
Beberapa hari berlalu, Soraya gerah dengan tingkah pak Michael dan dosen bule John Dawson.
Kedua pria itu seperti sedang berusaha menarik perhatian Soraya.
Pak Michael yang selalu berusaha datang ke rumahnya dengan modus ingin membahas masalah acara amal yang akan diselenggarakan di gereja.
Tapi ketika ditemui di gereja, malah menyampaikan hal-hal tak jelas yang akhirnya membuat Soraya naik pitam.
Begitu juga dengan John Dawson yang selalu berusaha mengajaknya kencan berdua, tapi Soraya terus berusaha menolak dari yang awalnya santun sampai mulai terdengar keras.
Soraya sendiri sudah tidak ingin menikah lagi, baginya saat ini adalah fokus saja untuk kepentingan kedua anaknya.
Ada dua gadis remaja yang sangat butuh perhatiannya, sehingga masalah menikah lagi sudah dihapus dari benaknya.
Hari ini adalah hari ke sepuluh bulan ramadhan, tapi tadi pagi Oti berbisik kepadanya kalau dia kedatangan bulan sehingga siang ini bisa makan bersama Soraya.
"Nanti aku duluan ke mobil, Oti menyusul saja yah. Soalnya kalau jalan berdua nanti ketahuan Otang, dia kan reseh kayak cewek. Orang lain batal puasa karena halangan, tapi pasti dia kepingin ikutan," kata Soraya kepada Oti.
"Memang, dia kan lebih cewek daripada kita. Hihihihi....oke nanti jam dua belas aku segera menyelinap ke mobilmu," sahut Oti sambil mengacungkan jempol tanda setuju.
Lalu keduanya segera sibuk dengan pekerjaan masing-masing, Soraya mengajar di kelasnya, sementara Oti berkutat dengan hitungan pembukuan keuangan kampus dan yayasan di hadapan komputer.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul dua belas siang, pembelajaran terhenti untuk istirahat, begitu juga dengan karyawan administrasi kampus.
Soraya sambil mendekap buku bahan mengajar dan menjinjing tas kerjanya, langsung turun menuju ke tempat parkir mobilnya.
Segera masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesinnya, menyalakan ac mobil dan musik sambil menanti Oti sahabatnya.
Tak lama ada ibu-ibu bertubuh mungil setengah berlari-lari, lalu segera memasuki pintu belakang mobil Soraya sambil segera berbaring.
"Siap? kita jalan?"tanya Soraya.
"Siap...hehehehe...kayak di film apa ini," sahut Oti sambil merasa geli sendiri.
"Ssttt!!! diam....ada Otang, dia di balkon atas tapi lagi lihat ke bawah ke mobil gue ini," ujar Soraya memperingatkan Oti.
"Iya, gue juga berbaring saja, kalau duduk nanti kelihatan dia. Reseh nantinya anak itu," sahut Oti sambil tetap berbaring.
"Tet..tet...!!!".
Soraya membunyikan klakson mobil sambil membuka jendela dan melambaikan tangan kepada Otang.
Tentu saja Otang juga membalas lambaiannya, dan Otang paham kalau jam segini pasti Soraya istirahat makan siang.
Walau berbeda keyakinan dan suku, tapi mereka sangat karib satu sama lain dan saling menghormati.
"Sudah lewat, sudah bisa duduk," ujar Soraya.
"Hahahaha, maafkan daku Otang. Tapi aku tak mau puasamu batal karena ikut aku," kata Oti sambil duduk dan tertawa.
"Makan apa kita?" tanya Soraya.
"Hmmm, perut lagi begini ingin kuah hangat. Nasi sup ayam ibu Mien saja yuk...!!!" ajak Oti.
"Siap...!!! meluncur...!!!".
Tak lama handphone Oti berdering, dan benar tebakan Oti kalau Otang akan menelepon dirinya.
"Benar kaaannnn...," ujar Oti sambil memperlihatkan nama orang yang sedang menghubunginya.
"Angkat dong, tapi jangan bilang sedang bersamaku," sahut Soraya merasa geli.
"Halo sayangku, ada apa sih?" tanya Oti ketika menjawab panggilan Otang.
