PENGKHIATAN CINTA

PENGKHIATAN CINTA
Hari Itu 2


__ADS_3

"Kenapa sih harus makan di sana? kan banyak rumah makan lain juga yang tempatnya nyaman dan makanannya lebih enak," Jimmy merasa keberatan atas permintaan kedua keponakannya yang minta di traktir di Big Beauty Resto milik Kristy.


"Oom, makanan di sana itu enak bangeeeeeet, aku ingin sekali makan spaghetti lagi," Maya mengutarakan keinginannya.


"Aku juga suka sekali lasagna di sana, Oom!!!" seru Mega kepada pamannya.


"Hmmm, Oom tahu tempat yang menyediakan makanan seperti itu yang rasanya lebih enak. Kalian pasti akan lebih senang makan di tempat itu," Jimmy masih berusaha menolak ajakan keponakannya untuk makan di rumah makan milik Kristy.


"Berarti Oom tak sayang kami, Oom lebih senang atas pilihan sendiri dibandingkan kebahagiaan kami," Maya protes kepada pamannya.


Jimmy memang sulit menolak kalau keponakannya minta sesuatu, walau terasa malas sekali harus menginjakkan kaki ke rumah makan itu. Mau tak mau akhirnya Jimmy setuju dengan keinginan kedua keponakannya.


"Habis telepon dengan siapa, bro?" Wildan tiba-tiba masuk ke ruangan Jimmy.


"Hai, boss Wildan, ayo masuk, duduklah. Ada kabar baik sepertinya, jam segini sudah bawa angin segar ke kantorku," sambut Jimmy ketika melihat teman baik kakaknya datang.


Wildan memang menjadi mitra kerja Mario selama beberapa tahun terakhir, sebelumnya Aliong dan Mr. A yang sering memberikan pekerjaan kepadanya.


Namun ketika kecurangan Mr. A terendus oleh Komisi Pemberantasan Korupsi, maka semua yang berurusan dengan Mr. A menjadi terseret semua.


Aliong bahkan masuk ke dalam sel, untung saja Mario tidak sampai ikut masuk penjara karena dia selalu memberikan perhitungan penagihan yang benar atas setiap pekerjaan.


Bahkan penagihan dan pembayaran yang benar itu yang membantu Aliong mendapatkan keringanan masa tahanan.


Mr. A yang menggunakan uang negara seenaknya harus mendekam selama dua puluh tahun.


Aliong berkat bantuan Mario hanya mendapat hukuman selama tujuh tahun saja.


Mario mendengar dan menuruti nasehat Wildan untuk tidak mengikuti ritme kerja Mr. A dan Aliong, sehingga dia selamat dari jeratan pelanggaran hukum.


Setelah selesai pekerjaan dengan Aliong dan Mr. A, kemudian Mario digandeng oleh Wildan menjadi mitra kerjanya.


"Ini untukmu, sub kontrak renovasi puskemas se Jabodetabek. Mau enggak?" Wildan menyimpan berkas di atas meja Jimmy.


Segera Jimmy membukanya dan terkejut, pekerjaan dari pemerintahan lagi yang dia dapat dari Wildan.


"Total yang akan di renovasi ada tujuh belas puskemas, aku ambil sepuluh dan kamu tujuh. Deal or No Deal?" tanya Wildan.


"Aku tanya Bang Rio dulu yah".


"Ini kelemahanmu, padahal kemarin Mario sudah bicara padaku kalau sementara semua keputusan ada di tanganmu selama Mario pergi. Kamu selalu ragu-ragu mengambil keputusan yang sebenarnya kamu sendiri sudah tahu kalau pekerjaan yang akan dilakukan adalah benar".


"Aku takut kesalahan, boss".


"Mau sampai kapan kamu selalu takut salah, sampai urusan cari jodoh juga takut salah. Ayo Jimmy, kamu harus bisa belajar ambil keputusan sendiri. Mau sampai kapan begini terus, padahal Mario sudah memberikan kamu kesempatan".


