PENGKHIATAN CINTA

PENGKHIATAN CINTA
Rupa-rupa Kisah


__ADS_3

Senin pagi Jimmy sudah berada di lapangan pembangunan kampus, dia sudah siap memakai pakaian kemeja batik.


Ditemani Aliong, Ferry dan Marsela, terlihat Jimmy begitu antusias dengan acara peletakan batu pertama nanti.


Aliong sudah mempersiapkan batu dan juga tanah yang sudah dilubangi untuk nanti ibu Ivanna akan meletakan batu ke dalam lubang sebagai tanda pembangunan kampus dimulai.


Beberapa awak media juga sudah hadir lebih awal, bahkan beberapa dari awak media telah mewawancarai Jimmy sebagai kontraktor yang akan melaksanakan pembangunan kampus tersebut.


Tak lama datang rombongan mobil, ada sekitar lima mobil mewah memasuki pelataran lahan tersebut.


Setelah mobil berhenti tampak beberapa ajudan keluar terlebih dahulu, membuka pintu mobil sedan mewah.


Lalu turun ibu Ivanna beserta dengan anak gadisnya yaitu Kristy yang hari itu datang memakai pakaian batik terusan yang model dan warnanya senada dengan ibunya.


Sontak awak media langsung menyambut beliau, dan hanya disambut dengan senyum ramah dari ibu Ivanna dan juga Kristy kepada seluruh teman media.


Dari mobil di belakangnya terlihat Louis Orlando dan juga Andreas Cheung turun dan segera berjalan mengikuti langkah ibunya yang sedang disambut oleh Jimmy dan juga tim kerjanya.


Jimmy menjabat tangan ibu Ivanna, lalu menjabat tangan Kristy sambil senyum dan tatapan yang dalam menuju hati sang gadis.


Setelah itu baru menyalami Louis Orlando dan juga Andreas Cheung.


Jimmy memperlihatkan rencana kerjanya kepada ibu Ivanna, lalu menunjukkan letak-letak rencana setiap bangunan yang akan segera dilaksanakan prosesnya.


Sambil berjalan kaki menjelaskan kepada Ibu Ivanna, sesekali Jimmy mencuri pandang kepada Kristy yang berjalan di samping ibunya sambil senyum kesana kemari membalas pertanyaan awak media.


Louis ikut mendengarkan semua yang Jimmy sampaikan kepada ibu Ivanna, dan sesekali mengajukan pertanyaan juga sekedar memastikan kalau Jimmy akan melaksanakan pembangunan sesuai kontrak kerja yang sudah disepakati.


Setelah berkeliling melihat persiapan dan kesiapan pembangunan, kemudian tibalah pada acara sambutan, pidato dari ibu Ivanna dan peletakan batu pertama untuk pelaksanaan pembangunan.


Kemudian ibu Ivanna dibawa ke sebuah sudut di lapangan luas itu, di sana sudah terpampang spanduk bertuliskan "Peletakan Batu Pertama - Sekolah Tinggi Perhotelan dan Bahasa".


Di bawah spanduk sudah disediakan batu, cangkul dan juga tanah yang sudah dilubangi.


Saat ibu Ivanna berdiri di depan semua orang yang hadir saat itu, di belakangnya berdiri Louis, dan Andreas.


Sementara Kristy tiba-tiba berpindah tempat dan berdiri di sebelah Jimmy berdiri menghadap ibu Ivanna yang tengah pidato.


"Kok tidak bilang akan kemari?" bisik Jimmy kepada Kristy sambil melirik saja.


"Mendadak diajak," sahut Kristy sambil wajahnya lurus menghadap ibunya yang sedang pidato.


"Pasti belum sempat menata rambut yah?" bisik Jimmy sambil melirik ke arah Kristy yang rambutnya tampak bergelombang agak kusut.


"Memang, pasti jelek yah," sahut Kristy tetap wajahnya lurus ke depan.


"Cantik kok," ujar Jimmy.


"Gombal," Kristy mencebik.


"Serius, malah tampak lucu".


"Berisik," Kristy mencebik sambil melirik tajam.


"Lucu rambutnya kayak gulali".


"Hmmm," Kristy menggeram.


Setelah ibu Ivanna menyampaikan pidatonya, lalu Jimmy segera maju membantu ibu Ivanna meletakan batu ke dalam lubang juga membantu memberikan cangkul untuk menutup batu tadi dengan tanah.