"Say, dimana sih lu? gue cari di ruangan kagak ada," sahut Otang dari seberang sana.
"Gue lagi kagak puasa, ini lagi jalan nyari makanan".
"Idiiihhh...halangan kok kagak bilang sama gue, siiihhh!!!".
"Kalau bilang sama lu, memangnya mau apa?".
"Kan bisa gue temenin makan".
"Lu itu cowok, masa nemenin makan cewek haid. Sudah mending lu sholat, lalu berbaring sebentar di musholla. Orang puasa kan boleh begitu".
"Ogah berbaring di sana, banyak cowok. Nanti gue diapa-apain".
"Astagfirullah!!! Heh...!!! cowok mana ada yang doyan sama bences kayak elu. Sudah sana sholat dulu, awas saja kalau malas sholat," Oti mulai keras kepada Otang.
"Iya deh kakak, jangan galak. Eh...lu sama Oya makannya?".
"Kagak...sudah rahasia. Sana sholat, awas lu batal puasa THR lu gue coret," sahut Oti pura-pura ketus.
"Ooowww....jangan dong. Itu kan harapan gue. Iya deh sekarang mau sholat. Sudah dulu yah... Assalamualaikum," Otang segera menutup teleponnya dan bergegas menuju musholla.
"Waalaikumsalam," sahut Oti sambil menutup teleponnya juga.
Lalu Soraya dan Oti segera terbahak-bahak selesai menutup pembicaraan dengan Otang.
"Ya ampun, kasihan sama Otang. Di kampus tidak ada yang mau menenami kecuali kita, dia sendiri juga tidak punya usaha untuk memperbaiki diri menjadi lelaki sejati," ujar Oti mengeluhkan sahabatnya itu.
"Sulit memang kalau lelaki sudah ada kelainan seperti itu, di satu sisi merasa dirinya perempuan yang terperangkap di tubuh lelaki. Di sisi lain ingin jadi lelaki sejati, tapi merasa takut sendiri dan tidak nyaman," Soraya ikut mengomentari.
"Kasihan, sekarang hidup sendiri. Disuruh kembali ke Cilegon ke rumah orang tuanya malah tidak mau. Takut disuruh nikah sama perempuan. Malah lebih memilih di kontrakan kecilnya di pemukiman belakang kampus," ujar Oti sambil menerawang memikirkan Otang.
"Yang penting sekarang kita adalah keluarganya, kita berdua adalah kakaknya dia. Dia bahagia bersama kita, setidaknya dia lebih percaya diri sekarang. Berbeda ketika dulu dia awal bekerja, minder dan selalu ketakutan," Soraya mengingatkan kepada Oti.
"Ya benar, aku sama suami juga sangat peduli sama dia. Apalagi suamiku petugas kesehatan di puskesmas, jadi kalau Otang sakit. Suamiku yang bolak-balik memeriksa anak itu. Dia sudah kami anggap adik sendiri, kasihan sebenarnya hidupnya merana," ujar Oti merasa sangat iba atas kehidupan Otang.
Tak lama mereka tiba di rumah makan yang dituju, karena bulan puasa tentunya pintunya tidak terbuka lebar dan setengah jendelanya ditutup oleh kain.
Nasi sup ayam ibu Mien adalah salah satu makanan favorit ketiga sahabat ini.
Pemilik rumah makan tentu saja sudah sangat mengenali mereka dan tanpa harus memesan lagi, sudah hafal kesukaan masing-masing.
Soraya tidak pakai kacang, sementara Oti tidak pakai daun seledri dan bawang goreng.
Soal rasa pedas, keduanya juga tidak suka terlalu pedas.
Sekarang keduanya sedang menikmati sup ayam ibu Mien yang sedap sekali.
Ketika hampir selesai makan, tiba- tiba masuklah empat orang wanita berusia sekitar awal tiga puluh tahunan.
Namun gaya busananya sangat luarbiasa, bergaya mirip remaja belia, ada yang pakai rok sangat minim dan ada juga yang bercelana pendek sekali sampai menjelang ke pangkal paha.
Selain itu baju atasannya hampir rata-rata memperlihatkan belahan dada.
Soal riasan wajah jangan ditanya lagi, hampir semuanya memakai bedak tebal dan riasan tebal alias menor.
