
Sekolah Swasta Cahaya Tri Tunggal merupakan sekolah yang dikelola oleh sebuah Yayasan Pendidikan Kristiani.
Jenjang pendidikan di sekolah tersebut dimulai dari Taman Kanak-kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama sampai Sekolah Menengah Atas.
Soraya diminta mengajar Bahasa Inggris untuk kelas 1 dan 2 SMP, masing- masing tingkat ada tiga kelas.
Pelajaran Bahasa Inggris setiap kelas itu delapan jam, dan dalam satu minggu siswa sekolah hanya lima hari saja.
Setiap hari sabtu libur dan guru tidak boleh memberikan pekerjaan rumah, siswa harus benar-benar istirahat bersama keluarga di hari tersebut.
Soraya agak terkejut ketika diberitahu kalau di sekolah tersebut jadwal sangat padat.
Sekolah dimulai pada pukul 07.30 pagi dan pulang pukul 15.00 sore hari, dengan tiga kali istirahat yaitu pukul 10.00 selama 15 menit, pukul 12.00 selama 30 menit dan terakhir pukul 14.00 selama 15 menit.
"Guru sama sekali tidak boleh memberikan pekerjaan rumah, karena pelajaran di sekolah sudah cukup padat dan juga melelahkan. Apalagi kalau ada jadwal laboratorium, mereka pulang lebih lambat lagi. Belum lagi ada tambahan ekstra kurikuler, jadi siswa wajib mengikuti salah satu pelajaran tambahan tersebut," kata Nania menjelaskan kepada Soraya sahabatnya.
"Nan, berarti lain dengan kita dulu sekolah yah, jam dua belas siang saja kita sudah pulang ke rumah," Soraya minta penegasan dari Nania.
"Beda lah, dulu kan sekolah kita sih di mana pula, ini kan sekolah swasta bergengsi".
Lalu Soraya menanyakan jam kerjanya sebagai guru nanti seperti bagaimana.
"Guru harus sudah hadir paling lambat pukul 07.00 pagi, karena di sini ada doa pagi,
juga selalu ada pengarahan dari kepala sekolah selama lima belas menit setiap harinya. Khusus hari Senin, guru harus sudah hadir sebelum pukul 07.00 karena ada upacara bendera yang wajib diikuti oleh semua guru dan siswa," kata Nania menjelaskan dengan sedetil mungkin kepada Soraya.
Tentu saja membuat Soraya agak sedikit takut, bukan takut mengajar di sekolah itu tapi takut Mario nanti akan marah karena ternyata di sekolah itu tidak seperti yang dia selama ini bayangkan.
"Kenapa Soraya, kamu tampak ragu mengajar di sekolah ini?" tanya Nania ketika melihat Soraya gelisah mendengar penjelasannya.
"Ah tidak, aku semangat kok. Cuma masih agak terkejut saja karena ternyata sekolah ini berbeda dengan sekolah pada umumnya. Aku harus membicarakan dulu dengan suami dan juga orang yang menjaga anakku kalau ternyata jam pulang di sekolah ini sore hari," sahut Soraya terlihat sekali gelisah.
"Apa perlu aku bantu bicara dengan suamimu?" tanya Nania sambil menatap Soraya.
"Tak usah, biar aku saja yang bicara kepadanya sendiri. Paling besok aku beri kabar lagi kepadamu," jawab Soraya lalu memegang tangan Nania.
"Soraya, aku sangat berharap kamu bisa mengajar di sekolah ini. Karena aku tahu kalau kamu punya potensi dalam menguasai bahasa Inggris yang benar, kami sangat berharap kamu mau bergabung di sini," ujar Nania sambil merangkul bahu Soraya.
Tampak keraguan masih ada di wajah Soraya, lalu dia pamit pulang dulu untuk minta ijin kepada suaminya.
Sebelum pulang Soraya lalu menemui Ibu Wongso dan menceritakan kalau dia diminta bergabung mengajar juga menceritakan soal yang menjaga Maya saat dirinya mengajar di sekolah nanti.
