
Hari minggu pagi yang cerah, Jimmy segera bangun pagi untuk berangkat beribadah.
Di tempat ibadah dia bertemu Soraya yang mukanya tampak terlihat ruwet, rupanya Soraya masih belum menemukan berkas dokumen asuransi jiwa milik suaminya.
Padahal besok pagi rencananya akan bertemu dengan Asmida, dia gelisah bukan karena masalah nilai klaim asuransi tapi karena ingin sekali melihat dan bertemu dengan Asmida.
Selesai kebaktian, Jimmy menemui kakak iparnya di halaman gereja.
"Kak Aya, aku kira ikut dengan anak-anak ke villa bang Robert. Ternyata ada di sini," sapa Jimmy.
"Aku tak ikut, karena ada dokumen yang harus aku cari. Besok aku diminta ke kantor asuransi untuk bertemu dengan petugasnya, dan ternyata kakaknya Asmila," keluh Soraya dengan wajah masam.
"Wow, perlu aku antar?" tanya Jimmy.
"Tidak usah, aku bisa sendiri," jawab Soraya.
"Habis ini mau kemana, kak Aya?" tanya Jimmy lagi.
"Pulang. Aku masih harus mencari dokumen itu," jawab Soraya lagi.
"Oke, kalau butuh bantuan, nanti hubungi aku saja, yah".
Soraya mengangguk, namun saat berpaling akan menuju ke mobilnya, tak sengaja dia melihat dan menyadari sesuatu hal.
"Hei, Jimmy!!!".
"Ya, ada apa?".
Soraya menatap adik iparnya dari rambut sampai sepatunya, lalu senyum sambil wajahnya terlihat penasaran.
"Tumben, pagi ini tampak rapih, wangi, dan ganteng. Hmmm, akan kemana kamu?" tanya Soraya sambil tersenyum geli.
Jimmy terlihat sangat kikuk dan salah tingkah, tapi mencoba menjawab pertanyaan kakak iparnya.
"Aaaku...mau menjemput Kristy, kemarin kami ada janji," jawab Jimmy gugup.
"Wow...hebat, ini baru adikku. Ayo, lanjutkan!!!" ujar Soraya memberi semangat.
Jimmy mengangguk sambil malu-malu, lalu pamit kepada Soraya yang tengah mengacungkan jempol ke arahnya.
Setelah itu Jimmy segera melaju menuju ke rumah makan milik Kristy, dan ternyata belum buka padahal sudah jam sepuluh pagi.
Di depan pintu masuk terlihat ada tulisan kalau rumah makan hari ini akan mulai buka operasional pada jam sebelas lebih tiga puluh menit.
"Tumben, biasanya jam sembilan pagi juga sudah buka, apalagi sekarang hari minggu. Ada apa gerangan?" ujar Jimmy dalam hati.
Lalu Jimmy menelepon ke ponsel Kristy, namun sudah tiga kali mencoba menghubungi tak kunjung dijawab.
"Coba aku turun dan ketuk pintu rumah makan," ujar Jimmy lagi sambil segera turun dari mobilnya.
Jimmy mengetuk pintu rumah makan, dia juga mengintip dari kaca dan terlihat Kristy sedang sibuk menyiapkan keperluan bahan makanan dan lain- lainnya.
Lalu Jimmy berusaha mengetuk pintu agak lebih keras lagi, untung Oci segera mendengar dan segera berlari membukakan pintu untuk Jimmy.
"Selamat pagi boss ganteng, tumben pagi-pagi sudah kemari," sapa Oci saat membuka pintu untuk Jimmy.
"Saya mau jemput Kristy, tapi tampaknya kalian sedang sangat sibuk sekali, yah," sahut Jimmy.
"Boss cantik sudah siap, tapi seperti biasa dia orang yang tidak mau sampai ada yang keteteran atau terlupa saat akan meninggalkan rumah makan. Jadi sudah pasti akan membereskan dan memastikan semua persiapan sudah beres," Oci menjelaskan kepada Jimmy.
"Kenapa hari ini kalian buka rumah makan sangat siang sekali? aku lihat di depan pintu kalian memasang pengumuman akan mulai buka nanti satu jam ke depan," Jimmy mempertanyakan alasan mereka akan buka sangat siang sekali.
"Walah, kami semua baru terbangun sekitar jam delapan pagi, saat orang dari pasar datang mengantarkan sayuran dan daging pesanan rumah makan," sahut Oci.
