PENGKHIATAN CINTA

PENGKHIATAN CINTA
Sebelum 3


__ADS_3

Asmida kakaknya Asmila sedang sibuk mempersiapkan makanan di atas meja makan di rumah keluarganya.


Maklum saja perekonomian Asmida dan suaminya tidak seperti Asmila dan Fuad.


Hastomo suami Asmida hanya penjual nasi pecel lele di pinggir jalan depan gang yang menuju ke arah tempat tinggal mereka.


Untung saja Asmida sekarang punya kegiatan menjadi agen asuransi jiwa, walau kariernya sangat jauh di bawah Asmila tapi lumayan bisa membantu perekonomian rumah tangga mereka.


Kemarin Asmila mengirimkan sejumlah uang dan meminta kakaknya memasak untuk dimakan bersama-sama dalam rangka syukuran keluarga karena Fuad naik jabatan.


"Alhamdulillah, berarti mas nanti tidak akan terlalu sibuk seperti kemarin ini yah?"tanya Asmila sambil merapihkan kemeja suaminya.


"Semoga saja, karena posisiku kemarin sudah diisi oleh orang yang lebih muda dan terlihat sangat bersemangat. Harapanku anak muda itu bisa bekerja dengan lebih baik daripada aku," sahut Fuad dengan senyum penuh rasa bahagia saat memandang istrinya.


"Ayo, kalau sudah siap kita jalan sekarang, siapa tahu Ibu dan bapakmu juga sudah menunggu kita," ajak Fuad kepada Asmila.


Sebagai istri, Asmila menurut saja mengikuti langkah suaminya menuju mobil, lalu keduanya melaju menuju rumah orang tuanya Asmila.


Padahal dalam hatinya merasa sangat malas, selama ini Asmila sudah jenuh kalau ke rumah orang tuanya pasti ibunya akan cemberut.


Lalu sikap ibunya sangat lain kepadanya dibandingkan kepada Asmida kakaknya.


Entah harus bagaimana cara menghadapi ibunya, sejak kecil memang Asmila merasa selalu dibedakan dengan kakaknya.


Asmida selalu lebih disayang dan diperhatikan oleh ibunya, walau ada salah juga cepat dimaafkannya.


Lain dengan dirinya yang selalu akan dimarahi habis-habisan walau sudah diminta maaf sekalipun.


Dan akan dimaafkan oleh ibunya setelah melakukan suatu pekerjaan yang berat dulu baru dimaafkan.


Kalau diingat jaman dulu Asmida ijin mau main ke rumah temannya pasti segera diberi ijin.


Giliran Asmila yang minta ijin, pasti dimarahi dulu, disuruh mencuci piring dulu atau disuruh melakukan suatu pekerjaan dulu baru diijinkan dan itupun tidak boleh lama-lama.


Asmida pulang kesorean, paling dimarahi sebentar, Asmila pulang terlambat sudah pasti batang kemoceng mendarat bebas di kakinya.


Tapi kalau dipikir lagi, ada untungnya dia diperlakukan begitu oleh ibunya, menjadikan dirinya punya mental yang kuat.


Asmida walau sudah punya anak dua, tetap tak mau pindah dan punya rumah sendiri.


Alasannya kasihan kepada ibu dan bapak, padahal kenyataan yang ada adalah Asmida bergantung hidup kepada orang tua. Mana berani dia hidup sendiri, melakukan apa-apa sendiri, mengurus anak sendiri.


Selama ini kalau bukan ibu Jaka, siapa lagi yang mengurusi kedua anak Asmida, sementara sebagai ibu muda Asmida lebih memilih berleha-leha saja.


Kalau tak ada pekerjaan di rumah, dia tidur, sehabis membantu suami membersihkan ikan atau bumbu untuk suaminya jualan sore, pasti dia akan tidur lagi.


Dan ketika diajak bergabung di perusahaan tempat Asmila bekerja, tentu saja membuat Asmida semangat karena setidaknya ada alasan untuk keluar rumah.


Walau hasil kerjanya lebih banyak dibantu Asmila, tapi alasan pergi ke kantor sering digunakan oleh Asmida, daripada sibuk di rumah mengurus anak dan membereskan urusan sehari-hari.


"Assalamualaikum," sapa Fuad ketika memasuki rumah mertuanya.


"Waalaikumsalam," sambut Ibu Jaka mertuanya Fuad.


"Ayo, masuk nak Fuad, ibu sudah menyiapkan masakan kesukaanmu," Ibu Jaka mempersilahkan menantunya masuk ke dalam rumah.


