
Keesokan harinya diberbagai media sosial baik cetak maupun digital, muncul dua berita viral.
Berita pertama menyampaikan seorang janda muda yang tiba-tiba kaya raya karena ternyata almarhum suaminya memberikan warisan asuransi jiwa yang nilainya milyaran rupiah.
Sementara berita lainnya mengisahkan seorang insinyur pembangunan berusaha mendekati anak gadis konglomerat.
Adapun tajuk berita yang muncul adalah demikian,
"Sambil mendulang minum air: Seorang insinyur pelaksana pembangunan kampus milik The Margo's Group, mengerjakan proyek pembangunan sambil mencoba meraih hati anak gadisnya sang konglomerat".
Itukah berita viral yang sangat menohok dan menyudutkan, ada foto Jimmy sedang memegang tangan Kristy.
Pada gambar terlihat Jimmy seakan-akan tengah memaksa memegang tangan Kristy, sementara Kristy berusaha menepisnya.
Padahal kenyataannya saat itu Kristy terburu-buru karena harus mengikuti langkah ibunya menuju mobil.
Berita demikian tentunya segera meledak menyebar dari mulut ke mulut, bahkan setiap orang yang aktif membaca media sosial di gawainya masing-masing pasti segera tahu adanya berita tersebut.
Pagi itu Soraya melangkah di koridor kampusnya untuk mengajar, dan hampir semua mata memandang ke arahnya karena dialah sang janda muda sederhana yang tiba-tiba menjadi kaya raya.
Mahasiswa mulai berbisik-bisik sambil menatap ke arahnya, sayangnya Soraya sendiri sama sekali belum tahu kalau dirinya muncul di pemberitaan hari ini.
Sehingga Soraya santai saja melangkah karena tidak paham dengan berita viral yang heboh yang sedang terjadi saat ini.
Dengan ringan Soraya segera masuk ke ruangan dosen, dan duduk di mejanya.
"Hmmm, ada janda kaya raya rupanya baru datang. Congkak sekali sampai harus masuk media memberitahu dunia kalau dirinya sekarang kaya raya," terdengar Ira langsung meluncurkan sentilan pedas ke arah Soraya.
Karena tidak merasa menjadi berita, maka Soraya santai saja mulai mengetik beberapa tugas yang akan disampaikan kepada mahasiswa tingkat akhir.
Jam sepuluh nanti akan rapat dengan ketua Yayasan, maka sebaiknya dia mengejar waktu untuk membuat tugas agar ketika rapat berlangsung, mahasiswa juga punya hal yang harus dikerjakan.
"Pura-pura tuli segala, kalau sudah punya uang banyak ngapain ngajar lagi. Bikin sempit saja, masih banyak orang yang butuh uang tapi belum punya kesempatan bekerja," sindir Ira lagi yang saat itu sedang berdua dengan sang Anes sang antek-anteknya.
"Biasanya orang mendadak kaya suka jadi tuli, otaknya lagi heboh kepingin belanja ini dan itu," timpal Anes mendukung Ira.
Soraya memang tidak peduli dengan kedua orang nyinyir itu, apalagi dia memang tidak tahu dengan berita yang tengah viral, juga dia sedang sibuk memikirkan materi tugas untuk mahasiswanya.
"Kalian dicuekin Soraya?" tiba-tiba terdengar suara Oti dari balik punggung Ira dan Anes yang tengah memandang Soraya dengan tatapan sinis.
"Oh, ada pengawalnya datang. Biasa ratunya diam, prajuritnya ngomong. Kelihatan banget yang pengen kebagian duit," Ira langsung menyindir Oti yang terlihat akan membela Soraya.
"Kalian dari tadi menyindir aku rupanya?" tanya Soraya kebingungan.
"Tentu saja Oya, ada dosen yang panas hati begitu tahu kamu dapat rejeki besar," sahut Oti memberitahu Soraya.
"Rejeki besar?" Soraya mengernyitkan keningnya.