"Kok bisa begitu?" Jimmy keheranan.
"Panjang ceritanya, yang pasti kami semua menginap di sini. Aku tidur di kamar boss cantik bersamanya, yang lain tidur di sofa sini bergelimpangan. Kemarin kami baru selesai jam tiga pagi, dan baru bisa tidur sekitar jam empat pagi. Sangat lelah sekali," Oci melanjutkan ceritanya.
"Memangnya ada apa semalam?" tanya Jimmy lagi.
Baru saja Oci mau menceritakan, terlihat Kristy keluar dari dapur.
Jimmy sampai tidak bisa berkedip karena Kristy terlihat sangat cantik dan seksi sekali.
Memakai rok terusan selutut bermotif bunga-bunga kecil dengan dasar kain putih, lengan baju pendek dan pakaiannya agak ketat.
Sepatunya sneakers warna merah muda dan kaos kaki pendek putih berenda merah muda juga.
Rambut di gerai bergelombang, riasan wajah sederhana tapi mempesona.
"Ayo, aku sudah siap," kata Kristy sambil menggendong tas ransel cantik di punggungnya.
Oci melirik Jimmy yang terlihat tak berkedip saat menatap Kristy, dalam hatinya yakin kalau Jimmy sebenarnya sudah jatuh hati kepada boss cantik.
"Ini kuenya jangan lupa," ujar Oci sambil menyerahkan sekotak kue kepada Kristy.
Lalu Kristy segera menerima kotak kue, dan mengikuti langkah Jimmy menuju mobilnya.
Semua karyawannya saling memberi kode tanda senang melihat boss mereka dijemput oleh pria yang mungkin akan menjadi pasangannya.
Kristy duduk di kursi samping pengemudi di dalam mobil Jimmy, lalu perlahan Jimmy mulai melajukan kendaraannya.
Keduanya saling diam, Jimmy bingung mau memulai berkata apa, sementara Kristy sedang merasakan jantungnya berdebar sebab sudah sangat lama sekali dia tak pernah duduk di dalam mobil seorang pria.
"Hmmm, tadi di pintu masuk aku lihat ada tulisan kalau rumah makanmu akan buka menjelang tengah hari nanti. Tumben sekali. Bahkan kata Oci kalian semua sangat kelelahan sekali tadi malam," Jimmy akhirnya mulai memberanikan diri membuka pembicaraan.
"Iya, semalam ada sekitar dua puluh orang wanita, kelihatannya sih ibu-ibu sosialita begitu. Mereka semalam meminta ijin membawa organ tunggal dari luar, lalu menyewa ruangan dan memesan makanan tanpa henti".
"Yang paling melelahkan saat seorang wanita yang datang belakangan. Kalau tidak salah namanya Damayanti, karena wanita itu yang kedatangannya disambut oleh para wanita lainnya, dielu-elukan bagai seorang artis" Kristy mulai menceritakan kejadian semalam di rumah makannya.
Jimmy sangat terkejut saat Kristy menyebut nama Damayanti, sebab nama itu adalah nama lengkap Yanti mantan kekasihnya yang pernah mengkhianatinya jaman dulu.
"Dielu-elukan bagaimana?" tanya Jimmy penasaran.
"Entahlah, aneh sekali. Yang lain memanggil namanya, lalu menyebutkan seakan wanita bernama Damayanti itu baru bergabung dengan mereka. Entah mereka kelompok apa, aku tak paham," sahut Kristy sambil mengangkat bahunya.
"Cuma yang aku tidak suka, wanita bernama Damayanti itu mendatangi aku dan bertanya apakah kami menjual minuman keras dan rokok. Lalu aku jawab tidak, lalu dia marah dan menyolot kepadaku. Katanya rumah makanku tak akan laku karena tidak menjual minuman keras juga rokok, bahkan mengancam kalau dia tidak akan pernah datang lagi ke rumah makanku," Kristy menceritakan tingkah laku wanita yang bernama Damayanti semalam.
"Menurutku tidak masalah dong kalau cuma wanita itu yang tidak akan datang lagi karena yang dia inginkan tidak ada di tempatmu," Jimmy berusaha menghiburnya.
"Iya sih, hanya aneh saja orang itu. Lalu mereka membayar lagi sewa ruangan sampai jam dua belas malam, padahal rumah makanku seharusnya sudah tutup jam sepuluh malam".