Mereka duduk di kursi belakang Soraya dan Oti, ada salah satu dari keempat wanita itu yang menarik perhatian Soraya.
"Perasaan aku pernah tahu perempuan yang pakai rok mini warna pink itu," bisik Soraya kepada Oti.
"Siapa dia?" tanya Oti.
"Lupa sih, aku harus mengingat-ingat dulu. Rasanya aku pernah kenal dia dulu".
__ADS_1
Tentu saja Soraya merasa pernah kenal salah satu dari keempat wanita itu, dia adalah Damayanti mantan kekasihnya Jimmy adik iparnya.
Saat itu Damayanti atau Yanti nama panggilannya sedang bersama Erika dan Chika. Mereka bersama satu orang lagi yang namanya Lusye atau seringnya dipanggil mami Lusye karena perempuan itu adalah seorang mucikari di salah satu tempat karaoke terkenal.
Mereka memesan nasi sup ayam dengan pesanan yang macam- macam keinginan, sampai orang lain yang mendengar merasa pusing kepala.
"Lu memangnya lagi bocor, Chika?" tanya Yanti.
"Kagak, memang gue kagak pernah puasa," sahut Chika sambil menyalakan rokok.
"Belum makan sudah rokok, dasar lu kereta api. Mulut harus ditempel rokok terus," Erika mengomentari teman baiknya itu.
"Kalian memang setan rokok, mana bisa kalian hidup tanpa merokok," sela Lusye.
"Nah...!!! setuju mami Lusye. Memang mami Lusye paling paham sama rokok," sahut Chika dengan senang.
"Soalnya sama, gue juga setan rokok. Jadi paham banget orang kesetanan kayak si Chika. Hahahaha," sahut Lusye sambil tertawa.
Mereka bicara dengan suara keras dan kencang, seakan-akan mencoba mencari perhatian orang-orang lain yang sedang makan.
Kebetulan pula siang itu yang makan kebanyakan perempuan, jadi hanya bisa kesal sambil cemberut saja menatap keempat orang wanita itu.
"Jadi lu pengen nikah lagi?" tanya Lusye kepada Yanti.
"Sorry, nikah lagi sih ogah. Gue cuma mau senang-senang saja, punya pacar banyak duit tapi tidak terikat pernikahan," jawab Yanti.
"Iya, dia terobsesi pengen mendapatkan cinta mantan pacarnya lagi. Tapi ternyata mantannya susah didekati lagi," ujar Erika ikut menjelaskan.
"Kenapa memang? mantan lu takut sama bininya?" tanya Lusye.
"Belum nikah, kok. Tapi kelihatannya akan segera menikah. Gue sih kagak masalah, dia silahkan menikah baik-baik tapi sama gue tetap jalan dan tetap sayang sama gue," Yanti menyatakan keinginannya.
"Memangnya kerja apa mantan pacar lu?" tanya Lusye lagi.
"Kontraktor bangunan, pengusaha kaya. Orang keturunan Manado, namanya Jimmy Maliangkay!!!" seru Chika dengan lantang.
Otomatis Soraya langsung batuk tersedak ketika nama adik iparnya disebut oleh wanita-wanita itu. Oti menepuk-nepuk punggung Soraya yang sedang terbatuk-batuk itu.
"Oh... Maliangkay...kayak pernah tahu. Jaman dulu pernah ada pelanggan karaoke gue, namanya Mario Maliangkay. Tapi katanya sudah meninggal orangnya," Lusye jadi ingat akan nama seperti itu.
"Iya, itu benar sekali. Mario itu kakaknya mantan pacarku itu. Cuma ya itu, mantan pacarku sulit sekali kalau digoda," keluh Yanti kepada Lusye.
"Apaan...orang dulu itu yang namanya Mario, wah....doyan cewek. Memang anak- anak gue kagak ada yang ditidurin sama dia. Tapi hampir semua anak-anak gue diraba-raba sampai ke dalam-dalam. Parah dulu kakaknya, mabuk lalu semua cewek diacak-acak," Lusye menceritakan tentang Mario jaman dulu.
Soraya tentu saja sesak nafas mendengar penuturan itu, untung saja dia dan Oti membelakangi empat orang yang sedang seru bercerita itu.