Ibu Jaka sama sekali tidak menanyakan apakah Asmila ikut atau tidaknya.


Beliau sibuk melayani Fuad, menunjukkan makanan enak yang sudah tersedia di atas meja makan rumahnya.


"Hmmm, baik bu. Nanti saya panggil Mila dulu sebentar, nanti biar kita enak makan sama-sama," kata Fuad sambil ijin untuk memanggil istrinya.


"Memang yah Asmila, sedang apa juga dia di luar sana? bukannya segera masuk," Ibu Jaka terlihat menghela nafas kesal kepada anaknya.


Fuad keluar rumah, dan mendapati Asmila sedang mengobrol dengan beberapa tetangga yang menjadi bagian tim yang dikoordinir oleh Asmida.


Tampak seru sekali pembicaraan mereka, membahas soal pekerjaan dan lain sebagainya.


"Maaf Ibu-ibu, saya mengganggu sebentar. Saya mau menculik istri saya sebentar saja," ujar Fuad kepada kerumunan ibu-ibu tersebut.


"Oh..ya, silahkan saja...maaf kami yang mengganggu".


Lalu kelompok ibu-ibu tadi pamit dan bubar, dan Asmila mendekati suaminya.


"Mila, kita sudah ditunggu oleh ibu, ayo segera masuk," ujar Fuad dan Asmila segera masuk mengikuti langkah suaminya.


"Bukannya segera masuk, malah ngobrol di luar. Suamimu sudah lapar dari tadi, bukannya segera melayani suami makan malah melakukan hal yang tak penting," Ibu Jaka menyambut anak keduanya dengan seperti itu.


Tapi Asmila sudah kebal, dia mencium punggung tangan ibunya, lalu segera melayani Fuad makan malam bersama.


Selesai makan malam, Asmila membantu kakaknya merapihkan meja makan dan mencuci piring kotor.


Setelah selesai, semua berkumpul di ruang tengah untuk berbincang santai.


"Bapak bangga sama nak Fuad, kerja kerasnya selama ini berhasil sampai menjadi seorang Kepala Divisi," kata Pak Jaka ditengah bincang santai malam itu.


"Terima kasih, pak. Ini juga berkat doa dari Bapak, Ibu, Asmila dan semua saudara lainnya," sahut Fuad dengan rendah hati.


"Percuma saja jabatan tinggi, tapi anak masih belum juga ada. Ibu dan bapak sudah lelah menanti ingin menimang cucu dari kalian berdua," Ibu Jaka menyela pembicaraan mereka.


"Kamu juga Mila, kerja terus mengejar kedudukan. Bukannya segera memikirkan cara untuk bisa cepat hamil. Katanya di Jakarta banyak dokter hebat, bisa membuat orang segera hamil," lagi-lagi Asmila jadi sasaran ibunya.


Asmila hanya menghela nafas saja, sulit baginya untuk menjelaskan kalau dia dan suaminya juga selalu terus berusaha untuk punya keturunan.


Bahkan perselingkuhannya dengan Mario juga merupakan salah satu cara bagi Asmila untuk bisa hamil.


Pikirnya kalau dia hamil oleh Mario juga tak akan minta tanggung jawabnya, secara Asmila sudah punya suami yang pasti akan bertanggung jawab atas kehamilan tersebut.


Tapi nyatanya sampai sudah selingkuh juga masih tidak ada tanda- tanda kehamilan.


"Bu, Insyaallah nanti awal tahun depan, Fuad akan mengambil cuti khusus dan kami berencana untuk berobat sambil akan pergi berbulan madu," sahut Fuad memberitahu mertuanya.


"Cuti itu harusnya dari dulu kamu ambil, kenapa baru sekarang naik jabatan, baru ada rencana cuti seperti itu," Ibu Jaka malah jadi mengomel.


"Hehehe...masalahnya yang dulu menempati posisi saya tidak memberi ijin. Sekarang beliau pindah ke kota lain, dan saya yang menempati posisi beliau".


"Dengan posisi sekarang, saya saya bisa langsung minta ijin cuti dan lain-lainnya ke manager personalianya," Fuad dengan sabar menjelaskan lagi kepada mertuanya.


"Kalau tahu begitu, seharusnya segera ambil cuti tersebut. Mengapa harus tunggu awal tahun depan segala?".


Fuad bingung menjelaskan lagi kepada mertuanya, setidaknya baru saja naik jabatan, masakan harus segera ambil cuti panjang.


