
Pagi harinya komandan Tim SAR dan juga komandan Polisi terlihat sedang menyusun rencana penyisiran mobil tenggelam bersama Tim SAR, beberapa anggota Polisi, tak ketinggalan Nico, Sony dan Alex juga ikut serta dalam pencarian itu.
Mereka terbagi dalam dua kelompok besar, kelompok satu mencari di sekitar tempat jatuhnya mobil.
Kelompok dua bergerak ke arah menuju hulu sungai, karena di khawatirkan mobil terseret arus ke arah tersebut.
Arif yang memimpin kelompok dua, Nico, Sony dan Alex tergabung dalam kelompok tersebut.
Sementara Bram bersama beberapa Tim wanita menyediakan konsumsi dan juga obat-obatan, sedangkan Rey sejak semalam sibuk mengabadikan setiap jejak dan setiap kejadian dengan kameranya.
Berita terkini," Selamat pagi pemirsa, saat ini kami berada di sungai di kaki gunung di perbatasan Lahat dan Pagar Alam, tepatnya di Kabupaten Palembang, Sumatera Selatan. Tadi malam diperkirakan ada sebuah mobil telah jatuh ke dalam jurang, lalu terguling dan masuk ke dalam sungai. Saat ini di lokasi kejadian sedang diadakan pencarian mobil tersebut yang dilakukan secara gabungan oleh Tim SAR, Kepolisian dan juga masyarakat. Belum diketahui secara pasti mobil jenis apa dan ada berapa orang penumpang di dalam kendaraan tersebut. Kami akan memberitakan kembali apabila sudah ditemukan kendaraan tesebut. Demikian sementara yang dapat kami laporkan. Terima kasih".
Soraya sedang membangunkan Maya ketika berita terkini tayang di televisi.
"Maya, ayo bangun. Temani adikmu tidur di kamar mama," pinta Soraya.
Maya melirik jam dinding, dan waktu masih menunjukkan pukul setengah enam pagi.
"Mama mau kebaktian yang paling pagi di gereja. Sekarang kamu temani adikmu tidur di kamar papa dan mama".
Sambil masih mengantuk, lalu Maya berjalan menuju kamar ibunya dan di sana ada adiknya masih tidur lelap.
Semalam adiknya sesak nafas dan tengah malam demam tinggi, sehingga mama segera memberinya obat penurun panas dan membawanya tidur di kamar papa dan mama.
"Mama, televisinya dinyalakan saja. Lalu nanti mama pulang gereja bawakan sarapan yah. Maya nanti kebaktian siang saja, sekarang masih mengantuk," kata Maya kepada mamanya.
Soraya mengiyakan, lalu dia mengecup kening Maya dan Mega. Setelah itu dia segera turun ke lantai bawah, menuju garasi. Lalu mengeluarkan kendaraannya, setelah mengunci pagar lalu dia segera melaju menuju gereja.
"Kau ini mengapa, bu? dari kemarin aku perhatikan selalu saja memecahkan barang. Bikin kopi gelas pecah, menuangkan nasi ke piring juga pecah. Ada apa, sih?" tanya Pak Jamal kepada istrinya.
"Entah aku juga tak tahu, tangan ini bergetar terus. Seperti ada firasat buruk tentang anak kita," sahut Ibu Jamal.
"Bukan lagi firasat buruk, tapi memang Jena itu bikin ulah buruk terus. Aku tak paham kelakuan dia, entah apa maunya anak itu," ujar Pak Jamal terlihat kesal sekali karena anaknya akan segera pulang membawa bayi dengan lelaki yang masih berstatus suami orang lain.
"Apa mau dikata, pak. Sudah terjadi, kita harus bisa terima keadaan dia," Ibu Jamal menangis sambil membersihkan pecahan piring yang tadi dijatuhkannya secara tak sengaja.
"Katanya semalam akan datang, tapi sampai pagi begini juga belum nampak batang hidungnya," Pak Jamal masih terus mengomel kesal kepada a anaknya.