"Alhasil, kami harus merapihkan ruangan sampai subuh karena rombongan Damayanti telah membuat rumah makanku sangat berantakan sekali. Mereka bernyanyi sambil joget-joget di atas meja," keluh Kristy terlihat kesal dengan ulah rombongan wanita yang semalam telah menyewa ruangan di rumah makannya.
"Sudahlah, biarkan saja mereka, jangan dipikirkan lagi. Toh... sudah berlalu, yang penting mereka membayar dengan benar," ujar Jimmy mencoba menghiburnya lagi.
"Memang sih, hanya aku kasihan sama Oci dan kawan-kawan lain. Mereka saking kelelahan sampai harus tertidur di rumah makan, ada yang di sofa, di kursi, di meja bahkan di lantai. Kasihan sekali".
"Lain kali kalau rombongan mereka datang untuk menyewa lagi pasti akan aku tolak juga," sahut Kristy yang rupanya sangat tidak suka dengan kelompok itu.
"Sebaiknya begitu, lain kali mungkin Kristy harus lebih hati-hati kalau menerima pelanggan".
"Ya, terima kasih sarannya".
Kembali keduanya terdiam lagi, lalu Kristy memperhatikan jalan dan mulai sadar kalau sedari tadi mereka tidak menuju rumah Jimmy tapi seperti menuju keluar kota.
"Ini bukan jalan ke rumahmu, kita mau kemana ini? bukankah kita ditunggu oleh tante Regina ibumu?" tanya Kristy keheranan.
"Kita memang menuju puncak, kita akan makan di salah satu rumah makan di sana," jawab Jimmy.
__ADS_1
"Oh, tante Regina sudah menunggu kita di sana?" tanya Kristy lagi.
Jimmy tidak menjawab, hanya menengok ke arah Kristy sambil tersenyum, sehingga Kristy berpikir kalau ibunya Jimmy sudah menanti mereka di puncak.
"Tidak ada lagu di mobil ini?" tanya Kristy sambil menunjuk ke kotak audio.
"Ada, tapi selera musik aku campur aduk, ada lagu jadul dan ada juga lagu-lagu sekarang, yang enak didengar saja aku simpan dalam flashdisc lalu diputar di mobil," sahut Jimmy.
"Coba aku ingin tahu selera musiknya, bolehkan kalau aku nyalakan?" tanya Kristy sambil menatap Jimmy.
"Silahkan".
Lalu tangan Kristy segera merayap ke audio di mobil Jimmy dan menyalakannya.
Terdengar alunan lagu lawas saat pertama kali audio menyala, Can't help Falling in love yang didendangkan oleh Elvis Presley.
"Jadul sekali, tapi aku suka lagu ini," ujar Kristy dan dijawab Jimmy dengan senyum saja.
Setelah lagu itu usai, lalu kembali terdengar beberapa lagu dari tahun sembilan belas delapan puluhan dan sembilan belas sembilan puluhan yang bernuansa slow rock yang bertemakan cinta.
Salah satunya dari Bon Jovi yaitu yang berjudul Always, dan Kristy lamat-lamat ikut menyanyikan lirik lagu tersebut.
"Suara kamu bagus juga," ujar Jimmy.
"Mulai mengejek aku," sahut Kristy sambil sok cemberut.
"Enggak mengejek, aku serius," sahut Jimmy tapi Kristy hanya mencibir saja.
Memasuki daerah puncak, terdengar lagu dari grup band barat papan atas yaitu Cold Play dengan lagunya Fix You.
Sebuah lagu yang sangat dalam artinya menceritakan seorang lelaki yang menyatakan cinta kepada seorang wanita yang pernah terluka dengan kekasihnya di masa lalu.
Kemudian lelaki itu mengajak sang wanita untuk memperbaiki kisah lalu tersebut agar menjadi bahagia bersamanya.
Kembali Kristy menyanyikan pelan-pelan setiap bait yang didendangkan penyanyi itu.
Setelah lagu itu berlalu, tiba-tiba Jimmy bertanya," Kenapa kamu belum nikah?".
Kristy terhenyak atas pertanyaan dari Jimmy, dia menatap Jimmy tapi tidak berkata apapun.
Lalu beberapa detik kemudian malah Kristy yang balik bertanya kepadanya," Jimmy sendiri mengapa belum menikah?".