"Mario benar, mama memang tak sanggup kalau harus menjaga Maya. Kaki mama sekarang tak bisa lagi dipakai jalan cepat atau berjalan jauh. Sementara anakmu punya kebiasaan kalau makan harus sambil berkeliling di kursi dorong," ujar Ibu Wongso ketika Soraya bercerita kalau Maya akan dijaga oleh tetangga seberang rumahnya ketika dia pergi mengajar.
"Cuma Soraya bingung, apa nanti Bang Rio akan memberi ijin kalau aku pulang sore setiap harinya dan apakah Ibu Sunaryo tidak keberatan kalau Maya aku ambil sore hari juga," kata Soraya mencurahkan isi hatinya saat ini.
Ibu Wongso memandang Soraya lalu berkata," Soraya, kalau misalkan suamimu tak memberi ijin kamu harus menuruti yah. Jangan sampai memaksakan kehendak, jangan sampai nanti Maya menjadi korban".
"Mama ingin kamu dan Mario bisa selalu rukun, kamu harus tulus kepada suamimu jangan sampai merasa tertekan. Biar bagaimana juga Mario orang yang baik, sebagai menantu mama yang baik".
"Setiap dua atau tiga hari sekali pasti kemari menjenguk mama sambil membawa makanan kesukaan mama. Jadi tak mungkin mama menilai dia kasar seperti yang selalu kamu keluhkan," Ibu Wongso mengungkapkan kebaikan Mario selama ini.
Soraya hanya bisa terdiam saja, karena dia juga tahu kalau Mario begitu sangat perhatian kepada ibunya.
"Dulu Soraya ingin kalau punya suami itu sebelumnya pacaran lama, saling memahami satu sama lain sebelum menikah. Tapi kenyataan lain, Soraya harus menikah dengan cara seperti ini".
"Bahkan Soraya tak sempat tahu bagaimana seorang Mario itu. Kadang terasa lelah, karena Bang Mario kalau lagi datang manisnya pasti sangat baik dan romantis kepada Aya. Tapi kalau sedang aneh, pasti selalu ketus dan pemarah".
"Jujur saja mama, saat Oma meninggal kemarin membuat Soraya khawatir kalau suatu saat Bang Mario akan pergi meninggalkan Aya dan Maya begitu saja," ujar Soraya yang mulai basah pipinya dengan air mata.
"Soraya jangan begitu nak, kamu sebagai istri harus terus berdoa untuk suami dan anak. Tak pernah bisa orang saling memahami, dulu mama dan papa mu juga tiga tahun pacaran. Kamu juga pasti tahu bagaimana dulu kami selalu ribut saling berdebat adu pendapat dalam hal apapun".
"Mau pacaran lama sebelum menikah atau tak pacaran sama sekali, akan sama saja. Tak akan pernah dua kepala itu punya pemikiran sama, punya sifat sama. Yang pasti harus saling bisa menerima kekurangan dan kelebihan, juga tulus berdoa agar Tuhan selalu memberkati keluarga kalian," nasehat Ibu Wongso meluncur memasuki hati Soraya.
Ibu dan anak berpelukan erat, dalam hati sang ibu berdoa agar anaknya menjadi wanita yang tegar dalam mengarungi kehidupan rumah tangganya.
Dalam hati sang anak berdoa agar ibunya sehat selalu karena hanya beliau satu-satunya pelabuhan curahan hatinya.
Pak Sunaryo dan Ibu Sunaryo malah sangat gembira ketika diberitahu kalau sekolah tempat Soraya mengajar nanti pulangnya akan sore hari.
Sehingga Maya akan dijemput sore hari, sehingga akan lama hampir seharian penuh dijaga oleh Bapak dan Ibu Sunaryo.
"Malah kami yang senang, berarti Maya di ambil olehmu setelah dia puas main, puas makan dan tidur siang. Kamu tinggal ambil dia sore hari setelah kami memandikannya.