"Kita keluar yuk," ajak Oti.
"Nanti, aku ingin tahu mereka akan merencanakan apa kepada Jimmy," ujar Soraya sambil menahan tangis.
"Jadi gue musti gimana, biar Jimmy bisa digaet sama gue dengan mudah. Karena setelah kakaknya meninggal, sekarang yang punya perusahaan itu Jimmy. Pastinya dia banyak uang dibandingkan dulu," Yanti minta pendapat Lusye.
"Nanti lu ajak dia makan, lalu masukin ini ke minumannya. Kalau dia pingsan, tinggal lu bawa saja dia ke hotel, terus silahkan lu lanjutkan keinginan lu," Lusye berbisik sambil menyelipkan sesuatu ke tangan Yanti.
Tentu saja Yanti sangat gembira karena setidaknya merasa Lusye memberikan solusi kepadanya.
"Benarkan, gue bawa mami Lusye kesini pasti punya solusi ampuh," ujar Erika sambil menyenggol lengan Yanti.
"Tapi, bahaya tidak? nanti tahu- tahu dia mati gimana?" tanya Yanti ragu-ragu.
"Tenang, gue jamin kagak bakalan mati. Paling pingsan doang, tinggal lu perkosa saja cowok itu".
"Gue jamin dia juga sebenarnya sama saja b*jingan sama kayak kakaknya, cuma mungkin jaga image mentang-mentang mau nikah," Lusye begitu percaya diri memberikan penjelasan kepada Yanti.
Soraya paham, kalau Jimmy akan dicelakai oleh mantan kekasihnya. Diam-diam sejak tadi Soraya merekam semua pembicaraan keempat wanita aneh tersebut.
Untung saja Yanti tidak mengenali Soraya yang saat itu berdiri dan berjalan melewati meja mereka.
Sekilas Yanti juga seperti pernah tahu Soraya, tapi dia tak ambil pusing karena dia sangat senang seperti mendapat dukungan dari teman-temannya.
Saat kembali ke kampus, Oti yang menggantikan mengemudi mobil. Dan sepanjang jalan Soraya terdiam, setidaknya ada rasa terpukul saat mendengar pembicaraan keempat wanita tadi.
Sepanjang menjalani pernikahannya dulu dengan Mario, tidak pernah sedikitpun terbayangkan kalau suaminya dulu suka melakukan hal-hal yang buruk.
Tapi mau bagaimana, suaminya sudah tiada, hanya bisa berusaha membesarkan hati sendiri dan terus berusaha memaafkan suaminya.
"Oya, maaf, kalau boleh aku ikut bicara. Menurutku sebaiknya tidak usah mendengar dan memasukan omongan orang lain tentang hal-hal buruk yang pernah dilakukan oleh almarhum suamimu".
"Sudah berlalu, saatnya kamu dan kita yang masih hidup memaafkan segala kesalahan almarhum. Allah juga Maha Pengampun, kita hanya manusia tak luput dari dosa dan salah".
"Hanya berdoa memohon ampunan dari Tuhan, dan selagi masih diberikan kesempatan hidup. Kita berusaha memperbaiki semua prilaku dalam hidup," Oti berusaha menghibur dan membesarkan hati sahabatnya.
Soraya menitikan air mata, dia tak kuasa menahan diri lagi dan tumpahlah tangisnya sampai tersedu-sedu.
Oti menghentikan mobil Soraya di depan sebuah taman yang sepi, dia dengan sabar menunggu sampai sahabatnya itu berhenti menangis.
"Aku cinta sama bang Rio, sampai kapan juga aku tetap mencintainya. Tapi mungkin aku salah, selama pernikahan aku tidak bisa mengungkapkan rasa cintaku padanya".
"Jujur aku orang yang kaku, tidak bisa bersikap romantis dan bermanja kepada suami. Datar....terlalu datar....sikapku terlalu datar. Aku wanita yang pasif, dalam hal keintiman aku orang yang pasif".
"Salahku, semua salahku. Aku penyebab suamiku berpaling ke lain hati. Aku yang telah menyebabkan suamiku masuk dalam dosa. Kesalahanku... semua kesalahanku...huhuhuhu," Soraya tersedu-sedu sambil menyalahkan dirinya sendiri.
