going, jadi orang mau bilang apa dia tak suka tersinggung atau marah.
Malah kadang walau dimarahi suaminya juga yang ada malah cengengesan tak jelas saja.
Tak lama pesanan pempek mereka datang, dan ketiganya sangat menikmati hidangan tersebut. Rasanya lain dengan yang biasa mereka makan di Semaran, rasa ikannya dan kuah cukanya juga sangat segar.
"Hihihihi, masa kuah pempek ini disebut cuko, mungkin maksud mereka cuka, yah. Hehehehe, aneh yah. Cuka disebut cuko. Hahahaha," lagi-lagi Raya tertawa geli.
Aletha dan Anwar terlihat jengkel melihat tingkah Raya, keduanya merasa risih dan takut kalau sampai ada orang Palembang mendengarnya.
Disaat yang sama Fuad sedang berbaring di penginapan yang sama dengan Aletha, tapi mereka tidak saling tahu.
Tiba-tiba handphone Fuad berdering, ketika dilihat ternyata nomor yang tidak dikenal.
Tentu saja Fuad malas mengangkat untuk menerimanya, karena belakangan ini sering sekali dia mendapat telepon dari awak media yang sekedar bertanya atas sesuatu yang tidak penting baginya.
Sekitar lima menit kemudian, nomor tadi kembali menghubungi dia, masih juga tidak digubris.
Kali ketiga nomor tadi kembali membuat handphonenya berdering, baru dia mengangkat menerimanya.
__ADS_1
"Halo, dengan siapa yah?"sahut Fuad menunjukkan nada tidak suka.
"Assalamualaikum, Mas Fuad, maaf mengganggu. Ini saya Ratna kawannya Mbak Asmila. Saya yang tinggal di Bengkulu, Mbak Asmila kemarin ini hendak menuju kampung saya," ucap Ratna yang membuat Fuad terkejut, tapi menjadi semangat menerima telepon tersebut.
"Waalaikumsalam, oh, ya, saya ingat. Mbak Ratna yang dulu bekerja bersama istri saya di toko kosmetik, yah," sahut Fuad yang menjadi semangat mendengar ucapan Ratna tadi.
"Iya, benar Mas Fuad. Maaf, tadi saya telepon Mbak Asmida, saya tanya nomor kontak Mas Fuad. Lalu Mbak Asmida memberikan nomor ini dan memberitahukan kalau Mas Fuad sedang ada di Palembang," Ratna memberitahu bahwa Asmida yang memberi nomor kontak milik Fuad.
"Iya, benar. Saya sedang di Palembang, besok pagi rencananya akan ke lokasi kejadian. Ternyata cukup jauh dari kota Palembang," sahut Fuad.
"Iya, sekitar tiga jam. Maaf, Mas Fuad besok rencananya jam berapa dari Palembang ke lokasi?" tanya Ratna.
"Perkiraan jam enam pagi saya berangkat dari sini. Saya ingin lebih pagi tiba di lokasi kejadian," jawab Fuad.
"Besok kita ketemu di lokasi, saya setelah sholat subuh menyusul dari sini bersama suami," ujar Ratna membuat janji dengan Fuad.
"Oke, nanti kita saling kontak lagi. Nomor Mbak Ratna akan saya simpan," kata Fuad ketika pembicaraan mereka berakhir.
Setelah itu Fuad segera keluar kamar dan menemui petugas penginapan, lalu dia menanyakan kendaraan umum apa yang bisa membawanya ke lokasi kejadian kecelakaan di kaki gunung.
"Pak, besok saya jadwal libur, bagaimana kalau saya yang mengantar bapak. Tapi naik sepeda motor, kalau bapak berkenan nanti besok pagi jam enam saya sudah menunggu di lobby sini," jawab petugas itu.
Memang kadang suka ada usaha mencari tambahan penghasilan bagi karyawan penginapan, salah satunya adalah mengantar tamu menuju ke suatu lokasi wisata atau tujuan lain di saat jadwal liburnya.
"Oke, saya tak masalah mau naik sepeda motor juga. Berapa ongkos yang harus saya bayar?" tanya Fuad dengan gembira.