Ya sudah, memangnya dimana letak permasalahannya...," ujar Ibu Sunaryo dengan santai.
"Mohon maaf nanti jadinya akan merepotkan Ibu dan Bapak di sini. Saya sungguh tak enak hati," kata Soraya merasa sangat sungkan kepada keduanya.
"Yang minta menjaga Maya kan kami, bukan Soraya yang minta tolong kami menjaga anakmu. Jadi kami yang senang kok punya kesibukan lain selain mengurus tanaman di halaman depan rumah," Pak Sunaryo juga mengatakan seperti itu.
Soraya merasa bersyukur karena ternyata Bapak dan Ibu Sunaryo malah merasa bahagia dititipi Maya dan sangat tidak keberatan apabila harus sampai sore sekalipun.
Jam dinding menunjuk pukul sembilan malam, tapi Mario belum juga pulang. Biasanya maksimal pukul tujuh sudah paling terlambat untuk Mario pulang ke rumah.
Akhirnya sejam kemudian Mario baru pulang, dia turun dari mobilnya dan dari dalam terdengar menutup pintu dengan sangat keras sekali.
Batin Soraya berkata kalau dia punya firasat Mario sedang dalam kondisi tidak baik.
Mario tak bicara apapun, dia melepas sepatu, menyimpan tas di sofa lalu minta handuk kepada istrinya dan segera masuk ke kamar mandi.
Setelah selesai mandi dengan hanya berbalut handuk, segera masuk kamar untuk memakai pakaian kemudian mencium Maya yang sedang tidur nyenyak.
"Soraya, kamu punya makanan apa? aku merasa lapar sekali," tanya Mario kepada istrinya.
Untung Soraya tadi memasak semur tahu dan daging ayam, maka segera dia menyiapkan makanan di meja makan untuk suaminya.
Mario makan tanpa bicara apapun, Soraya dengan takut-takut bercerita soal tadi dia ke sekolah dan ternyata sekolah tersebut pulang sore hari, namun hari sabtu libur.
Sambil makan dan mendengar istrinya bicara, Mario tidak banyak bicara. Hanya keluar kata "Hmmm" atau "Heeh" saja yang terdengar keluar dari mulutnya.
Soraya juga menambahkan kalau Bapak dan Ibu Sunaryo juga tidak keberatan dengan dititipi Maya selama dirinya mengajar nanti.
Mario hanya mengangguk saja, lalu dia minum air dari gelas yang sudah disediakan oleh istrinya.
Soraya segera membereskan meja setelah Mario selesai makan.
"Kamu urus saja sendiri soal nanti mengajar dan penitipan Maya. Cuma kalau bisa tetap lebih memperhatikan Maya, aku tak mau anak kita sakit atau ada apapun selama dipegang orang lain," tiba-tiba Mario berkata seperti itu, sehingga membuat Soraya matanya membulat kaget.
__ADS_1
"Tolong ambilkan tas dan laptop, lalu buatkan aku kopi. Malam ini sepertinya akan begadang karena ada sedikit masalah di kantor ," pinta Mario sambil dia sendiri masuk kamar untuk mencium bayi Maya yang sedang tidur nyenyak.
"Papa malam ini tidak bobo sama Maya sayang yah, ada kerjaan banyak...cup...papa sayang kamu nak," Mario mencium pipi dan kening anaknya lalu mengelus kepalanya.
Setelah itu keluar kamar lagi dan segera duduk di meja makan tadi yang sudah dirapihkan Soraya.
Laptop, tas dan kopi sudah tersedia di atas meja, lalu Mario menatap istrinya.
"Soraya, tolong jangan ganggu dulu yah, ada masalah yang harus aku selesaikan. Tidur saja sana sama Maya," kata Mario yang tampak enggan ada istrinya di ruangan itu.
Soraya mengangguk, lalu segera masuk kamar tidur dan berbaring di samping anaknya.
"Halo Marsela, coba kamu buka laptop juga," terdengar Mario di luar sedang telepon dengan sekretarisnya.
