PENGKHIATAN CINTA

PENGKHIATAN CINTA
Warna Warni Hari Sabtu


__ADS_3

Hampir seharian Soraya mencari berkas berupa polis asuransi seperti yang Asmida sampaikan di telepon kemarin.


"Wujudnya seperti apapun aku tak paham. Tapi aku harus mencari berkas itu karena penasaran sama orang yang namanya Asmida," gerutu Soraya sambil membuka satu per satu laci yang berada di ruangan menonton televisi.


Kedua anaknya sejak tadi menghilang, mereka pasti segera bersembunyi kalau terlihat ibunya sedang uring-uringan.


Daripada menjadi sasaran empuk omelan ibunya, mereka memilih sembunyi sambil mengintip apa sebenarnya yang di cari dan dilakukan oleh ibunya.


Ditemani Mince, kedua kakak beradik ini terlihat berjongkok di bawah rak piring sambil ketiganya mengintip Soraya.


"Serba salah, kalau didekati dan ditanya mencari apa, pasti kita malah kena omel," bisik Maya dan diikuti anggukan adiknya.


"Tapi Mince sepertinya harus bantu mama, tak enak hati Mince cuma mengintip bareng non berdua," bisik Mince.


Maya dan Mega saling melirik, lalu keduanya menatap Mince.


"Mbak Mince yakin?" ujar keduanya sambil berbisik.


Mince menganggukan kepala, lalu Maya dan Mega memeluknya sambil memberi semangat.


"Hati-hati, mbak. Kalau dibentak nanti cepat kembali kemari," bisik Mega.


Mince menganggukan kepala, lalu berdiri sambil berjinjit mendekati Soraya yang sedang membongkar isi laci lemari di bawah televisi.


"Nyonya, ada yang bisa Mince bantu?" tanya Mince perlahan.


Soraya sejenak terdiam, lalu kepalanya perlahan bergerak menoleh ke arah Mince.


"Anak-anak dimana?" tanya Soraya dingin.


"Ada di halaman belakang, nyonya".


"Suruh mereka cepat beres-beres pakaian, karena satu jam lagi akan dijemput oleh bang William. Mereka akan diajak ke Bandung oleh mamih Rosalinda".


Tentu saja Maya dan Mega mendengar, mereka saling melirik dan berbisik "Yes", lalu keduanya menempelkan kepalan tangan.


"Baik nyonya, Mince sampaikan kepada mereka sebentar, yah".


"Bantu mereka berkemas, jangan sampai William datang menjemput nanti malah mereka belum siap!!!".


"Oke!!!".


Sementara pagi yang sama di rumah oma Regina, terlihat Jimmy sedang bersiap berangkat ke kantor.


"Jimmy!" panggil oma Regina.


"Ya, ada apa mamih?"tanya Jimmy.


"Begini, kemarin sore mamih menelepon Kristy. Mamih mengajak dia untuk ikut makan siang hari minggu besok di rumah kita ini. Tapi barusan mamih di telepon Rosalinda, katanya mamih dan papih akan diajak ke Bandung untuk menginap di villa mereka," Oma Regina berkata sambil terlihat bimbang.


"Maksud mamih, rupanya mamih ingin tahu villa bang Robert dan kak Rosa, tapi mamih juga sudah ada janji mengundang Kristy. Jadi mamih bingung harus bagaimana?"Jimmy menegaskan.


Oma Regina mengangguk sambil menatap Jimmy.


"Sudah, mamih dan papih ikut keluarga bang Robert saja. Jalan-jalan ke Bandung, refreshing. Urusan Kristy biar nanti Jimmy yang selesaikan," ujar Jimmy sambil merangkul ibunya yang sudah mulai tua.


Tangan Jimmy segera digenggam oleh oma Regina, digenggam erat sambil berkata," Jim, ayo cepat menikah. Kristy tampaknya gadis baik, mandiri dan juga cekatan pandai memasak. Kamu mau cari yang bagaimana lagi".


Jimmy melirik ibunya, lalu mengecup kening ibunya.