"Astaga, kamu tidak sadar kalau sedang jadi berita besar dimana- mana?"Oti merasa heran dengan Soraya.
"Aku jadi berita besar?" Soraya membelalak matanya.
"Pura-pura saja, drama banget hidupnya, bilang saja congkak karena merasa jadi orang tajir sekarang ini," Ira tampak begitu kesal kepada Soraya.
"Hei!!! kalau aku drama, kamu apa? sinetron?!!!" teriak Soraya yang mulai terpancing emosinya.
"Sudah Oya, jangan dihiraukan. Biasa orang seperti mereka pasti akan selalu itu hati kalau melihat orang lain bahagia. Biarkan sajalah, jangan urus orang seperti mereka," ujar Oti sambil melangkah mendekati meja Soraya dan badannya menutupi pandangan Soraya dari tatapan dua mahluk nyinyir.
"Aku sungguh tak paham, ada berita apa sebenarnya?" tanya Soraya dengan jujur memperlihatkan ketidaktahuannya.
Oti mengeluarkan ponselnya lalu mencari berita yang tengah viral dari detik berita dan memperlihatkan kepada Soraya tentang dirinya yang tengah menjadi pemberitaan hangat.
"Astaga, padahal awak media kemarin itu untuk meliput acara seremonial perusahaan asuransi jiwa ketika membayarkan klaim kematian suamiku. Mengapa jadi ada berita lain lagi, yah?" Soraya merasa aneh dengan pemberitaan yang ada.
"Namanya juga media, kalau berita acara seremonial sendiri juga ada. Tapi sisi lain dari kisah itu bisa diungkap juga, dong. Apalagi statusmu saat ini sangat nikmat untuk dijadikan bahan berita berbau gosip. Yang namanya gosip, makin digosok makin siiiippp.... hahahahaha," ujar Oti berbincang berdua dengan Soraya.
"Oti, memang uang yang kami terima sangat besar. Tapi itu adalah amanat suami untuk biaya pendidikan anak-anak kami. Sehingga kemarin aku bersama kedua mertuaku sepakat untuk kembali mengasuransikan uang itu untuk kepentingan Maya dan Mega," Soraya menjelaskan kepada Oti.
"Tentunya harus begitu, karena suamimu dulu membeli asuransi dengan uang itu adalah untuk kepentingan pendidikan anak-anakmu. Kamu jangan termakan ucapan kedua orang itu kalau aku mau minta uangmu," Oti menolak kalau sampai ada dugaan ingin minta uang kepada Soraya.
"Aku tahu, kamu sahabatku. Hanya yang tak habis pikir adalah bagaimana bisa kemarin semua baik-baik saja, eh...pagi ini ada pemberitaan seperti itu".
"Aku bukannya menjadi bangga, tapi malah terasa seperti disudutkan dengan berita seperti itu. Siapa yang mau jadi janda, secara tiba-tiba aku harus menyandang gelar itu, sekarang ditambah lagi dengan berita yang demikian," keluh Soraya merasa terpukul dengan tajuk berita itu.
"Heh, Oya yang aku kenal adalah seorang yang tegar, dalam keadaan apapun selalu kuat menerima cobaan hidup. Jangan tiba-tiba patah semangat atas pemberitaan tak penting seperti itu. Sudah biarkan saja anggap angin lalu," ujar Oti yang selalu memberi semangat kepada sahabatnya.
Soraya menganggukan kepala, sambil duduk memeluk pinggang Oti, dan Oti memeluk kepala Soraya.
"Sejam lagi kita harus menghadiri rapat bersama ketua Yayasan. Ayo, bereskan pekerjaanmu, aku harus mempersiapkan ruangan rapat nanti," ujar Oti yang diikuti anggukan Soraya.
Sambil keluar ruangan dosen, Oti melirik tajam ke arah Ira dan Anes, tak ayal kedua orang nyinyir itu juga membalas lirikan Oti sambil wajahnya merengut. Tidak ada kata-kata yang terucap, hanya tatapan Oti sesungguhnya penuh dengan arti yang membahayakan untuk mereka berdua.