Ibu Ivanna dan Jimmy saling bersalaman, awak media tentu saja sejak tadi mengabadikan acara tersebut dengan mengambil gambar di setiap momen yang ada di acara tersebut.


Setelah acara selesai, kemudian ibu Ivanna dan rombongan segera meninggalkan tempat pembangunan.


Sebelum masuk mobil, Jimmy menarik tangan Kristy sambil berkata pelan," Hei...gulali...


nanti malam aku telepon yah".


Kristy hanya mengangguk saja, lalu segera melepaskan tangan Jimmy dan bergegas menuju mobil.


Pemandangan barusan tentu saja memancing awak media untuk memotret kejadian itu tanpa disadari oleh keduanya.


Setelah rombongan ibu Ivanna berlalu, maka awak media juga mulai meninggalkan tempat itu dan Jimmy bersama tim kerjanya memulai pekerjaan pembangunan tersebut.


Sementara tadi pagi ada acara di lapangan tempat pembangunan sekolah tinggi.


Di depan kantor Jimmy ada tiga orang wanita di dalam mobil yang sedang mengamati kantornya tersebut.


"Yanti, kamu yakin ini kantornya?" tanya pengemudi yang bernama Erika.


"Hmmm, dulu sih enggak kayak gitu. Mungkin sudah pernah di renovasi," sahut Yanti.


"Memangnya kamu dulu sering kemari, Yanti?" tanya Chika yang duduk di kursi belakang.


"Sering banget, ini tuh kantor abangnya. Katanya Jimmy setelah putus sama aku, lantas dia kerja di sini," Yanti menjelaskan kepada kedua temannya.


"Tapi tak ada mobil maupun motor, gimana kalau kita turun dan tanya ke warung sebelah kantor itu," ujar Erika memberi ide.


"Ayo!" seru Chika sambil mendahului turun dari mobil itu.


Erika dan Yanti segera menyusul mengikuti langkah Chika memasuki warung kopi yang ada di sebelah kantornya Jimmy.


Soleha istrinya Agus saat itu sedang menjaga warung, karena Agus sedang bertugas di kantornya Jimmy menjaga kantor dan mencatat apabila ada telepon masuk.


Semua orang kantor sedang keluar, biasanya ada Marsela tapi hari ini Marsela malah diajak ikut ke acara peletakan batu pertama oleh Jimmy.


"Mbak, kopi susu tiga!" teriak Chika ketika duduk di bangku panjang warung itu.


Soleha tentu sangat kaget karena pagi-pagi kedatangan wanita berpenampilan keren tapi minum kopi di warungnya.


"Iya..mohon ditunggu sebentar," Soleha agak gelagapan saat ketiga tamu wanita cantik dan keren duduk di warungnya.


Chika langsung mengeluarkan rokok dari tasnya dan segera menyalakannya lalu menghisap dalam-dalam.


Hal yang sama dilakukan juga oleh Erika dan Yanti bersamaan.


"Mbak, ini benar kantornya Jimmy?" tanya Yanti tiba-tiba.


"Benar bu," jawab Soleha sambil meletakan tiga gelas kopi ke hadapan ketiga wanita itu.


"Kalau jam segini ada tidak Jimmynya?" tanya Yanti lagi.


"Eeemmm... suami saya mas Agus sedang jaga kantor, berarti pak Jimmy dan semua staf sedang keluar kantor," jawab Soleha gugup.


"Mbak, Jimmy masih ganteng? apa jabatannya di sini setahu mbak?" tanya Erika tanpa basa basi.


"Ganteng, pak Jimmy ganteng. Sekarang pak Jimmy yang punya kantor ini setelah abangnya pak Mario meninggal," jawab Soleha lagi sudah mulai agak terbiasa dengan ketiga tamunya.

__ADS_1


"Oh, bang Rio meninggal? kapan?" tanya Yanti terkejut.


"Ada sekitar satu atau dua bulan lalu, meninggal karena kecelakaan, bu," sahut Soleha lagi.


"Berarti Jimmy jadi boss dong sekarang," ujar Erika sambil menghisap rokoknya.


Soleha hanya menganggukan kepala sambil tersenyum.


"Istrinya Jimmy cantik atau enggak, mbak?" tanya Chika.


"Pak Jimmy belum menikah".


"APA!!! MASA SIH!!!".


Ketiga wanita terkejut dan berseru seperti itu berbarengan.


