
Komandan Polisi Kota Palembang bersama anggota Kepolisian sedang mendengarkan penjelasan penyidik atas kejadian tenggelamnya sebuah mobil yang sampai menewaskan seluruh penumpang di dalamnya.
"Komandan, tampaknya kasus ini ada ketertarikan dengan kasus pembunuhan atas korban penusukan di leher yang ditemukan beberapa hari yang lalu di sungai di pinggiran kota".
"Korban penusukan bernama Rudi Sihombing alias Ucok, menurut keterangan beberapa saksi. Ucok memiliki hutang judi kepada Darman dan Sansan alias Codot. Jadi kemungkinan besar, Ucok telah dibunuh oleh Darman dan Codot lalu kendaraan milik Ucok dibawa kabur oleh mereka," penyidik mulai mengungkap lagi kasus lain yang ternyata ada kaitannya dengan mobil yang tenggelam tersebut.
"Pembuktiannya dari mana?" tanya Komandan Polisi.
"Dari plat nomor mobil yang dicopot oleh salah satu anggota Polisi kemarin. Setelah diperiksa dan dicocokkan data Kepolisian, benar mobil buatan Jepang merek Dai type Remex, dengan plat BG 678X XY terdaftar atas nama Rudi Sihombing".
"Kasusnya berbelit juga ternyata, berarti ada kemungkinan pengemudi yang bernama Sansan alias Codot, memilih jalan ke kaki gunung untuk menghindari pemeriksaaan Polisi di perbatasan Lahat kemarin malam," Komandan Polisi menyampaikan analisanya.
"Tepat sekali, komandan," sahut penyidik tadi.
"Kalau begitu kedua jenazah beserta kasusnya kita serahkan ke Badan Reserse dan Kriminal. Sementara jenazah lainnya kita tangani dengan keberadaan keluarganya," ujar Komandan Polisi tadi.
"Untuk jenazah bernama Jena Anindia memiliki alamat di Desa Besemah di pinggiran Kota Pagar Alam, Kabupaten Palembang. Dan rupanya sebelum meninggal, sudah melakukan pernikahan secara siri dengan jenazah yang bernama Asrul Mubarok yang berasal dari Kota Semarang".
"Baiklah, jadi kita cari keluarga jenazah Jena Anindia, sambil data Asrul Mubarok juga dikirimkan melalui email ke Kepolisian Kota Semarang," Komandan Polisi memberi perintah demikian.
"Satu lagi, awak media jangan dulu diberitahu masalah ini. Biar nanti setelah ada persetujuan dari masing-masing keluarga korban, baru kita sampaikan kepada mereka," lanjut Komandan Polisi mengakhiri pertemuan tersebut.
Ratna terlihat begitu kecewa karena sahabatnya tak juga datang, bahkan tidak memberi kabar sedikitpun kepadanya.
"Sudah masak banyak begini, ternyata harus dibuang semua karena basi," keluh Ratna sambil memasukan satu persatu masakannya ke dalam kantung plastik untuk dibuang ke tempat sampah.
"Ini ada berita di televisi kalau ada mobil tenggelam ke sungai di dekat kaki gunung. Aku curiga temanmu, Mbak Asmila itu salah satu korbannya," ujar Ali sambil yang saat itu tengah menonton berita di televisi.
"Bang, sumpah aku kesal mendengarmu sejak kemarin malam berkata seperti itu. Kesannya mendoakan temanku meninggal dunia. Tega sekali abang sama temanku," Ratna meradang mendengar suaminya selalu mengatakan itu.
"Ini baru dugaanku saja, berita sebenarnya bagaimana juga kita belum paham. Karena kepolisian belum memberikan pernyataan resmi terkait siapa saja yang menjadi korban di dalam mobil itu," sahut Ali menyampaikan adanya kemungkinan seperti itu.
"Entah bang, terserah abang saja. Tapi aku yakin Mbak Asmila masih hidup, mungkin saja sekarang sedang jalan-jalan di Kota Palembang," Ratna mendengus lalu berlalu meninggalkan suaminya yang tengah menatapnya.
Senin siang Ibu Jamal tengah duduk di depan pintu rumahnya. Sejak kemarin beliau menanti kedatangan anaknya bersama cucunya.
Beliau duduk ditemani adiknya Yu Zah, keduanya sedang berangan-angan bagaimana rupa cucu perempuannya.
"Pasti bayi itu cantik dan bulat pipinya, macam Jena waktu bayi dulu," ujar Ibu Jamal membayangkan wajah cucunya.
