
Di sore hari itu juga terlihat Risa duduk di depan meja kerja Oti, sambil menanti Oti sedang mengetik sebuah lembaran kwitansi.
"Terima kasih ibu Oti," ujar Risa saat menandatangani lembar penerimaan honor mengajar di ruangan administrasi kampus.
"Hmmm, makanya kalau jadi mahasiswa pandai itu akan enak. Bisa membantu dosen saat berhalangan, sehingga lumayan kamu dapat honor," kata Oti menimpali ucapan terima kasih Risa tadi.
Risa hanya mengangguk sambil tersenyum kepada Oti.
"Kamu usahakan nanti cepat selesai skripsinya dan nilai ujian pertahankan terus. Kalau kamu lulus dengan nilai tertinggi, nanti ada penghargaan dari pihak yayasan," ujar Oti melanjutkan pembicaraan sambil menyemangati Risa.
"Iya, siap bu. Minta doanya saja dari ibu Oti," sahut Risa lagi.
Oti hanya mendehem sambil menanggukan kepalanya ke arah mahasiswa pandai itu.
"Enak banget Risa, dapat duit lalu enggak harus buat tugas pula," ujar salah satu mahasiswa yang kebetulan berada di depan ruang administrasi.
"Iya, anak emas dosen. Pastinya serba enak," yang lainnya ikut mengomentari.
Pasti selalu saja ada yang iri hati apabila melihat orang lain terlihat enak, atau terlihat mudah mendapat sesuatu.
Padahal tanpa mereka sadari, perjuangan Risa sangat berat. Sudahlah hidupnya serba kekurangan, ibunya lumpuh, ayahnya pedagang es keliling.
Tapi Risa memiliki tekad yang sangat kuat untuk bisa sukses dan ingin membanggakan juga membahagiakan kedua orang tuanya.
Sementara di tempat lain, Kristy terlihat sedang menggoreng kue panada di dapur rumah keluarga Maliangkay ditemani oleh bik Atik.
Tiba-tiba handphone keluaran tahun lama milik Atik berbunyi kencang sekali membuat Kristy yang sedang konsentrasi menggoreng jadi terkejut.
"Astaga, bunyi handphonenya kencang amat, bik," komentar Kristy sambil geleng-geleng kepala.
"Hahahaha, sengaja non, maklum bik Atik sudah tua...hahahaha. Eh...ini telepon dari den Jimmy, bibik speaker yah," ujar bik Atik terlihat senang, sementara Kristy hanya mengangguk saja agar handphone itu bisa segera dijawab agar bunyinya tidak memekakkan telinganya.
"Halo, den Jimmy, ada apa?" tanya bik Atik dengan suara cempreng saat menjawab panggilan dari Jimmy.
"Halo, bik Atik, mau nanya kalau Kristy sudah datang belum?" tanya Jimmy dari seberang sana.
"Sudah dari tadi, tadi membuat kue sama mamih. Sekarang lagi menggoreng panada di dapur," sahut bik Atik.
"Bik Atik ada di dapur juga?" tanya Jimmy.
"Bibik di ruang makan," sahut bik Atik berbohong.
"Jangan bilang aku telepon menanyakan Kristy, yah. Awas kalau bik Atik bilang aku yang sedang telepon sekarang".
"Memangnya kenapa?".
"Jangan sajalah. Gengsi dong, masa Jimmy harus ketahuan menanyakan dia".
"Siap, tenang saja. Atik simpan rahasia," sahut bik Atik sambil menahan ketawa karena setidaknya speaker ponselnya diaktifkan dan tentunya Kristy juga mendengar pembicaraan mereka.
"Kue panadanya mau tidak, den Jimmy?".
"Mau dong, sisakan aku satu atau dua potong".
"Yang bikin semuanya non Kristy, loh".
"Iya, aku minta satu atau dua potong saja nanti".
"Oke, siap. Mau titip salam enggak sama non Kristy?" goda bik Atik.
"Hmmm.....salam deh".
"Salam apa?".
"Ya ampun, sudah salam saja. Aku pulang malam, panada punya aku jangan di goreng dulu. Nanti malam kalau aku pulang saja baru di gorengnya".
"Yang gorengnya siapa? bibik nanti sudah tidur kalau den Jimmy pulang".
"Siapa saja gampang, aku goreng sendiri juga bisa. Sudah yah, jangan nanya lagi yang aneh-aneh, bik Atik," ujar Jimmy terkesan menahan rasa sebal karena digoda bik Atik.
