PENGKHIATAN CINTA

PENGKHIATAN CINTA
Beban Pikiran


__ADS_3

Pada hari yang sama di Big Beauty Resto, Laksamana Samsul sedang membawa kedua anaknya untuk makan siang bersamanya.


Laksamana Samsul adalah seorang duda beranak dua orang, usia kedua anaknya sudah cukup besar.


Ada Ardi yang sekarang sudah lima belas tahun dan juga Rina yang masih berusia sekitar delapan tahun.


Laksamana Samsul berpisah dengan istrinya, walaupun bagi seorang abdi negara perpisahan dalam suatu pernikahan dengan istri atau suami bukanlah masalah yang mudah.


Banyak prosedur yang harus ditempuh sebelum akhirnya perpisahan itu terjadi.


Mantan istrinya memaksa minta berpisah karena sudah tidak ada lagi kecocokan dan sering terjadi perselisihan dalam rumah tangganya.


Kedua anaknya ikut dengan ibunya, namun sesekali kedua anaknya akan meluangkan waktu bersama ayahnya.


Kebetulan hari ini di sekolah kedua anaknya sedang ada rapat guru, sehingga siswa bisa pulang lebih cepat.


Laksamana Samsul segera memanfaatkan momen ini dengan membawa kedua anaknya untuk diperkenalkan dengan Kristy.


Sungguh aneh memang, Laksamana Samsul hampir tiap hari datang ke rumah makan, padahal bukan untuk makan tapi hanya sekedar menyapa Kristy, atau membawakan bunga untuk Kristy.


Padahal Kristy sendiri merasa tidak nyaman akan hal itu, tapi dia mencoba professional dengan tetap menjaga keramahtamahannya kepada setiap tamu yang datang ke rumah makannya tersebut.


"Selamat datang, Pak Samsul. Silahkan masuk, wah....sama siapa ini?" sapa Kristy dengan ramah sambil menyambut Rina anak bungsunya Laksamana Samsul.


"Siapa namamu, sayang?"tanya Kristy kepada Rina.


"Aku Marina, tante," jawab Rina.


"Tante bisa panggil kamu dengan panggilan apa? Mari atau Rina?"tanya Kristy lagi.


"Panggil aku Rina, dan ini Candy boneka kesayanganku," sahut Rina sambil memperlihatkan boneka beruang yang dibawanya.


"Halo Candy, senang kenalan sama kamu," ujar Kristy seraya menyapa boneka milik Rina sehingga membuat anak kecil itu terlihat bahagia.


"Kalau ini Ardi, dia kakaknya Rina," ujar Laksamana Samsul sambil menunjuk ke arah anak sulungnya.


"Halo juga Ardi, tante senang berkenalan dengan kamu," sapa Kristy sambil mempersilahkan mereka bertiga masuk dan menenami sampai ke meja tempat favoritnya Laksamana Samsul.


Hampir semua orang senang duduk di sayap timur rumah makannya Kristy, karena menghadap kaca dan di halaman rumah makan juga banyak bunga-bunga yang sengaja di tanam Kristy agar menambah indah pemandangannya.


Sementara di sayap kanan bangunan, kebanyakan disukai orang yang pacaran karena lebih tertutup, pemandangannya hanya tembok besar yang dihiasi grafiti dengan coretan-coretan tulisan semangat dan romantis.


Di pojok sayap kanan juga ada toilet umum, sementara di bagian tengah adalah tempat kasir dan di belakangnya adalah dapur besar.


Di atas toilet tadi ada hiasan kaca dekoratif besar berukiran bunga mawar yang daun dan kelopaknya penuh tetesan air embun.


Padahal dibalik kaca itu adalah kamar mandinya Kristy, dia bisa melihat orang di bawah sambil mandi. Sama di samping kaca dekoratif tadi, ada kaca lain tapi hanya polos saja namun ditutupi stiker khusus.


Sehingga Kristy bisa melihat keadaan di luar sementara dia ada di dalam kamarnya.


