
Sabtu sore itu hujan deras masih membasahi bumi, dan tampaknya akan berlangsung lama.
"Ini lihat, Ratna memberitahu mobil travel yang sudah dia pesan untuk mengantar kita ke rumahnya," ujar Asmila memberitahu Mario ketika mereka sedang menanti koper yang baru diturunkan dari bagasi.
Keduanya sedang berdiri di hadapan sabuk berjalan atau conveyor belt.
Koper-koper bergerak di sambil berjalan tersebut dan bisa segera diambil oleh pemiliknya apabila sudah kopernya segera bisa dikenali.
"BG 678X XY nama sopirnya Bang Ucok, kita harus cari mobil dengan nomor polisi itu, dan sopir bernama itu," kata Mario setelah membaca chat dari ponsel milik Asmila.
Lalu Mario melihat koper miliknya dan milik Asmila mendekat, dan segera dia menyambarnya dari sambil berjalan tadi.
Keduanya lalu berjalan menuju ke gerbang keluar dari dalam bandara menuju ke lobby bandara.
"Hujan deras lagi," Asmila terlihat kesal karena sejak tadi pergi sampai tiba di tujuan hujan tidak berhenti.
"Tadi kita pergi, hujannya kecil, kita sampai hujan besar lagi," keluh Mario juga.
"Bagaimana kita bisa mencari mobil dengan plat nomor tadi, mau jalan ke lapangan parkirnya saja susah. Kita pasti akan basah kuyup kalau berjalan ke sana," Asmila merasa kebingungan.
"Sabar saja, nanti hujan reda juga bisa kita cari," Mario menenangkan Asmila.
"Sekarang jam tiga lewat lima belas menit, hujan berhenti jam lima sore nanti mungkin. Kita akan tertahan di sini, dan bisa saja mobil tadi sudah ada orang lain yang menyewa," keluh Asmila juga yang mulai merasa khawatir.
"Nah, itu ada orang tampak bingung, hendak kemana mereka. Pasti bukan orang Palembang," ujar Codot yang melihat sepasang pria dan wanita yang tampak kebingungan.
Lalu dia segera mendekati keduanya dan dengan sopan menawarkan jasanya.
"Sore bapak dan ibu, mau kemana? hujan begini, biar saya antar ke tujuan," kata Codot.
"Oh, kami sudah ada mobil travel yang sudah dipesan oleh teman saya. Cuma karena hujan, jadi kami belum bisa mencarinya," sahut Asmila.
"Mobilnya mobil apa, plat nomornya berapa?"tanya Codot lagi.
"Ini chat teman saya," Asmila menyodorkan chat dari Ratna kepada Codot.
"Pucuk di cinta, ini mobil saya. Ucok itu teman saya, ayo, mari saya antar ke tujuan. Ibu dan bapak ini hendak kemana?" Codot begitu semangat ketika tahu kalau Asmila sedang mencari mobil milik Ucok.
"Yakin bapak ini membawa mobil dengan plat nomor sesuai petunjuk teman saya?" tanya Asmila dengan agak curiga.
"Ini ibu lihat surat tanda nomor kendaraannya, betul tidak sesuai dengan yang kawan ibu tulis di sana".
Mario dan Asmila melihat secarik kertas berupa STNK dari gantungan mobil yang dipegang oleh Codot.
Ketika melihat plat nomor yang tercantum di kertas tadi sesuai dengan chat dari Ratna, maka Asmila jadi tersenyum kepada Codot.
"Iya, yah, benar nomornya".
"Nah, percaya kan, sekarang ibu mau kemana?" tanya Codot dengan gembira.
"Kami mau ke Tanjung Sakti," jawab Asmila.
"Walah, Bengkulu!!! Ayo bisa, mari saya antar," Codot cukup terperanjat mendengar nama tempat yang disebutkan Asmila.
"Jauhkah tempat ini?" tanya Asmila.
"Jauh sekali, tempat ini di perbatasan antara kabupaten Palembang dengan kabupaten Bengkulu. Bahkan dari Bandara Bengkulu sendiri juga jauh tempat ini," Codot menjelaskan dengan detil.
Asmila dan Mario hanya mengangguk-anggukan kepala tapi tetap tak paham.
"Bang Codot, ini ada yang mau ke Pagar Alam. Bisa sekalian dibawa tidak?" tanya kawannya yang kebetulan mendengar Codot akan ke Tanjung Sakti.
