PENGKHIATAN CINTA

PENGKHIATAN CINTA
Rabu Pemakaman Asmila


__ADS_3

Helikopter milik TNI Angkatan Udara dari bandara di Jakarta sedang menuju ke kota Cirebon, dan pada hari itu tidak seperti biasanya kendaraan itu digunakan untuk latihan ketentaraan.


Hari itu helikopter digunakan untuk membawa peti jenazah seorang wanita yang merupakan korban kecelakaan akibat tenggelam di sungai di Kabupaten Palembang.


Peti jenazah tersebut sebelumnya dibawa menggunakan pesawat terbang TNI juga dari Kota Palembang menuju Jakarta.


Sebelumnya ada dua peti jenazah, namun yang satunya sudah di jemput oleh keluarga korban di bandara Jakarta.


Sedangkan yang satu ini akan dijemput di bandara kecil di Kota Cirebon oleh pihak keluarganya.


Nama korban di dalam peti jenazah tersebut adalah Asmila Maryana, saat ini keluarga korban yaitu Hastomo sedang menunggu di bandara bersama dengan mobil ambulans milik TNI juga.


Terlihat helikopter sudah tiba dan tengah mengatur posisi pendaratan, beberapa TNI terlihat segera mendekat menuju ke titik pendaratan.


Setelah helikopter mendarat, lalu peti jenazah diturunkan dan segera dimasukan ke dalam mobil ambulans milik TNI yang juga sudah berada di lokasi tersebut.


Hastomo ikut ke dalam mobil ambulans tersebut sebagai pemandu jalan untuk menuju ke rumahnya.


Di rumah Bapak Jaka sudah berkumpul seluruh kerabat dan tetangga, termasuk Pak Ustadz dan Ibu Ustadzah sudah berada di dalam rumah tersebut.


Semua yang hadir sedang membaca surat Yassin sambil menunggu kedatangan jenazah Asmila.


Ibu Jaka masih saja menangis, hatinya pilu sekali ketika tahu anaknya meninggal dengan cara yang sangat tragis.


"Aku tak percaya, demi Allah aku sampai detik ini masih tak percaya kalau Asmila harus pergi dengan cara seperti itu," ujar Ibu Jaka sambil terus berurai air mata.


"Sabar bu, semua sudah takdir. Semua Allah yang mengatur dan menentukan hidup mati umat manusia," Ibu Ustadzah berusaha membesarkan hati Ibu Jaka.


Asmida juga hanya diam saja tak bergeming, air mata terus mengalir di pipinya. Dia tidak menyangka kalau beberapa hari yang lalu berbincang dengan adiknya di warung makan suaminya itu adalah merupakan pertemuan terakhir dengannya.


Tak lama terdengar bunyi sirine mobil ambulans memasuki jalan masuk menuju rumah keluarga Bapak Jaka, tampak Fuad sejak tadi sudah berdiri di depan halaman menanti kedatangan jenazah istrinya.


Kemudian mobil ambulans tiba di depan rumah Bapak Jaka, dan petugas segera turun membuka pintu belakang mobil dan bersama-sama dengan beberapa orang menurunkan peti jenazah.


Peti segera dibawa ke pinggir rumah ada ruang tertutup tirai yang sejak tadi sudah disiapkan untuk memandikan jenazah.


Dibalik tirai sudah ada meja dan Ibu Ustadzah bersama Asmida sudah siap menanti di sana.


Peti dibuka, dan bau jenazah yang mulai membusuk menyeruak ke seluruh ruangan.


Fuad segera meraih tubuh kaku istrinya dan meletakan di atas meja.


"Astagfirullah!!!" pekik beberapa orang ketika tubuh Asmila ada di gendongan Fuad, semua terkejut karena leher Asmila tampak terkulai seperti mau lepas.


"Pelan-pelan, kata petugas tadi memberitahu kalau leher Asmila memang patah," ujar Hastomo sambil membantu Fuad meletakan tubuh Asmila ke atas meja tersebut.