Selama ini Kristy memang tinggal di lantai atas rumah makannya.


Begitu naik tangga ke atas, ada ruangan yang pintunya selalu tertutup rapat. Itu adalah kantornya, dan di sebelahnya adalah kamar tidur dan kamar mandinya.


Orang luar tidak akan ada yang menyangka kalau di lantai atas itu kamar tidur yang mewah milik seorang Kristy.


Dan siapa yang merancang semua itu, tentunya dari tangan seorang lelaki tampan bertubuh tinggi yang bernama Jimmy Maliangkay.


Oci terlihat melayani keluarga Laksamana Samsul yang sedang melakukan pemesanan makanan.


"Kenapa bukan Kristy yang biasanya mencatat pesanan untuk saya?"tanya Laksamana Samsul dengan wajah kurang suka kepada Oci.


"Boss cantik sedang menerima telepon, jadi beliau meminta saya untuk melayani pesanan makanan Pak Samsul," sahut Oci dengan santai.


Laksamana Samsul mendengus terlihat tidak nyaman karena dirinya dilayani oleh Oci yang di matanya hanya seorang pegawai saja.


Ardi dan Rina terlihat senang saja dan mereka memesan makanan dan minuman kesukaan mereka.


Saat itu Kristy sedang menerima telepon dari Andre kakak iparnya.


"Kalau meeting kecil bisa di bagian kanan, nanti aku siapkan," ujar Kristy.


"No, aku inginnya ruangan khusus, karena nanti akan disediakan infocus. Karena bukan cuma sekedar ngobrol tapi ini adalah persentasi," Andre minta disediakan ruangan khusus.


"Paling lantai dua di sebelah kantorku, itu kan ruangan kosong. Tapi bisa nanti aku atur untuk presentasi di atas sini," sahut Kristy menjelaskan kepada kakak iparnya.


"Oke, kamu atur untuk sekitar lima orang yang akan datang. Nanti tolong siapkan perangkat listrik yang memadai, karena nanti aku juga pasang laptop lagi untuk papa dan mama yang akan ikut dalam meeting tersebut," ujar Andre lagi.


"Ya ampun, mengapa tidak kemari juga mereka? sekalian meeting di sini nanti aku buatkan makanan enak," Kristy heran dengan penjelasan iparnya.


"Pokoknya begitu saja, kamu turuti saja permintaan ini. Hari Selasa, jam sepuluh pagi semua harus sudah beres sesuai dengan apa aku sampaikan ini," Andre menegaskan kepada Kristy.


"Iya deh, siap boss. Aku siapkan sesuai permintaan para boss besar. Aku kan cuma remahan biskuit, jadi hanya bisa menurut saja keinginan boss," jawab Kristy sambil menggoda kakak iparnya.


Andre tak banyak bicara lagi, lalu segera menutup teleponnya. Tinggal Kristy yang merasa aneh, karena tiba-tiba saja kakak iparnya ingin mengadakan meeting di rumah makannya.


"Hmmm, semoga saja ini awalan baru. Ada meeting di sini, nanti orang lain yang melihat akan ikut tertarik juga. Daripada jadi kedai kopi, lebih baik jadi ruangan meeting," guman Kristy sambil mengamati ruangan sebelah kantornya yang selama ini masih kosong begitu saja belum digunakan menjadi apapun.


Kedua anak Samsul sedang mulai makan, Rina anak kecil itu mengajak bonekanya makan. Dia pura-pura menyuapi bonekanya sebelum memasukan sendok berisi makanan ke dalam mulutnya.


Samsul tadinya mau secara langsung mengenalkan Kristy kepada kedua anaknya itu sebagai calon ibu sambung bagi kedua anaknya.


Tapi sejak tadi dia melihat Kristy begitu sibuk berbicara di telepon genggamnya sambil berjalan bolak-balik ke seluruh ruangan rumah makannya. Bahkan sekarang Kristy ada di lantai dua bangunan itu, entah sedang berbicara dengan siapa tapi membuat Samsul jadi sedikit emosi.


