
Hari sabtu pagi yang cerah, matahari terang benderang menyinari tanah, sungai dan lautan.
Burung berkicauan, angin sepoi-sepoi berdesir meniup ke setiap penjuru bumi.
Soraya sedang berbaring di atas sofa panjang, badannya penat semua. Hampir dua minggu ini dia sibuk, bergulat dengan urusan mengajar, membuat proposal, dan berbagai rapat di kampus.
Waktu masih menunjukkan pukul sembilan pagi, dan dia sedang menunggu tukang pijat dari kampung belakang yang sedang disusul oleh Mince.
Mega sedang bersama dengan teman-temannya, Sinta dan Eli yang sejak semalam kedua anak itu menginap di rumah ini.
Sementara Maya sedang berdandan, dia sudah ijin sejak kemarin kalau hari ini akan pergi menonton pertandingan basket antar sekolah.
Sebentar lagi Maya akan dijemput oleh Richard teman laki-laki yang dekat dengannya di sekolah.
Tak lama dari luar terdengar ada suara sepeda motor berhenti, lalu pagar rumah dibuka dan langkah seseorang mendekati teras rumah.
"Mega, ada kak Maya?" tanya Richard yang datang menjemput Maya.
Kebetulan Mega dan kedua temannya sedang ngobrol ceria di teras depan rumah.
"KAAAAAKKKK MAYAAAA, PACARNYA DATAAAANGGG!!!" teriak Mega dari balik jendela ruang tamu.
"Astaga Mega, apa-apaan teriak-teriak segala, yah," Soraya sampai terkejut mendengarnya.
"IYAAAA!!!" Maya juga berteriak sambil berlari turun dari kamarnya yang berada di lantai atas.
"MAMA!!!" teriak Maya lagi mencari ibunya.
"Mama di ruang televisi, kalian tidak usah teriak-teriak begitu, bisa tidak, sih...," sahut Soraya sambil terduduk di sofa panjang .
"Mama, aku ijin mau jalan sama Richard. Mau nonton pertandingan basket, kemarin kan mama sudah mengijinkan," ujar Maya meminta ijin lagi.
"Mana Richardnya? masa mau bawa pergi kamu tidak ijin sama mama?" tanya Soraya balik bertanya.
"Sebentar," sahut Maya sambil berlari ke ruang tamu dan membuka pintunya.
Di depan teras terlihat adiknya sedang bersama kedua sahabatnya dan Richard yang sedang duduk tak jauh dari mereka.
"Richard, masuk dulu dipanggil mamaku," pinta Maya dan segera diikuti oleh pemuda itu.
"Permisi tante, maaf Richard mau ajak Maya nonton pertandingan basket antar sekolah di gelanggang remaja," ujar Richard ketika sudah di dalam menemui Soraya.
"Boleh, tapi jangan pulang terlalu malam. Maksimal jam enam sore kalian harus sudah pulang," sahut Soraya.
"Iiihhh mama, kalau belum selesai bagaimana?" tukas Maya sambil cemberut.
"Finalnya minggu depan, kok, Maya," sela Richard.
"Nah, itu Richard bilang juga final minggu depan. Nanti mama ijinkan kalian nonton final asal hari ini jam enam sore harus sudah di rumah," tegas Soraya kepada anaknya.
"Iya, oke deh," sahut Maya lagi sambil senyum kecut.
"Sekalian ke gelanggang remaja, kalian pasti lewat bengkel kayu opa. Ini titip kue untuk opa dan oma," pinta Soraya sambil memberikan bungkusan plastik untuk dibawa ke mertuanya.
"Memangnya opa sudah ada di bengkel jam segini?" tanya Maya ragu-ragu.
"Opa dari jam delapan pagi juga sudah di bengkel, kok".
"Kamu tahu tempatnya, kan Maya?" tanya Richard.
"Tentu tahu dong, kan aku cucu opa".
Lalu keduanya berpamitan kepada Soraya, kembali Soraya mengingatkan agar tidak pulang malam kepada keduanya.
Maya segera duduk di jok belakang motor Richard sambil sebelumnya saling menjulurkan lidah dengan adiknya.
Bersamaan dengan itu Mince datang bersama tukang pijat dari kampung belakang, dan langsung masuk ke dalam untuk memijat Soraya.