"Semoga saja kulitnya putih, aku takut kalau bayi itu kulitnya ikut suami kakak hitam legam," sahut Yu Zah sambil cekikikan.
"Janganlah, kasihan sekali masa bayi perempuan kulitnya macam kakeknya. Bang Jamal itu hitam legam seakan tak nampak kalau malam hari, hahahahah," Ibu Jamal tertawa geli membayangkan suaminya yang berkulit hitam.
Kedua kakak beradik itu tertawa geli, sambil berbincang lagi soal bayinya Jena.
Mereka tidak sadar kalau ada mobil Polisi tengah mencari alamat tempat tinggalnya.
Ketika keduanya masih tertawa-tawa, ada seorang anak lelaki berlari menuju arah mereka.
"Bu Jamal!!!ada Polisi mencari rumah ibu!!!" teriak anak lelaki itu sambil terengah-engah.
"Polisi? ada apa lagi? apa Bang Jamal berbuat jahat?" Ibu Jamal bertanya- tanya penuh kecemasan.
"Iya, benar Kak, itu ada mobil Polisi sedang menuju kemari," ujar Yu Zah membenarkan apa kata anak lelaki tadi.
Tak lama ada sebuah mobil Polisi berhenti tepat di halaman rumah Ibu Jamal, lalu turun dua orang Polisi dari dalam mobil tersebut.
"Selamat siang, permisi apakah benar ini rumah Jena Anindia?" tanya salah seorang Polisi kepada Ibu Jamal dengan ramah.
"Benar, saya ibunya Jena. Maaf, ada apakah gerangan dengan anak saya?" tanya Ibu Jamal sambil jantungnya berdebar-debar.
"Maaf, apakah kami bisa masuk ke dalam?" tanya Polisi satunya lagi.
"Baik, silahkan pak. Ayo, silahkan masuk," Yu Zah mempersilahkan kedua Polisi itu masuk ke dalam rumah kakaknya.
"Silahkan duduk, saya panggil dulu suami saya," ujar Ibu Jamal yang lantas ke belakang rumah memanggil suaminya yang tengah memotong kayu.
"Polisi? ada apa lagi dengan Jena?" Pak Jamal terkejut saat istrinya memberitahu ada Polisi mencari Jena.
"Maaf, Bapak dan Ibu, sebelumnya saya boleh tahu nama Bapak?" tanya salah satu Polisi ketika Jamal datang menghadapinya.
"Saya Jamal, ini istri saya dan yang ini adik ipar saya," sahut Pak Jamal sambil memperkenalkan istri dan adik iparnya.
"Baik, mohon maaf Pak Jamal dan Ibu, kami dari Kepolisian hendak memberi kabar buruk. Putri Bapak dan Ibu yang bernama Jena Anindia, kemarin malam ditemukan meninggal dunia karena mobil yang ditumpanginya tenggelam ke sungai di kaki gunung".
"APA!!!!"teriak Ibu Jamal.
"JENAAAAA!!!!
Ibu Jamal menjerit- jerit mendengar kalimat yang diucapkan oleh Polisi tadi.
Sementara Pak Jamal terdiam terpaku tak bisa bergerak dan bicara.
"Jadi yang ada di berita di televisi itu, salah satunya keponakan saya. Jena keponakan saya meninggal di dalam mobil itu?" Yu Zah bertanya dengan keras kepada kedua Polisi.
"Benar, begitu juga dengan bayi dan suaminya," ujar Polisi menjelaskan kepada Yu Zah.
"Jena, Astagfirullah, mengapa bisa terjadi demikian?" tanya Yu Zah lagi.
"Mobil yang ditumpangi kemungkinan salah mengambil jalur, malah berbelok ke kaki gunung. Karena licin mobil terperosok ke dalam jurang, lalu terguling ke dalam sungai," Polisi kembali menjelaskan kepada Yu Zah.
"Anak saya ada dimana sekarang?" tanya Pak Jamal.
"Ada di rumah sakit POLRI, kemarin malam sudah selesai di otopsi. Dan sekarang kemungkinan sudah bisa dibawa pulang oleh pihak keluarga".
"Antarkan kami kesana, saya dan istri mau menjemput anak kami dan juga cucu kami," ujar Pak Jamal sambil menangis.
"Baik, mari kami antar Bapak dan Ibu kesana," Polisi mempersilahkan orang tua Jena untuk pergi bersama mereka.