Setelah tubuh Asmila tergeletak di atas meja, kemudian Fuad dan Hastomo keluar dari tempat itu dan dibalik tirai tertutup Ibu Ustadzah dibantu Asmida dan beberapa orang wanita lainnya memandikan jenazah Asmila.


Ibu Jaka pingsan saat itu, beliau tak kuasa melihat tubuh kaku anaknya apalagi mengetahui leher anaknya patah.


Beberapa kerabat segera menangani Ibu Jaka yang pingsan, diberi minyak angin dan minum air hangat.


Seorang kerabat memeluk Ibu Jaka yang histeris ketika sudah sadar lagi, entah mungkin beliau sangat merasa bersalah kepada anaknya itu.


Bapak Jaka sedari tadi duduk di teras rumah ditemani beberapa kerabat pria lainnya, beliau menangis tapi tak bisa bergerak sedikitpun karena hatinya terlalu hancur melihat kondisi anak bungsunya itu.


Fuad menandatangani hasil laporan forensik dan juga formulir serah terima dari pihak TNI kepada keluarga.


Setelah itu dia membaca hasil laporan forensik dan benar tercantum hasil pemeriksaan kalau Asmila meninggal karena lehernya patah akibat benturan yang sangat keras sekali.


Sebagai suami membayangkan betapa istrinya saat kejadian mungkin sedang duduk atau sedang tidur, tahu-tahu terbanting keras dan mungkin ada bunyi apa dari leher yang patah seperti di film-film laga.


Merinding seluruh tubuhnya membayangkan kejadian yang menimpa istrinya.


Mobil ambulans akhirnya kembali ke markas TNI sambil membawa peti jenazah yang kosong, mungkin peti seperti itu sering digunakan untuk membawa jenazah lain korban kecelakaan.


Setelah selesai dimandikan lalu dikafani, jenazah Asmila dibawa ke dalam ruangan tengah rumah.


Ibu Jaka masih meraung menagis melihat tubuh Asmila terbujur kaku, beliau menangis di pinggir jenazah anaknya sambil memohon maaf berulang-ulang.


Surat Yassin kembali dibacakan oleh semua orang yang hadir, air mata terus mengalir dari pipi hampir semua orang di ruangan itu.


Keranda datang dibawa oleh beberapa remaja pengurus Masjid, setelah surat Yassin selesai dibacakan lalu Jenazah dipindahkan ke keranda dan segera dibawa ke masjid terdekat untuk di sholatkan.


Usai disholatkan, kemudian keranda di usung oleh beberapa orang termasuk Fuad dan Hastomo menuju ke pemakaman.


Pak Ustad sudah menanti di pemakaman, dan tak menunggu lama usai pembacaan doa, kemudian jenazah Asmila diangkat dan dimasukan ke dalam tanah.


Fuad yang mengadzani di dalam liang lahat, lalu setelah itu dia naik ke atas dan tanah mulai menutupi tubuh Asmila yang terbaring di dalamnya.


Ketika tanah sudah menutupi kubur Asmila seluruhnya, lalu doa kembali dipanjatkan agar jenazah dilapangkan jalannya menuju ke keabadian dan bisa berada di sisi Allah SWT.


Pulang ke rumah mertuanya dengan tubuh yang sangat lunglai sekali, Fuad masih merasa tak percaya dan seakan di dalam hati ada segumpal pertanyaan yang tak bisa diungkapkan dan tak bisa mendapat jawaban.


Entah harus bagaimana, tapi rasanya hati ini terlalu sakit, tapi mau tak mau Fuad harus mencari jawabannya.


Untuk apa istrinya ada di Palembang, sementara di pagi itu nyata terdengar di telinganya kalau istrinya mengatakan akan ada acara bersama Direktur Utama sehubungan akan ada road show seminar yang harus dilakukannya.


"Fuad, maaf aku mau bicara tapi jangan sampai pembicaraan kita ini membuatmu kecewa dan sakit hati," Hastomo mendekati Fuad yang tengah duduk di ruang tamu.


"Bicara saja, ada apa, mas?".