"Ayo, mbok, di atas saja di kamar saya," ajak Soraya.
"Anu...nyonya jangan di atas kasur, simbok susah kalau ngurut di kasur," tolak tukang pijat yang merupakan seorang ibu setengah baya.
"Ada karpet mbok, nanti di alasi karpet plastik. Sudah disiapkan oleh Mince,"sahut Soraya sambil kembali mengajak ibu pemijat itu.
Lantas ibu pemijat menurut dan mengikuti Soraya naik ke atas, sementara Mince membuatkan air minum dan menyiapkan kue-kue untuk ibu pemijat tersebut.
Di teras Mega dan kedua sahabatnya sedang ramai menceritakan guru yang galak dan beberapa teman-teman yang menyebalkan bagi mereka.
Ketika asik bersenda gurau saling bercerita yang lucu, tiba-tiba ada sebuah mobil berhenti di depan pagar rumahnya.
Ketiga gadis menjelang remaja itu langsung terdiam ketika ada sosok pria turun dari mobil tersebut.
Mega mengenali sosok pria itu, seorang Penatua di gerejanya dan kalau tidak salah duga namanya adalah bapak Michael.
"Selamat pagi Mega, maaf oom mengganggu sebentar. Mau tanya apakah mama ada di rumah?" tanya pak Michael kepada Mega.
"Ada oom, tapi mama baru saja dipijat. Kalau mama dipijat pasti akan lama sekitar dua jam. Ada yang bisa saya sampaikan kepada mama?" tanya Mega sambil menghampiri pak Michael yang masih berdiri di depan pagar.
"Oh begitu, apakah sudah lama dipijatnya?"tanya pak Michael lagi.
"Belum lama oom, paling baru dimulai. Ada pesan apa, oom?" Mega balik tanya lagi.
"Mega, oom boleh minta tolong sama Mega, kan. Tolong tanyakan sama mamamu, kapan oom bisa berkunjung lagi? ada yang mau dibicarakan sama mama," pinta pak Michael.
"Oke, masuk dulu saja oom. Silahkan duduk di teras dulu," sambut Mega sambil membukakan pagar dan mengajak pak Michael duduk di bangku di teras rumah.
Mega lalu masuk ke rumah, diikuti oleh kedua sahabatnya yang ingin tahu ada apa sebenarnya.
Naik ke lantai atas, dan segera menuju kamar ibunya yang kebetulan terbuka pintunya, lalu Mega bertanya kepada ibunya.
"Mama, di bawah ada oom Michael yang orang gereja itu. Apakah mama ada janji sama oom itu?" tanya Mega sambil merunduk menatap wajah ibunya yang sedang tengkurap.
"Enggak ada, mama enggak ada janji sama siapapun hari ini. Mama mau istirahat hari ini, sudah lelah sekali selama seminggu ini. Kamu tahu sendiri mama pulang malam terus," sahut Soraya dengan wajah lelahnya.
"Tapi oom itu nanya, kapan dia bisa kemari lagi mau ngobrol sama mama katanya".
"Bilang saja besok pagi saja di gereja, hari ini mama lelah. Habis dipijat mama mau mau minum wedang jahe, lalu tidur," sahut Soraya acuh tak acuh.
"Iya, non, mamanya kecapekan. Kakinya tegang semua, kasihan mamanya mau istirahat," ibu pijat ikut bicara.
Mega paham, lalu turun lagi ke bawah menemui pak Michael yang masih duduk di teras.
"Oom, kata mama besok saja ketemu di gereja. Hari ini mama lelah sekali, habis dipijat mau istirahat tidur karena seminggu kemarin pulang malam terus," ujar Mega menyampaikan pesan dari ibunya.
"Oh begitu, kalau misal nanti sore oom kemari lagi, bisa?"tanya pak Michael mencoba banding.
"Setahu Mega sih kalau mama sudah bilang capek, tidak mau ketemu orang. Seharian akan begitu, jadi percuma nanti oom kemari lagi juga mama pasti tidak mau menemui".
"Sayang yah, padahal oom sudah jauh-jauh kemari, tapi mamanya Mega sedang tidak bisa ditemui. Ya sudah, oom pamit saja kalau begitu".
Lalu dengan langkah gontai pak Michael melangkah lagi ke luar halaman menuju mobilnya dan melaju pulang.
