
Minggu pagi Yu Chen sudah berangkat untuk melatih senam di alun-alun depan kantor Kecamatan.
Kumpulan ibu-ibu dari beberapa kampung berkumpul menjadi satu di sana, ditambah dengan peserta umum lainnya.
Kalau acara begini biasanya Yu Chen akan menggandeng beberapa temannya juga, berbagi rejeki walau memang hasilnya tidak seberapa.
Cuma terkadang kalau Ibu Camat ikut hadir untuk senam, suka memberi tips lebih kepada semua guru senam.
Lumayan buat menambah uang saku, karena hari minggu pasti banyak orang jualan makanan di sekitar alun-alun.
Makanya Ahan sudah pasti akan menemani ibunya melatih senam, dia akan berpetualang mencari jajanan sementara ibunya tengah meloncat-loncat di atas panggung mengais rejeki.
Aliong baru selesai mencuci pakaian seluruh keluarganya, lantas dia menyapu rumah dan mengepel lantai.
Setelah semua beres, lalu dia beristirahat ditemani secangkir kopi hitam.
Terdengar dari luar ada suara motor datang, Aliong melihat jam dinding masih pukul delapan pagi.
"Siapa di luar? tak mungkin Yu Chen sudah kembali jam segini," pikir Aliong sambil segera bangkit untuk memeriksa siapa yang datang.
Ketika mendekati pintu keluar, terlihat Aming anak sulungnya berada di depan pintu gerbang sambil menuntun sepeda motornya masuk ke dalam rumah.
"Oh, yang baru lepas ada di sini. Sejak kapan di sini ?" terlihat Aming tidak suka dengan keberadaan ayahnya.
"Aming, apa kabar? papah sudah hampir seminggu lebih di sini bersama mamah dan adikmu," jawab Aliong.
"Papah? tak salah dengar aku ini? atau situ tak salah ucap?" Aming menunjukkan ketidaksukaannya kepada ayahnya.
"Aming, dengar papah minta maaf," sahut Aliong sambil terlihat lemas.
"Setahu aku yang namanya papah itu adalah lelaki yang memberi nafkah dengan uang yang halal untuk anak dan istrinya," Aming berkata dengan gerak tubuh seakan menantang Aliong.
"Lelaki yang memberi nafkah anak dan istri dengan uang haram, harus aku sebut apa? Lelaki yang akhirnya dipenjara sehingga membuat istrinya menderita, harus memberi makan kedua anak sendirian".
Aliong terdiam dan menunduk, dia paham kalau anak sulungnya pasti akan menolak dirinya.
"Aming, papah tahu kalau papah bersalah. Gara-gara papah serakah, kalian semua kena imbasnya. Mohon maafkan papah dan berikan papah kesempatan untuk memperbaiki semuanya," Aliong berkata dengan penuh kesedihan.
"Kesempatan?" Aming terdengar mengejek ayahnya.
"Aming, papah sungguh menyesal dan asal kamu tahu, tujuh tahun mendekam di sel penjara sambil membawa beban rasa bersalah kepada kalian bertiga," Aliong memperlihatkan kesedihannya atas semua kelakuannya.
Aming dan Aliong sama-sama terdiam, Masing-masing punya pikiran sendiri di dalam benaknya.
"Pernah kami sama sekali tak punya uang, Ahan menangis lapar minta makan. Mamah tak punya uang sama sekali, rumah disita bank jadi kami pindah kemari".
"Belum seperti sekarang, masih berupa gudang sparepart mobil bekas. Beruntung banyak botol bekas minuman alkohol di samping gudang ini. Minuman yang dulu ditenggak oleh seorang Aliong dan teman-temannya sambil menghamburkan uang haram".
Aming menatap ayahnya dengan tatapan sinis, dan Aliong hanya bisa menerima tatapan itu dengan pasrah.
"Mamah dan aku mengumpulkan botol-botol bekas tadi, lalu aku menjualnya ke pedagang rongsokan. Terkumpul uang untuk membeli sebungkus nasi padang. Ahan makan duluan, lalu mamah meminta aku memakan sisa Ahan. Aku tahu mamah bohong bilang tidak lapar, lalu aku dan mamah berbagi nasi sisa makan Ahan," Aming mengingat awal kesengsaraan ketika ayahnya masuk penjara.
