PENGKHIATAN CINTA

PENGKHIATAN CINTA
Sebelum 1


__ADS_3

"Bunda, beberapa hari yang lalu aku pernah mengatakan kalau aku akan ada pekerjaan di Palembang. Aku sekarang sudah dalam perjalanan kesana yah," kata Asrul kepada Aletha istrinya melalui telepon selularnya.


"Loh, kok tiba-tiba sekali? Mas!!! ini tidak lucu sama sekali yah, aku sebentar lagi tiba di rumah. Mas kok keterlaluan begini sih sama aku!!!???" Aletha tentu saja kesal dan marah karena suaminya mengatakan sudah pergi menuju Palembang.


"Ya, bun, maafkan aku karena sangat mendesak dan tiba-tiba sekali orang yang memberi pekerjaan itu meminta aku besok pagi sudah ada di Palembang," ujar Asrul lagi dengan nada terpotong- potong dan terasa sedang panik.


"Mas Asrul!!! Ayah!!!...apa- apaan ini !!!...kenapa sih Mas, ada apa sebenarnya?!!!" Aletha terdengar sangat geram sekali kepada suaminya.


"Etha, bun, aku tahu kamu pasti marah, tapi maaf sekali lagi maafkan suamimu ini. Aku benar-benar harus segera ke Palembang hari ini juga," Asrul mencoba meredakan kemarahan Aletha.


"Aduh...Aduh...Mas...sakit... Mas...sakit...!!!!".


Terdengar suara wanita mengaduh dari belakang Asrul.


"Suara siapa itu?" tanya Aletha.


"Suara apa?" Asrul berpura-pura.


"Ada suara perempuan mengaduh kesakitan, suara siapa itu?" tanya Aletha lagi.


"Tak ada siapa-siapa, mungkin suara radio saja. Sudah jangan marah terus, aku minta maaf sekali lagi. Beribu maaf kepada Bunda Aletha, istriku tercinta," ujar Asrul kembali memohon maaf kepada istrinya.


"Terserah mas, yang pasti aku sangat kecewa sekali. Sungguh aku kecewa, karena mas begitu tiba-tiba pergi tanpa pamit dulu kepada aku, kepada Edwin anak kita dan juga kepada orang tua kita. Nanti mas telepon papih dan mamih, juga kepada abi dan umi. Aku tak habis pikir sampai harus segitunya, pergi tiba-tiba ke luar pulau pula," Aletha tak bisa berkata apa-apa lagi, selain jengkel yang sangat luar biasa kepada suaminya.


Aletha membuka bagasi mobilnya, sedianya akan menurunkan barang belanjaan berupa bahan makanan dan buah-buahan.


Tapi segera dia urungkan niatnya, karena merasa percuma Asrul tidak ada di rumah itu juga sekarang.


Segera Aletha menutup kembali bagasi mobilnya, lalu berjalan menuju pintu rumah.


"Ibu!!! Ibu Aletha!!! tunggu!!!" terdengar suara tetangga seberang rumah memanggilnya.


Aletha menoleh dan melihat seorang wanita setengah baya berlari kecil menghampirinya.


"Ibu Aletha," panggilannya dengan nafas sedikit tersengal-sengal.


"Ya, ada apa bu?" tanya Aletha kepadanya.


"Begini bu, kami sering melihat ada perempuan hamil di rumah ini. Apakah memang ada saudara ibu yang hamil dan tinggal di sini?" tanya Ibu itu kepada Aletha.


"Perempuan hamil?!!".


"Iya bu, benar saya sempat melihat beberapa kali ada perempuan hamil di dalam rumah ini," ibu tetangga itu menjelaskan lagi.


"Hehehe...bu, maaf yah. Seharian ini saya sibuk, dan banyak masalah. Sekarang saya harus mendengar omong kosong tentang perempuan hamil di rumah saya," Aletha tertawa sinis mendengar perkataan ibu tadi.


"Ya, maaf, siapa tahu kami salah lihat, atau memang di rumah ini ada penampakan atau sejenisnya," tetangga itu masih saja berupaya mencari tahu yang sebenarnya ada apa di rumah Aletha.


"Bu, maaf yah, saya hari ini banyak sekali masalah. Untuk itu saya mohon maaf jangan menambah lagi masalah kepada saya. Biarkan saja mau ada penampakan apapun juga di rumah ini. Saya saja tidak pusing dengan penampakan, jadi saya mohon tetangga juga tidak usah ambil pusing dengan kondisi rumah ini".


