PENGKHIATAN CINTA

PENGKHIATAN CINTA
Mulai Ada Godaan


__ADS_3

Beberapa hari telah berlalu, berita miring yang tersebar di media sosial tidak perlu dihiraukan, walau ada orang-orang yang diam-diam berusaha mengorek sejauh mana kebenaran berita tersebut.


Malah Yanti yang seperti orang kesurupan saat membaca berita tentang insinyur yang mencari cinta, begitu melihat fotonya ternyata Jimmy.


Tiba-tiba dia menjadi uring-uringan tak jelas, dan tentunya menjadi bahan ledekan dari teman-temannya.


" Si Yanti mau mencari cinta lamanya, kagak tahunya itu cowok lagi dideketin cewek kaya raya juga. Hahahaha, berarti itu cowok kagak bakal melirik elu, Yanti....Hahahaha," Chika berbahak-bahak melihat Yanti kelimpungan ketika tahu ada berita kalau Jimmy sedang berusaha mendekati perempuan lain.


"Nanti dulu, itu cewek badannya juga gede dong, kagak kayak gue langsing dan seksi. Setahu gue yang namanya Jimmy paling anti cewek yang badannya gede," tukas Yanti seakan paling memahami Jimmy.


"Hahahaha, mungkin sekarang beda selera. Elu sekarang bukan langsing, tapi hidup elu susah... hahahahaha. Jadi elu kurus kering, Yanti....Yanti.... hahahaha," Erika juga ikut menertawakan Yanti.


"Kita buktikan, walau gue sekarang janda tapi gue masih menggoda. Yakin seratus persen kalau gue masih lebih menggairahkan di mata Jimmy, dibandingkan cewek yang badannya kayak kulkas dua pintu begitu," ujar Yanti dengan penuh percaya diri.


"Hahahaha, ayo maju Yanti. Masa kalah sama gadis badan gede, janda kayak kita jauh lebih pengalaman dalam bercinta," Chika memanasi hati Yanti agar semakin berkobar untuk merebut lagi cinta Jimmy.


"Kalau dilihat-lihat ini cewek kayak ada turunan bulenya. Gue kayak pernah lihat mukanya, dimana yah?" Erika mengamati foto Jimmy dan Kristy yang terpampang di media sosial pada ponselnya.


"Mana sih?" tanya Chika ikut melihat foto dari ponselnya Erika.


"Kalau tidak salah, ini cewek yang punya Big Beauty Resto. Elu ingat kagak? yang waktu itu gue sama Yanti minta disediain minuman beralkohol, lalu dia marah karena di rumah makan itu kagak nyediain," ujar Chika mengingatkan teman-temannya.


"Oh, iya, benar ini cewek yang di rumah makan itu. Gue sih enggak terlalu ingat karena yang pesan tempat Chika, dan Yanti yang minta minuman beralkohol juga minta tambahan waktu lagi sampai tengah malam," Erika baru ingat kejadian beberapa waktu yang lalu di Big Beauty Resto.


"Hmmm, kita harus kesana lagi saat ada Jimmy. Gue harus nunjukin sama itu cewek, kalau gue jauh lebih berarti di hati Jimmy dibandingkan dia. Lu berdua bantu gue, kita intip kegiatan mereka berdua," pinta Yanti yang disepakati oleh kedua temannya.


Memang benar hubungan antara Jimmy dan Kristy kian hari kian dekat saja, walau belum ada kata pernyataan cinta yang keluar langsung dari bibir Jimmy, tapi keduanya merasakan kehangatan kedekatan yang tengah terjalin diantara mereka.


Hampit setiap hari Jimmy pasti menemui Kristy ke rumah makannya, entah itu sekedar makan siang atau makan malam, dan bisa sampai menjelang tengah malam Jimmy baru terlihat pulang dari rumah makan tersebut


Keduanyapun sudah sering terlihat pergi berduaan, entah itu pergi bersamaan dengan adanya urusan pekerjaan, tapi diluar urusan itu juga keduanya sering terlihat jalan berdua.