Jimmy tersenyum kepada Wildan, jujur dia merasa sangat tersentil oleh perkataan Wildan tadi.


"Boss, aku minta waktu sampai hari senin pagi yah. Biar aku pelajari dulu berkasnya," ujar Jimmy.


"Oke, silahkan. Aku tunggu jawabanmu senin nanti".


"Jimmy, ngomong-ngomong Mario pergi kemana dan sama siapa?" tanya Wildan.


Sontak Jimmy terkejut, karena dipikirnya kakaknya pergi dengan salah satu rekan kerja Wildan.


Sementara itu di waktu yang sama di lain tempat.


"Kemarin Anwar melihat seperti mobil abang di sekitar daerah utara sana, tapi yang memakainya sudah bukan abang lagi," Anwar menceritakan kejadian yang dia lihat kemarin ketika memperbaiki kabel listrik.


"Apa mungkin abangmu sudah menjual mobil itu kepada orang lain, atau mungkin bisa saja yang memakai itu teman abangmu. Karena abangmu masih di Palembang sana," Ibu Hasan menanggapi cerita anaknya.


"Entahlah, aneh saja abang itu. Padahal mobilnya titip ke aku saja daripada ke temannya. Aku juga butuh mobil, kok," Anwar merasa kecewa karena kakaknya lebih percaya ke orang lain.


"Kalau Anwar butuh mobil, ambil saja di rumah. Ada mobil kami yang tak terpakai," tiba-tiba suara Aletha terdengar dari belakang mereka dan mengejutkan semuanya.


"Assalamualaikum Umi," ujar Aletha sambil mencium punggung tangan mertuanya lalu memeluk dan mencium pipi kiri dan kanan Ibu Hasan.


"Walaikumsalam," sahut Ibu Hasan kepada menantu tercintanya.


"Hai....Mbak Aletha rupanya, kapan datang?" Anwar tiba-tiba menjadi salah tingkah.


"Baru saja, lalu aku dengar kamu butuh mobil. Ambil saja di rumah, itu mobil tidak dipakai sama sekali," ujar Aletha menjelaskan.


"Memangnya punya siapa mobil itu?" tanya Ibu Hasan.


"Oh, itu Papih yang membelikan untuk Mas Asrul, tapi Mas Asrul tak pernah mau memakainya. Dari baru beli dulu, paling baru dipakai hanya beberapa kali saja kalau pergi dengan Edwin," Aletha menjelaskan soal mobil milik suaminya.


"Berarti itu mobilmu Aletha, kan Papih yang membelikannya," Ibu Hasan menanggapi pernyataan Aletha.


"Tidak Umi, itu betul Papih yang membelikan untuk Mas Asrul agar enak kalau ke proyek. Tapi Mas Asrul tak pernah mau memakainya".


"Ambil saja Anwar, ini kunci rumah kami. Kunci mobil tergantung di gantungan kunci dekat tembok dapur, surat mobilnya ada di laci di bawah televisi di lantai dua," ujar Aletha sambil menyerahkan kunci rumahnya kepada adik iparnya.


Anwar jelas bingung menerima kunci rumah itu, kakaknya saja mati-matian mempertahankan harga diri dengan tidak mau memakai mobil itu.


Sekarang haruskah dia mengambil mobil itu untuk keperluan pribadinya.


"Anwar cuma becanda doang, kok. Mbak Etha jangan ambil hati soal mobil ini. Sungguh aku cuma becanda saja," Anwar mencoba menolak pemberian kakak iparnya itu.


"Aku yang serius, pakai saja mobil itu untuk di sini. Mobil lama abi jual saja, lalu pakai saja mobil itu. Daripada rusak tidak terpakai juga, buat apa mobil tersimpan di garasi begitu saja," Aletha memang mudah sekali kalau memberi sesuatu, tapi yang menerima pasti bingung.