"Sudah, mamih jangan banyak pikiran tentang Jimmy. Urusan jodoh biar Tuhan yang mengatur, mamih doakan saja Jimmy mendapatkan jodoh terbaik".


Oma Regina menyandarkan kepalanya ke dada anaknya, beliau sangat berharap anak bungsunya segera menemukan jodohnya.


Di tempat lain, tepatnya di kediaman Aliong, terlihat Aliong dan Yu Chen sedang berbincang-bincang serius dengan Asiaw adiknya.


"Kapan rencananya membuka bengkel itu?"tanya Aliong kepada adiknya.


"Rencananya tiga bulan lagi, karena temanku yang punya modal masih ada di luar negeri," jawab Asiaw.


Pagi itu Asiaw menyampaikan kalau ada temannya mengajak bergabung untuk membuat perluasan bisnis menjadi bengkel perbaikan body mobil dan juga servis mesin seperti yang Asiaw lakukan selama ini.


Ada temannya ahli ketok dan cat body mobil, dan Asiaw ahli dalam perbaikan mesin mobil.


Lalu ada satu orang lagi teman mereka yang mempunyai modal untuk membiayai terwujudnya bengkel besar itu.


Asiaw punya tempat, sementara teman-temannya punya keahlian dan punya modal.


Namun, mau tak mau keluarga Aliong harus tersingkir dari belakang bangunan bengkel yang selama ini ditempati oleh keluarga kecilnya.


"Ko Aliong jangan khawatir, temanku nanti akan membayarkan uang kontrak rumah atau kalau mau beli rumah nanti uang mukanya akan diberikan kepada koko," ujar Asiaw sambil merasa tak enak hati.


"Masalahnya sekarang cari rumah kontrakan yang terjangkau atau mencari rumah yang harganya miring itu tidak mudah. Semuanya butuh waktu, sementara aku juga baru mulai kerja," ujar Aliong terkesan agak keberatan dengan permintaan adiknya.


"Aku paham, nanti aku bantu juga mencari rumah untuk koko dan keluarga. Setidaknya ini bangunan punya orang tua kita dulu, aku juga rencananya akan memberikan uang ganti rugi untuk koko terutama kepada cici Yu Chen yang sudah merawat rumah selama ini," ujar Asiaw melanjutkan penjelasannya.


"Kalau benar akan ada uang dari Asiaw dan temannya, aku pribadi tidak keberatan. Nanti aku minta bantuan teman-teman di tempat senam. Setidaknya kita akan punya rumah tinggal lebih layak, walau mungkin tidak besar tapi setidaknya bentuknya bangunan rumah," sela Yu Chen yang malah terlihat gembira.


"Nanti kita bicarakan lagi, yang pasti aku mendukung rencana pengembangan usaha kamu. Dan mungkin memang sudah saatnya aku juga mencari tempat tinggal yang lebih layak untuk keluargaku," kata Aliong mengakhiri pertemuan di pagi itu.


Aliong harus segera pergi ke lapangan untuk memeriksa proses persiapan pembangunan gedung kampus yang akan segera berlangsung pada hari senin depan.


"Siaw, nanti kalau mau renovasi bangunan ini, tolong....kamu harus pakai jasa perusahan tempat aku kerja," kata Aliong sambil menatap tegas ke arah adiknya.


"Hahahaha, siap...aku pasti akan rekomendasikan perusahaannya Jimmy," sahut Asiaw dengan membuat tanda setuju di tangannya.


Beranjak menjelang siang hari, di kota Semarang terlihat ibu Edmun begitu sibuk mempersiapkan makan siang untuk calon menantunya.


Sudah lama ditunggu olehnya, akhirnya Magenta pulang ke rumah membawa kekasih.


Apalagi kekasihnya adalah anak seorang pejabat, dan juga mempunyai pekerjaan yang sangat bagus yaitu pemilik beberapa gedung apartemen.


Ibu Edmun begitu senang hatinya, setidaknya sekarang beliau berpikir dan merasa akan segera mempunyai menantu yang sederajat dengan keluarganya.


Sementara Aletha sedang melepas rindu dengan anaknya Edwin, keduanya sejak pagi tadi sudah pergi berdua berjalan-jalan menikmati udara pagi sambil berburu kuliner makanan khas tradisional.