Aletha dengan sebal dan kesal berusaha agar tetangga tadi segera pergi dengan berkata seperti tadi, dan untungnya tetangga itu paham kalau Aletha sedang tidak ingin diganggu lantas ibu tadi segera kembali ke rumahnya.


Dalam rumah kondisinya sangat berantakan sekali, tampaknya Asrul sangat tergesa-gesa saat akan meninggalkan rumah.


Lemari pakaian berantakan, kamar tidur juga apalagi seperti kapal pecah.


Di dapur juga banyak sekali piring dan gelas kotor yang belum di cuci.


Lantas Aletha menghubungi Bik Sumi, memintanya agar segera ke rumahnya untuk membantunya merapihkan rumah.


Selang setengah jam lamanya, Bik Sumi akhirnya datang dan segera membantu Aletha membersihkan dan merapikan seluruh rumahnya.


Aletha naik ke lantai paling atas mencoba membuka pintu ruang kerja Asrul, tapi sayang pintunya terkunci. Lantas dia berusaha mencari kunci cadangannya, namun ternyata tidak ada.


Lantas Aletha naik lagi bermaksud ingin membongkar pintu tersebut, namun tetap saja terkunci rapat walau sudah mencoba ditendang tapi tetap saja pintunya terkunci rapat.


"Bik Sumi, tolong bersihkan saja yang bisa dibersihkan. Kalau lantai atas tempat kerja Pak Asrul, biarkan saja. Pintunya terkunci rapat tak bisa dibuka," ujar Aletha merasa putus asa.


"Bu Etha, jangan tinggalin Bik Sumi sendirian, takut ah. Kata orang ada penampakan perempuan hamil di rumah ini," ujar Bik Sumi meminta Aletha agar tidak meninggalkan dirinya.


"Bik...sudah jangan ngomong aneh-aneh, di rumah ini tidak ada penampakan apapun," sahut Aletha dengan ketus.


Melihat Aletha tampak sedang tidak suka diajak bicara, lalu Bik Sumi jadi terdiam dan mengerjakan pekerjaannya sambil tak banyak bicara.


Setelah semua rapih kembali, lantas Aletha meninggalkan rumah dan segera pergi ke klinik tempatnya praktek sebagai dokter gigi.


Aletha tidak mau larut dalam kekesalan, karena tugas sebagai dokter gigi sudah menanti. Dokter gigi tidak boleh bekerja sambil marah, karena khawatir salah cabut gigi atau sejenisnya.


"Mas, sakit mas...aku sudah tak tahan lagi. Carikan bidan atau dukun bayi atau siapalah di sekitar sini yang bisa membantu aku melahirkan," Jena sangat kesakitan sekali sampai bicarapun meracau.


"Baik, aku tanya orang sekitar," Asrul juga menjadi panik melihat kondisi Jena.


Lalu dia turun menanyakan klinik bidan kepada orang sekitar situ, beruntung tak jauh dari situ ada klinik bidan dan segera Asrul membawa Jena ke tempat itu.


Setelah berjuang sekitar dua jam lamanya, maka lahirlah seorang bayi perempuan dari rahim Jena.


Bayi perempuan yang sangat cantik dan berkulit putih seperti Jena.


Asrul membisikkan kalimat adzan ke telinga bayinya, dan juga kalimat doa Al-Fatihah.


"Jadi Mas Asrul ini sementara tidak ada tempat tinggal, yah sudah, begini loh, di belakang klinik kami ini rumah kost. Saya yang punya, silahkan tempati saja salah satunya, harga sewanya murah kok," kata suaminya ibu bidan yang menolong Jena melahirkan.

__ADS_1


"Terima kasih, pak. Baik saya sewa satu kamar di sini sampai Jena pulih kembali," sahut Asrul.


"Kalian belum menikah?"tanya bapak itu menyelidiki.


"Belum pak, saya juga punya anak dan istri di kota Semarang," Asrul menjelaskan.


"Hmmm, masalah begini ini selalu saja kami dapatkan".


Lalu bapak itu menghela nafas, dan kemudian meneruskan bicaranya.


"Nanti setelah kekasihnya pulih, silahkan menikah agama saja dulu. Nanti saya bantu, kyainya juga ada kok di Masjid dekat sini".


