PENGKHIATAN CINTA

PENGKHIATAN CINTA
Tak Menyangka


__ADS_3

Aletha terlihat resah di pesawat, bukan karena takut ketinggian tapi sejak tadi teringat terus ucapan Fuad kepada Ratna.


Sekitar satu jam yang lalu, Fuad dan Ratna mengantarkan rombongan Aletha ke bandara Palembang.


Mereka mengobrol kesana kemari, sampai tiba-tiba Ratna iseng bertanya kepada Fuad.


"Mas Fuad, apakah ada rencana akan menikah lagi?"tanya Ratna tadi.


"Iya, tentunya ada dong. Aku belum punya anak, masih ingin merasakan punya keturunan," jawaban Fuad tadi demikian.


"Baguslah, berarti Mas Fuad berusaha move on. Rencana mau cari istri yang bagaimana?" tanya Ratna lagi.


"Hahahaha, pastinya yang baik, bisa menerima kekuranganku dan kalau bisa sekarang ingin punya istri berhijab," jawab Fuad lagi.


"Aku doakan semoga Mas Fuad segera mendapatkan pengganti Mbak Asmila. Tapi jangan lupa undang aku, kalau suatu saat menikah lagi," ujar Ratna sambil tertawa.


"Siap, kalau sudah ketemu wanita berhijabnya, pasti akan aku kasih kabar," sahut Fuad tadi sambil balas tertawa kepada Ratna.


Dan selama perbincangan itu terjadi, Aletha hanya mendengarkan saja tanpa berkomentar apapun.


Dirinya tak menyangka kalau Fuad punya rencana akan menikah lagi suatu saat nanti dan akan mencari wanita berhijab.


Sekarang dia galau sendiri, dia bukan wanita berhijab walau dia seorang muslim.


Selama ini belum kepikiran sama sekali untuk berhijab, Ibu Edmun ibu kandungnya sendiri juga belum berhijab. Karena sebagai istri pejabat sering harus mengenakan kebaya, jadi masih harus tampil bergaya di depan umum.


"Astaga, Pak Fuad ingin menikah lagi suatu saat nanti dengan wanita berhijab. Ingin rasanya aku bisa menjadi wanita pilihannya. Tapi apakah mungkin terjadi?" Aletha melayang pikirannya tertuju kepada Fuad.


" Ya Allah, wanita macam apa aku ini. Suami meninggal belum juga empat puluh hari, sudah merasa tergoda lelaki lain. Ampuni aku ya Allah, hina sekali aku ini," jerit batinnya Aletha, tapi tidak bisa mengelak lagi kalau dia mempunyai rasa suka dan tertarik kepada Fuad.


Fuad masih di Palembang, dia hari ini menyewa mobil berkeliling kota Palembang sambil menikmati kuliner kota itu.


Setelah puas, baru dia mengantar Ratna ke terminal bis karena harus pulang ke rumahnya di Tanjung Sakti sana.


Suami dan anak-anaknya sudah beberapa kali menelepon dirinya ketika masih makan bersama Fuad di Palembang.


"Mbak Ratna, ini mohon diterima, untuk anak-anak di rumah," ujar Fuad sambil menggenggam tangan Ratna dan memasukan amplop berisi beberapa lembar uang ratusan ribu.


"Ah, jangan Mas Fuad. Tak usah merepotkan, saya sudah diantar ke terminal juga sudah bersyukur," sahut Ratna berusaha menolak pemberian tersebut.


"Tak apa-apa, terima saja. Aku belum pernah memberikan apa-apa untuk anak-anak Mbak Ratna," ujar Fuad dengan senyum yang menawan.


Akhirnya Ratna menerima amplop berisi uang tadi, setidaknya dia juga merasa bahagia hari itu.


Pulang ke rumah membawa pakaian baru untuk anak-anak dan suaminya yang kemarin dibelikan Aletha.


Pagi ini juga diberi uang oleh Fuad, memang belum melihat berapa jumlahnya. Tapi kalau dipegang tadi lumayan tebal, rencananya untuk menambah biaya sekolah anaknya nanti.