"Saya tidak menentukan tarif, terserah bapak saja. Paling ganti uang bensin, dan sekedar uang ngopi," sahut petugas tadi sambil malu-malu.
"Hahahaha, oke deh. Besok saya tambahkan sekalian dengan uang bakso dan es teh manis," Fuad menggodanya.
"Nah, itulah bapak lebih paham," sahutnya lagi sambil tertawa senang.
Mereka bersalaman menandakan perjanjian antar jemput besok pagi disepakati keduanya.
Lalu Fuad kembali lagi ke kamarnya, dan di saat bersamaan Aletha dan rombongan juga baru kembali sehabis makan pempek dan berkeliling kota.
"Jadi sepakat yah, pak. Besok pagi antara jam enam sampai enam tiga puluh, bapak sudah di lobby sini," ujar Aletha ketika turun dari mobil tersebut.
"Siap, besok pasti saya sudah siap di depan sini," sahut sopir tadi.
Lalu Aletha dan rombongan segera menuju ke kamar masing-masing.
"Bro, ssstttt, dapat berapa?" tanya petugas penginapan.
"Ini untukmu selembar," sopir paham untuk membagi rejeki tips dari Aletha kepada temannya itu.
Petugas penginapan mencium uang kertas tadi sebelum masuk ke saku kemejanya.
"Bro, besok aku ada job.Tadi bapak di kamar atas minta diantar ke kaki gunung, tempat kecelakaan kemarin ini," ujar petugas penginapan kepada sopir.
"Hei, sama kita. Aku juga dapat job dari Ibu tadi, besok dia dan rombongan minta diantar ke kaki gunung tempat kecelakaan itu juga. Katanya suami ibu itu salah satu korban kecelakaan," sopir juga tenyata mendapat permintaan yang sama dari Aletha.
"Apa disatukan saja ke mobil, siapa tahu bisa dapat bayaran lebih?" lanjut sopir memberi masukan.
"Janganlah, mereka tak saling kenal pula. Mungkin saja beda urusan, nanti malah semuanya batal," tukas petugas penginapan.
"Iya juga, ya sudah besok pagi kita masing-masing saja. Kau naik sepeda motor, aku naik mobil kesana. Nanti ketemu di warung kopi," ujar sopir kepada petugas penginapan, dan keduanya sepakat saling menempelkan kepalan tangan.
Matahari baru mengintip malu-malu, jam dinding menunjukkan menjelang pukul enam pagi.
Fuad sudah rapih dan siap untuk berangkat, rencananya dia akan minum kopi dulu di tempat khusus sarapan pagi untuk tamu penginapan.
Aletha dan rombongan juga baru keluar kamar, mereka tengah berjalan menuju ruang sarapan pagi.
Pria tampan yang kemarin bertemu dengan dirinya di pesawat, ternyata menginap di tempat yang sama dengannya.
Tapi tentu saja Aletha pura-pura tak melihatnya, dia segera mempercepat langkahnya menuju ruang khusus sarapan.
Anwar dan Raya sama sekali tidak paham dengan pria itu, mereka berjalan biasa saja menyusul kakak iparnya ke ruangan sarapan.
Fuad juga masuk ke ruangan yang sama, dia segera menuju meja yang ada poci kopinya, lantas dia menuangkan kopi hitam ke dalam gelas.
Aletha diam-diam mencuri pandang melihat pria tampan itu yang terlihat sedang menghirup kopi panasnya.
"Keren banget cara cowok itu minum kopinya," batin Aletha.
Tapi tentu saja Aletha terlihat tidak peduli kepada Fuad yang sedang minum kopinya.
Terlihat Fuad melirik jam tangannya, lalu berdiri mendongak ke arah lobby penginapan dan melambaikan tangannya kepada seseorang.
Lalu Fuad meletakan gelas kopinya, menyambar tas selempangnya lalu berjalan keluar ruangan sarapan hendak menuju lobby penginapan.
Sebelum keluar ruangan, Fuad sempat melirik ke arah Aletha yang tengah sarapan bersama kedua adik iparnya, Aletha tahu Fuad melirik ke arahnya, maka dia segera pura-pura menggigit roti dan mengunyahnya.