"Baik pak, terima kasih sarannya".


Suaminya ibu bidan kembali menghela nafas sambil geleng-geleng kepala, karena kasus sejenis sering sekali mereka dapatkan.


"Etha, aku sudah di Palembang, mohon maaf yah atas segala kesalahanku".


Itu chat dari Asrul yang diterima Aletha pagi tadi, tapi Aletha tidak menjawab chat tadi, hanya sekedar membaca namun malas memberi komentar.


"Aku baru menjual mobil, lumayan laku juga mobil tua itu," kata Asrul kepada Jena.


"Sayang sekali mobil itu yang dijual, seharusnya mobil mertuamu. Pasti dapat uang yang sangat banyak kalau kita menjualnya," ujar Jena sambil cekikikan.


"Hmmm, bisa dicari polisi kita kalau menjual mobil mertuaku. Mobil tuaku saja, tidak akan ada yang mencari kita," sahut Asrul sambil tersenyum.


"Mobil tua dijual, istri tua ditinggal, kejam sekali dikau Pak Asrul, hihihihi...," ledek Jena.


Asrul menatap Jena, tapi mau bilang apa sudah tak bisa, hanya senyum tipis saja sambil pikiran terasa kosong.


"Mas, lihat anak kita, cantik yah".


Jena menunjukan bayi mereka yang tengah tertidur tenang di sebuah box khusus bayi di ruangan rawat inap di klinik bidan.


"Aku merasa senang sekali bisa memeluk bayiku sendiri tanpa ada berkata ini dan itu," ujar Asrul sambil menatap penuh kasih sayang kepada bayi kecilnya.


"Memangnya kenapa dulu saat Edwin bayi?" tanya Jena.


"Kamu tahu sendiri kan, anak lelakiku itu manja sekali. Dia benar-benar anak Opa dan Oma. Dari dia bayi mana pernah aku bisa puas memeluk dan menggendong.


Raja dan ratu pasti marah besar, tak boleh ada yang menyentuh bayi itu bahkan ayahnya sendiri," Asrul menceritakan soal anaknya kecil dulu.


"Raja dan ratu? maksud mas? Oom dan Tante Edmun?" tanya Jena lagi.


"Siapa lagi, kedua mertuaku memang begitu. Kamu juga paham kan, aku seperti apa di rumah mertua. Tak pernah punya harga diri selama ini," keluh Asrul mengingat apa yang dia rasakan selama ini.


"Tapi mas masih menantu mereka. Tidak ada perceraian diantara mas dan Aletha, kecuali salah satu menggugat cerai".


Jena tersenyum memasang Asrul, lalu tangan Jena menjulur dan Asrul meraihnya, mereka saling bergenggaman.


"Biaya melahirkan dan rawat inap selama tiga hari sebesar tujuh ratus lima puluh ribu. Tapi maaf, kami tidak bisa membuatkan akte kelahiran, karena kalian juga tidak ada surat pernikahan yang sah," kata Ibu bidan dengan lugas dan tegas.


"Kami paham,bu, biar nanti kami yang urus di Palembang. Sementara selama satu bulan ini kami menyewa kamar kost di belakang klinik," sahut Asrul sambil membayar biaya yang tadi disebutkan.


"Masalah sewa kamar nanti sama suami saya saja. Urusan melahirkan dan perawatan bayi, itu saya yang menangani," kembali Ibu bidan menyahuti Asrul dengan nada datar.


"Oh, iya, kalau misalkan butuh perawatan tambahan sampai bayi lepas tali pusatnya, silahkan tambah lagi dua ratus lima puluh ribu untuk satu minggu," Bidan itu memberi penawaran perawatan.


"Ya, sudah silahkan saja sekalian, ini semua uangnya," Asrul menyerahkan uang yang diminta oleh bidan tersebut.


"Mas, belikan aku kartu perdana, aku mau menghubungi orang tua di Palembang. Kartu ponsel kemarin hangus karena lama tak dipakai," pinta Jena kepada Asrul.


"Pakai saja ponselku, ini kartu pasca bayar. Nanti tagihan bulan depan juga datangnya ke Aletha, habiskan saja limitnya. Toh, nanti tiba di Palembang kartunya aku ganti," ujar Asrul sambil memberikan ponselnya.