"Anwar, Raya, aku duluan yah. Pesawat kalian ke Semarang akan berangkat satu jam ke depan. Aku lebih baik kembali ke apartemen Magenta, aku ingin istirahat," ujar Aletha kepada kedua adik iparnya.


"Iya, terima kasih Mbak Etha. Kami sudah dipesankan tiket pesawat ke Semarang, jadi lebih cepat tiba ke sana nanti," sahut Anwar.


"Tak apa-apa, justru aku ingin kalian lebih cepat tiba di Semarang nanti, agar lebih cepat juga menyampaikan apa yang kita alami dan ketahui kepada orang tua kita," ujar Aletha sambil menepuk bahu adik iparnya.


"Terima kasih, Mbak Etha. Aku jadi merasakan naik pesawat terbang. Tinggal keluar negeri saja nih. Kapan Mbak Etha akan ajak aku keluar negeri? hehehehe," Raya selalu saja polos kalau bertanya.


"Hahahaha, nanti kalau ada rejeki akan aku ajak kamu keluar negeri," jawab Aletha sambil tertawa.


Lalu Aletha pamit dengan taksi dari Bandara menuju ke apartemen milik adiknya.


Setibanya di depan apartemen, dia meminta tunggu sebentar karena Aletha ingin pergi ke suatu tempat lain. Sehingga dia menitipkan kopernya ke petugas untuk disimpan di tempat Magenta.


"Pak Sopir, apakah tahu tempat orang menjual kain kerudung atau hijab?" tanya Aletha kepada sopir taksi.


"Tentu tahu dong, biasanya ibu-ibu belanja kerudung di pasar baru, di tanah abang dan beberapa tempat lainnya. Banyak modelnya dan macam-macam coraknya," jawab sopir taksi itu.


"Saya sewa mobil ini satu hari yah, antar saya belanja kain kerudung ke sana. Kalau misal tidak cocok, nanti antar lagi ke tempat lain," ujar Aletha lagi dan tentu saja sopir itu setuju, apalagi Aletha tidak keberatan dengan uang sewa yang diajukan sang sopir.


"Yun, bagaimana keadaan klinik?" tanya Aletha menelepon Yunita sahabatnya di dalam taksi yang mengantarnya menuju pasar baru.


"Hai, apa kabar Ibu Boss? klinik baik-baik saja. Bagaimana Palembang?" sambut Yunita sambil menanyakan balik soal Palembang.


"Palembang juga baik-baik saja. Nanti aku ceritakan kalau sudah pulang ke Semarang. Aku masih cuti sampai minggu depan, dan akan istirahat sambil jalan-jalan dulu di Jakarta," jawab Aletha lagi.


"Iya, selamat istirahat. Tenangkan hati dan pikiran dulu, nanti kalau sudah tenang segalanya tinggal pulang ke Semarang lagi dan cerita kepadaku. Soal klinik jangan takut, aku menjaganya selalu," Yunita membesarkan hati sahabatnya.


"Terima kasih, Yun. Eh, aku mau minta tolong juga kepadamu".


"Minta tolong apa?".


"Tolong kirim chat kepadaku, jenis kain apa dan apa saja keperluan untuk memakai hijab".


"Hijab? kamu serius?" tanya Yunita terperangah.


Karena memang setelah menikah dengan Husein, Yunita langsung berhijab.


"Seriuslah".


"Alhamdulillah, kamu dapat hidayah. Baiklah nanti aku kirimkan chat kepadamu, nanti aku beritahu jenis kain yang tidak panas dan juga model dalaman untuk penutup rambutnya juga," sahut Yunita sambil mulai menitikan air mata terharu.


"Sip, terima kasih my lovely sister," sahut Aletha sambil mengakhiri pembicaraannya.


Seharian Aletha mencari kerudung, sambil sesekali menelepon Yunita menanyakan soal bahan kain dan juga pernak-pernik untuk memakai kerudung.


Yunita geleng-geleng kepala melihat sahabatnya sibuk memilih berbagai macam kain kerudung. Dia membantu memberikan saran kepada Aletha dengan tulus hati, harapannya agar Aletha benar-benar tulus juga untuk memakai hijab.


Karena kalau sudah memakai hijab, lalu membukanya lagi dengan alasan tak masuk akal maka akan menjadi dosa nantinya.


