
"Jadi uang minggu lalu sebanyak tiga ratus ribu kalian belikan apa saja?" tanya Jimmy kepada kedua keponakannya.
"Aku tabung setengahnya di koperasi sekolah, Oom. Ini buktinya," Mega memperlihatkan buku tabungan koperasi miliknya kepada Jimmy.
Jimmy mengangguk, lalu melirik Maya dan bertanya," Kalau kamu?".
Maya menghela nafas, lalu mengeluarkan buku tabungan koperasi sekolah juga tapi tidak membuka halaman dalamnya seperti Mega.
"Ini, tuh... ada kan!" sahut Maya dengan wajah tidak senang.
"Berapa isi tabungannya?" tanya Jimmy lagi.
"Oom kenapa sih. Kalau memberi harus ikhlas, tak usah tanya berapa yang aku simpan," tukas Maya sambil cemberut.
"Ya ampun, oom ikhlas memberi kalian uang. Cuma ingin tahu saja kalian mempergunakan uang yang oom beri itu untuk apa saja?" Jimmy tetap ingin tahu jumlah yang Maya simpan.
Dengan malas Maya membuka buku tabungannya, dan tercantum nilai seratus ribu rupiah saja.
"Kok cuma segitu?" adiknya protes.
"Aku kemarin membeli lip gloss dan deodoran, sama kutek juga. Jadi itu sisanya yang aku tabung," jawab Maya sambil mendelik ke arah Mega.
Jimmy hanya tersenyum saja melihat tingkah kedua keponakannya itu.
"Aku sih uang kemarin saja masih ada sisa lima puluh ribu. Kakak orangnya boros, awas nanti kurang uang pasti pinjam punya aku," Mega melirik kesal ke arah kakaknya.
"Sudah jangan ribut, minggu ini oom kasih lagi tiga ratus ribu. Kapan harus simpan sebaik mungkin, jangan boros. Kalau mau beli apa-apa minta sama oom. Jangan sama mama kalian, kasihan mama kalian sekarang bebannya tambah banyak," ujar Jimmy melerai kedua keponakan gadisnya yang tengah saling melirik tajam.
"Ada apa ini?" tanya Soraya yang baru turun dari lantai atas sambil membawa tas besar untuk mengajar di kampus.
"Tak ada apa-apa, biasa rahasia bertiga oom dan keponakan," jawab Jimmy sambil tersenyum.
Tentu saja kedua gadis sangat senang pamannya menutupi masalah mereka, jadi ibunya tidak ikut mengomel.
"Kalian mau diantar mama atau mau ikut Oom Jimmy?" tanya Soraya.
"Kami sama Oom Jimmy saja, nanti pulang sekolah juga sama Oom Jimmy. Sekarang Oom Aliong juga bisa disuruh menjemput kami kata Oom Jimmy," Maya menjawab pertanyaan ibunya dengan cepat.
"Aliong?" Soraya mengernyitkan keningnya.
"Iya, ada Aliong, sementara proyek belum ada yang jalan, maka aku bisa minta tolong dia sesekali menjemput anak-anak," sahut Jimmy kepada Soraya.
"Hmmm, terserahmu saja. Cuma aku tak mau nanti jadi bahan omongan istrinya Aliong lagi, aku tak mau kalau nanti ada anggapan Aliong dijadikan sopir oleh keluarga Maliangkay lagi," Soraya mengingatkan Jimmy.
"Tenang, aku bisa menangani hal ini," sahut Jimmy menenangkan Soraya.
Karena Maya dan Mega memilih ikut Jimmy, maka Soraya segera naik ke mobil yang dulu sering dibawa suaminya.
"Jim, apakah di kantor ada mobil yang lebih kecil ukurannya. Aku membawa mobil merasa terlalu kebesaran," ujar Soraya sambil membuka kaca mobil kepada Jimmy.
"Mobil yang biasa kemana?" tanya Jimmy.
"Aku beri pinjam untuk pendeta Yosep, kan istrinya sakit".
"Oke, nanti aku pikirkan bagaimana baiknya. Kak Aya tunggu saja yah".