"Mas, nyata kan....dari tadi malam Mbak Asmila tidak menelepon kita. Aku yakin dia melewati rumah kita dan tak tahu keberadaan rumah kita," Ratna terlihat jengkel sekali karena Asmila belum juga datang.
"Kalau memang kelewatan rumah kita ini, pasti nanti juga akan telepon. Aku tak yakin dia akan datang, paling juga menginap di Palembang. Kamu nanti harus buat janji ulang lagi sama pak Kyai," sahut Ali suaminya Ratna.
"Itu dia, membuat janji dengan pak Kyai itu susah sekali. Bisa-bisa dapat giliran lagi bulan depan. Aneh sekali Mbak Asmila itu, sampai sekarang masih juga tak bisa aku hubungi," keluh Ratna.
"Sudah tunggu saja dulu, nanti juga pasti akan menghubungi kamu. Sudah buatkan aku kopi, ini ada berita di televisi, ada mobil tenggelam ke sungai," kata Ali sambil menatap serius tayangan berita di televisi.
"Kondisi Edwin bagaimana, Etha?" tanya Ibu Edmun yang semalam tidak bisa tidur karena khawatir kepada cucunya.
"Sudah mendingan, panasnya sudah turun. Tapi dadanya masih sakit, entah kenapa. Rencananya nanti siang aku mau bawa dia ke dokter di rumah sakit," sahut Aletha menjelaskan kepada ibunya.
"Sekarang dia masih tidur?" tanya Ibu Edmun lagi.
"Iya, sudah Mamih jangan terlalu khawatir. Aku bisa menanganinya, kok".
"Suamimu bagaimana? apakah sudah bisa dihubungi?".
Aletha menggeleng, lalu mengangkat bahunya dengan kedua tangannya terentang, dan dia berjalan menuju dapur untuk membuat bubur untuk anaknya.
Ibu Edmun jadi tambah sedih, sudahlah cucunya sakit, ditambah menantunya tak juga bisa dihubungi sejak kemarin malam.
Fuad bangun di pagi ini, lalu setelah sholat subuh dia keluar rumah untuk lari pagi.
Tapi ternyata di luar masih juga gerimis belum berhenti sejak kemarin.
Lalu Fuad mengirim chat kepada istrinya, menanyakan kabar istrinya. Tapi sejak tadi malam pesan chatnya masih saja menggantung tidak terkirim.
"Ada apa denganmu, Mila. Di telepon tidak menyambung, aku kirim pesan chat juga tidak terkirim," guman Fuad yang merasa kebingungan.
"Lebih baik aku ke tempat kerja saja, ada teman di tengah laut pastinya. Lumayan bisa diajak main catur atau main kartu," pikir Fuad lalu segera bersiap-siap untuk pergi ke tempat kerjanya.
Sambil menyetir mobil, pikirannya masih juga melayang kepada istrinya yang sampai sekarang masih juga tidak bisa dihubungi.
Karena pikirannya terbagi, hampir saja dia menabrak seekor kucing yang tiba-tiba melintas menyeberangi jalan di hadapan mobilnya.
"Astagfirullah, dasar kucing garong!!!" teriak Fuad yang seketika menginjak rem agar tidak menabrak kucing tersebut.
Untung saja di belakang mobilnya tidak ada kendaraan lain sehingga dia aman dan bisa melanjutkan perjalanan setelah mengatur nafasnya.
Sudah hampir lima jam, sekarang hari sudah menjelang siang, tapi mobil tenggelam masih juga belum ditemukan.
Para pencari sudah mulai kelelahan dan kedinginan, mereka sekarang sedang beristirahat dulu.
Minuman hangat dan makanan segera dibagikan oleh tim wanita yang sejak tadi dibantu oleh Bram.
"Bang, memangnya mencari di sungai itu sesulit ini, yah?" tanya Nico sambil menggigil kedinginan.
"Iya, masalahnya air pasang bercampur lumpur. Dari tadi kita tidak bisa berenang dan masuk ke dalam air, tidak terlihat apa-apa karena lumpurnya pekat sekali," Arif menjelaskan sambil minum kopi panas.