"Kayaknya oom itu naksir mama kamu, deh," ujar Sinta.
"Iya, kayaknya begitu. Tanteku juga ada yang sudah tidak punya suami, lalu suka ada cowok bapak-bapak yang datang. Entah ngajak kenalan atau bertamu ke rumah tanteku," Eli juga berkata seperti itu.
"Tapi aku enggak mau kalau mamaku nikah lagi. Apalagi sama oom-oom culun kayak gitu," tukas Mega sambil cemberut.
"Mama kamu kan enggak menanggapi, berarti mama kamu juga tidak mau nikah lagi," ujar Sinta mencoba menghibur.
"Iya Mega, lain sama tante aku. Kalau tante aku orangnya suka dandan, pamer gitulah, sok cantik. Beda sama mama kamu yang orangnya kalem," Eli juga ikut menghibur Mega.
"Semoga saja mamaku tidak punya keinginan menikah lagi. Jangan sampai mamaku menikah lagi," Mega masih merasa sedih dan takut ibunya tergoda pria lain.
Sementara Richard sedang begitu menikmati pemandangan bengkel kayu milik Opa Hansen kakeknya Maya.
__ADS_1
Sedangkan Maya sedang menemui kakeknya menyampaikan pesanan dari ibunya tadi.
Terlihat opa Hansen sedang berbincang dengan cucunya, lalu menyelipkan dua lembar uang kertas.
"Untuk Maya dan Mega, sampaikan uang itu kepada adikmu, yah," pinta opa Hansen sambil mengelus kepala cucunya.
"Iya, nanti Maya pulang nonton basket pasti akan diberikan ke Mega," sahut Maya dengan mata berbinar bahagia mendapat tambahan jajan dari kakeknya.
"Itu siapa? temanmu?"tanya opa Hansen saat melihat Richard.
Lalu Maya menarik Richard dan mengenalkan kepada kakeknya.
"Opa, saya senang sekali melihat bengkel kayu ini. Nanti bulan depan saya lulus, sambil menunggu kelulusan dan penerimaan mahasiswa. Apakah boleh saya magang di sini? saya dari dulu senang sekali dengan perkayuan," ujar Richard tiba-tiba kepada opa Hansen.
"Oh...tentu saja boleh. Nanti sambil kuliah sambil magang di sini juga boleh. Tapi apakah kamu mau dan bisa menggergaji, memotong kayu, mengamplas dan sebagainya?" tanya opa Hansen ragu-ragu.
"Saya aslinya dari Blora, papa saya sebelumnya juga usaha kayu. Tapi pabrik dijual untuk pengobatan mama dulu, lalu setelah mama meninggal. Saya dikirim ke sini bersama nenek, dan papa saya memilih bekerja cargo di Surabaya," sahut Richard menceritakan tentang dulu kehidupannya.
"Oh pantas, logat bicaramu ada kejawa-jawaan. Ternyata kamu orang Blora, dulu opa juga pernah mencari kayu jati sampai kota itu".
"Memang, masih banyak hutan jati di sana. Dan kebanyakan bagus-bagus kalau yang berasal dari sana," sahut Richard sambil tersenyum.
"Huuhh...sombong, mentang- mentang kampung halamanmu," sela Maya sambil menyenggol Richard.
"Hahahaha, memang benar kok. Bagus kayu dari sana. Baiklah, kapan kamu akan kemari magang silahkan. Karena kemungkinan tak lama lagi akan ada cukup banyak pesanan dari nasabahnya oom Jimmy," ujar opa Hansen memberitahu teman cucunya itu.
"Baik, terima kasih opa. Nanti kalau ujian sudah selesai, segera saya magang di sini membantu opa".
Lalu Maya dan Richard berpamitan karena mereka harus segera menuju gelanggang remaja untuk menonton pertandingan basket antar sekolah.
Opa Hansen menatap cucunya dan temannya itu sampai sepeda motornya tidak terlihat lagi.
Dalam hatinya merasa ada sedikit pengharapan akan ada penerus usahanya, walau mungkin masih lama.
"Ternyata harus cucu mantu yang melanjutkan usaha ini," bisik hati opa Hansen.
Sabtu siang Jimmy terlihat sedang bersama Aliong di ruangan kerjanya.