Soraya mengangguk sambil kemudian melaju menuju kampusnya, dan Jimmy bersama kedua keponakannya mengikuti dari belakang kemudian berpisah di sebuah perempatan.
Sejak jam delapan pagi sampai pukul dua belas siang, terlihat Soraya terus mengajar dua kelas tingkat akhir tanpa jeda.
Persiapan kelulusan untuk sarjana, tentu saja bahan pelajaran semakin sulit. Membahas materi seminar yaitu menggali makna dari sebuah bacaan. Karena kadang seseorang bisa saja salah memaknai kata-kata dalam bahasa asing menjadi berbeda dari yang seharusnya.
Pelajaran yang sudah pasti membuat pusing kepala karena setiap mahasiswa harus aktif memberikan tanggapan atas setiap kalimat yang tercantum dalam bacaan tadi.
Tentunya bukan hanya sekedar bacaan biasa, tapi merupakan kalimat-kalimat pidato dari presiden Amerika ke 16 yang sedang mereka kupas.
"Ampun empat jam, nafas juga tak bisa," salah seorang mahasiswa mendumel ketika pelajaran berakhir.
"Benar, Ibu Soraya bikin kita tak bisa berkutik sama sekali," bisik yang lainnya sambil memasukan buku ke dalam tasnya.
"Kayaknya cuma si Risa saja yang bisa menikmati pelajaran Ibu Soraya," ujar salah satu mahasiswa lainnya lagi.
"Hmmm, anak emas dia sih. Asisten dosen, beda sama kita," kata yang lainnya ikut memberi komentar sinis.
Saat itu terlihat mahasiswa yang bernama Risa sedang diajak bicara oleh Soraya.
Bisikan kata-kata anak emas yang ditujukan kepada Risa, secara tak sengaja terdengar oleh Soraya.
"Tolong jangan ada yang keluar ruangan dulu!!!" pekik Soraya tiba-tiba sehingga semua mahasiswa terkejut dan terdiam di tempatnya masing-masing.
Soraya menatap semua mahasiswa di ruangan itu dengan sorot tatapan tajam.
"Saya tidak senang dengan ungkapan anak emas kepada Risa. Barusan saya mendengar ada ucapan seperti itu kepadanya dan tak sengaja terdengar oleh saya".
"Camkan, saya tidak pernah membedakan kalian semua. Di mata saya kalian semua sama, tapi hanya Risa yang berani datang secara pribadi untuk berdiskusi tentang pelajaran dengan saya".
"Maka saya tentu memilih dia menjadi asisten saya. Dan saya tidak menutup kemungkinan siapapun yang mau menjadi asisten dosen. Tapi yang pasti tidak ada istilah saya menganak emaskan salah satu dari antara kalian. Paham?!!!" Soraya berkata tegas kepada semua mahasiswanya.
Tentu semua terdiam, apalagi yang memang merasa iri hati kepada Risa.
"Nanti jam empat sore kita berkumpul lagi di sini. Bahan nanti sore adalah adu debat, persiapkan diri masing-masing. Saya akan tunjuk siapa peserta debat dan siapa juru penengah," lanjut Soraya.
"Ibu, apakah debat nanti dalam bahasa Inggris?" tanya salah satu mahasiswa.
Soraya melotot, lalu menjawab," Bukan, tapi pakai bahasa pohon".
Risa menahan tawa mendengar jawaban dosennya yang terlihat seperti menahan marah kepada mahasiswa itu.
"Ampun deh, mahasiswa tingkat akhir masih ada yang bertanya begitu," Soraya berguman jengkel.
"Risa, begini, besok saya ada keperluan di luar kampus. Tolong besok kamu gantikan saya untuk mahasiswa semester bawah, yah," pinta Soraya.
"Baik bu, maaf besok materinya apa?" tanya Risa.
Lalu Soraya memberikan bahasan materi yang besok harus Risa sampaikan kepada mahasiswa tingkat bawah.
Sambil mempersiapkan materi debat untuk sore nanti, Soraya melihat ponselnya.
Ada beberapa pesan chat masuk dari nomor tak dikenal, dan pesannya terkesan seperti sedang mencoba meraih perhatian Soraya.
