
"Mila...!!!!...Dimana kamu !!!!" teriak Ibunya membawa sapu lidi dan mengacungkannya.
Asmila berlari sekencang mungkin, dan sudah pasti dia akan berlari dan bersembunyi di tembok rumah tetangganya.
Mila jongkok dan bersembunyi di balik kandang ayam milik pak Kusnadi, saat itu Fuad anak pak Kusnadi sedang membersihkan kandang ayam sambil memberi makan ayam
peliharaan ayahnya.
"Nak Fuad, barusan ada Mila tidak ke situ?"tanya Ibu Jaka Ibu kandungnya Asmila.
"Tidak ada Bu, mungkin dia lari ke lapangan," sahut Fuad dengan meyakinkan.
"Ya sudah terima kasih, saya susul ke lapangan saja," ujar Ibunya Mila dengan langkah tergesa-gesa.
"Kamu berbuat apa sih? sampai dikejar pakai sapu lidi?" tanya Fuad sambil tetap memberi makan ayam.
"Kak Mida dibelikan kacamata baru oleh ayahku, aku tadi cuma pegang saja kok," kata Asmila menjawab Fuad.
"Masa pegang doang lalu dimarahi?"tanya Fuad lagi merasa aneh.
"Iya, cuma pegang lalu terlepas dan kacamatanya jatuh ke lantai lalu pecah kacanya. Kak Mida nya nangis".
"Hmmm...kalau begitu sih ya pasti dikejar sapu lidi".
"Tapi aku benar kok tak sengaja menjatuhkan kacamata Kak Mida".
Fuad hanya menghela nafas melihat kelakuan tetangga kecilnya itu.
Kejadian itu saat Fuad kelas enam SD dan harus membela anak kecil kelas 1 SD anak tetangga seberang rumah mereka.
Waktu berlalu, saat itu Fuad sudah kuliah dan sedang mengendarai sepeda motornya habis pulang kuliah.
Dari kejauhan dia melihat ada seorang perempuan memakai seragam SMA sedang dikejar oleh beberapa lelaki berseragam sama.
Setelah dekat baru jelas itu adalah Asmila sedang dikejar oleh lima lelaki berseragam SMA juga.
Melihat ada Fuad melintas, segera Asmila menariknya dan bersembunyi di balik tubuhnya.
Untung saja Fuad saat itu segera menghentikan laju sepeda motornya, kalau tidak pasti sudah jatuh terguling.
"Woi!!!...ada apa ???!!!kalian lelaki kok mengejar perempuan???!!!".
"Ooh...Bang Fuad, maaf Bang kami ada urusan sama dia. Cewek kok lancang, ayo sini kamu turun hadapi kami," kata seorang lelaki SMA yang mengejarnya.
"Sorry, ini saudara gue, ada masalah apa sama dia. Kita bereskan di sini, jangan mengeroyok perempuan. Hadapi aku dulu".
Lelaki tadi langsung terdiam, dia paham siapa Fuad, selain pandai mengaji juga pelatih pencak silat di kampung situ.
"Oke Bang, kami memandang Abang jadi kami hentikan dan masalah ini selesai. Tapi mohon maaf Bang, tolong saudara abang di tata ulang lagi kelakuannya jangan sampai jadi rusuh nantinya".
Lalu kelimanya pamit pulang kepada Fuad lantas berlalu meninggalkan Fuad dan Asmila.
"Ada apa lagi sih kamu?"tanya Fuad kepada Asmila.
"Hehehe, tadi aku pulang sekolah lewat rumah Haji Bana, di halaman rumahnya pohon mangganya sedang berbuah lebat. Jadi aku minta tolong cowok tadi untuk memetik beberapa mangga untuk aku".
"Lantas mengapa mereka marah kepadamu?"tanya Fuad lagi merasa aneh kepada gadis itu.
"Iya mereka naik ke pohon dan memetik mangga untuk aku. Nih mangganya," kata Asmila sambil memperlihatkan beberapa buah mangga matang di dalam tasnya.
"Ya paham, lalu mengapa mereka jadi marah?"desak Fuad sambil setengah melotot.
"Hehehe...saat buah mangga sudah aku terima, mereka masih di atas pohon kan. Lalu aku teriak...Maling....Maling... ada yang maling mangga...!!!".
"Astagfirullah, ya jelas mereka marah dong".
"Ah, mereka saja yang aneh cepat emosi, aku kan cuma iseng".
Fuad hanya bisa menepuk dahinya karena dia merasa tak paham dengan prilaku aneh gadis tetangganya itu.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun.