"Bu, Mas Fuad baru saja naik jabatan baru, tentu tidak bisa segera mengambil cuti panjang. Setidaknya harus adaptasi dulu dengan pekerjaan baru selama beberapa waktu," Asmila mulai kesal kepada ibunya.


"Ya, ibu paham. Kamu kalau menjelaskan kepada orang tua tak usah nyolot begitu. Heran kamu itu Mila, tak pernah bisa sopan santun kepada orang tua!!!," Ibu Jaka jadinya meledak- ledak.


Melihat kondisi sepertinya akan memanas, lalu Fuad segera minta ijin pamit pulang dengan alasan akan sekalian berbelanja kebutuhan mereka, takut tokonya keburu tutup.


"Nah, bukan aku yang tak mau berlama-lama di rumah ibu. Mas tahu sendiri kan kalau ibuku selalu saja emosi kepadaku," ujar Asmila sambil menahan dongkol di hatinya.


"Sudahlah, walau bagaimana juga dia ibumu, mertuaku. Kalau kita punya rasa amarah kepada orang tua malah nanti kita yang berdosa. Sudah kamu harus bisa memaafkan malah mendoakan supaya ibu tidak keras hati," Fuad menasehati Asmila.


Sambil diam di dalam mobil, air matanya menetes tapi dalam hatinya mendoakan dan berharap ibunya bisa berubah lebih lembut kepadanya.


Fuad sedang duduk di atas sofa menonton televisi, lalu Asmila mendekati sambil membawa secangkir teh hangat.


Mata Fuad terbelalak melihat istrinya malam itu memakai lingerie berwarna hitam tipis menerawang, terlihat di dalamnya hanya mengenakan penutup bawah saja.

__ADS_1


"Istriku seksi sekali malam ini?" ujar Fuad sambil segera merangkul Asmila.


Dan Asmila segera duduk dipangkuan suaminya dan merengkuh leher suaminya.


Lantas Asmila berbisik ke telinga suaminya sambil menggigit kecil telinga suaminya tersebut.


"Aku mau memberi hadiah kepada lelaki yang baru saja naik jabatan".


"Jangan di sini dong, kita ke kamar saja yuk".


"Mengapa harus ke kamar tidur, kita cuma berdua. Kita bisa melakukan keinginan ini dimana saja, kaaannnn.....".


Fuad walaupun belum tua tapi dia orang yang konvensional, jadi dia merasa risih dengan ajakan istrinya untuk bercinta di ruang tengah rumahnya.


Asmila tak peduli dia mencium suaminya sambil duduk di atas pangkuan suaminya.


Dengan penuh gairah membara Asmila mencium dan membuka pakaian suaminya, kemudian menciumi dada suaminya.


"Mila, kita di kamar saja yuk. Jangan di sini nanti ada orang mendengar," Fuad tampak resah sambil terengah-engah.


Asmila tak mau tahu, dia terus saja mencium suaminya dengan penuh gairah membara.


Fuad masih saja menahan gejolak karena dia berpikir takut ada orang mendengar desahan atau erangan yang akan keluar dari mulut mereka.


"Sayang...mmmhhh...ayo kita ke kamar".


Asmila seakan tertutup semua pendengarannya, dia terus mencumbu suaminya, sampai suaminya menyerah di bawah kendali dirinya.


Mereka bercinta di atas sofa, Asmila yang menuntun permainan bercinta malam itu.


Namun sayang Fuad tidak bisa total membalas gairah istrinya, dia hanya bisa pasrah saja tanpa mengadakan perlawanan nafsu membara yang tengah membakar hasrat istrinya.


Malam itu berakhir begitu saja, Fuad hanya menerima, sementara Asmila harus menelan pil pahit karena sang suami tidak bisa mengimbangi nafsunya.


Sambil duduk di lantai ruang tengah, dia menangis. Merasa kesal dan lelah, karena bertahun-tahun menikah, suaminya hanya standar saja dalam hal bercinta.


Sementara Asmila punya banyak fantasi tapi tak bisa tersalurkan.


Keesokan harinya adalah hari minggu, Asmila meminta suaminya menemani berkeliling kota sambil berbelanja.


Fuad mengikuti keinginan istrinya, mereka menghabiskan hari berdua saja dengan berbelanja pakaian dan lain-lainnya.


Menjelang malam, Asmila mengajak suaminya makan di sebuah tempat yang romantis ke sebuah cafe di atas bukit.


Mereka memesan makanan yang kebarat-baratan, kebetulan di cafe tersebut memang terkenal dengan makanan seperti itu.