Soleha juga ikut terkejut saat ketiga wanita di hadapannya berteriak seperti itu.


"Kok bisa Jimmy belum menikah? Mbak tahu alasannya?" Yanti menyelidik.


"Kata suami saya, dan juga orang-orang kantor lainnya, kalau misalkan pak Jimmy makan di sini lalu digoda agar cepat nikah. Katanya dulu pernah sakit hati sama pcaranya yang selingkuh sama temannya sampai hamil. Sampai sekarang kelihatannya pak Jimmy masih belum bisa lupa sama perempuan itu," Soleha dengan polos menjawab seperti itu.


"YANTI !!!!" teriak Chika dan Erika berbarengan.


"Edan, pakai pelet apa elu, hah?" tanya Chika sambil tertawa.


"Waduh Yanti, luar biasa. Sampai tidak bisa move on si dia," timpal Erika.


Yanti sendiri melongo mendengar penuturan Soleha. Tapi lantas Yanti merasa seperti menang di atas awan, dia tidak menyangka sama sekali kalau Jimmy belum menikah karena masih terkenang kepadanya.


"Hebat banget gue, si dia sampai seperti itu. Berarti gue sangat luar biasa di mata dia. Berarti sekarang gue masih ada peluang dong," ujar Yanti kepada kedua temannya.


"Hahahaha, elu baru dua bulan jadi janda sudah ingin nikah lagi. Luar biasa Yanti....Yanti.... gue sama Chika sudah tiga tahun jadi janda tapi kami tenang saja. Tidak memikirkan nikah lagi dalam waktu cepat," kata Erika menatap Yanti sambil geleng-geleng kepala.


"Aku juga tidak mau cepat nikah lagi, hanya setidaknya kalau dia ternyata masih cinta sama aku, tentunya aku bisa meminta apa saja kepadanya".


"Bukan untuk menikah lagi dengan dia, hanya sekedar bisa aku nikmati uangnya. Apalagi sekarang sudah jadi boss, tentu uangnya makin banyak," ujar Yanti sambil menghembuskan asap rokok membulat ke udara.


"Bukankah dulu kamu mencintai dia?" tanya Chika.


"Hahahaha, kalau cinta sama dia, buat apa aku harus capek-capek dihamili sama mantan suamiku. Saat itu aku mencari cara untuk putus, dan beruntung teman basketnya anak orang kaya raya, lalu aku goda dan aku jebak sampai aku hamil," sahut Yanti dengan santai.


"Lalu kenapa kamu menjanda sekarang?" tanya Chika lagi.


"Perusahaan mantan suaminya bangkrut, mantan suami dia kan lelaki manja yang nebeng hidup sama orang tuanya. Mertua Yanti meninggal, suaminya tidak mampu jalankan usaha keluarganya, perusahaan bangkrut maka jatuh miskinlah Yanti dan keluarganya," Erika menyambar menjawab pertanyaan Chika.


"Ternyata....Damayanti anti hidup miskin...hahahhaha. Cocok dong kita," sahut Chika.


"Yanti, aku dan Chika bersama para janda keren yang kemarin berkumpul di rumah makan itu, semuanya anti hidup miskin. Tapi, kami semua juga tidak mau menikah lagi kalau bukan dengan lelaki yang benar-benar super kaya raya".


"Jadi, kami semua hanya mencari uang dari lelaki kaya raya nan baj*ngan yang tidak sayang istrinya. Itu cara kami bertahan hidup mewah," Erika menjelaskan kepada Yanti.


"Hmmm, apalagi dia belum nikah. Kamu bisa keruk kekayaan yang dia miliki. Lihat saja, pasti dia akan kembali tergoda olehmu. Secara seorang Damayanti ternyata masih dia dambakan. Hahahahaha," ujar Chika sambil mengelus kedua pipinya Yanti.


"Tentu saja, aku akan berusaha sekuat tenaga membuat si dia akan terpikat lagi sama aku," sahut Yanti kegirangan.


Ketiga wanita itu tertawa kencang, membuat Soleha bingung melihatnya, apalagi barusan mendengarkan sedikit pembicaraan mereka.


"Yang mereka maksud si dia itu siapa? apakah pak Jimmy? Masa pak Jimmy pernah jatuh cinta sama wanita-wanita seperti itu?" tanya Soleha dalam hati sambil menatap aneh kepada ketiga wanita itu.