Aletha dengan ringan saja mau memberikan sebuah mobil untuk digunakan adik iparnya dan mertuanya.


Kontan Anwar menjadi merasa bersalah dan malu hati untuk menerima pemberian dari kakak iparnya itu.


"Kunci rumah ada dua, aku pegang satu dan Anwar pegang satu yah. Kalau mau dipakai juga rumah itu silahkan saja. Aku kan sama Edwin di rumah Papih dan Mamih, sayang juga kalau rumah tidak ditempati".


"Oh, iya, Etha tak bisa lama di sini. Barusan sekalian lewat mau ke klinik sekalian mampir kemari. Ini Etha bawakan apel dan kesukaan abi".


Setelah menyimpan buah-buahan kesukaan mertuanya, lalu Aletha pamit pulang kepada mertua dan adik iparnya.


"Anwar, salam untuk Raya, yah," kata Aletha menitip salam untuk istrinya Anwar ketika akan melaju meninggalkan tempat parkir di depan toko mertuanya.


"Abi tidak setuju, kamu tidak punya hak memiliki mobil itu. Kalau memang perlu pakai saja mobil abi, biar tua juga tapi masih bisa jalan dengan mulus," kata Pak Hasan yang baru pulang berbelanja, lalu mendengar istrinya bercerita tentang penawaran Aletha kepada Anwar.


"Iya, Anwar juga mana berani pakai mobil Mbak Etha. Kalau sampai ada apa-apa, mana bisa aku ganti. Aku pakai mobil abi sajalah pastinya, rusak sedikit masih bisa ke bengkel ketok magic," sahut Anwar sambil merasa serba salah.


"Nah begitu dong. Tak enak lah memakai barang orang lain".


"Tapi Aletha kan menantu kita, kok abi bilang orang lain?" Ibu Hasan merasa aneh.


"Maksudnya bukan orang lain, tapi barang yang bukan hak kita. Kan mobil itu haknya Asrul dan Aletha, kita tak punya hak. Jadi tak boleh menggunakan mobil itu. Gitu maksud abi".

__ADS_1


"Lalu kunci rumah gimana?" tanya Anwar dengan wajah bingung.


"Ya pegang saja kuncinya, kamu simpan baik-baik. Itu kan amanat".


Di waktu yang sama juga di seberang pulau Jawa.


"Jena anak saya akan pulang hari ini, dia membawa bayi dan lelaki ayah bayi itu. Mereka belum menikah karena lelaki itu adalah suami orang lain. Bagaimana menurut para tetua di sini. Apakah boleh kami terima atau tidak?" ayahnya Jena sedang minta pendapat kepada para tetua kampungnya.


Tetua kampung ada tiga orang, Wakcak Gusman yang paling tua berusia hampir delapan puluh tahun, Wakcek Hardi dan Bicek Mala.


(Wakcak \= Uwak tertua, Wakcek \= Uwak termuda, Bicek \= Bibi termuda)


Dua orang terakhir berusia sekitar tujuh puluh dan enam puluh tahunan.


Ketiganya adalah tokoh masyarakat yang dituakan di kampungnya Jena.


Bahkan kepala desa juga kalau mau memutuskan sesuatu harus seijin mereka baru bisa terlaksana.


"Anakmu hendak kemari lagi, hendak bawa aib lagi pula," Bicek Mala berkata dengan wajah dingin menandakan tak suka.


"Kau ingat Jamal, mengapa dia dulu diusir dari kampung kita? Bukan semata-mata dia mencari ilmu di Pulau Jawa sana. Tapi memang anakmu kami usir dari sini, mencoreng aib untuk kampung kita ini," lanjut Bicek Mala penuh amarah saat mendengar nama Jena disebut.