Membahas progress pekerjaan bersama Ferry juga, dan merencanakan dalam beberapa waktu ke depan pembangunan masih harus terus berlangsung walaupun di bulan ramadhan.
Setelah rampung pembahasan, lalu Aliong menanyakan lagi rumah terbengkalai yang pernah diserahkan nasabah Mario dulu ke perusahaan ini karena tak sanggup membayar biaya pembangunan.
"Sudahlah, minta kuncinya ke mbak Marsela. Nanti ko Aliong lihat dulu, kalau misal cocok silahkan perbaiki dan pakai saja rumah itu. Toh, selama ini juga tidak ada yang mengurusi," ujar Jimmy.
"Siap, besok sama istri rencananya akan ke lokasi tersebut. Karena tempat lama harus segera kosong, akan segera di bongkar menjadi bengkel las ketok body mobil," kata Aliong mengisahkan keadaannya sekarang.
"Gue paham, sudah besok lihat saja kesana dan semoga saja bisa cocok untuk tinggal di sana,"sahut Jimmy membesarkan hati Aliong.
Merasa didukung oleh Jimmy, tentu saja Aliong sangat bersyukur karena sahabatnya ini menolongnya dari kesulitan.
"Eh...Jim....kata teman-teman, lu kayak yang ketakutan kalau melihat anak baru, si Dewi itu. Kenapa sih?" tanya Aliong merasa aneh.
"Lu lagi...gue kan baru saja jadian sama Kristy. Pas balik kantor lihat yang kayak gitu. Jujur gue takut goyah, mana sama anak itu pastinya setiap hari akan ketemu," sahut Jimmy sambil merengut wajahnya.
"Ya ampun, segitunya bro. Santai sajalah, kalau memang sudah yakin sama Kristy, kenapa harus takut tergoda sama yang lain?".
"Ko Aliong, jujur saja, gue takut kalau gue kayak bang Rio. Baik-baik nikah, kagak tahunya punya selingkuhan. Nah, gue kagak mau seperti dia. Gue kagak mau mati sia-sia kayak dia," sergah Jimmy.
"Aduh Jim, soal hidup mati urusan Tuhan. Lagipula jangan samakan diri lu sama Mario. Dia dulu punya kisah hidup sendiri, nah...lu juga punya cerita lain lagi. Tidak akan sama kisah hidup setiap orang," Aliong mencoba menasehati.
"Memang benar, tapi wajar bukan kalau gue ada rasa khawatir," ujar Jimmy memelas.
"Boleh, wajar, tapi jangan berlebihan. Lu terlalu berlebihan di depan yang lain, kelihatan banget menghindari Dewi, nanti malah akan jadi bahan olok-olok," Aliong mengingatkan.
Jimmy terdiam sambil berpikir ada benarnya juga apa yang diucapkan oleh Aliong barusan.
Malam harinya Jimmy dan Kristy sudah saling berjanjian akan pergi makan di luar.
"Kamu meninggalkan rumah makan tidak apa-apa?" tanya Jimmy.
"Oh...tidak apa-apa, tadi malah karyawanku semua menyuruh aku pergi sama kamu. Mereka sudah bisa diandalkan semuanya," sahut Kristy mantap.
"Siapa takut!!!"seru Kristy juga.
Ini malam minggu pertama mereka keluar makan berdua, biasanya Jimmy hanya bertandang ke rumah makan milik Kristy untuk ngobrol bersama kekasihnya itu.
Mereka berdua sekarang merasa sangat bahagia, setidaknya diantara mereka sudah ada janji terucap bahwa mereka adalah pasangan kekasih.
Jimmy yang merasa paling senang karena sangat berharap hubungannya dengan Kristy akan sampai ke pernikahan kelak.
Cantik, mandiri, dan satu lagi harapan dia adalah ingin punya istri pandai memasak, tentunya akan segera menjadi kenyataan.
Tak lama mereka tiba di suatu bilangan kota, dan di sana terkenal dengan masakannya yaitu sea food pedas.
Masakan kaki lima, tapi yang datang makan di situ hampir semuanya memakai mobil atau sepeda motor.
Ramai sekali yang datang untuk makan di warung itu, kebetulan mereka berdua mendapatkan meja paling pojok.