"Padahal sungai ini tidak terlalu dalam juga yah, paling sekitar dua meteran. Tapi bisa sesulit ini mencari keberadaan mobil itu, yah," ujar Sony sambil memandang ke arah sungai.
"Ya tadi seperti Bang Arif bilang, kita tidak bisa melihat kedalam karena air penuh lumpur. Mungkin kalau air tidak setinggi dan sederas ini akan lebih cepat ditemukannya," sahut Alex menganggapi perkataan Sony.
"Nanti setelah istirahat kita lanjutkan lagi pencariannya, aku curiga mobil terseret jauh ke arah hilir sebelah sana dekat ujung yang curam. Karena di sana agak lebih dalam tapi banyak tanaman rambat. Siapa tahu mobil tersangkut diantara pepohonan rambat itu," kata Arif sambil menunjuk ke arah yang lumayan jauh dari tempat mereka berdiri saat ini.
"Kok, kamu beli nasi putih juga sih?" tanya Jimmy kepada Maya ketika mereka habis pulang kebaktian di gereja dan sekarang sedang membeli masakan sesuai pesan dari Soraya.
"Iya, Oom, kata mama beli nasi sekalian, soalnya mama tadi masak nasi tapi nasinya berbau aneh dan juga biyek. Mungkin mbak Mince salah beli beras," Maya menjelaskan panjang lebar kepada pamannya.
"Hmmm, ya sudah, kamu mau beli apalagi. Sup ayam, puyonghay, cap cay, lalu mau apalagi?" tanya Jimmy.
Maya terlihat bingung tak tahu mau memesan masakan apalagi.
"Terserah Oom sajalah, aku tak paham beli apalagi," sahut Maya.
Jimmy mengacak rambut keponakannya, lalu dia memesan ikan gurame asam manis kesukaan Mario.
"Tapi papa kan tak ada, masa pesan makanan itu?" tanya Maya sambil manyun.
__ADS_1
"Ya tak apa-apa, dong. Masa pesan ikan gurame asam manis saja harus kalau ada papa. Kalau papa sedang tak ada tak boleh pesan itu, yah," tukas Jimmy sambil membalas manyun kepada keponakannya.
"Tidak juga, sih. Enak kok makanan itu. Cuma kalau papa ada kan lebih enak lagi," sahut Maya sambil senyum kepada pamannya.
Setelah semua pesanan makanan itu selesai, Jimmy segera membayar semuanya.
Lalu Maya membawa semua bungkusan makanan itu ke dalam mobil, dan di dalam mobil ada Opa Hansen dan Oma Regina sedang menanti keduanya.
Setelah kebaktian di gereja tadi, kakek dan nenek ini minta agar Jimmy mengantarkan mereka ke rumah Mario.
Keduanya khawatir setelah mendengar Mega semalam sakit, ditambah juga Mario sampai sekarang masih juga belum bisa dihubungi.
Tentunya orang setua mereka menjadi khawatir sekali, dan merasa kasihan kepada Soraya harus mengurus anak yang sakit sendirian.
"Bagaimana keadaan Mega, lalu apakah Mario sudah bisa kamu hubungi?" tanya Opa Hansen ketika masuk ke rumah Mario bertemu dengan Soraya.
"Mega sudah lebih baik, tadi pagi saya pulang gereja juga sudah mau makan," sahut Soraya menenangkan kedua mertuanya.
"Mamih tak sanggup naik ke atas, coba Jimmy kamu lihat Mega sana," kata Oma Regina meminta Jimmy memeriksa keponakannya.
Soraya dibantu Maya menyiapkan makanan yang tadi baru dibeli oleh anaknya itu.
"Mama, ini uangnya Maya kembalikan. Soalnya tadi membeli ini semua pakai uang Oom Jimmy," kata Maya sambil memasukan uang ke kantung baju ibunya.
"Oh, nanti biar mama yang ganti kepada Oom Jimmy," sahut Soraya.
Tak lama Jimmy turun dari tangga sambil menggendong Mega.
"Astaga, cucu Opa sudah SMP masih juga digendong," kata Opa Hansen sambil menyambut cucunya yang menempel erat di gendongan Jimmy.