Keduanya menikmati makanan itu, bahkan Asmila mencoba menyuapi suaminya dan berusaha mencairkan kekakuan suaminya.


Tapi Fuad memang kuno, sulit sekali diajak romantis, tak bisa memperlihatkan kemesraan di tempat terbuka.


Asmila melirik ke kanan dan kiri, lalu dia tiba-tiba mencium bibir suaminya dan menyelipkan kunci sebuah hotel ke tangan suaminya.


Fuad membelalak, kedua matanya sontak membulat terkejut.


"Mila, apa-apaan ini?" bisiknya panik.


"Mas, di dekat sini ada hotel, ayo kita selesaikan di sana," sahut Asmila membalas bisikan suaminya.


"Hotel apa sih maksudmu?" Fuad bukannya senang tapi keningnya jadi berkerut.


"Mas, ayolah kita ke hotel".


"Untuk apa ke hotel, kita bukan sedang di luar kota. Ini masih di dalam kota sendiri," Fuad menolak istrinya.


Asmila tak mau mengalah begitu saja, lalu dia memeluk suaminya di hadapan banyak orang.


" Mila, jangan begini, lalu dilihat orang banyak".


Lalu dia beranjak menuju kasir dan membayar semua makanan yang telah dipesannya tadi.


Asmila kecewa sekali, dia berjalan menuju mobil sambil memasang wajah cemberut.


"Astaga, Mila kamu keterlaluan sekali. Jangan pernah berbuat seperti itu lagi, sungguh memalukan sekali. Bagaimana kalau ada orang melihat, tentu akan berpikir negatif tentang kamu," omel Fuad ketika keduanya sudah masuk ke dalam mobil.


"Mas, aku ingin melakukan sensasi bercinta sesekali dengan suami. Apakah salah yang aku lakukan ini?" tanya Asmila dengan jengkel.


"Salah dong, masa harus mencium dan memeluk aku di depan umum. Aku tak habis pikir kamu bisa melakukan hal memalukan seperti itu".


"Apa yang membuat mas malu? apakah mas malu punya istri seperti aku?".


"Bukan begitu, tapi aku tak habis pikir kamu bisa begitu enteng melakukan hal begitu dalam di sebuah rumah makan".


"Bukannya itu seksi, penuh sensasi? aku merasa seksi dan punya sensasi sendiri ketika mencium dan memeluk suami di hadapan orang banyak. Tapi mas malah menganggapnya lain".


"Bagiku seksi atau sensasi bukan seperti itu. Aku tidak tahu apa yang membuatmu melakukan itu".


Asmila malas membahas lagi, dia terdiam dan kecewa sekali karena suaminya tidak paham sensasi bercinta yang dia inginkan.


Ketika sampai di rumah, Fuad menurunkan semua belanjaan yang tadi mereka beli.


Setelah itu, dia segera mandi dan beribadah. Asmila juga setelah merapihkan segala belanjaannya lalu menyusul suaminya mandi dan beribadah.


Ketika sudah selesai, lalu dia merebahkan dirinya ke atas tempat tidur.


Fuad menghampirinya dan memeluknya," Seksi itu seperti ini, kamu berbaring bersamaku di tempat tidur dan bercinta atas dasar ibadah".


Asmila dengan malas mencoba memberikan kebahagiaan kepada suaminya, walaupun bercinta seperti ini bukan keinginannya.


Esok paginya suaminya kembali mengantarkan dirinya ke stasiun untuk naik kereta api menuju kantornya di Jakarta.


Sementara Fuad sendiri setelah mengantar istrinya segera menuju pangkalan minyak lepas pantai tempat kerjanya.


"Jemput aku dong?" pinta Asmila kepada Mario melalui ponselnya.


"Mana bisa!!! aku sedang ada pekerjaan, stasiun kan dekat dengan kantormu. Maaf yah aku sibuk sekali hari ini," Mario menolak Asmila.


Ponsel ditutup begitu saja padahal Mario masih mau bicara, lalu Asmila melemparkan ponselnya ke dalam tasnya.


Sesampainya di stasiun, segera naik taksi menuju kantornya. Alhasil hari itu hampir semua stafnya kena semprot, Asmila masih kesal mengingat ibunya yang selalu membedakan dia dengan kakaknya.


Asmila juga kesal dengan suaminya yang tidak bisa diajak bercinta penuh sensasi.


Ditambah lagi selingkuhan yang menolak menjemputnya dengan alasan banyak pekerjaan.