"Bunda, apa benar kata teman- temanku kalau ayah meninggal bersama selingkuhannya. Apa sih selingkuhan itu, bunda?" tanya Edwin ketika sedang menikmati kuliner bersama ibunya.


"Hmmm, apa yah...bunda juga tidak tahu apa artinya itu. Sudahlah jangan dipikirkan, lebih baik kamu habiskan kue serabi manis ini, lalu kita segera pulang karena oma pasti sudah menanti," sahut Aletha tak mau menjelaskan arti yang ditanyakan oleh anaknya tadi.


"Edwin, nanti kita tinggal berdua saja di rumah kita, mau atau tidak?" tanya Aletha.


"Mau, tapi kamar kerja ayah harus dibongkar dulu. Aku tidak mau kalau mendengar bunyi langkah monster seperti dulu".

__ADS_1


"Monsternya sudah hilang nak, sudah hanyut terbawa air lautan".


"Apa benar, bunda?".


Aletha hanya tersenyum sambil mengangguk kepalanya, ditatapnya anaknya yang sedang makan dengan lahap. Lalu dia mengelus kepala anaknya sambil menahan linangan air mata di ujung matanya.


"Bunda cantik kalau pakai hijab begini, hampir semua ibunya teman-temanku juga memakai hijab seperti bunda sekarang".


"Edwin senang melihat bunda pakai hijab, nak?".


"Senang sekali, bunda jadi lebih cantik. Aku sayang sama bunda".


Aletha berjalan sambil merangkul bahu anaknya, bahagia sekali rasa di hati mendengar anaknya memuji dirinya.


Siang harinya Reynaldi datang ke rumah Magenta, kemarin setibanya di kota Semarang, dia menginap di sebuah hotel yang tidak jauh dari kediaman orang tua Magenta.


Ibu Edmun menyambut dengan sangat gembira, beliau segera sibuk menyiapkan berbagai makanan enak terhidang di atas meja makan di rumah itu.


Begitu juga dengan pak Edmun, beliau terus menanyakan tentang keluarga dan orang tua Reynaldi.


"Orang tua saya berada di Padang, keluarga kami ada usaha kain di sana. Sedangkan saya berusaha di Jakarta, gabung dengan beberapa teman. Bisnis pengembangan apartemen yang harganya terjangkau," sahut Reynaldi ketika ditanya asal usulnya oleh pak Edmun.


"Siapa nama ayahmu? saya lupa tadi, siapa tahu saya kenal dengan beliau, yah...siapa tahu ada jalur bisnis ke depannya," ujar pak Edmun lagi.


"Burhan Bachtiar," sahut Reynaldi.


"Walah, Bupati dong. Aku kenal dengan beliau, pernah bertemu beberapa kali. Namun memang tidak sempat banyak berbincang, tapi aku tahu beliau. Hahahahaha, ternyata kamu anak Bupati," terdengar pak Edmun begitu riang mendengar akan punya besan pejabat.


"Ayo....!!! makan dulu semua, sudah tersaji di meja makan. Ngobrolnya nanti lagi," Ibu Edmun mengajak semua untuk makan siang bersama.


Magenta segera mendekati kekasihnya dan mengajaknya menuju ruang makan.


Banyak sekali yang dihidangkan ibu Edmun, sebagian besar beli dari rumah makan terkenal.


Semua orang di ruangan makan itu sangat menikmati hidangan yang sangat enak tersebut.


"Jadi rencana kalian selanjutnya, bagaimana?" tanya Ibu Edmun kepada Magenta dan Reynaldi.


Magenta dan Reynaldi saling bertatapan, lalu Reynaldi segera berbicara mengenai rencananya akan segera meminang Magenta untuk menjadi istrinya.


"Alhamdulillah, mamih dan papih sangat senang mendengarnya. Kami berharap agar rencana pernikahan kalian bisa dipercepat, jangan ditunda lagi terlalu lama," sahut ibu Edmun begitu terlihat senang.