Fuad sudah lulus menjadi insinyur pertambangan, dan sudah diterima bekerja di perusahaan minyak dan gas negara.
Dia mendapat bagian menjadi petugas pemboran minyak lepas pantai, sehingga bekerja di rig pemboran minyak di tengah lautan.
Sehingga dia jarang pulang, sekitar sebulan sekali dia pulang ke rumah orang tuanya.
Kedua orang tuanya mulai gelisah, karena usia Fuad juga mulai beranjak naik tak terasa sudah dua puluh sembilan tahun tapi belum pernah membawa seorang gadis pun untuk diperkenalkan kepada orang tuanya.
Suatu hari Fuad kembali ke rumah orang tuanya dan kebetulan dia mendapat cuti selama satu minggu.
Senang sekali Ibu Kusnadi ketika tahu anak lelaki semata wayangnya itu akhirnya bisa cuti dan menghabiskan waktu bersama mereka.
"Ibu itu sudah kepingin kamu cepat menikah Fuad. Pingin sekali menimang cucu seperti orang lain," kata Ibunya di suatu sore.
"Sabar bu, belum bertemu saja dengan jodoh yang tepat".
Suatu pagi Fuad bertemu Asmila yang rupanya akan pergi bekerja.
"Kamu kok cantik sih?"tanya Fuad sambil heran.
"Cantik dong, aku kan bekerja menjadi konsultan kecantikan," sahut Asmila dengan mantap.
"Oh...ya...hmmm...baguslah, semoga saja kalau sudah kerja tak ada aneh-aneh lagi denganmu".
"Tidaklah, sekarang sih beda dong. Ayo aku berangkat dulu yah," ujar Asmila sambil melajukan sepeda motornya.
"Hmmm...sudah dewasa yah dia, cantik juga, semoga saja dia baik-baik saja," ujar Fuad dalam hatinya.
Selama cuti Fuad kembali mengajarkan anak-anak Pencak Silat di lapangan depan Masjid.
Memang ketika sekolah dan kuliah dulu dia aktif di salah satu perguruan Pencak Silat dan dia juga meneruskan ilmu yang di dapat kepada anak- anak dan remaja Masjid.
Sore itu dia melihat Asmila sedang mengendarai sepeda motornya, dan di bangku belakang terlihat membonceng seorang wanita yang sedang hamil dan di bagian depan ada anak kecil berdiri sambil memegang bagian tengah setang motor.
__ADS_1
Rupanya Asmila baru menjemput kakaknya Asmida, dan kelihatannya sedang hamil anak keduanya.
"Aku bahkan tak tahu Kak Mida sudah menikah, dasar aku kebanyakan di tengah laut ," bisik hati Fuad sambil tersenyum sendiri melihat kedua kakak beradik itu.
Dia ingat sewaktu kecil kalau Asmila ribut dengan kakaknya pasti akan lari ke rumahnya, dan selalu bersembunyi di rumahnya.
Fuad selalu saja membelanya dengan menutupi keberadaan Asmila, selalu mengatakan tak tahu atau tak melihat, padahal gadis kecil itu tengah bersembunyi di balik kandang ayam atau apapun yang ada di halaman rumahnya.
"Mila, kapan kamu menikah? Lihat kakakmu sekarang sudah mau punya anak kedua, tapi kamu tak pernah sekalipun ada pria yang datang menyambangi," ujar Ibu Jaka tampak pusing melihat anak bungsunya.
"Tenang saja sih Bu, kayak besok mau perang saja. Memangnya ada hukumnya kalau perempuan umur dua puluh empat tahun belum menikah akan dipenjara," sahut Asmila dengan santai.
"Kamu tuh kalau dibilangin orang tua selalu saja menjawab sembarangan," kata Asmida kakaknya ikut kesal melihat adiknya.
Asmila tak menjawab, dia berjalan ke lemari es lalu mengambil botol berisi air dingin dan ditenggak langsung dari botol tersebut.
"Tuh lihat Mida, adikmu dari dulu kelakuannya begitu, tak pernah berubah seenaknya saja," Ibu Jaka geleng-geleng kepala melihat anak gadisnya yang terlalu santai hidupnya.
"Ya itu, mau bagaimana lagi. Ibu sabar saja tak usah memikirkan dia, biar saja dia punya kehidupan sendiri," ujar Asmida sambil mengelus punggung ibunya.
Malam itu sehabis Sholat Isya dari Masjid, Fuad duduk di teras di halaman depan rumahnya sambil menelepon kawannya.