"Anakmu yang menggoda si Jupri sampai tertangkap basah melakukan hubungan intim di kamar mandi umum. Padahal Jupri sudah ada anak istri, alasannya di perkosa. Untung banyak saksi mata yang melihat anakmu menuntun Jupri ke kamar mandi itu," Wakcek Hardi mengingatkan kelakuan buruk Jena.


Nanti dulu, mengapa berbeda dengan yang pernah Jena sampaikan kepada Asrul. Apakah ada hal lain yang memang disembunyikan Jena atau hanya alibi para tetua saja.


"Saya ingat Wakcek, saya ingat Bicek, memang anak saya yang salah," Jamal ayahnya Jena membenarkan yang dikatakan para tetua tadi.


"Aku masih baik, waktu itu aku suruh dia menjaga adik perempuanku di Semarang. Tapi anakmu malah membuat ulah lagi, mencuri perhiasan dan menelantarkan adik perempuanku yang terjatuh dari kursi roda. Untung aku dan keluarga besar tak mau mempermasalahkan hal ini sampai ke polisi," Wakcak Gusman mulai menyampaikan kekesalannya atas sikap Jena.


"Saya akui Wakcak, memang anak saya kelakuannya buruk sekali," Jamal bersedih kalau ingat semua yang telah Jena lakukan.


Ternyata apa yang disampaikan kepada Asrul itu bohong, Jena tidak diperkosa tapi dia memang sengaja menggoda pria kaya bernama Jupri.


Jupri punya anak istri, dan Jena mencuri uang Jupri sebesar sepuluh juta rupiah, juga mengambil tabungan ibunya lalu pergi ke Semarang.


Di Semarang sebelum kuliah, dia juga mencuri perhiasan nenek yang sudah lumpuh tak berdaya dan meninggalkannya begitu saja saat terjatuh dari kursi roda.


Nenek itu adalah adik kandung Wakcak Gusman yang mengalami kecelakaan sampai harus memakai kursi roda.


Jena bersahabat dengan Magenta juga karena memanfaatkan kekayaan temannya itu.


Namun karena dia bisa bersembunyi di balik kelicikannya, sering dia memanfaatkan uang Magenta untuk kesenangannya.


Tapi dia selalu tampak sopan sehingga sulit untuk diduga kalau dia sebenarnya punya sifat sangat buruk.


Apalagi di kampus termasuk mahasiswa pintar dan kreatif, sampai Asrul juga terpesona kepadanya.


Para tetua berunding mengenai masalah Jena yang akan kembali ke kampung membawa anak dan suami orang yang menghamilinya.


"Jamal, karena mereka membawa bayi tak berdosa, maka kebijakan kami mereka boleh kemari tapi anaknya biar diurus oleh kami. Dan lelaki itu tak boleh pergi lagi dari kampung kita, hidup dan mati dia harus tinggal di sini," Wakcak mengakhiri pertemuan dengan keputusan seperti itu.


"Sayang, kamu memasak banyak sekali? mau ada acara apa ini?" tanya suami Ratna ketika melihat istrinya memasak berbagai macam masakan.


"Loh, Mbak Asmila akan kemari nanti malam. Dia bersama dengan kawannya kemari, mereka akan berobat ke Kyai Dimas," jawab Ratna sambil menggoreng ikan kerapu.


"Oh, iya benar, maaf aku sampai lupa. Tapi katamu mereka akan tiba di sini sekitar tengah malam. Apakah jam segitu mereka masih mau makan?" suaminya bertanya-tanya.


"Besok rencananya jam berapa kalian akan ke Kyai Dimas?" tanya Ali suaminya Ratna.


"Jam tujuh pagi jadwal temannya yang bernama Mario, lalu jam delapan pagi jadwal Mbak Asmila," sahut Ratna.


Suaminya mengiyakan lalu berlalu menuju ke warung miliknya lagi.


"Aku menyesal mencintai kamu, tadinya aku kira Mas Asrul akan berani mengambil rumah dan harta yang sudah diberikan mertuamu kepadamu," ujar Jena sambil menatap keluar jendela pesawat.