Soraya juga mengetik pesan singkat kepada Nania, bahwa dia sudah mendapat ijin dari suaminya, jadi besok akan ke sekolah untuk menemui kepala sekolah tersebut.
Setelah pesan terkirim malah dia kaget sendiri karena ternyata sudah pukul sebelas malam lewat.
Dia jadi tak enak hati takut mengganggu Nania yang mungkin sedang istirahat.
Kala sedang merasa khawatir, ternyata Nania menjawab pesan singkatnya.
"Oke, besok aku tunggu jam sembilan pagi yah".
Soraya merasa lega karena ternyata Nania masih bisa menjawab, padahal sudah hampir tengah malam.
Lalu dia menutup matanya dan seketika hilang ditelan bumi, bermimpi indah di atas awan.
"Hek...hek...hek...mmm...uwaa...uwaa...".
Soraya segera bangun, benar saja popok anaknya sudah penuh. Segera dia mengganti dan membersihkan bayinya.
Setelah Maya bersih segera disusui sampai bayi itu tidur nyenyak lagi karena perutnya kenyang.
Maya sudah terlelap lagi, lalu Soraya mengintip jam dinding ternyata sudah pukul tiga pagi lebih dua puluh menit.
Mario tak ada di sampingnya, lalu sambil meraih popok yang sudah penuh tadi, Soraya keluar kamar dan mendapati Mario tertidur di meja makan dengan kepala menelungkup di atas meja.
Setelah membuang popok, lalu mencuci tangannya, lantas Soraya memegang bahu Mario untuk membangunkannya agar pindah ke kamar tidur.
"Tolong simpan datanya lalu matikan saja laptopnya yah," ujar Mario sambil terhuyung dan masuk ke kamar tidur.
Soraya segera melakukan apa yang barusan diminta Mario, setelah laptop mati segera menutup laptop itu lalu mencabut kabel penghubung baterainya.
Mario tidur sambil memeluk anaknya, lalu Soraya segera berbaring di samping suaminya.
Baru saja menutup mata, ada tangan menggerayangi tubuh dan mulai menyusup ke balik pakaian tidurnya.
Tanpa banyak bicara lagi, Soraya segera paham dan melayani hasrat suaminya.
Setelah selesai, Mario tidur kembali dengan lebih nyenyak, sementara Soraya tak bisa tidur lagi tapi karena masih sangat pagi, maka dia berbaring saja di tempat tidur menanti matahari terbit.
Pagi harinya Soraya segera mandi lalu menyiapkan sarapan untuk suaminya.
Mario masih sama seperti ketika awal menikah yaitu sarapan hanya roti tawar diberi selai kacang dan taburan coklat meses.
"Papapapapapa...bababababa...bbrrrr....bbrrr....".
Mario membuka matanya, dan terlihat sepasang mata kecil sedang menatapnya lalu senyum lebar dengan penuh air liur di tangannya yang sejak tadi dimasukan ke dalam mulut kecilnya.
"Selamat pagi anak papa, pagi begini sudah mengoceh. Kamu mau bilang apa sayang?" sapa Mario kepada bayi kecilnya.
Tangan dan kaki Maya terus bergerak seakan ingin minta digendong oleh ayahnya.
Mario melirik jam dinding, ternyata sudah pukul tujuh pagi, lalu dia segera bangun sambil menggendong anak bayinya.
"Maya sayang, sini sama Mama saja. Papa mau mandi dulu," sambut Soraya ketika suami dan anaknya keluar dari kamar tidur.
"Kamu katanya akan mengajar, kok belum berangkat?"tanya Mario karena melihat Soraya masih di rumah.
"Belum, hari ini baru mau ketemu dengan kepala sekolah, kemungkinan sih mengajarnya mulai minggu depan," sahut Soraya yang tengah menggendong Maya untuk dimandikan.
"Biar aku yang memandikan Maya, sekalian aku juga mau mandi," ujar Mario sambil meraih kembali anaknya dari gendongan Soraya.