Sebab kawannya meminta tolong ada kabel lepas padahal itu kabel penghubung ke alat bor di dalam laut.
Fuad menjelaskan cara mengaitkannya dan juga cara melakukan test kembali agar alat bor bisa berfungsi kembali.
Terlihat Fuad begitu serius menjelaskan sampai tak sadar kalau di teras itu sudah duduk Asmila dengan wajah cemberut. Dia selonjoran di samping pot bunga besar milik Ibunya Fuad.
Sekitar setengah jam Fuad melakukan pembicaraan di telepon dengan serius, lalu ketika temannya mengatakan semua sudah bisa beroperasi lagi lalu Fuad tampak lega dan mengakhiri pembicaraan.
"Serius amat teleponnya?" tiba- tiba terdengar suara dari belakang tempat duduknya Fuad.
"Astagfirullah...!!!!" Fuad terkejut sampai hampir lompat.
Lalu dia menoleh ke asal suara, dan terlihat Asmila sedang duduk di lantai dekat pot besar sambil menekuk kedua kakinya.
"Kamu lagi ngapain di situ? kapan kamu datangnya sih, bikin kaget saja".
"Ya kali aku ini setan...sampai kaget kayak gitu".
"Bukan begitu, dari tadi aku menelepon sendirian lalu setelah selesai ada suara rombeng dari belakangku, siapa yang tak akan kaget mendengar suara rombeng dan cempreng kayak gitu".
"Ngejek saja mas Fuad ini, aku tuh juara nyanyi se kamar mandi tahu".
"Iya yang dengar cicak dan kecoak, ya mereka tak akan protes mendengar suara kamu...hahahahah," Fuad tertawa geli melihat mimik wajah Asmila yang semakin cemberut.
"Kenapa sih, manyun saja. Masih saja kamu kayak jaman dulu kalau sembunyi pasti di rumah sini".
"Sudah lama tidak kali, orang mas Fuad di laut terus, aku sudah lama tidak sembunyi. Baru sekarang aku sembunyi lagi".
"Nah sekarang ada apa kamu sembunyi lagi kemari?"tanya Fuad sambil menatap wajah Asmila.
"Aku lagi malas sama Ibu dan Kak Mida, mereka ribut terus mempermasalahkan aku".
Asmila menatap Fuad, lalu berkata," Meributkan kalau aku masih jomblo sampai saja sampai sekarang".
"Hahahaha....jadi itu yang bikin kamu sembunyi. Kalau tak mau disebut jomblo mengapa tak cari pacar dong".
"Sudah, aku pernah punya pacar, bahkan sudah pernah ada yang mau mengajak menikah. Tapi semua putus begitu saja, aku sendiri tak paham apa sebabnya".
"Mungkin kamu terlalu banyak menuntut".
"Ah tidak juga, justru mereka kebanyakan berkata kalau aku tak peduli dengan mereka. Putus karena aku terlalu cuek".
"Haaahhhh...seperti apa contohnya?".
"Begini...dulu cowok aku sakit, lalu dia telepon bilang kalau dia sakit. Aku bilang saja suruh dia ke dokter, untuk apa dia telepon aku. Mana bisa aku mengobati penyakit, kecuali aku dokter," sahut Asmila menjelaskan kepada Fuad.
Mendengar itu Fuad sontak tertawa mengakak, tentu saja lelaki yang sakit akan kecewa karena maksudnya ingin ditengok oleh Asmila, eh..., malah dikatakan seperti begitu.
"Dasar kamu itu, lelaki tadi itu ingin kamu menengok dirinya atau ingin di beri semangat agar cepat sembuh," kata Fuad mengomentari ceritanya Asmila.
"Nah itu dia, aku malas mas. Harus banyak bicara rayu- rayu atau gimana gitu. Aku lelah kalau harus begitu, menurutku wajar sajalah kalau orang pacaran tak usah banyak tingkah," Asmila mengungkapkan keinginannya.
"Hmmm...lalu sekarang kamu tak ingin mencoba mencari pacar lagikah?" tanya Fuad mencoba memancing.
"Entahlah, kalau pacaran aku malas. Kecuali ada lelaki yang mau menikahi aku dan menerima aku apa adanya. Aku tak pandai memasak, tak pandai berbenah dan tak pandai merayu. Kalau ada lelaki yang tertarik dan mau sama keadaanku yah boleh saja," jawab Asmila dengan anda seakan putus asa.
"Kamu kok putus asa sih?".
"Tidak putus asa kok, cuma aku tak mau menghabiskan waktu dengan pacaran tak jelas. Itu sajalah tak ada lainnya," Asmila menjawab sambil mengangkat bahunya.