"Belum juga kering tanah makam suamiku, tiba-tiba aku tergoda kala melihat pria tadi. Astagfirullah, wanita macam apa aku ini," guman Aletha di dalam hatinya.
Fuad segera duduk di bagian belakang sepeda motor petugas penginapan, keduanya langsung melaju menuju lokasi tempat tenggelamnya mobil yang ditumpangi istrinya.
Setelah selesai sarapan, Aletha segera menuju lobby penginapan, di sana sopir penginapan sudah bersiap dan tak harus menunggu lama mereka segera naik ke mobil dan melaju menuju lokasi yang sama dengan Fuad.
Naik sepeda motor jauh lebih cepat dibanding dengan naik mobil, hanya butuh waktu dua jam saja Fuad sudah tiba lebih dulu di lokasi.
Masyarakat di negara kita masih suka memanfaatkan keadaan, sudah hampir tiga minggu mobil yang tenggelam masih belum diangkat dari sungai.
Pihak Kepolisian cukup sulit menarik mobil tadi ke atas jurang, hal ini karena mobil terjepit di antara dua batu besar. Selain itu, posisi mobil ada di seberang sungai, dan mobil derek tidak bisa turun ke bawah untuk menarik mobil itu ke atas karena kondisi jurang terlalu curam.
Kondisi seperti itu tenyata menarik perhatian masyarakat sekitar, dan mereka malah menjadikan situasi itu menjadi obyek wisata.
Ada beberapa orang membuat semacam pos untuk menarik bayaran kepada orang yang datang ingin melihat kondisi mobil tenggelam tersebut.
Bahkan Fuad yang datang ke lokasi tak luput dikenai tagihan untuk membayar masuk ketika memasuki lokasi tersebut.
Setelah membayar sejumlah uang, lalu Fuad bisa memasuki lokasi bersama dengan petugas penginapan.
Mereka berdua berjalan kaki menuju ke arah mobil tenggelam, dan benar saja di dekat lokasi sekarang disediakan rakit untuk menyeberangi sungai apabila
ada yang mau melihat mobil itu.
Dan ada semacam petunjuk dipancangkan di seberang sana sebagai tanda keberadaan mobil tenggelam.
Kondisi air sungai juga memang tidak sederas saat kejadian, setengah mobil sudah mulai terlihat ke permukaan air.
Fuad juga tak mau hanya menatap mobil dari kejauhan, dia segera menyeberangi sungai dengan rakit yang ada di situ.
Setibanya di seberang, dia mengamati mobil terguling itu sambil membayangkan dan menebak dimana kursi yang diduduki istrinya saat kejadian kemarin.
Tak terasa Fuad menitikan air mata, apalagi dia mendengar orang-orang yang ikut melihat berkomentar kalau mobil tenggelam di dekat hulu sungai, lalu terseret dan terjepit di batu itu sekarang.
Kalau melihat jaraknya, berarti diperkirakan mobil terseret sekitar hampir satu kilometer jauhnya.
__ADS_1
Setelah puas melihat mobil itu, lalu dia kembali ke seberang dan mengirim pesan kepada Ratna kalau dia sudah tiba di lokasi kejadian kecelakaan.
Balasan pesan dari Ratna mengatakan kalau dia akan tiba diperkirakan sekitar setengah jam lagi.
Sambil menanti kedatangan Ratna, lalu Fuad duduk di bawah pohon rindang sambil memainkan handphonenya.
Tiba-tiba matanya tertuju kepada tiga orang yang baru datang dan terlihat hendak naik rakit untuk menuju mobil di seberang, seperti yang dia lakukan tadi.
"Mau apa mereka juga kemari?" guman Fuad bertanya-tanya dalam hatinya.
Ketiga orang tadi tentu saja Aletha, Anwar dan Raya, sekarang mereka tengah menaiki rakit menuju ke mobil yang terguling.
Fuad memperhatikan mereka bertiga, pasti mereka adalah keluarga salah satu korban juga, karena tak mungkin jauh-jauh naik pesawat hanya untuk melihat mobil terguling.
Sambil menanti kedatangan Ratna, sambil iseng juga memperhatikan ketiga orang yang satu hotel dengan dirinya.