Lalu ayah dan anak itu masuk kamar mandi, dan tak lama terdengar suara tawa bayi yang merasa gembira saat dimandikan oleh ayahnya.
"Memang suamiku itu suka menyebalkan, tapi dia begitu sayang kepada anaknya. Masa aku harus kesal sama Bang Rio. Ya Tuhan ampuni aku," bisik hati Soraya saat melihat keceriaan anaknya yang tengah bergembira mandi bersama ayahnya.
Mario sedang meminum kopi saat menerima telepon dari Marsela sekretarisnya.
Terdengar Marsela seperti sedang menjelaskan sesuatu, dan Mario segera memegang dahinya terlihat seperti sedang ada masalah besar.
"Ya sudah, tunggu saya di kantor, nanti kamu siapkan berkasnya," ujar Mario sesaat sebelum menutup telepon genggamnya.
"Bang, apakah ada masalah?" tanya Soraya ketika melihat Mario seperti kebingungan.
"Kamu jam sembilan kan ke sekolah, ayo aku antar saja sekalian jalan ke kantor. Kamu titip dulu Maya ke rumah Ibu Sunaryo," Mario malah berkata seperti itu dan tidak menjawab pertanyaan Soraya.
Ibu Sunaryo menyambut Maya dengan gembira, dan bayi itu juga terlihat senang ketika bertemu dengan Bapak dan Ibu Sunaryo yang selalu penuh keceriaan saat bersama dirinya.
Sepanjang jalan Mario tampak tidak konsentrasi mengemudi mobilnya, sudah dua kali dia hampir menabrak pengemudi sepeda motor.
"Bang, hati-hati sejak tadi abang tidak konsentrasi mengemudi, ada apa Bang sebenarnya ?" tanya Soraya sambil memegang bahu suaminya.
Mario menghentikan mobil tepat di depan sekolah tempat Soraya nanti mengajar, dia mengusap wajahnya lalu menutup matanya dengan tangannya.
"Aku tak apa-apa, kamu doakan saja semoga tak ada masalah di kantorku," sahut Mario sambil memegang tangan istrinya yang masih menempel di bahunya.
Soraya mengangguk sambil segera turun dari mobil dan langsung menuju penjaga sekolah minta bertemu dengan Nania.
"Pak Mario, ini berkas nota keuangan yang kemungkinan besar telah digelapkan oleh Darman," kata Marsela ketika Mario sudah duduk di ruangan kerjanya.
Mario menatap nota tagihan dari beberapa toko dan juga supplier bahan bangunan.
"Gila...sebanyak ini tagihan yang harus kita bayar?!!!"pekik Mario tercekat melihat nota tagihan yang sangat banyak sekali.
Mario tak habis pikir, selama ini dia selalu dibantu seorang karyawan kepercayaan yang bernama Darman.
__ADS_1
Semua pembelanjaan selalu Darman yang memesan dan selama ini semua berjalan lancar.
Menurut Marsela yang Darman lakukan selama ini sesuai prosedur, dia meminta uang sesuai tagihan lalu dia bayar ke toko atau supplier.
"Nanti aku datangi mereka satu per satu, harus aku selesaikan semua masalah ini," ujar Mario dengan wajah sangat penuh beban.
Mario mendatangi satu per satu toko dan supplier bahan bangunan yang sudah menjadi rekanan kerjanya selama ini.
Menurut pengakuan pemilik toko dan supplier, memang benar Darman memesan bahan bangunan dan langsung dikirim ke tempat proyek yang sedang berlangsung.
Hanya saja pembayaran minta tempo satu bulan, padahal biasanya selalu bayar uang muka terlebih dahulu.
Namun karena sudah menjadi pelanggan lama, maka mereka tentu saja percaya.
"CV. Maju Mandiri kan sudah lama menjadi pelanggan setia kami, masakan kami tidak percaya kepada pak Mario," hampir semua berkata seperti itu, jawaban dari setiap orang yang sedang dikonfirmasi oleh Mario.