Fuad berdiri dan mendekati Asmila yang sekarang sedang duduk sambil bersila di dekat pot bunga besar.
Lantas Fuad duduk di lantai berhadapan dengan Asmila, wajahnya didekatkan ke depan wajah Asmila dan berkata, " Kalau nikah sama aku mau tidak?".
Asmila membulatkan matanya merasa terkejut dengan kalimat yang disampaikan oleh Fuad.
"Mas Fuad sih kebiasaan deh, sejak dulu kalau aku curhat pasti buntutnya mengejek aku".
Fuad tersenyum dan berkata lagi, " Kalau aku serius gimana?".
Asmila memandang wajah Fuad dan mulutnya ternganga, tapi tak ada suara keluar dari sana. Tenggorokannya tercekat, dia bingung tak tahu harus menjawab apa atas pertanyaan yang diajukan kepadanya.
"Aku...aku...tak tahu harus bilang apa...Mas Fuad jangan mempermainkan diriku".
"Aku serius...aku ingin segera menikah dengan kamu".
Asmila bengong menatap Fuad, seperti orang bodoh yang kebingungan.
"Mas berani bicara dengan orang tuaku?".
"Berani dong, aku kan punya niat baik. Mengapa harus takut untuk menyampaikan kebaikan".
Asmila malah menunduk dan menangis.
__ADS_1
"Kok nangis?".
"Aku tak mengerti apakah ini mimpi atau bukan?" ujar Asmila sambil beruraian air matanya.
"Mila, ini serius, aku serius akan menikah denganmu. Aku sudah mengenal sejak dulu anak gadis bodoh yang suka sembunyi di belakang kandang ayam karena takut dipukul sapu lidi oleh Ibu Jaka".
"Aku juga tahu gadis bodoh itu pernah membuatkan aku nasi goreng yang rasanya sangat tidak enak sekali, dan aku juga paham bagaimana gadis itu selalu minta tolong aku membuatkan tugas prakarya sekolahnya".
Asmila tambah berurai air mata saat Fuad mengatakan hal itu.
"Mas Fuad, kalau memang serius kapan akan bicara sama orang tuaku?".
"Besok..besok sore aku akan ke rumahmu untuk bicara dengan keluargamu".
Asmila mengangguk sambil tetap berurai air mata, dan Fuad menjadi lucu melihatnya lalu mencium kening gadis itu.
"APA???!!!"
"Maksudmu Asmila tetangga seberang rumah kita? anak pak Jaka ? kamu serius Fuad?" tanya Ibu Kusnadi sangat terkejut.
"Iya Bu, benar Asmila, anak bungsu pak Jaka," sahut Fuad kepada ibunya.
Ibu Kusnadi menghempaskan tubuhnya ke sofa merasa lemas seluruh tubuhnya.
"Fuad, kamu itu sarjana pertambangan dan bekerja di perusahaan negara. Masa iya harus menikah dengan anak pak Jaka yang seperti itu," Ibu Kusnadi tak terima ketika anaknya mengatakan akan menikahi Asmila.
"Benar Bu, Fuad akan menikah dengan Asmila dan Fuad akan menerima segala konsekuensi yang mungkin akan terjadi antara Fuad dan Asmila," sahut Fuad sambil memegang tangan ibunya.
"Ayahmu sudah meninggal, tinggal ibu sendiri bersamamu. Ingin rasanya memiliki menantu yang pandai memasak, pandai mengatur rumah tangga, bukannya dengan perempuan yang sejak kecil selalu saja membuat rusuh".
"Ibu ingin kamu bisa bahagia berumah tangga dengan perempuan yang bisa membahagiakan kamu. Sungguh ibu khawatir sekali kalau kamu tidak bisa bahagia," kata Ibu Kusnadi sambil memeluk anaknya.
"Bu, percaya kepada Fuad yah. Fuad yakin akan bahagia bersama Asmila, percaya kepada Fuad yah bu".
Akhirnya Ibu Kusnadi tak bisa berkata apa-apa lagi selain menyerahkan kepada keputusan anaknya.
Keluarga pak Jaka sangat senang sekali ketika menerima kedatangan Fuad yang menyampaikan niat baiknya untuk menikah dengan Asmila.
"Fuad, lihat Kak Mida. Kamu yakin akan menikah dengan Mila?"tanya Asmida kakak kandung Asmila.
"Iya Kak, benar saya akan menikah dengan Mila".