Sekarang ini Jimmy kalau ditanya baik oleh ibunya atau bik Atik soal akan makan di rumah atau tidaknya, pasti jawabannya sekarang selalu sama.


"Kayaknya aku makan di Kristy, bik Atik enggak usah masak banyak-banyak, yah. Cukup untuk papih, mamih dan bik Atik saja," ujar Jimmy sambil berangkat ke kantor.


Biasanya oma Regina dan bik Atik langsung saling berpandangan, saling paham kalau Jimmy sekarang sudah semakin dekat dengan Kristy.


Begitu juga kalau Kristy ada rapat di kampus, selalu Jimmy yang mengantarkannya.


"Epi, nanti pulang rapat aku nebeng ke resto, yah".


"Tadi kamu kemari sama siapa?" tanya Stevie yang biasanya pasti sedang berbincang dengan Soraya soal rencana show road ke sekolah- sekolah.


"Biasa diantar Jimmy, hanya dia tidak bisa menjemput. Jadi aku pulangnya ikut Epi," jawab Kristy malu-malu.


"Oh....ehm...ehm...iya deh," sahut Stevie sambil saling memberi kode paham dengan Soraya.


Setibanya di lapangan, Jimmy langsung menemui Aliong dan babeh Jupri.


Seperti biasa menanyakan kendala, menanyakan progress pekerjaan sudah berapa persen yang bisa selesai pada hari itu dan juga pemeriksaan bahan baku sesuai laporan dari Aliong dan babeh Jupri.


Selesai pemeriksaan, lalu Jimmy dan Aliong duduk di atas tumpukan batako sambil berbincang masalah pekerjaan dan lain-lainnya.


"Jimmy, kemarin aku sudah dapat alamat rumah yang terbengkalai dari Marsela. Rupanya letaknya tidak terlalu jauh dari kota yah. Ke arah selatan sana," ujar Aliong.


"Mungkin saja, aku sendiri kurang paham hal itu. Perkara itu dulu bang Rio yang tangani, tapi sampai sekarang bang Rio sudah tidak ada juga ternyata masalah rumah itu masih menggantung," sahut Jimmy.


"Besok minggu rencananya aku dan Yu Chen akan melihat kesana. Kalau misalkan Yu Chen cocok, bolehkah aku membelinya dengan mencicil ke kantor per bulan untuk pembayarannya dipotong dari gajiku?" tanya Aliong penuh harap.


"Mudah saja kalau misal cici Yu Chen sudah cocok sih. Lihat saja dulu kesana, walau aku tidak melihat tapi sepertinya aku sangat yakin rumah itu akan butuh perbaikan sana dan sini," sahut Jimmy menjelaskan.


"Baiklah, aku ijin yah, nanti hari minggu kesana melihatnya".


"Silahkan," sahut Jimmy sambil menganggukan kepalanya.


"Jim, aku dengar kamu dan Kristy sekarang dekat. Apa kalian sudah jadian?" tanya Aliong tiba-tiba.


Tentu saja Jimmy agak terkejut mendengar pertanyaan itu dan menatap Aliong dengan bibir atas dilipat ke dalam mulutnya.


"Kami baru saja dekat, masih awal dekat untuk hubungan lebih dari sekedar teman biasa," jawab Jimmy.


"Bilang pacaran saja sulit amat, bro," tukas Aliong.


"Hmmm, ya begitulah," sahut Jimmy salah tingkah.


"Sudahlah cepat nikah, jangan pakai pacaran lagi. Kamu sudah umur berapa, dan kurasa dia juga sudah siap jadi istri," tukas Aliong.


"Aduh....ko Aliong, kita sedang mengerjakan proyek punya ibunya dan kakaknya. Aku fokus sama ini dulu, karena kalau proyek kita gagal maka semua yakin akan batal juga," Jimmy terlihat khawatir sekali.


