
"Bang, aku dari tadi mencoba menghubungi Mbak Asmila, tapi sejak tadi nomornya tidak aktif terus," Ratna resah karena sahabatnya tidak bisa dia hubungi.
"Mungkin habis baterainya, atau sinyal yang susah dijangkau. Cuaca hujan begini, ditambah menuju ke kampung kita itu harus melewati pegunungan. Tenang sajalah, aku yakin kalau sudah ada sinyal juga pasti Mbak Asmila akan meneleponmu," sahut Ali suaminya Ratna sambil membereskan barang-barang di toko kecilnya.
"Toko akan tutup? jangan dulu dong, nanti Mbak Asmila akan susah mencari kita," Ratna mencegah suaminya menutup toko mereka.
"Sekarang hujan terus dari tadi siang, seharian ini yang belanja ke toko kita cuma dua tiga orang. Sekarang sudah hampir jam delapan malam, hujan pula, mana ada lagi orang akan belanja," Ali suaminya Ratna mulai mengomel.
"Iya, tapi kan aku memberi patokan toko kita ini kepada Mbak Asmila," rengek Ratna.
"Di depan toko kita ada papan nama besar, Toko Kelontong Bang Ali. Masa sih tidak terbaca," Ali mulai kesal melihat istrinya yang begitu takut Asmila tidak bisa menemukan tempat tinggal mereka.
Ratna cemberut, tapi tak bisa menentang suaminya lagi. Jadi dia hanya bisa diam saja sambil menahan kesal.
"Wah, arangnya basah semua, padahal sudah aku tutup dengan karung dan disimpan di gudang," keluh Hastomo ketika akan membuat bara api untuk membakar ikan hasil tangkapannya siang tadi bersama Fuad.
"Kayu bakar juga tidak ada yah, sayang sekali. Padahal sudah cita-cita sejak siang tadi mau membakar ikan malam ini," Fuad juga merasa kecewa ketika melihat arang yang basah.
"Aneh, seharusnya arang itu tak mungkin kebasahan karena di simpan di tempat yang tak mungkin kena air hujan," Hastomo memeriksa dari mana sumber air yang bisa membuat arang basah.
"Namanya juga musim hujan, bisa saja mas terjadi kebasahan, mungkin karena lembab atau ada rembesan air dari dinding," ujar Fuad memberi masukan.
"Ya, gitu deh, jadi sekarang bagaimana? kita goreng saja ikannya, yah," kata Hastomo.
"Hmmm, mau tak mau, ikan sebanyak itu mau diapakan lagi, harus segera kita olah menjadi makanan," Fuad kebingungan karena saat ini ada ikan dua puluh ekor dihadapannya.
"Mungkin kita ajak beberapa teman lain bergabung, agar suasana malam minggu hujan ini bisa agak sedikit ramai," Hastomo memberi ide.
"Memangnya Mas Tomo tidak akan jualan malam ini?" tanya Fuad.
"Hujan terus begini tidak akan ada yang membeli, jadi lebih baik kita sedikit bergembira saja malam ini bersama teman-teman lain".
Fuad juga setuju, lalu segera menghubungi beberapa tetangga lama yang dulu teman nongkrong bersama dirinya.
Asmida menanak nasi suami, Fuad dan beberapa teman-temannya, tapi dia sangat terkejut nasinya sudah matang.
"Bu, ini nasi kenapa, yah?"tanya Asmida kepada ibunya sambil memperlihatkan nasi yang tadi dimasaknya berubah bentuk jadi seperti bubur biyek dan bau tak karuan.
"Pasti tadi mencuci berasnya kurang bersih dan air nya terlalu banyak saat dimasak. Jadi saja nasinya seperti begini," Ibu Jaka terlihat menyayangkan nasi yang tampak rusak itu.
"Tidak, bu, Mida tadi mencuci berasnya beberapa kali, dan air yang dimasukan kedalam magic com juga sesuai ukurannya sebuku jariku," Asmida tidak terima dengan perkataan ibunya.
"Apa sih?" tanya Hastomo ketika masuk ke dapur.
"Ini mas, nasinya begini jadinya," Asmida menunjukkan nasi yang rusak itu.