"Kalau aku ingin tahu siapa yang kirim chat bagaimana caranya, yah?" tanya Soraya kepada Oti.
"Kamu harus simpan dulu nomor itu, baru bisa terlihat foto profil pengirim pesan," sahut Oti sambil mengetik di depan komputer.
"Kalau sudah tahu siapa, tinggal aku ganti lagi saja namanya, yah?" tanya Soraya lagi.
Oti hanya menganggukan kepalanya sambil terus mengetik.
"Orang aneh," ujar Soraya sambil menyimpan nomor tersebut dengan nama itu.
Lalu Soraya memeriksa foto profil pengirim pesan, dan dia tersentak," Ya ampun!!!".
"Siapa sih?" tanya Oti penasaran dan menghentikan mengetiknya.
Soraya menghela nafas sebal, lalu memperlihatkan foto seorang pria yang berpose sok ganteng.
"Idiiihhh, siapa ini? cowok kok gitu amat," ujar Oti sambil terlihat jijik melihat gaya orang di foto itu.
"Entahlah, dia orang gereja aku. Kemarin minta nomor kontak aku untuk mengabarkan kalau hari ini mereka akan memberikan sumbangan untuk istri pendeta di gerejaku," Soraya menjelaskan.
"Kayaknya naksir kamu?" goda Oti kepada Soraya.
__ADS_1
"Wew...amit-amit, jauh lebih ganteng almarhum suamiku kemana-mana," sahut Soraya sambil mencebikkan bibirnya.
"Hahahaha, siapa tahu lebih kaya dan lebih perkasa," goda Oti lagi.
Soraya menjulurkan lidah kepada Oti, lalu berlalu meninggalkan ruangan administrasi sambil berkata ," No way, amit-amit tujuh turunan".
Oti tertawa geli melihat sahabatnya yang merasa sebal digoda seperti barusan.
Di tempat lain dua orang staf perusahan asuransi jiwa sedang membereskan ruangan kerja Asmila. Mereka memasukan semua barang-barang milik Asmila ke dalam sebuah dus besar.
"Bu Asmila, maaf yah. Kami bereskan barang-barangnya. Nanti malam jangan datang ke mimpi aku yah, ke mimpi dia saja boleh," ujar petugas bernama Noval.
"Enak saja, jangan ke mimpi saya bu. Ke mimpi Noval saja lebih enak," tukas Lili tidak terima.
Tiba-tiba ada sebuah buku di ruangan itu jatuh dengan sendirinya ke lantai.
"ASTAGFIRULLAH!!!"teriak mereka berdua bersamaan.
Jantung keduanya berdebar kencang, nafas mereka terengah-engah karena sangat kaget sekali.
"Elu tuh ngomong sembarangan," ujar Lili menunjuk Noval.
"Orang elu yang terakhir ngomong," Noval tak mau disalahkan.
"Sudah cepat kita bereskan, biar lebih cepat keluar dari ruangan ini," ajak Lili sambil cemberut.
Lalu keduanya segera memasukan semua barang Asmila tanpa banyak bicara lagi.
Setelah selesai, segera membawa dus besar itu keluar ruangan bekas Asmila dulu menempatinya.
"Banyak juga, yah. Tadi apa saja barang-barang Ibu Asmila ini?" tanya Lili sambil memandang Noval.
"Enggak tahu, aku masukan saja semua. Orang aku merinding gara-gara kamu ngomong ngaco," sahut Noval sambil mengangkat bahunya.
"Perasaan elu yang ngomong ngaco, kok jadi gue yang salah," Lili kembali cemberut tak terima.
"Eh, Lili, nanti kan suaminya Ibu Asmila mau kemari mengambil semua barang-barang ini. Nanti kamu saja yang hadapi yah," pinta Noval.
"Kok gue? barengan dong. Kan petugas di kantor ini bukan cuma gue sendiri," Lili menolak permintaan Noval.
"Bukan apa-apa, aku takut kalau suaminya sampai menanyakan soal pak Mario. Ayo, kamu mau jawab apa?" Noval mengingatkan Lili.