"Rina, makan jangan sambil bicara sama boneka," tegur Samsul saat melihat anaknya sambil makan sambil sibuk dengan bonekanya.


"Tapi kalau sama ibu boleh, kok ayah. Candy kan teman Rina, jadi ibu tidak melarang aku makan sama boneka," sahut anaknya.


"Ibu kalian itu salah, dia salah mendidik kalian. Sekarang kalian sedang bersama ayah, jadi makan yang benar, tidak sambil bicara apalagi sama boneka," Samsul berkata tegas kepada anaknya.


"Ayah, bukannya tadi saat menjemput kami, ayah bilang kalau kita akan bersenang-senang. Tapi mengapa ayah sekarang terlihat kesal?" Ardi bertanya karena malas kalau ayahnya mulai marah-marah.


"Ayah tidak kesal, hanya tidak baik kalau makan sambil bicara, apalagi dengan boneka," jawab Samsul dengan tegas.

__ADS_1


"Tapi ayah, Rina tidak pernah bisa lepas dengan boneka itu. Asal ayah tahu, Rina jadi seperti ini juga karena perlakuan ayah selama ini kepada kami," Ardi tidak terima kalau ayahnya menekan adiknya.


"Jaga bicaramu, tahu apa kamu. Sudah kamu habiskan makananmu cepat, jangan banyak bicara," Samsul menatap anaknya dengan sorot yang tajam.


Ardi juga membalas tatapan ayahnya dengan sorotan yang sama tajamnya.


"Ardi sudah besar, Ardi tidak akan terima kalau ayah masih saja sama seperti dulu. Aku sekarang sudah berani melawan ayah," desis Ardi sambil tatapannya tajam kepada ayahnya.


"Ini di rumah makan, jangan sampai kita membuat keributan. Sudah makan cepat, jangan banyak bicara lagi," Samsul berkata dengan tegas.


Ardi kembali memakan makanannya sambil sesekali menatap ayahnya seakan penuh kebencian.


Rina juga makan tapi terlihat sangat tersiksa, karena biasanya dia makan selalu bersama Candy.


Sekarang ayahnya menyuruh dengan paksa agar Candy harus disimpan di sampingnya tanpa harus pura-pura diajak makan.


Suap demi suap yang masuk ke mulut kecil Rina, membuat dirinya sangat tertekan. Dia lama-lama tak sanggup kalau tidak mengajak bonekanya makan, karena bagi dirinya temannya hanya boneka Candy semata.


Rina terlihat mencucurkan air mata sambil mengunyah makanannya, anak kecil itu sangat tertekan dan merasa sedih sekali.


"Dik, ayo makan, ajak Candy makan. Ayo tak apa-apa, jangan menangis sayang," ujar Ardi ketika melihat adiknya menangis.


"Ardi, ayah bilang diam. Kalian habiskan makanan kalian segera!!!" Samsul mulai naik darah kepada anaknya.


Rina yang sudah tak tahan, lalu dia menangis sejadi-jadinya. Bertepatan saat itu Kristy baru saja turun dari lantai atas, dan sangat terkejut melihat anaknya Laksamana Samsul menangis keras.


"Ada apa sayang?" tanya Kristy merasa iba.


"Kristy!!! ini bukan urusan kamu. Menyingkir dari sini!!!" bentak Samsul kepada Kristy.


Tentunya Kristy sangat terkesiap karena tiba-tiba saja dibentuk oleh Samsul.


"Ayah!!!, apa maksud ayah?!!! mengapa jadi marah kepada orang lain juga?!!!" Ardi berdiri dan melotot kepada ayahnya.


"AAAAARRRRGGGHHH!!! Sialan kamu Ardi, kamu berani sekali memarahi ayahmu. Awas kamu!!! rasakan tamparanku!!!" teriak Samsul.


Melihat Samsul beranjak hendak memukul anaknya, Kristy segera maju lalu memegang tangan Samsul dan menariknya lantas mendorong tubuh Samsul sampai jatuh.