"Yanti, bayar dong. Kita jalan lagi sambil pikirkan rencana yang terbaik untuk mendapatkan si dia," ujar Erika.


"Terima kasih mbak, kopinya enak dan informasinya mantap," ujar Yanti sambil memberikan selembar uang berwarna biru dan tak meminta kembaliannya.


Soleha menatap ketiga wanita itu, sambil bertanya-tanya dalam hatinya. Ada sedikit rasa menyesal karena menceritakan Jimmy kepada orang asing.


Tapi Soleha janji akan jujur dan menceritakan semua yang tadi dia dengar kepada suaminya, dengan harapan nanti suaminya mengingatkan kepada Jimmy.


Di tempat lain terlihat Soraya sedang bersama kedua mertuanya memasuki gedung asuransi jiwa.


Petugas memberitahukan letak lantai kantor berada, dan mereka bertiga naik lift menuju ke lantai tersebut.


Sementara di pagi itu di ruangan direktur utama, terlihat Asmida sedang diceramahi habis-habisan oleh atasannya itu.


"Bagaimana kamu mau maju, selama ini terlalu enak ditolong oleh Asmila. Sekarang dia sudah tidak ada, kamu harus bisa maju sendiri. Nanti ada seremonial pembayaran klaim, saya minta kamu kejar penerima hak waris untuk mengambil asuransi lagi di perusahaan kita," ujar direktur utama sambil menggebrak meja kepada Asmida.


Tentu saja Asmida gemetaran dan matanya mulai berkaca-kaca menahan tangis.


"Saya akan berusaha, pak. Saya akan mencoba mengajak keluarga ahli waris untuk kembali membeli asuransi jiwa dengan uang klaim yang diterimanya," jawab Asmida sambil bibirnya bergetar.


"Lakukan dengan baik, berikan pelayanan yang baik, berikan penjelasan yang benar. Kita harus tunjukkan kinerja kita, dan kamu terutama harus menunjukkan potensi diri kamu sendiri," kembali direktur utama memberi penekanan kepada Asmida yang selama ini dianggap lalai dan terlalu enak bekerja karena selalu didukung oleh Asmila.


Tak lama setelah Asmida kenyang mendengarkan omelan dari atasannya, kemudian dia segera menemui Soraya dan kedua mertuanya.


Saat bertemu Asmida, Soraya menatap tajam wajahnya. Dia ingat pernah bertemu wajah mirip dengan Asmida beberapa bulan lalu di saat ibunya Aliong meninggal dunia.


Hanya bedanya Asmida berhijab sedangkan Asmila rambutnya terurai.


"Apakah saya bisa bicara berdua dengan anda, ibu Asmida?" tanya Soraya dingin.


Asmida tertegun sejenak, lalu mengiyakan dan membawa Soraya ke ruangan yang dulunya ruangan kerja adiknya.


"Maaf, sebelum anda menjelaskan soal klaim asuransi dan sebagainya. Saya hanya ingin bertanya, apakah anda pernah tahu hubungan adik anda dengan suami saya?" tanya Soraya.


"Maksudnya hubungan seperti apa, ibu Soraya?" Asmida balik bertanya.


"Antara adik anda dengan suami saya bukan hanya sekedar nasabah dan pegawai asuransi. Apakah anda pernah tahu hal ini?" tanya Soraya setengah mendesak.


Asmida menggelengkan kepala, memang selama ini dia tak pernah tahu apapun soal kehidupan Asmila, apalagi mendengar Asmila ternyata berbuat yang lain-lain.


"Adik saya menikah dengan Fuad, dan kehidupan pernikahan mereka baik-baik saja selama ini. Masalah adik saya meninggal karena kecelakaan bersama pak Mario, itu tidak kami pahami," sahut Asmida.


"Entahlah, aku harus bagaimana, sebenarnya mungkin tidak bijaksana aku menyampaikan ini kepada anda. Tapi kemarin ini aku dan Fuad sudah menemukan banyak bukti kalau adik anda dan suamiku punya hubungan terlarang," Soraya menuturkan sambil menitikan air mata.


"Terakhir Asmila menemui saya, katanya pamit akan ke Palembang untuk menemani temannya yang sakit kanker berobat ke sana".


"Temannya ini tidak mau dioperasi, walau dokter sudah menyarankan seperti itu. Dan temannya memilih uang untuk biaya pengobatan dirinya dibelikan polis asuransi jiwa untuk kepentingan sekolah anak-anaknya".


