
Opa Jonas baru saja bangun di pagi itu, beliau mendapati ternyata di jam lima pagi seperti ini sudah ada kegiatan yang sedang dilakukan oleh para pembantu rumah tangga di rumah keponakannya yaitu Hansen Maliangkay.
Salah satu pembantu rumah tangga menanyakan Opa mau minum apa atau sarapan apa di pagi hari, dan dijawab ingin teh tawar hangat saja.
Opa Jonas mengetuk pintu kamar kakaknya yaitu Oma Elisabeth tapi tidak ada jawaban, lantas Opa berpikir mungkin kakaknya masih kelelahan karena tadi malam tidur cukup larut.
"Selamat pagi Oom Jonas, ayo kita duduk di halaman belakang sambil minum air teh hangat," ajak Mamih Regina ketika melihat paman suaminya sudah bangun.
Lalu Opa berjalan mengikuti Mamih Regina ke halaman belakang dan ternyata Hansen Maliangkay sudah ada di sana sedang senam pagi.
"Hansen, rajin juga kau olah raga pagi," ujar Opa Jonas.
"Tidak juga Oom, hanya sekedar saja tapi biasanya kalau pagi hari begini saya dan Regina jalan pagi keliling komplek perumahan," sahut Papih Hansen.
"Tumben Kak Liz belum bangun, biasanya selalu bangun pagi," kata Opa Jonas merasa aneh karena Oma Elisabeth belum juga bangun.
"Mungkin Mama kelelahan, karena tadi malam mengobrol sampai larut malam. Biasanya kalau Mama di rumahnya sendiri kan jam tujuh malam juga sudah masuk kamar," sahut Mamih Regina sambil meletakkan roti dan satu lagi teh hangat.
"Bisa jadi sih, kemarin Mario mengajak kami jalan melihat rumahnya, lalu melihat rumah yang sedang dia bangun terus mengantar pulang Ibu Wongso. Setelah itu dia mengajak kami makan bubur kacang hijau dan enak sekali," kata Opa Jonas menceritakan kemarin dia dibawa berjalan-jalan oleh Mario.
"Selamat pagi Opa, selamat pagi Mamih dan Papih," sapa Soraya sambil menggendong bayinya.
"Selamat pagi...sini cucu Oma, pasti kamu bau acem deh," kata Mamih Regina sambil menyongsong si bayi kecil Maya.
"Iya Oma, aku belum mandi, masih bau acem nih," kata Soraya seakan bayinya yang bicara.
"Tak apa, cucu Oma biar bau acem tapi Oma sayang sama Maya," sahut Mamih Regina sambil menggendong Maya.
"Oma Elisabeth belum bangun yah, padahal selalu bangun pagi. Kata Oma semalam minta Soraya membuatkan wedang jahe pagi ini," ujar Soraya merasa aneh karena Oma belum bangun juga.
"Sudahlah kalau mau buat wedang jahe, silahkan buat dulu nanti Oma bangun juga pasti akan meminumnya kok," kata Papih Hansen meminta menantunya itu segera membuatkan keinginan Oma Elisabeth.
Lalu Soraya pamit ke dapur untuk membuat wedang jahe sementara bayi Maya bersama Mamih Regina.
Jam dinding menunjukkan pukul hampir setengah tujuh pagi, dan Oma Elisabeth masih belum juga bangun.
Mario baru saja bangun dan melihat istrinya sudah rapih, lalu menanyakan anaknya dan dijawab sedang bersama Mamih Regina.
"Maya sudah mandi belum? kalau belum biar aku yang memandikan yah".
"Belum kok, masih sama Mamih berjemur di kebun belakang. Eh..Bang...Oma belum bangun dari tadi, tumben sekali yah," kata Soraya masih merasa aneh karena Oma masih juga belum keluar kamar tidur.
"Hmmm, semalam tidur jam berapa Oma, ada jam sebelas malam baru masuk kamar dan itu pun sempat bilang sama aku harus jaga kamu dan anak kita, jangan sampai aku tergoda wanita lain. Itu yang Oma bilang semalam sama aku," kata Mario menceritakan kejadian sebelum Oma masuk kamar untuk tidur.
