
"Rio, ini buku tabungan dan kartu ATM masih ada padaku. Tadi kamu cuma ambil polis asuransi lalu buru-buru pergi saja," ujar Asmila mengomel lewat handphonenya kepada Mario.
"Ya, sudah simpan saja sama kamu, aku buru-buru takut macet, aku sedang menuju bandara mau menjemput istriku," sahut Mario terkesan tergesa-gesa sekali.
"Katanya hari sabtu malam istrimu pulang, kok jadi hari ini?" tanya Asmila lagi.
"Besok di rumah orang tuaku akan ada acara keluarga, dan istriku kebetulan mendapat tiket lebih cepat jadi bisa pulang siang ini," Mario menjelaskan kepada Asmila.
"Oh, baiklah".
"Sudah dulu yah, aku mau masuk jalan tol," Mario mengakhiri pembicaraan mereka.
"Rio!!! hai!!! Rio....!!!"teriak seseorang dari samping kanan ketika Mario memasuki gerbang penjemputan penumpang pesawat di bandara.
Mario menoleh dan terlihat wajah yang tidak asing baginya.
"Halo Asiaw...apa kabar?" Mario juga menghampiri orang itu dan mereka bersalaman sambil saling berangkulan.
Rupanya orang itu adalah Asiaw adiknya Aliong teman bisnis Mario jaman dulu.
"Bro, kabar baik gue, sudah lama tak jumpa sama Boss Mario nih. Bagaimana kabarmu, mau jemput siapa sekarang?" tanya Asiaw sambil mengajak Mario duduk di salah satu bangku yang kosong di sana.
"Kabar baik juga, aku mau jemput istriku, dia hari ini pulang dari New Zealand," jawab Mario sambil senyum.
"Oh, habis liburan ke NZ yah?" tanya Asiaw.
"Bukan bro, istriku baru selesai kuliah Srata 3 di NZ".
"Waduh mantap bro, ibu rektor dong".
"Amin".
"Eh, Asiaw, apa kabarnya Aliong?" tanya Mario bertanya tentang kabar kakaknya Asiaw.
"Aliong tiga bulan lagi bebas, karena bantuanmu memberi kesaksian yang tidak memberatkan dia, jadi dia hanya kena tujuh tahun dan potong tahanan lalu mendapat remisi, tahun ini bisa bebas," Asiaw menyampaikan kabar kakaknya.
"Maaf yah bro, aku dulu tidak bisa banyak membantu Aliong. Walau aku sudah berusaha tapi jerat hukum terus berjalan," Mario merasa tak enak hati kepada kawannya itu.
"Justru kami berterima kasih, dulu Rio memberikan kesaksian soal masalah transfer dana yang dilakukan Aliong dan bisa memberikan bukti riil di depan pengadilan. Kalau tidak tentu nasibnya akan sama dengan Mr. A, harus mendekam dua puluh tahun," Asiaw menjelaskan kepada Mario.
"Ya, aku dulu pernah dibantu Aliong walau jalannya salah karena dia di desak Mr. A. Jadi aku juga harus bisa bantu Aliong agar jangan sampai mendekam lama di penjara," ujar Mario mengingat kebaikan Aliong kepadanya.
"Sudahlah bro, nanti kapan-kapan aku ajak kamu menjenguk dia. Sekarang berbeda sekali, dia menjadi pelatih yudo di dalam sana. Kan dulu dia sudah ban hitam loh, hanya saja dulu tak mau mempergunakan keahliannya malah ikutan proyek tak jelas," Asiaw menyayangkan kakaknya dulu sempat terjerumus masalah korupsi dengan Mr. A.
"Aku terakhir menjenguk ada tiga tahun lalu. Sekarang belum sempat lagi menjenguk karena ada saja urusan yang menghalangi," kata Mario tak enak hati lagi.
"Santai bro, paham kok. Kita tak mungkin berhenti usaha saat salah satu keluarga kita terkena musibah. Life goes on, brother," sahut Asiaw dengan santai.