"Apalagi kalau setelah menikah, kalian mau tinggal di sini dan pindah kerja ke kota ini. Nanti kalian punya anak, biar papih dan mamih yang akan menjaganya," Pak Edmun turut berkata-kata.


"Jangan!!!" tiba-tiba Aletha menyela.


Semua mata langsung menatap dirinya yang tengah membalas semua tatapan keluarganya.


"Jangan pernah kalian kembali kemari dan menitipkan anak kalian kepada mamih dan papih. Sudah cukup Edwin saja dan aku yang merasakan. Kalian nanti kalau sudah menikah, berjuanglah sendiri tanpa bantuan orang tua".


"Sudah saatnya aku juga akan membawa Edwin tinggal bersamaku. Susah dan senang punya rumah tangga, repot dan lelah mengurus anak, harus kalian rasakan berdua. Jangan seperti aku lagi, sudah cukup tidak ada lagi Aletha kedua".


"Mamih dan papih juga harus bisa membiarkan anak-anak berumah tangga dengan kebahagiaan dan kesulitannya sendiri. Tidak perlu lagi mengurus semua masalah rumah tangga anak lagi," akhirnya Aletha mengeluarkan semua uneg-uneg yang selama ini tersimpan dalam hatinya.


"Maksudmu apa, Aletha?" tanya pak Edmun terlihat tersinggung.


"Maksud Etha, sudah saatnya Genta dan Rey nanti menikah, tetap dengan keputusannya berdua, merasakan senang dan sudah menjalankan biduk rumah tangga berdua tanpa ada campur tangan orang lain bahkan orang tua sekalipun. Kelak mereka punya anak, biarkan mereka yang merawat, membesarkan dengan cara mereka," sahut Aletha dengan berapi-api.


"Etha juga akan segera pindah, aku punya rumah sendiri. Jadi aku dan Edwin akan tinggal di rumah sana berdua".


"Mamih, Etha mengucapkan terima kasih selama ini sudah merawat Edwin. Sekarang saatnya Etha sendiri yang harus membesarkan dia dengan didika Etha sendiri," sahut Aletha tegas.


"Edwin mau ikut bunda," sela anaknya sambil memeluk Aletha.


Reynaldi dan Magenta tentu saja terdiam saat melihat keadaan berubah menjadi panas.


"Kak Etha, rasanya tidak tepat membahas hal ini sekarang," ujar Magenta gusar.


"Tidak Gen, ini tepat. Kalian harus punya prinsip, jangan seperti aku. Lakukan semua rencana kalian, atur sendiri rencana pernikahan kalian, rencana setelah kalian menikah dan punya anak nanti. Jangan seperti aku lagi, aku orang yang tidak punya prinsip, tidak bisa mengambil keputusan. Dan akhirnya kamu lihat nasibku seperti sekarang," ucap Aletha lagi dengan mantap.


"Jadi kamu menyalahkan papih dan mamih penyebab suamimu selingkuh bahkan sampai kabur lalu meninggal?" Pak Edmun buka suara kesal.


"Etha tidak menyalahkan, hanya sekarang adalah saatnya papih dan mamih sudah tidak perlu lagi ikut campur urusan anak dan rumah tangganya. Kami sudah dewasa, saatnya kami menentukan pilihan hidup kami selanjutnya".


"Dulu mungkin papih dan mamih saat awal menikah pernah hidup susah. Jadi sampai sekarang masih dihantui rasa takut kalau aku dan Genta juga akan hidup susah".


"Padahal justru kesusahan yang harus dialami dan dirasakan oleh orang menikah. Sebagai tanda pengikat ketulusan cinta, bahwa hidup pernikahan itu tak selamanya bahagia. Susah senang harus dirasakan berdua, agar rasa cinta akan semakin kuat. Kalian harus ingat itu, Rey dan Genta, apapun yang terjadi dalam kehidupan rumah tangga kalian kelak. Ingat selalu, jalani dan selesaikan berdua, jangan bawa orang lain dulu ke dalam masalah kalian. Terkecuali terjadi sesuatu yang memang seharusnya orang lain tahu," ujar Aletha mengakhiri bicaranya.