"Astaga Jena, selalu itu saja yang kamu bahas. Apa tidak ada lagi bahasan lain," Asrul menyahut dengan kesal.


"Coba kamu pikirkan mas, kita nanti tiba di kampungku juga tidak akan mudah. Pasti akan banyak masalah, lalu kamu mau mencoba usaha di sana. Uang saja kita pas-pasan, cuma mengandalkan tabunganmu dan hasil penjualan mobil tua," Jena mulai mengomel lagi.


"Sekarang kita sudah ditahap ini, sebentar lagi akan sampai ke kampungmu. Ya sudah, kita hadapi saja dulu. Belum tahu apa yang akan terjadi nanti ke depannya," Asrul menjawab dengan penuh tekanan.


"Coba saja waktu itu kamu berani menjual mobil yang diberikan mertuamu, pasti akan banyak uang kita. Aku juga pasti tidak akan banyak marah seperti ini. Malah mobil tua seperti itu dijual murah, mobil mewah yang pasti lebih menghasilkan ditinggal".


"Jena, kalau mobil itu yang dijual, pastinya aku masuk penjara saat ini. Kita tidak akan ada di pesawat, tapi dalam penjara".


"Ingin rasanya pesawat ini meledak atau jatuh ke laut, biar aku tak pusing soal urusan hidup ke depan nanti. Aku gerah hidup miskin, dulu miskin, berharap punya lelaki yang akan berani nekad meraih harta yang diberikan cuma-cuma. Eh, nyatanya pengecut, terlalu takut sama keluarga Nayoan".


"Jena, sudahlah jangan begitu terus. Kamu memangnya tak kasihan sama anak kita, mengeluh terus memikirkan harta orang. Tak akan ada habisnya," Asrul mengeluhkan pemikiran Jena.


"Makanya aku salah duga, aku kira dengan ada anak maka mas akan berani melakukan apapun demi anak. Nyatanya mana, kamu terlalu takut bertindak".


Asrul tak menjawab lagi, dia lebih baik diam saja. Daripada nanti terpancing emosi, maka mereka hanya akan jadi tontonan orang dalam pesawat.


Sejak punya anak, Jena selalu mengeluh soal uang, soal harta dan soal mobil yang sebenarnya milik mertua Asrul.


Jena kepingin Asrul berani untuk merebut semua harta mertuanya dijadikan milik Asrul dan dirinya.


"Itu orang dua dari tadi berisik terus, entah apa yang mereka permasalahkan," bisik Asmila kepada Mario ketika merasa risih dengan sepasang suami istri yang duduk di kursi seberangnya.


"Hmmm, biarkan saja urusan orang lain. Memangnya kamu tahu apa yang mereka perdebatkan?" tanya Mario sambil memejamkan matanya dan acuh tak acuh.


"Mana aku tahu, cuma merasa sebal saja mendengar mereka berisik," sahut Asmila yang juga tengah memejamkan mata.


"Lalu rencanamu akan kamu apakan mereka?" tanya Mario sambil menahan geli.


"Entahlah, aku juga tak tahu," sahut Asmila.


"Kalau begitu sudah biarkan saja jangan ambil pusing," ujar Mario lagi sambil tangan kirinya meraih kepala Asmila dan menempelkan ke bahunya.


Asmila meletakan kepalanya ke bahu Mario, lalu tangannya memeluk tangan Mario.


"Aneh, dulu di kereta api, kamu marah besar padaku karena aku duduk di samping jendela. Sekarang malah kamu tak mau di samping jendela," Mario iseng mengejek Asmila.


"Hmmm, lain dong kereta api dengan pesawat. Kalau naik kereta api aku bisa menatap sawah yang hijau, tapi di pesawat aku cuma bisa menatap titik-titik sambil membayangkan kalau jatuh bagaimana rasanya," ujar Asmila menjelaskan kepada Mario.