"Beda urusan, bro. Memang benar kita harus fokus agar proyek berhasil tepat waktu, namun hubungan kalian juga harus tetap berjalan. Itu dua urusan berbeda menurutku," Aliong menasehati Jimmy.


Baru saja Jimmy hendak menjawab, tiba-tiba terdengar ada suara Wildan dari belakang mereka.


"Jimmy!!! Aliong!!! gue datang!!!" teriak Wildan sambil mendekat ke arah tumpukan batako yang diduduki Aliong dan Jimmy.


"Halo!!! tumben boss Wildan datang kemari ?!" sapa Aliong sambil berdiri dan menyambut kedatangan Wildan.


"Apa kabar kalian, bro?" tanya Wildan sambil menyalami Jimmy dan Aliong.


"Baik boss, ayo duduk di sini, mau kopi atau apa?" tanya Jimmy.


"Aku mau kopi es, sepertinya segar minum itu di hawa panas begini," sahut Wildan sambil duduk di salah satu tumpukan batako lainnya.


"Mpok!!! kopi es tiga!!!" teriak Aliong kepada ibu warung tenda penjual makanan di bawah pohon.


Terlihat ibu Itu mengacungkan jempol tanda paham permintaan Aliong.


"Jim, kemarin gue telepon Marsela, biasa urusan pembayaran. Lalu dia bilang lagi cari orang buat bantu dia jadi bagian administrasi. Nah, kebetulan ini ada anaknya teman kakak gue baru lulus diploma, jurusan sekretaris perkantoran. Siapa tahu saja bisa cocok kerja di tempat elu buat bantu Marsela," ujar Wildan sambil memberikan sebuah amplop coklat besar kepada Jimmy.


"Ini apa, boss?" tanya Jimmy ketika menerima amplop tersebut.


"Surat lamaran anak itu, buat kerja di tempat elu," sahut Wildan sambil menerima kopi es yang disodorkan oleh penjual warung.

__ADS_1


Jimmy membuka amplop, mengeluarkan berkas surat lamaran kerja yang baru saja diberikan oleh Wildan.


"Astaga, cantik banget ini. Anak siapa ini, boss!!!" pekik Jimmy ketika melihat foto yang terselip pada penjepit kertas yang ada di bagian atas surat lamaran kerja tersebut.


"Tumben elu doyan cewek?" Wildan terkejut ketika Jimmy terlihat terpana saat melihat foto di surat lamaran tersebut.


"Baru saja elu cerita habis jadian sama Kristy, sekarang lihat foto cewek lain terpesona. Tapi...iya bener, tumben banget Jimmy bisa suka cewek cantik," sela Aliong yang juga jadi mempertanyakan sikap Jimmy.


"Kristy? maksudnya Kristy yang punya rumah makan itu?" Wildan jadi ingin tahu.


"Iya, barusan dia cerita sama gue, katanya dia lagi mulai dekat hubungannya sama Kristy," sahut Aliong menjawab pertanyaan Wildan.


"Selamat dong, cepat nikah. Jangan banyak mikir lagi, umur tiga puluh tahun lebih cuma tahu fungsinya buat buang air kecil doang, payah lu !!!" pekik Wildan meledek Jimmy.


"Pasti gue nikah, tenang saja. Cuma belakangan ini gue merasa aneh, berasa banyak cewek cantik di sekitar gue, di saat gue sudah dekat sama Kristy ," ujar Jimmy sambil mengetukkan jari telunjuk ke pelipisnya.


"Hahahaha, itu sih biasa. Dulu elu menutup diri dari cewek, jadi cewek secantik apapun kagak bakal bikin elu tertarik. Nah...sekarang elu buka hati, mulai terima Kristy. Otomatis aura elu untuk melihat cewek cantik itu terbuka," Wildan sok tahu menjelaskan seperti itu.