"Hahahaha, iya, sudah yah," sahut bik Atik sambil menutup ponselnya.
Kristy yang mendengar hanya geleng-geleng kepala saja, sungguh dirinya merasa bingung karena seakan-akan semua keluarga Maliangkay menganggap dirinya dan Jimmy memiliki hubungan percintaan.
"Tuh, arjunanya non Kristy barusan telepon. Pastinya den Jimmy juga kangen sama non cantik, tapi suka sok gengsi," Bik Atik cekikikan tertawa ingat tingkah Jimmy.
"Bik Atik, aku dengan Jimmy tidak ada hubungan apa-apa. Kami hanya teman biasa saja, bahkan lebih tepatnya saya ini nasabah di kantornya Jimmy," ujar Kristy memberitahukan kepada bik Atik tentang hubungannya dengan Jimmy.
"Mungkin den Jimmy belum menyatakan cintanya sama non cantik. Belasan tahun sudah, dan baru sekarang lagi den Jimmy membuka hati sama perempuan," sahut bik Atik dengan tatapan sedih.
"Memangnya kenapa Jimmy belum menikah juga?" Kristy balik bertanya.
"Dulu waktu kuliah punya pacar namanya Yanti. Tapi ternyata gadis itu cuma pura-pura cinta sama den Jimmy. Gadis itu diam-diam selingkuh dengan teman main basketnya den Jimmy, bahkan sampai hamil duluan sebelum akhirnya dinikahi lelaki itu," Bik Atik menerawang mengingat kejadian dulu saat Jimmy terluka karena cinta.
"Hmmm, Jimmy ganteng begitu, masa sih tidak punya pacar lagi?"Kristy merasa heran.
"Luka hati non, sejak itu dia terlalu curiga sama perempuan. Pernah dekat dengan beberapa orang perempuan, tapi tak pernah lama. Selalu saja putus di tengah jalan".
"Pantasan saja," bisik Kristy sambil mengingat semua perkataan kasar yang pernah Jimmy sampaikan kepadanya.
"Non juga kenapa belum nikah?" tanya bik Atik.
"Hahahaha, gagal nikah. Sudah lama juga, tujuh tahun yang lalu. Sampai sekarang belum ketemu jodoh lagi," sahut Kristy ringan saja.
"Astagfirullah, kasihan non cantik, semoga saja den Jimmy yang menjadi jodohnya. Pasti dia akan kaget kalau tahu non adalah dedek putih mata bulat kesayangannya dulu," ujar bik Atik sambil menatap Kristy yang baru saja selesai menggoreng sebagian kue panada.
Kristy menatap balik bik Atik dan seraya berkata," Ini saya sisakan dua potong kue yang belum di goreng untuk den Jimmynya bik Atik".
Bik Atik tersenyum sambil menatap Kristy, dan matanya menerawang jauh membayangkan suatu saat gadis ini akan menjadi pendampingnya Jimmy.
Lalu Kristy membawa kue yang sudah matang ke ruang makan, tapi terlihat Oma Regina sedang berada di ruang tengah dan tidak sendirian.
Rupanya ada Soraya dan kedua anaknya sudah datang, dan Oma Regina terlihat sedang menangis sambil berpelukan dengan menantunya.
Tentu saja Kristy tidak berani mendekati, dia segera berbalik ke dapur menemui bik Atik.
"Bik, tante Regina sedang bersama kak Soraya dan anak-anaknya. Mereka semua terlihat sedang menangis, saya tidak enak hati mendekati mereka di ruang tengah," ujar Kristy kepada bik Atik.
"Walah, ada apa gerangan? coba bibik lihat kesana sebentar," sahut bik Atik sambil segera berjalan cepat menuju ruang tengah.
Kristy menanti di ruang makan, lalu dia berkeliling ruangan itu menatap satu per satu foto yang tergantung di dinding.
Ada foto Robert, Mario dan Jimmy sedang di pantai saat mereka masih kecil. Terlihat Jimmy yang paling kecil di antara ketiganya.
Lalu ada foto keluarga, kemungkinan saat nenek mereka masih ada. Karena pada foto terlihat ada seorang nenek yang tampilannya menarik diapit oleh sepasang suami istri dan tiga anak lelaki remaja.
"Pak Robert dari muda tampangnya serius, paling ganteng almarhum pak Mario, dan ketika dewasa yang paling tinggi badannya Jimmy," ujar Kristy dalam hati sambil menatap foto-foto di dinding.