Hastomo lalu memanggil Asmida istrinya dan keduanya sekarang duduk di hadapan Fuad.


"Minggu lalu saat Asmila datang ke tempat aku berjualan sambil menanti kamu menjemputnya, dia berkata kepada Asmida bahwa akan keluar kota untuk berobat bersama temannya".

__ADS_1


"Cuma dia tidak menyebutkan nama kota dan siapa teman yang mengajaknya berobat. Dan mau berobat apa juga tidak jelas informasi yang disampaikan kepada kami," ujar Hastomo kepada Fuad.


"Iya, entah mengapa waktu itu kami belum selesai berbincang, lalu kamu datang dan pembicaraan terputus. Lalu hari berikutnya waktu makan di rumah sini juga, aku lupa menanyakan lagi perihal rencana kepergiannya itu," Asmida juga menyampaikan apa yang telah dia bicarakan dengan adiknya.


"Dia sama sekali tidak mengatakan soal berobat, dia ijin untuk ada seminar ke beberapa kota dan hari sabtu malam ada dinner bersama Direktur Utama," Fuad juga mengatakan apa yang dia ketahui dari istrinya.


"Apa Mila menyembunyikan sesuatu dari kita semua?" Asmida tampak bingung.


"Kita jangan menghakimi atau berprasangka buruk kepadanya. Kasihan dia sudah tiada, jangan sampai kita menghambat jalannya menuju surga," sahut Fuad selalu bijak berkata-kata.


Semua menghela nafas berat mendengar ucapan Fuad, lalu semua terdiam tak tahu harus membahas apa lagi soal Asmila.


"Kak Mida, saya mohon bantuan untuk minta informasi alamat rumah kost yang selama ini disewa Asmila dan nomor telepon orang yang bisa dihubungi disana. Karena selama ini kantor yang membayar sewa bulanannya," pinta Fuad kepada Asmida.


"Oh, iya, memang tadi juga orang kantor menanyakan hal itu. Dan aku bilang kalau nanti kami akan ke Jakarta untuk mengambil semua barang-barang milik Asmila," sahut Asmida dan dijawab dengan anggukan kepala oleh Fuad.


Setelah itu, Fuad menghampiri awak media yang menanti sejak tadi dan tentu saja segera diberondong oleh berbagai pertanyaan.


"Pak Fuad, apakah istri anda itu punya hubungan khusus dengan seorang pria bernama Mario yang juga menjadi korban kecelakaan kemarin?".


"Apakah Pak Fuad selama ini tahu apa yang dilakukan istri anda selama bertugas di Jakarta ?".


"Pak Fuad, mungkin anda tahu pria bernama Mario itu seorang pengusaha sukses di bidang konstruksi. Apakah selama ini pernah bertemu anda?".


Fuad hanya diam mendengarkan pertanyaan yang meluncur deras dari para awak media tersebut.


"Bapak dan Ibu sekalian teman media, mohon maaf saya masih sangat berduka kehilangan istri saya. Maka untuk sementara, saya tidak dapat menjelaskan apapun karena yang anda semua tanyakan memang belum saya ketahui".


"Sekali lagi mohon maaf, beri saya sedikit ruang dan waktu untuk sejenak bernafas sambil saya mencari tahu yang sebenarnya terjadi kepada istri saya. Terima kasih," sahut Fuad mengakhiri pembicaraan, namun awak media tetap saja ngotot mencari informasi.


Sampai akhirnya karena tak ada lagi informasi dari pihak keluarga, maka mereka mulai meninggalkan rumah mertuanya Fuad satu persatu.


"Fuad, kata Pak Ustad nanti tahlilan hanya tiga hari saja. Jadi kamu sementara tinggal di sini bersama kami, yah," pinta Ibu Jaka dengan nada lemah.


Lalu Fuad mengiyakan sambil mencium kening ibu mertuanya yang terus menangis kalau bertemu dengannya.


"Maaf, saya no comment," sahut Anwar ketika awak media mengejarnya dan memberondong berbagai pertanyaan seputar Asrul dan Jena.