"Ya, tentu bisa. Satu arah itu. Ayo, biar aku yang tarik saja!!!" teriak Codot.
Mario dan Asmila melirik ingin tahu siapa orang yang akan bersama mereka di mobil nanti.
"Ya ampun, ternyata mereka," bisik Asmila sambil menghela nafas kecewa karena ternyata yang akan bersama adalah Asrul dan Jena beserta bayinya.
"Berapa biayanya per orang?" tanya Asrul kepada Codot.
"Begini, ini dua tempat jauh. Sekitar empat sampai lima jam dari sini. Jadi satu juta saja satu mobil, bagaimana setuju tidak?" Codot menawarkan harga kepada mereka.
"Mahal amat, jadi saya dan istri lima ratus ribu, lalu bapak dan ibu ini juga sama lima ratus ribu, kan?" Asrul minta kepastian.
"Iya, silahkan saja rundingkan antara bapak dan bapak ini. Cuma saya minta satu juta, karena sudahlah jauh, lalu hujan deras pula," kata Codot sambil mengelus-elus dagunya.
Lalu Asrul mengajak Mario berunding, sementara Mario setuju-setuju saja mengingat alasan Codot masuk akal.
Tapi Asrul tampak keberatan dengan harga yang diajukan Codot.
"Ya sudah, karena bapak dan ibu ini akan turun lebih dulu. Maka biarlah saya membayar enam ratus ribu dan bapak sisanya. Bagaimana?"Mario memberikan jalan keluar.
"Oke, baiklah kalau begitu. Saya setuju," jawab Asrul tersenyum puas.
"Bang, oke, kami bersedia membayar satu juta. Tapi mohon abang bawa dulu mobilnya kemari. Baru nanti kami bayar," pinta Mario kepada Codot.
"Siap, tunggu sebentar di lobby ini. Nanti saya kemari menjemput bapak dan ibu".
Lalu Codot segera berlari menuju mobil milik Ucok untuk dipakai mengantar Mario, Asmila, Jena, Asrul dan bayi Rere ke tempat tujuan masing-masing.
"Bang, dapat tarikan kita, sesuai keinginan pula sekalian ke Bengkulu untuk jual mobil," Codot melaporkan kepada Darman.
"Pandai sekali kau mencari penumpang, tak sangka kau cerdas yah. Hahahaha," Darman memuji Codot.
Lalu Darman dan Codot segera masuk mobil setelah membayar makanan di kantin dengan uang seadanya dan menyebutkan salah satu nama sopir yang akan membayar sisa kekurangannya.
Pemilik kantin geleng-geleng kepala, tak habis pikir melihat tingkah dua preman yang sejak tadi datang sudah membuat onar.
Karena hujan deras, maka untuk menjemput calon penumpang di muka lobby bandara juga harus bergantian agar calon penumpang tidak kehujanan.
Mobil yang dikendarai Codot mengantri di belakang mobil lain yang juga menjemput penumpang yang menanti di lobby.
"Hei, itu calon penumpang kita?" tanya Darman sambil menunjuk ke arah Mario.
"Iya, bang. Kenapa bang?" Codot kebingungan.
"Itu dulu mantan boss ku, dia yang aku ambil uangnya. Waduh, gawat kalau dia mengenaliku".
"Ini aku punya kacamata hitam, pakai saja".
Darman meraih kacamata hitam dari tangan Codot.
"Tapi aku yakin wanita di sebelahnya bukan istrinya. Aku tahu istrinya anggun orangnya, dan wajahnya lembut. Wanita itu terlihat karakternya keras. Bisa juga Mario selingkuh," guman Darman sambil menatap Mario dari dalam mobil.
Akhirnya Codot bisa menepikan mobil yang dikendarainya di hadapan Mario dan Asmila.
"Pak, maaf tapi uangnya dulu saya minta. Maklum harus isi bahan bakar dan lain-lain," Codot meminta uangnya kepada Mario dan Asrul.
Lalu Mario mengeluarkan dompetnya dan mengambil enam lembar uang kertas berwarna merah, lantas menyerahkan kepada Codot.
Asrul juga sama, dia segera memberikan empat lembar uang berwarna merah kepada Codot, dan segera disambar oleh Codot.
"Itu yang duduk di depan siapa?" tanya Asrul ketika melihat orang duduk disamping kursi pengemudi.
"Oh, itu boss saya. Beliau sekalian mau ada tujuan ke Bengkulu, jadi sekarang berangkat bersama di mobil ini," Codot menjelaskan kepada Asrul.