"Ikan kakap bakar besar dan paket udang, kerang, kepiting di masak kuah padang pedas, tambah dua es jeruk dan dua air mineral," pesanan Jimmy kepada pelayan di warung makan.
"Tambah nasi tidak, pak?" tanya pelayan.
Jimmy menatap Kristy, dan dijawab tidak karena makanan yang dipesan sudah sangat banyak.
Sambil menanti makanan datang, mereka berdua sekarang saling berbincang dengan mata saling bertatap mesra.
Hawa panas tidak dirasa, yang pasti mereka sangat menanti makanan enak dan juga senang dapat berdua-duaan.
Tak lama kemudian makanan pesanan mereka datang, dan segera keduanya menyantap dengan lahap dan gembira.
"Aku kurang bisa mengolah kepiting dan kerang, jadi bisa menikmati masakan olahan orang lain dengan bahan-bahan itu sangat senang sekali. Sungguh ini enak banget, aku baru pertama kali makan di sini," ujar Kristy sambil megap-megap kepedasan.
"Jadi kamu kepikiran belajar mengolah kepiting tidak sekarang?"tanya Jimmy yang terlihat lebih santai karena memang suka makanan pedas.
"Hahahaha, malas ah. Kepiting susah dibukanya. Lebih baik makan enak saja diolah orang lain," sahut Kristy sambil begitu kerepotan membuka kepiting.
Jimmy membantu Kristy membukakan kepiting, dan menyuapi kekasihnya itu potongan daging kepiting yang dia keluarkan dari cangkang kerasnya.
Kristy senang hatinya dan dia juga membalas menyuapi Jimmy dengan sepotong udang besar.
Pemandangan yang romantis, banyak orang melirik kepada pasangan yang duduk di pojok yang sedang saling suap-suapan makanan.
"Eh...itu boss gue," ujar Dewi yang tengah menanti pesanan makanan bersama ketiga teman-temannya.
"Mana, Wi?"tanya salah satu temannya.
"Itu yang duduk di pojok sama cewek pakai rok bunga merah muda," sahut Dewi.
"Istrinya yah, romantis banget mereka," kata teman lainnya.
"Kata orang kantor sih boss gue belum nikah. Mungkin saja pacarnya, deh," sahut Dewi lagi.
"Sapa dong, nanti lu diam saja dianggap tak sopan. Ketemu atasan di luar kantor kayak kagak kenal," kata teman lainnya.
"Orangnya sombong, kalau gue ke ruangannya saja kagak pernah senyum atau ngomong apa, gitu. Malas.. ah...," tukas Dewi.
"Tapi tadi gue lihat ada beberapa orang yang menyapa mereka, dibalas ramah sama mereka," salah satu temannya memperhatikan Jimmy dan Kristy yang sedang saling sapa dengan orang-orang yang mengenal mereka.
"Itu mungkin temannya atau saudaranya. Gue kan anak baru di kantornya, kagak enak mau nyapa juga," Dewi kukuh pada pendiriannya.
"Daripada nanti boss lu yang lihat lu duluan, lebih kagak enak lagi, tahu!!!"teman lainnya menekankan.
Dewi berpikir sejenak, lalu dia berdiri dan menghampiri meja yang ditempati Jimmy dan Kristy.
"Selamat malam, pak Jimmy. Makan di sini juga rupanya," sapa Dewi kepada Jimmy, dan sontak Jimmy terlihat terkejut.
__ADS_1
"Eh...Dewi...kamu di sini juga. Sama siapa?"Jimmy bertanya balik sambil agak kikuk.
"Bersama teman-teman kuliah dulu, pak," sahut Dewi sambil mengangguk-anggukan kepala.
"Oh...iya....eh...ini kenalkan, ini calon istri saya," ujar Jimmy dengan nada sok mantap mengenalkan Dewi kepada Kristy.
"Selamat malam, bu, salam kenal. Saya Dewi karyawan baru di kantor bapak," ujar Dewi memperkenankan dirinya kepada Kristy.
"Hai Dewi, senang mengenal kamu. Maaf tangan saya kotor, kita tidak bisa salaman," sahut Kristy dengan ramah.
"Iya, bu, tidak apa-apa. Permisi saya pamit, meja saya di sana dengan teman-teman".
"Silahkan, terima kasih Dewi," jawab Jimmy sambil melambaikan tangannya.