Dia begitu kesal karena sejak tadi pagi serasa menjadi buronan, kemana juga ada awak media mengikutinya untuk menanyakan seputar kasus kematian kakaknya.


"Ya ampun, abangku yang wafat, kok aku yang harus sibuk dikejar media," keluh Anwar kepada Raya istrinya.


"Wajarlah, Bang Asrul itu menantu orang terpandang. Lalu ada kejadian begini, dimana ketahuan sudah punya anak dengan wanita lain. Pasti akan jadi heboh dimana-mana," sahut Raya sambil tertawa sinis.


"Hmmm, itu dia yang bikin runyam. Abang bisa-bisanya berbuat bodoh seperti begitu, panjang sudah sekarang masalah kita yang hidup. Kerja tak bisa, bahkan keluar rumah sekedar menghirup udarapun jadi sulit sekali," Anwar terlihat jengkel mengingat kejadian meninggalnya sang kakak.


"Tapi nanti kita jadi ke Palembang sana?" tanya Raya kepada suaminya.


"Musti jadi, tak bisa kita tinggal diam begitu saja. Aku juga ingin tahu kebenarannya, sampai Bang Asrul harus dimakamkan di sana itu bagaimana ceritanya," jawab Anwar dengan wajah penuh pertanyaan.


"Entahlah, aku tak ingat. Yang pasti aku pernah beberapa kali ke tempat kerja abang. Dan memang dulu ada wanita muda di sana, tapi aku tak tahu siapa namanya," jawab Anwar sambil menaikkan bahunya.


"Sekilas abang lihat, cantik mana perempuan itu dibanding Kak Etha?" tanya Raya lagi.


"Waduh, mana aku tahu. Sungguh aku tidak begitu memperhatikan perempuan itu. Lagipula apa untungnya buat aku, harus memperhatikan dan membandingkan orang lain," sahut Anwar lagi.


"Berarti perempuan itu tidak terlalu cantik. Karena kalau cantik sekali, pasti Bang Anwar akan memperhatikan juga kepadanya," ujar Raya sambil melirik meledek.


"Nah, kamu selalu begitu. Masalah orang lain, urusan orang lain, buntutnya suami sendiri yang dikaitkan. Padahal aku tahu juga tidak urusan mereka, tapi selalu kena getahnya," Anwar jadi mengomel kepada istrinya.


"Kalau tidak merasa ikut memperhatikan perempuan itu, lalu kenapa jadi sewot. Santai saja, namanya juga istri bertanya, kok malah marah," sahut Raya lagi sambil mencibir.


Anwar terlihat kesal, sudahlah dia jengkel tak bisa keluar rumah, lalu istrinya juga malah meledek dirinya.


"Bang, umi dan abi sejak kemarin tidak buka toko dan tidak keluar rumah. Aku khawatir mereka kenapa-napa," Raya tiba-tiba ingat kepada kedua mertuanya.


"Oh, tadi aku sudah telepon. Mereka sedang tidak mau diganggu dulu. Dua hari ini sedang membaca Surat Yassin, lalu berdzikir. Itu cara mereka untuk mengatasi kesedihannya," sahut Anwar menjelaskan.


"Hanya aku baru tahu kalau di ajaran keluargamu tidak ada tahlilan untuk orang meninggal. Padahal hampir semua umat muslim melakukan itu," Raya baru paham kebiasaan di rumah suaminya.


"Ya, di agama kita juga banyak ajaran, dan khusus di keluarga besarku memahami ajaran demikian. Walaupun tahlilan, itu hanya dilakukan oleh keluarga inti saja dan tidak harus mengundang banyak orang," Anwar menjelaskan kepada istrinya.


Bedanya Raya dengan Aletha, dia selalu ingin mempelajari kebiasaan di keluarga suaminya dan berusaha berbaur dengan keluarga suami.


Sementara Aletha, sejak menikah sampai Asrul meninggal sama sekali tidak tahu kebiasaan apapun di keluarga suaminya.


"Aduh...serem, tempat kost kita jadi horor nih," ujar salah satu penghuni kost di tempat Asmila menyewa sebuah kamar selama beberapa tahun belakangan.