"Aku sih dikhianati," jawab Jimmy santai.
Setelah Jimmy menjawab, lalu hening keduanya.
"Kamu kenapa? kok tidak menjawab?" tanya Jimmy.
Kristy melirik ke arah Jimmy, lalu berkata," Aku ditinggalkan begitu saja".
"Kapan itu kejadiannya?" tanya Jimmy.
"Hmmm, ada sekitar tujuh tahun yang lalu saat aku masih berusia dua puluh lima tahun. Kalau kamu kapan?" Kristy balik bertanya.
"Lama banget, saat aku lulus kuliah jaman dulu," sahut Jimmy sambil membelok ke sebuah rumah makan yang terkenal enak masakannya dan memiliki pemandangan yang sangat indah.
Setelah parkir, lalu Jimmy mengajak Kristy turun tapi melarang membawa kue yang sejak tadi dibawanya, alasan Jimmy untuk di rumah saja nanti.
Kristy menurut dan turun dari mobil lalu mengikuti langkah Jimmy memasuki rumah makan tersebut.
Rupanya Jimmy sudah memesan tempat duduk, karena pelayan rumah makan mengajaknya ke sebuah meja makan yang ada tulisan "reserved" di atasnya.
"Tante Regina dimana duduknya, kok ini hanya untuk dua orang saja?" tanya Kristy polos.
"Mamihku dan papihku sedang ada di kota Bandung, abangku mengajak mereka berlibur kesana," sahut Jimmy sambil membuka menu yang disodorkan oleh pelayan rumah makan.
Kristy sontak membelalak, dan terlihat menjadi kesal.
"Tidak, mamihku kemarin pagi minta aku untuk mengajak kamu makan siang sebagai pengganti undangan mamihku kepada kamu," jawab Jimmy sambil senyum lebar kepada Kristy.
Karena sudah berada di puncak dan duduk di sebuah rumah makan, Kristy hanya bisa menghela nafas. Mau marah juga tak bisa, cuma merasa sebal saja karena Jimmy tidak jujur kepadanya.
Jimmy menyodorkan menu makanan, lalu Kristy memesan pasta dan minuman sari buah.
Setelah selesai memesan, lalu pelayan pamit untuk menyiapkan pesanan mereka berdua.
Terlihat Kristy masih cemberut, lalu Jimmy menggodanya.
"Jadi kamu marah, merasa aku membohongi kamu?".
"Iyalah, makanya aku mau diajak pergi olehmu karena merasa diundang oleh tante Regina," sahut Kristy sambil kesal.
"Oh, berarti harus janjian sama mamihku dulu, baru kamu mau diajak pergi olehku?" tanya Jimmy lagi.
Kristy tidak menjawab, dia melirik Jimmy lalu membuang muka ke arah lain karena saat itu wajahnya memerah karena ternyata Jimmy sedang menatapnya.
"Jujur aku baru pertama kali lagi menjemput perempuan dan mengajak makan siang berdua setelah dulu aku putus dengan kekasihku," ujar Jimmy tiba-tiba.
Mendengar itu Kristy menoleh kepada Jimmy, lalu tertawa kecil," Dasar cowok tukang gombal".
"Memang sulit dipercaya, apalagi aku laki-laki. Pasti orang tidak akan percaya kalau sekarang adalah kali pertama lagi dalam hidup aku menjemput dan mengajak pergi seorang perempuan," ujar Jimmy lagi.
"Kok bisa begitu, memangnya kamu sesakit apa dulu sampai tidak pernah pacaran lagi?" tanya Kristy penasaran.
Lalu Jimmy menceritakan bagaimana dulu dia pernah punya kekasih saat kuliah dan sangat mencintainya.
Kebetulan Jimmy adalah anggota klub basket di kampus nya, dan siam-diam kekasihnya berselingkuh dengan temannya sesama klub basket tersebut.
"Saat aku wisuda, dia tidak hadir. Aku sedih dan kecewa, tapi tak tahu penyebabnya apa sampai dia tak hadir di acara wisudaku. Lalu aku hampiri ke tempat kostnya tidak ada. Sampai aku cari ke kota tempat tinggal orang tuanya. Disana aku baru mendapat jawaban, kalau dia hamil oleh teman basketku".
"Lalu apakah lelaki itu menikahi mantan kekasihmu?" tanya Kristy.