"Maaf, memang saya dan Genta sudah punya rencana untuk tetap tinggal di Jakarta. Kami berdua memang sama-sama tidak ada sanak keluarga di Jakarta. Jadi kami berdua sudah punya kesepakatan untuk menjalani kehidupan rumah tangga nanti berdua di sana," ujar Reynaldi menjelaskan kepada keluarga Magenta calon istrinya.


Dan Magenta menggenggam tangan kekasihnya, dia juga memang setuju dan sudah saling sepakat untuk menjalani kehidupan rumah tangganya kelak di Jakarta berdua saja dengan Reynaldi.


Sore harinya Aletha membawa hampir semua pakaiannya juga milik anaknya ke dalam mobil. Disisakan beberapa potong untuk sesekali menginap di rumah orang tuanya itu.


Magenta dan Reynaldi juga ijin pamit kembali ke Jakarta naik kereta malam setelah membantu pindahan Aletha.


Pak Edmun dan istrinya hanya bisa diam, dalam hati mereka sadar kalau selama ini memang mereka telah sengaja membuat skenario untuk kehidupan rumah tangga Aletha dan Asrul.


Keduanya memang punya trauma takut Aletha merasakan susah hidup kalau hanya hidup berdua dengan suaminya, tapi nyatanya salah besar. Seharusnya dulu mereka membiarkan Aletha dan Asrul membangun mahligai rumah tangga tanpa harus ada campur tangan orang lain bahkan orang tua sekalipun.


"Oma, opa, nanti sesekali Edwin pasti menginap di sini. Sekarang Edwin ikut bunda, kasihan bunda sendiri di rumah," ujar cucunya yang membuat kedua kakek nenek menjadi semakin sedih.


Tapi mau tak mau, kenyataan seperti itu harus terjadi. Semua orang berhak memilih dan menentukan jalan hidupnya, bahkan untuk keluarganya.


Hanya lambaian tangan sambil menitikkan air mata yang bisa dilakukan suami istri Edmun Nayoan, mereka harus ikhlas kalau kedua anak perempuannya sekarang sudah dewasa dan harus menentukan jalan hidupnya masing-masing.


Kembali ke Jakarta, Jimmy dan Aliong sedang berada di lokasi lahan pembangunan kampus.


Bahan-bahan bangunan masih berdatangan, saat ini Jimmy mengadakan rapat kecil dengan Aliong selaku manager lapangan dan juga dengan mandor bangunan.


Jimmy mengatur ada beberapa orang yang bisa dijadikan penjaga malam juga karena berasal dari luar kota, sehingga mereka minta ijin membuat tempat untuk istirahat sekedar mess yang terbuat dari kayu tripleks.


"Hari ini sampai nanti malam diperkirakan masih akan ada barang datang, nanti ko Aliong dan babeh Jupri mandor kita yang akan mengawasi proses penurunan dan penataan barang seperti kemarin".


"Semalam ada yang sudah tidur di sini, Awang, Toto dan Usep. Nanti yang mau tidur lagi di sini di data sama ko Aliong. Karena yang tidur di sini harus sekalian bergantian jaga malam, khawatir ada orang mau mencuri. Nanti ada honor tambahan untuk yang jaga malam".


"Yang rumahnya masih di kota ini, silahkan pulang saja ke rumah masing-masing. Yang tinggal di mess kayu hanya untuk yang berasal dari luar kota. Makan siang dan malam, silahkan ambil di mpok penjual nasi di tenda bawah pohon sana. Nanti akan dicatat dan seminggu sekali akan dibayar".


"Nanti hari senin pagi akan ada sedikit acara seremonial peletakan batu pertama oleh pemilik yayasan. Akan ada awak media, jadi tolong besok hari minggu semua lembur. Halaman di bersihkan dan dirapihkan, jangan ada yang berantakan".


"Ko Aliong dan babeh Jupri, tolong besok juga harus masuk periksa kondisi lapangan untuk memastikan semua pekerjaan merapihkan lapangan beres".


"Kalau ada pertanyaan silahkan ajukan sekarang," ujar Jimmy setelah memberikan instruksi secara panjang lebar.