"Hehehe, mas seperti yang kesal begitu kepada Aletha, memangnya kenapa sih?" tanya Jena sambil merasa lucu melihat Asrul memasang mimik wajah kesal.


"Yah, kesal sih tidak, cuma bagaimana, yah.... selama menikah dengan dia, aku tak pernah menjadi diri sendiri. Hidup kami diatur oleh mertua dan istriku tak punya sikap, tak punya prinsip ingin mandiri. Dia hanya menuruti saja semua perkataan orang tuanya, dan tak pernah membela aku di hadapan mereka".


"Lantas mas nanti tinggal di Palembang bersamaku, memangnya kedua orang tuaku orangnya menyenangkan? Hahaha... sama sajalah, cuma bedanya kami keluarga miskin. Lain dengan keluarga Edmun," timpal Jena sambil merasa geli atas pemikiran Asrul.


"Entahlah, aku tak bisa berpikir saat ini, aku lelah sekali. Aku mau tidur dulu, kalau bisa tak bangun lagi juga tak apa-apa," ujar Asrul sambil menutup wajahnya dengan bantal.


"Enak saja tak bangun lagi, bagaimana aku dan anakmu. Kirim dulu kami ke Palembang, baru urusan tak bangun lagi. Kalau bisa juga aku ikut bersama mas, biar tak pernah mendengar omongan orang tentang kita," sahut Jena mengomel kepada Asrul yang bicaranya asal saja.


Asrul tak peduli, dia tetap menutup wajahnya dengan bantal dan melanjutkan tidur dengan nyenyak.


"Ibu, bapak, macam itu Jena sekarang. Sudah ada bayi kami, dan rencananya hendak kembali ke Palembang," ujar Jena ketika setelah menjelaskan keadaan dirinya kepada kedua orang tuanya.


Ibunya Jena menangis, sementara bapaknya terdiam mendengar anaknya baru saja melahirkan tanpa ada pernikahan.


"Jadi kau ini mencuri suami orang? macam itu, kan?" tanya bapaknya perlahan berusaha menenangkan dirinya.


"Bukan begitu juga, tapi kami saling cinta. Mas Asrul tak cinta kepada istrinya, malah cinta sama aku," Jena berusaha menjelaskan.


"Kalau saling cinta, mengapa tak menikah baik-baik. Asrul itu ceraikan dulu istrinya, lalu menikah dengan kau. Ini malah kau jadi wanita simpanan macam itu," ujar bapaknya seakan tak terima dengan hubungan Jena dan Asrul.


"Jena bukan wanita simpanan, pak. Jena akan menikah dengan mas Asrul".


"Bukan simpanan macam mana? kalian hidup bersama tanpa menikah sampai punya anak. Dan sekarang kalian hendak kabur dari tanah jawa, melarikan diri kepada kami," emosi bapaknya mulai naik.


"Sudah Jena, sudah pak, sekarang Jena kamu kembali dulu kemari, nak. Urusan nikah nanti saja diurus di sini. Pak, biarkan anak kita dan cucu kita kemari dulu. Kasihan mereka," seorang ibu pasti akan membela anaknya walau jelas anaknya salah.

__ADS_1


"Runyam Jena, kau ini selalu saja membuat runyam. Dulu kau pergi ke tanah jawa karena masalah di sini sama paman kau. Sekarang dari tanah jawa kau bawa pula masalah lain. Mati saja kau Jena, sana mati saja sama si Asrul busuk itu!!!" bapaknya sangat marah sekali kepada Jena.


"Astagfirullah!!! bapak!!! hati-hati bicara, pak. Sudah nak, tutup teleponnya, nanti Ibu bicara dengan bapakmu. Sekarang bapak sedang emosi, jangan kau bawa masuk hati yah," Ibu tetap berusaha sabar dan berusaha agar semua bisa baik-baik saja.


Jena tak bisa bicara lagi, hanya menangis sambil menggenggam handphone milik Asrul.


"Yun, maaf aku minta waktu sebentar. Aku punya masalah besar," pinta Aletha kepada Yunita sahabatnya ketika klinik mulai tutup.


"Ada apa Etha? apakah kamu baik-baik saja?" Yunita terlihat panik melihat Aletha tampak kalut.


Keduanya masuk ke dalam salah satu ruangan klinik yang kosong.