Tetangga sekitar langsung riuh ramai membahas kematian Jena yang tenggelam bersama bayi dan suaminya.
Ketika Pak Jamal hendak masuk mobil, tiba-tiba Wak Cak Gusman datang menghampiri.
Rupanya berita tentang Jena sudah tiba ke telinga beliau.
"Jamal, bawa segera jenazah Jena beserta bayi dan suaminya. Segera kita harus memakamkan mereka dengan selayaknya," pesan Wak Cak Gusman dengan tegas.
Setibanya di rumah sakit, Pak Jamal dan istrinya langsung dibawa menuju kamar jenazah.
Lemas tubuh kedua suami istri itu saat melihat Jena telah terbujur kaku sudah tidak ada lagi nyawanya.
__ADS_1
Pihak rumah sakit juga memperlihatkan jenazah bayi Jena dan juga Asrul suami sirinya.
"Ini tas dan koper milik anak ibu dan juga keluarganya," ujar petugas rumah sakit sambil memberikan tas besar dan juga koper besar kepada Pak Jamal dan istrinya.
Sesaat kemudian Pak Jamal dan istri terlihat berada di dalam mobil ambulans, mereka kembali ke kampungnya sambil membawa jenazah Jena, bayi dan Asrul.
Para kerabat dan tetangga, juga para tetua sudah menanti di muka rumah Pak Jamal ketika ambulans tiba membawa ketiga jenazah.
Jenazah segera dimandikan dan dikafani, lalu disholati untuk melapangkan jalan bagi yang sudah tiada.
Ketiganya dimakamkan dalam satu makam secara bersamaan.
Julian Nelson Tampubolon, adalah seorang Komandan Polisi di Kota Depok.
Dulu dia adalah murid paling pandai di sekolah SMP tempat Soraya mengajar.
Dia pernah merasakan belajar bahasa Inggris bersama Ibu Soraya hanya satu tahun setengah saja, karena gurunya itu setelah melahirkan langsung mengundurkan diri.
Padahal Ibu Soraya adalah guru favoritnya, selain guru yang pandai juga merupakan guru yang kreatif karena pernah mengantarkan Julian menjadi juara satu lomba pidato dalam bahasa Inggris se Kota Depok.
Julian atau biasa dipanggil Junel yang merupakan singkatan namanya, menjelang sore hari tengah melihat e-mail yang baru saja diterimanya di ruangan kerjanya.
"Ini kalau tidak salah adalah suaminya ibu Soraya, aku ingat sekali nama suaminya. Karena Ibu Soraya juga pasien papa Yasmin," guman Junel saat melihat e-mail berisikan data kartu tanda pengenal dan juga foto korban kecelakaan di kota Palembang.
"Coba kamu periksa dan cari nomor telepon rumah yang berada di jalan Mawar nomor dua belas. Kalau sudah dapat, segera beritahu kepada saya," pinta Junel kepada salah satu staf admin Kepolisian.
"Komandan, ini nomor telepon yang diminta," ujar staf admin Kepolisian tersebut setelah setelah Junel menunggu sekitar lima belas menit.
"Baik, terima kasih," sahut Junel dan staf tadi segera pamit untuk kembali ke meja kerjanya.
Junel lalu mencoba menghubungi nomor telepon tersebut, dan ternyata benar nomor itu adalah nomor telepon rumahnya Mario.
Yang menjawab telepon saat itu adalah asisten rumah tangga di rumah Mario, dan ketika Junel menanyakan istri Mario, dia mendapat jawaban kalau Soraya belum pulang dari mengajar.
"Astaga, aku harus menyampaikan berita buruk ini besok pagi kepada Ibu Soraya. Ya, Tuhan, ini jauh lebih berat dari pada harus menghadapi penjahat bersenjata," Junel merenung tak tahu harus bagaimana besok pagi menyampaikan berita sedih ini kepada mantan guru favoritnya.
"Maaf, Pak Polisi mencari siapa?" tanya seorang ibu ketika melihat ada dua orang pria berseragam Polisi tengah mencoba mengetuk pagar rumah Fuad.
"Apakah benar ini rumah Bapak Fuad Kusnadi?" tanya salah satu Polisi kepada ibu itu.
"Benar, saya tetangga sebelah rumah. Cuma Pak Fuad dan istrinya Ibu Asmila tidak akan ada di rumahnya kalau hari senin sampai jumat. Mereka baru ada di rumah di akhir pekan," Ibu tetangga itu menjelaskan.
"Pak Fuad bekerja dimana, kalau kami boleh tahu?".