"Oh, mungkin berasnya yang tidak bagus. Sudah besok berasnya aku tukar ke pasar," sahut Hastomo.
"Bisa jadi sih," Ibu Jaka juga setuju dengan perkataan menantunya.
"Sudah tidak usah dipikirkan, biar nanti buat makan ramai- ramai bisa beli di warung nasi depan," Hastomo menenangkan istrinya yang terlihat masih galau.
"Fuad, tolong beli nasi ke warung depan, naik motorku saja. Kita delapan bungkus, lalu Mida, Ibu, Bapak dan anak-anak. Tolong beli saja lima belas bungkus karena tahu sendiri Hansip dan anak-anak Musholla makannya banyak," Hastomo minta tolong kepada Fuad.
"Oh, saya saja boss, biar saya saja yang beli. Hujan gerimis begini nanti boss Fuad sakit," Hansip tiba-tiba menyela dan menawarkan dirinya untuk membeli nasi.
"Oke, ini uangnya," Fuad lantas mengeluarkan selembar uang kertas berwarna merah kepada Hansip.
Segera Hansip tadi meluncur menuju warung nasi untuk membeli nasi bungkus.
"Bukannya tadi Kak Mida menanak nasi?" tanya Fuad kepada Hastomo.
"Iya, cuma nasinya itu biyek dan berbau aneh. Mungkin berasnya jelek atau yang masak lagi melamun," sahut Hastomo.
Fuad tersenyum saja, tapi hati kecilnya tiba-tiba merasa tak enak. Dia ingat cerita dari neneknya dulu, kalau menanak nasi lalu ketika matang rusak berbau biasanya ada anggota keluarga yang meninggal kecelakaan.
"Kamu tidak telepon Mila? mengatakan kita sedang kumpul ramai-ramai mau makan ikan goreng dan sambal," Hastomo mengingatkan Fuad untuk menghubungi istrinya.
"Hehehe, tak enaklah. Takutnya dia sedang kumpul dengan direkturnya," jawab Fuad.
"Memangnya Mila kemana?" Hastomo merasa aneh mendengar ungkapan Fuad.
"Kan dia sedang tour seminar ke beberapa kota. Malam ini katanya mau ada pertemuan dengan Direksi, dan minggu depan perjalanan ke beberapa kota," Fuad menjelaskan kepada Hastomo.
Mendengar itu tentu saja Hastomo jadi terkejut, karena seingat dia beberapa malam yang lalu Asmila minta ijin kepada Asmida akan ke Bengkulu untuk berobat bersama temannya.
Ingin rasanya mempertanyakan perbedaan ucapan Asmila kepada istrinya dan juga kepada Fuad. Tapi Hastomo berpikir lagi takut dirinya yang salah dengar, jadi dia hanya diam saja menganggukan kepalanya.
Ketika nasi bungkus yang dibeli hansip tadi datang, lalu mereka segera beramai-ramai makan bersama.
Hanya anehnya, ikan goreng dan sambal yang harusnya nikmat, tapi entah mengapa terasa hambar padahal sudah ditambah bumbu lagi sekalipun.
"Suster, pasien saya masih ada berapa orang lagi?"tanya Aletha kepada perawat.
"Tiga orang lagi, dok," sahut perawat tadi.
"Tolong sampaikan kalau mereka nanti akan ditangani dokter Yunita. Saya mau pulang, barusan ibu saya telepon memberitahu kalau anak saya mendadak demam dan muntah-muntah," kata Aletha sambil memasukan peralatan pribadinya ke dalam tas.
"Tapi maaf, apakah dokter Yunita sudah tahu tentang hal ini?" tanya perawat seakan merasa takut menghadapi Yunita.
"Sudah tahu dong. Oke, aku pamit dulu. Tadi aku sudah bicara dengan dokter Yunita," sahut Aletha sambil menuju keluar ruangan prakteknya.
Di depan klinik Aletha bertemu dengan Husein sahabat suaminya yang akan menjemput Yunita istrinya.
"Mas Husein, maaf yah Yunita sedang menangani sisa pasienku. Karena barusan dari rumah mamih menelepon kalau Edwin tiba-tiba panas demam," Aletha merasa tak enak dengan Husein.