Soraya senyum saja saat mendengarkan cerita itu, dan berharap semoga saja suaminya jangan sampai tergoda wanita lain. Jujur sampai sekarang masih ada perasaan dalam hati Soraya kalau Mario tidak sepenuh hati mencintai dirinya, karena dulu mereka dijodohkan oleh Oma.
Sempat terlintas dalam pikiran Soraya, kalau sampai suatu hari Oma pulang Ke haribaan yang Kuasa, bagaimana dengan nasibnya. Sekarang masih ada Oma mungkin Mario masih bisa sayang kepadanya, kalau Oma sudah tak ada entah bagaimana jadinya.
Ingin rasanya mengetuk pintu kamar Oma Elisabeth untuk melihat keadaannya, karena siapa tahu beliau kelelahan dan menjadi sakit.
Sebagai menantu yang baik, lalu Soraya minta ijin dulu kepada Papih Hansen untuk membangunkan Oma.
"Soraya khawatir, takutnya Oma kemarin kelelahan lalu sekarang sakit".
"Ya sudah coba saja kamu bangunkan, benar juga siapa tahu Mama sakit. Kadang kalau sakit suka diam saja tak bilang kepada siapapun," kata Papih Hansen meminta Soraya untuk memeriksa kondisi ibunya.
"Bik, temani yuk ke kamar Oma, kasihan siapa tahu beliau kelelahan kemarin dan sekarang sakit atau apa," ajak Soraya kepada salah satu pembantu rumah tangga di rumah mertuanya.
"Ayo Non, iya aneh sekali, biasanya Oma bangun pagi kalau menginap di sini dan jam segini sudah kembali habis jalan pagi sambil membawa sayuran atau buah," ujar Bik Tati pembantu yang paling lama bekerja di rumah tersebut.
"Oma...Oma...!!!"panggil Soraya sambil mengetuk pintu kamar Oma Elisabeth.
"Coba Non buka pegangan pintunya, siapa tahu tidak dikunci".
CEKLEK....pintu ternyata tidak dikunci.
Oma Elisabeth terlihat masih tidur dengan lelap, masih memakai selimut rapat.
Soraya mendekati Oma Elisabeth untuk membangunkannya, dan Bik Tati membuka tirai dan jendela kamar agar hawa segar masuk.
"Oma...bangun yuk, Soraya sudah membuatkan wedang jahenya," kata Soraya pelan sambil memegang tangan Oma yang saat itu kedua tangan Oma berada di atas perut sambil menggenggam sebuah kalung salib.
"Oma...Oma...," panggil Soraya yang merasa aneh karena tangan Oma sangat dingin sekali.
"Bik...Oma kenapa ini Bik?" Soraya mulai panik dan memanggil Bik Tati.
Bik Tati segera menghampiri dan memegang tangan Oma yang dingin lalu mengguncang tubuh Oma yang tetap diam tak bergerak.
"Non...Oma meninggal Non," kata Bik Tati sambil panik juga.
"OMAAAAAAA!!!!!"teriak Soraya sangat keras sekali.
"Astagfirullah, Innalillahi Wa Innalillahi Rojiun...," lalu Bik Tati berlari ke halaman belakang rumah untuk mengabarkan keadaan Oma.
"Bangun Oma...katanya mau wedang jahe...Soraya sudah buat untuk Oma...huhuhu," Soraya menangis sambil memeluk Oma Elisabeth yang sudah tidak bergerak lagi.
Mario sedang menimang Maya di halaman belakang rumah, dia sedang menikmati berbincang seru dengan Opa Jonas dan kedua orang tuanya.
"Bagus kamu Rio, jangan kamu main pinjam ke Bank, tunggu saja konsumen bayar sebagian baru kita kerjakan. Opa senang dengan pemikiran kamu".
"Masalahnya perusahaan Rio masih kecil kok Opa, jadi kalau pinjam uang ke Bank dalam jumlah besar tidak berani, takut tak terbayar nanti malah repot".
"Ya, saya yang ajarkan dia untuk bisnis dengan cara lama, dulu kan Papa Henry juga begitu mengajarkan kepada saya, Oom," ujar Papih Hansen saat berbincang tentang bisnis.
"Rio juga malah jadi mitra di perusahaan Papih, kalau ada yang membuat rumah dan pintu atau jendelanya mau pakai kayu jati mahal, tentu Rio pesan kepada Papih," kata Mario lagi menjelaskan.