"Ya, sebulan kemudian mereka menikah. Dan aku datang sendirian ke pernikahan mereka walau aku tak diundang. Aku memberi selamat kepada mereka, walau aku sangat terluka tapi aku tak mau terlihat lemah. Jadi aku hadir di pernikahan mereka dengan jantan," jawab Jimmy.
Kristy mengangguk-anggukan kepala, sambil berkata," Wow... keren!!!".
"Kamu kenapa ditinggalin mantan cowokmu?" tanya Jimmy ingin tahu.
"Hahahaha, cowok aku homo. Hahahaha, aku tertipu. Hahahah," Kristy tertawa sambil menceritakannya.
"Aku waktu itu pulang dari Amerika, di pesawat tak sengaja berkenalan dengan pria. Sama kayak aku, cuma dia ibunya orang Indonesia dan ayahnya orang Amerika".
"Dokter ahli jantung, pandai dan ganteng. Kami pacaran delapan bulan, lalu memutuskan untuk menikah. Undangan sudah naik cetak, suatu malam ada pertemuan dua keluarga besar untuk membahas pernikahan".
"Saat acara berlangsung, tiba- tiba ada cowok seperti keturunan Asia Thailand, datang sambil menangis ke pertemuan itu. Lalu cowok aku menghambur dan memeluknya. Dihadapan semua orang mereka berpelukan dan berciuman sambil menangis, lalu keduanya kabur begitu saja meninggalkan aku yang bengong karena shock melihat kenyataan itu".
Kristy menceritakan kejadian saat dia ditinggalkan oleh mantan kekasihnya dengan berapi-api.
"Tragis," ujar Jimmy sambil terlihat wajahnya menahan jijik membayangkan lelaki mantan kekasih Kristy.
"Sudahlah, kita makan dulu. Jangan cerita mantan, nanti kita malah sakit perut. Sampah jangan dikenang, tapi sampah harus kita buang," ajak Kristy dan diiyakan oleh Jimmy.
Seharian itu keduanya menjadi akrab, setelah bercerita mantan lalu saling bercerita soal keluarga.
Bahkan mereka membahas soal dulu kecil ternyata mereka pernah saling tahu menurut orang tua masing-masing.
"Berarti aku sejak kecil bulat, aku memang tak bisa langsing seperti peragawati. Walau tubuh aku tingginya lumayan seratus enam puluh delapan sentimeter, tapi tulangnya besar-besar, jadi tidak akan bisa langsing," ujar Kristy.
"Memang kamu lumayan tinggi untuk ukuran perempuan Indonesia, dan aku tergolong sangat tinggi dibanding lelaki Indonesia pada umumnya. Aku seratus delapan puluh lima sentimeter, entah dari siapa bisa setinggi ini padahal sekeluarga tidak ada keturunan yang terlalu tinggi," Jimmy menceritakan dirinya.
__ADS_1
"Tapi aku tidak terbayang, masa aku dulu waktu kecil pernah dipeluk dan dicium sama kamu," ujar Kristy menutup wajahnya.
"Lagi kecil kamu memang lucu, bulat putih menggemaskan. Sekarang tinggi, besar, putih dan galak. Hahahaha," Jimmy menggodanya lagi.
Keduanya lalu tertawa, saling menggoda becanda gembira sampai tak terasa hari menjelang sore.
Lalu Jimmy membayar semua pesanan, dan mengajak Kristy pulang.
Dalam perjalanan pulang, kembali mereka mendengarkan lagu sambil sesekali ikut bernyanyi bersenandung kecil.
"Kristy, may i try to fix you?" tanya Jimmy tiba-tiba.
"Maksudnya?" Kristy bingung.
"Aku ingin kita saling memperbaiki, baik itu hubungan kita dimana aku pernah salah sangka kepadamu. Dan juga aku ingin mencoba memperbaiki luka hati kamu dan luka hati aku, dengan mencoba menjalani lembaran baru antara kamu dan aku".
Mendengar pernyataan seperti itu, tentu Kristy merasa bingung. Di satu sisi merasa bahagia ada lelaki yang berani mengajaknya memulai suatu hubungan, di sisi lain merasa takut juga kalau gagal lagi.
"Aku belum berani berkata apapun," sahut Kristy.
"Tak apa-apa, aku hanya mencoba saja walau jujur aku sangat berharap kamu mau menerima ajakan ini," ujar Jimmy lagi.