"Santai saja, anak kami juga aku bawa kok, nanti habis mamanya selesai praktek mau jalan-jalan dulu sebentar," sahut Husein menenangkan Aletha.
"Sudah sana segera pulang, kasihan Edwin anakmu pasti sudah menantimu," lanjut Husein dan Aletha sambil menganggukan kepalanya lalu pamit kepadanya.
"Kasihan Aletha, harus kesana kemari sendirian. Kemana si bodoh Asrul itu, aku tak habis pikir dia sampai tega meninggalkan anak istri. Suatu hari bertemu pasti aku hajar dia," Husein terlihat kesal kepada sahabatnya yang telah meninggalkan anak dan istrinya tanpa kabar berita.
Sekitar setengah jam menanti di lobby klinik gigi milik Aletha, kemudian Yunita keluar menemui suaminya.
"Pah, mana anak-anak?"tanya Yunita ketika keluar dari klinik.
"Ada di depan, sama si mbaknya," Husein menunjuk anak-anaknya yang tengah bermain di halaman klinik ditemani pengasuhnya.
"Aku kasihan sama Aletha, entah kemana si Asrul itu. Aku tak yakin ada orang yang memberi dia pekerjaan sampai ke Palembang sana," Husein berkata kepada istrinya.
"Aku curiga dia kabur mencari si Jena itu, bukannya perempuan kecentilan itu orang sana, yah?" Yunita terlihat ikut kesal atas perbuatan Asrul.
"Jangan menuduh begitu juga, aku sampai sekarang tak paham siapa yang memberi dia pekerjaan kesana. Masalahnya baik Arya maupun Louis Orlando juga mengaku tidak ada pekerjaan untuk Asrul di kota tersebut," sahut Husein memberitahukan istrinya.
"Aku jadi tambah yakin saja kalau Asrul menemui si Jena," Yunita dengan ketus menyebut nama itu.
"Ah, sudahlah, ayo kita sekarang jajan saja di Bandungan, oke?" Husein mengajak istrinya.
"Oke, aku ingin wedang jahe," sambut Yunita sambil menggandeng tangan suaminya.
"Nak, kenapa kamu sayang?" tanya Aletha sambil memeluk anaknya.
Tubuh anaknya panas, badannya menggigil seperti orang kedinginan.
__ADS_1
"Tadi sudah mamih berikan obat penurun panas, tapi kondisinya masih begitu saja," Ibu Edmun terlihat sangat khawatir melihat kondisi cucu kesayangannya.
"Bisa demam begini kenapa? apa dia tadi main hujan-hujanan atau bagaimana?" tanya Aletha kepada ibunya.
"Dia tidak kemana-mana sejak siang tadi, sepulang sekolah dia main di rumah saja".
"Tadi makan malam banyak, lalu menonton televisi. Eh, tiba-tiba batuk, lalu muntah dan mengeluh dadanya sakit," kata Ibu Edmun sambil mengelus kepala cucunya.
"Besok kalau demamnya tidak turun saja, kita bawa ke rumah sakit. Malam ini biar Etha tidur bersama dia, mau Etha pijat dadanya. Kasihan sepertinya masuk angin di bagian itu," ujar Aletha sambil mengambil balsam gosok khusus anak.
"Bunda, dadanya sakit sekali seperti ada yang menusuk," ujar Edwin lemah kepada Aletha.
"Iya sayang, kamu masuk angin, nak. Ayo, bunda urut perlahan yah," kata Aletha sambil mengurut dada anaknya dengan perlahan.
"Bunda, sakitnya itu dari dalam. seperti ditusuk kayu tajam gitu," Edwin mengeluh lagi karena merasa sakit dadanya.
"Iya, nak. Itu masuk angin namanya. Semoga saja setelah digosok ini jadi lebih baik yah".
Edwin mengangguk lemah dan matanya segera menutup karena terasa pusing kepalanya.
"Mamih, aneh sekali Mas Asrul dari tadi tidak bisa dihubungi. Aku mau memberitahu kondisi anaknya, tapi entah mengapa selalu saja tidak aktif ponselnya," keluh Aletha.