"Jimmy lumayan ganteng juga, walau masih kalah tampan dibanding pak Mario," bisik hati Kristy lagi.
__ADS_1
Tiba-tiba Kristy mendengar semua yang berada di ruangan tengah terdengar menangis semuanya dan semakin kencang.
Sebagai tamu tentunya akan merasa kebingungan, karena tidak paham apa yang terjadi sesungguhnya rumah keluarga Maliangkay.
Perlahan Kristy berjalan mendekati ruang tengah, dan mengintip dari balik tembok. Terlihat Oma Regina, Soraya dan kedua anaknya, juga bik Atik, semuanya menangis sambil berpelukan.
Akhirnya Kristy memberanikan diri untuk memasuki ruangan itu, karena dia merasa ketakutan sendirian sementara di ruangan lain semuanya menangis tersedu-sedu.
"Permisi, maaf mengganggu. Saya mau ijin pamit, dan kue yang tadi saya buat sudah ada di atas meja semuanya," ujar Kristy sambil tidak enak hati.
"Ooh....maaf Kristy, jangan pulang. Ayo kemari, duduk di sini bersama kami," pinta Oma Regina sambil kedua tangannya melambai mengajak Kristy mendekat.
Dengan perasaan canggung, lalu Kristy mendekat ke arah Oma Regina.
"Kristy, ayo sini! duduk di dekat Oma Regina," ajak Soraya.
"Hai, tante Kristy, ayo duduk bersama kami," kedua anak Soraya juga mengajaknya bergabung.
"Non, ayo duduk di sini," Bik Atik juga menepuk kursi di sebelah tempat duduk Oma Regina.
Kristy dengan hati-hati duduk disamping oma Regina sambil memperlihatkan wajah kebingungan.
"Maaf, tadi Maya dan Mega datang lalu memperlihatkan foto saat Mario tenggelam kemarin ini. Saya jadi sedih lagi, lalu semua jadi ikut menangis lagi," ujar oma Regina menjelaskan kepada Kristy.
Mendengar itu Kristy hanya senyum canggung sambil tak tahu harus menjawab apa.
"Ini fotonya, siapa tahu tante Kristy mau lihat," ujar Mega sambil memperlihatkan ponselnya kepada Kristy.
Dan anak itu menceritakan semua yang dia dengar dari pamannya kemarin kepada Kristy.
Sebagai tamu, tentu dia hanya bisa mengucapkan turut bersedih dan turut berduka atas kejadian kemarin, selanjutnya dia bingung lagi, ingin pamit tapi ditahan tangannya oleh oma Regina.
Sejak dia duduk di kursi sebelah oma Regina, kedua tangannya digenggam erat oleh ibunya Jimmy itu.
"Sudah, cukup menangisnya. Soraya harus tegar ada Maya dan Mega yang masih harus kamu urusi. Dan mamih juga masih ada urusan Jimmy dan Kristy yang masih mengambang hubungannya," ujar Oma Regina yang tentunya sangat mengejutkan hati Kristy sekali lagi.
"Maya senang sekali kalau tante Kristy akan segera menjadi tantenya aku," ujar Maya tiba-tiba.
"Iya, aku juga senang sekali. Aku sayang tante Kristy," ujar Mega sambil langsung memeluk bahu Kristy.
Lagi-lagi Kristy hanya bisa senyum tapi tak bisa berucap apapun, yang ada dia malah ingin menjerit memberitahu mereka yang ada di ruangan itu, kalau dirinya tidak punya hubungan apapun dengan Jimmy.
"Kita coba kue panada buatan tante Kristy, yuk! mama lapar nih, pastinya enak kue itu," ajak Soraya kepada kedua anaknya.
"Iya, ayo serbu!!!" Maya dan Mega langsung berlari menghambur ke meja makan.
"Wow, wangi banget, pasti enak sekali, nih. Aku ambil satu," ujar Maya sambil langsung mencomot sepotong kue di atas piring.
"Aku juga satu," Mega tak mau kalah segera menyabet satu potong lainnya.
Keduanya saling bertatapan dan saling mengacungkan jempol sambil mengunyah kue panada tersebut.
"Astaga, Maya....Mega....kalian makan kayak apa saja. Rakus begitu, pelan-pelan dong kalau mengunyah," tegur Soraya saat melihat kedua anak gadisnya makan seperti orang tergesa-gesa.
"Enak banget sih," sahut Mega santai.
Oma Regina berjalan ke ruang makan sambil terus menggandeng Kristy.