Aletha menceritakan semua yang sedang terjadi dan juga soal perempuan hamil yang dia dengar dari beberapa orang lain.


"Menurutmu siapa wanita itu? Apakah Jena? Selama ini kita tidak mendengar lagi kabarnya, bukan?" Aletha bercucuran air mata mengisahkan segalanya kepada Yunita.


"Terakhir aku dengar dari mas Husein, perempuan itu kembali ke Palembang. Dan selama ini aku tak pernah mendengar mas Husein dan mas Asrul terlihat membahas soal dia," sahut Yunita yang mulai lagi keluar rasa bencinya kepada Jena.


"Nah itu dia, aku tadi siang juga sudah telepon Genta. Menurut adikku itu, Jena sudah tidak kontak dengan dia hampir setahun ini. Dan kata Genta juga Jena pulang ke Palembang sudah lama," Aletha menceritakan pembicaraannya dengan adiknya melalui telepon siang tadi.


"Tapi masa sih selama ini kamu tak pernah naik ke lantai atas rumahmu?" Yunita merasa aneh.


"Sungguh aku tak pernah ke atas, karena pikirku itu tempat kerja mas Asrul. Eh, iya, anakku juga pernah dibawa ayahnya masuk kesana, dan anakku bilang lantai atas seperti gudang. Jadi mana mungkin menyimpan perempuan di sana, kan," sanggah Aletha.


"Hmmm, mungkin saja sih. Kalau perempuan itu mau, mengapa kamu sekarang tidak memeriksa lantai atas itu. Kan kebetulan suamimu sedang keluar kota," Yunita mencoba memberi masukan.


"Sudah aku coba Yun, tapi kuncinya tidak ada dan ketika aku coba mendobraknya sangat sulit sekali".


"Sudahlah nanti kapan-kapan aku coba buka lagi pintu itu. Aku juga sangat jarang sekali kesana, apalagi sekarang mas Asrul tak ada di sana," Aletha menunda keinginan untuk memeriksa tempat kerja suaminya.


"Sabar yah, pasti nanti akan terkuak sendiri, kalau misalkan benar suamimu membuat sebuah kebohongan. Tapi aku yakin Mas Asrul bukan lelaki seperti itu," Yunita berusaha menghibur sahabatnya.


Aletha tersenyum sambil menganggukan kepalanya.


"Menantu tak tahu diri, terlalu sombong suamimu itu. Jengkel rasanya hati papih, masa tak ada omongan sama sekali mau pergi ke luar pulau seperti sekarang," Pak Edmun tampak meluapkan kemarahan ketika tahu Asrul pergi tanpa pamit.


"Mamih merasa aneh sama suamimu belakangan ini, terasa berbeda sekali beberapa bulan ini. Pulang kemari cuma sesekali saja, kita menengok kesana tampak sulit diajak ngobrol. Kita bawa makanan malah sibuk membawa makanan ke ruang kerjanya," Ibu Edmun juga merasa tingkah menantunya agak aneh belakangan ini.


"Mas Asrul bilang sih, di atas itu sambil mengerjakan sesuatu sambil makan lagi. Tapi aku juga tak paham, mamih," sahut Aletha ketika kedua orang tuanya mengajak berbincang.


"Aneh memang, tapi masa juga dia menyembunyikan perempuan di atas sana. Tak masuk akal, aku benar-benar jengkel sama menantu kita," Pak Edmun mengomel lagi.


"Sabar Papih, percaya sama Etha, karena Etha juga tidak tinggal diam begitu saja. Nanti Etha akan cari tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan mas Asrul," Aletha mencoba menenangkan kedua orang tuanya.


"Mamih dan Papih memang kecewa berat, tapi kami percaya Etha akan bisa menyelesaikan semuanya. Tapi kalau butuh bantuan, segera hubungi Papihmu," ujar Ibu Edmun sambil merangkul anak sulungnya.


Keesokan harinya Aletha juga menemui mertuanya, dan menceritakan segala apa yang dia ketahui dan dengar dari beberapa orang.


"Etha, setahu abi memang Asrul itu kalau ingin menunjukkan dirinya mampu akan sesuatu, maka dia itu diam-diam melakukannya. Abi pikir saat ini dia mungkin sedang punya pekerjaan besar, dan nanti kalau sudah selesai baru memberitahu kamu," kata ayahnya Asrul kepada menantunya.