Kontan Lili terdiam sambil menatap Noval, lalu menjawab," Paling gue jawab saja kalau Pak Mario itu nasabah kita. Memang benar, kan...".
Noval terdiam, setidaknya kedua petugas itu merasa bingung. Dulu Mario sering ke kantor mereka, dan terlihat selalu berlaku mesra dengan Asmila.
Keduanya tak berani bertanya apapun kepada Asmila, walau mereka tahu kalau Asmila atau Mario masing-masing sudah berumah tangga.
Setelah meletakan sejumlah uang di atas meja di samping tempat tidur hotel, Fuad segera mengenakan pakaiannya dan meninggalkan wanita yang semalam dikencaninya.
Hotel murahan itu sudah dia bayar sejak semalam, jadi walau wanita malam yang masih tertidur itu nanti bangun lalu akan meninggalkan hotel juga tidak akan dikenakan tagihan apapun lagi.
Setibanya di apartemen, Fuad segera masuk ke kamar yang disewanya dan segera membersihkan badannya di kamar mandi.
Aletha sedang turun dari lantai dua puluh dua tempat tinggal adiknya, menuju lantai lima belas tempat Fuad sekarang berada.
Di tangannya terlihat menggenggam sebuah bungkusan plastik berisi makanan sarapan pagi untuk Fuad.
Sekarang Aletha melangkah menuju kamar Fuad setelah keluar dari lift.
Kembali mencoba mengetuk pintu seperti yang dia lakukan tadi malam.
Pintu terbuka, dan terlihat Fuad baru keluar dari kamar mandi dengan dada telanjang dan bagian bawah hanya dililit oleh handuk.
Jantung Aletha sontak berdetak keras melihat penampilan itu, tapi dia berusaha menguasai keadaan.
"Pak Fuad, maaf ini saya hanya sekedar mengirim makanan untuk sarapan," ujar Aletha sambil tersenyum canggung karena merasa gugup.
"Mau masuk dulu?" tanya Fuad santai.
Aletha terdiam sambil menahan nafasnya.
"Tunggu sebentar, saya pakai celana dulu," ujar Fuad lagi sambil menutup pintu tapi tidak di tekan rapat.
Aletha hanya berdiri di depan kamar itu sambil terlihat salah tingkah.
Tak lama pintu terbuka dan Fuad mempersilahkan Aletha masuk ke dalam kamar itu.
Fuad terlihat sudah mengenakan celana panjang jeans biru, dan sekarang sedang mengenakan kaos polo berwarna abu-abu.
Aletha mencuri-curi melirik Fuad, dimatanya Fuad terlihat sangat gagah dan tampan sekali.
"Ini foto siapa?" tanya Aletha ketika ada sebuah foto hasil cetakan dari kertas folio di atas tempat tidur.
"Yang perempuan itu istriku, Asmila. Dan lelaki itu kemungkinan selingkuhannya," jawab Fuad apa adanya.
Aletha mendongak dan terlihat terkejut mendengar jawaban Fuad, sementara Fuad santai saja sambil tengah meneguk air mineral.
"Maaf, aku tak ada maksud....," ujar Aletha tak enak hati.
"Tak apa-apa, eh..ini aku makan yah. Perutku terasa lapar," ujar Fuad sambil membuka bungkusan dari Aletha.
Ternyata isinya nasi uduk telur balado, Fuad tentu saja sangat suka menu seperti itu.
Aletha tersenyum senang melihat Fuad menikmati makanan yang dia bawa dengan sangat lahap.
"Hari ini aku mau ke kantor istriku, mau mengambil barang- barangnya di kantornya," Fuad memberitahu Aletha.
"Dimana kantornya?" tanya Aletha.
"Di sekitar daerah jalan Kuningan," jawab Fuad.
"Tidak terlalu jauh dari sini. Bolehkah aku ikut?" tanya Aletha.
"Boleh saja, tapi aku naik bis," jawab Fuad.
"Hmmm, aku ada mobil. Kan, bawa barang nanti, jadi bisa pakai mobil aku saja," ujar Aletha.
"Aku tak hafal jalan, loh," tukas Fuad.