Jimmy terlihat sudah ada di Big Beauty Resto di pagi itu, sejam sebelumnya dia mendapat telepon dari Oci pegawai kepercayaannya Kristy.
"Boss ganteng, maaf bisa tolong Oci. Boss ganteng harus segera kemari, boss cantik dari tadi mendekam di kolong meja di ruangan kerjanya di atas. Sementara kakaknya dan ibunya sejak tadi menelepon Oci mencarinya, karena boss cantik tidak bisa dihubungi. Padahal boss cantik harus menghadiri rapat yang akan diadakan oleh ibu Ivanna," begitu yang disampaikan Oci kepada Jimmy.
Begitu tiba di Big Beauty Resto, Jimmy segera diantar oleh Oci naik ke lantai atas dan membukakan pintu ruang kerjanya Kristy.
"Nona rambut gulali, sedang apa di kolong meja?"tanya Jimmy sambil ikut duduk di lantai di sebelah meja kerjanya Kristy.
"Mau apa kemari? siapa yang memintamu kemari?" tanya Kristy ketus.
"Aku diminta pegawaimu kemari, katanya kamu terjepit sehingga tidak bisa keluar dari kolong meja," sahut Jimmy.
"Sinting!" ujar Kristy tambah ketus.
"Perasaan tadi malam kita bisa ngobrol di telepon dengan enak, kamu bicaranya lembut sekali kepadaku. Mengapa pagi ini tiba-tiba menjadi ketus dan sembunyi di kolong meja?" Jimmy mempertanyakan tingkah Kristy.
Ditanya seperti itu, malah membuat Kristy terdiam seribu bahasa. Ruangan hening yang terdengar hanya suara nafas Jimmy dan Kristy dari kolong meja.
Hampir lima menit tak ada suara apapun, lalu Jimmy bertanya lagi," Nona rambut gulali, dedek putih mata bulat, bontot, kamu masih di situ kan?".
"Yang boleh panggil aku bontot cuma Ando," terdengar jawaban seperti itu.
"Oke, maaf, aku tidak akan mengulangi lagi panggilan itu. Tapi kamu harus segera keluar dari kolong meja dan cerita sama aku, ada apa sebenarnya," ujar Jimmy mulai lelah dengan sikap Kristy.
"Apakah kamu tidak membaca berita hari ini?" tanya Kristy.
"Berita apa?"tanya Jimmy.
"Oh... Jim...bacalah dulu, cari berita tentang pembangunan kampus dari ponselmu!!!" seru Kristy masih dari kolong meja.
Jimmy mengeluarkan ponsel dari sakunya, lalu mulai mencari berita seputar pembangunan kampus.
Akhirnya menemukan berita yang mengarah kepada dirinya dan juga Kristy, lalu Jimmy membacanya dan merasa geli hatinya.
"Hehehe, kalau kenyataanya benar seperti ini, bagaimana dong," ujar Jimmy.
"Jadi kamu mendekati aku, demi proyek itu?" tanya Kristy.
Jimmy menghela nafas, lalu menjawab," Aku mendapat proyek ini dari Andreas Cheung dan Louis Orlando. Tak ada hubungannya dengan Kristal Yelena".
"Kedekatanku dengan Kristal Yelena sebenarnya sudah lama terjadi. Cuma aku bodoh tidak peka dan tidak berani maju mendekati perempuan itu sedari awal, ditambah perempuan itu juga selalu menjaga jarak dan menutupi sikapnya kepada aku".
"Sejak awal kenal Kristal Yelena alias Kristy si rambut gulali, aku tidak pernah tahu kalau dia adalah anaknya bapak Sumargo Handoyo pemilik perusahaan Margo's Group".