"Tapi mau kereta api atau pesawat, intinya cuma satu. Aku cowok ganteng yang sama," sahut Mario cekikikan.


"Anda sangat percaya diri, tuan Mario".


Di halaman parkir kendaraan roda empat di bandara kota Palembang, tampak sebuah mobil minibus berukuran besar memasuki halaman tersebut.


Codot mencari posisi parkir di dekat beberapa mobil sejenis lainnya.

__ADS_1


Lalu setelah parkir, Codot dan Darman turun dari dalam mobil mendekati kantin untuk karyawan dan juga sopir taksi.


"Walah...ada Darman kemari, mau apa dia ?" bisik seorang sopir yang tengah duduk sambil menghadapi kopi di atas meja.


"Rusuh deh ada dia, mau apa dia kemari. Pasti ada orang yang dia cari," kata yang lain menanggapi.


"Eh, dia turun dari mobil Ucok, tapi yang bawa si Codot. Kemana si Ucok?" sopir lain ikut berkomentar.


"Ucok pasti punya hutang judi, jadi mobilnya disita dulu tampaknya," komentar yang lainnya lagi.


Darman dan Codot mendekati kantin tersebut.


"Apa kalian lihat-lihat???!!! tak suka ada aku kemari !!!" Gertak Darman kepada semua yang menatapnya.


"Hai, bang Darman, ayo masuk. Duduk di sini bersama kami," ajak seseorang yang sok dekat dengannya.


"Kopi dua!!!"teriak Darman kepada pemilik kantin.


"Mana aku minta rokok!!!" kata Darman lagi sambil memaksa yang ada di sana untuk memberikan rokok kepadanya.


Beberapa orang menyodorkan bungkusan rokoknya dan Darman memilih salah satunya, lalu menyalakan api di ujungnya.


"Bang, aku mau mie instan campur telur, abang mau tidak?" tanya Codot menawarkan makanan kepada Darman.


"Mau lah...cepat suruh buat untuk aku!!!".


Pengunjung mulai merasa tidak nyaman dengan kehadiran Darman.


"Bang Darman, maaf itu mobil Ucok yah. Mana Ucoknya, Bang?" tanya seorang sopir yang sangat kenal dengan pemilik mobil yang dibawa oleh Darman.


"Mana aku tahu, si Codot yang bawa mobil dia. Kau tanya dia saja dimana si Ucok berada," sahut Darman dengan ketus.


"Ucok mandi di sungai, lalu mobilnya dia suruh kubawa kemari. Apa masalahmu menanyakan mobil si Ucok segala rupa," Codot tampak tak suka ada yang menanyakan keberadaan Ucok.


"Cuma tanya saja bang Codot, jangan emosi. Santai saja bang," ujar orang tadi menenangkan Codot.


"Tak usah banyak tanya, tak usah banyak cakap. Ucok dan aku sudah punya kesepakatan".


Semua terdiam tak ada yang berani bertanya apapun lagi.


Darman dan Codot tampak enak sekali menikmati mie instan yang sudah dibuatkan oleh pemilik kantin.


"Bang Darman, sebentar lagi pesawat dari Balikpapan dan Jakarta akan segera tiba. Aku akan berjaga bersama yang lain yah, siapa tahu ada yang butuh angkutan," ujar Codot ketika sudah selesai makan.


"Ya sudah sana, aku tunggu saja di sini," sahut Darman sambil menyalakan rokok lagi.


Sore itu di sekitar Sungai Penjemuran di pinggiran Kota Palembang, ada dua anak kecil sedang berjalan kaki mencari ikan dengan menenteng ember dan kail di tangan mereka.


"Ayu, tunggu aku. Jangan terlalu cepat kau berjalan," teriak seorang anak lelaki kecil bernama Rizal.