"Jangan-jangan benar kata orang, suamimu punya istri lagi di sana," Ibu Edmun berkata dengan ketus.
"Tidaklah, aku yakin Mas Asrul bukan lelaki yang seperti itu," Aletha mencoba menyangkal walau dalam hati kecilnya ada dugaan ke arah itu.
"Semoga saja tidak, tapi masa dia itu hampir tak pernah menanyakan kabar anaknya, lalu seakan tak peduli. Jujur saja mamih curiga, tapi semoga saja dugaan mamih salah".
Ibu Edmun berlalu dari kamar anaknya sambil menghela nafas, walau bagaimana juga seorang ibu pasti akan ikut kesal kalau melihat anaknya disakiti oleh menantunya.
"Nanti bagaimana orang sekampung melihat Jena datang bawa bayi dan suami orang. Hendak disimpan kemana lagi muka ini," keluh Ibu Jamal ibu kandungnya Jena.
"Iya, anak itu sebenarnya pandai. Sekolah juga pandai, kuliah lulus jadi sarjana. Tapi sifatnya itu aneh. Suka sekali kalau merusak rumah tangga orang," kata adik Ibu Jamal yang biasa dipanggil Yu Zah.
"Entahlah, padahal sejak dia kecil tak pernah kurang kasih sayang. Cuma entah mengapa begitu beranjak dewasa jadi begitu".
"Aku ingat dulu Jena selalu berusaha menggoda si Jupri. Setiap hendak berangkat sekolah pasti selalu mengajak bicara Jupri sambil tertawa-tawa aneh," ujar Yu Zah mengingat kelakuan Jena jaman dulu.
"Kalau mau jujur, anakku menggoda banyak orang. Jupri salah satunya, dan kau tahu gurunya sewaktu SMA juga sampai cerai sama istrinya gara-gara anakku," Ibu Jamal tertekan mengingat prilaku anaknya.
"Maaf kak, kalau aku ingat dia berubah ketika Bang Jamal dulu pernah selingkuh dan menyiksa kakak. Setelah kejadian itu dia jadi berubah, senang menggoda lelaki beristri atau lelaki punya kekasih. Asal rumah tangga atau hubungan mereka rusak, pasti dia seperti puas," Yu Zah mengemukakan analisanya.
Ibu Jamal menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya dengan berat.
"Bisa jadi Zah, kejadian saat dulu itu telah mengubah perilakunya".
"Hmmm, aku hanya menduga begitu, kak. Semoga saja tidak seperti itu".
"Tengah malam nanti katanya dia akan tiba di sini, aku tak tahu bagaimana cara menyambut mereka nanti," Ibu Jamal bingung tak tahu apa yang harus dilakukannya.
"Sabar kak, aku pasti membantu kakak. Jangan takut nanti aku bantu menyambut mereka," sahut Yu Zah.
Ibu Jamal tersenyum, lalu Yu Zah memeluk kakaknya yang sedang merasa galau itu.
"Rey, coba mobilmu putar sedikit ke arah sini agar lampu sorot mobil bisa menyoroti jalan ini," pinta Alex kepada Rey sang pengemudi mobil gunung.
"Oke, tunggu".
Lalu Rey memutar mobilnya dan lampu sorot mobil diarahkan ke pagar pembatas jalan, lalu terlihat jalan curam menurun di sebaliknya.
"Iya benar, lihat Alex itu pohon seperti habis ditabrak sesuatu yang besar. Mungkin mobil tadi terbanting ke bawah sana," ujar Sony menunjuk sebuah pohon tumbang dan ada tapak benda besar telah menabraknya.
"Aku punya kawan tim SAR, bagaimana kalau kita hubungi mereka?" ujar Bram.
"Aku setuju apa kata Bram. Sekarang sambil dia menghubungi kawannya, bagaimana kalau kita turun kesana?" ajak Nico kepada kawan-kawannya.
"Aku juga," Alex juga setuju.
"Aku di sini bersama Bram, kalian bertiga turun. Ini handy talkie, kalian bawa masing-masing dan juga ini helm pengaman kepala dan lampu sorot kepala," kata Rey sambil mengeluarkan peralatan dari dalam kotak di belakang bagasi mobilnya.