Setelah mendengar penjelasan Codot, lalu Asrul mengangguk dan lantas merangkul Jena, menuntun memasuki kursi bagian belakang mobil.
"Kami di belakang saja, karena membawa bayi," ujar Asrul.
Kebetulan kursi belakang itu bentuknya tiga kursi berderet rapat, sedangkan kursi tengah hanya dua kursi berseberangan.
__ADS_1
Mario dan Asmila tentu saja duduk di kursi tengah, Asmila memilih di dekat jendela sebelah kanan, sedangkan Mario di samping pintu geser mobil itu.
Darman diam saja duduk di depan sambil diam-diam mengamati Mario, sementara Mario juga melihat Darman dengan aneh.
Cuaca mendung hujan deras seperti yang sedang terjadi, tapi ada orang malah memakai kacamata hitam.
"Mencurigakan sekali orang itu," pikir Mario, tapi dia tak mau pusing dengan urusan orang lain.
Codot menyusun tas dan koper besar di bagasi belakang, lalu setelah selesai segera menutup pintu bagasi dan berlari menuju pintu pengemudi, membukanya dan segera menutup lalu melajukan mobil itu.
Sepanjang jalan Mario dan Asmila tangannya saling berpegangan tangan.
Sementara di kursi paling belakang, Asrul tengah memeluk bayinya dan Jena tampak sedang mengunyah cemilan yang tadi dibelinya di mini market ketika mobil diisi bahan bakar.
Darman sejak tidak banyak bicara, walau berbincang dengan Codot juga memakai bahasa daerah agar tidak dikenali oleh Mario.
Mobil terus melaju, Asmila sepanjang jalan tangan kanannya memegang tasbih. Dia terus melakukan dzikir di dalam hatinya sambil terus memutar tasbihnya.
Mario juga banyak berdiam sambil memejamkan matanya, dan di dalam lubuk hatinya berdoa terus meminta keselamatan dan juga memohon ampun kepada Tuhan.
Sudah dua jam mobil melaju, lama-lama Jena mengantuk dan dia segera merebahkan kepalanya ke tas perlengkapan bayinya.
Sementara Asrul tetap memeluk bayinya yang sangat tenang terlelap.
Asmila juga lama-lama mengantuk dan tertidur, kepalanya miring ke kiri.
Tentu saja Asmila sangat kelelahan, sejak pagi sudah naik kereta api dari Cirebon menuju Jakarta.
Lalu harus menghadapi jalan macet di Jakarta, setelah itu naik pesawat ke Palembang dan sekarang menempuh lagi perjalanan ke perbatasan Bengkulu.
Mario juga tertidur dengan kepala tegak ke depan, dia juga cukup merasa kelelahan dalam perjalanan kali ini.
Ketika mulai memasuki perbatasan Kabupaten Lahat, tiba-tiba jalanan macet, kendaraan di depan mengantri panjang.
Codot segera turun ingin tahu ada apa di depan mereka, sementara hujan belum juga reda sejak tadi.
Ada orang di depan mobil, lalu Codot segera bertanya mencari tahu ada apa gerangan di depan sana.
"Ada pemeriksaan mobil di perbatasan depan, soalnya tadi siang ada kasus pembunuhan dan pencurian mobil," sahut pedagang asongan yang tetap saja berkeliaran walau hujan deras sekalipun.
Sontak Codot wajahnya pucat pasi, sudah jelas polisi pasti sedang mencari mereka.
"Bang, di depan ada operasi, katanya pemeriksaan pencarian mobil yang dicuri," Codot berbisik kepada Darman.
"Gawat, kau cari jalan lain, cepat," Darman juga merasa panik.
"Ada apa ini?" tanya Mario yang baru membuka matanya.
"Tidak ada apa-apa, hanya di depan ada pohon tumbang. Jadi sepertinya kita jalannya memutar saja, agak jauh sedikit tapi tidak harus menunggu pohon tumbang tadi selesai diangkat," sahut Codot berusaha menenangkan penumpang.
Mario tak paham jalan dan tak paham kondisi daerah situ, jadi terpaksa harus diam sambil melihat kedua orang di depannya sedang berbicara dengan bahasa daerah. Tampaknya seperti membahas mencari jalan alternatif untuk menghindari macet.
Codot serius sekali berdiskusi menentukan jalan dengan orang yang sejak tadi diam saja di kursi depan.