"Kau pun lama berjalan, nanti ikan yang kita cari sudah kabur baru kau sampai di sini," teriak anak perempuan yang lebih besar yang dipanggil Ayu itu.


Lalu anak bernama Rizal tadi segera menghampiri Ayu yang sudah berdiri sejak tadi di atas bebatuan di tengah sungai.


"Di sini biasanya banyak ikan lele, kau mau ikan apa?" tanya Ayu.


"Kemarin ini aku lihat ada orang dapat ikan besar, katanya ikan tawes," ujar Rizal.


"Mana ada ikan tawes besar, paling juga sebesar tanganku ini," tukas Ayu.


"Entahlah, tapi ada abang yang dapat ikan besar di sini kemarin," Rizal tak mau kalah.


"Eh, Ayu, itu ada celana panjang coklat mengambang di air. Punya siapa yah?" Rizal menunjuk ke ujung sungai yang banyak semak-semaknya.


"Banyak ikan di sana, Zal. Ayo, kita dekati semak-semak itu," ajak Ayu kepada Rizal.


Kedua anak kecil tadi segera mendekat ke tempat celana panjang itu terapung di air.


"Iya, banyak ikan di sana dekat kaki," ujar Rizal sambil menunjuk ke sebuah benda terapung yang menyerupai kaki di dekat celana panjang itu.


"Eh, iya itu kaki," kata Ayu sambil mencari kayu panjang dan mencoba mengorek benda yang seperti kaki tadi.


"Astaga....mayat!!!" teriak Rizal.


"AAAAAHHHHHH!!!".


"ADA MAYAT!!!".


Kedua anak kecil itu berlari kencang menuju ke tepi sungai, lalu mereka berlari berusaha memberitahu orang dewasa lain kalau ada mayat di sungai.


Tak lama orang segera berkerumun mendekati sungai dan memastikan benar ada mayat terapung dan menyangkut di semak-semak di pinggir sungai di seberang.


Ada yang segera menghubungi Polisi, dan tak menunggu lama beberapa Polisi segera tiba di tempat kejadian perkara.


Mayat tadi di tarik ke pinggir dekat jalan raya, menurut polisi yang memeriksa diperkirakan mayat baru meninggal sekitar lima jam yang lalu.


Ada sebilah pisau kecil menancap di leher mayat itu.


Lalu Polisi berusaha mencari identitasnya, dan kebetulan dompetnya masih ada di saku depan mayat itu.


Polisi membuka dompet basah dan berusaha mencari kartu identitas orang tersebut.


"Rudi Sihombing," Polisi membaca nama korban penusukan itu.


"Alamatnya di daerah Borang sana, coba apakah ada telepon selularnya?" salah satu Polisi memeriksa tubuh korban mencari siapa tahu ada telepon selular.


"Tidak ada, atau mungkin salah satu anggota mencari keluarga korban di daerah Borang sana," kata Polisi lain.


"Coba kita tanya Komandan".


Lalu seorang Polisi melaporkan kepada Komandannya, dan setelah mendapat perintah dari Komandannya lalu segera bergerak memberi tugas kepada anggota lainnya.


"Kata Komandan, korban harus segera dilarikan ke Rumah Sakit POLRI untuk di otopsi, dan salah satu anggota segera mencari keluarga korban".


Tak lama datang ambulans dari Rumah Sakit POLRI dan langsung mengangkut korban tadi.


Awak media juga ramai di sana menwawancarai penduduk sekitar dan juga kepada kedua anak kecil yang tadi menemukan mayat tersebut.


Dalam waktu singkat seluruh media sosial memberitakan penemuan sesosok korban penusukan yang ditemukan di pinggir sungai Penjemuran.


Pria bernama Rudi Sihombing, berusia sekitar 34 tahun, berasal dari Desa Borang.


Saat ini pihak kepolisian sedang menanti keluarga korban, dan sementara korban segera di otopsi oleh tim forensik.

__ADS_1


__ADS_2