"Benar kan dugaanku, mereka bukan suami istri. Aku sudah curiga sejak lama akan hal itu," komentar salah satu penghuni lainnya.


"Tapi mereka rapih sekali yah, dan anehnya kok penjaga kost bisa percaya begitu saja kepada keduanya?" yang lain juga mempertanyakan soal Asmila dan Mario.


"Nah, itu pemilik kost datang. Lebih baik kita tanyakan langsung kepada mereka!" ajak salah seorang yang melihat kedatangan pemilik kost tersebut


Ibu pemilik kost terlihat berjalan masuk ke rumah kost dan tentu saja langsung menuju kamar Asmila. Di belakangnya terlihat kedua penjaga kost berjalan mengikuti langkah majikannya.


"Saya heran, kalian berdua bisa-bisanya memberikan kunci utama dan kunci cadangan kepada penyewa ini. Sekarang orangnya meninggal, lalu bagaimana barang-barang di dalam sana?" Ibu pemilik kost memarahi kedua pegawainya.


"Aku curiga sama kalian berdua, sepertinya kalian disuap oleh orang ini dulu. Aku kaget bisa kecolongan kalau ada pasangan tidak resmi suami istri sering menginap di rumah ini. Pasti kalian diberi sesuatu, ayo jawab!!!" hardik Ibu pemilik kost di hadapan kedua pegawainya yang terus menunduk sejak tadi.


"Jawab!!!".


Keduanya saling melirik, lalu berusaha berbicara jujur kepada majikannya.


"Maaf, bu, kalau saya sering menagih foto copy surat nikah dan kartu keluarga kepada Ibu Asmila. Tapi selalu dijawab ada di suaminya, kalau saya tanya bapak yang suka kemari, yang kami kira suaminya juga selalu menjawab nanti berkasnya tertinggal di rumah," salah satu pegawainya menjelaskan.

__ADS_1


"Iya, benar, kepada saya juga begitu. Saya sudah setahun ini sering nagih, sampai akhirnya kelupaan," sahut pegawai satunya lagi mencoba membantu temannya.


"Oke, kalian lupa dan mungkin aku juga teledor, karena aku pikir kalian sudah pegang berkas mereka. Tapi ternyata barusan aku tanya, ternyata hampir setahun lebih orang ini menyewa di sini tanpa kita ketahui kebenaran status dirinya. Kacau....sungguh kacau," Ibu pemilik kost benar-benar kesal.


"Sekarang aku tanya, kalian pernah diberi apa oleh dia? uang atau apa?!!!" Ibu kost bertanya lagi sambil terlihat jengkel.


"Jujur bu, kalau uang memang suka saya dapat, tapi cuma lima ribu atau sepuluh ribu. Itu juga upah saya disuruh membeli makanan atau disuruh beli sesuatu. Lain dari itu tidak pernah," sahut pegawai yang lelaki.


"Benar bu, saya juga suka diberi itu juga upah saya mencuci, setrika dan membersihkan kamarnya. Atau kalau Ibu Asmila minta tolong di pijit atau dikerik karena masuk angin," pegawai yang perempuan juga menjelaskan kepada majikannya.


"Loh, bukannya cuci setrika sudah termasuk dalam pelayanan kost di sini. Jadi kamu minta upah lagi?" tanya Ibu pemilik kost sambil melotot.


"Demi Allah, saya tidak minta. Tapi Ibu Asmila yang memberi, kan saya sesekali suka disuruh mencuci pakaian suaminya," sahut pegawai perempuan dengan ketakutan.


"Astaga, lelaki itu bukan suaminya. Kalian lihat tidak di televisi. Mana sekarang kunci kalian berikan dua-duanya untuk mereka. Jengkel rasanya hatiku, ingin rasanya melempar kalian ke lautan biar dimakan hiu," omel Ibu pemilik kost sambil kedua tangannya mengepal.


"Tadi sudah ada yang menelepon dari kantor tempat ibu Asmila bekerja, katanya minggu depan akan ada orang datang hendak membereskan semua barang milik Ibu Asmila," pegawai lelaki memberitahu majikannya.