"Memang boss satu ini selalu punya perlengkapan apapun di dalam mobil. Cuma sayang pacar saja yang tak punya," goda Nico kepada Rey.
"Diam, jangan banyak bicara. Ini tongkat khusus, pasti jalan ke bawah licin. Tongkat ini selain untuk berpegangan, juga bisa untuk mengusir ular," sahut Rey sambil membagikan benda itu kepada ketiga kawannya.
"Siap komandan!" seru Sony sambil memegang tongkat dari Rey.
"Tetap komunikasi kepada kami, aku sudah menghubungi kawanku. Memang pakai pesan singkat saja, karena tak ada sinyal kuat untuk menelepon dari sini," ujar Bram kepada ketiga kawannya.
"Kami jalan dulu yah, kalau ada apa-apa kami hubungi kalian," ujar Alex sambil mengajak kedua kawannya untuk segera turun ke jurang.
"Kita ikuti tapak mobil bergeser di sini, lihat sepertinya mobil terbanting dari sini ke arah bawah sana," Nico menyoroti jalanan dan terlihat bekas jejak badan mobil yang terbanting menuju ke bawah jurang.
Ketiganya berjalan menuju ke bawah jurang sambil terus berkomunikasi dengan kedua kawannya yang menanti di atas.
Di markas tim SAR, ada Arif sedang bermain catur dengan teman-teman kerjanya.
"Yang kalah traktir kopi, yah," tantang Arif yang selalu menang kalau main catur.
"Ah...kau pasti menang terus, coba sesekali kau mengalah," sahut kawannya kepada Arif.
"Hahahaha...tidaklah, kita main fair saja bro. Yang kalah traktir kopi, hahahaha," Arif tertawa menanggapi keluhan kawannya.
"Ayolah, siapa tahu aku menang," salah satu kawannya segera duduk berhadapan dengannya.
Arif tentu saja dengan senang hati menerima tantangan kawannya itu.
Selangkah dua langkah Arif menunjukkan kalau dia sepertinya akan menang.
"Woi!!! Arif ini handphone bunyi!!!" seru salah satu kawannya berteriak memberitahukan dia.
"Aduh, siapa sih. Tolong bawakan saja kemari, bro," pinta Arif.
"Bayarin kopi dulu, baru aku bawakan kesana," kawannya malah mengerjai dirinya.
"Aduuuhhh!!! iya !!! bawakan handphoneku dulu,!!!" seru Arif dengan sebal.
Lalu kawannya itu mendekati sambil membawa handphone miliknya.
"Hah!!! Bram? ada apa yah?!!!" ujar Arif ketika melihat nama Bram muncul di gawainya.
"Halo Bram!!! Halo!!! Halo!!!" Arif berteriak karena suara Bram sangat kecil dan jauh sekali.
Arif berdiri mencoba mencari sinyal," Awas, jangan licik yah".
Ancam Arif kepada kawannya yang sedang bermain dengannya, lalu dia keluar ruangan itu.
"Apa Bram??!!! Halo Bram!!!" suara Bram masih tidak terdengar jelas.
Kawan lain yang ada di dalam diam-diam menukar salah satu bidak di atas papan catur, lalu semua cekikikan melihatnya.
"Apa?!!! pesan apa?!!!"teriak Arif berusaha mengerti apa yang diucapkan Bram.
"Baca pesan gue!!!!" teriak Bram dari ujung sana.
__ADS_1
Lalu komunikasi terputus, dan Arif mencoba menghubungi balik juga tidak bisa.
Kemudian Arif membuka kotak pesan singkat di ponselnya dan terbaca ada pesan dari Bram kalau ada mobil masuk jurang di kaki gunung.
"Guys...ada mobil terjungkal ke dalam jurang di kaki gunung. Ini pesan dari teman yang baru meneleponku, mungkin dia ada di lokasi," Arif memberitakan kepada seluruh kawannya.
"Wah, ayo kita kesana," kata yang lain.
"Nanti dulu, selesaikan dulu permainan kita. Ini giliranku jalan," kata kawannya Arif yang sedang main catur bersamanya tadi.
"Ayo, harga diri dipertaruhkan ini!!!," sesumbar Arif.