Keduanya hening, sambil mobil terus melaju menuju Big Beauty Resto.
Setibanya di depan rumah makan, lalu Kristy turun dan Jimmy mengantarnya sampai ke depan rumah makan tersebut.
"Nanti kuenya aku sampaikan kepada mamih, karena nanti malam juga orang tuaku pulang. Terima kasih sudah mau jalan sama aku, dan aku berharap nanti kamu menjawab ajakan aku tadi," ujar Jimmy di depan pintu masuk rumah makan.
Kristy hanya mengangguk, lalu dia masuk ke dalam rumah makan dan Jimmy berbalik kembali menuju ke mobilnya.
Ada sepasang mata yang mengintai dan terlihat tidak suka melihat seperti ada kedekatan antara Kristy dan Jimmy.
Setelah mengantar Kristy, lalu Jimmy menuju kediaman Soraya.
Rencananya keluarga Robert akan mengantarkan kedua anak Soraya, sekalian Jimmy juga menjemput orang tuanya di rumah Soraya.
"Mama, andai saja kami bawa kamera papa, di sini indah sekali pemandangannya. Bukit penuh bunga, pokoknya sangat menyenangkan sekali," ujar Maya saat menelepon ibunya.
"Sayang mama tidak ikut yah, tapi suatu saat kalau mami Rosalinda punya acara lagi, mama akan ikut serta bersama kalian," sahut Soraya ikut senang mendengar cerita anaknya.
"Iya, mama harus ikut kapan-kapan kemari. Tapi kalau kemari lagi harus membawa kameranya papa. Biar kamera lama tapi masih bagus loh," ujar Maya lagi mengingatkan ibunya.
"Memang kamera papa disimpan dimana? setahu mama sih di kantor, harus tanya oom Jimmy nanti," sahut Soraya lagi.
"Bukannya sudah dibawa ke rumah kok, seingat Maya sih, papa suka menyimpan barang-barang pribadi di laci bawah lemari pakaian," kata Maya memberitahukan ibunya.
"Laci di bawah lemari pakaian, bukankah laci itu tidak ada pegangannya. Susah dibuka laci itu, sampai sekarang mama juga tak pernah membukanya," Soraya menjelaskan kepada anaknya.
"Orang papa bisa, kok. Hampir semua barang pribadi papa disimpan di sana," Maya mengatakan yang diketahuinya.
Setelah Soraya menutup telepon, kemudian dia naik ke atas ke kamarnya. Memang di bawah lemari pakaian di kamarnya ada laci kecil, tapi laci itu sulit ditarik untuk dibuka karena tidak ada pegangan penariknya.
"Masa suamiku menyimpan apa-apa di sini. Seingatku laci ini sudah lama tidak dipakai karena pegangannya rusak," ujar Soraya bicara sendirian.
Lalu dia berusaha menarik laci itu, dan ternyata sangat berat juga sulit ditarik. Perlahan dia mencoba menariknya walau sangat kesulitan sampai akhirnya laci bisa ditarik semuanya.
"Astaga!!!" pekik Soraya ketika melihat isi laci itu.
Ternyata dokumen polis asuransi ada di dalam sana, ada dua buah buku polis tercantum nama Mario Maliangkay dengan ahli warisnya nama anak-anaknya masing-masing.
Selain itu, ternyata foto pernikahan, foto anak-anak ketika kecil dan berbagai macam lagi juga tersimpan di sana. Termasuk kamera lama milik Mario, ada di sisi depan laci tertindih beberapa dokumen.
Soraya mengambil dua buah dokumen polis asuransi dan juga kamera, lalu menutup kembali laci tersebut.
Lalu Soraya turun ke lantai bawah, dan sudah ada Jimmy terlihat sedang berbaring di sofa di ruangan televisi.
"Jimmy, apakah besok kamu ada waktu? kalau ada, aku mau minta tolong kamu temani aku ke kantor asuransi jiwa. Kemarin ada petugas asuransi menelepon aku, katanya aku diminta ke kantornya besok pagi untuk pengurusan klaim kematian bang Rio," Soraya langsung berkata panjang lebar saat melihat ada adik iparnya itu.
Hening tak ada jawaban dari Jimmy.
"Jimmy..., Jimmy?" Soraya mendekati sofa dan rupanya Jimmy sedang tertidur sambil memeluk bantal kursi.