"Cantik anak itu, kelihatannya baru lulus kuliah, yah?" Kristy terpesona dengan Dewi.
"Anak kecil, paling baru sembilan belas atau dua puluh tahunan," balas Jimmy.
"Hati-hati, loh. Yang kecil biasanya punya bisa yang menyengat," sindir Kristy.
"Cemburu sama anak itu?".
"Tidaklah".
"Bohong".
"Tidak, aku tidak cemburu".
"Awas yah, nanti aku cium kamu enggak bisa dilepas".
Kristy menjulurkan lidahnya menanggapi ucapan Jimmy, dan itu yang membuat Jimmy semakin gemas kepadanya.
Selesai makan keduanya beranjak berdiri, dengan postur tubuh keduanya yang tinggi besar cukup menarik perhatian orang banyak.
"Wow...bini boss lu keren, tinggi, sesak, padat, hmmm....mana bemper depan dan belakang besar semua," celoteh salah satu teman Dewi yang melihatnya.
"Pantas boss lu sayang banget sama bininya, orang seksi montok begitu," kata yang lainnya ikut mengomentari.
"Gue tinggi juga kutilang darat, beda banget sama calon istri boss gue, hehehe," sahut Dewi sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Kutilang darat, apa itu?" tanya teman satunya lagi.
"Kurus, tinggi, langsing, dada rata," jawab Dewi yang disambut tawa oleh teman lainnya.
Kembali ke rumah Soraya, ternyata Maya menepati janjinya sebelum jam enam sore dia sudah diantar Richard pulang ke rumahnya.
Tentu saja Soraya menjadi senang dengan anak lelaki itu, dia memegang janjinya walau sekedar jam pulang namun itu menjadi nilai lebih di mata Soraya sebagai ibu yang memiliki anak gadis.
"Richard, makan malam dulu bersama kami di sini, yah," ajak Soraya.
"Hmmm, terima kasih tante, tidak usah merepotkan, saya pamit saja," sahut Richard.
"Ayolah, sebentar lagi menjelang waktunya makan malam. Tak apa-apa makanlah bersama kami," ajak Soraya lagi.
Maya juga tentunya ikut memaksanya agar makan malam bersama seperti ajakan ibunya.
Akhirnya Richard ikut juga makan malam bersama di rumah Soraya, tentunya hal ini dijadikan Soraya untuk menggali lebih banyak tentang latar belakang keluarga anak muda itu.
"Setelah mama meninggal karena sakit ginjal, lalu papa saya bekerja di Surabaya di kapal cargo. Sedangkan saya dan adik saya dikirim kemari untuk tinggal bersama nenek," Richard menceritakan tentang keluarganya.
"Tadi kamu cerita pabrik kayu di Blora, apakah sama seperti yang dimiliki opa ?" tanya Maya.
"Dulu di tempat kami pabrik kayu gelondongan, pemotongan kayu lalu dikirim ke berbagai tempat. Padahal waktu itu papa pernah merencanakan untuk membuat furniture juga, seperti lemari, meja dan sebagainya. Tapi tidak kesampaian karena pabrik sudah terlanjur dijual untuk pengobatan mamaku. Sekarang semua aset di Blora sudah dijual jadi tak mungkin juga kembali lagi kesana," sahut Richard melanjutkan kisahnya.
"Tapi menurut tante sih tidak apa-apa kalau kamu nanti magang di tempat opa Hansen. Beliau orangnya sangat baik dan bijaksana, asal kamu mau belajar pasti beliau sangat mendukung setiap usahamu," Soraya mendukung rencana Richard.
"Baik tante, akan saya perhatikan nasehat dari tante. Karena memang rencana saya kuliah sambil bekerja, tidak mau membebani papa, karena beliau masih ada tanggungan adik saya".
Diam-diam Soraya menjadi senang sekali dengan Richard, setidaknya kalau suatu saat benar berjodoh dengan Maya tentunya akan menjadi lelaki yang bertanggung jawab.
Sedari tadi tidak terdengar apapun dari mulut Mega, anak itu hanya diam saja sambil makan sambil mendengarkan pembicaraan antara ibunya, kakaknya dan pacar kakaknya.