"Skak mat!!!" seru kawannya itu.
"Hah!!!kok bisa???!!! licik kalian," Arif tak terima dia kalah.
"Licik apa? aku tak menyentuh apapun," kawannya mengelak.
"Kopi gratis, ayo Arif bayar kopi!!!" seru yang lain juga.
"Iya, aku sekarang ke kaki gunung dulu untuk memastikan kebenaran kabar ini, nanti kembali dari sana aku bayar semua kopi kalian," Arif terlihat kesal karena tahu dirinya dikerjai oleh kawan-kawannya.
"Hahahaha, tentu saja kami catat perkataanmu ini, Hahahaha".
"Eits...!!! Hati-hati!!!" Sony menarik Nico yang hampir tersungkur ke dahan pohon tumbang yang runcing.
"Astagfirullah, hampir saja aku tertancap dahan ini," Nico sampai duduk lemas melihat dahan runcing tersebut.
"Ini kalau sampai menusuk dada orang, pasti orang itu good bye," kata Alex sambil menyingkirkan dahan itu ke arah lain.
"Tapi mungkin ada yang tertusuk, bro. Ini ada pecahan kaca mobil, bisa jadi ada patahan dahan runcing menusuk salah satu orang di dalam mobil itu," ujar Sony sambil jongkok dan menyoroti pecahan kaca di bawah pohon itu.
"Ayo kita lanjutkan lagi jalannya, hati-hati, ini tanah semakin ke bawah semakin licin. Kalau tidak hati-hati bisa berbahaya," kata Alex sambil mengajak kedua kawannya berjalan lagi.
Dari kejauhan terdengar suara air sungai yang deras, lalu mereka bertiga berjalan mengikuti suara aliran sungai.
"Sungai sedang pasang, bro. Airnya naik setinggi itu," kata Nico menunjuk sungai yang airnya tengah meluap tinggi.
"Hmmm, tapi dimana mobil tadi, yah?" tanya Alex sambil memeriksa adanya keberadaan mobil di sekitar lokasi itu.
"Aku yakin seratus persen mobil tadi masuk dan tenggelam ke dalam sungai. Ini ada jejaknya?" ujar Sony sambil menunjukan ada tapak benda besar yang masuk menuju air.
"Berarti mobil tadi dari atas berguling-guling beberapa kali, lalu tercebur ke dalam sungai ini," Nico tampak merinding membayangkan kejadian itu.
"Air sungai pasang begini pasti mobil terseret ke tengah. Masalahnya kita tak punya alat untuk memeriksa keberadaan mobil itu ke tengah sungai sana," kata Alex sambil menghela nafas.
"Semoga saja kawannya Bram bisa segera tiba kemari," ujar Nico lagi.
Sony mengabarkan kepada Rey dan Bram melalui radio komunikasi yaitu handy talkie, dan tentu saja kedua temannya itu juga terkejut mendengar berita dari yang disampaikan itu.
Tak lama ada dua sepeda motor datang ke arah mereka, tentu saja Arif membawa tiga orang kawannya.
Bram segera menyampaikan kepada Arif berita dari bawah jurang sana yang belum lama disampaikan oleh Sony kepadanya.
Langsung anggota Tim SAR itu segera turun ke bawah jurang untuk memastikan yang baru saja disampaikan oleh Bram.
"Ya benar, ini jejak mobil tadi terseret masuk ke sungai, masalahnya sekarang posisi mobil ada dimana dan apakah masih ada yang selamat," ujar Arif ketika tiba di pinggir sungai.
"Kita harus panggil seluruh tim, dan sekalian menghubungi kepolisian. Semoga masih ada yang selamat," kata kawannya Arif yang sesama anggota Tim tersebut.
"Ayo, kita segera bergerak, karena khawatir masih ada yang masih hidup di dalam mobil itu".
Akhirnya Arif menghubungi seluruh timnya mengabarkan kebenaran bahwa ada mobil tenggelam di sungai di bawah kaki gunung.
Selain itu, mereka juga segera menghubungi kepolisian setempat dan menyampaikan berita yang sama.