"Paling benar adalah kita balik lagi, lalu mengambil jalan ke arah kaki gunung. Cuma memang jalannya agak licin kalau hujan begini," ujar Codot.
"Ya sudah, kita ambil jalan kesitu saja. Jangan banyak berpikir lagi, daripada kita tertangkap," bisik Darman dengan nada kesal.
"Tapi lewat jalan itu gelap, jarang sekali rumah penduduk desa. Baru benar ada desa itu sekitar sepuluh kilometer dari jalan itu. Sudah menjelang mendekati desa pagar alam di sana," Codot menjelaskan kondisi jalan tersebut.
"Tak apa, sudah kita jalan saja kesana".
"Sebelah kiri jalan bukit bebatuan dan kanan jalannya jurang, licin sekali di daerah situ apalagi hujan begini".
"Sudah kita jalan kesana, mau tak mau daripada kita tertangkap".
Codot mengangguk, lalu segera memasang lampu tanda mobilnya akan berputar balik.
Jalanan sangat buruk sekali menuju kaki gunung tersebut, tentu saja Jena yang sedang lelap tidur jadi terbangun.
Lalu Jena memandang jalanan disitu, dan dia lama-lama sadar kalau itu bukan jalan menuju ke kampungnya tapi menuju kaki gunung.
"Bang, ini jalan bukan menuju pagar alam. Kok, mengambil jalan kemari?" Jena bertanya karena merasa yakin jalan yang dilalui bukan menuju kampungnya.
"Iya, benar, jalan kesana tadi ada pohon tumbang. Jadi saya berputar kesini," sahut Codot.
"Jauh lagi kesini sih, bang. Bisa satu jam sendiri sampai ke pemukiman penduduk. Apalagi sebentar lagi melewati jurang dan sungai besar di depan sana," Jena hafal betul daerah situ pastinya.
"Tenang saja, serahkan sama saya. Pasti semua aman sampai tujuan," Codot mencoba meyakinkan semua penumpangnya.
Asrul masih saja tidur sambil memeluk bayinya, begitu juga Asmila terlelap dengan leher masih miring ke kiri.
Dari kejauhan di belakang, terlihat dari kaca spion ada lampu berkedip-kedip seperti mobil polisi sedang menuju ke arah jalan itu seakan sedang mengejar mereka.
Codot tentu saja panik, begitu juga dengan Darman, keduanya saling berpandangan kebingungan.
"Kau percepat laju mobilnya, aku tak mau kita tertangkap," Darman berbisik penuh tekanan kepada Codot.
"Sabar bang, aku coba yah".
Jalanan memang licin, karena di daerah situ tanahnya cenderung berwarna merah seperti lumpur. Apalagi cuaca sedang hujan deras, menambah licin saja jalan disitu.
Codot berusaha mengemudi dengan cepat dan berusaha mengendalikan kemudi mobilnya agar jangan sampai tergelincir ke jurang di sebelah kanan jalan di sana.
"Pelan-pelan saja, jalanan licin begini bisa berbahaya," Mario mengingatkan Codot.
Ban mobil yang dikemudikan Codot sebenarnya sudah tipis, Ucok pemiliknya belum sempat mengganti ban tersebut.
Di belakang ada mobil seperti mengejar mereka, padahal mobil itu berisi lima pemuda yang akan naik gunung.
Pemuda-pemuda itu menaiki mobil khusus untuk ke gunung, rodanya besar dan gerigi bannya cukup tajam menancap ke tanah sehingga jalan tanah licin juga mobil akan tetap stabil.
Aksesories mobilnya memang diberi tambahan lampu sorot dan lampu seperti sirine yang tujuannya untuk menerangi jalan.
Memang sirinenya tidak dinyalakan, hanya lampu sorot dan lampu berkedipnya saja yang dinyalakan sebagai penerangan.
Maklum pemuda semua, pastinya mobil dimodifikasi diberi banyak variasi untuk kebutuhan mereka melintasi pegunungan.
Kelimanya sedang tertawa bercanda, dan membahas soal uji nyali dan sebagainya.
Sementara Codot dan Darman mengira itu adalah mobil polisi yang mengejar mereka.
Tiba- tiba Codot kesulitan menguasai kemudi mobilnya, karena lumpur di sana sangat licin luar biasa.
Karena gelap, dan lampu mobil tidak maksimal menerangi jalan, di depan ada batu besar yang ternyata tidak terlihat oleh Codot.