Lalu setibanya di ruang makan, menarik kursi dan mengajak duduk bersebelahan dengan Kristy.
Beliau mengambil satu potong kue, lalu menggigit dan mengunyahnya.
"Benar sekali, enak banget. Aku dulu cuma sekali mencoba panada buatan oma Elisabeth, beliau keburu meninggal dunia," Soraya ikut menimpali.
"Cucu oma Elisabeth yang pintar memasak itu suami aku. Bang Rio pandai memasak, bahkan kalau ada acara di rumah pasti anak-anak minta papanya yang memasak," kenang Soraya sambil memakan kue itu.
"Memang, papa lebih enak kalau memasak. Mama kalau masak rasanya pasti ada saja yang kurang. Kalau enggak kurang asin, atau kurang rasa sama sekali," Maya melanjutkan cerita ibunya.
"Iya, nasi goreng buatan papa jauh lebih enak dibanding buatan mama. Tapi sekarang enggak akan ada lagi yang bikin nasi goreng buat kita," Mega dengan sedih menuturkan demikian.
"Nanti tante kirim nasi goreng untuk kalian," ujar Kristy mencoba menghibur kedua anak gadisnya Soraya.
Mereka kemudian berbincang hal lainnya, cerita soal rumah makan dan kegiatan olah raga yang dilakukan Kristy.
"Kapan-kapan kami boleh tidak ikut belajar tenis bersama tante Kristy?" tanya Maya.
"Boleh dong. Kamu tenis, dan Mega kapan-kapan berenang sama saya. Katanya berenang bisa mengatasi asma," sahut Kristy.
"Aku tidak asma, tante. Tapi aku bisa tiba-tiba berhenti nafas, karena aku sama sekali tidak bisa banyak bergerak. Bahkan banyak makan juga aku bisa sesak nafas," jawab Mega membuat Kristy bengong.
"Mega ada kelainan paru-paru, jadi dia tidak bisa ikut olah raga. Hanya boleh olah raga jalan santai, dan tidak bisa lama juga. Dia lahir punya kelainan paru-paru, bisa sebesar ini itu mukjizat buat kami," Soraya menjelaskan.
Kristy kembali senyum canggung, lalu dia memegang tangan Mega sambil senyum.
"Tetap semangat, banyak hal yang bisa kita lakukan selain olah raga," kata Kristy sambil mengedipkan sebelah matanya.
Mega hanya mengacungkan jempol kepada Kristy. Memang Mega tidak bisa olah raga, tapi dia pemerhati olah raga.
Paham berbagai olah raga, walau tidak bisa dia ikuti, tapi bisa memberikan masukan kepada teman-teman yang tergabung dalam tim basket di sekolahnya.
Lama berbincang akhirnya waktu menuju maghrib, dan Kristy kembali berusaha ijin pamit.
"Non Kristy, pamali maghrib mau pulang. Sudah saja non di sini dulu, mending masak saja non. Tuan Hansen nanti pulang, pasti akan senang sekali ketika pulang ada masakan enak," Bik Atik ikut menahan Kristy pulang.
Yang lain juga ikut meminta Kristy tetap tinggal sejenak, memasak makanan enak dari bahan yang ada di rumah itu.
Dengan terpaksa akhirnya Kristy juga memasak, dia sajikan masakan ala tionghoa.
Dan benar saja ketika tak lama opa Hansen pulang dari tempat usahanya, segera mandi dan langsung makan masakan calon menantunya.
"Jimmy pernah bilang sama saya, kalau dia ingin punya istri yang pintar masak. Ternyata tidak salah pilihan anak saya," ujar opa Hansen ketika menikmati makan malam hasil masakan Kristy.
Lagi-lagi Kristy tidak bisa bicara dan menjawab, ingin rasanya dia katakan kepada semua orang di rumah itu kalau dirinya tidak ada hubungan cinta dengan lelaki yang namanya Jimmy.
Akhirnya makan malam selesai juga, dan Kristy sudah sangat ingin segera pulang dari rumah keluarga Maliangkay.
"Kak Soraya, aku ingin pulang. Mengapa seakan sulit sekali aku meninggalkan rumah ini," Kristy berbisik kepada Soraya.
"Mungkin mertuaku ingin kamu bertemu dengan Jimmy dulu," sahut Soraya.
"Aku sudah terlalu lama meninggalkan rumah makanku".
"Katakan saja kalau kamu harus segera ke rumah makan karena ditunggu oleh karyawanmu".