"Showroom mobil hancur, usaha akung berantakan. Akhirnya engku Asiaw menjalankan usaha bengkel mobil di depan sampai sekarang. Dan aku ini adalah tukang mencuci mobil, membersihkan sisa oli dan lain-lainnya. Dibayar lima puluh ribu per minggu, dan lumayan bisa untuk makan dua hari".
(Akung \= kakek; Engku\= paman. Panggilan yang biasa dilakukan oleh kebanyakan keturunan Tionghoa)
Aliong terdiam sambil menitikan air matanya, dia merasa sangat bersalah kepada keluarganya yang jadi hancur karena kesalahannya.
"Aku dengar dari mamah kemarin, katanya situ mau gabung lagi dengan perusahaan punya Mario. Sungguh gila, bukan? Dulu masuk penjara karena bergabung dengan perusahaan itu, sekarang keluar penjara malah gabung lagi ke sana. Apa memang bahagia mendekam di penjara?" Aming menyindir ayahnya dengan pedas.
"Kamu salah Aming, bukan perusahaan Mario yang membuat papah masuk penjara. Tapi memang papah yang khilaf, bahkan dulu Mario sudah sering mengingatkan papah," Aliong menjelaskan kepada anaknya.
"Masih dibela? situ dapat apa dari mereka? tujuh tahun anak istri menderita, dia enak-enak keluar negeri. Aku tak habis pikir, situ bela deh terus si Mario. Biarin anak istri susah, asal situ senang," Aming berlalu dan masuk ke dalam kamarnya.
Aliong terluka hatinya, anak sulungnya sampai terlihat benci dan bahkan tak mau memanggil dirinya papah.
Hanya bisa menghela nafas dalam-dalam sambil berharap anaknya bisa memahami keadaan sebenarnya.
Yu Chen dan Ahan memasuki halaman gedung bekas showroom mobil yang sekarang sudah beralih fungsi menjadi bengkel mobil yang dikelola oleh Asiaw.
Hari minggu bengkel mobil tutup, tapi mereka punya jalan sendiri dari samping bengkel menuju ke belakang yang merupakan tempat tinggal Aliong dan keluarganya.
Terlihat di halaman Aliong sedang mencuci dua buah sepeda motor, yang satu milik Aming dan satu lagi inventaris kantor yang baru Aliong dapatkan kemarin sore.
"Mamah, ada Koko Aming datang!"seru Ahan ketika melihat keberadaan sepeda motor kakaknya.
"Iya, barusan kokomu datang, sekarang ada di belakang," ujar Aliong kepada anak bungsunya.
Ahan terlihat senang sekali, lalu dia segera berlari melewati samping bengkel menuju ke belakang ke tempat tinggal mereka.
"Bagaimana tadi Aming ketika bertemu denganmu?"tanya Yu Chen kepada suaminya.
Aliong hanya tersenyum dan tidak menjawab pertanyaan istrinya, malah dia berkata demikian.
"Motor simpan di sini, mau sekalian aku cuci. Nanti setelah selesai, aku bawa masuk ke dalam semuanya. Sekarang kamu temui anakmu, mungkin dia belum sarapan," ujar Aliong sambil meraih kunci sepeda motor milik istrinya.
Yu Chen tak bertanya lagi, dia paham pasti tadi anak sulungnya ribut dan memusuhi ayahnya.
Sambil melangkah ke dalam, terlihat Yu Chen berjalan sambil menduga-duga apa yang telah terjadi antara anak dan bapaknya.
"Semoga saja tidak terjadi keributan, semoga mereka baik-baik saja," ujar Yu Chen dalam hatinya.
"Aming, lagi apa?".
"Eh, Mamah. Ini ikut mencuci pakaian, kalau seragam kerja sudah aku cuci tiap hari. Ini pakaian sehari-hari, tidak sempat aku cuci," jawab Aming sambil senyum kepada ibunya.
"Di mess tidak ada mesin cuci?"tanya Yu Chen.