"Pak Samsul!!! apa maksudnya mau memukul anak sendiri!!!" Kristy berteriak keras kepada Samsul karena tidak suka melihat ada orang tua mau memukul anak sendiri.


"Brengs*k kamu Ardi!!! Kamu juga kalau tak tahu urusan kami jangan ikut campur!!!" Samsul marah sambil menunjuk ke arah Ardi dan Kristy.


"Ayo pulang!!! sekarang juga!!!" Samsul memerintahkan kedua anaknya untuk ikut pulang bersama dia.


"Rina tak mau pulang sama ayah. Rina mau dijemput bunda. BUNDA!!!!".


Mendengar gadis kecil itu menangis, Kristy segera berlari dan memeluknya.


"Ayah pulang saja sendiri, aku mau minta dijemput bunda. Ayah belum sembuh, ayah belum berubah. Sudah ayah pergi saja dari sini," Ardi yang usianya sekarang tujuh belas tahun sambil berdiri dihadapan ayahnya dan meminta ayahnya untuk segera pergi dari rumah makan itu.


Laksamana Samsul segera meninggalkan rumah makan itu sambil sebelumnya meletakan beberapa lembar uang kertas di atas meja.


"Sudah, nanti aku yang antar kalian pulang. Kalian tenang saja dulu, terutama kamu, nak. Sudah jangan menangis lagi," Kristy tentu saja jadi bingung dan tak habis pikir melihat Laksamana Samsul hampir saja berbuat yang tak layak di rumah makan miliknya.


Tapi kalau diperhatikan anak itu memang agak aneh, kalau tidak ditanya dia seakan berbicara dengan bonekanya berdua saja.


Memang kalau ditanya orang lain akan dijawab sesuai pertanyaan dari lawan bicaranya, tapi bila dia tak ada yang menyapa, maka hanya bicara kepada bonekanya saja dan tampak tak peduli dengan keadaan sekitar.


Ardi duduk di kursi samping, sementara Kristy sudah siap di kursi pengemudi. Ketika dilihat kedua anak itu sudah siap, maka mobil yang dikemudikan Kristy siap mengantar kedua anaknya Samsul ke rumah ibunya.


"Lima tahun yang lalu ayah baru pulang dari Palestina. Ayah dikirim ke sana bergabung dengan pasukan tentara PBB. Ayah berangkat ketika Rina masih balita, selama tiga tahun ayah berada di Palestina," Ardi memulai ceritanya kepada Kristy.


"Ternyata ayah sempat diculik oleh tentara musuh, dan disekap juga disiksa hampir enam bulan lamanya. Beruntung ayah bisa diselamatkan oleh tentara PBB lainnya".


"Tapi sepulang dari sana, ayah jadi berbuah. Cepat tersinggung dan sering marah tak jelas. Bahkan aku juga bunda sering menjadi sasaran pukulan dan tonjokan tangannya".


"Mirisnya Rina juga pernah jadi sasaran kemarahan ayah. Aku tak sanggup menceritakannya, yang pasti setelah kejadian itu dia jadi berubah. Setiap saat hanya bicara dengan bonekanya, jadi tak peduli dengan kehidupan sekitar," Ardi terlihat menangis saat menceritakan adiknya.


Ardi ingat bagaimana dulu ayahnya mengangkat dan membanting tubuh kecil adiknya, lalu menendangnya sampai masuk ke kolong kursi dan pingsan.


Adiknya itu dirawat selama dua bulan lamanya di rumah sakit karena tulang punggungnya patah.


Padahal ketika itu Rina hanya menangis minta dibelikan es krim, saat itu Samsul baru pulang kerja dan langsung marah karena tak senang mendengar tangisan anaknya.


Kristy tak bisa memberikan komentar apapun, hanya bisa menepuk bahu Ardi pertanda memberikan semangat agar anak itu harus bisa sabar menghadapi kenyataan hidup.