Bukan itu saja, kebetulan ada awak media yang sedang mencari berita di kantor polisi, langsung segera menghubungi kawan lainnya bahwa ada mobil masuk ke jurang dan tenggelam ke dalam sungai.
Arif dan kawan-kawannya yang sudah di lokasi segera menyisir sepanjang pinggir sungai yang sedang pasang itu.
Aliran airnya sangat deras dan kencang sekali, kemungkinan mobil bisa terseret sampai beberapa meter jauhnya.
Langit juga sangat gelap karena saat itu gerimis masih juga membasahi bumi.
Lampu sorot di kepala dan juga senter besar tak cukup menerangi sungai di malam itu.
Cuaca dingin juga menusuk ke dalam tulang mereka yang sedang berjalan di pinggir sungai itu.
"Sepertinya harus menunggu matahari terbit, baru kita bisa bergerak mencari keberadaan mobil itu".
"Mario, ayo buka matamu," terdengar suara Oma Elisabeth memanggil namanya.
Mario mengerjapkan matanya dan terlihat cahaya sangat terang sekali menusuk matanya.
Tampak wajah Oma Elisabeth sedang berdiri sambil mengulurkan tangannya, lalu Mario meraih tangan lembut itu.
"Kita dimana ini, Oma?" tanya Mario sambil menatap wajah neneknya yang sangat dia cintai.
Oma Elisabeth tidak menjawab tapi meraih tangan Mario menuju sebuah jalan yang sangat terang.
Mario melihat di sekitarnya, ada seorang wanita yang berdiri tak jauh dari dirinya, dan wanita itu juga sedang berjalan menuju jalan terang tadi bersama seorang wanita tua seumur neneknya.
Dia juga melihat ada sesosok cahaya menyerupai manusia sedang memeluk bayi kecil.
Di belakangnya ada sepasang lelaki dan perempuan mengikuti sosok itu dari belakangnya.
Sementara di sisi kiri ada beberapa sosok hitam tengah menyeret dua orang yang meronta-ronta minta dilepaskan.
Tapi sosok-sosok hitam tadi terus menyeret kedua orang tadi entah dibawa kemana.
Mario berjalan di samping Oma Elisabeth, jalan yang di laluinya sangat terang benderang.
Asmila melangkah bersama Ibu Kusnadi mertuanya, dia juga melihat ada pria bersama seorang ibu tua yang ramah dengan wajah bersinar seperti wajah ibu mertuanya.
Baik Mario maupun Asmila merasa pernah tahu satu sama lain tapi ingatan itu hilang sama sekali.
Sehingga saat ini tidak ada yang mereka kenal, hanya sosok orang tua yang bersamanya yang tadi menjemputnya.
Tak lama mereka tiba di sebuah pinggir jurang, di bawah jurang itu sungai api berkobar-kobar.
Tapi di seberang sungai api itu ada sebuah istana megah dan indah sekali, pasti sangat nyaman dan menyenangkan kalau bisa masuk ke gerbang istana itu.
Oma Elisabeth melepaskan genggamannya kepada tangan Mario, begitu juga wanita tadi genggaman tangan ibu tua yang bersamanya juga terlepas.
Sosok bercahaya yang tadi membawa bayi tadi, tiba-tiba terbang ke atas dan berhenti di tengah- tengah sungai api.
Lalu sosok itu menarik Oma Elisabeth dan juga Ibu Kusnadi, dan sosok bercahaya itu berkata kepada mereka di sana.
"Hanya amal kalian, doa dan pengampunan dari mereka yang masih hidup akan bisa membawa kalian masuk ke gerbang sana".
Lalu tanah yang dipijak mereka tiba-tiba mengecil hanya seukuran kaki mereka berdiri.
"Bila tak ada amal baik, doa dan pengampunan yang kalian terima, maka sedikit demi sedikit tanah yang kalian pijak akan terkikis habis".
__ADS_1
"Tapi jika ada kebaikan dan doa bagi kalian, maka ada satu batu akan muncul dihadapan kalian yang bisa kalian pijak untuk masuk ke gerbang sana".
Lalu sosok bercahaya tadi berbalik sambil memeluk bayi dan mengajak Oma Elisabeth dan Ibu Kusnadi memasuki gerbang kedamaian abadi.