Sebab bagi wanita muslim memakai kerudung atau hijab itu wajib hukumnya, bila dilakukan akan mendapat pahala tapi jika diabaikan akan menjadi dosa.


Setelah mengantar Ratna ke terminal, Fuad lalu berjalan-jalan lagi bersama sopir penginapan dan sekarang mereka sedang berada di pinggir Sungai Musi.


"Rombongan Ibu Aletha kemarin hanya lewat saja, pak. Padahal sayang loh, suasana di sini semakin sore semakin keren," kata sopir memberitahukan kepada Fuad.


"Ada apa sajakah di sini?" tanya Fuad.


Lalu sopir menunjukkan ada yang namanya Pulau Kemaro dan di sana ada Pagoda Ceng Ho.


"Di situ ada Masjid Ceng Ho, akulturasi dari arsitektur China. Karena sebentar lagi akan masuk Sholat Ashar, apakah Pak Fuad berminat untuk melaksanakan ibadah di sana?" tanya sopir dan tentu saja disambut dengan gembira oleh Fuad.


Melihat bangunan Masjid yang megah dan bernuansa dari negeri China, membuat Fuad sangat terkagum-kagum.


Setelah melaksanakan ibadah, lalu Fuad diajak duduk bersantai di tepian Sungai Musi ada sebuah tempat nongkrong sore bernama Benteng Kuto Besak.


Banyak penjual kuliner dan juga aneka barang oleh-oleh murah meriah tapi menarik.


Fuad menikmati pergantian dari sore ke malam hari di tempat itu, sambil hatinya nelangsa ingat kepada istrinya.


Andai saja Asmila masih hidup, pasti akan sangat bahagia melihat keindahan Jembatan Ampera dan juga suasana di sekelilingnya.


Fuad minta berfoto menghadap ke Jembatan Ampera, dan dijadikan profil diri dan juga status chat di aplikasi chatnya.


Aletha sedang dalam perjalanan pulang ke apartemen adiknya, di dalam taksi dia melihat status chat milik Fuad sambil tersenyum sendiri.


Tiba-tiba ponsel Fuad berbunyi, ada pesan chat masuk dari Buluk. Dan bunyinya seperti ini," Boss Fu, bisa aku buka handphonenya. Banyak chat, mau tahu chat dari siapa, nanti aku carikan".

__ADS_1


Fuad membalas chatnya," Cari percakapan antara Asmila dengan Mario, dan aku mau semua foto yang ada di ponsel dikirim ke alamat emailku".


"Siap, boss. Laksanakan," jawab Buluk di chatnya lagi.


Dalam perjalanan menuju penginapan, terdengar bunyi notifikasi email masuk di ponselnya.


Rencananya nanti setibanya di penginapan, Fuad akan memuat dan mengunduh semua pesan masuk tadi melalui laptopnya.


Soraya dan Rosalinda sedang berada di depan Gereja mereka, keduanya berjanjian untuk bertemu dengan ketua Penatua Gereja tersebut.


"Pak Michael, kami mau menyerahkan sumbangan dari keluarga dan juga daei kerabat serta teman-teman terdekat, untuk diserahkan kepada Pendeta Yosep sebagai bantuan dana untuk pengobatan Ibu Nania," ujar Rosalinda kepada Penatua Gereja yang bernama Michael.


"Terima kasih, luar biasa sekali keluarga Maliangkay. Terutama Ibu Soraya, walau baru kehilangan suami tapi masih memperhatikan kesulitan sesama," ujar Pak Michael.


"Sebenarnya yang banyak mencari sumbangan adalah Kak Rosa, saya tidak terlalu banyak mengumpulkan karena belum terlalu banyak keluar rumah karena masih cuti," Soraya menjelaskan kepada Pak Michael.


"Luar biasa memang Ibu Rosalinda, relasinya banyak, juga teman-temannya selain banyak juga merupakan orang ternama semua," Pak Michael memuji Rosalinda.


"Ah, bisa saja Pak Michael. Saya biasa saja, hanya kebetulan saja punya teman-teman orang ternama tersebut," Rosalinda tersenyum sambil terlihat bangga.