Tak lama mereka tiba di rumah ibunya anak-anak itu, ketika melihat anak-anaknya datang segera ibunya berlari memeluk erat Rina dan juga Ardi.


"Terima kasih, maaf kami jadi merepotkan ibu Kristy. Mohon maaf kami jadi merusak suasana rumah makan anda," ujar ibunya Ardi dan Rina.


"Tidak masalah, yang penting anak-anak ibu baik-baik saja," sahut Kristy.


Lalu Kristy juga pamit meninggalkan keluarga tersebut, dan sepanjang jalan dia bergidik merinding membayangkan apa tadi telah terjadi.


"Aku rasa Pak Samsul mempunyai gangguan mental setelah disiksa dan disekap oleh musuh," guman Kristy sambil mengemudikan mobilnya menuju ke rumah makannya lagi.


Di tempat lain terlihat Soraya tengah menemui Rosalinda, rupanya dia ingin meminta tolong kepada istri kakak iparnya itu.


"Tumben sekali kamu meminta bertemu denganku. Ada apakah gerangan?" tanya Rosalinda ketika ditemui Soraya di teras rumahnya.


"Aku mau minta tolong sama Kak Rosa, karena aku yakin pasti Kak Rosa yang paling bisa melakukannya," jawab Soraya.


"Melakukan apa?" tanya Rosalinda lagi.


Lalu Soraya menceritakan perihal Nania istrinya pendeta Yosep yang saat ini masih terbaring di rumah sakit.


"Bukankah biaya rumah sakit sudah dibayar oleh Bang Robert, karena Bang Robert menggunakan hak istimewanya untuk membayar pengobatan Nania. Padahal hak istimewa itu baru boleh digunakan kalau keluarga inti dokter yang sakit," Rosalinda merasa aneh dengan keinginan Soraya yang mengajaknya mengumpulkan sumbangan untuk Nania.


"Kak Rosa, bukankah pulang dari rumah sakit kehidupan masih terus berlanjut. Bahkan masih harus ada rawat jalan setiap seminggu sekali ke dokter. Juga biaya-biaya lainnya, tak mungkin mereka harus mengandalkan uang dari gereja terus," Soraya berusaha menjelaskan kepada Rosalinda.


"Hmmm, jadi maksudnya kamu nanti aku minta sumbangan ke teman-temanku dan juga hari minggu membantu kamu minta sumbangan di gereja. Begitukan maksud kamu?" tanya Rosalinda sambil senyum kepada Soraya.


"Benar sekali, secara Kak Rosa punya teman-teman ibu-ibu sosialita. Masa tak mau memberikan sumbangan kepada yang benar-benar membutuhkan," sahut Soraya sambil mengedipkan matanya.

__ADS_1


"Oke, tunggu saja nanti hari minggu aku kerahkan teman-teman yang kristiani akan aku ajak ibadah di gereja kita. Dan besoknya teman-teman yang muslim akan aku ajak ke rumah sakit," ujar Rosalinda sambil senyum lebar kepada Soraya.


"Aku percaya sama Kak Rosa, pasti Kak Rosa akan berhasil karena ahli dalam bidang begini," Soraya memuji Rosalinda dan tentu saja membuat Rosalinda merasa bangga.


Malam harinya di kota Palembang terlihat Aletha sedang berbincang bersama Ratna dan Fuad di rumah santai yang terletak dekat lobby penginapan sambil menikmati kopi.


"Terima kasih Mbak Ratna sudah mau membantu kami, khususnya untuk aku dan Anwar," ujar Aletha sambil menggenggam tangan Ratna.


"Kebetulan saja aku hendak bertemu Mas Fuad. Aku ini sahabatnya Asmila istrinya Mas Fuad. Sebelum kejadian kemarin, Asmila sedang dalam perjalanan menuju ke tempat tinggalku," Ratna menjelaskan kepada Aletha.