"Asiaw, kamu mau jemput siapa?" tanya Mario yang baru ngeh pasalnya belum tahu keberadaan Asiaw di bandara tujuannya apa.
"Aku jemput mama yang baru pulang berobat dari Beijing, ditemani istriku dan istrinya Aliong juga," jawab Asiaw.
"Sakit apa mamamu?".
"Kanker tulang belakang, sudah stadium empat. Kemarin di operasi di Beijing, dan katanya sekarang sudah lebih baik," jawab Asiaw lagi.
"Wah, pengobatan kanker harus ke luar negeri kah?" Mario jadi terkejut.
"Tidak juga bro, di Indonesia juga sudah maju pengobatan kanker. Hanya ada sepupunya mama menjadi dokter di Beijing, lalu beliau minta mama di bawa ke sana untuk diobati di sana".
"Memangnya ada yang kanker di keluargamu, Rio?".
"Oh tak ada bro, hanya ingin tahu saja," sahut Mario menyembunyikan penyakitnya.
"Istrimu berapa lama di NZ?".
"Sekitar satu tahun setengah sih perkiraan sih," jawab Mario.
"Wah, selama itu Mario bagaimana nih? kayaknya punya yang muda nih, hahahah," goda Asiaw kepada Mario.
"Hahaha, tidaklah. Masa harus sampai harus segitunya, kan sekarang musim TTM, hahaha, Teman Tapi Mesra, hahaha," balas Mario kepada Asiaw.
"Hahaha, bisa saja Rio. Tapi memang benar sih, realita loh. Kita lelaki, kerja capek, pulang ke rumah malah dicemberutin. Mending gue ke bar atau ke karaoke, kipas-kipas duit gopekceng, malah pada antri cewek senyum ke gue. Yang di rumah dikasih segitu malah marah, hahahah," Asiaw ada-ada saja kelakarnya.
(gopekceng \= lima ratus ribu)
"Hahaha, dilema para suami yah bro, hahahah," sahut Mario tertawa keras sampai terbatuk- batuk cukup lama.
"Waduh, lu kenapa Rio? batuk sampai kayak orang mau keluar isi perut semuanya," Asiaw merasa heran melihat Mario terbatuk-batuk dengan parahnya.
Ada sekitar hampir sepuluh menit Mario batuk, sampai dia berlari ke toilet umum di dekat ruang tunggu tersebut.
Mario membuka keran sambil masih batuk, dan...tik...tik...ada beberapa tetes darah segar keluar dari mulutnya.
Lalu batuk terhenti, dan Mario segera membersihkan mulut dan wajahnya, setelah itu dia keluar dari toilet dan menemui Asiaw lagi.
"Bro, yakin kamu baik-baik saja, Rio?" tanya Asiaw terlihat khawatir.
"Tak apa-apa bro, biasa banyak tertawa suka tersedak, maklum faktor U, hahahah," sahut Mario sambil tertawa lagi.
"Sudah ah, jangan tertawa terus nanti batuk lagi. Sehat- sehat yah bro, itu mama sudah tiba, aku jalan dulu yah," Asiaw pamit kepada Mario.
"Siap, nanti kasih kabar kalau Aliong sudah bebas yah," kata Mario sambil mengacungkan jempolnya.
Asiaw membalas acungan jempol Mario sambil berlari kecil menghampiri istri dan juga ibunya.
Mario berusaha mengatur nafas karena dadanya terasa agak sesak, dia mencari penjual minuman di sekitar situ untuk membeli air mineral.
Ketika duduk sambil minum dan mengatur nafas, terdengar pemberitahuan kalau pesawat dari Selandia Baru akan segera mendarat.
Mario segera beranjak mendekati gerbang penjemputan, dari kejauhan tampak seorang wanita mengenakan pakaian setelan atasan dan celana panjang berwarna abu-abu muda.