"Ya begitulah, sama papanya juga begitu, kok. Manja masih suka minta digendong seperti itu," ujar Soraya memberitahu kepada mertuanya.
"Tak apa-apa, selagi Oomnya kuat dan papanya juga masih kuat," sela Oma Regina sambil mengelus dan mencium kepala cucunya yang masih menempel di pangkuan Jimmy yang sudah duduk di salah satu kursi di meja makan.
"Iya, tapi Oom Jimmy ngos-ngosan begini. Kamu itu sudah berat banget sekarang, sudah lebih dari satu ton beras," kata Jimmy sambil mengatur nafasnya.
"Oom Jimmy itu enak, baunya kayak papa," ujar Mega yang tak juga melepas pelukan dipangkuan pamannya.
"Mega, ayo duduk sendiri. Bagaimana Oom Jimmy mau makan kalau kamu menempel terus begitu," Soraya mulai mengomel kepada anaknya.
"Sudah, tak apa-apa. Aku bisa kok makan walau ada karung beras dipangkuanku. Maya, tolong ambilkan Oom nasi dan lauknya," pinta Jimmy.
"Yang banyak, biar aku sekalian disuapi Oom Jimmy," ujar Mega sambil tetap memeluk pamannya.
Maya sambil agak cemberut, sambil menyiapkan permintaan pamannya.
"Soraya, apakah Mario masih susah dihubungi? Memangnya dia kemana sih?" tanya Oma Regina.
"Kemarin sih bilang sama saya mau ke Madura, melihat proyek di sana," sahut Soraya.
"Madura?" Jimmy tentunya kaget mendengar kota itu disebut.
"Pekerjaan di Madura sudah lama beres, kok. Masa ada proyek baru lagi?" Jimmy merasa aneh.
"Memangnya abangmu tak bilang apa-apa kepadamu?" tanya Opa Hansen.
"Justru itu, kemarin Wildan ke kantor menanyakan abang juga. Aku kira abang pergi sama Wildan. Aneh abang itu, tak bilang mau kemana dan sama siapa kepadaku," sahut Jimmy.
Semua saling berpandangan, karena memang cukup aneh kepergian Mario sekarang seperti ada yang dirahasiakan.
Menjelang sore hari, Jimmy dan orang tuanya pamit kepada Soraya dan juga cucunya.
Mega juga kelihatan sudah mulai membaik, dan dia sore ini sudah mulai bisa main game lagi di ponselnya.
Soraya melihat kedua anaknya tampak tenang, maka dia segera mengambil laptop lalu mengerjakan menulis bahan materi dan ujian untuk mahasiswanya.
Pencarian masih berlangsung, sekarang mereka menyisir ke daerah sungai yang agak curam.
Setiap kelompok terdiri dari sepuluh orang, bergantian lima orang turun ke air dan lima orang memegang tali yang mengikat tubuh kawannya yang masuk ke dalam air.
Air sungai sangat deras, kalau tidak diikat tali khawatir malah akan ikut hanyut terbawa air sungai.
Nico sudah sekitar satu jam di dalam air, tubuhnya sudah mulai kelelahan dan menggigil kedinginan karena air sungai sangat dingin sekali.
Ditambah gerimis masih saja berlangsung, sesekali hujan deras lalu mereda dan gerimis tak henti-hentinya.
Nico berenang ke seberang sungai yang agak dangkal, tiba-tiba kakinya tersangkut sesuatu. Lalu Nico berusaha meraih sebatang kayu yang tampak berdiri tegak di dalam air sambil berusaha membebaskan kakinya dari batu yang membuat kakinya tersangkut.
Kayunya ternyata tidak kokoh, ketika dipegang malah tenggelam ke air, kalau di lepas muncul lagi.
Itu adalah dahan kayu yang menancap di dada Asrul, kaki Nico tersangkut diantara ban mobil dan badan mobil.
Kakinya sudah bisa lepas, tapi dia penasaran dengan kayu yang timbul tenggelam tadi, dia terus berusaha menarik-narik dahan kayu tersebut.
Bayi dalam dekapan tangan kaku Asrul sedikit demi sedikit mulai mulai terlepas karena ada guncangan pada tubuh Asrul.