Kemudian Mario menghampiri setiap pemberi pekerjaan kepadanya, dan sama semua pemberi kerja mengatakan sudah membayar uang muka kerja melalui Darman.
Pusing dan berat sekali kepala Mario, dia segera ke Bank memeriksa rekening pribadinya.
Ternyata masih ada uang walau tak banyak, dia sisihkan sebagian untuk keperluan rumah tangga dan sebagian besar dia ambil untuk dia bayarkan kepada beberapa toko langganannya.
Tapi masih sangat kurang banyak, belum lagi harus membayar upah buruh bangunan.
Saat ini ada tiga pekerjaan merenovasi rumah, ketiga pemilik rumah sudah memberi uang muka kepada Darman.
Padahal uang muka itu untuk membayar pembelanjaan bahan bangunan dan upah buruh bangunan.
"Marsela, coba kamu hitung uang kas kantor ada berapa dan juga dana modal ada berapa? nanti kamu kabari aku lagi," kata Mario melalui telepon genggamnya.
Dia sedang menuju kediaman Darman, karena Darman orang kepercayaan dia sejak lama maka setidaknya dia sangat kenal dengan keluarganya.
"Pak Mario, maafkan kami. Darman sudah tak pulang ke rumah sejak sebulan yang lalu. Tak ada kabar berita kepada kami sama sekali," malah mendapati istrinya Darman menangis karena suaminya tak pulang selama sebulan lamanya.
"Pak, sisa uang sudah semua saya alokasikan untuk bayar upah buruh, gajian mandor dan juga gaji karyawan semua. Jadi hanya tersisa lima juta rupiah saja pak di kas kantor," kata Marsela dengan takut-takut saat menghubungi Mario.
"Lima juta ini juga sebentar lagi akan saya gunakan untuk pembayaran tagihan listrik, telepon kantor, air dan juga beberapa tagihan lainnya. Jadi kemungkinan habis pak," lanjut Marsela lagi dengan nada gemetar takut Mario tiba-tiba naik pitam.
"Ya sudah, kamu selesaikan saja semua pembayaran. Oh, begini tadi saya juga bayar ke toko JKL dan toko LMN tapi baru sebagian. Coba kamu tanyakan lagi berapa jumlah hutang kita, dan coba kamu tanya semua rekanan kita, tepatnya berapa semua hutang lalu coba negosiasi, siapa tahu ada discount," kata Mario sambil menutup telepon genggamnya setelah dia tadi menghubungi Marsela.
Soraya sedang dikenalkan oleh guru bahasa Inggris yang akan dia gantikan kepada semua siswa, dia dibawa oleh guru tersebut memasuki kelas satu per satu.
"Anak-anak, nanti kalian mulai minggu depan belajar Bahasa Inggris bersama Ibu Soraya yah. Ibu mohon pamit kepada kalian semua, karena akan ikut suami Ibu keluar Pulau Jawa," kata guru tersebut kepada semua siswa didiknya.
"Wah, nanti guru baru galak tidak bu?".
"Ibu Soraya baik kan?".
"Sudah menikah belum bu?".
"Nanti kalau guru baru boleh menyontek tidak?".
Komentar siswa SMP memang ada-ada saja, tapi Soraya malah jadi senang dan sangat bersemangat. Dia akan segera mempunyai tantangan baru yaitu mengajar mereka semua di minggu depan.
"Jadi ini materinya yah, nanti Ibu Soraya tinggal mengikuti saja petunjuk dari buku acuan pelajaran ini," ujar Ibu Rika yang akan segera digantikan posisinya oleh dirinya.
"Baik Ibu Rika, nanti akan saya pelajari dulu semuanya agar minggu depan bisa segera saya sampaikan pokok materi pelajaran kepada siswa," sahut Soraya dengan senangnya.
"Ya cuma Ibu harus banyak sabar tapi tetap harus tegas, karena yang sekolah di sini rata-rata yang ekonomi keluarganya menengah ke atas, bahkan ada yang atas sekali. Terkadang anak-anak orang kaya suka meremehkan guru juga," kata Ibu Rika memberi masukan kepada Soraya.