Rambutnya bergelombang sebahu panjangnya, di lehernya teruntai kalung dan liontin pemberian suaminya hadiah ulang tahun pernikahan kelima belas tahun.
Memakai sepatu wedges berwarna abu-abu juga, di bahunya tergantung tas berwarna hitam sambil menarik koper hitam berukuran besar juga.
Wajahnya manis mempesona, semakin berumur semakin tampak pesonanya. Istilah semakin tua semakin cantik, tenyata terjadi nyata kepada Soraya.
Mario sampai tak bisa berkedip saat melihat wanita yang telah menjadi istrinya selama hampir tujuh belas tahun itu berjalan menghampiri dirinya.
"Pap,"ujar Soraya.
"Hai, mam," sahut Mario sambil memeluk dan mencium pipi istrinya.
"Kangen kamu, mam," bisik Mario sambil memeluk istrinya.
"Sama dong," sahut Soraya sambil merangkul pinggang suaminya.
Tangan kanan Mario segera merangkul bahu istrinya, sementara tangan kirinya menarik koper istrinya.
Mereka berdua segera menuju mobil, Mario memasukan koper tersebut, setelah itu dia bersama Soraya melaju menuju sekolah anak-anaknya.
"Sekarang baru jam dua siang, mereka pulang sekitar satu jam lagi loh, pap," ujar Soraya mengingatkan suaminya.
"Dari sini ke sekolah mereka saja sudah pasti sekitar satu jam, pasti macet kesana itu, mam," jawab Mario.
"Iya, yah, aku lupa pap. Maaf yah," kata Soraya merasa geli sendiri karena lupa jarak.
"Aku maklum, sudah setahun lebih di NZ, pasti lupa sama kondisi Jakarta," ujar Mario setengah menyindir halus.
__ADS_1
"Ah, pap ini, tentunya tidak dong. Aku kangen Jakarta, kangen anak-anak, kangen rumah, kangen semuanya".
"Sama aku kok tidak kangen?".
"Kangen dong, masa sama suami sendiri tidak kangen".
"Tapi aku tidak mam sebut barusan loh".
"Hmmm, aku Soraya Wongso Maliangkay, merasa sangat kangen sekali sama suamiku tercinta yaitu Mario Maliangkay," Soraya menyebutkan rasa kangennya.
"Kalau kangen sama suami, nanti suaminya dikasih apa?" goda Mario.
Soraya melirik suaminya, sambil tersenyum.
"Ada kok oleh-oleh untuk suami tercinta".
"Aku mau oleh-oleh yang paling spesial dari istriku," ujar Mario sambil berusaha mencium istrinya.
Soraya menghela nafas, lalu mendekati telinga suaminya dan berbisik," Istri masih jet lag, suami sudah mesum".
Mario melirik istrinya sambil membalas ucapan Soraya, "Mesum sama istri kan boleh, apalagi enam bulan tidur sendirian dan kedinginan terus".
"Perasaan, Jakarta panas".
"Nanti malam yah kita panas- panasan".
Soraya dan Mario tertawa berdua penuh dengan kemesraan.
Maya dan Mega sudah berdiri menanti mobil Mario datang, dan ketika mereka melihat mobil ayahnya mendekat lalu disampingnya sudah ada ibunya, keduanya bersorak kegirangan.
Soraya keluar dari mobil, dan segera menyongsong kedua anaknya yang berlari lalu memeluk dirinya.
"Mama, kangen banget".
Lalu mereka segera masuk lagi ke dalam mobil.
"Mama di belakang saja sama kami".
"Loh, papa gimana?".
"Sudah, mama dan anak-anak di belakang saja. Papa tak apa-apa".
Keduanya senang sekali karena bisa memeluk ibunya di kursi belakang mobil, sementara Mario di depan mengemudi sendirian.
Anak dan ibu saling bercerita tentang kisah di rumah dan juga kisah selama ibunya di Selandia Baru.