Malamnya pulang ke rumah kost juga langsung saja membanting pintu kamar dan segera menguncinya.


Petugas rumah kost sampai tak berani menyampaikan beberapa bungkusan paket barang yang dipesan secara online oleh Asmila.


Baru keesokan paginya mereka menyampaikan kepada Asmila, dan tanpa dilihat oleh Asmila, bungkusan paket itu dia lempar begitu saja ke atas tempat tidur.


Setelah mandi, segera berangkat ke kantornya yang lokasinya tak jauh dari rumah kostnya itu.


Di kantor kembali marah-marah, entah apa yang dia kesalkan namun yang pasti semua stafnya mendapatkan bonus kemarahan Asmila.


Hal itu berlangsung selama tiga hari berturut-turut, sampai akhirnya Mario meneleponnya dan mengatakan akan berkunjung nanti malam ke rumah kostnya.


Malam itu Mario dan Asmila mencoba menelusuri dunia maya mencari promo pesawat terbang yang menuju kota Palembang.

__ADS_1


"Sebetulnya temanmu itu orang Palembang atau orang Bengkulu?" tanya Mario.


"Entahlah, dia bilang mau naik pesawat ke Bengkulu atau ke Palembang juga akan sama saja. Karena kampungnya katanya jauh baik dari bandara di Bengkulu atau dari bandara di Palembang juga".


"Ya itu, coba kamu pastikan mana yang lebih dekat ke bandara di Bengkulu atau bandara di Palembang?" Mario minta Asmila memastikan dimana kampungnya Ratna teman Asmila.


"Rio, dia jawabnya begitu, kok. Mau kemana juga sama saja, ya sudah bandara Palembang saja kalau begitu".


"Hmmm, ya sudah aku mau reservasi dulu dua tiket ke Palembang yah. Dua minggu dari sekarang kita ke sana," ujar Mario sambil menyelesaikan pemesanan tiket tersebut lewat internet.


"O, ya, Rio itu buku tabungan dan kartu ATM milikmu masih ada di laci meja kantorku. Dan kemarin sudah aku periksa, uang pengembalian premi asuransi sudah masuk ke rekening tersebut".


"Ya sudah kamu simpan saja, nanti uang itu bisa kita pakai selama kita di Palembang nanti".


"Baiklah kalau begitu, kalau sudah beres transaksi internet, segera kamu bantu aku yah".


"Hmmm....iya nanti".


Mario selesai membayar tiket, dan setelah mendapat konfirmasi dari pihak perusahaan penerbangan, lalu segera menutup laptopnya.


"Asmila, ada apa ? tadi mau minta tolong apa ?" tanya Mario lalu mencari sosok Asmila yang ternyata tak ada di dalam kamar tersebut.


Mario keluar kamar dan terlihat Asmila sedang mengobrol dengan beberapa penghuni kost lainnya di meja maka sambil menonton televisi.


"Mila, aku tak bisa menginap. Kenapa kita tidak berbincang di kamarmu saja," bisik Mario yang duduk disamping Asmila.


Televisi sedang menayangkan acara yang menarik, di sana ada sekitar lima orang lainnya yang menonton sambil makan malam.


Asmila diam saja sambil kedua tangannya menggenggam sebuah gelas berisi air minum di atas meja makan tersebut.


Mario juga jadi ikut melihat tayangan di televisi tersebut dengan duduk di samping Asmila.


Lalu Asmila pura-pura seperti mau berdiri mengambil sesuatu, dia melihat yang lain dan Mario tampak antusias menonton tayangan televisi.


Timbul rasa iseng di hati Asmila, lalu dia menggigit telinga Mario dan segera berlalu.


"Aaawwww!!!"


Sungguh Mario terkejut karena telinganya digigit Asmila, dan itu mengundang orang disekitar menatap dirinya.


Mario senyum-senyum sambil memegangi telinganya yang masih kesakitan.


Asmila santai berdiri sambil berlalu menuju kamarnya, dan Mario sambil mengangguk-anggukan kepala kepada semua orang di sana, lalu segera berlari menyusul ke kamar Asmila juga.


Sesampainya di kamar, Asmila segera mengunci pintu dan mendorong tubuh Mario lalu mencium bibirnya dengan penuh nafsu.


"Mila, aku mau pulang, jangan begini, aku sudah tak mampu melakukan hal seperti itu".


"Yakin kamu tak mau?" Asmila malah makin menggodanya.


Mario memejamkan matanya, lalu berkata," Kita sudah komitmen untuk tidak lagi melakukan hubungan intim seperti dulu".