Oti mendengarkan dengan sabar, lalu dia melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Oya, sekarang sudah pukul satu siang lebih sepuluh menit. Kamu harus mengajar lagi pukul dua siang nanti, sementara aku sekarang sudah terlambat sepuluh menit untuk masuk kantor. Untungnya aku kepala administrasi, tidak ada yang berani menegurku kecuali pak rektor".
"Pertanyaannya adalah, kamu mau sampai jam berapa berhenti menangis? Kalau mataku sembab, aku tidak terlalu masalah karena sampai kampus langsung menghadapi komputer. Sedangkan kamu harus menghadapi puluhan pasang mata mahasiswa yang akan memperhatikan mata sembabmu," lama-lama Oti gerah juga melihat Soraya yang terus menangis tidak jelas.
Langsung Soraya terdiam, sambil menyusut air mata yang masih menitik, lalu dia melirik Oti yang sedang memandang dirinya dengan bibir mencebik dan jarinya mengetuk-ngetuk kemudi mobil.
"Pppppfffff....hihihihi...," Soraya mulai menyekikik melihat wajah Oti.
Melihat sahabatnya mulai tertawa, membuat Oti juga tak kuasa menahan diri dan keduanya tertawa terbahak-bahak.
"Hahahahahaha!!!".
"Aku benci dan sebal sama Kristiana Wijaya, kalau bicara selalu saja benar".
"Sama aku juga benci dan sebal sama Soraya Wongso yang selalu galau dan menyalahkan diri sendiri".
"Hahahahahaha!!!!".
"Tapi aku sayang sama Kristiana Wijaya, karena dia sahabatku yang paling baik dan bijaksana".
"Sama aku juga sayang sama Soraya Wongso, sahabatku yang selalu galau, galau dan galau".
Keduanya bertatapan dan saling berpelukan.
"Oya, jangan menangis lagi. Setengah jam lagi kamu harus segera mengajar, dan aku sekarang deg-deg an karena takut dicari pak rektor atau ibu Ivanna".
"Ya sudah, kalau mengemudi yang benar. Bukannya ke kampus malah parkir di taman," celetuk Soraya menggoda Oti.
"Kan gue dari tadi nemenin lu nangis, ya Markonah!!!".
"Dasar Tukijem, ngapain juga orang nangis ditemenin".
"Hahahahahaha!!!".
__ADS_1
Sepanjang jalan menuju kampus, keduanya tertawa lagi melupakan kesedihan tidak jelas yang tadi sempat mereka dengar.
Sementara di sebuah ruangan klinik di sebuah rumah sakit, terlihat Jimmy sedang bersama Samuel sahabatnya.
Jimmy baru selesai diambil darah di laboratorium, tentunya lewat jalur ekspres melalui dokter Samuel.
Sekarang sedang menunggu hasil pemeriksaan laboratorium sambil berbincang dengan sahabatnya itu.
"Benar pasien lu sudah beres semua?" tanya Jimmy sambil menatap ragu ke arah Samuel.
"Sudah, tinggal nanti jam empat gue ke klinik di daerah timur," sahut Samuel.
"Kagak kunjungan ke pasien yang sedang rawat inap?" tanya Jimmy lagi.
"Sudah dong, pagi hari jam delapan gue keliling pasien rawat inap. Lalu jam sembilan gue praktek sampai jam dua belas atau jam satu. Sekarang santai, jadi bisa ngobrol sama lu," sahut Samuel lagi.
Jimmy mengangguk-anggukan kepala tanda memahami pekerjaan sahabatnya.
"Cuma gue pengen tanya, kok abangnya pacar lu sampai segitunya. Masa lu sampai harus periksa penyakit kelamin segala?" tanya Samuel merasa heran atas permintaan Louis Orlando kepada Jimmy.
"Ya begitulah, abangnya merasa khawatir, masa gue sudah umur hampir tiga puluh enam tahun tapi belum nikah. Dia menduga kalau cowok seumur gue ini pasti suka main cewek untuk menyalurkan hasrat," Jimmy menjelaskan.