Setiba di rumah, langsung saja kedua anak gadis membongkar tas ibunya untuk mencari oleh-oleh pesanannya masing-masing.
Maya mendapatkan parfum asli yang memiliki merek terkenal, sedangkan Mega mendapatkan topi original bermerek yang diidamkan sejak lama.
Kemudian Mario meminta kedua anak gadisnya segera mandi dan berdandan karena malam nanti keluarga besar diminta berkumpul di rumah Oma Regina dan Opa Hansen.
Mince sang asisten rumah tangga tak ketinggalan senang, dia mendapatkan hadiah tas selempang dan juga kaos bertuliskan NZ untuk anak lelakinya.
Soraya lalu menyusul Mario masuk ke kamar tidur mereka di lantai dua rumahnya, dia juga harus segera mandi karena wajib menghadiri acara doa bersama yang diadakan oleh mertuanya.
Pintu kamar dibukanya, lalu segera masuk ke dalam lantas mengunci pintunya karena akan segera mandi.
Tapi belum juga dia membalikkan tubuhnya, tangan Mario mendekap dirinya dari belakang.
Sejenak Soraya terkejut dan segera membalikkan badannya. Mario seketika mencium bibirnya sambil memeluknya erat, Soraya membalasnya dengan penuh kerinduan.
Tak sabar tangan Mario segera menjelajah tubuh istrinya dan membuka pakaian istrinya.
"Aku belum mandi, pap".
Mario tak peduli dan terus mencumbu istrinya, keduanya bercinta dengan penuh gairah di sore hari itu.
"Aku masih kangen, mam".
"Sttt...mandi dulu, kita sudah ditunggu oleh Mamih dan Papih".
Mario masih saja memeluk erat istrinya seakan tidak mau melepasnya.
"Ayo sayang, kita mandi dulu, yuk," ajak Soraya.
"Barengan dong, mam".
Soraya mengangguk, lantas suami istri itu mandi bersama di sore hari itu, dan tentu saja tidak sekedar mandi.
Mereka berdua melanjutkan mencurahkan rasa rindu yang sudah tak terbendung lagi.
"Pap, ini handphone bunyi terus, boleh aku jawab?" tanya Soraya sementara Mario masih di kamar mandi karena batuk- batuk.
"Tolong angkat dulu, mam!" pinta Mario dengan suara serak.
Soraya menghampiri meja samping tempat tidur dan terlihat di handphone Mario ada yang menghubungi dengan nama Asuransi Jiwa.
"Halo, Mario, ini polisnya sudah jadi. Mau kamu ambil di kantorku besok atau di rumah kost?" terdengar suara wanita langsung bicara seperti itu.
"Maaf bu, ini saya istrinya. Pak Mario sedang di kamar mandi. Tadi beliau minta tolong saya untuk menerima panggilan telepon ibu," ujar Soraya sambil merasa agak rancu mendengar kata rumah kost.
Asmila terkejut setengah mati, dia tidak menyangka kalau Soraya yang menerima panggilan teleponnya ke Mario.
"Oh...maaf, ibu Soraya yah. Apa kabar bu, kapan kembali dari luar negeri?" Asmila agak gelagapan tapi mencoba keras untuk terdengar biasa saja.
"Hmmm, saya baru tadi siang kembali ke Indonesia, kok ibu tahu?" Soraya merasa aneh.
"Pak Mario kan nasabah kami, kemarin kami menanyakan istrinya kemana dan katanya sedang di luar negeri," Asmila berusaha keras agar tidak tampak mencurigakan.
"Oh begitu, baik nanti saya sampaikan kepada suami saya kalau polis asuransi sudah selesai dan akan diambil dimana. Begitu, bukan?" Soraya menekankan kembali pernyataan Asmila di awal telepon tadi.
"Betul ibu Soraya, terima kasih atas bantuannya. Nanti kami tunggu konfirmasi dari Pak Mario," sahut Asmila ketika mengakhiri pembicaraan.