"Cuma sayang usaha Papih kalian tak ada yang mau meneruskan, tinggal Jimmy harapan satu-satunya," kata Opa Jonas menyayangkan usaha keluarga Maliangkay tak ada penerusnya.
"Pasti ada penerus kok Opa, siapa tahu anak Bang Robert atau Maya ini nanti mau jadi pengusaha furniture," kata Mario sambil mengangkat bayi dan tentunya bayi kecil tertawa senang.
Saat berbincang terdengar Soraya berteriak dari dalam, semua terkejut mendengarnya dan tiba-tiba Bik Tati berlari menghampiri mereka sambil beruraian air mata.
"Nyonya!!!!!Oma meninggal!!!"
__ADS_1
Semua terkejut dan segera bangkit lalu berhamburan menuju kamar Oma Elisabeth.
Terlihat Soraya sedang menangis sambil memeluk Oma, lalu Mario menghampiri dan merangkul Soraya.
Papih Hansen dan Mamih Regina menangis, keduanya tak percaya kalau Oma sudah meninggal.
Mario bergegas menggedor kamar Jimmy, dan pemuda itu memang masih terlelap karena semalam habis mengerjakan tugas kuliahnya.
"Jim!! bangun!!! telepon Bang Robert suruh kemari segera!!".
Jimmy mendengar abangnya menjerit-jerit pintu kamarnya segera membukanya sambil matanya masih menempel.
"Ada apa sih Bang Rio?".
"Kamu hubungi Bang Robert segera, suruh kemari. Oma meninggal tahu!!!".
"APAAAA!!!".
Jimmy segera berlari menuju kamar Oma dan melihat semua sedang menangis, sementara Oma terbujur kaku di tempat tidur sambil bibirnya menyungging tersenyum.
Wajah Oma begitu damai sekali, beliau terlihat seperti sedang tidur lelap tapi untuk selamanya.
Jimny menangis melihatnya, sementara Mario yang juga sedih merasa bingung mencari ponselnya yang tak kunjung ketemu untuk menghubungi Robert.
Untung Bik Tati yang memang cukup cerdas segera saja menelepon ke rumah Robert melalui telepon rumahnya.
Karena memang ada catatan buku telepon di samping pesawat telepon rumah tersebut.
Tentu saja pembantu rumah tangga di Rumah Robert sangat terkejut saat diberitahu oleh Bik Tati, lantas dia segera mengetuk pintu kamar Robert dan Rosalinda.
Keduanya masih berleha-leha di tempat tidur, Rosalinda bermanja meminta sesuatu kepada suaminya, biasanya kalau tidak tas bermerek atau barang bermerek lainnya.
TOK..TOK..TOK
"Nyonya!!!maaf Nyonya...
tolong buka pintunya!!!".
"Ya...tunggu!!! ada apa sih si Wiwi tuh, reseh deh," Rosalinda mengomel sambil membuka pintu kamarnya.
"Nyonya....Oma Nyonya....," kata Wiwi sambil menangis.
"Kenapa Oma?"tanya Rosalinda sambil merasa aneh.
"Oma meninggal...tadi Bik Tati telepon ke rumah".
Robert yang sedang berbaring sangat terkejut, lalu segera menghubungi ponsel Mario.
Mendengar ponselnya berbunyi lalu Mario menelusuri suaranya dan ternyata ponselnya ada di halaman belakang.
Melihat nama Robert yang tertera, langsung saja dia menyahuti ,"Bang, cepat kemari Oma meninggal".
Tanpa bisa-basi dan itu ini, Robert segera bertukar pakaian dan langsung menyalakan mobil menuju kediaman orang tuanya.
Sesampainya di rumah orang tuanya, Robert segera masuk ke dalam kamar Oma dan memeriksanya.
Melihat kulit Oma dan juga kondisi tubuhnya membiru, perkiraan Robert pada dini hari tadi Oma meninggal dunia dan kemungkinan besar serangan jantung mendadak.
Papih Hansen segera menghubungi pihak Gereja, dan Robert segera menghubungi Rumah Sakit tempatnya bekerja.
Papih meminta pihak Gereja untuk menyampaikan berita duka ini kepada Pendeta dan juga Penatua Gereja.
Robert meminta bagian penanganan jenazah untuk memandikan dan membersihkan jenazah Oma.