__ADS_1
"Jadi aku akan berusaha memperjuangkan hati nona rambut gulali sebagai pemilik Big Beauty Resto, bukan sebagai anak konglomerat. Karena aku pertama mengenal perempuan itu sebagai pemilik rumah makan," sahut Jimmy menjelaskan panjang lebar.
"Jadi kamu mengaku bodoh?" tanya Kristy sambil menahan tawa.
"Iyalah, aku bodoh. Padahal sejak abangku masih hidup, beliau selalu mendorong aku untuk mendekati pemilik Big Beauty Resto," sahut Jimmy.
"Memangnya siapa pemilik Big Beauty Resto itu?" Kristy mulai sok manja.
Jimmy mendengus, lalu menjawab," Anak kucing yang suka sembunyi di kolong meja".
"Aku anaknya ibu Ivanna, bukan anak kucing," Kristy mulai protes manja.
"Oke, anak ibu Ivanna, ayo keluar dari kolong meja dan duduk bersamaku di sini. Cepat!!!" perintah Jimmy.
Kristy mulai bergerak keluar dari kolong meja kerjanya, dan berusaha berdiri. Namun karena terlalu lama menekuk kaki di kolong meja, kakinya terasa sakit.
"Oh...Jim...tolong!!!" seru Kristy kesakitan.
Lalu Jimmy segera meraih tangan Kristy dan memeluk bahunya membantunya berdiri.
Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Jimmy, dia segera memeluk Kristy dengan erat.
"Apa-apaan ini!!!" Kristy berusaha mendorong Jimmy.
Tapi Jimmy yang bertubuh tinggi besar tentu lebih kuat, dan dia tetap memeluk Kristy.
"Kata ibuku dulu waktu kita kecil, kamu suka kalau aku peluk dan aku cium pipinya. Kamu tidak marah, malah tertawa senang. Masa sekarang kamu marah sama aku," ujar Jimmy masih tetap memeluk Kristy.
"Itu kan waktu kecil," Kristy jadi sewot.
"Tapi aku suka memeluk kamu, ternyata kamu harum banget".
"Lepaskan Jim, aku malu".
"Waktu kecil enggak malu".
"Iya, itu dulu waktu kecil. Jadi, please....lepaskan aku. Malu nanti kalau ada pegawai masuk".
Jimmy melonggarkan pelukannya, terlihat Kristy wajahnya merah menahan malu. Melihat itu malah membuat Jimmy jadi gemas, lantas tanpa pikir panjang lagi dia cium pipi gadis itu.
"Iiihhh....Jimmy....!!!" Kristy mendorong Jimmy.
"Hahahaha, sorry...habisnya kamu bikin aku gemas. Jangan marah dong," Jimmy mencoba meminta maaf kepada Kristy yang tengah cemberut.
"Sebal deh, kamu tenyata genit sekali," ujar Kristy masih cemberut.
"Jujur, aku baru sekali ini lagi memeluk dan mencium perempuan. Aku tidak bohong," sahut Jimmy menatap Kristy dengan kedua jarinya membentuk huruf "V".
Kristy diam saja tidak menjawab, sebenarnya dalam hatinya dia merasa senang dan bahagia bisa dipeluk dan dicium oleh Jimmy, tapi tentu saja akan jatuh harga diri kalau memperlihatkan dirinya suka atas perlakuan Jimmy barusan.
"Aku harus pergi menghadiri rapat di kampus milik ibuku. Kamu bisa mengantarkan aku kesana atau tidak?" tanya Kristy dengan wajah masih cemberut kepada Jimmy.
"Ayo, kampus tempat kak Soraya mengajar bukan?" Jimmy balik bertanya dan di jawab dengan anggukan oleh Kristy.
"Tapi aku tidak bisa menjemput lagi dari kampus dan mengantarmu kemari lagi. Hari ini aku akan sibuk di lapangan".
"Tidak apa-apa, nanti aku pulang bisa ikut mama atau Stevie," sahut Kristy.
Jimmy paham dan segera meminta Kristy untuk mengganti pakaian juga memperbaiki dandanan, sementara dirinya akan menunggu di bawah.