Jimmy mendengarkan sambil mengerutkan keningnya seakan berpikir ,"Benar juga, boss Wildan. Masalahnya gue belanja minuman ke mini market, lihat kasir cantik. Kemarin ini, padahal lagi jalan sama Kristy, eh...ada SPG rokok dong. Sumpah....cantik banget".


Aliong dan Wildan tertawa mengakak mendengar ucapan Jimmy barusan.


"Sudahlah, mending sekarang pikirkan saja hubungan lu sama Kristy. Sudah fokus saja sama dia, cari yang kayak gitu susah bro. Cantik, pintar, mandiri, jago masak, mau apa lagi. Untung saja dia suka sama elu, hahahaha," Aliong menertawakan Jimmy.


"Iya, memang hukum alam. Lagi jomblo, susah banget ketemu cewek cantik. Pas sudah punya pacar, eh... baru kelihatan banyak cewek cantik berkeliaran di sekeliling kita. Tapi itu belum seberapa, nanti kalau sudah nikah baru tahu rasa. Waduh... tambah banyak lagi godaan, cewek cantik dan muda malah mengejar kita," Wildan menuturkan sambil geleng-geleng kepala.


"Nah....itu dia, gue kagak mau sampai kayak abang gue. Makanya gue dari dulu anti dijodohkan, lebih baik cari sendiri. Semoga saja gue bisa bertahan sama Kristy, sebab dia juga terlalu mandiri, bikin gue merasa sulit menebak isi hatinya," keluh Jimmy.


"Sudahlah, abang lu dulu punya cerita hidup sendiri. Sekarang lu juga pasti punya cerita lain, kisah cinta gue sama Yu Chen juga penuh liku. Boss Wildan juga sama istri pasti punya kisah sendiri, yang penting lu harus yakin kalau Kristy orang yang tepat buat lu jadikan pasangan hidup," Aliong kembali menasihati Jimmy.


"Jim, jangan-jangan lu deketin itu cewek karena orang tuanya tajir melintir tidak kikir dan suka memberi kaum fakir," Wildan setengah menyelidik.


"Hahahaha, banyak yang nuduh kayak gitu. Padahal aku kenal dia lebih dulu, bahkan kalau dibilang sejak kami kecil. Tapi terpisah waktu, lalu baru ketemu lagi sekarang".


"Pada kenyataannya, dia tidak sepaham dengan orang tuanya, terutama dengan ayahnya. Jadi Kristy lebih memilih hidup sendiri, mandiri, tidak mau dikaitkan dengan ayahnya," sahut Jimmy menjelaskan tentang Kristy.


"Kalau kayak gitu, berarti benar lu musti cepetan nikahin dia. Walau kagak kelihatan, tapi gue yakin seratus persen banyak cowok mengincar dia," ujar Wildan mengingatkan lagi.


"Hmmm, untuk hal itu mungkin iya, tapi kayaknya Kristy bukan cewek gampang didekati. Sekarang saja, walau kami sudah dekat, rasanya dia juga enggak semudah itu untuk diajak nikah," jawab Jimmy.


"Ya, tinggal kamu berjuang saja, aku yakin kalau kamu gigih dan menunjukkan keseriusan, pasti lama-lama luluh juga hatinya," ujar Aliong sambil menepuk pundak Jimmy.


Kita kembali ke gedung kampus, tepatnya di ruang rapat. Saat ini ada Soraya, Kristy, Stevie dan John Dawson, berempat sedang bercakap-cakap masalah road show ke sekolah-sekolah dan juga acara lomba memasak antar Sekolah Kejuruan.


Stevie melihat daftar nama pengajar dan karyawan yang akan dijadikan panitia untuk acara tersebut.