Akhirnya bayi lepas dari dekapan dan muncul ke permukaan air.
Nico melihat ada sesuatu muncul dari dalam air seperti bungkusan kain lalu segera meraihnya, kain seperti selimut kecil dan terasa ada sesuatu dibalik kain tersebut.
Lalu Nico membuka kain itu, dan matanya sontak membelalak.
"Wwwaaaaawww!!!!Aaaaahhhhh!!!TOLOOOONNGG!!!"
Semua orang melihat ke arah Nico yang menjerit-jerit sambil mengangkat sesuatu.
Arif sigap langsung berenang ke arah Nico yang menjerit-jerit ketakutan.
Ketika Arif mendekat Nico terlihat pucat ketakutan, badan dan tangannya gemetar sambil memegang sesuatu di kedua tangannya.
"Ada apa?" tanya Arif yang sudah tiba di hadapan Nico.
Mulut Nico ternganga, nafasnya tersengal tapi tidak bisa keluar kata apapun dari mulutnya, tangan gemetarnya diulurkan kepada Arif.
Langsung saja Arif meraih apa yang dipegang Nico dan melihatnya, ternyata Nico menemukan jenazah seorang bayi.
Arif menginjak-injak apa yang tengah Nico pijak, dan dia segera memastikan kalau itu adalah mobil yang sedang mereka cari.
__ADS_1
Tim evakuasi segera bergerak, Arif membawa jenazah bayi ke tepi sungai dan segera menyerahkan kepada tim forensik.
Nico tampak sedang menangis ketakutan, tubuhnya gemetar menggigil. Dia sangat terkejut luar biasa, tidak menyangka ada jenazah bayi muncul ke permukaan dari dalam sungai.
Rupanya jenazah bayi menerobos kaca jendela yang terbuka setelah terlepas dari dekapan jenazah ayahnya.
Ada dua mobil jenis jeep khusus untuk naik turun gunung terlihat menuruni jalanan jurang, di bagian depan mobil terlihat ada gulungan kawat baja yang ujungnya ada kaitan sling untuk menarik sesuatu.
Arif bersama beberapa anggota lain tampak sedang mengkaitkan cantolan sling ke ujung depan dan belakang mobil yang tenggelam itu.
Tak lama ada aba-aba dari seberang sungai yang menandakan untuk segera menarik mobil itu.
DREEEEETTTTT!!!!!
Kumparan bagian depan mobil mulai berputar menarik mobil dari dalam air. Namun ternyata sulit sekali, mobil tidak bergerak malah yang ada tali baja menarik mobil menuju ke air.
Penarikan itu dihentikan sementara karena terlihat akan membahayakan mobil yang menariknya.
"Mau tak mau harus masuk ke dalam air, karena pasti ada yang membuat mobil ini tersangkut," kata Arif kepada tim yang masuk sedang berada di dekat mobil itu.
Tanpa menunggu aba-aba lagi, Arif segera menenggelamkan diri masuk ke sungai untuk mencari tahu kondisi mobil itu sebenarnya.
Tentu saja apa yang dilakukan Arif segera menggerakan yang lainnya untuk melakukan hal yang sama.
Walau samar-samar karena air penuh lumpur, Arif mencoba mencari penyebab mobil sulit di tarik tersebut.
Rupanya mobil ada di antara dua celah batu besar, dan tersangkut di sana. Butuh tenaga ekstra dan orang banyak untuk bisa membebaskan mobil dari celah tersebut.
Arif memberitahukan komandannya perihal tersebut, lalu komandan Tim SAR dan Kepolisian berunding mencari cara terbaik untuk mengevakuasi korban tersebut.
"Baiklah, daripada kita kesulitan menarik mobil itu di tengah cuaca seperti ini. Lebih baik, kita bersama-sama membongkar mobil lalu membawa seluruh jenazah dan semua tas milik korban untuk diperiksa oleh tim forensik. Mobil bisa ditarik besok atau ketika air sudah mulai surut agar lebih mudah kita membawanya ke tepi sungai sini," begitu kesepakatan antara TIM SAR dan Kepolisian.