"Baiklah, kami berharap Pak Michael dapat meneruskan titipan ini kepada Pendeta Yosep untuk pengobatan Ibu Nania. Karena kalau kami yang memberikan rasanya kurang etis, sebab dari pihak Gereja ada yang mengurusi hal ini," ujar Soraya sambil senyum kepada Pak Michael.


"Tentu akan saya segera urus uang titipan ini dan segera saya sampaikan kepada keluarga Pendeta Yosep," jawab Pak Michael.


"Terima kasih, kami sangat senang sekali karena Pak Michael bersedia membantu. Kalau begitu kami pamit dulu, sampai bertemu besok," ujar Soraya lagi.


Lalu Soraya dan Rosalinda berjalan menuju mobil milik Rosalinda yang sejak tadi ditunggui oleh sopir.


Pak Michael tampak masuk ke dalam kantor Gereja untuk memasukan uang dari Soraya dan Rosalinda ke dalam brankas, rencananya uang tadi akan disatukan dengan pengumpulan sumbangan lainnya yang akan dilakukan besok pagi.


"Soraya, kalau tidak salah Pak Michael itu sudah tidak punya istri, loh. Setahu aku istrinya mengajak berpisah dengannya sejak lima tahun yang lalu, dan sekarang mantan istrinya menikah lagi dengan orang luar negeri," Rosalinda tiba-tiba saja berkata demikian.


"Lalu apa hubungannya dengan aku?" tanya Soraya sambil mengernyitkan keningnya.


"Barangkali saja suatu hari nanti kalian berjodoh, setahu aku Pak Michael itu juga seorang pegawai Bank yang sudah punya jabatan cukup tinggi," Rosalinda melanjutkan pembahasan soal Michael.


"Kak Rosa, makam Mario juga belum kering, luka di hatiku juga belum sembuh. Lagipula misteri Mario bisa tiba-tiba ada di Palembang juga belum terungkap. Aku tak bisa membuka hati ini kepada siapapun juga," sahut Soraya terdengar sedih.


"Sebenarnya ada rahasia apa yang Mario tutupi selama ini. Aku merasa ada sesuatu yang telah dilakukan Mario dengan wanita bernama Asmila itu," Rosalinda mencoba menebak.


Soraya menghela nafas, dia ingin sekali mengatakan kalau menemukan tiket pesawat atas nama Asmila, juga menerima telepon dari suaminya Asmila yang mengatakan kalau di dalam tas istrinya ada buku tabungan dan kartu ATM atas nama Mario.


Tapi kalau berkata apa adanya kepada Rosalinda, timbul rasa khawatir karena kakak iparnya ini terkadang kalau bicara agak sulit menyaring kata-kata.


Apa yang menurutnya itu benar, maka akan langsung dikatakan tanpa peduli perasaan orang lain.


"Aku tak paham ada apa, dan apa yang telah terjadi. Rasanya kurang bijak kalau membuka atau mengorek aib orang yang sudah meninggal," sahut Soraya sambil memalingkan muka menatap jalanan.


"Hmmm, iya sih. Cuma kalau aku jadi kamu, pasti aku akan merasa penasaran. Sekarang saja aku penasaran, aku yakin kalau Mario punya hubungan terlarang dengan perempuan itu," Rosalinda kukuh dengan pendapatnya.


"Entahlah Kak Rosa, aku tak bisa berpikir, aku masih cukup terguncang. Tapi aku tak mau kalau harus menuduh almarhum suamiku punya hubungan terlarang dengan wanita lain," Soraya berusaha menyangkal pendapat Rosalinda.


"Tapi kalau menurutku, suatu saat nanti ada kebenaran tentang hubungan terlarang antara Mario dengan wanita itu, kamu harus mengatakan kepada keluarga Maliangkay. Mereka harus tahu apapun yang terjadi, harus terungkap realita kebenaran rahasia Mario," Rosalinda terus saja mencoba memancing Soraya.


Tapi syukur Soraya sama sekali tidak terpancing, dia hanya diam saja sambil tersenyum kepada Rosalinda. Berusaha menutupi kalau sebenarnya dia sedang mencari tahu rahasia Mario dan Asmila yang tengah dilakukan oleh Fuad.


Setelah selesai mandi dan menunaikan ibadah Sholat Isya, terlihat Fuad mengeluarkan laptopnya dari dalam kopernya.