"Pakai internet pemandu jalan, sekarang sudah modern, pak," sahut Aletha.
Fuad tertawa dan dia setuju dengan saran Aletha. Sekitar setengah kemudian mereka tampak berada di basement parkiran apartemen.
"Sudah hampir seminggu tidak digunakan, mungkin mesinnya harus dipanaskan dulu," ujar Aletha kepada Fuad.
"Mobilnya keren," kata Fuad sambil mengacungkan jempol.
Setelah sekitar lima belas menit dipanaskan, lalu keduanya masuk ke dalam mobil dan Fuad yang mengemudi. Sementara Aletha menyalakan internetnya dan mencari petunjuk jalan menuju ke kantor Asmila dulu bekerja.
Sepanjang jalan mereka berbincang ringan sambil sesekali tertawa riang, karena petunjuk internet kadang suka menyesatkan jalan.
Akhirnya memakai petunjuk bertanya kepada orang sekitar yang akhirnya membuat mereka berhasil menemukan kantor Asmila.
Setelah memarkirkan mobil, lalu Fuad dan Aletha naik ke lobby gedung tersebut, dan bertanya kepada petugas dimana letak lantai kantor Asmila dulu.
Dan sekarang mereka tengah berada di dalam lift menuju lantai delapan di gedung itu.
Pintu lift terbuka, dan terlihat ada petunjuk di dinding yang menunjukkan letak kantor Asmila.
Noval dan Lili saling berpandangan, mereka yakin kalau orang yang datang sekarang pasti Fuad bersama saudaranya.
__ADS_1
Fuad lalu menemui keduanya, memperkenalkan diri dan mengatakan maksudnya untuk mengambil barang-barang milik almarhum istrinya.
Noval menunjukkan dus besar berisi barang-barang milik Asmila, lalu Fuad menyeretnya ke dekat tempat duduknya.
"Mas, mbak, maaf saya mau bertanya. Apakah mas dan mbak kenal dengan orang yang bernama Mario?" tanya Fuad.
Benar saja dugaan kedua petugas itu, pasti Fuad akan bertanya tentang nama tersebut.
"Kami tahu Pak Mario, beliau adalah salah satu nasabah prioritas di kantor kami ini," sahut Lili berusaha professional .
Fuad mengangguk, tapi terlihat belum cukup puas dengan jawaban Lili.
"Apakah Pak Mario itu sering kemari dan pergi bersama almarhum istri saya?" tanya Fuad lagi.
"Pernah beberapa kali kemari, karena mengurus masalah polis asuransi. Pernah juga pergi dengan Ibu Asmila, tapi setahu kami untuk urusan pekerjaan," jawab Noval juga berusaha terlihat tidak mau berurusan dengan hal di luar pekerjaan.
Fuad paham, dia juga tak mungkin memaksakan untuk bertanya lebih jauh lagi. Tak lama Fuad dan Aletha pamit sambil membawa dus besar berisi barang-barang milik Asmila dulunya.
"Besok aku mau bertemu dengan istri almarhum Mario. Apakah mbak Aletha mau ikut juga?" tanya Fuad yang sekarang mengganti panggilannya kepada Aletha.
"Kalau boleh, dengan senang hati. Apa yang akan dibahas nanti dengan istrinya Mario itu?" tanya Aletha.
"Kami mau memeriksa dan mengambil barang-barang dari tempat kost Asmila. Dan Ibu Soraya itu juga ingin memastikan apakah benar suaminya pernah menginap dan tidur bersama dengan istriku," kata Fuad sambil menatap Aletha.
Aletha membantu Fuad memasukan dus yang berisi barang-barang milik Asmila ke dalam bagasi mobilnya.
"Sambil menunggu besok, sekarang ada rencana kemana?" tanya Aletha.
Fuad terdiam sebentar, lalu dia teringat kepada pantai dan laut.
"Mbak Aletha mau tidak kalau kita ke pantai?" tanya Fuad.
"Ayo," sahut Aletha dengan penuh semangat.
Sama seperti tadi menuju kantor Asmila, sekarang mereka juga menggunakan petunjuk jalan internet untuk menuju pantai.