"Ibu Soraya, saya dengar anda tidak terlalu baik hubungannya dengan ibu Ira dan ibu Anes. Tapi nama mereka berdua anda cantumkan dalam daftar ini dan keduanya menjadi koordinator bendahara dan tim pencari dana. Apakah anda yakin?" tanya Stevie menatap aneh kepada Soraya.


Sambil tersenyum, lalu Soraya menjawab," Ibu Stevie, saya yakin mereka berdua bisa. Ibu Ira adalah dosen ilmu ekonomi, sedangkan ibu Anes adalah dosen ilmu komunikasi".


"Ibu Anes bisa menjalin kerjasama dengan radio-radio swasta dan media sosial lainnya untuk acara ini. Lalu beliau akan membentuk tim donatur berupa mencari sponsor perusahaan- perusahaan yang dapat menyokong kesuksesan program ini," sahut Soraya menjelaskan.


"Sementara ibu Ira selaku ahli ekonomi tentu dapat mengatur dana untuk kelancaran acara ini dari awal sampai nanti penerimaan mahasiswa baru di tahun mendatang".


Stevie mendengarkan sambil mencerna apa yang disampaikan oleh Soraya. Setelah memahami penjelasan Soraya, akhirnya Stevie mengangguk setuju.


Tinggal Soraya, Kristy dan John Dawson di dalam ruangan rapat tersebut.


"Well, tinggal kita bertiga. Untuk itu mari kita bahas rencana road show dan juga lomba memasak. Harapan saya dalam tiga hari ke depan nanti, kita sudah bisa menyampaikan kepada ibu Stevie untuk diajukan ke yayasan," ujar Soraya memulai rapat kecilnya.


Kristy dan John Dawson masing- masing memberikan masukan dan ide-ide untuk pelaksaan acara tersebut nanti.


"Aku buat dulu konsep proposal sesuai dengan saran dan ide dari Kristy dan mr. Dawson. Nanti kita bertemu lagi lusa, untuk mematangkan proposal ini sebelum kita sampaikan ke ibu Stevie," ujar Soraya setelah mencatat semua masukan dari tim kerjanya.


"Oke, lusa aku usahakan hadir. Sekarang aku harus segera ke rumah makan, karena barusan karyawan mengirimkan beberapa pesan agar aku jangan pergi terlalu lama karena ada beberapa hal yang tidak bisa mereka putuskan," kata Kristy sambil sekalian minta ijin kembali ke tempat usahanya.


Soraya mengijinkan, lalu Kristy segera keluar dari ruangan sambil memesan taksi on line.


"Just us," ujar John Dawson tiba-tiba sambil tersenyum kepada Soraya.


Melihat itu Soraya tentu saja merasa aneh, lalu bertanya ,"Hanya tinggal kita, lalu mengapa?".


"Apakah anda ada waktu? saya ingin mengajak anda makan siang berdua saja sambil mungkin bisa mengenal anda lebih dekat," John Dawson mengajak Soraya penuh harapan.


"Mr. Dawson, bukankah kita diberi waktu sangat singkat untuk membuat konsep kerja. Saya banyak pekerjaan, harus mengajar dan juga membuat rancangan proposal. Jadi mohon maaf, saya tidak bisa menerima ajakan anda," jawab Soraya dengan santun.


"Tapi mungkin lain waktu saya bisa mengajak anda makan siang atau makan malam berdua saja. Jujur saya ingin mengenal anda lebih dekat," John Dawson masih mencoba mengajak Soraya.


Mendengar itu Soraya hanya terdiam, lalu meraih buku catatannya, sambil tersenyum tanpa menjawab pertanyaan John Dawson, dia melangkah keluar ruangan menuju ruangan kerjanya.


John Dawson ditinggal sendirian di ruangan itu, matanya menatap punggung Soraya yang berjalan meninggalkannya. Hal ini malah membuat dirinya semakin penasaran terhadap Soraya.


Sementara di kota Semarang terlihat Aletha sudah mulai berpraktek lagi di klinik giginya.