Mobil menggilas batu, lalu hilang keseimbangan, seketika meluncur ke arah kanan dan menabrak pembatas jalan ke jurang dan masuk terperosok ke dalam jurang.
BRAAAAKKK!!!!
SIUUUUUTTTTTT!!!!
BRROOOOSSSS...!!!
BRRUUKKK!!!
BRAAAKKK....BRUUUK....BRUUUKKK....BRUUKKK...BRUUKK!!!
Mobil terperosok masuk ke jurang dan terbanting berguling-guling beberapa kali.
BYUUUURRRRR!!!!
__ADS_1
Dan masuk tergelincir ke dalam air sungai yang saat itu sedang pasang karena hujan deras sekali.
Darman kepalanya terbentur kaca jendela dengan sangat kencang, sehingga dia pingsan seketika.
Codot dadanya membentur kemudi mobil, dan karena mobil terguling terbanting berkali-kali, dia juga pingsan sambil darah mengucur dari bibirnya karena pembuluh darah di dadanya pecah.
Asmila yang tengah tidur dengan kepala miring ke kiri, badannya terbanting ke langit-langit mobil ketika mobil terjungkal.
KREETEEEKKKK!!!
Terdengar cukup keras leher Asmila patah karena bantingan yang sangat keras tadi.
"MILAAA!!!"teriak Mario yang mendengar bunyi itu di dekat telinganya.
Tapi Mario tak bisa menolong karena dia juga saat ini sedang terbanting-banting ke kanan kiri dan atas bawah.
PRAAANNNGGG!!!
Kaca jendela di samping Asrul pecah karena tertusuk dahan pohon, Asrul matanya terbuka karena merasa badannya berputar-putar.
JLEEEBBBB...AAAHHH...!!!!
Ada dahan runcing menusuk dadanya lewat jendela dan menembus jantungnya.
Antara sadar dan tidak, Asrul mendekap bayinya dengan erat sambil menahan rasa sakit di dadanya.
Karena dekapannya Asrul sangat kencang, bayi itu kehabisan nafas, tubuhnya membiru karena tidak menerima udara masuk melalui hidung kecilnya.
Ada koper besar terbanting ke atas ketika mobil terguling, dan koper besar juga berat itu mendarat tepat ke atas kepala Jena.
Seketika Jena tak sadarkan diri dan badannya ikut terbanting- banting seiring mobil itu terus berguling-guling menuju ke sungai.
Mobil sudah di dalam air, dan hanyut beberapa meter sambil tenggelam karena air memasuki bagian dalam mobil.
Apalagi jendela belakang di samping Asrul duduk tadi pecah, sehingga air terus masuk ke dalam mobil dengan derasnya.
Mario masih setengah tersadar dan dia masih merasakan air sudah mencapai dadanya, lalu berusaha membuka pintu tapi entah mengapa pintu jadi macet sulit dibuka, mungkin karena penyok akibat benturan.
Air terus memenuhi mobil dan sekarang tinggal leher Mario yang masih bisa sedikit bernafas.
Dia masih mencoba memukul dan menendang jendela, tapi ternyata kalah, dia mulai kehabisan nafas dan tenaga.
Mario terbatuk-batuk, air mulai memasuki mulut, hidung dan telinganya, lantas meluncur deras memenuhi paru-parunya.
Dadanya sesak, lehernya tercekik oleh luapan air yang terus memasuki rongga mulut, hidung dan telinganya.
Akhirnya.... gelap......
"Kayaknya ada yang tidak beres bro, mobil di depan kita tadi kok hilang," kata pemuda tim naik gunung yang mengemudikan mobil.
"Iya, kemana yah?"pemuda yang duduk di belakang juga merasa aneh.
"Hei!!! lihat itu jejak lintasan mobil tadi. Kayaknya mereka selip di depan sana!!!" teriak pemuda yang duduk di kursi samping pengemudi.
"Iya benar, waduh...coba kita ikuti jalurnya".
Lampu sorot mobil menyoroti jejak jalur mobil yang tadi dikemudikan Codot.
"Bro, itu jalurnya menuju batu dekat jurang itu, apakah mungkin....atau jangan-jangan....".
Mobil mereka mendekati batu tadi, dan terlihat ada bekas tanah di atas batu seperti jejak ban yang menempel di situ.
Mereka berlima turun dari mobil dan memeriksa apakah ada jejak ke arah lain atau memang berhenti di batu tadi.