"Saya tidak tahu kalau temannya itu adalah pak Mario, dan kedekatan antara adik saya dengan suami anda juga tidak saya ketahui. Hanya itu cerita yang dia sampaikan kepada saya beberapa hari sebelum kejadian kecelakaan," Asmida menjelaskan apa yang dia ketahui dari almarhumah adiknya.


Soraya terdiam, tapi air matanya masih menetes, ada rasa nyeri di ulu hatinya saat mendengar kisah itu.


Asmila lebih banyak tahu soal penyakit Mario, dan Asmila malah membantu keinginan Mario, terlebih lagi Asmila memberi perhatian dengan mencoba mencarikan pengobatan alternatif untuk Mario.


"Ibu Soraya, sekarang mereka sudah tidak ada lagi bersama kita. Apapun yang pernah terjadi diantara mereka, kita tidak pernah tahu. Baru kita tahu saat keduanya sudah tiada lagi".


"Andai saja dulu saya tahu, pasti saya juga akan melarang adik saya berbuat tidak baik. Walau bagaimana juga, perselingkuhan adalah suatu hal yang dilarang di agama apapun".

__ADS_1


"Tapi kita lihat sisi positifnya, dari setiap kejadian ada hikmahnya. Suami ibu sebelum meninggal, dengan rela hati menyimpan uang pengobatannya demi kepentingan anak-anak ibu. Dan adik saya bahkan sebelum meninggal, sudah melunasi biaya umroh untuk kedua orang tua kami dan juga untuk Fuad suaminya".


"Dibalik kesalahan mereka, ternyata mereka juga berusaha menebusnya dengan kebaikan yang mereka lakukan diam-diam selama ini," Asmida mencoba menawarkan hati Soraya yang tengah panas.


"Uangnya ada di rekening ini, bukan?" ujar Soraya sambil memperlihatkan buku tabungan atas nama Mario dan tertera ada nilai uang sebesar lima puluh juta rupiah.


"Oh, ini mungkin hanya uang pengembalian premi atas pembelian asuransi jiwa kemarin ini. Untuk nilai pembayaran klaimnya jauh lebih besar dari nilai yang tertera di buku tabungan ini," Asmida kembali menjelaskan kepada Soraya.


"Rencananya anak sulung saya nanti ingin kuliah kedokteran, sekarang ayahnya meninggal, walaupun saya dosen tapi untuk biaya kuliah kedokteran belum tentu bisa membiayainya," keluh Soraya membayangkan impian Maya tentu tidak bisa terlaksana.


"Bisa, anak ibu pasti bisa menggapai keinginannya. Uang klaim asuransi yang akan ibu terima pasti akan mencukupi biaya pendidikan anak-anak ibu," sahut Asmida bersemangat.


"Ibu Soraya silahkan tunggu di ruang tunggu bersama dengan kedua orang tua ibu. Nanti kami panggil setelah kami mempersiapkan segala keperluan seremonial pembayaran klaim kematian bapak Mario Maliangkay," lanjut Asmida sambil menuntun Soraya untuk kembali ke ruangan tunggu bersama Opa Hansen dan Oma Regina.


Asmida terlihat sibuk melakukan sesuatu bersama beberapa petugas yang ada di kantor pusat asuransi jiwa tersebut.


Ada beberapa awak media dari beberapa media sosial datang untuk menghadiri seremonial tersebut.


Baik Soraya maupun kedua mertuanya tidak paham, mereka saling bertanya-tanya ada apa gerangan, pembayaran klaim kematian sampai harus mengundang awak media segala.


"Permisi, ibu Soraya dan keluarga dimohon untuk ikut saya ke rumah aula, karena sudah ditunggu oleh direktur utama kami," ujar seorang petugas mengundang Soraya dan kedua mertuanya untuk memasuki ruangan lain.


Soraya berjalan sambil menuntun tangan oma Regina, lalu diikuti oleh opa Hansen di belakangnya.


Ketika memasuki ruangan yang disebut aula itu, Soraya dan kedua mertuanya disambut oleh direktur utama perusahaan asuransi itu dan tentu saja awak media juga turut mengabadikannya.


Lalu Soraya beserta kedua mertuanya diajak berdiri di bawah sebuah spanduk yang bertuliskan seremonial pembayaran klaim asuransi kematian atas nama Mario Maliangkay.