Penampilannya yang berbeda membuatnya terlihat semakin menawan, balutan hijab sekarang tak pernah lepas menutupi kepalanya.


Apalagi Aletha banyak belajar dari Yunita cara memakai hijab kain, sehingga sekarang dia bisa melakukan berbagai gaya berhijab disesuaikan dengan model dan warna pakaian yang dikenakannya.


Siang itu dia baru selesai praktek sesi pertama, biasanya dia gunakan waktunya untuk menjemput Edwin anaknya dari sekolah.


Tapi hari itu dia sedikit mengalah karena orang tuanya selalu saja sibuk melakukan negosiasi dengannya agar diberikan ijin sesekali menjemput cucunya pulang dari sekolah.


"Tumben dok, biasanya ke sekolah?" tanya perawat yang membantunya.


"Hari ini dijemput kakek dan nenek, sudah sebulan lebih tidak menjemput ke sekolah jadinya kangen," sahut Aletha.


"Dari bayi bersama kakek dan nenek, pastinya mereka sangat kehilangan saat Edwin dibawa pindah oleh dokter," kata perawat lagi.


"Biar mandiri, sus. Kalau tidak pindah, Edwin sangat manja sekali. Aku khawatir, dia anak laki-laki, aku tak mau kelak dia menjadi lelaki cengeng," sahut Aletha lagi.


"Dilema, orang tua bekerja hampir rata-rata masalahnya sama. Anak dititipkan kepada orang tua kita atau kepada mertua, malah manja. Kita mengajari agar mandiri, malah kakek dan nenek membelanya terus. Entahlah, mungkin karena tuntutan jaman, kita sebagai orang tua muda terkadang menjadi serba salah," perawat juga mengeluhkan masalah yang sama.


Aletha mendengarkan sambil merasakan, kadang dia juga suka merasa bersalah kepada orang tuanya. Tapi kalau Edwin terus bersama kedua orang tuanya, dalam pemikiran Aletha khawatir kalau kelak Edwin akan menjadi pribadi yang tidak bertanggung jawab atas apapun juga.

__ADS_1


Ketika sedang mengutak-atik ponselnya, tiba-tiba ada panggilan masuk dari Fuad. Seketika Aletha merasa terkejut setengah mati, secara selama ini mereka sangat jarang berkomunikasi.


Setelah kemarin ini mengantarkan Fuad ke Cirebon, lalu sehabis itu mereka kembali disibukan dengan kehidupan masing-masing.


"Assalamualaikum, apa kabar mas Fuad?" tanya Aletha saat menjawab panggilan itu.


"Waalaikumsalam, kabar baik. Kalau mbak Etha sendiri apa kabarnya?" Fuad bertanya balik.


"Alhamdulillah, saya baik-baik saja. Tumben telepon, ada apa gerangan yang bisa saya bantu?" tanya Aletha lagi.


"Hanya mau memberi kabar, minggu depan saya ada rencana ke Semarang dalam rangka tugas pekerjaan selama sekitar dua atau tiga hari. Apakah nanti mbak Aletha bersedia bertemu saat saya di sana nanti?".


"Oh, tentu saja, dengan senang hati saya akan menemui mas Fuad. Kapan tepatnya tanggal mas Fuad akan kemari?".


"Tanggalnya belum pasti, nanti saya akan beri kabar lagi kalau misalkan sudah ada surat keputusan untuk berdinas ke sana".


"Baiklah, saya tunggu kabarnya. Jangan sampai lupa tidak mengabari saya, sangat senang sekali mendengarnya mas Fuad akan kemari. Saya menunggu kedatangannya".


"Insyaallah, begitu surat dinas turun, segera saya hubungi mbak Etha".


Serasa berbunga-bunga hati Aletha saat mendengar Fuad akan datang ke Semarang. Walau dalam urusan tugas pekerjaan, tapi setidaknya sudah mengisyaratkan kalau Fuad ingin bertemu dengan dirinya.