"Ada, cap dua tangan. Hahahaha," jawab Aming mencandai ibunya.
"Hehehehe, ya sudah bawa saja ke rumah kalau memang tidak sempat kamu cuci, sih. Kan ada mesin cuci ini, biar butut tapi masih bisa dipakai, kok," sahut Yu Chen sambil tertawa.
"Tadi kamu ketemu papah, bagaimana?" tanya Yu Chen sambil menatap Aming.
"Oh, biasa saja. Tadi dia minta kunci motor, mau mencucikan motor aku. Ya sudah, lumayan ada yang membersihkan," jawab Aming sepele sekali.
"Bukan begitu, tadi papah bilang apa sama kamu?" tanya Yu Chen lagi.
"Tak ada, aku sama dia tidak ngobrol. Malas juga ngobrol sama dia, mau bilang apa sih memangnya?" Aming malah balik bertanya dengan wajah yang menampakkan tidak suka kepada ayahnya.
__ADS_1
"Jangan begitu, papah itu sayang dan bangga sama kamu. Walau bagaimana juga, kamu anak papah. Berikan papahmu kesempatan untuk berubah," Yu Chen menasehati anaknya.
Aming tertawa sinis, lalu berkata," Mamah, mau berubah bagaimana? Dia kerja lagi di tempat adiknya Mario. Sama saja bohong, nanti juga kasus lagi. Percuma sajalah".
"Tapi papah bilang, nanti kalau gajiannya akan diberikan semua kepada mamah. Dan papahmu sudah membuktikan selama seminggu lebih di sini, tidak merokok juga tidak minum alkohol lagi," tukas Yu Chen.
"Oke, kita lihat saja. Kalau dia bisa berubah, mungkin Aming juga akan berubah pikiran. Sekarang kita belum tahu lagi ke depannya dia akan bagaimana?" Aming memberikan kesan tidak percaya kepada perilaku ayahnya.
"Mamah, ini uang gaji pertama Aming. Mamah pakai saja, siapa tahu untuk keperluan sekolah Ahan".
Yu Chen langsung menitikan air mata ketika anak sulungnya memberikan sebuah amplop berisi uang yang merupakan gaji pertamanya bekerja di bengkel resmi sebuah otomotif ternama.
"Ini semua buat mamah, nanti kamu bagaimana? mungkin kamu juga butuh uang untuk keperluan pribadi?" tanya Yu Chen sambil berlinang air mata.
"Aming punya kok, kan suka ada nasabah memberikan tips. Atau ada honor dari jam lembur, itu buat Aming pakai sehari-hari," sahut anaknya.
"Terima kasih, mamah jadi terharu sekali," kata Yu Chen sambil masih menangis.
"Sudah jangan lebay," kata Aming sambil sebenarnya dia juga merasa terharu.
"Ahan juga dikasih uang sama koko, ini dua ratus lima puluh ribu," ujar Ahan tiba-tiba sambil memperlihatkan uang dari kakaknya kepada ibunya.
"Jangan boros, harus kamu tabung. Tidak usah membeli yang tidak penting," ujar Aming kepada adiknya.
"Siap, tenang my brother. Aku juga punya pekerjaan sekarang," ujar Ahan membanggakan diri.
"Kerja apaan?" tanya Aming.
"Aku dibayar oleh teman-teman ku asal aku membuatkan PR mereka," sahut Ahan dengan bangga.
"Nah, ini. Awas lu jangan lagi kerja kayak gitu. Itu tidak jujur, ini bibit nanti kriminal kayak bapak elu. Sekali lagi gue denger lu kerjain PR teman, lalu minta bayaran. Gue tabok, asli gue kagak suka elu kayak gitu!!!" Aming begitu marah ketika Ahan tenyata berbuat curang dengan mengerjakan tugas teman-temannya demi bayaran.
"Lu ngajarin teman, belajar kelompok boleh. Tapi tidak harus dibayar sama uang. Awas, ingat omongan gue," Aming memperingatkan adiknya lagi.
Ahan tentu saja menjadi ketakutan, dia kaget kakaknya marah besar setelah mendengarkan apa yang sudah dia perbuat.