Lalu dia menghubungkan ponselnya dengan laptop, dan memindahkan semua data yang tadi sore dikirim oleh Buluk.


Menurut Buluk data yang dikirim kepada Fuad berasal dari ponsel milik Mario, untuk ponsel milik Asmila belum bisa dibuka aksesnya karena ada kerusakan yang cukup rumit di dalam sistemnya.


"Hmmm, foto jembatan, bendungan, renovasi bangunan," guman Fuad saat melihat hasil foto yang dikirim oleh Buluk.


Fuad terus meneliti satu persatu foto yang berhasil diunggah ke laptopnya itu dengan sangat teliti.


Sampai akhirnya ada foto Asmila sedang mengenakan gaun pesta berwarna merah, ada beberapa foto dan tampaknya seperti dulu gambarnya diambil secara diam-diam.


Dilihatnya Asmila tampak sedang menyampaikan sesuatu di acara makan bersama, dan Fuad yakin orang yang berdiri di sebelah Asmila dalam foto itu adalah Direktur Utama perusahaan tempat Asmila bekerja.


Kalau melihat dari acara dan tampilan suasananya, Fuad jadi ingat kalau tak salah itu adalah kejadian lebih dari dua tahun yang lalu ketika awal Asmila meraih prestasi sebagai Direktur Agency.


Dulu Fuad pernah diperlihatkan foto acara itu oleh istrinya, dan kalau tak salah Asmila waktu itu menginap di sebuah hotel berbintang tempat acara itu diadakan.


Tak ada foto lagi, sebab hampir delapan puluh persen foto di ponsel Mario adalah foto pekerjaannya semasa hidupnya.


Lalu Fuad beralih ke hasil tangkapan chat, dan benar ada pesan chat dan pesan singkat antara Mario dan Asmila.


Satu per satu halaman tangkapan chat dibaca oleh Fuad, dan sungguh sulit diterima oleh akalnya. Karena semua pesan chat dan juga pesan singkat tidak terlihat ada ucapan kata-kata mesra atau rayuan.


Hanya kalimat-kalimat yang benar-benar singkat tapi seperti penuh makna terselubung.


Salah satu chatnya seperti demikian:


A: Nanti jadi?


M: Ya


A: Jam berapa?


M :Jam 12


A : Lokasi?


M: Biasa


Lalu chat terhenti tak ada lanjutannya, berarti mereka semasa hidup punya tempat khusus untuk bertemu dan hanya diketahui oleh keduanya saja.


Fuad mencoba mencari jenis chat lain yang sekiranya berbeda, karena kebanyakan chat mereka tidak jauh seperti demikian.


Ternyata ada, beberapa chat yang menunjukkan kemungkinan tempat mereka bertemu.


M: Dimana?


A: Kost


Lalu ada lagi yang hampir sejenis.


A: Nginap?


M: Otw kost


"Hmmm, apakah lelaki itu suka menginap di tempat kost istriku. Bangs*t, nanti aku cari tahu di tempat kost istriku".


Fuad terlihat berang, setidaknya walau pesan singkat tapi menunjukkan kalau hubungan keduanya semasa hidup sangat dekat sekali.


Analisa Fuad membayangkan kalau istrinya telah tidur dengan lelaki lain selama ini.


"Bodoh sekali aku, terlalu percaya kepada Mila. Ya Allah, sakit sekali hati ini. Ampuni aku Ya Allah, aku tak mau punya prasangka buruk kepada almarhumah istriku," Fuad malam itu menangis di kamar penginapannya.


Pikirannya berkecamuk, hatinya sakit seperti diiris sembilu yang sangat tajam, perih mengiris menoreh hatinya.


Malam minggu seharusnya menjadi malam yang menyenangkan bagi orang yang belum menikah.


Karena biasanya malam minggu menjadi malam acara berdua bagi orang yang tengah memadu kasih.

__ADS_1


Lain halnya dengan Jimmy, malam itu dia harus menemani kedua keponakannya, yaitu Maya dan Mega.


Soraya ibu kedua anak gadis itu sedang pergi dengan Rosalinda, sehingga kedua gadis ini minta ditemani nonton film di rumah oleh pamannya.