Segera Arif membawa seluruh tim, tak terkecuali Sony dan Alex juga ikut serta untuk membawa jenazah dari seberang sungai ke tepian tempat tempat seluruh tim berada.
Mobil terbalik ke arah kanan, sehingga yang di bagian atas itu adalah pintu sebelah kiri.
Cukup sulit juga ternyata membuka pintu mobil, karena pintu mobil juga penyok- penyok tertekuk ke dalam membuat kesulitan menariknya.
Dengan dibantu beberapa orang, akhirnya pintu depan kiri bisa dibuka, ada dua orang di bagian depan.
Yang duduk di kursi samping pengemudi mata kirinya tertancap ujung bingkai kacamata hitam, sementara yang satu lagi pengemudi, kaki menyangkut di antara pedal gas dan rem serta tangan kanannya masuk ke antara kisi-kisi kemudi mobil.
Cukup sulit menangkatnya, harus memotong tali pengaman kursi dulu, baru setelah itu bisa ditarik ke atas.
Pintu belakang merupakan model pintu geser, kondisinya penyok ke dalam sehingga tak mungkin bisa di geser.
Itu rupanya yang membuat Mario kesulitan membukanya, sehingga dia harus menyerah dan tenggelam bersama yang lain.
Kursi samping pengemudi untung masih bisa ditekuk bagian sandarannya, sehingga satu persatu jenazah yang ada di bagian belakang ditarik melalui jalan itu.
Pertama Mario, lalu Asmila, menarik Asrul cukup merepotkan karena dadanya tertancap kayu panjang.
Sementara pihak tim forensik minta agar apapun yang terjadi, jangan mengubah apapun yang ada pada seluruh jenazah.
Sehingga penarikan jenazah Asrul memakan waktu hampir sepuluh menit sendiri agar kayu yang menancap jangan sampai patah.
Selesai jenazah Asrul di evakuasi, lalu satu persatu tas korban mulai di tarik ke atas lewat bagian depan karena pintu bagasi tidak bisa dibuka.
Saat meraih koper besar, baru diketahui masih ada satu jenazah lain yang berada di bawah koper itu.
Lalu beramai-ramai mengeluarkan jenazah tadi melalui pintu depan lagi, setelah itu tim kembali menyisir seluruh isi mobil dan mengeluarkan semua barang yang ada sambil memeriksa takut ada jenazah lagi yang tertinggal.
Salah satu anggota Polisi berusaha mencabut plat nomor mobil, untuk diperiksa kepemilikan mobil tersebut.
Seluruh jenazah beserta barang milik korban tenggelam dibawa ke rumah sakit POLRI untuk dilakukan otopsi dan juga pemeriksaan data korban.
Di rumah sakit seluruh jenazah dibawa ke laboratorium forensik, dan dokter Murat yang menjadi ketua tim pemeriksaan tersebut sedang memulai pemeriksaan bersama timnya.
Sementara penyidik Kepolisian juga turut serta di ruangan itu memeriksa seluruh tas dan barang bawaan korban yang bisa dijadikan petunjuk data korban.
"Jenazah ini bernama Asmila, berusia dua puluh sembilan tahun, berasal dari kota Cirebon," kata penyidik sambil mencocokkan tanda pengenal di tangannya dengan wajah korban.
"Korban meninggal dengan leher patah akibat benturan keras di bagian dalam mobil. Dipastikan korban meninggal seketika, karena tidak terlihat ada tanda-tanda panik di dalam air," ujar dokter Murat kepada tim penyidik.
"Korban yang ini bernama Asrul, usianya sekitar tiga puluh enam tahun. Meninggal karena ada kayu runcing menancap ke dadanya. Kemungkinan besar kaca mobil pecah terhantam pohon besar, lalu ada dahan runcing menerobos jendela dan menancap ke dada korban," ujar dokter Murat menjelaskan kepada penyidik.
"Benar analisa dokter, karena di lokasi ditemukan ada pohon tua yang tumbang. Lalu kami menemukan banyak pecahan kaca di sana," sahut penyidik membenarkan.