"Lagipula kalau aku memaksakan berhubungan seperti itu, dadaku akan sesak dan aku terbatuk-batuk lagi. Tolong pahami aku, sekarang aku sudah sekarat".


Asmila terdiam, lalu memeluk Mario dengan erat.


"Jangan berkata begitu, kamu jangan putus asa, Rio. Bukankah kita akan mencoba untuk mencari alternatif pengobatan untuk penyakitmu ini," ujar Asmila yang jadi berurai air mata.


"Aku tidak putus asa, tadi juga aku sudah membayar tiket pesawat untuk kita berdua ke Palembang".


"Hanya aku sudah tak bisa diajak untuk bercinta, bahkan dengan istriku sendiri juga aku sudah lama tidak menyentuh dirinya lagi".


"Dadaku serasa mau pecah kalau aku melakukan sesuatu yang mengeluarkan banyak energi," Mario tampak sedih sekali mengingat keadaan dirinya saat ini.


Mario dan Asmila bertatapan lalu berpelukan erat tanpa ada kata yang bisa diucapkan.


Tiba-tiba ponsel Mario berbunyi dan muncul nama anaknya di sana.


"Mega".


"Papa, mau pulang jam berapa?" tanya Mega anaknya dari seberang sana.


"Ya, sebentar lagi papa pulang. Baru selesai urusan dengan teman papa, habis ini segera pulang," jawab Mario.


"Jangan lama-lama, Mega tak akan tidur kalau papa belum pulang".


Mario paham, itu ancaman anaknya yang tak akan tidur dan besok akan terlambat bangun untuk ke sekolah.


"Aku pulang yah, anakku sudah telepon," ujar Mario sambil membelai Asmila.


"Ya sudah sana pulang, kasihan anakmu. Pasti dia sangat menanti dirimu ," sahut Asmila sambil tersenyum dan membelai rambut Mario.


Mario segera meraih tas laptopnya, lalu mencium Asmila sebelum pamit pulang.


Semua mata di rumah kost saling pandang, ketika melihat Asmila tampak mengantarkan Mario ke teras rumah kost.


Salah satunya malah mengintip Mario yang mencium pipi Asmila sebelum masuk ke dalam mobil.


Dan ketika mobil Mario sudah berlalu meninggalkan halaman rumah kost, orang tadi segera pura-pura tak tahu apa yang telah dilihatnya.


Orang tadi duduk lagi di meja makan rumah kost itu, sambil pura-pura menonton televisi lagi.


Hampir semua penghuni kost sudah menaruh curiga, masa suami istri tinggal di rumah kost tapi jarang sekali bersama.


"Suaminya itu hanya sesekali saja menginap di sini," bisik orang yang baru saja duduk lagi di meja makan tadi.


"Ah, bukan urusan kita. Aku tak mau tahu," ujar yang lain.


"Memang bukan urusan kita, tapi aneh yah suami istri tapi tinggal di rumah kost dan tidak bersama-sama," yang lain ikut komentar.


"Sssttt....biarin saja, urusan orang lain, yang penting dia juga jangan ikut campur urusan kita," ada yang lebih tua mencoba menengahi.


Tak lama Asmila kembali dari teras rumah kost dan masuk ke ruangan itu sehabis mengantar Mario.


"Mbak, suaminya jarang menginap di sini yah?" kata salah satu dari penghuni kost itu.


Sambil mengambil air minum dari lemari es, Asmila menjawab dengan santai.


"Iya, suami saya orang sibuk. Jadi dia sering ke luar kota," jawab Asmila.


"Oh, keluar kota kemana, mbak?" tanyanya lagi.


Asmila meneguk air minumnya, lalu menyimpan gelas kosong di atas meja.


Setelah menghela nafas, dia menjawab singkat pertanyaan tadi sambil berlalu.


"Luar kota Jakarta, tepatnya kota Depok".


Orang- orang di ruangan itu saling melirik, dan menatap punggung Asmila yang sedang berbalik berjalan menuju kamarnya lagi.


"Dasar perempuan simpanan".


Kelimanya mencibir ke arah Asmila sambil menggerutu seperti tadi.


Tak lama masing-masing masuk ke dalam kamarnya, dan tak mau ambil peduli lagi kepada Asmila.


Yang pasti Asmila sudah di cap paten oleh teman-teman di rumah kost itu kalau dirinya adalah seorang wanita simpanan berkedok karyawan kantor.

__ADS_1


__ADS_2