Untung tidak terlalu sulit menemukan jalan menuju pantai, keduanya segera bisa menemukan pantai yang dimaksud.
Menikmati es kelapa langsung dari buahnya, lalu menikmati gado-gado yang penjualnya tak jauh dari warung es kelapa.
Serasa orang sedang pacaran saja mereka berdua berbincang ceria sambil menikmati kuliner di tepi pantai.
"Aku tak menyangka, berarti di dalam mobil kemarin. Selain suamiku yang selingkuh, tenyata penumpang lain juga sama selingkuh. Lucu sekali kehidupan ini," ujar Aletha yang menjadi tertawa kalau ingat kejadian kecelakaan kemarin.
"Iya, benar juga. Kita tak akan pernah tahu kalau pasangan kita telah mengkhianati kita selama ini. Malah bisa ketahuan gara-gara adanya kecelakaan itu," Fuad mengomentari pendapat Aletha.
"Lucu atau tidak menurut Mas Fuad?" tanya Aletha yang akhirnya sama mengubah panggilannya kepada Fuad.
"Menurutku lucu tapi miris, menyedihkan, mengesalkan, memilukan yang akhirnya malah menjadi menggelikan," ujar Fuad sambil menatap langit.
Aletha juga ikut menatap langit biru yang mulai kemerahan karena menjelang sore hari.
"Asrul!!!, sedang apa kamu di sana? pasti kamu sedang berbahagia bersama istri dan anakmu!!!"seru Aletha sambil menatap langit.
Fuad melihatnya, lalu dia juga ikut berteriak sambil menatap birunya langit.
"Asmila!!! kenapa kamu meninggalkan aku?!! kenapa harus membohongi aku?!!!" pekik Fuad sambil berdiri.
Aletha tak kuasa menahan tangisnya, dia langsung meneteskan air mata sambil menangis tersedu-sedu.
"Aku sakit hati, kecewa dan marah. Tapi tak bisa aku melampiaskannya, karena Asrul sudah tiada," ujar Aletha dengan berurai air mata.
"Andai dia ada, mungkin aku bisa menjerit, menjambak, atau bahkan memukuli sambil menendang Asrul. Tapi tak bisa lagi, dia pergi selamanya dan aku harus bisa memaafkan perbuatannya. Ya Tuhan, apa ini adil buat aku....huhuhuhu," Aletha menangis lagi di tepi pantai itu.
Fuad mendekati Aletha, lalu merangkul bahunya sambil berkata," Mbak Aletha, sama aku juga merasakan hal yang sama. Tapi kita tak bisa berkata Tuhan tidak adil kepada kita. Justru sebaliknya keadilan dibukakan di hadapan kita. Karena Tuhan tahu kalau kita ini jauh lebih kuat daripada mereka".
"Besok kita akan bertemu satu lagi teman yang juga merasakan kepedihan yang sama. Mungkin kita juga akan saling memberi semangat dan kekuatan lagi seperti ini," ujar Aletha yang jadi tertawa di tengah tangisannya.
"Hehehe, iya benar juga. Besok kita bertemu dengan Ibu Soraya. Semoga saja beliau jauh lebih kuat daripada kita," ujar Fuad sambil tertawa dalam kesedihannya.
Sekarang keduanya tengah menikmati sang surya yang memasuki peraduannya. Warna langit biru menjadi merah jingga, dan sedikit demi sedikit menjadi kelabu.
Hanya doa untuk orang yang pernah mengisi hati dan hari-hari yang lalu, teruntai kata maaf yang tak terucap tapi di lubuk hati terdalam mencoba mengusir dendam menjadi untaian doa.
Sore itu para mahasiswa yang tadi siang mengatakan Risa adalah anak emasnya Soraya, sedang merasakan debaran jantungnya masing-masing.
Dosen pandai ini matanya tengah menyorot satu per satu, siap untuk menunjuk siapa yang akan menjadi team adu debat dan siapa yang akan menjadi team penengah.
Jelas mahasiwa yang iri hati langsung ditunjuk menjadi dua kelompok team debat, dan mahasiswa yang lurus hati menjadi kelompok team penengah.