"Setahu saya sih di Indramayu, di Perusahaan Minyak Negara. Tapi beliau bagian dilepas pantai. Sebenarnya ada perlu apa, Pak Polisi?" Ibu tetangga keheranan karena rumah Fuad tiba-tiba didatangi Polisi.
"Ada yang harus langsung kami sampaikan kepada Pak Fuad. Baik, terima kasih atas informasinya. Kami nanti akan mencari beliau di tempat kerjanya," ujar Polisi sambil pamit kepada ibu tetangga.
"Kita lapor dulu ke Komandan, agar nanti kita koordinasi dengan Kepolisian Indramayu," ujar Polisi yang duduk disamping temannya sesama Polisi yang mengemudi mobil.
"Ini tetanggaku, aslinya ini tetanggaku," ujar seorang Polisi di Kota Semarang ketika melihat kiriman e-mail data korban tenggelam dari Kepolisian Kota Palembang.
"Yang benar?"tanya Polisi lainnya.
"Ini alamatnya, jalan Sukacita nomor enam belas, rumahku di jalan yang sama nomor dua puluh tiga. Dia ini suaminya dokter gigi, yang punya Klinik di jalan Raya Utama itu loh," ujar Polisi itu menjelaskan.
"Klinik gigi di jalan Raya Utama? hmmm, dokter Aletha Nayoan, bukan?" tanya staf admin Kepolisian.
"Astaga, kasihan juga suaminya meninggal di Palembang. Biar besok aku yang sampaikan kepada Ibu dokter itu," kata Polisi tetangga terlihat ingin menjadi tetangga yang baik.
"Sabar, jangan terburu-buru menyampaikan. Kamu belum baca semua laporannya. Coba baca dulu, baru pikirkan cara menyampaikannya," ujar salah satu anggota lainnya.
Memang benar, Polisi tetangga itu belum membaca semua laporan yang masuk tadi.
Lalu dia segera membaca semua laporan sampai selesai, setelah itu langsung merasa lemas.
"Berarti suaminya sudah menikah lagi dengan wanita lain. Astaga, bagaimana ini?" Polisi tetangga langsung jadi tak bersemangat.
"Kamu tadi sudah bilang akan menyampaikan masalah ini, jadi kamu harus melaksanakannya," tiba-tiba terdengar suara Komandannya dari belakang tempat duduknya.
Polisi tetangga segera berdiri dan berkata," Siap Komandan!".
Tapi sejujurnya dia galau karena tak tahu bagaimana cara menyampaikan kepada Aletha nanti.
Di lain tempat, malah ada yang sedang senang hatinya.
Kristy baru saja tiba ke rumah makannya, dia baru saja pulang dari mengurus masalah keuangan ke Bank.
"Mbak Kristy, ada Pak Jimmy di lantai atas bersama temannya dua orang," ujar Oci pelayan rumah makannya.
"Oh, kamu ke kitchen, tolong buatkan jus buah untuk tiga orang," perintah Kristy sambil segera naik ke lantai dua rumah makannya.
"Pak Jimmy, maaf yah menunggu lama. Saya baru saja kembali dari Bank," Kristy menyapa ramah kepada Jimmy yang sedang mengukur dan membuat perkiraan desain di lantai dua rumah makan tersebut.
"Oh, tidak apa-apa. Kami tadi langsung kemari saja. Kan tugasnya hari ini mengukur ruangan ini dan membuat desain awal," sahut Jimmy.
"Jadi rencana Pak Jimmy seperti apa?" tanya Kristy.
"Baik, jadi ibu mau lantai dua ini kedai kopi dan kue. Oke, sebentar saya jelaskan," lalu Jimmy memberikan gambaran kepada Kristy tentang rancangan perkiraan desain untuk di ruangan tersebut.
Kristy juga terlihat menyampaikan keinginannya untuk beberapa titik sudut ruangan yang dia inginkan.
"Oke, jadi ingin ada stage untuk live music. Mini bar untuk membuat kopi dan show case untuk kue-kue," Jimmy mencatat keinginan Kristy, sementara staf kantornya memotret seluruh ruangan tersebut.
"Permisi, ini jus buahnya," Oci tampak membawa nampan berisi tiga gelas minuman segar.
"Silahkan diminum," Kristy mempersilahkan Jimmy dan kedua stafnya menikmati minuman segar itu.
"Segar sekali jus buah ini," ujar Jimmy ketika sehabis meneguk minuman yang disuguhkan oleh Kristy.