__ADS_1


"Boss, maaf tanya, apakah kami kerja di sini ada asuransinya?" tanya Usep salah satu pegawai bangunan.


"Tenang, kalian semua ada kontrak kerjanya dan dilindungi asuransi kecelakaan diri. Kita kerja mulai dari jam delapan pagi sampai jam enam sekitar sepuluh jam lamanya, hari sabtu hanya sampai jam tiga sore saja lalu minggu libur".


"Proyek ini harus selesai dalam dua belas bulan, tapi saya perkirakan sepuluh bulan juga sudah selesai. Kalau ada apa-apa, semua harus saling koordinasi. Pegawai bangunan silahkan sampaikan ke babeh Jupri, nanti beliau yang akan bicara dengan ko Aliong, baru nanti ke saya".


"Paham semuanya?" tanya Jimmy lagi.


"Paham, boss!!!" serempak para pegawai bangunan berseru seperti itu.


Lalu para pegawai bubar, tinggal Jimmy bertiga dengan Aliong dan babeh Jupri saling berbincang bertiga. Mengatur pekerjaan yang akan segera dilaksanakan pada hari senin nanti.


"Siap, saya pasti lebih banyak keliling lapangan memeriksa pekerjaan para tukang," ujar babeh Jupri.


"Kalau saya penanggung jawab lapangan, jadi ada apapun nanti babeh harus koordinasi dengan saya sebelum ke boss Jimmy," Aliong juga menyatakan kesepakatannya tentang pekerjaan itu.


"Aku tak bisa selalu di sini, karena ada pekerjaan lain yang kontrak kerja dengan pak Wildan. Nanti ko Aliong kalau butuh sesuatu di kantor, koordinasi sama Ferry dulu yah. Dia manager di kontrak kerja kita di sini," Jimmy menjelaskan lagi kepada keduanya.


Baik Aliong maupun babeh Jupri memahami kesibukan Jimmy, dan mereka sepakat untuk saling bahu membahu membantu Jimmy mewujudkan pembangunan kampus ini.


Tak lama babeh Jupri pamit untuk memeriksa pekerjaan anak buahnya, dan setelah tinggal mereka berdua saja, lalu Jimmy berpikir ingin mencurahkan isi hati kepada Aliong.


"Ko Aliong".


"Jimmy".


Ternyata mereka berdua berbarengan saling memanggil nama, dan terlihat di wajah masing-masing seperti ingin menyampaikan sesuatu.


"Aku punya masalah," ujar Aliong.


"Sama, aku juga punya masalah," sahut Jimmy.


"Silahkan Jimmy dulu, ada apa?".


"Tidak, ko Aliong dulu saja. Masalah yang aku hadapi tidak terlalu penting".


Aliong terdiam sejenak, namun Jimmy memberi tanda agar Aliong segera menyampaikan permasalahannya.


Maka Aliong mulai mengutarakan masalah tempat tinggalnya sekarang yang akan diubah menjadi bengkel lebih besar oleh adiknya.


Setidaknya Aliong merasa bingung akan tinggal dimana walau memang akan diberi uang untuk pindah, tapi tentu tidak akan bisa dipakai untuk membeli sebuah rumah.


"Nanti dulu, aku ingat jaman dulu ada nasabah yang rumahnya belum selesai dibangun bang Rio. Tapi karena suatu hal, orang itu bangkrut dan tidak bisa membayar biaya pembangunan. Lalu memberikan sertifikat tanah dan bangunan belum selesai kepada bang Rio sebagai uang pembayaran," Jimmy tiba-tiba ingat akan kisah lama tentang orang yang tak mampu lagi membayar pembangunan rumahnya kepada Mario.


"Lalu rumah itu diapakan oleh Mario?" tanya Aliong.


"Hmmm, kalau tidak salah belum diapa-apakan. Aku tidak terlalu paham karena waktu itu urusan bang Rio, jadi aku tidak terlalu turut campur," sahut Jimmy.


"Mungkin nanti ko Aliong bisa tanya mbak Marsela, sebab yang memegang data semuanya adalah dia".


Aliong hanya mengangguk saja, dalam benaknya terpikir andai saja rumah itu bisa diajukan sebagai cicilan ke kantor, dengan nilai cicilan murah dan terjangkau dengan gajinya saat ini.