"Nah, jujur sama gue. Lu memangnya suka ke tempat prostitusi?" tanya Samuel terlihat khawatir.
"Sam...amit-amit...sorry gue kagak level ke tempat kayak gitu. Penyakit semua, gila saja gue sampai ke tempat begitu," tukas Jimmy sambil sebal.
"Jadi urusan hasrat lu kayak gimana?".
"Sarap lu Sam, alami sajalah. Di internet banyak lagi film begitu. Kan habis lihat, tidur lalu mimpi, beres deh," sahut Jimmy menjelaskan lagi.
"Masa kagak pernah dibantu cewek?" goda Samuel sambil menahan tawa.
"Adalah...pernah...tapi kagak sampai hubungan intim. Dulu itu juga, waktu masih ada bang Rio. Gue pernah disuruh menemani klien ke karaoke ladies escort".
"Lu sama cewek itu ngapain?".
"Ampun Sam, masa gue harus jelasin detail. Gila lu!!!. Sarap memang lu Sam," Jimmy mulai jengkel.
"Gue internis yah, dokter spesialis penyakit dalam. Bukan dokter spesialis sarap. Hahahaha," Samuel tertawa puas karena berhasil menggoda Jimmy.
"Terserah lu, mana hasil lab. Kok, lama amat sih?".
"Sabar, sudah kita nunggunya di kantin yuk. Sambil lu cerita soal Kristy. Jujur gue kemarin ini kagak enak hati sama dia. Sampaikan maaf gue yah".
"Sudah, Kristy sudah paham. Itu cuma bahasa gue sama lu, dokter sinting kata gue ngasih tahu dia".
"Sialan...gue bukan dokter sinting, tapi dokter paling tampan di rumah sakit ini".
Jimmy hanya menghembuskan nafas kesal dari hidungnya saat mendengar ucapan itu.
"Ayo, cerita sama gue. Bagaimana ceritanya sampai lu pindah selera wanita. Dari yang suka sama yang kurus ramping, sekarang malah berniat menikah sama yang montok, bohay, menggemaskan".
"Sialan, bakal bini gue itu. Lu jangan bayangin dia," protes Jimmy sambil mengepalkan tinju ke muka Samuel.
Tentunya Samuel tertawa terbahak melihat tingkah sahabatnya. Lalu keduanya meninggalkan ruangan klinik untuk menuju kantin rumah sakit.
Waktu bergulir, hari menjelang senja sekitar pukul empat sore hari.
Aletha sudah mendapat kabar dari Fuad yang katanya sudah ada di Semarang. Tetapi tidak akan bisa segera bertemu karena jadwal pekerjaannya sangat padat.
Sudah dua hari yang lalu Fuad ada di Semarang, berarti sekarang hari ketiga dan masih tidak bisa bertemu dengan Aletha.
Seperti biasa setiap bulan ramadhan, jam praktek di klinik gigi juga berubah. Jadwal pendaftaran sudah ditutup sejak pukul dua siang tadi.
Jumlah pasien dibatasi, dan pukul lima sore sebisa mungkin semua pasien sudah harus selesai diperiksa karena klinik tutup pada jam tersebut.
"Pak, pendaftaran sudah tutup sejak dua jam yang lalu. Silahkan bapak tulis dulu namanya, dan kembali besok pagi. Kebetulan untuk besok pagi masih kosong, baru ada dua pasien mendaftar. Jadi bapak bisa mendapatkan nomor ketiga," petugas pendaftaran klinik menjelaskan kepada seorang pria yang ngotot minta diperiksa oleh dokter Aletha.
"Tapi saya maunya sekarang juga, besok tidak bisa karena saya banyak urusan. Masa dokter tidak mau menolong pasien yang sangat butuh pertolongan," pria bertubuh tinggi itu kembali ngotot kepada petugas pendaftaran.
"Maaf pak, tujuan bapak hanya untuk pembersihan karang gigi. Itu bukan sakit gigi karena berlubang atau gusi berdarah karena jatuh atau sejenisnya. Membersihkan karang gigi bisa dilakukan kapan saja dan bukan hal yang sangat urgensi," petugas pendaftaran mulai kesal kepada orang yang susah diberi pemahaman itu.