Lampu senter yang dipegang oleh salah satu dari mereka menyorot ke arah pepohonan dan pembatas jalan yang bengkok dan terlepas.
"Bro, mobil tadi pasti masuk ke dalam sana".
Mereka berlima saling bertatapan, membayangkan betapa dalamnya jurang tersebut dan dikhawatirkan mobil terguling lalu masuk ke dalam sungai.
Sementara di rumah Soraya sedang sendirian, kedua anaknya pergi makan malam bersama Jimmy.
Asisten rumah tangga mereka, Mince, sejak sore tadi juga pamit karena ibunya Mince tidak enak badan.
Soraya naik ke atas tangga menuju ke kamarnya untuk mandi, di ujung anak tangga dia melihat sesuatu tergelak.
"Astaga, ini inhalernya Mega jatuh di sini. Pasti anak itu ceroboh saat memasukan ke dalam tasnya. Semoga saja tidak ada apa-apa dengan dia," ujar Soraya sambil memungut inhaler milik anaknya itu.
Inhaler anaknya dibawa masuk ke dalam kamar, lalu Soraya segera mandi.
Setelah mandi dan berpakaian, lalu dia keluar kamar dan menuju lantai bawah lagi.
Soraya menuju dapur, dia ingat kalau tadi Mince bilang sudah memasak bubur kacang hijau untuknya.
Semangkuk bubur kacang hijau yang tercium wangi aroma jahenya, pasti akan terasa nikmat disantap di saat cuaca hujan seperti ini.
"Jadi begitu, kebetulan pak Jimmy kemari jadi saya bisa sekalian sampaikan rencana mengubah lantai atas ini," ujar Kristy yang kebetulan ada Jimmy datang ke rumah makannya sehingga bisa sekalian menyampaikan rencana mengubah lantai atas menjadi kedai kopi dan kue.
"Oke, siap, nanti hari senin saya akan membawa tim saya kemari," sahut Jimmy.
"Baik, silahkan dilanjutkan makannya," kata Kristy mempersilahkan Jimmy dan keponakannya melanjutkan makannya.
"Uhuk...uhuk...hah...hah...hah".
"Papa...hah...hah...uhuk..uhuk...hah...hah...".
"Mega, kamu kenapa? sesak lagi yah," Maya panik melihat adiknya yang tiba-tiba terbatuk dan sesak nafas.
"Inhaler mana, kok tak ada," Maya tambah panik ketika membuka tas adiknya dan tak menemukan inhaler agar adiknya bisa bernafas lega.
"Bagaimana ini, kalau disuruh minum bisa tidak?" Jimmy juga kebingungan karena tidak terbiasa menghadapi Mega kalau sedang sesak nafas.
"Inhaler, oom inhaler...harus ada inhaler agar dia bisa nafas," Maya panik sambil membongkar isi tas adiknya dan tak menemukan benda itu.
"Butuh inhaler? tunggu sepertinya aku punya," Kristy langsung berlari ke atas menuju ruangan kantornya.
Walau kata orang gemuk, tapi Kristy sangat lincah dan cekatan.
Tak lama dia turun sambil membawa sesuatu.
"Apakah seperti ini inhalernya?" tanya Kristy kepada Maya.
"Iya, itu iya betul," Maya segera meraih benda tadi dari tangan Kristy, lalu membuka dusnya lalu segera mengambil alat di dalamnya dan dimasukan ke mulut adiknya.
SROOOTT!!!!.....SRROOTTT!!!
"Mmmmfffff....hhaaahh...mmmmfffff...haaaahhhh".
Mega mencoba menarik nafas dan menghembuskannya.
"Huuu...huuu...Oom Jimmy," Mega menangis dan memeluk pamannya.
"Kenapa sayang? Mega sudah tidak sesak lagi,kan?" tanya Jimmy sambil memeluk keponakannya.
"Papa...huuu...huuu...Mega ingat papa...huuu".
"Sudah Mega, papa cuma keluar kota. Kamu jangan nangis lagi," Maya mengelus rambut adiknya dan dia juga ikut bersedih.
"Terima kasih, untung tante Kristy punya inhaler," kata Maya kepada Kristy.
"Tak apa-apa, untungnya saya ingat kalau keponakan saya juga kemarin ini ketinggalan alat itu di sini. Kebetulan dia baru beli dan tertinggal di ruangan saya," sahut Kristy sambil tersenyum kepada Maya dan Mega.
__ADS_1