Sebenarnya yang menjadi ketakutan bukan pembagian kelompoknya, tetapi materi debatnya yang sampai detik terakhir belum mereka ketahui.
"Debat dilakukan dalam bahasa Inggris, kalau ada yang tidak menyampaikan pendapat dalam bahasa Indonesia, maka nilai berkurang. Begitu juga team penengah harus bisa menyampaikan argumen dan penilaian kedua team dalam bahasa Inggris," ujar Soraya memberikan petunjuk.
"Ada tiga materi, semuanya pengetahuan umum. Nanti selesai satu materi, berputar bergiliran sehingga semua akan merasakan menjadi team debat dan team penengah. Siap, paham?!" ujar Soraya.
"Siaaaappppp!!!" seru mahasiswanya bersamaan.
"Baiklah, materi pertama. Silahkan sampaikan pendapat dari masing- masing regu debat, tentang bahayanya penggunaan narkoba di kalangan generasi muda saat ini. Silahkan!!!," Soraya membuka materi perdebatan tersebut.
Ada saja mahasiswanya yang lupa istilah bahasa Inggris, jadi memakai bahasa Indonesia.
Bahkan ada yang kalimatnya bercampur aduk Inggris dan Indonesia.
Contohnya seperti ini," If you drink alkohol terlalu banyak, you will koit".
Tentu saja ruangan jadi penuh gelak tawa mendengar kalimat itu, apalagi kata koit yang tersebut. Memang artinya koit adalah meninggal, tapi merupakan bahasa gaul dalam percakapan sehari-hari.
Ada lagi yang berucap," The generasi muda penerus bangsa
should stay away from drugs".
"Sorry bu, aku tak tahu generasi muda penerus bangsa itu bahasa Inggrisnya apa?" lanjut mahasiswa tadi yang tentu mengundang tawa teman-temannya lagi.
Soraya juga tak henti-hentinya ikut tertawa, bahkan dua materi lainnya yang disampaikan yaitu soal politik dan perekonomian negara saat ini dan juga yang terakhir masalah mahalnya biaya pengobatan dan kesehatan.
Semuanya disampaikan para mahasiswa tingkat akhir itu dengan penuh canda tawa sampai tak terasa empat jam lagi bersama Ibu Soraya di malam itu.
Jam tujuh malam perkuliahan bersama Soraya berakhir, terasa lelah tapi setiap pelajaran Ibu Soraya pasti penuh dengan makna.
Sementara Jimmy dan seluruh stafnya masih berada di kantor, kecuali Marsela sudah pulang sejak tadi sore.
Mereka masih mempersiapkan bahan untuk presentasi besok dihadapan orang yang ingin membangun sebuah perguruan tinggi.
Baik Jimmy maupun Aliong beserta stafnya belum tahu kalau pemilik tanah itu adalah dari komisaris utama Margo Jaya grup yang bernama Sumargo Handoyo.
Nama itu merupakan nama salah satu konglomerat ternama di negeri ini, yang banyak bergerak di bidang properti.
Akhirnya jam sebelas malam baru ada kesepakatan rancangan bangunan yang besok pagi akan disampaikan dengan cara presentasi dihadapan pemilik tanah tersebut.
Semua personil CV. Maju Mandiri termasuk Jimmy dan Aliong juga baru bisa meninggalkan kantor pada jam tersebut.
Setengah jam kemudian Aliong baru sampai di rumahnya, dan Ahan jadi terbangun karena mendengar suara pintu pagar besi dibuka orang di tengah malam.
Melihat ayahnya yang pulang, lalu diam-diam dia berlari ke kamar ibunya yang baru saja bangun dan sedang membuatkan teh hangat untuk ayahnya.
Ahan mengirim pesan kepada kakaknya," Papah baru pulang kerja jam segini, tapi tidak mabuk".
Aming yang tengah berbaring di kamar mess karyawan membaca pesan dari adiknya yang menggunakan ponsel ibunya.
"Hmmm, benarkan dugaan gue. Pasti bokap bakal kasus lagi".
__ADS_1