Soraya menghela nafas kesal, sudah bicara panjang lebar ternyata adik iparnya tidur dengan nyenyak di sofa rumahnya.
Dari luar terdengar suara mobil memasuki halaman rumah, ternyata mobil William mengantarkan Maya dan Mega, juga di dalamnya ada kedua mertua Soraya yang ikut turun di rumahnya.
"Opa dan oma turun di sini saja, Willy. Ada oom Jimmy sudah menjemput, kamu pulang saja. Terima kasih sudah mengajak opa dan oma jalan-jalan," ujar Opa Hansen saat turun dari mobil di depan rumah Soraya.
William juga tidak lama berada di rumah Soraya setelah mengantar pulang kedua sepupunya dan menurunkan kakek dan neneknya.
"Jimmy dimana?" tanya oma Regina.
"Biasa, tidur nyenyak di sofa. Mungkin sekarang sedang diganggu Maya dan Mega," jawab Soraya sambil menuntun kedua mertuanya memasuki rumahnya.
"Lain waktu kamu harus ikut menginap di villa milik Robert, enak sekali pemandangannya. Kita bisa segar kembali setelah penat urusan pekerjaan," opa Hansen berceloteh kepada Soraya.
"Iya, nanti kalau tidak sibuk pasti aku akan ikut. Besok juga harus ke kantor asuransi jiwa, kemarin aku di telepon petugasnya untuk pengurusan klaim kematian bang Rio," Soraya menceritakan masalah asuransi kepada kedua mertuanya.
"Besok kamu sama siapa kesana? sendiri atau diantar Jimmy?"tanya opa Hansen.
"Mau minta Jimmy menenami, tapi ketika ditanya malah tisur di sofa. Jadi belum ada jawaban dari dia," sahut Soraya.
"Sudah saja biar papih dan mamih yang menemani kamu. Besok kamu jemput saja kami di rumah, kami ingin tahu juga soal Mario," ujar opa Hansen dan langsung diiyakan oleh Soraya karena mertuanya meminta ikut.
Jimmy terlihat sedang diganggu kedua keponakannya, sudah pasti kedua gadis terus pamannya agar bangun.
"Mana oleh-oleh buat oom?" tanya Jimmy kepada kedua keponakannya dengan mata masih berat.
"Ada banyak, baju kotor banyak sekali," sahut Maya.
Jimmy mencibir sambil memejamkan matanya lagi.
"Oom, nanti kapan-kapan kita main lagi kesana. Mama sama oom belum tahu tempatnya, enak banget loh. Nanti ajak tante Kristy biar bisa masak yang enak-enak di sana," ujar Mega bercerita sambil duduk di paha pamannya.
"Mega, kaki oom sakit diduduki oleh kamu. Sekarang kamu sudah besar, berat tahu," ujar Jimmy sambil meringis menahan sakit.
Mega tertawa saja sambil tetap sengaja duduk di atas paha Jimmy.
Tiba-tiba ponsel Jimmy berbunyi karena ada pesan masuk, Maya langsung melihat ingin tahu pesan dari siapa di ponsel pamannya yang sedang tergeletak di atas meja.
"Ehm....cie...cie....dari Kristy tapi namanya dikasih emoji gambar hati," ledek Maya ketika melihat nama pengirim pesan muncul.
Jimmy segera bangun, tentu saja Mega jadi terjengkang jatuh ke karpet tapi anak itu malah tertawa cekikikan.
"Kalian kepo banget," ujar Jimmy sambil meraih ponselnya.
Kedua keponakannya berusaha mengintip ingin tahu pesan apa yang dikirimkan oleh Kristy kepada pamannya.
"Pelit iiihhh...pengen baca sedikit saja enggak boleh," ujar Mega sambil mencebik.
Jimmy lantas berdiri, sehingga keduanya susah untuk menggapai ponsel pamannya yang bertubuh tinggi itu.
"Cold Play - Fix you".
Hanya itu tulisan yang dikirim Kristy, tapi Jimmy paham dan sangat senang hatinya, lalu dia memegang kepala Maya dan mengguncangnya begitu juga kepada Mega.
Setelah itu Jimmy berteriak kencang.
"YES !!!!".
__ADS_1
Kedua keponakannya hanya bisa melongo melihat pamannya yang sedang kegirangan.