"Pap, tadi orang asuransi jiwa menelepon. Katanya polis asuransi sudah selesai, mau diambil di kantor atau di rumah kost?" Soraya menyampaikan apa adanya.
Mario tampak terkejut mendengar ucapan istrinya.
"Itu temanku, dia kemarin menawarkan asuransi untuk anak-anak. Jadi aku ambil saja penawarannya, dengan harapan nanti saat Maya kuliah sudah ada dana mencukupi".
"Rumah kost apa, ngaco aja. Dia suka iseng kalau bicara, dia punya suami kok. Kamu jangan punya pikiran aneh yah. Aku dan dia tak ada apa-apa hanya teman biasa saja," Mario panjang lebar menjelaskan sehingga membuat Soraya jadi keheranan.
Soraya diam saja tapi dalam hati jadi bertanya-tanya, "Padahal aku cuma menyampaikan apa kata orang tadi, kok jadi panjang lebar begitu yah penjelasannya".
Tapi Soraya tak mau ambil pusing, dia hanya angkat bahu saja sambil mengeringkan rambutnya.
Menjelang malam mereka sekeluarga akan berkumpul
di rumah orang tuanya Mario karena ada acara keluarga.
Asmila tadi sore lupa kalau hari ini istri Mario pulang ke Indonesia, seharian Asmila sibuk mengurusi berbagai pekerjaan sehingga sama sekali tidak ingat kalau tadi siang sempat berbincang di telepon dengan Mario.
Sekarang dia duduk sambil memegang ponselnya, tapi entah mengapa hatinya merasa sakit dan terluka.
Tiba-tiba terbersit khayalan kalau Mario dan istrinya pasti sedang bermesraan saling melepas rindu.
Tapi buat apa merasa sedih, dirinya juga punya suami. Namun tak bisa dipungkiri kalau sekarang dia sangat merasa sedih sekali.
Cemburu, marah, kesal bercampur aduk, apalagi tadi sempat mendengar sendiri suara Soraya begitu lembut.
__ADS_1
Dia membayangkan Mario sedang bercinta dengan istrinya dan membayangkan desahan suara Soraya yang begitu lembut.
Wajahnya ditekuk, bibirnya cemberut, membuat karyawan di kantornya merasa terheran- heran, karena Asmila tak seperti biasanya begitu.
Mereka tahu kalau Asmila sehabis menelpon Mario pasti wajahnya terlihat senang sekali dan selalu ceria, tapi sekarang malah terlihat seperti kertas yang habis di remas-remas.
"Mas Fuad, besok pagi jemput aku di stasiun yah," pinta Asmila kepada suaminya.
"Loh, katanya tidak jadi pulang, aku sekarang sedang pergi bersama atasanku ke luar kota. Kami baru kembali Indramayu perkiraan hari minggu malam. Ada pekerjaan di luar kota," sahut Fuad kepada Asmila.
"Mas Fuad sekarang dimana? Kalau masih di kantor Indramayu sih batalkan saja dong ke luar kotanya. Aku mau pulang saja ke Cirebon, aku mau berdua saja sama Mas," Asmila merajuk kepada suaminya.
"Mila, aku sudah di luar kota, aku sudah sejak kemarin bersama atasanku di Kutai Kalimantan. Kemarin naik helikopter kemari dan rencana kembali ke Indramayu hari minggu sore," Fuad menjelaskan lagi kepada istrinya.
"Mas tak sayang aku? mas tega membiarkan aku sendirian, kenapa sih mas begitu sama aku".
"Lah, kamu sendiri Mila yang kemarin ini bilang tidak jadi pulang ke Cirebon. Jadi aku setuju saja ikut atasanku, kok sekarang jadi salah aku?" Fuad juga jadi kesal karena istrinya tiba-tiba merajuk dan marah- marah.
"Ya sudah, aku di Jakarta saja sendirian. Mas lebih memilih pergi sama atasan dibanding bersama aku".