"Sudah ada pop corn dan juga minuman soda, kami punya film baru dapat pinjam dari teman. Film horor terbaru, judulnya Conjuring. Jadi tugas Oom menemani kami berdua nonton di sini," kata Mega kepada pamannya.


"Oke, putar saja filmnya. Paling juga film horor murahan seperti zombie atau vampir. Aku malas nonton begitu, aku mau makan pop corn saja sambil menemani kalian," sahut Jimmy sambil. memasang wajah tidak bersemangat.


"Belum tahu saja, pasti nanti Oom akan ketakutan juga. Karena katanya ini film horor terseram saat ini," ujar Maya juga kepada pamannya.


Jimmy memasang wajah meledek keponakannya, lalu mengikuti alur film yang mulai diputar oleh keponakannya.


Awalnya biasa saja, tapi film itu menceritakan sebuah rumah yang penuh dengan hantu gentayangan yang mengganggu sebuah keluarga.


"Kak Maya, jeda dulu dong. Aku ingin pipis," ujar Mega.


Lalu Maya menunda film itu, karena Mega memintanya sebab adiknya itu ingin buang air kecil.


"Temani dong, aku takut," rengek Mega.


"Oom, temani sih. Kami takut, aku juga mau sekalian pipis saja deh," Maya meminta pamannya menemani ke kamar mandi.


"Ya ampun. Ayo, cepat, kalian itu reseh banget. Nontonnya film horor, ke kamar mandi saja takut," Jimmy mendumel sambil mengantar kedua keponakannya.


Kedua gadis masuk ke kamar mandi belakang yang di dekat dapur dan juga tempat mencuci pakaian.


Letaknya ada di halaman belakang rumah, kedua keponakannya lama di kamar mandi itu.


Jimmy melihat halaman belakang, lama-lama agak merinding juga tapi merasa gengsi kepada keponakannya.


"Cepat dong, lama amat kalian!" teriak Jimmy.


Soraya baru saja pulang dan masuk lewat garasi, dia melihat ada pop corn dan minuman soda, lalu di televisi terlihat tayangan gambar terjeda.


Melihat sekeliling ruangan yang sepi, lalu Soraya segera menebak kalau anak-anaknya pasti sedang ke kamar mandi belakang ditemani pamannya.


Soraya melangkah perlahan mendekati Jimmy yang sedang memandang ke arah halaman belakang sambil sesekali bergidik.


Pikirannya tiba-tiba teringat pada film pocong, ada di salah satu film horor yang pernah dia tonton, di halaman belakang ada penampakan pocong.


Kedua anak gadis baru selesai buang air kecil dan membuka pintu, Soraya berjalan mendekati tempat Jimmy berdiri.


Suasana sangat sepi sekali, dan tiba-tiba," Jimmy!". Lalu "CEKLEK", suara kunci kamar mandi di buka.


Kedua suara bersamaan di tengah suasana sepi, Jimmy menjadi sangat terkejut dan terperangah.


"COPOT POCONG!!!" teriak Jimmy.


Sontak Soraya dan kedua keponakannya juga jadi terkejut sambil menganga mulutnya.


Tak sangka kalau Jimmy ternyata suka latah kalau terkejut tingkat tinggi.


Soraya menatap kedua anaknya, dan kedua anaknya


juga balas memandang ibunya.


Dan, "HAHAHAHA", tentu saja Soraya dan kedua anaknya tak sanggup lagi menahan tawa. Pecah sudah tawa mereka melihat Jimmy ternyata latah.


Di Big Beauty Resto, terlihat Kristy sangat sibuk sekali sejak tadi pagi hingga malam ini.


Tadi pagi kedatangan mantan istrinya Samsul yang meminta maaf sambil menceritakan kisah Samsu.


Ternyata memang pada dasarnya Samsul adalah orang yang ringan tangan dalam artian negatif.


Mantan istrinya sering menjadi sasaran tamparan kalau misal Samsul marah akan sesuatu hal yang tidak disetujui di rumah.


Ditambah lagi Samsul terpanggil sebagai pasukan elit, dan dia tarik menjadi pasukan perdamaian PBB untuk ke Palestina.