Mendengar itu ibu pemilik kost tampak agak sedikit lega, lalu mengiyakan ucapan pegawainya tadi.


"Ya sudah, kita tunggu sampai minggu depan. Semoga saja keluarganya bisa segera membereskan dan membawa semua perabotan milik penyewa," sahut Ibu pemilik kost sambil menghela nafas lega.


Para penghuni kost lain sejak tadi memperhatikan ibu pemilik kost yang sedang memarahi kedua pegawainya.


Lalu salah satunya bertanya kepada ibu pemilik kost," Maaf, kami boleh bertanya, kok ibu bisa sampai kecolongan tidak meminta data Ibu Asmila ini dengan lengkap. Padahal kami dulu sampai ibu sendiri yang turun tangan meminta data pribadi kami. Kenapa yah, bu?".


Ibu pemilik kost menatap orang yang bertanya lalu menjawab dengan kalimat cukup pedas.


"Saya kecolongan karena orang ini kalau bayar sewa tepat waktu, tidak pernah meleset setiap bulannya. Kalau kalian kan harus saya tagih dulu, sampai saya gedor-gedor pintu kamar baru jawab. Bu...maaf, minggu depan yah belum dapat kiriman atau bu maaf saya gajiannya telat. Nah, makanya saya pasti ingat wajah-wajah tukang menunggak".


"Ayo, yang belum bayar bulan ini, segera bayar sekarang juga!!!".


Mendengar jawaban sakti yang meluncur dari mulut harimau betina, tiba-tiba penghuni kost menghilang semua bagai disihir tukang sulap.


Semua kamar langsung terkunci rapat, dan suasana jadi hening bagai tak ada penghuni kost satupun di rumah itu.


Kalau diintip ke setiap kamar, pasti semua sedang sembunyi, entah di dalam lemari atau di kolong tempat tidur. Bahkan mungkin ada yang sedang pura-pura jadi lampu duduk, atau jadi patung taman.


Tagihan ibu kost jauh lebih menyeramkan dibandingkan dengan rumor kematian Asmila.


Sore itu Jimmy yang sedang bicara dengan Rosalinda merasa aneh karena tiba-tiba ada ucapan kalau Kristy adalah pacarnya.


"Kak Rosa sinting atau apa yah? masa bilang Kristy pacarku segala. Atau jangan-jangan memang dia itu mencari perhatian aku...hmmm, baiklah," Jimmy bergumam sendiri lalu dia terpikir akan sesuatu.


"Kristy, bisa kita bicara sebentar," pinta Jimmy ketika Kristy baru saja selesai merapihkan semua peralatan yang dibawanya sejak pagi untuk keperluan menata makanan di rumah itu.


"Ya, ada yang bisa saya bantu Pak Jimmy?" tanya Kristy dengan ramah seperti biasanya.


"Maaf, saya nanti mau minta semua tagihan pesanan makanan. Katanya Kak Rosa juga masih memesan makanan untuk tiga hari ke depan. Jadi saya minta tagihannya, dan besok kalau kemari biar anak buah anda saja yang datang. Saya tidak mau anda kemari lagi," ujar Jimmy dengan dingin dan ketus.


Mendengar itu tentu saja Kristy merasa heran dan kaget," Ada apa gerangan? Apa saya ada salah kepada keluarga ini?".


"Salah sih tidak yah, cuma saya tidak mau ada kalimat kalau anda pacar saya. Maaf, saya tidak pernah menyatakan kalau kita pacaran. Jadi saya tidak mau ada image begitu, saya tidak suka anda sok mencari perhatian kepada keluarga saya agar saya mau menjadi pasangan anda," ucapan Jimmy begitu pedas dan menyakitkan.


Kristy tentu saja sangat jengkel dan sakit hati mendengarnya, lalu dia berkata," Maaf, saya tidak pernah mencari perhatian anda atau mencari perhatian keluarga anda. Dan saya juga tidak punya pikiran ingin berpasangan dengan anda. Saya kemari karena saya simpati kepada keluarga Bapak Mario, setidaknya almarhum adalah salah satu kolega saya".