Asmila menutup ponselnya dengan kasar, Fuad di seberang sana juga jadi kesal karena istrinya tiba-tiba marah tak jelas.
Padahal Asmila hanya sekedar melampiaskan kemarahan saja karena dia sekarang sedang merasa cemburu teramat sangat kepada Mario dan Soraya.
Tapi dia tak bisa berbuat apa-apa, dia bukan siapa-siapanya Mario, hubungannya dengan Mario juga cuma sebatas teman saja.
Walaupun memang kata orang yang mereka lakukan itu adalah teman tapi mesra, namun apa mau dikata Asmila tidak punya hak untuk memiliki Mario.
Saat ini Mario sedang merasa bahagia bersama istrinya, seharusnya sebagai teman baik, Asmila ikut senang akan hal itu, tapi entah mengapa yang ada hanya rasa marah, sedih dan kecewa.
Memasuki ruangan kantor dengan kasar, pintunya dibanting dan Asmila menangis sendirian sambil wajahnya ditangkupkan ke meja kerjanya.
Amarah tak jelas meliputi seluruh hatinya saat ini, tapi tak bisa berbuat apapun.
"Kalungmu masih belum ganti? rasanya itu sudah lama sekali kamu pakai, yah," Rosalinda tiba-tiba menunjuk kalung dan liontin yang menggantung di leher Soraya.
"Hmmm, ini hadiah ulang tahun pernikahan dari Bang Rio, dua tahun lalu pernikahan kelima belas tahun," sahut Soraya agak malas menjawab pertanyaan Rosalinda.
"Kamu luar biasa, punya suami macam Rio yang tukang mabuk tapi masih saja bertahan. Kasihan kamu, kalau aku sih yang mengalami pasti sudah lama aku tendang," Rosalinda selalu saja nyinyir.
"Ya, memang lain Bang Rio dengan Bang Robert, aku senang melihat kak Rosa dengan Bang Robert. Selalu harmonis, romantis dan punya segalanya," Soraya membalas nyinyiran Rosalinda.
"Tentulah, selama ini yang paling banyak sumbangsih kepada keluarga ini hanya Bang Robert dan aku. Bahkan besok Mamih dan Papih akan berangkat ke luar negeri juga siapa yang membiayai kalau bukan kami," sombongnya nyonya besar kita ini.
Soraya hanya tersenyum saja, sungguh rasanya malas sekali menanggapi ocehan istri kakak iparnya itu.
Tak lama acara dimulai dengan doa bersama, karena besok Mamih Regina dan Papih Hansen akan berangkat berziarah ke Yerusalem dan Bethlehem selama beberapa minggu lamanya.
Setelah berdoa bersama, lalu disambung dengan makan malam bersama.
Sambil menikmati makanan penutup, Soraya membagikan oleh-oleh dari Selandia Baru untuk seluruh keluarga dan juga karyawan di rumah mertuanya.
Semua menyambut gembira, ada kaos, perhiasan manik-manik, kalung batu giok khas negara sana, dan berbagai macam lainnya.
"Ini khusus untuk Oom Jimmy!!!" seru Soraya sambil memberikan sebuah bingkisan.
Jimmy membukanya dan sangat bahagia sekali menerimanya.
"Yes, memang kakakku satu ini paling memahami aku!!!" sorak Jimmy ketika membuka bingkisan itu.
Sontak seluruh keponakan menjadi penasaran dan semuanya memaksa pamannya memberitahu mereka apa yang diberikan oleh Soraya.
"Ini rahasia antara Oom Jimmy sama Mama kalian, pokoknya sangat berguna buat Oom kalau naik gunung nanti," ujar Jimmy sambil mendekap bingkisan dari Soraya.
"Sudahlah, kalian kan sudah dapat bingkisan dari Mama, dari Tante Soraya. Biarkan saja ini rahasia Oom Jimmy sama Mama," Mario mencoba menengahi.
"Thank you brother," kata Jimmy sambil berlari ke kamarnya.