"Terima kasih, ngomong-ngomong bagaimana penilaian Pak Jimmy atas kiriman makanan promosi dari rumah makan kami?" tanya Kristy.
"Makanan promosi?"tanya Jimmy terkejut.
"Iya, kemarin ini kami kirim beberapa kali makanan promosi. Apakah rasanya enak?"tanya Kristy lagi.
"Glek," Jimmy menelan ludah, dia merasa bersalah.
Memang pernah ada beberapa kali Kristy mengirim makanan ke kantornya, tapi Jimmy malah memberikan kepada orang lain.
Selama ini Jimmy berpikir kalau Kristy mengirim makanan itu hanya untuk mencari perhatian darinya.
__ADS_1
"Baru tahu kalau itu promosi, saya kira....," Jimmy tak meneruskan kalimatnya.
"Dikira apa, Pak Jimmy?tanya Kristy.
"Hmmm, saya kira Mbak Marsela membelinya," Jimmy mengelak kalau sebenarnya dia mengira Kristy sedang berusaha mencari perhatiannya.
"Oh, begitu, kan memang harus promosi dulu dong. Setelah promosi, buktinya Ibu Marsela memesan dua puluh kotak paket nasi untuk besok acara meeting di kantornya Pak Jimmy," Kristy memberitahukan kepada Jimmy hasil promosinya.
Jimmy tersenyum ketika mendengar ternyata besok Kristy akan membuat makanan untuk meeting di kantornya.
"Kalau ada pesanan makanan, apakah Ibu Kristy memasak sendiri atau koki di dapur yang memasaknya?" pancing Jimmy.
"Menu utama pasti saya yang membumbui sendiri, karyawan hanya tinggal menggoreng atau memanggang. Pastinya proses pengolahan inti saya yang turun tangan, proses selanjutnya dilanjutkan oleh karyawan," sahut Kristy menerangkan kepada Jimmy.
Entah mengapa Jimmy merasa senang sekali mendengar penuturan Kristy.
Memang Kristy bukan gadis yang bertubuh langsing, tapi sungguh wajahnya manis dan enak dipandang.
Tapi kalau dibilang Jimmy suka, ada sedikit rasa itu, hanya Jimmy tidak berani untuk memiliki hubungan lebih dari sekedar antara pengusaha dengan nasabah.
Lalu Kristy dan Jimmy turun ke lantai bawah, dan terlihat ada seorang pria tinggi dan bertubuh tegap sedang duduk menanti Kristy.
Pria itu berseragam TNI Angkatan Laut, kalau melihat dari tanda pangkatnya, sepertinya sudah mempunyai posisi Perwira Tinggi, pasti sudah menjadi Laksamana Muda.
Usianya diperkirakan menjelang empat puluh tahunan, tapi masih terlihat sangat gagah.
"Hai, apa kabar, Pak Samsul?" sapa Kristy dengan ramah.
"Kabar baik. Kalau Kristy sendiri apa kabarnya?" tanya Perwira itu.
"Sama dengan Pak Samsul. Selalu kabar baik setiap hari," sahut Kristy dengan senyum yang sangat manis.
Entah mengapa Jimmy merasa kurang senang melihat pemandangan dua orang yang terlihat saling berpandangan dan tersenyum ceria.
"Saya mau pesan tempat untuk besok. Rencananya mau membawa sekitar tujuh orang teman Perwira".
"Oh, dengan senang hati. Padahal bapak kalau hanya pesan tempat bisa telepon ke handphone saya atau langsung ke orang administrasi saja".
"Hmmm, kalau telepon, saya tidak bisa melihat senyum manisnya Kristy, dong".
"Ah, Pak Samsul bisa saja. Eh, ini Pak Jimmy dari kantor arsitek, kami mau mendesain ulang lantai atas," ujar Kristy sambil mengenalkan Jimmy kepada Perwira gagah itu.
Keduanya saling bersalaman, tapi tidak melanjutkan pembicaraan apapun.
"Baiklah, saya pamit dulu. Sampai bertemu besok, tolong Kristy sediakan tempat duduk di sudut yang paling nyaman, makanan paling enak dan senyuman paling manis untuk saya," ujar Perwira TNI itu.
"Hahaha, Pak Samsul selalu bisa saja menggoda saya. Sungguh saya sangat tersanjung," balas Kristy.
Pak Samsul lalu pamit, dan Jimmy juga pamit sambil berjanji akan segera mengirimkan desain ruangan yang diinginkan oleh Kristy.