Selesai menutup telepon, Aletha senyum-senyum sendiri seperti anak gadis belia yang baru saja menerima berita bahagia dari kekasihnya.


Perawat yang sejak tadi ada disitu, pura-pura tidak tahu padahal sejak tadi dia mencuri dengar percakapan Aletha dengan seorang pria yang meneleponnya.


Menjelang malam Big Beauty Resto banyak didatangi pengunjung yang sengaja makan di tempat atau hanya memesan dan membawa pulang.


Jimmy baru saja datang, lalu setelah memarkirkan mobilnya tepat di halaman rumah makan, dia segera turun dan masuk ke dalam rumah makan itu.


"Rejeki memang tidak akan kemana, itu dia Jimmy mantan kekasihku," ujar Yanti dari dalam mobil Erika yang sejak tadi parkir di seberang jalan di depan Big Beauty Resto.


"Walah... pantes si Yanti penasaran, tinggi besar dan tampan, gagah pula. Tapi kok, dulu elu malah pilih si Dani, tinggi kurus kayak papan setrikaan," Chika kalau komentar pasti pedas.


"Dulu nomor seri duitnya beda, si Dani duit di dompetnya enggak ada serinya. Kalau si Jimmy kebanyakan serinya, setiap harinya dijatah cuma satu nomor satu lembar yang bisa keluar dari dompetnya. Hahahahah," ujar Erika menjawabkan pertanyaan Chika.


"Sudah cepat kita susul dia, semoga saja dompetnya sekarang sudah beda. Dulu masih jaman kuliah, sekarang dia sudah jadi boss," ajak Yanti sambil segera turun dari mobil.


Jimmy duduk di meja sudut yang tidak jauh dari meja kasir, sesekali dia melihat Kristy yang selalu menebar senyum keramahan kepada setiap pelanggannya.


Bahkan terkadang ada juga pria yang mencoba merayunya, tapi Kristy sangat profesional. Dia selalu menjawab pertanyaan dan rayuan para lelaki iseng itu dengan santun tapi tegas.


"Boss cantik, itu ada rombongan cewek reseh yang tempo hari makan di sini," ujar Oci berbisik kepada Kristy sambil jarinya menunjuk ke arah pintu masuk.


Benar saja ada rombongan Yanti masuk bersama Chika dan Erika.


Ketiganya terlihat menengok kanan dan kiri seakan sedang mencari meja kosong, padahal mereka mencari meja yang tengah diduduki oleh sosok seorang Jimmy.


"Itu dia," bisik Yanti sambil segera menuju meja Jimmy.


Saat itu Jimmy tidak sadar, dia sedang memainkan ponselnya sambil menunggu Kristy datang membawa makanan dan menemaninya makan malam.


"Hai, Jimmy," sapa Yanti.


Jimmy mendongak dan terkejut melihat ada sosok Yanti berdiri di hadapannya.


Terlihat Yanti tengah berdiri di samping meja yang sedang Jimmy tempati.


Wanita itu ditemani dua orang wanita lainnya, dan ketiganya berdandan cantik dan mengenakan pakaian yang sangat seksi sekali dengan belahan dada yang terlihat hampir menyembul.


Tubuh ketiganya yang ramping berbalut celana panjang dan atasan ketat ditambah belahan dada menggoda, pasti penampilan ketiganya mengundang perhatian para pria yang sedang makan di rumah makan saat itu.


Jimmy juga sampai menelan ludah ketika melihat penampilan Yanti yang terlihat begitu menggoda.


"Eh...oh...Yanti...hai...ada apa yah?"tanya Jimmy dengan gugup.


"Kebetulan kita ketemu di sini, kami baru saja datang dan meja terlihat penuh semua. Apakah kamu sedang menunggu orang lain?" tanya Yanti berpura-pura.