"Saya minta ketemu dulu dengan dokter Aletha, saya yakin beliau mau menangani pembersihan karang gigi saya".
"Pak, dokter Aletha itu menangani gigi anak. Kalau bapak akan ditangani oleh dokter Yunita".
"Saya tidak mau dokter lain, hanya mau ditangani dokter Aletha sekarang juga!!!".
Petugas pendaftaran terlihat sangat kesal kepada pria itu, lalu dia beranjak memasuki ruangan praktek Aletha.
Di dalam ruang praktek Aletha baru selesai menangani pasien terakhir, seorang gadis kecil berusia sekitar tujuh tahun yang gigi susunya masih kuat, namun gigi barunya sudah tumbuh mendesak gigi susunya.
"Terima kasih dokter, gigi aku sudah tidak sakit lagi," ujar gadis kecil itu sambil tersenyum kepada Aletha.
"Sama-sama gadis cantik, jangan lupa gosok gigi sebelum tidur dan kurangi makan permen coklat," sahut Aletha sambil mengelus pipi gadis kecil itu.
Ketika gadis kecil itu meninggalkan ruangan praktek bersama ibunya, petugas pendaftaran segera mendekati Aletha, lalu memberitahu kalau di depan ada pria ngotot ingin melakukan pembersihan karang gigi detik ini juga dan ditangani oleh Aletha.
"Siapa memangnya orang itu? coba aku lihat dulu," sahut Aletha sambil mencoba keluar ruangan prakteknya.
Terlihat ada sosok pria bertubuh tinggi yang sedang berdiri di pintu klinik sambil membelakangi menatap ke jalanan.
"Itu orangnya dokter, dari tadi sudah diberitahu tapi tetap ngotot," petugas pendaftaran mengadukan orang tadi kepada Aletha.
Mendengar itu, lalu Aletha berjalan mendekati pria itu.
"Permisi pak, apakah benar mencari saya?" tanya Aletha kepada pria itu.
Mendengar ada suara lembut menegur, lalu pria itu segera membalikan badan menoleh kepada Aletha.
"Astagfirullah!!! mas Fuad???!!!" pekik Aletha tidak bisa menyembunyikan kalau dirinya sangat terkejut.
"Saya mau membersihkan karang gigi, mumpung masih setengah lima sore. Paling setengah jam, lalu kita buka puasa bareng. Apakah dokter Aletha bersedia?" tanya Fuad sambil tersenyum.
"Hahahaha, ternyata pasien dari jauh. Pantas memaksa sekali. Ayo, nanti aku periksa. Tapi harus menunggu temanku selesai praktek, karena peralatan untuk orang dewasa ada di ruangan prakteknya".
Lalu Fuad dan Aletha tampak akrab berbincang, semua petugas dan perawat saling bertatapan.
Sudah pasti semua menduga kalau diantara dokter Aletha dan pria yang ngotot tadi punua hubungan spesial.
"Oh, rupanya bapak ini yang membuat dokter Aletha mantap berhijab?!" seru Yunita ketika diperkenalkan kepada Fuad saat selesai memeriksa semua pasiennya.
"Benarkah begitu?" tanya Fuad melirik Aletha.
"Jangan dengarkan dia, dokter Yunita suka asal bicara," sahut Aletha sambil sedikit cemberut.
"Baiklah, sudah pukul lima sore, aku harus segera pulang. Silahkan pakai ruangan ini dan juga peralatannya. Siapa tahu dari gigi turun ke hati," goda Yunita lagi sambil segera berlalu dari ruangan prakteknya.
"Ayo, saya periksa," ajak Aletha.
"Jangan sekarang, nanti lagi saja. Aku masih lama di Semarang, lebih baik sekarang kamu hubungi orang tua dan anakmu, sampaikan kalau kamu akan buka puasa di luar bersama aku," tutur Fuad dengan lembut.
Segera Aletha melakukan menelepon ke rumah orang tuanya, kebetulan anaknya ada di sana juga.
"Sini kunci mobilmu, aku yang mengemudi dan kamu yang pilih rumah makannya. Aku ikut saja apa kata Etha".
Aletha tersenyum sambil mengangguk, hatinya senang sekali seperti anak kecil yang baru saja mendapat hadiah istimewa.
__ADS_1