Kemarin sore Mario membeli empat bungkus bubur kacang hijau, lalu Mario mengajak Oma Elisabeth dan Opa Jonas mampir ke rumah Ibu Wongso.
Saat tiba di rumah mertuanya, lalu Mario segera menuju dapur menyiapkan bubur kacang tadi ke dalam mangkuk.
"Oma Liz, Mario sangat baik sekali, dia memperbaiki rumah ini, sampai saya dibuatkan warung kecil. Katanya untuk Mama iseng saja biar tidak bosan," kata Ibu Wongso memuji menantunya.
"Memang anak itu begitu, terlihat acuh tak acuh tapi sebetulnya paling peduli. Kalau Robert memang pendiam tapi paling menonjol. Prestasi sekolah, sekarang kariernya dan hal apapun dia selalu paling gemilang".
"Kalau Mario sih biasa saja bahkan terkesan urakan, tapi dia yang paling tulus kalau melakukan apapun. Robert harus selalu paling di puji, kalau Jimmy jangan ditanya anak itu bandel dan harus ada upahnya kalau disuruh apapun".
"Kalau Rio lain, dia yang paling banyak di caci di rumahnya tapi kalau ada apa di rumah, dia juga yang paling dicari. Dia mau ke pasar becek, dia juga mau ke membetulkan genting atau keran bocor. Yang dua lagi sih belum tentu," cerita Oma panjang lebar kepada Ibu Wongso.
"Tapi dia memang paling di gilai wanita, banyak wanita yang penasaran kepadanya, padahal anak itu sendiri sih acuh tak acuh saja. Regina kesal karena Mario banyak dikejar wanita dan tak ada satu juga yang berpenampilan layaknya wanita baik-baik".
"Makanya saya begitu tahu Soraya, lantas saya ambil gerak cepat menjodohkan anak Ibu kepada cucu saya," lanjut Oma Elisabeth lagi.
Ibu Wongso terlihat senang mendengar penuturan Oma, berarti di mata Oma, Soraya anaknya adalah wanita terbaik bagi Mario.
Mario masuk ke ruangan tamu tempat Oma Elisabeth, Opa Jonas dan Ibu Wongso sedang berbincang seru.
Empat mangkuk bubur kacang hijau yang manis dan aroma jahe hangat, membuat suasana sore itu semakin akrab.
"Ibu Wongso katanya orang Jawa Timur keturunan Tionghoa, tapi kok bisa gabung dengan Gereja kami yang kebanyakan jemaatnya orang Manado?"tanya Opa Jonas.
"Begini Opa, dulu saya dan almarhum suami memang orang dari kota Jember, kami berdua bertekad ke Jakarta dengan harapan akan memiliki kehidupan lebih baik".
"Tapi ternyata Jakarta lebih keras, suami saya hanya bekerja di toko alat elektronik yang pemiliknya kebetulan orang Manado. Namanya Stephanus Mendeng, dan kami sangat dekat sekali sehingga beliau mengajak kami bergabung di Gerejanya. Mungkin Oma Liz pernah mendengar nama tersebut," Ibu Wongso mulai menceritakan tentang kehidupan mereka dahulu.
Oma berusaha mengingat nama itu, karena sekarang keluarga tersebut sudah tidak lagi tinggal di Jakarta, tapi sudah kembali ke Manado.
"Suatu saat mereka kembali ke Manado karena ada keperluan keluarga, sehingga toko di percayakan kepada suami saya".
"Waktu itu sekitar lima tahun kami menjalankan toko dan lumayan maju sampai kami bisa membeli rumah ini," lanjut Ibu Wongso.
"Sampai kejadian tahun 1998 kemarin, toko milik pak Stephanus dibakar oleh orang jahat. Suami saya dipukuli ketika berusaha mencegah agar toko jangan dibakar".
"Habis sudah semua barang di jarah dan toko dibakar, suami saya terguncang karena tak tahu bagaimana harus mengembalikan kerugian kepada pak Stephanus".
"Padahal pak Stephanus sama sekali tidak meminta ganti rugi tapi suami saya tetap merasa tertekan dan merasa bersalah karena tak bisa mencegah toko tersebut untuk tidak dibakar oleh para penjahat. Dan sejak itu mulai sakit-sakitan sampai akhirnya meninggal dunia," Ibu Wongso mengusap air mata yang mengalir di pipinya.