Direktur utama menyampaikan sedikit kata pembuka untuk memulai acara seremonial tersebut, kemudian beliau menyapa Soraya untuk memulai pemberian pembayaran klaim kematian suaminya.


"Ibu Soraya, kami turut berduka cita atas meninggalnya bapak Mario Maliangkay akibat kecelakaan di kota Palembang beberapa waktu yang lalu".


"Namun pak Mario sebelumnya sudah melakukan hal yang sangat bijaksana, yaitu membeli polis asuransi jiwa. Pembelian polis tersebut atas dasar cinta kasih kepada keluarganya, dengan harapan apabila suatu saat beliau berpulang, anak-anaknya masih bisa melanjutkan pendidikan untuk menggapai cita-cita mereka".


"Saat ini kami dari pihak asuransi jiwa akan menyampaikan pembayaran klaim atas kematian bapak Mario Maliangkay," ujar direktur utama saat melakukan seremonial pembayaran klaim tersebut.


Soraya dan kedua mertuanya masih terlihat bingung karena belum tahu berapa besar nilai pembayaran klaim tersebut.


Tak lama masuk Asmida sambil membawa papan besar dari styrofoam berbentuk kartu dengan tulisan "Pembayaran Klaim Kematian sebesar dua milyar rupiah".


Mata Soraya terbelalak ketika melihat tulisan tersebut, begitu juga kedua orang tua Mario begitu terkesiap melihat jumlah pembayaran klaim sebesar itu.


Kakinya mendadak lemas, hampir saja Soraya terjatuh karena sangat terkejut ketika mengetahui jumlah klaim yang dibayarkan sebesar dan sebanyak itu.


"Pembayaran klaim ini untuk biaya pendidikan Natalia Mayana Maliangkay dan Valeria Megana Maliangkay, masing-masing mendapatkan satu milyar rupiah," Asmida menjelaskan kepada Soraya dan kedua mertuanya.


Soraya meneteskan air mata, tak bisa berkata-kata karena sangat terharu sekali ternyata almarhum suaminya telah mempersiapkan uang sebesar itu untuk kedua anaknya.


Apalagi kedua orang tua Mario, selama ini mereka selalu terpikirkan bagaimana nasib masa depan cucu mereka.


Dengan melihat sendiri kenyataan kalau Mario anaknya ternyata orang yang bertanggung jawab sampai akhir, mereka berdua sangat bahagia dan bangga.


Setidaknya walau sekarang pergi selamanya, tapi Mario tidak pernah meninggalkan tanggung jawabnya sebagai seorang ayah dan seorang suami.


Beranjak siang, Jimmy mengajak Aliong, Ferry dan Marsela makan siang di tempat yang tidak jauh dari lokasi pembangunan.


"Kita tidak bisa makan terlalu lama, nanti ko Aliong harus segera kembali ke lapangan. Ko Aliong dan babeh Jupri harus benar-benar melakukan pengawasan kepada setiap karyawan terutama dalam di tahap awal ini sebagai penentuan kokoh atau tidaknya gedung itu nanti," ujar Jimmy ketika mereka berempat sudah berada di rumah makan.


"Siap, aku akan mengerahkan seluruh kemampuanku untuk proyek ini. Karena ini adalah kesempatan bagiku untuk melakukan yang terbaik setelah aku keluar dari tahanan," sahut Aliong.


"Kami percaya sama ko Aliong, begitu bukan, boss," Ferry memang selalu menyambar kalau orang sedang bicara.


Jimmy hanya mengangguk saja sambil tersenyum, sementara Marsela setelah melakukan pendataan semua petugas lapangan, terlihat diam saja sejak tadi seperti merasakan sesuatu yang tidak enak pada tubuhnya.


"Mbak Sela, dari tadi diam saja, apakah sedang tidak enak badan?" tanya Jimmy terlihat khawatir kepada Marsela.


"Aku baik-baik saja, hanya memang belakangan ini suka agak pusing sedikit. Mungkin hanya sekedar migrain biasa saja," jawab Marsela.


"Aku rasa sudah saatnya kita mencari orang yang bisa membantu pekerjaan Marsela. Karena pekerjaannya semakin banyak, dan usia Marsela sekarang juga sudah bertambah. Faktor usia bisa banyak menyebabkan kelelahan dan penyakit, apalagi wanita," ujar Aliong memberikan masukan kepada Jimmy.