"Hmmm, baiklah. Aku coba katakan itu. Tapi kalau tidak mempan, tolong bantu aku yah," pinta Kristy kepada Soraya.
"Aku coba sebisaku, karena kalau kedua mertuaku ingin sesuatu, biasanya suka sulit di tolak," sahut Soraya.
Kristy menelan ludah, tapi mau tak mau dia harus mencoba untuk pamit kepada kedua orang tuanya Jimmy.
__ADS_1
"Memangnya tidak bisa hanya sekedar menelepon karyawan rumah makanmu, dan kamu masih tetap di sini sambil menunggu Jimmy datang?" tanya Opa Hansen.
Soraya melihat Kristy tampak bingung untuk menolak, lalu dia berusaha membantunya.
"Papih, namanya juga anak muda. Pasti ingin kelihatan cantik kalau ketemu pacarnya. Hari ini Kristy sudah masak seharian, tentu merasa tidak percaya diri karena berkeringat dan belum mandi," Soraya berusaha membantu Kristy.
"Benar, saya ingin tampak cantik dan wangi kalau bertemu Jimmy," Kristy menimpali.
Opa Hansen dan Oma Regina saling bertatapan, lalu mereka berdua saling mengangguk.
"Baiklah, tapi nanti hari minggu kamu ikut kumpul lagi di sini bersama Jimmy. Nanti biarkan Jimmy yang menjemput kamu," ujar Oma Regina menginginkan Kristy untuk ikut berkumpul dengan keluarganya.
Kristy tidak mengiyakan atau mengatakan apapun, hanya senyum saja. Lalu pamit sambil tak lupa mengucapkan terima kasih kepada Oma Regina yang sudah mengajarkan membuat kue panada yang sangat enak.
Soraya mengantarkan Kristy sampai depan pagar sambil membukakan pintu pagar agar mobilnya bisa mudah keluar.
Baru saja mobil Kristy akan keluar halaman rumah itu, tiba-tiba mobil Jimmy datang dan otomatis menghalanginya.
Jimmy turun dari mobil, dan berjalan mendekati mobil Kristy. Melihat itu, Soraya segera pamit masuk ke dalam, membiarkan Jimmy berduaan dengan Kristy.
Kristy duduk di dalam mobil sambil memegang kemudi dengan wajah cemberut.
Jimmy mendekati mobil Kristy dan mengetuk jendela mobilnya, dengan enggan Kristy menurunkan jendela mobilnya.
"Mau apa? tolong mobil kamu dipindahkan, aku tidak bisa keluar," ujar Kristy sambil ketus.
"Tadi mamih aku telepon, katanya kamu nunggu aku?" tanya Jimmy.
"Sorry, aku tidak menunggu kamu. Tapi aku tidak diperbolehkan pulang oleh Oom Hansen dan tante Regina, aku diminta menunggu kamu pulang," sahut Kristy sambil tetap ketus.
"Sekarang aku sudah pulang, tapi kamu juga pulang. Bagaimana ini?".
"Den Jimmy yang terhormat, saya harus pulang. Rumah makan harus saya periksa, sekarang sudah hampir jam delapan malam. Tolong anda pindahkan mobilnya, agar saya bisa segera keluar dari halaman rumah ini".
"Kok, kamu seperti tidak senang dengan rumah ini, padahal kamu sudah diajarkan membuat kue oleh mamihku".
"Astaga, aku senang sudah belajar membuat kue, aku senang dengan mengenal Oom Hansen dan tante Regina. Bahkan ada kak Soraya dan anak-anaknya, semua baik dan menyenangkan," tukas Kristy dengan kening berkerut dan bernada semakin ketus.
"Oke, aku minta maaf".
"Minta maaf terus, gampang banget minta maaf. Selalu nuduh orang sembarangan, ujung-ujungnya minta maaf".
"Kristy, sungguh aku minta maaf. Aku memang tidak pandai berkata-kata baik kepada perempuan. Tapi aku sadar kalau telah menuduhmu dan menilai buruk tentang kamu. Tolong maafkan aku, mohon beri aku kesempatan untuk bisa menjadi teman baikmu lagi," pinta Jimmy dengan penuh penyesalan.
Kristy hanya diam saja, sambil kedua tangannya dilipat di depan dadanya.
Hening, keduanya diam sibuk dengan pikiran dan isi hati masing-masing.
Jimmy menatap Kristy, tapi Kristy tidak membalasnya dan hanya menatap lurus ke depan.