"Ahan, koko tidak mau kalau kamu berbuat curang. Jangan lagi yah nak, mamah juga tidak setuju dengan yang kamu lakukan. Nanti kalau sampai guru kalian tahu, pasti kamu yang akan disalahkan oleh teman-temanmu. Karena kamu menerima uang tidak halal," Yu Chen juga menasehati anaknya.
"Iya, Ahan janji tidak akan begitu lagi," jawab Ahan dengan wajah penuh penyesalan.
Aming menghela nafas, lalu meneruskan mencuci pakaiannya. Diam-diam dia ingat masa SMA dulu, dia mengajarkan kepada beberapa teman cewek cantik tapi otaknya pada kurang semua.
Belajar kelompok, Aming yang membantu menyelesaikan tugas mereka. Bayarannya adalah setiap cewek harus mentraktir dirinya makan bergantian, dan kalau nilainya bagus masing-masing harus mau diajak berciuman dengannya.
Aming cekikikan sendiri sambil menjemur pakaian, untung ibunya sedang mandi dan adiknya sedang sibuk memasukan uang ke dalam celengan. Jadi tak ada yang akan menanyakan kenapa dirinya tertawa-tawa sendirian karena ingat masa SMA dulu.
Sementara itu di hari minggu, keluarga Maliangkay pasti pergi beribadah ke gereja.
Setelah selesai kebaktian terakhir, Pak Michael bersama beberapa Penatua lainnya terlihat sedang menghitung persembahan jemaat dan juga uang sumbangan untuk keluarga Pendeta Yosep.
Karena istri Pendeta Yosep masih sakit, maka kebaktian hari itu dipimpin oleh Pendeta lain dari gereja tetangga.
"Ibu Soraya, tunggu sebentar,!!!" terlihat Pak Michael setengah berlari mengejar Soraya yang hendak menuju mobil bersama kedua anak gadisnya.
Soraya menghentikan langkahnya dan menunggu Pak Michael yang sedang menuju ke arahnya.
"Ibu Soraya, saya mau memberi kabar kalau total penerimaan sumbangan seluruhnya adalah sebesar dua puluh satu juta lebih. Rencana besok akan kami sampaikan kepada Pendeta Yosep. Apakah ibu akan ikut serta?" tanya Pak Michael sambil menatap wajah Soraya.
"Oh, syukur bisa terkumpul banyak sekali. Tapi maaf, sepertinya saya tidak bisa ikut. Besok saya sudah mulai mengajar lagi setelah cuti lama," jawab Soraya.
"Oh, sayang sekali. Padahal nilai sumbangan paling tinggi itu kemarin dari keluarga Maliangkay. Saya kira akan ada perwakilan yang akan ikut hadir dari keluarga Maliangkay," ujar Pak Michael lagi kepada Soraya.
"Tidak usah, kami percaya kepada seluruh Penatua dan pengurus gereja. Dan maaf sumbangan kemarin bukan dari keluarga Maliangkay seluruhnya, tapi sebagian dari sahabat-sahabatnya Ibu Rosalinda kakak ipar saya," sahut Soraya.
"Oh....begitu, baiklah kalau misal tidak ada perwakilan juga akan kami sampaikan kepada Pendeta Yosep besok".
"Maaf, besok Pak Michael tidak usah menyebutkan nama orang menyumbang. Karena yang namanya menyumbang itu secara ikhlas dan tulus, jadi saya rasa kurang bijak kalau disebutkan dari siapa dan siapa. Sampaikan saja sebagai tanda kasih dari jemaat gereja kita," Soraya menambahkan amanat kepada Pak Michael.
"Baiklah, terima kasih sekali lagi. Eh...maaf kalau boleh, apakah ibu bersedia memberikan nomor kontak ibu kepada saya?" tanya Pak Michael terlihat gugup.
"Untuk apa, Pak?".
"Ya, siapa tahu saja sesekali kami hendak minta bantuan untuk ada keperluan acara gereja".
"Hmmm, ini kartu nama saya. Ada nomor kontak yang tersambung dengan pesan chat. Kalau ada apa-apa silahkan menghubungi saja. Maaf kami pamit dulu, seperti biasa hari minggu ada kumpul keluarga di rumah mertua saya," Soraya memberikan kartu nama sambil pamit.