__ADS_1
"Sabar Bu Wongso, hidup orang tak akan sama, semua sudah punya suratan masing- masing dan kita semua harus menjalani segalanya dengan hati yang tulus," kata Opa Jonas berusaha menghibur Ibu Wongso.
"Mama kan sudah punya menantu ganteng dan baik seperti aku, sudahlah jangan ingat lagi kesedihan masa lalu," ujar Mario menggoda ibu mertuanya agar tak larut dalam sedih.
"Iya benar, menantu Mama yang terbaik, terima kasih sudah sayang sama Mama. Dan Mama minta maaf kalau Soraya banyak kekurangan dalam melayanimu," sahut Ibu Wongso sambil masih berkaca-kaca.
"Tenang Mama, Soraya istri yang baik bahkan terbaik, Oma tak salah memilihkan istri untuk Rio," Mario memuji Soraya dihadapan mertua dan neneknya.
Hati orang tua pasti sangat bahagia mendengarnya dan sangat bersyukur kalau ternyata Mario dan Soraya berumah tangga dengan rukun dan harmonis.
Selesai makan bubur kacang hijau, Mario mengangkati semua mangkuk kotor dan mencucinya di dapur.
Oma Elisabeth dan Opa Jonas benar-benar sangat terkesan dengan Mario, sekarang Mario jauh lebih dewasa dalam hal bersikap.
Opa Jonas hendak memberi uang kepada Ibu Wongso ketika akan pamit pulang.
"Jangan Opa, saya sudah cukup menerima bantuan dari keluarga Oma selama ini. Saya sakit diobati, rumah saya diperbaiki dan setiap bulan juga saya diberi oleh Mario".
"Jadi mohon maaf bukan saya menampik, tapi sudah terlalu banyak yang saya terima tanpa saya bisa balas kebaikan keluarga besar Oma Elisabeth dan Opa Jonas," sahut Ibu Wongso sambil berusaha menolak pemberian dari Opa Jonas.
"Ibu, saya ini Jonas Lompies bukan Maliangkay jadi saya tidak ada kaitan kalau mau memberi apapun. Ini uang untuk Ibu sekedar jajan, tentu Ibu juga ingin membeli sesuatu. Nah gunakan saja ini yah, anggap saja tali kasih persaudaraan dari saya," kata Opa Jonas sambil tetap bersikukuh memberikan beberapa lembar uang kepada Ibu Wongso.
"Terima saja Mama, nanti kalau bingung uangnya untuk apa, mudah saja, belikan saja pakaian lucu untuk Maya," bisik Mario sambil terdengar oleh semua orang.
"Enak saja kamu, uang untuk mertuamu diminta untuk beli pakaian Maya, dasar kamu itu yah," ujar Oma Elisabeth sambil mencubit Mario.
Tentu saja Mario jadi tergelak padahal dia hanya bercanda saja berkata seperti tadi.
Tapi Ibu Wongso yang menerima uang jadi merasa diberi ide dan dia akan mencoba membelikan cucunya pakaian yang lucu.
Sebelum pulang ke rumah, Mario mengajak Opa Jonas dan Oma berkeliling kota, lalu mereka membeli camilan di toko kue langganan keluarga mereka.
Setelah selesai berbelanja, lalu kembali ke rumah Papih Hansen.
Makan malam baru saja usai, dan keluarga Maliangkay masih berbincang seru karena ada Opa Jonas.
Opa bercerita tentang keadaan di Manado sekarang, tentang usahanya dan juga tentang anak dan cucunya.
Istri Opa Jonas sudah lama meninggal tapi Opa tak mau menikah lagi, sehingga Opa sekarang tinggal di rumah bersama keluarga anaknya.
Raymond Lompies nama anak Opa Jonas yang sekarang mengurus perkebunan sawit milik keluarga besar Lompies.
Robert, Mario dan Jimmy memanggilnya dengan sebutan Oom Ray yang juga hanya punya satu anak perempuan bernama Patricia.
"Kalau suatu hari aku mati, mungkin kebun sawit akan dijual saja oleh Ray. Karena dia juga tak bisa mengelola sendirian, sementara anaknya Patricia memilih di dunia modeling," ujar Opa Jonas ketika berkumpul di ruang keluarga.
"Apa!!! Patricia jadi model, memang dia secantik apa sekarang Opa?"tanya Jimmy kaget mendengar sepupunya menjadi model.