"Boss ganteng, bagaimana? aman?" tanya Oci setibanya Jimmy di bawah.
"Aman dong, Jimmy gitu loh," sahut Jimmy sambil menepuk dada dan mengangkat alisnya.
"Siiipp... deh...," sahut Oci sambil mengedipkan matanya.
"Kamu tidak bisa pakai sepatu perempuan?" tanya Jimmy sambil menatap kaki Kristy yang berbalut sepatu sneakers.
"Enak pakai sepatu begini, istri presiden kita juga sering memakai sepatu begini," kilah Kristy sambil melirik manja ke arah Jimmy.
"Oke, yang penting kamu nyaman. Yuk, kita berangkat sekarang," ajak Jimmy.
"Sebentar!!!" seru Kristy sambil berlari kecil ke dalam dapur.
Terlihat dia seperti memberikan instruksi kepada seluruh timnya, lalu dia keluar dapur sambil membawa bungkusan.
"Ini roti sandwich, aku sengaja buat untukmu," ujar Kristy sambil memberikan bungkusan makanan kepada Jimmy.
"Terima kasih, pasti enak. Nanti aku makan," sahut Jimmy terlihat gembira sambil keluar rumah makan menuju mobilnya.
Di dalam mobil seperti biasa selalu hening sejenak walau Kristy berada di dalamnya.
"Kristy, apakah kamu tidak punya keinginan memanggilku abang, atau kakak, atau mas?" tanya Jimmy iseng.
"Memangnya mau dipanggil apa olehku? kakak-kakakku saja selama ini aku panggil nama saja. Ando dan Epi," sahut Kristy memberitahu bagaimana dia memanggil Louis Orlando dan juga Stevie.
"Oh...iya sih, kalau di keluargaku, yang lebih muda memanggil abang kepada yang lebih tua," ujar Jimmy menjelaskan juga kebiasan di keluarganya.
"Ibu Regina kan orang Indonesia, sementara ibuku orang Rusia dan ibunya Ando juga dulu orang Amerika. Keluarga kami lebih tidak masalah dengan panggilan kepada yang lebih tua," Kristy menjelaskan lagi.
"Ibunya Ando orang Amerika?" Jimmy bertanya kebingungan.
"Iya, ibunya Ando meninggal karena dibunuh oleh perampok saat Ando masih kecil. Lalu papa menikah lagi dengan ibuku yang sudah punya Stevie. Dari pernikahan mereka, lahirlah aku. Tapi anehnya yang bisa dekat sama papa, dan bisa paham keinginan papa adalah Stevie. Sementara aku dan Ando tidak bisa memahami papa, kami sering berselisih paham," Kristy mulai terbuka kepada Jimmy.
"Makanya kamu tinggal di ruangan atas rumah makan, yah. Jujur waktu dulu kamu minta aku membuatkan kantor dan kamar tidur lengkap di lantai atas, pikirku untuk dipakai sekedar istirahat siang saja," Jimmy ingat kalau dulu dia yang membuat ruangan lantai atas rumah makannya Kristy.
"Perempuan tinggal sendirian di rumah makan, apakah kamu tidak merasa takut?" tanya Jimmy.
"Sesekali ada rasa takut, bukan takut setan tapi takut pada orang jahat. Apalagi belakangan ini sering ada kiriman bunga misterius hampir setiap malam," jawab Kristy terlihat gusar.
"Kamu setiap malam minta karyawanmu periksa dulu semua pintu dan jendela kalau mau pulang. Nanti malam aku coba periksa dulu, kalau perlu tambahkan CCTV di beberapa sudut lagi," Jimmy merasa khawatir.
"Kamu mengkhawatirkan aku?" tanya Kristy sambil melirik Jimmy.
"Khawatir dong, nanti kamu di culik orang, bagaimana? Apalagi sampai ada yang berbuat jahat lainnya. Amit-amit, jangan sampai," terlihat Jimmy sangat khawatir sekali.