"Sesekali ajak Mega bersama kalian, tahu sendiri anak itu sangat sensitif. Jangan sampai nanti dia terus menjaga jarak dengan temanmu itu," bisik Soraya kepada Maya ketika membereskan piring kotor.
"Kalau pergi bertiga naik apa, masa naik mobil mama. Richard belum punya surat ijin mengemudi mobil," tukas Maya.
"Gampang nanti mama antar kalian untuk menonton final pertandingan basket minggu depan. Tinggal nanti janjian saja ketemu Richard di sana," sahut Soraya.
Maya mengangguk setuju juga akhirnya, memang selama ini Mega tampak tidak menyukai Richard.
Setelah selesai makan, dan Richard juga sudah pulang, akhirnya waktunya mereka bertiga menghabiskan malam minggu bersama.
"Ini film zombie bagus, tokoh utamanya aktor terkenal," ujar Mega semangat.
"Film kalian itu kalau tidak zombie atau vampire, apa tidak ada film lain yang lebih enak ditonton," Soraya sedikit protes.
"Kalau film lain masing-masing, aku tidak suka drama korea, tapi kak Maya suka. Aku suka film laga, tapi kak Maya tidak suka. Nah....film seperti ini yang kami sukai," Mega memberitahu ibunya.
"Iya, mama paham. Silahkan saja mau film apapun, mama ikut nonton saja," sahut Soraya kepada kedua gadisnya.
"Mama, kalau Mega tanya sesuatu boleh enggak?".
"Boleh dong, mau tanya apa?".
"Mama memangnya akan menikah lagi?".
Soraya sontak matanya membulat dan Maya yang sedari tadi sibuk dengan handphone langsung ikut mendelik ke arah Mega.
"Hahahaha, kenapa Mega tanya begitu kepada mama?".
"Tadi pagi oom Michael kemari mencari mama, pastinya oom itu suka sama mama," sahut Mega cemberut.
"Idiiih....oom Michael yang culun yah....no way...no mama... please deh....," Maya ikut komentar dengan sebal.
"Ya ampun, oom itu mungkin cuma mau bicara apa sama mama. Tidaklah, mama tidak akan menikah lagi. Mama punya kalian berdua, untuk apa menikah lagi".
"Lelaki yang ada di hati mama cuma papa kalian, walau mungkin mama bukan satu-satunya di hati papa".
"Maksudnya!!!???" tanya kedua gadis berbarengan dengan wajah penuh tanya.
Soraya terdiam sejenak, dia khawatir barusan salah bicara. Lalu mencoba menjelaskan perlahan," Maksudnya cinta papa dibagi tiga, untuk mama satu, kak Maya satu dan Mega satu".
Dipelupuk kedua anaknya ada genangan air, lalu keduanya memeluk ibunya erat. Mereka bertiga menghabiskan malam minggu dengan menonton film dan makan pop corn serta sirup jeruk layaknya di sebuah bioskop.
Malam itu juga di kota lain ada yang terlihat bersemangat karena baru mendapat pesan chat dari seorang pria yang selalu dinanti.
Fuad mengirimkan jadwal perjalanannya kepada Aletha.
"Puasa minggu pertama saya di Cilacap satu minggu, dan di minggu kedua baru tugas ke Semarang cukup lama sampai seminggu menjelang hari raya idul fitri".
Itu pesan yang dikirimkan oleh Fuad, dan tentu saja Aletha sangat senang sekali dan sangat berharap bisa segera bertemu dengan pria idamannya itu.
"Saya tunggu mas Fuad, nanti kita buka puasa bersama di Semarang".
Itu jawaban Aletha yang penuh dengan harapan akan pertemuan itu kelak terlaksana.
Kembali ke Big Beauty Resto, terlihat Jimmy sedang berciuman dengan Kristy di dalam mobil di halaman parkir rumah makan tersebut.
"Sudah ah...nanti ada orang yang lihat, aku malu," ujar Kristy merasa risih.
"Satu kali lagi saja," pinta Jimmy.
Cup...cup...cup...ternyata beberapa kali baru Jimmy melepaskan rangkulannya kepada Kristy.
"Besok pagi aku jemput lagi".
__ADS_1
Kristy mengangguk, lalu turun dari dalam mobil Jimmy.
Sepasang mata yang menatap mereka terlihat begitu terluka, seakan tidak terima kalau Kristy jatuh ke pelukan Jimmy.