"Tapi anda sejak lama sering mengirim makanan kepada saya, sengaja kirim makanan ke kantor padahal saya yakin anda mencoba memancing saya agar tertarik kepada anda," Jimmy menekan lagi kepada Kristy.


"Astaga, saya kirim makanan karena saya sedang promosi. Bukan saya memancing anda, sorry yah. Anda pikir anda setampan apa sih, bisanya menuduh saya seperti itu?" Kristy begitu jengkel kepada Jimmy.


"Tampan atau tidak, itu urusan saya. Yang pasti, asal anda tahu, semua kiriman makanan anda yang ada di meja saya tak pernah saya makan. Semua saya berikan kepada orang lain. Saya anti diguna-guna apalagi dipelet oleh perempuan yang suka kirim makanan," Jimmy kembali melontarkan kalimat yang menyakitkan.


Kristy menarik nafas dalam dan kesal sekali, lalu sambil menunjuk dia berkata," Baik, besok saya minta staf saya yang menagih semua pesanan makanan dari Ibu Rosalinda. Saya tidak akan pernah punya urusan lagi dengan anda, dan kesepakatan soal renovasi rumah makan saya batalkan".


"Oke, tak masalah. Nasabah saya masih banyak, bahkan yang lebih cantik dari anda juga banyak dan saya tidak pernah tergoda dengan cuma kiriman makanan seperti itu," ujar Jimmy terlihat puas melihat Kristy tampak marah dengan ucapannya.


Lalu Kristy segera masuk ke dalam mobilnya sampai lupa mengucapkan pamit kepada keluarga Mario yang lainnya.


"AAAAARRRGGGHHHH!!!"


Kristy berteriak sambil memukul kemudi mobilnya, sungguh sakit hati dan jengkel dan marah bercampur aduk.


Kemarin siang dia hanya mau mengantar makanan pesanan Marsela saja, tapi mendengar berita Mario meninggal maka dia ikut simpati.


Dia menyesal mengapa kemarin harus baik hati menolong Wiliam dan Rosalinda ketika akan menjemput orang tua almarhum Mario.


Dia juga menyesal kenapa kemarin dan sejak tadi pagi harus merasa iba dan simpati lalu membantu dengan ikhlas semua kegiatan pemakaman di rumah Mario.


Bahkan kenapa harus sampai tidak tidur semalaman hanya untuk mengejar pesanan makanan agar hari ini semua tamu yang melayat bisa diberi suguhan terbaik sesuai amanat Rosalinda.


"Gue kaga boleh nangis, jijik kalau sampai nangis gara-gara cowok manja sok ganteng. Amit-amit, siapa yang mau sama cowok gila kayak gitu," jerit Kristy sambil menyetir mobil menuju rumah makannya.


Hari menjelang malam ketika Kristy baru saja turun dari mobilnya, tiba-tiba ada suara menyapanya dari belakang.


"Kristy, selamat malam. Maaf, aku turut berduka cita atas meninggalnya kerabatmu," ternyata Pak Samsul sang Perwira Tinggi Angkatan Laut.


"Oh, iya," sahut Kristy dengan senyum dipaksakan.


"Aku kehilangan kamu sejak kemarin, aku tak bisa kalau sehari saja tidak memandang senyum manismu. Aku minta kamu bersedia menjadi pasanganku. Apakah kamu bersedia?" tak ada angin tak ada badai tiba-tiba ada pertanyaan seperti itu dari bibir Samsul.


Kristy bengong, lalu tertawa canggung dan berkata ," Hari ini saya lelah sekali, jadi mohon maaf saya mau istirahat".


Lalu Kristy segera masuk ke dalam rumah makannya, lalu berlari ke atas menuju kantor pribadinya.


Barulah tangis pecah di sana, sore yang sangat penuh drama menjengkelkan membuat dirinya serasa dipermainkan keadaan.

__ADS_1


__ADS_2