"Ada lagi pak, korban tampaknya ketika di dalam mobil sedang memeluk bayi. Terlihat dari kedua tangannya menekuk, tampaknya korban saat itu menahan sakit sambil memeluk anaknya," kata dokter Murat sambil menunjuk jenazah bayi yang ada di sebelah korban itu.
"Bayi ini kehabisan nafas sebelum masuk ke air, karena tertekan tangan dan tubuh ayahnya. Terlihat bagian wajahnya membiru, dan hampir seluruh tubuh kecilnya juga mulai membiru karena kehilangan oksigen," lanjut dokter Murat.
"Yang ini bernama Jena, usianya baru dua puluh enam tahun, berasal dari kota Pagar Alam, Palembang. Meninggal karena tertimpa benda berat, kemungkinan koper besar itu telah menimpa kepalanya dengan sangat keras. Sehingga bagian kepalanya retak, dan korban sudah meninggal sebelum masuk ke dalam air".
Penyidik menganggukan kepala sambil terus melakukan pemotretan kepada setiap jenazah sambil mendengar penuturan dokter Murat.
"Kedua korban ini yang duduk di bagian depan, yang satu yang matanya tertancap ujung bingkai kacamata bernama Darman, berasal dari Lampung Utara, usianya tiga puluh delapan tahun. Kepalanya juga mengalami benturan tapi tidak retak, dan diperkirakan korban pingsan sebelum masuk ke dalam air. Namun korban tidak sempat bangun lagi saat berada di dalam air".
"Ini pengemudi, bernama Sansan, usianya tiga puluh dua tahun, berasal dari Kota Palembang. Dadanya retak karena membentur kemudi, ini terjadi karena dia tidak memakai sabuk pengaman dengan benar".
"Lalu bagian kepala membentur kaca mobil, terlihat ada luka akibat goresan kaca di keningnya. Korban saat meninggal terlihat ada upaya ingin membebaskan diri dari air, tapi tidak bisa karena dadanya sakit juga kakinya tersangkut pedal. Ada luka besar di pergelangan kaki kanan korban, tampak upaya membebaskan kakinya tapi tidak bisa".
"Yang terakhir ini bernama Mario, berasal dari Kota Depok, usianya empat puluh lima tahun. Dia yang paling terakhir meninggal, terlihat ada upaya korban berusaha menyelamatkan diri sebelum akhirnya tenggelam. Tapi usahanya tidak berhasil, karena air masuk ke dalam mobil begitu cepat dan deras. Ditambah orang ini punya masalah dengan penyakit di paru-parunya, sehingga tidak bisa membuatnya lama-lama menahan nafas di dalam air," dokter Murat menyampaikan semua hasil otopsinya dengan detil dan terperinci.
"Ibu bayi ini yang mana, dokter?" tanya penyidik.
"Yang ini," sahut dokter Murat menunjuk ke jenazah Jena.
"Wanita yang ini belum pernah melahirkan sama sekali, kemungkinan wanita ini juga memang belum pernah hamil," kata dokter Murat sambil menunjuk jenazah Asmila.
"Tapi antara ayah bayi dan ibu bayi memiliki data alamat berbeda di kartu pengenalnya. Apakah mereka pasangan di luar nikah?" penyidik tampak curiga.
Karena bayi ada di pelukan lelaki yang tidak memiliki alamat yang sama di kartu pengenalnya masing-masing.
Salah satu penyidik kemudian memeriksa lagi tas Jena dan Asrul, dari selipan dompet Asrul ada kertas terlipat tersembunyi.
Lalu penyidik itu membuka lipatan itu, dan tertera sebuah surat pernyataan yang dikeluarkan dari salah satu pengurus masjid di kota Semarang.
__ADS_1
"Mereka baru melakukan pernikahan siri sekitar dua minggu lalu," ujar penyidik tersebut.
"Baik, kita segera laporkan kepada komandan, lalu untuk keluarga yang paling dekat alamatnya akan kita cari. Sementara yang lokasinya jauh, akan kita kirim datanya melalui email ke Kepolisian di kota masing-masing," ujar ketua tim penyidik kepada semua bawahannya.