"Tapi jangan kecil hati, asal kita tegas dan memang benar kita mau anak-anak pintar, maka kita tidak akan kalah sama kekuatan orang tua mereka".
"Hati-hati yah, jangan sampai kita bisa dibeli oleh orang tua mereka, ada anak yang kemampuannya di bawah rata-rata tapi orang tua suka memaksakan kehendak. Jadi ada sebagian orang tua yang tahu ada guru baru, lalu mencoba membeli kita dengan memberi uang atau apapun," lanjut Ibu Rika lagi menasehati Soraya agar jangan terjebak.
"Benar Soraya, kamu harus hati-hati karena pernah ada guru yang ketahuan bisa disuap oleh orang tua siswa. Dia menyulap nilai anak yang tidak pandai, tiba-tiba di rapor nilainya tinggi. Maka terpaksa kami keluarkan dengan tidak hormat," Nania yang baru masuk ruangan guru juga menambahkan nasehat kepada Soraya.
Sambil senyum Soraya mencoba memahami semua masukan dari teman-teman guru di sana.
Memang pendapatan guru tidak seberapa, tapi kelak bisa membuat siswa menjadi pandai tentu akan menjadi kebanggaan tersendiri bagi seorang guru.
Soraya pamit pulang, sekarang dia membawa banyak buku pelajaran untuk dia pelajari agar hari Senin nanti bisa segera menyampaikan kepada siswa-siswa di sekolah tersebut.
Di depan gerbang sekolah terlihat ada mobil suaminya terparkir, lalu dia mendekati tetapi tak nampak Mario di sana.
Soraya mencarinya, bahkan bertanya kepada petugas parkir yang ada di situ.
"Tadi pemilik mobil ini menyeberang jalan, lalu kalau tak salah masuk ke gang sebelah jembatan sana bu," sahut petugas parkir ketika Soraya menanyakan kemana pemilik mobil tersebut.
Soraya paham berarti Mario sedang berada di rumah Ibu Wongso, karena lewat jalan itu bisa menuju ke rumah masa gadisnya dulu.
"Mama, ada Bang Rio di sini?" tanya Soraya ketika masuk ke rumah ibunya.
"Sttt...ada sedang tidur di kamarmu dulu. Sudah biarkan dulu, tadi dia terlihat sangat kelelahan," jawab Ibu Wongso dan melarang Soraya berkata kencang.
Soraya mengintip suaminya yang memang terlihat sedang terlelap membelakangi pintu kamar.
"Tumben sekali sih Bang Rio tidur di sini," ujar Soraya merasa aneh saja melihat suaminya.
"Sering kok, tidur siang atau makan di sini. Katanya enak sepi dan adem walau tak ada AC juga," kata Ibu Wongso memberitahu Soraya.
"Hmmm...memang adem sih kamarku karena langsung menghadap pohon mangga yang rindang," kata Soraya sambil senyum.
"Kamu mau makan dulu atau menunggu suamimu?".
"Nanti saja deh tunggu Bang Rio bangun, kasihan mungkin sedang banyak pikiran juga".
Padahal Mario tidak tidur, tapi dia memang sedang pusing dan sakit kepalanya.
Tagihan begitu banyaknya, mencapai angka hampir dua ratus lima puluh juta rupiah.
Entah dibawa kemana larinya uang sebanyak itu oleh Darman, hampir tujuh tahun merintis usaha dan selama itu pula Darman selalu setia dan jujur bekerja dengan dirinya.
Sebenarnya bisa saja pinjam uang kepada Papih Hansen atau kepada Abang Robert.
Tapi nanti malah akan ribut dan tak enak saja kalau sampai harus menyusahkan banyak orang.
Saat ini yang bisa dilakukan hanya terpejam sambil berpikir apa yang harus dilakukan untuk menutupi semua tagihan tersebut.
__ADS_1