"Jimmy...oh...Jimmy, kamu lucu bisa khawatir sama aku," sahut Kristy sambil tertawa.
Jimmy melirik Kristy sambil bibirnya mengkerucut.
"Oh...Jim...hahahaha, aku panggil kamu Ojim saja yah...Hahahaha," Kristy tertawa geli menyebut panggilan itu.
"Ojim?" tanya Jimmy terkesan tidak suka mendengarnya.
"Iya...Hahahaha...Ojim....aku panggil kamu Ojim. Terserah kamu mau suka atau tidak, yang penting kamu adalah Ojim...hahahaha," Kristy tertawa lagi dengan bahagia.
"Terserah kamu mau panggil aku apa saja bebas. Tapi....kamu juga harus membebaskan aku mencium kamu," sahut Jimmy sambil merasa menang.
"Enak saja, memangnya aku anak kecil, ini aku sudah dewasa sekarang," Kristy protes atas ucapan Jimmy tadi.
"Iya, enggak masalah dong. Sekarang ciuman versi dewasa, bukan seperti jaman kecil dulu," ujar Jimmy tak mau kalah.
Kristy melirik tajam sambil berkata," No Way!!!".
Wajahnya merah merona karena malu mendengar ucapan Jimmy tadi.
__ADS_1
Akhirnya mereka tiba di depan pintu gerbang kampus.
"Aku turun di depan saja, nanti aku jalan sedikit ke arah ruang rapat," pinta Kristy.
"Oke, tapi nanti malam aku cium kamu yah," ujar Jimmy menggoda Kristy lagi.
Kristy menjulurkan lidah ke arah Jimmy, sambil membuka pintu mobil. Namun sebelum turun Kristy seperti mencari sesuatu.
"Ada apa?" tanya Jimmy.
"Kamu lihat tidak barusan?" Kristy seolah-olah mencari sesuatu di bawah kursi mobil.
"Apa sih?" Jimmy jadi ikut mencari dan tentunya wajahnya jadi mendekat ke arah Kristy.
Tanpa basa-basi lagi, Kristy langsung mengecup pipi kiri Jimmy, lalu segera turun dari mobil dan menutup pintunya cepat-cepat.
Tinggal Jimmy bengong, karena baru saja kecolongan ciuman.
Saat memasuki ruangan rapat, ternyata rapat baru saja dimulai. Terlihat ibu Ivanna tampak lega melihat kedatangan Kristy yang baru saja memasuki ruangan dan segera duduk di samping Soraya.
Di dalam ruangan rapat terlihat seorang pria asing berusia sekitar empat puluh tahunan sedang duduk di samping ibu Ivanna.
Rapat dimulai dengan agenda rencana ibu Ivanna untuk mengadakan road show ke sekolah menengah atas dan kejuruan se Jabotabek selama satu tahun ini.
Road show memperkenalkan kepada siswa SMA dan SMK yang akan lulus untuk memilih melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi mereka.
"Akan ada gedung baru, dimana nanti pendidikan perhotelan dan pariwisata, juga bahasa asing akan diselenggarakan di gedung baru tersebut," ujar Ibu Ivanna.
"Bapak Raharja sebagai rektor, akan diperpanjang masa kerjanya sampai lima tahun le depan. Untuk itu nanti akan ada beberapa pembantu rektor, saya sebutkan yaitu ibu Ira sebagai pembantu rektor 1 di bidang ekonomi dan sosial, bapak Yudha pembantu rektor 2 di bidang teknik, ibu Soraya pembantu rektor 3 di bidang bahasa asing dan yang terbaru yaitu pembantu rektor 4 bapak John Dawson di bidang pendidikan perhotelan dan pariwisata".
"Perkenalkan ini adalah bapak John Dawson, beliau adalah pengajar di Michigan University. Dan sekarang beliau bergabung dengan kita di sini. Beliau menguasai tujuh bahasa asing dan juga sangat menguasai bidang perhotelan".