"Iya, Etha, biasanya dia begitu. Tapi yang umi bingung sekarang, hari minggu ini Anwar akan menikah. Bagaimana sekarang tidak ada abangnya, umi bingung," rupanya orang tua Asrul sedang konsentrasi dengan persiapan pernikahan Anwar jadi tidak terlalu memikirkan Asrul.


"Nanti Etha pasti bantu, umi jangan khawatir. Hari sabtu nanti Etha sudah ijin tidak praktek, rencananya Etha akan membantu segala persiapan pernikahan Anwar," ujar Aletha menenangkan mertuanya.


"Terima kasih, umi dan abi mengucapkan terima kasih".


"Apa yang sekarang diperlukan oleh Anwar yang paling mendesak?" tanya Aletha lagi.


"Mobil mbak, kayaknya akan kurang mobil. Jadi rencananya Anwar mau pinjam mobil kepada mbak Etha," tiba - tiba Anwar yang baru saja datang langsung ikut bicara.


"Aduh calon pengantin, siap boss. Nanti mbak siapkan satu mobil beserta sopirnya, untuk dua hari sabtu dan hari H," sahut Aletha sambil mengacungkan jempolnya.


"Terima kasih, mbak. O, ya, soal bang Asrul tenang saja. Kami paham dia bagaimana, nanti juga dia akan pulang. Kayak gitu dia dari dulu, diam- diam punya mobil, diam-diam bilang mau nikah sama mbak Etha. Lalu diam-diam punya usaha lain sama bang Husein. Aneh memang dia itu," Anwar menceritakan tentang kakaknya.


"Iya juga yah, aku mungkin terlalu khawatir saja sama Mas Asrul," ujar Aletha sambil senyum kepada adik iparnya.


"Nah, gitu dong. Itu baru kak Etha yang aku kenal, selalu senyum dan percaya diri," goda Anwar kepada Aletha.


"Dasar kamu, ada maunya saja memuji aku".


"Hahaha...mbak Etha, bisa saja. Aku senang kalau mbak senyum lagi, ayo, mbak nanti jadi kakak tercantik yah menggantikan bang Asrul di pernikahanku," pinta Anwar.


Aletha mengangguk dan semua menjadi senang lagi karena melihat Aletha bisa senyum lagi. Padahal di hati yang terdalam, ada rasa sedih dan curiga kepada suaminya. Tapi ternyata sulit untuk diungkapkan kepada keluarga mertuanya.


"Minggu depan kita ke Jakarta dulu setelah bayi kita lepas tali pusatnya. Baru nanti kita cari tiket pesawat ke Palembang," ujar Asrul kepada Jena yang sedang menyusui anaknya.


"Kampungku masih jauh lagi dari bandara Palembang. Kalau beruntung kita bisa naik pesawat lagi ke sana, kalau tidak, terpaksa naik travel tapi cukup lama perjalanannya," Jena menjelaskan letak kampung halamannya.


"Sejauh apa sih memangnya?" tanya Asrul.


"Jauhlah, kampungku di pinggiran kota Pagar Alam, sudah masuk ke daerah Lahat. Jadi kami bukan orang kota Palembang, tapi berasal dari kabupatennya," Jena memberitahu Asrul.


"Walah, aku tak paham. Nanti saja kamu kasih petunjuk, aku buat sama sekali tentang pulau Sumatera," Asrul terlihat kebingungan.


"Pastilah aku kasih petunjuk, masa mas mau ketemu dengan keluargaku tapi aku biarkan di jalanan," tukas Jena.


Asrul hanya tersenyum saja, jujur pikirannya berkecamuk. Walau bibir bicara ingin meninggalkan Aletha, tapi hati kecil berkata lain. Dia merasa berat bebannya karena ingat segala kebaikan Aletha dan juga ingat akan anak lelakinya.


Asrul duduk di depan pintu kamar kostnya, dia sudah meninggalkan pekerjaannya, meninggalkan keluarganya, bahkan minggu ini adiknya akan menikah dan dia tak mungkin bisa hadir menyaksikannya.


Andai waktu bisa diputar lagi, sebenarnya Asrul tidak ingin semua ini terjadi.

__ADS_1


Tapi apa mau dikata, semua terlanjur terjadi dan tak mungkin bisa ditarik lagi segala kejadian yang saat ini dihadapi.


__ADS_2