"Ehm...Ehm...cie...cie...dua cowok langsung berhadapan. Ayo pilih yang mana?" goda Oci ketika kedua pria itu pamit meninggalkan rumah makan.
"Hmmm, dasar Oci...senang sekali kamu meledek aku," ujar Kristy sambil memicingkan matanya ke arah Oci.
"Ayo, Boss cantik harus segera menentukan pria mana yang akan jadi pendamping".
Kristy mengangkat tangan dan bahunya sambil berlalu meninggalkan Oci dan menuju ke dalam dapur.
Jimmy diam saja di dalam mobil, stafnya merasa aneh karena biasanya Jimmy suka banyak bicara.
"Boss, baik-baik saja?" tanya staf tersebut.
"Ya, kenapa?" Jimmy balik tanya.
"Pulang dari Big Beauty jadi diam saja," ujar stafnya itu.
Jimmy cuma senyum tipis menganggapi ucapan stafnya. Padahal Jimmy sedang merasa menyesal pernah punya pikiran buruk kepada Kristy.
Selama ini dia berpikir Kristy sedang mengejar dirinya agar jadi jatuh hati kepada gadis itu.
Tapi ternyata Kristy sering mengirim makanan itu untuk mempromosikan menu makanan enak di rumah makannya saja.
"Biar gemuk tapi dia lincah dan menyenangkan orangnya. Pintar dan cukup cantik juga wajahnya. Tapi masa sih aku harus suka sama dia," guman Jimmy di dalam hatinya.
Stafnya tersenyum sendiri, dia yakin kalau Jimmy pasti sedang memikirkan Kristy. Apalagi ada pria lain yang gagah dan berpangkat tinggi, mungkin akan jadi saingan Jimmy dalam merebut perhatian Kristy.
Malam harinya di Kampung Besemah Kota Pagar Alam, hanya sekitar lima orang yang hadir ke rumah Pak Jamal untuk melaksanakan tahlilan.
Tetangga sekitar lainnya banyak yang merasa keberatan kalau menghadiri tahlilan ke rumah Pak Jamal.
"Tukang merebut suami orang masa harus kita doakan yang baik," bisik salah satu tetangga.
"Iya benar, Jena itu dari dulu kelakuannya buruk. Sok manis, sok lugu, tapi ternyata suka bikin orang lain rumah tangganya berantakan," yang lain juga berkata demikan.
"Aku tak pernah berurusan dengan Jena, aku sih tak peduli. Cuma kalau disuruh ikut tahlilan aku malas. Hatiku tak mendukung untuk mendoakan dia," ada juga yang berkata begitu.
"Alhamdulillah, masih ada yang hadir. Tak apa, walau tak banyak orang hadir, semoga saja doa untuk Jena beserta suami dan bayinya tetap tersampaikan," ujar Ustadz yang hadir di rumah Pak Jamal malam itu.
Pak Jamal dan istrinya menyadari bahwa pasti akan banyak cibiran kepada anaknya.
Walau Jena sudah tiada, tapi perkataan dan penilaian yang tak mengenakan hati akan selalu terdengar.
Sebagai orang tua, dan anaknya juga sudah tiada. Pak Jamal dan istri hanya bisa beristigfhar saja kalau mendengar ucapan buruk tentang anaknya.
Polisi tetangganya Asrul dan Aletha, sedang menceritakan kepada istrinya kalau besok dia harus memberitahukan soal kematian Asrul kepada Aletha.
"Berarti benar gosip dari tetangga sekitar, soal penampakan wanita hamil di rumah itu. Ternyata benar Pak Asrul menyembunyikan wanita simpanan yang hamil," istrinya mengomentari cerita suaminya.
"Hus...orangnya sudah meninggal. Jangan bicara yang tak baik tentang keluarga itu," Polisi menyadarkan istrinya.
Lalu istrinya malah melotot dan mengancam suaminya," Ayah, awas saja kalau sampai berbuat seperti almarhum Pak Asrul. Awas kalau ayah punya wanita simpanan".
Polisi itu jadi kaget karena ancaman istrinya ,"Kok jadi aku?".
Istrinya malah jadi tambah melotot sambil berkacak pinggang.
Walau pekerjaan Polisi dan punya pangkat lumayan tinggi, kalau istri melotot tak akan bisa membantah.
Hanya bisa diam sambil mengurut dada, karena istri dimana saja pasti akan begitu.
Orang lain yang bermasalah, tapi pasti dikaitkan kepada suaminya.
__ADS_1