Ibu Ivanna memperkenalkan seorang tenaga pengajar asing yang baru bergabung di perguruan tinggi tersebut.
"Silahkan anda memperkenalkan diri kepada semua rekan- rekan di sini," pinta ibu Ivanna kepadanya.
"Hallo, saya John Dawson. Panggil saja saya John, usia saya 44 tahun, masih lajang dan saya senang bisa bergabung di kampus ini," ujar John Dawson memperkenalkan dirinya.
"Rupanya sambil promosi diri," sambut ibu Ivanna sambil tertawa diikuti semua yang hadir.
"Hahahaha, ada anak saya Kristy masih gadis, dan sebelahnya ada ibu Soraya seorang single parent, silahkan pak John bisa dekati salah satu," ibu Ivanna dengan santai berkata demikian.
Kristy tentu saja langsung cemberut, sementara Soraya hanya tertawa cekikikan menanggapinya.
Kemudian pembicaraan berlangsung lagi ke rencana untuk road show ke berbagai sekolah menengah atas dan kejuruan.
Sambil membahas materi road show, diam-diam John Dawson memperhatikan kedua wanita yang kebetulan duduk bersebelahan itu.
"Yang gadis anaknya ibu Ivanna, tapi yang janda malah lebih menarik. Aku rasa dia bukan janda sembarangan yang mudah digoda. Kalau yang gadis sepertinya sulit didekati, salah langkah bisa-bisa aku di deportasi oleh ibu Ivanna," bisik John dalam hatinya.
"Baiklah, ibu Soraya saya tunjuk anda sebagai ketua penyelenggara road show. Nanti dibantu pak John sebagai wakilnya, dan anak saya Stevie selaku humas kampus yang akan mendukung semua rencana ini. Nanti semua kegiatan yang akan diselenggarakan harus berkoordinasi dengan Stevie".
"Sementara itu, Kristy nanti akan mengadakan lomba memasak antar SMK yang ada jurusan tata boga. Harapannya nanti peserta lomba bisa tertarik melanjutkan pendidikan di bidang kitchen perhotelan di kampus kita".
Demikian penugasan yang dilakukan oleh ibu Ivanna, dan Soraya diminta untuk membentuk kepanitiaan bersama Kristy agar semua acara bisa berlangsung sesuai harapan.
Malam hari menjelang rumah makan tutup sekitar pukul sembilan malam, Jimmy baru saja datang dan memarkirkan mobilnya di halaman Big Beauty Resto.
"Eh, boss ganteng kok baru datang?" tanya Oci kepada Jimmy.
"Aku baru selesai dari lapangan, lalu langsung kemari. Kamu punya makanan apa?" tanya Jimmy kepada Oci.
"Sebentar, Oci ke boss cantik dulu. Doi lagi di atas, enggak tahu barusan ketika melihat mobil boss ganteng parkir, malah lari ke atas," sahut Oci lalu segera naik ke atas.
Jimmy duduk di salah satu kursi di rumah makan itu, hanya tinggal dua meja yang masih ada pelanggan makan.
Di pintu sudah digantung tulisan "Close", berarti mereka sebenarnya akan segera tutup.
Tak lama Oci turun dan langsung menuju dapur, beberapa saat kemudian segera keluar dapur sambil membawa nampan berisi makanan dan minuman untuk Jimmy.
"Jadi aku makan ini sambil ditemani Oci? Memangnya dia lagi apa?" tanya Jimmy merasa tidak nyaman ketika Oci yang duduk di hadapannya.
"Ada lagi diam saja, tapi barusan bilangnya begitu. Minta Oci menemani boss ganteng dulu sebelum pulang," sahut Oci apa adanya.
Lantas Jimmy mengeluarkan ponselnya dan menelepon Kristy.
"Kamu tidak kasihan sama Oci, dia kelelahan, tega sekali kamu memerintah pegawai harus menuruti keinginan kamu. Cepat sini turun, temani aku makan," ujar Jimmy tanpa memberi jeda yang bisa membuat Kristy membantah.