"Kalau masalahmu apa, boss Jimmy?" tanya Aliong.


"Kebiasaan deh memanggil aku dengan sebutan boss".


"Hahahaha, ini di lapangan bro, gue harus jaga wibawa lu, dong".


"Hmmm, enggak ada siapa-siapa cuma berdua saja kita. Jangan panggil aku boss".


"Hahahaha, oke Jimmy. Ada apa gerangan?".


Lalu Jimmy menceritakan soal pembicaraan dia dengan ibunya tadi pagi soal janji dengan Kristy.


Oma Regina tadinya ingin mengajak Kristy makan siang di rumahnya, tapi rupanya beliau diajak keluarga Robert untuk menginap di villa di Lembang Bandung.


"Kalau gue jadi elu, bakal gue telepon atau datangi dia. Bikin janji besok akan dijemput makan siang. Nah, pergunakan kesempatan untuk kalian saling memperbaiki hubungan. Siapa tahu dari teman biasa nanti jadi pasangan hidup," ujar ko Aliong memberi ide peluang kepada Jimmy.


"Masalahnya gue sejak putus sama pacar jaman dulu. Sudah lama tidak pernah menjemput perempuan. Apalagi perempuan baik-baik seperti dia. Belasan tahun gue kagak pernah urusan hati sama perempuan. Bingung gue, apakah gue bisa? setidaknya terpikir juga kalau gue harus punya rumah tangga," keluh Jimmy merasa ragu.


"Kalau benar mau punya istri, ayo semangat. Umurmu sudah tidak muda lagi, kalian sudah sepantasnya menikah," ujar Aliong lagi memberi semangat.


Jimmy terdiam dan terlihat berpikir keras, Aliong menepuk bahunya sambil pamit berlalu akan memeriksa pekerjaan di lapangan.


Hari menjelang malam, semua bahan bangunan tahap pertama sudah selesai diterima di lapangan untuk hari senin nanti mulai pembangunan.


Sebelum pulang Jimmy bersama Aliong dan babeh Jupri memeriksa kembali semua penataan barang dan juga catatan barang masuk.


"Besok libur, karyawan yang menjaga nanti diberikan uang tambahan. Hari senin pagi ko Aliong dan babeh Jupri harus sudah bersiap di sini jam tujuh pagi, saya juga akan berada di sini pada jam itu. Dan kita bertiga memakai pakaian batik," demikian instruksi dari Jimmy.


Pulang dari lapangan, sengaja Jimmy mampir ke rumah makan milik Kristy.


Suasana sangat ramai, seperti sedang ada orang yang merayakan sebuah acara di sana.


Kristy terlihat juga sedang melayani pesanan orang-orang tersebut.


"Jimmy, ada apa?" tanya Kristy ketika melihat sosok Jimmy berdiri di depan pintu masuk.


"Besok aku jemput kamu, bisa?" tanya Jimmy.


"Ya, bisa. Jam sepuluh pagi saja," sahut Kristy sambil sibuk.


"Oke, maaf aku mengganggu".


"Maaf juga, aku sangat sibuk hari ini," sahut Kristy sambil melambaikan tangan.


Jimmy kemudian berbalik menuju keluar pintu, dan dia tak sengaja bertabrakan dengan seorang wanita sampai hampir terjatuh.


"Maaf bu, saya tidak sengaja".


"Tak apa-apa, pak. Eh...Jimmy?" sapa wanita itu.


Jimmy menatap wanita yang ternyata mengenalinya.


"Yanti?".


"Hai, apa kabar?" tanya wanita yang ternyata bernama Yanti itu.


"Baik,eh...aku pulang dulu," sahut Jimmy sambil segera berlalu.


Yanti menatap Jimmy yang memasuki mobil dan tidak menatap balik lagi kepada dirinya.


Hanya menghela nafas yang bisa dilakukan Yanti, dia adalah mantan kekasih Jimmy.

__ADS_1


Malam itu rupanya ada undangan ulang tahun salah satu temannya di Big Beauty Resto.


__ADS_2