"Begini Fuad, kita bertetangga sejak lama sekali, dan kamu juga sudah pasti paham bagaimana adikku. Bodoh, jorok, tak bisa masak, urakan dan lain-lain yang bikin naik darah orang serumah".
"Keluarga kami jelas bahagia akan mendapat menantu pandai seperti kamu, tapi bagaimana dengan keluargamu? apakah rela menerima adikku yang seperti ini?" pedas sekali kalimat Asmida kepada adiknya.
Fuad tersadar kalau selama ini Asmila selalu tak bahagia karena tenyata dia selalu menerima kalimat pedas dari keluarganya.
"Saya yakin seratus persen, saya akan menikah dengan Asmila".
Asmida angkat tangan, lalu berkata ," Ingat Fuad, kami sudah menjelaskan yah. Sekarang terserahmu, kami jelas senang dan bahagia menerimamu menjadi bagian keluarga kami. Tapi soal Mila masuk ke keluargamu, kami serahkan padamu yah".
Fuad memahami akan itu, lalu tak lama dari pembicaraan itu, keluarga Fuad datang dengan membawa lamaran resmi kepada keluarga Asmila.
Dan memang luar biasa, sejak diajak menikah oleh Fuad, Asmila sekarang mulai berusaha berubah. Dia belajar masak, berbenah rumah dan sebagainya yang biasanya paling anti untuk dia kerjakan.
Sekitar sebulan kemudian mereka menikah, acaranya sederhana dan diadakan di rumah orang tua Asmila.
"Pengantin enak banget yah tinggal menyeberang rumah," kata orang-orang yang hadir.
Setelah selesai resepsi, Fuad dan Asmila tinggal di kediaman orang tua Fuad.
Pertimbangannya karena Ibu Kusnadi sekarang hanya tinggal sendirian saja.
Ternyata selama tahun pertama menikah, banyak perubahan yang terjadi.
Asmila banyak belajar dari Ibu Kusnadi bagaimana memasak enak dan berbenah rumah, juga bagaimana membahagiakan suaminya.
Tapi tak berlangsung lama, Ibu Kusnadi suatu hari terjatuh di kamar mandi karena penyakit tekanan darah tinggi dan meninggal dunia.
Setelah itu Fuad menjual rumah ibunya dan pindah ke daerah yang letaknya tidak terlalu jauh dari Indramayu.
Mereka tinggal di rumah yang tidak terlalu besar, dan di sana Asmila yang sering kesepian karena ditinggal suaminya mendapat tawaran menjadi agen asuransi jiwa.
Dari situ dia terus berkembang maju dan bisa mendapatkan banyak nasabah karena dia rajin menawarkan asuransi kepada siapapun.
Yang awalnya hanya untuk mengusir rasa suntuk karena suaminya pulang seminggu sekali, akhirnya malah menjadi sukses dalam pekerjaan itu.
Sampai mereka lupa untuk berobat ke dokter karena sulit mendapat keturunan.
Sampai pernikahan menginjak empat tahun, dan belum ada tanda hamil dari Asmila.
Seiring waktu juga Asmila semakin sukses dalam karier di bidang Asuransi Jiwa.
Dia sering ikut seminar dan bahkan sekarang sudah bisa menjadi pembicara.
Dalam rumah tangganya keduanya saling mendukung, Asmila tidak pernah menuntut Fuad apapun masalah pekerjaan.
Begitu pula Fuad malah mendukung karier Asmila.
Ketika pernikahan menginjak tahun kelima, pembicaraan serius tentang anak akhirnya dibahas.
Awalnya Asmila yang meminta Fuad untuk bersama memeriksa kondisi kesehatan masing-masing.
Bulan Februari adalah bulan cinta dimana lima tahun lalu mereka berdua saling mengikat janji pernikahan.
"Kita tak mungkin cuma menunggu keajaiban dari Allah, ada saatnya juga kita harus berusaha. Sudah lima tahun mas, aku juga ingin seperti orang lain bisa hamil dan punya anak".
"Baik sayang, aku paham dan aku akan mengambil cuti di awal tahun depan. Kita ke dokter dan memeriksakan diri baik kamu dan juga aku".
Asmila bahagia mendengar kalimat itu, dia juga punya keinginan untuk bisa menjadi wanita sempurna bagi suaminya.
Dan beberapa bulan setelah ulang tahun pernikahan mereka, ada godaan datang menghampiri Asmila ketika harus bertugas ke Jakarta.
Godaan yang dia genggam dan nikmati, tapi tanpa dia ketahui semuanya berujung kepada maut.
__ADS_1