Pak Michael memegangi kartu nama Soraya sambil menunggu Soraya melajukan mobilnya meninggalkan halaman gereja.
Setelah tak terlihat lagi mobil Soraya, lalu Pak Michael seperti anak muda yang kegirangan sambil mencium kartu nama tadi dan memasukan ke dalam saku kemejanya.
"Yes!!!"pekiknya tapi perlahan lalu dia melirik kanan dan kiri takut ada yang melihat kelakuannya.
Fuad baru saja mendarat di bandara Jakarta, lalu dia menghubungi Aletha minta referensi penginapan yang murah tapi bagus.
"Pak Fuad, di gedung apartemen adik saya ini, ada beberapa tempat yang memang disewakan. Harganya jelas lebih murah dari hotel, tapi fasilitasnya sama saja dengan hotel," ujar Aletha dengan hati berdebar kencang saat menyahut telepon dari Fuad.
Dia sama sekali tak membayangkan kalau Fuad akan menelepon dia untuk meminta referensi penginapan.
"Oh, apakah ada sekarang? saya perkiraan akan tinggal di Jakarta sekitar dua atau tiga hari lamanya," Fuad minta kepastian.
"Sebentar, saya minta tolong adik saya menanyakan. Nanti saya hubungi Pak Fuad secepatnya," jawab Aletha.
"Oke, saya tunggu yah. Sekarang mau cari makan dulu," jawab Fuad dengan santai.
Aletha segera membangunkan Magenta yang kala itu masih tidur karena menikmati hari libur kerja.
"Please, Gen.Tolong aku, tanyakan kamar mana yang disewakan. Ini buat teman aku," Aletha memohon kepada adiknya dengan sangat.
"Aduuuhhh, teman siapa pula, yang mana lagi sih? sejak kapan Kak Etha punya teman di Jakarta?" Magenta terlihat sebal karena dibangunkan kakaknya.
"Gen, ini tuh teman yang sama-sama keluarga korban meninggal di Palembang. Bapak Fuad namanya, istrinya meninggal di sana. Dan dia akan tinggal beberapa hari di Jakarta untuk mengurus beberapa hal soal kematian istrinya," Aletha menjelaskan kepada adiknya.
"Aneh, kok Kak Etha bisa kenal dengan orang ini?"Magenta menyelidiki.
"Kemarin kami tak sengaja bertemu di sungai tempat Mas Asrul tenggelam, dan bapak ini juga menemani aku ke kampungnya Jena. Kebetulan Pak Fuad itu punya teman orang Palembang asli, jadi beliau dan temannya membantu kami sehingga bisa ke makam Mas Asrul," Aletha menjelaskan kepada adiknya.
"Astaga, nama Jena tersebut jadinya. Padahal aku sudah mencoret semua kenangan pernah bersahabat dengannya," Magenta begitu kesal karena dikhianati oleh sahabatnya yang merebut suami kakaknya.
"Jadi bagaimana? mau menolong teman aku?"tanya Aletha dengan wajah memohon.
__ADS_1
"Hmmm, ya sudah tunggu. Aku akan mencoba menghubungi temanku dulu," sahut Magenta.
Terlihat Magenta menghubungi seseorang, lalu tak lama dia menutup teleponnya dan menghampiri kakaknya.
"Ada kamar apartemen milik temanku, kebetulan ukuran studio. Jadi cocok kalau hanya untuk satu orang saja sih. Masalah harga nanti saja kalau Pak Fuad sudah datang kemari, nanti bertemu langsung dengan temanku. Yang pasti lebih murah dari hotel," Magenta memberitahukan kakaknya.
"Oke, aku segera memberitahu temanku. Terima kasih yah, Gen," jawab Aletha terlihat begitu senang.
Magenta merasa aneh melihat tingkah kakaknya yang seperti anak remaja sedang jatuh cinta.
Fuad setelah menerima telepon dari Aletha, akhirnya setuju untuk menyewa apartemen milik temannya Magenta.