"Simpan hati-hati!!!"teriak Mario.
Semua keponakannya dan anak-anaknya Mario merasa sebal karena tidak diberitahu apa bingkisan yang Jimmy dapatkan.
Jimmy mengunci kamarnya, lalu perlahan dia menyimpan botol-botol kecil minuman beralkohol berbagai merek.
Memang Jimmy memerlukan minuman beralkohol untuk sesekali dia kemping di atas gunung.
Tujuannya untuk menghangatkan badan agar tidak membeku kedinginan.
Sering dia naik ke atas gunung sendirian, bahkan sekarang sudah mempunyai komunitas sendiri.
Komunitas pencinta alam, banyak pria jomblo seperti dia yang memilih kemping di gunung untuk menyenangkan hati dan membuang rasa jenuh.
"Bagaimana caranya Kak Soraya bisa membawa minuman sebanyak ini. Hmmm, bisa saja ibu itu," guman Jimmy yang menghitung ada sekitar lima belas botol kecil minuman beralkohol itu.
Lalu dia mengunci lemarinya dan menyimpan kuncinya di tempat aman, karena dia paham keponakannya pasti akan bergerilya mencari tahu.
Seperti dia jaman dulu sering bergerilya ke kamarnya Mario.
Maya dan Mega minta ijin menginap di rumah kakek dan neneknya, sebab anaknya Rosalinda juga menginap di sana.
Mario memberi ijin dengan catatan jangan sampai tidur terlalu larut malam.
Tak lama Mario dan Soraya ijin pulang karena Soraya masih merasa kelelahan sehabis naik pesawat tadi siang.
"Pap, maaf cuma bertanya, aku agak aneh tadi sore petugas asuransi jiwa itu saat menelpon kok langsung memanggil namamu. Tidak seperti kebanyakan orang kantoran memanggil nasabah dengan sebutan bapak atau ibu?" tanya Soraya iseng berbincang di dalam mobil.
"Kan sudah aku bilang, dia temanku. Jadi sudah pasti akan memanggil namaku," sahut Mario sambil resah ditanya seperti itu.
"Lalu soal rumah kost itu apa? Memangnya pap pernah ke rumah kostnya?".
"Ya ampun, dia cuma bercanda saja, mana aku tahu dia tinggal dimana. Lagipula setahuku temanku itu sudah menikah".
"Siapa sih namanya, pap?".
"Hmmm, Asmila".
Lalu Soraya terdiam sejenak setelah mendengar nama yang baru saja disebut suaminya.
"Pap, kata Mega pap sering tak pulang dan menginap di rumah teman. Memangnya menginap dimana, pap?" tanya Soraya lagi ingin tahu kebenaran cerita anaknya.
"Aku memang sering menginap di kantor, atau di rumah Wildan. Kan Wildan punya paviliun, jadi kalau sedang banyak pekerjaan aku sering menginap di sana," jawab Mario berusaha senormal mungkin, padahal jantungnya berdebar kencang atas pertanyaan istrinya itu.
"Oh begitu, kirain menginap dimana....gitu," Soraya menggodanya.
"Nah kan, curiga saja dari tadi. Masa aku menginap di rumah perempuan, aku kan punya anak perempuan. Masa aku tidak memberi contoh baik kepada mereka," sanggah Mario.
"Aduh Pak Mario jangan sewot begitu dong, aku kan cuma bertanya saja".
"Hmmm...nanyanya aneh-aneh saja".
"Benar tak suka yang aneh-aneh, ya sudah tak masalah aku sih".
"Dasar Soraya, kerjanya menggoda suami saja. Aku lagi menyetir tahu," Mario membalas godaan istrinya.
Lalu Soraya menyandarkan kepalanya ke lengan kiri Mario, dan tangannya memeluk perut suaminya.
"Iiihhh...endut".
"Awas yah sampai rumah, rasakan pembalasanku".
__ADS_1
Lalu keduanya tertawa sambil terus saling menggoda.