"Cantik sekali sekarang dia, ini Opa ada fotonya kok," kata Opa sambil memperlihatkan foto cucunya.
"Wah iya Bang Rio, nih lihat si Patricia jadi cantik. Padahal dulu waktu kecil dia cewek hitam yah...hahahah," Jimmy tertawa ingat dulu waktu kecil bermain bersama sepupunya tersebut.
"Iya yah, anak itu jadi cantik. Padahal dulu hitam, dekil dan bodoh, sama kayak kamu," ujar Mario sambil menunjuk Jimmy.
"Biarin bodoh juga yang penting ganteng".
Semua tertawa mendengar ucapan Jimmy membalas ejekan abangnya.
Akhirnya perbincangan semakin seru, tak terasa jam sudah hampir pukul sebelas malam.
Oma Elisabeth pamit karena merasa mengantuk.
"Oma duluan yah, terima kasih semua sudah membahagiakan Oma, mohon maaf kalau Oma ada salah selama ini. Oma mau pamit yah".
Mario mengantar Oma ke kamar tidurnya, lalu Oma berkata sesuatu kepada Mario yang tengah menemani Oma di pinggir tempat tidur.
"Rio, maafkan Oma yah kalau Oma ada salah, terutama Oma sudah memaksakan kamu menikahi Soraya".
"Oma, jangan begitu, Rio ini bahagia dengan Soraya. Oma tak salah memilihkan istri yang baik untuk Rio".
"Memang Soraya tak secantik pacar-pacarmu, tapi Oma dulu yakin kalau dia akan menjadi pendamping hidup yang baik untuk kamu".
"Justru itu Oma, Rio yang harus berterima kasih karena Oma memilihkan yang terbaik untuk Rio".
"Jangan kamu sakiti dia yah, apalagi kalian sudah ada anak. Kamu jangan selingkuh, ingat kalau kamu selingkuh nanti menjadi maut. Apapun alasan yang kamu buat, tak pernah ada kebenaran kalau itu terjadi".
"Iya Oma, Rio akan ingat hal itu. Oma jangan khawatir, karena Rio akan ingat nasehat Oma," kata Rio mengakhiri sambil mengecup kening neneknya.
Itu kisah kemarin dan juga pembicaraan terakhir antara Oma Elisabeth dan Mario.
Ibu Wongso yang dijemput oleh Jimmy, merasa sangat terkejut lalu beliau segera berkemas untuk ikut Jimmy ke rumah keluarga Maliangkay.
Saat ini jenazah Oma sedang dibersihkan dan dimandikan oleh petugas khusus dari Rumah Sakit yang tadi dipanggil oleh Robert.
Tak lama datang juga peti mati untuk menidurkan jenazah Oma di sana.
Kursi- kursi untuk pelayat sudah disusun rapih di halaman rumah keluarga Maliangkay.
Ketika Ibu Wongso tiba, segera beliau mengambil alih bayi Maya yang terlihat rewel, karena Soraya harus membantu keluarga suaminya dalam mempersiapkan segala sesuatu untuk pemakaman Oma besok.
Setelah selesai dimandikan, lalu jenazah Oma diletakkan ke dalam peti mati yang sudah disiapkan di ruang tamu.
Para pelayat berdatangan, dan semua terkejut saat diberitahu kejadian Oma meninggal.
"Pasti terkejut, kami juga sama terkejut karena terakhir saya melihat Oma Elisabeth sudah sehat," hampir semua pelayat berkata seperti itu.
Sore harinya diadakan kebaktian penutupan peti jenazah yang dipimpin oleh pendeta Yosep Pontoh.
Setelah disemayamkan semalam, maka keesokan paginya diadakan pemakaman Oma Elisabeth.
Keluarga besar Maliangkay sangat terpukul, Opa Jonas apalagi lama tak jumpa dengan kakaknya dan ketika bertemu malah ditinggal pergi selamanya.
Sementara Soraya yang juga bersedih, merasakan rasa gelisah dalam hati. Apa yang dia takutkan terjadi juga, Oma Elisabeth pergi selamanya.
__ADS_1
Kini dia merasa sudah tak punya lagi pegangan hidup, dia hanya khawatir kalau Oma pergi maka bisa saja Mario akan meninggalkan dia dan anaknya.