Sebelum ke apartemen Magenta sesuai petunjuk Aletha, dia berkeliling kota Jakarta dulu naik bus way.
Fuad sangat menikmati perjalanan, bertahun-tahun hidupnya hanya habis di tengah laut lepas mengurusi pipa-pipa minyak.
Sekarang dia diberi cuti satu bulan lamanya karena istrinya meninggal kecelakaan, jadi dia menikmatinya walau hati merasa sedih.
"Mengapa dulu aku tak punya banyak waktu bersama Asmila, sekarang setelah dia tak ada, malah aku bisa ada waktu untuk berjalan-jalan seperti ini," Fuad merasakan sesal di dalam hatinya.
Akhirnya Fuad bisa menemukan apartemen yang dimaksud oleh Aletha, dan dia segera menghubungi Aletha mengabarkan kalau dia sudah ada di depan apartemennya.
"Sorry, aku terlambat sampai. Tadi aku mencoba naik bus way sampai kesasar kesana kemari. Tapi menyenangkan naik bus way itu," ujar Fuad ketika bertemu Aletha di lobby gedung apartemen.
Magenta terlihat menyusul Aletha dan baru keluar dari pintu lift.
"Ini kenalkan adik saya Magenta, dia yang tinggal di apartemen di sini," Aletha memperkenalkan adiknya dan seperti biasa Magenta hanya senyum saja.
"Ayo, kita naik ke lantai lima belas. Tempat yang disewakan temanku ada di sana. Nanti silahkan saja bicara langsung dengan temanku," kata Magenta sambil menarik tangan kakaknya menuju lift dan Fuad mengikuti langkah keduanya.
"Pantas saja genit kayak ikan kehabisan air, rupanya nemu duda ganteng," bisik Magenta sambil wajahnya mendelik ke arah Aletha.
"Hmmm, dia cuma teman baru, kok. Kamu jangan menuduh aku seperti itu, kami berdua baru kehilangan pasangan masing-masing. Kalau ada orang mendengar nanti tak enak, loh," Aletha mencoba mengelak.
Magenta menjulurkan lidahnya meledek kakaknya," Kalau aku embat gimana, ikhlas tidak?".
"Ya, terserah saja. Jodoh orang kan di tangan Allah," sahut Aletha tapi wajahnya sedikit berubah.
Magenta cekikikan lalu senyum- senyum melihat tingkah kakaknya yang sepertinya sedang tergoda oleh ketampanan Fuad.
Mereka tiba di lantai lima belas, pintu lift membuka dan bertiga keluar mengikuti langkah Magenta menuju sebuah kamar di lantai tersebut.
"Hai, Rey....," panggil Magenta kepada seseorang yang tengah berada di dalam sebuah kamar apartemen yang pintunya terbuka.
"Eh, hai Gen...," terdengar suara pria dari dalam sana.
Lalu muncul sosok pria berkulit hitam manis, berpakaian rapih dan wajahnya cukup tampan.
"Rey, ini kakak aku Aletha dan ini teman barunya bernama Pak Fuad yang akan menyewa kamarmu," ujar Magenta mengenalkan pria itu kepada Aletha dan Fuad.
"Saya Reynaldi, temannya Magenta," kata Reynaldi sambil mengulurkan tangan kepada Aletha dan Fuad.
"Apakah ini kamar yang akan saya sewa?" tanya Fuad.
"Ya, silahkan masuk. Silahkan lihat-lihat, kamarnya kecil ukuran studio. Dulu saya tinggal di sini, sekarang saya sudah punya rumah sendiri di sebuah komplek perumahan," Reynaldi mengajak masuk Fuad dan Aletha untuk melihat kondisi apartemen kecilnya.
"Bagus ini, saya tertarik. Berapa sewa per harinya?" tanya Fuad.
"Sebenarnya tidak disewakan, hanya kalau ada teman atau saudara mau menempati silahkan saja. Tinggal isi token listrik, bayar tagihan air serta keamanan. Begitu saja," sahut Reynaldi sambil tersenyum.
"Oh, berapa tagihannya?" tanya Fuad lagi.