Selang lima menit kemudian, terlihat Kristy menuruni tangga dari lantai atas sambil melipat bibirnya.
"Oci, sudah kamu pulang saja. Tolong yang lainnya, periksa dulu semua pintu dan jendela sebelum pulang, apalagi pintu belakang tolong di kunci dengan benar," ujar Kristy malah langsung memberi perintah kepada semua pegawainya ketika turun sambil pura-pura tidak melihat Jimmy.
Melihat tingkah Kristy, membuat Jimmy ingin ketawa karena terlihat jelas gadis itu sedang salah tingkah.
Satu persatu pegawai rumah makan pamit pulang setelah memastikan semua pintu dan jendela terkunci rapat.
"Oci pamit yah," ujar Oci sambil mengedipkan mata kepada Jimmy.
"Ya, terima kasih Oci. Hati-hati di jalan, salam untuk suami dan anak-anakmu," sahut Kristy yang masih juga belum duduk menemani Jimmy.
Semua karyawan Big Beauty Resto saling berbisik melihat Jimmy sekarang sudah berani menunjukan kedekatannya dengan Kristy.
Hanya saja atasan mereka itu terlihat masih tampak malu-malu untuk mengakui kedekatan hubungan diantara dengan Jimmy.
"Kamu masih mau terus berdiri di situ atau duduk di sini menenami aku makan?" tanya Jimmy sambil menatap Kristy.
Mendengar itu, lalu Kristy melangkah mendekati meja tempat Jimmy yang sedang duduk menantinya, lalu menarik kursi dan duduk di hadapan Jimmy.
"Kenapa sih, kamu seperti tidak suka aku kemari?" tanya Jimmy sambil menatap Kristy.
"Ah, tidak, aku senang kok kamu kemari. Katanya mau melihat dan merencanakan penambahan CCTV," sahut Kristy malu-malu.
"Aku sudah tahu, nanti besok aku bawa temanku yang dulu memasang CCTV di sini untuk menambahkan di dapur dan di pintu belakang. Besok aku akan mengajaknya memeriksa langsung tempat ini sambil melihat komputermu," ujar Jimmy menjelaskan.
Kristy senyum, dia senang sekali merasakan lagi ada pria yang perhatian kepada dirinya.
Lalu Kristy juga menanyakan pekerjaan Jimmy hari ini, dan menceritakan soal rapat siang tadi sambil menenami Jimmy makan sampai selesai.
"Aku pulang dulu, besok siang aku kemari lagi bersama temanku yang ahli memasang CCTV," ujar Jimmy sambil beranjak berdiri.
"Iya, hati-hati di jalan," sahut Kristy terlihat masih salah tingkah.
"Cium dulu, dong," ujar Jimmy.
"Kenapa sih, kok harus cium terus? aku malu tahu," sahut Kristy.
"Tadi siang ada yang cium pipi aku lalu kabur, sekarang tanggung jawab dong, harus mau aku balas cium juga," ujar Jimmy sambil memegang bahu Kristy.
"Tadi cuma iseng," sahut Kristy terus menunduk dengan wajah merah bak kepiting rebus.
Jimmy mengangkat dagu Kristy, lalu mendaratkan ciuman ke pipi kanan, kiri dan keningnya.
"Bibirnya nanti lagi, yah. Aku takut nafsu," bisik Jimmy ke telinga Kristy.
Tentu saja Kristy semakin merah wajahnya, lalu dia mencubit manja lengan Jimmy, segera saja Jimmy juga pura-pura meringis kesakitan.
__ADS_1
Setelah itu Jimmy pamit pulang, sambil menekankan kepada Kristy agar pintu depan ini dikunci rapat sebelum naik ke atas.
Dari seberang jalan ada seseorang menggenggam seikat bunga, namun tangan lainnya mengepal ketika melihat Kristy terlihat mesra dengan Jimmy.