Tapi nasibnya malang, dia tertangkap musuh dan disiksa selama enam bulan lamanya, beruntung dia ditemukan oleh pasukan tentara dari Turki, sehingga dapat segera diselamatkan.


Namun perangainya menjadi semakin buruk, semakin sering memukul dan yang terakhir menyiksa anak perempuannya Rina sampai anak itu menjadi trauma dan terkena goncangan jiwa.


Kemana-mana membawa boneka dan mengajak bicara atau melakukan apapun bersama bonekanya.


"Sekolah dia bisa mengikuti pelajaran, ada orang bertanya, dia bisa menjawab dengan baik. Hanya kalau tak ada yang bertanya, maka anak itu hanya berbicara dengan bonekanya saja," mantan istri Samsul menangis saat menceritakan soal kehidupannya kepada Kristy.


Tentu saja Kristy tak bisa memberi banyak komentar, hanya menyemangati mantan istri Samsul untuk tetap bersabar.


Itu pagi tadi, siangnya Kristy sibuk lagi dengan kedatangan dua belas ibu-ibu sosialita dan salah satunya adalah Stevie kakak sambungnya.


Katanya mereka menggalang dana sumbangan untuk orang sakit , tapi malah membuat Kristy kelelahan dan pusing.


Ibu-ibu banyak maunya dan mengatur ini dan itu tidak karuan, membuat dirinya jengkel setengah mati.


Malam harinya semua tamu rumah makan sudah pulang, pintu dan jendela sudah dikunci. Saatnya mematikan lampu rumah makan, lalu Kristy naik ke atas ke kamar tidurnya.


Membuka keran air panas dicampur dingin ke dalam bath tub, lalu mendekati tempat air dan membuat teh panas.


Rencananya akan diminum setelah mandi dan berendam.


Sudah lima belas menit berendam air hangat, terasa nikmat sekali.


GROSSAAAKKKK


Dari bawah terdengar ada suara mencurigakan, Kristy mengintip dari jendela kamar mandi dan kamar tidurnya untuk memeriksa ada apa di bawah.


Lalu Kristy mengenakan kimononya dan segera turun ke bawah sambil was-was.


Ternyata di tangga bagian bawah ada seikat bunga berwarna merah, dan tulisan


" Maafkan aku".


Kristy bukannya senang tapi malah ketakutan, lalu dia mencari hansip di depan rumah makannya, tenyata tak ada.


Lalu dia menelpon ketua RT dan tak lama datanglah Pak RT bersama hansip.


"Pak, tolong periksa seluruh ruangan rumah makan saya. Masa pintu dan jendela sudah terkunci tapi ada bunga di bawah tangga di dalam," Soraya berkata sambil terlihat cemas.


Hansip dan Pak RT memeriksa seluruh ruangan rumah makan tersebut.


"Tak ada orang dimanapun. Mungkin saja bunga itu sejak tadi ada, tapi ibu kelelahan sehingga tidak memperhatikan keberadaan bunga itu," kata Pak RT menenangkan Kristy.


"Tapi saya yakin sekali, ketika saya naik tak ada apa-apa di bawah tangga".


"Begini saja, nanti Hansip saya suruh berjaga-jaga di depan rumah makan ibu. Kalau ada apa-apa telepon saja saya, kapanpun juga pasti saya angkat," Pak RT memberikan solusi kenyamanan kepada Kristy dan disetujui olehnya.


Memang benar, Samsul telah menyelinap ke dalam rumah makan saat sudah tutup tadi.


Lalu Samsul menyimpan bunga di bawah tangga, dan dia tak sengaja menyenggol hiasan yang ada di ruangan sehingga menimbulkan bunyi.


Ketika Kristy mengajak Pak RT dan hansip berkeliling ke seluruh ruangan rumah makan untuk memeriksa keberadaan orang yang tak diinginkan, saat itulah digunakan Samsul untuk menyelinap keluar rumah makan.


Samsul seorang tentara pandai, sampai terpilih menjadi pasukan tentara PBB, tentu bukan orang sembarangan.


Menyelinap bukan hal sulit, tak akan ada orang menyangka keberadaan dirinya, mantan pasukan elit pasti sudah sangat terlatih.

__ADS_1


__ADS_2