"Bulan ini sudah saya bayar, paling bulan depan saja. Tak usah semua, karena Pak Fuad kan cuma akan tinggal beberapa hari saja di sini," sahut Reynaldi lagi.
Fuad saling bertatapan dengan Aletha karwna sama-sama bingung.
"Pakai saja, pak. Gampang nanti Magenta sajalah yang mengatur," Reynaldi tersenyum lagi.
"Saya jadi tak enak hati?" jawab Fuad.
"Rey, di perumahan itu tinggal bersama siapa?" tanya Aletha.
"Sementara masih sendiri, masih menunggu kesiapan Magenta untuk tinggal bersama saya," jawab Reynaldi santai sambil menatap Magenta.
"Kalian ini...," Aletha terbelalak sambil jarinya menunjuk kepada adiknya dan Reynaldi.
"Ya, kami tadinya mau ke Semarang. Karena Rey ingin berkenalan dengan papih dan mamih. Cuma ada kasus Mas Asrul, jadi aku tunda dulu," sahut Magenta.
"Hmmm, nanti bersama denganku pulang ke Semarang. Papih dan mamih harus segera tahu, dan aku juga sangat menantikan pernikahan adikku," Aletha begitu senang.
"Tapi...," ujar Magenta.
"Tidak Gen, cerita hidupku bukan cerita hidup kalian. Ayo, kalian harus segera melaksanakan ibadah pernikahan. Jangan menunda lama-lama lagi. Jangan karena ada kasus rumah tanggaku, lalu kalian berubah pikiran. Tak ada kaitannya antara kalian dengan kehidupanku," Aletha begitu semangat memberikan pernyataan kepada adiknya dan Fuad juga menjadi sedikit terpana melihatnya.
Reynaldi dan Magenta saling bertatapan, lalu keduanya mengangguk dan Magenta berkata," Baik, nanti Kak Etha pulang ke Semarang. Kami akan turut serta".
Tentu saja Aletha senang sekali dan memeluk erat adiknya dengan berlinang air mata bahagia.
Malam itu Fuad jadi menginap di apartemen milik Reynaldi. Tapi dia menolak ketika Reynaldi mengajaknya ikut makan malam bersama dengan Aletha dan Magenta. Tidak enak pikirnya karena itu mungkin acara keluarga.
Kebetulan malam itu dia mendapat kiriman email dari Buluk lagi, karena ponsel Asmila sudah bisa dibuka dan beruntung tujuh puluh lima persen data masih bisa dibuka.
Banyak sekali foto Asmila sedang berdua dengan Mario, entah sengaja diambil gambarnya, tapi kebanyakan Asmila mengambilnya secara diam-diam.
Mendidih lagi hati Fuad melihatnya, lalu dia ingat kepada Soraya dan segera menghubunginya.
"Kalau besok senin saya tidak bisa, jadwal mengajar saya padat sampai malam. Bagaimana kalau selasa saja, karena di hari tersebut jadwal dengan mahasiswa tingkat bawah sehingga bisa saya serahkan kepada asisten saya," Soraya menjawab demikian ketika Fuad mengajak bertemu untuk memeriksa kamar kost Asmila.
"Siap, nanti selasa pagi saya ingatkan lagi Ibu Soraya," sahut Fuad sambil terlihat wajahnya menyimpan kekesalan yang luar biasa.
Malam harinya berkali-kali Aletha mengetuk pintu kamar apartemen yang ditinggali Fuad, lalu mencoba menghubungi ponselnya beberapa kali, tapi semuanya tak ada jawaban.
Malam itu Fuad sedang berada di sebuah klub malam, dia mabuk lalu dia membayar seorang wanita malam untuk menemaninya di sebuah hotel. Dan mengajak wanita malam itu bercinta, dia menumpahkan semua kekesalannya dengan mabuk dan bercinta dengan wanita bayaran tadi.
Kehidupan memang terasa menyakitkan bagi beberapa orang yang mengalaminya.
Tapi sebenarnya itu ujian hati bagi yang masih hidup, memberi kesempatan untuk memperbaiki diri.
Bersabar dalam percobaan, tetap berdekat kepada Tuhan itulah intinya.
__ADS_1