"Apakah perempuan itu adalah Soraya istrinya Mario?"pikir Fuad.
"Coba nanti kalau mereka sudah di sini lagi akan aku sapa mereka".
Entah mengapa Fuad jadi memperhatikan wanita di seberang sana, terlihat menangis sambil melihat kondisi mobil yang tenggelam itu.
Dugaan kuat sementara di benak Fuad, kalau wanita di seberang sana adalah Soraya istrinya Mario.
"Mas Fuad?" tiba-tiba seorang wanita menyapa dirinya.
"Eh, iya, Mbak Ratna, yah," jawab Fuad dengan agak terperanjat.
Ratna menyalami Fuad, begitu juga dengan Ali suaminya.
"Ini Bang Ali, suami saya," Ratna memperkenalkan suaminya kepada Fuad.
Kebetulan petugas penginapan duduk tak jauh dari tempat mereka berdiri, lantas Fuad meminta tolong kepadanya untuk membelikan minuman segar untuk Ratna dan juga suaminya.
"Kopi saja, pak," pinta Ali sambil tersenyum.
Lalu Fuad mengajak suami istri itu duduk di bawah pohon rindang tadi, karena kebetulan ada kursi kayu yang cukup lumayan bisa dijadikan tempat duduk.
"Begini, Mas Fuad....bla...bla...bla,"Ratna langsung menceritakan tentang rencana Asmila yang membawa temannya yang sakit kanker untuk dibawa ke seorang Kyai terkenal yang berada di kampungnya.
"Temannya itu Mario? masa sih, karena saya dengar di berita orang itu katanya seorang insinyur pemilik perusahaan konstruksi. Masa mau berobat ke Kampung?" Fuad tampak tidak percaya.
"Bukan itu saja, Mbak Asmila juga ingin berobat untuk dirinya sendiri. Dia ingin rahimnya dibuka oleh kyai agar bisa hamil," sahut Ratna.
"Dibuka rahimnya?"Fuad merasa rancu mendengar ucapan Ratna.
"Iya, Mas Fuad jangan tak percaya, memang dokter bisa menyembuhkan tapi ada hal juga yang tak bisa dilakukan oleh dokter," Ratna menjelaskan kepada Fuad.
Hanya bisa menghela nafas panjang, itu yang Fuad lakukan dan dia hanya tersenyum kepada Ratna karena merasa tak paham dengan apa yang disampaikan oleh Ratna kepadanya.
Petugas penginapan yang tadi dimintai tolong oleh Fuad, meminta permisi sambil meletakan dua gelas es teh manis dan segelas kopi hitam ke hadapan Fuad, Ratna dan suaminya.
Lalu Fuad melihat ketiga orang yang satu penginapan dengannya sedang menyeberang balik ke tempat Fuad sekarang berada.
Setelah ketiganya tampak sudah berada di seberang sini, lalu Fuad minta permisi sebentar kepada Ratna dan suaminya untuk menemui ketiga orang tadi.
"Permisi, kalau tidak salah bapak dan keluarga yang menginap di penginapan Kota Palembang?"tanya Fuad kepada Anwar.
"Oh, iya, bapak juga tadi pagi bukankah ada di ruang sarapan?" Anwar juga membalas menunjuk kepada Fuad.
"Iya, benar. Rupanya kita satu tujuan juga. Mohon maaf, apakah ada keluarga bapak yang menjadi korban tenggelam di sini?" tanya Fuad.
"Anda awak media?" Anwar mendelik curiga.
"Bukan pak, tapi istri saya telah menjadi korban dalam kecelakaan di sini. Oh, iya, nama saya Fuad, dan saya berasal dari Kota Cirebon," Fuad menjelaskan sambil memperkenalkan diri kepada Anwar.
"Saya Anwar, kami dari Kota Semarang. Dan kakak saya yang menjadi korban meninggal dalam kecelakaan kemarin. Ini istri saya, dan itu kakak ipar saya yang suaminya meninggal kemarin," Anwar memperkenalkan diri sambil memberitahukan siapa saja yang dia bawa saat ini.
Fuad memberikan salam jauh kepada kedua wanita yang dibawa oleh Anwar, karena mendengar asal mereka dari Semarang berarti sudah pasti mereka bukan keluarga Mario.