Jimmy menatap Marsela, lalu bertanya ," Menurut mbak Sela bagaimana? apakah aku harus menambahkan orang untuk membantumu?".


"Kalau boleh, tentu saja aku sangat senang sekali. Setidaknya untuk sesekali ke lapangan, mengatur gajian para tukang atau kalau ada tukang sakit atau kecelakaan, ada yang bisa membantu aku mengurusi hal itu. Sepertinya aku sudah cukup lelah kalau harus ke lapangan," Marsela menjawab demikian kepada Jimmy.


"Oke, besok pasang saja papan pengumuman mencari karyawan. Nanti silahkan mbak Sela yang mewawancarai, yang sekiranya bisa diajak kerjasama dengan mbak Sela," sahut Jimmy memberikan ijinnya.


"Kalau bisa perempuan yang cantik, biar semangat kerja di kantor," Ferry lagi-lagi menyambar.


"Dasar Ferry, cewek melulu pikirannya," ujar Jimmy sambil mendengus kesal.


Aliong dan Marsela cekikikan mentertawakan Ferry yang dipelototi oleh Jimmy.


Pada jam yang sama di Big Beauty Resto, terlihat ibu Ivanna sedang makan juga bersama anak-anak dan menantunya.


"Besok mama akan mengadakan rapat di kampus. Mama minta Stevie dan Kristy ikut dalam rapat itu," ujar Ibu Ivanna kepada kedua anak perempuannya.


"Untuk apa?" Stevie kebingungan.


"Mama akan angkat kamu sebagai humas di kampus, juga Kristy akan mama angkat sebagai salah satu pengajar tata boga," sahut Ibu Ivanna.


Kristy dan Stevie saling berpandangan, keduanya tampak tidak senang dengan ajakan itu.


"Mama tahu kalian pasti tidak suka, tapi mama juga punya hak menyampaikan rasa tidak suka mama".


"Selama ini Stevie hanya sibuk urusan wanita-wanita sosialita yang tidak jelas. Arisan dan kumpul-kumpul tak jelas, untuk itu mama jadikan kamu humas di kampus karena mama punya misi untuk kemajuan kampus".


"Dan kamu Kristy, punya kemampuan memasak, mengapa tidak kamu bagi dengan banyak orang. Banyak hal yang bisa kamu bagikan kepada generasi muda Indonesia, salah satunya keahlian memasakmu".


Ibu Ivanna memberikan penjelasan yang mantap kepada kedua anak perempuannya.


"Aku setuju sekali, memang benar langkah mama mengajak Stevie bekerja. Setidaknya mencegah istri saya terlalu boros berbelanja barang mewah," ujar Andreas Cheung memberi dukungan kepada mertuanya.


Stevie langsung melirik tajam kepada suaminya, dia terlihat sangat kesal mendengar tuduhan suaminya kepadanya.


"Kalau Ando mendapat tugas apa?" Kristy mendelik kepada sang kakak lelaki yang terlihat makan terus dengan lahap.


"Ando sudah membantu mama untuk masalah pembangunan kampus baru, kemarin mama yang minta Ando mengawasi pekerjaan pembangunan tersebut," sahut Ibu Ivanna.


"Andre yang urus keuangan perusahaan papa, lalu keuangan yayasan, semua Andre tangani dengan baik. Makanya mama ingin semua anak mama lainnya terlibat. Besok kalian berdua datang ke rapat yang akan mama adakan".


"Tapi aku tidak mau kalau papa ikut terlibat juga dalam proyek ini," ujar Kristy tegas.


"Bontot, papa terlibat karena papa adalah komisaris yayasan. Tapi untuk urusan kampus secara langsung, itu urusan mama," sahut Louis Orlando ikut bicara.


Kristy terdiam sambil menarik nafas, antara lega dan masih ada beban juga karena dia memang berseberangan pemikirannya dengan ayahnya.


"Ayolah bontot, aku juga tidak pernah bisa satu pikiran dengan papa. Tapi ini adalah proyek mama, pasti papa akan ada di dalamnya walau tidak akan bisa masuk terlalu banyak dalam proyek ini".

__ADS_1


"Aku membantu proyek ini demi mama, karena ini terobosan mama pertama kalinya untuk mandiri tanpa banyak campur tangan papa," Louis menambahkan lagi.


Kristy akhirnya mengangguk, begitu juga Stevie yang akhirnya menyatakan bersedia juga datang pada rapat esok hari.


__ADS_2