"Bapak Jimmy, tolong mobilnya dipindahkan. Saya harus segera memeriksa karyawan di rumah makan saya".
"Permintaan maafku bagaimana?" tanya Jimmy.
Kristy menatap Jimmy dan menjawab," Aku pikirkan dulu, nanti malam aku jawab pakai pesan singkat".
"Oke, aku tunggu pesan singkat dari kamu nanti malam. Sekarang aku pindahkan mobilku, kamu hati-hati di jalan yah," ujar Jimmy sambil menepuk atap mobil Kristy.
Jimmy lalu segera memindahkan mobilnya, dan ketika kedua mobil bersebelahan, Kristy membuka jendela mobilnya dan mengatakan sesuatu kepada Jimmy.
"Tadi aku sudah menggoreng lagi sisa kue panada, tinggal dihangatkan saja sebentar microwave beberapa detik," ujar Kristy sambil tetap ketus.
"Terima kasih, nanti aku coba".
Lalu Kristy segera melajukan mobilnya keluar dari halaman rumah Jimmy.
Tanpa Jimmy sadari, dari balik tirai jendela ada beberapa pasang mata tengah mengintip mereka. Tenyata Oma Regina, Soraya dan bik Atik sejak Jimmy datang menghalangi mobil Kristy sampai akhirnya Kristy pulang, mereka ikuti dan mencoba menguping pembicaraannya. Cuma sayang jarak ke halaman dekat pagar terlalu jauh, sehingga ketiganya tidak bisa mendengar pembicaraan antara Jimmy dan Kristy.
Setelah menutup dan mengunci pagar, lalu Jimmy memasuki rumah. Ibunya tengah duduk menonton televisi, Soraya juga tengah membuka laptop membaca tugas mahasiswanya. Sedangkan bik Atik sudah kabur, masuk ke kamar tidurnya.
"Mamih, mana papih?"tanya Jimmy ketika masuk ke dalam rumah.
"Jim, tumben sudah pulang. Papih seperti biasa di halaman belakang, sedang ngobrol sama Maya dan Mega," sahut Oma Regina sambil menahan rasa geli karena dirinya habis mengintip anaknya.
"Kak Aya," sapa Jimmy.
"Hai, Jim," sahut Soraya.
"Menginap di sini?" tanya Jimmy.
"Rencana begitu, anak-anak ingin tidur di kamar papanya," jawab Soraya.
"Sip, aku juga ada yang mau dibicarakan sama kak Aya," ujar Jimmy.
"O,ya, mau bicara apa?" Soraya penasaran.
"Hmmm, tadi sore aku ke kantor Wildan dan Danu," jawab Jimmy.
"Oh, lalu?" Soraya makin penasaran.
"Nantilah, aku mau mandi dan makan dulu. Nanti aku bicara".
Soraya mengangguk, lalu meneruskan memeriksa tugas mahasiswanya. Pikirannya tapi bergelayut, penasaran ingin tahu apa yang akan Jimmy utarakan kepadanya.
"Pasti ada hubungannya dengan Asmila," bisik batin Soraya.
Sekitar setengah kemudian, dari arah ruang makan terdengar keributan antara paman dan keponakannya.
"Oom pasti mencari kue panada, yah?" tanya Maya.
"Cie...cie...panada cinta," sela Mega.
"Dimana kue panada itu? Oom pengen mencicipi rasanya," ujar Jimmy dengan sebal.
"Tuh ada di dalam microwave, sempat-sempatnya tante Kristy mau pulang juga mengorengkan sisa panada, lalu disimpan di microwave biar hangat," goda Maya.
Jimmy lalu mendekati microwave dan membukanya, lalu terlihat ada dua potong kue panada yang masih hangat.
Lalu diambilnya satu potong kue, menggigit lalu mengunyah kue itu.
"Cie...enak yah oom, rasa cinta pasti sampai ke dalam dada," goda Mega juga.
"Ini rasa tuna, mana ada panada rasa cinta. Ngaco saja".
"Cie...pura-pura marah padahal hati berbunga-bunga".
"Dengar, ini sudah jam sembilan malam. Kalian segera tidur, besok masih hari Jumat, masih harus pergi sekolah".
"Iya, ayo, tidur sama oma. Mama kalian masih mengerjakan tugas untuk mahasiswa besok. Kalian tidur di kamar papa, nanti mama kalian menyusul," ajak oma Regina kepada kedua cucunya yang sudah gadis.
__ADS_1
"Semoga kita bisa mimpi ketemu papa".