"Kami setelah ini akan menuju ke Desa di dekat Kota Pagar Alam. Karena almarhum kakak saya dimakamkan di sana," ujar Anwar.
"Oh, mengapa jenazah tidak dibawa ke Semarang? kalau jenazah istri saya kemarin ini dibawa ke Cirebon," Fuad merasa aneh dengan pernyataan Anwar.
"Kakak saya sewaktu meninggal sedang bersama istri mudanya dan juga anaknya. Jadi sekarang kakak ipar saya ingin mengunjungi makamnya," bisik Anwar kepada Fuad.
Fuad mengangguk dan mulai memahami kondisi yang dialami oleh keluarganya Anwar.
Tanpa Fuad sadari ternyata Ratna sudah ada di belakangnya dan mendengar kalau orang yang sedang bersama Fuad akan menuju suatu desa di dekat Kota Pagar Alam.
"Maaf, apakah boleh saya tahu nama desanya?" sela Ratna tiba-tiba kepada Anwar.
Karena Anwar pikir Ratna itu orang yang bersama Fuad, lalu dia mengeluarkan ponselnya dan memperlihatka catatan lokasi yang kemarin ini diberikan Polisi kepadanya.
Ratna mengernyitkan kening saat membaca nama desa itu.
"Apakah bapak dan keluarga ada pendamping orang Palembang untuk memasuki desa itu?" tanya Ratna.
"Paling kami membawa sopir dari penginapan, dia tampaknya orang Palembang. Sebentar saya panggilkan orangnya," lalu Anwar melambai kepada sopir penginapan yang tengah berbincang dengan temannya yaitu petugas penginapan.
Sopir mendekat dan Anwar bertanya kepadanya mengenai asal usulnya darimana.
"Saya orang Binjai, pak. Dan kawan saya itu aslinya dari Lampung. Kami bukan asli dari Palembang," sahut sopir tersebut.
Anwar lalu memberitahukan kepada Ratna kalau ternyata sopir dan kawannya bukan asli orang Palembang.
Ratna menghela nafas, lalu dia berkata sesuatu kepada suaminya, dan tentunya Fuad maupun Anwar tidak memahaminya.
Terlihat suaminya menganggukan kepala, lalu Ratna kembali lagi menemui Fuad dan Anwar.
"Pak, maaf setahu saya kalau tidak ada orang asli Palembang menemani, pasti kalian akan ditolak oleh mereka".
Anwar tentu saja terkejut dan sekarang merasa bingung bagaimana caranya untuk dapat masuk ke desa tersebut.
"Kalau bapak percaya, saya akan bantu mendampingi. Saya orang Palembang asli walau letak kampung saya hampir berbatasan dengan Bengkulu," ujar Ratna memberikan bantuan kepada Anwar.
"Terima kasih, bu. Saya sungguh tak percaya ibu mau membantu kami," sahut Anwar terharu.
"Saya dan suami nanti mengikuti mobil bapak dari belakang, kami naik sepeda motor kami saja," kata Ratna.
"Jangan, ibu ikut kami. Biar suami ibu saja mengikuti dari belakang," sahut Aletha yang sejak tadi diam memperhatikan mereka.
"Kalau ibu Ratna ikut ke mobil, apakah saya boleh beserta? maaf sebagai tanda sepenanggungan karena saya juga sama dengan anda semua kehilangan keluarga dalam peristiwa kemarin," Fuad memohon untuk ikut serta juga.
"Ayolah, bapak ikut juga dengan kami di mobil. Biar yang mengantar bapak bisa kembali ke kota saja dulu," Anwar mengajak Fuad beserta.
Lalu Fuad memberikan sejumlah uang kepada petugas penginapan yang tadi pagi mengantarnya.
Setelah itu segera bersama Anwar masuk ke dalam mobil yang disewa di penginapan.
__ADS_1
Anwar dan Raya duduk di kursi paling belakang, Aletha dan Ratna di kursi tengah, sementara Fuad diminta duduk di depan di samping sopir.
Suami Ratna setuju membantu dan dia mengikuti mobil minibus itu dari belakang menuju ke desa tempat Asrul dimakamkan.