"Tidak juga," jawab Jimmy.


"Kami boleh gabung di sini sebentar, yah. Nanti kalau sudah ada meja lain yang kosong, aku dan temanku akan segera pindah," lanjut Yanti.


Jimmy tampak berpikir sejenak, tapi alasan Yanti cukup masuk akal jadi dia mempersilahkan ketiganya menempati meja itu bersama dirinya.


Segera saja Yanti tanpa banyak bicara lagi langsung duduk di kursi samping Jimmy, sementara Erika dan Chika menempati kursi dihadapan mereka.


Yanti langsung menanyakan kabar Jimmy dan keluarganya, dia memulai basa basi yang seakan santun dan sehalus mungkin. Sehingga Jimmy yang awalnya kaku, lama-lama mencair juga. Mulai terbawa suasana, apalagi ketiga wanita itu sangat pandai memainkan skenarionya.


Dari awal percakapan yang umum soal keluarga dan pekerjaan, lalu mulai sedikit demi sedikit menggali ke ranah pribadi. Bahkan secara gamblang Yanti juga memaparkan kalau dirinya sudah berpisah dengan Dani suaminya.


Dani dulu adalah teman baik Jimmy, sesama atlet basket di kampus mereka. Bahkan keduanya sering ditempatkan bersama untuk mengikuti kejuaraan antar kampus.


Namun entah bagaimana ceritanya, Yanti kekasih Jimmy masa itu telah berpaling dari dirinya, bahkan sampai hamil anaknya Dani.


Keduanya lalu menikah, dan setelah itu pindah ke Medan. Selama itu, Jimmy tak pernah tahu lagi kisah mereka dan sebenarnya tidak mau tahu lagi.


Tapi ternyata takdir bicara lain, sekarang wanita yang dulu pernah dia cintai dan pernah mengkhianatinya, sekarang duduk di hadapannya di dalam rumah makan milik kekasihnya Jimmy.


Yanti pintar mengolah kata dan memainkan suasana, sehingga Jimmy sekarang terlihat santai berbincang dengan ketiga wanita itu.


Dari meja kasir terlihat Yanti tengah tertawa-tawa sambil sesekali tangan rampingnya yang dihiasi cincin dan gelang, juga kuku-kuku runcing yang berwarna merah, menepuk dan mengelus lengan Jimmy.


Rupanya Yanti tengah bercerita tentang teman-temannya masa lalu saat di kampus dulu.


Tadinya kalau ada meja kosong, rencananya Yanti dan kedua temannya akan pindah. Tapi sampai menjelang rumah makan tutup, mereka terus duduk bersama Jimmy sambil tertawa-tawa gembira.


Oci melihat Kristy wajahnya berubah cemberut, biasanya dia membantu melayani pelanggan. Tapi setelah melihat tingkah Jimmy yang terlihat begitu nyaman bersama wanita-wanita itu, segera Kristy masuk dapur dan mulai mengerjakan masakan pesanan.


"Aku saja yang masak, gantian kamu yang bantu Oci melayani pelanggan," ujar Kristy kepada koki masaknya.


Bahkan Kristy memerintahkan Oci untuk menyampaikan kepada Jimmy, nanti kalau sudah selesai makan Jimmy pulang saja dulu karena dirinya masih sangat sibuk.


Harapan Kristy di dalam hatinya Jimmy akan tetap di rumah makan menunggunya sampai selesai, tapi ternyata tidak.

__ADS_1


Selesai makan Yanti dan kedua temannya kembali melakukan skenario lagi, dengan alasan Erika dan Chika masih ada urusan lain, sehingga meminta Jimmy mengantarkan Yanti pulang.


Dengan mulusnya drama ketiganya berjalan sesuai yang diharapkan, aura licik dibalut begitu manis sehingga Jimmy tidak menyadari kalau itu adalah perangkap.


__ADS_2