"Iya, aku tak tahu kalau istriku akan ke Palembang. Karena seingat aku dia ijin mau seminar di Jakarta," Fuad terlihat sedih dan kecewa.


"Aku tak tahu sama sekali kalau Asmila mengatakan demikian kepada Mas Fuad. Karena pembicaraan dan rencana ke tempat tinggalku tidak terjadi tiba-tiba, sudah lama direncanakan juga dijadwalkan," Ratna kembali menjelaskan kepada Fuad.


"Besok pulang dari Palembang, aku akan tinggal beberapa saat di Jakarta. Aku mau ke tempat kostnya Asmila untuk mengambil barang-barang miliknya dan juga ke kantornya yang di Jakarta," ujar Fuad sambil menghela nafasnya.


"Andai aku bisa ikut, aku juga ingin tahu kebenarannya Asmila. Karena aku merasa curiga juga dengan sosok Mario yang pergi bersamanya waktu itu," ujar Ratna terlihat wajahnya memikirkan sesuatu.


"Nah, aku juga rencananya akan berjumpa dengan Ibu Soraya istrinya Mario. Karena aku menemukan buku tabungan milik Mario di dalam tas Asmila," Fuad menceritakan penemuannya kepada Ratna.


"Semoga saja antara Asmila dan Mario tak ada apa-apa, aku tak suka mendengar pemberitaan di media dan tuduhan orang banyak kalau mereka berselingkuh," Ratna tiba-tiba merasa sedih.


"Wow, rupanya Pak Fuad juga mengalami masalah selingkuhan?" tanya Aletha yang baru paham atas kasus Fuad.


"Jujur aku curiga kalau istriku telah melakukan perselingkuhan. Karena selama ini aku dan istri baik-baik saja, bahkan sering menikmati suasana berdua bersamanya," tukas Fuad.


"Memang perselingkuhan itu misteri, aku sendiri sampai kecolongan. Aku tak menyangka sampai ada anak diantara mereka," Aletha terlihat terluka sekali.


"Maaf, kami tak tahu kasus ibu Aletha, tapi saya harap ibu harus tetap tegar. Setidaknya ibu harus tetap menunjukkan kalau ibu tetap semangat di hadapan anak ibu," Fuad menatap Aletha ketika menasehatinya.


"Ya Allah, cowok ini ganteng banget kalau bicara begitu," rintih batin Aletha yang tiba-tiba merasa terpesona saat Fuad menasehatinya.


"Astagfirullah," desis Aletha sambil menutup mulutnya.


Untung Fuad dan Ratna tampak tidak menyadari kalau Aletha sejak tadi sambil ngobrol sambil diam-diam mengagumi Fuad


"Kita akan tetap saling kontak,


apapun yang aku temui pastinya akan kuberi kabar kepada Mbak Ratna," ujar Fuad sambil senyum dan terlihat lagi oleh Aletha.


Jantung Aletha begitu berdebar ketika melihat senyum Fuad kepada Ratna.


"Pak Fuad, saya juga akan lama di Jakarta. Saya mau istirahat di apartemen adik saya, rasanya ingin menenangkan hati selama beberapa hari, jadi saya ambil cuti cukup lama," sela Aletha.


"Bagus, ibu harus begitu. Pekerjaan ibu sebagai apa?" tanya Fuad.


"Saya dokter gigi".


"Wow, ternyata. Saya sih kerja di perusahaan minyak negara".


"Hmmm, wow juga dong," sela Ratna sambil tertawa kecil.


Lagi-lagi Fuad cuma senyum saja, dan itu yang bikin Aletha menjadi galau.


"Ibu Aletha kapan ke Jakarta?" tanya Fuad.


"Besok pagi, kalau Pak Fuad?" Aletha berharap bersamaan.


"Saya lusa, besok saya ada rencana keliling kota bersama pak sopir yang tadi siang".


Aletha tiba-tiba merasa kecewa.


"Kalau Ibu Aletha lama di Jakarta nanti, apakah bersedia menemani saya untuk bertemu dengan Ibu Soraya nanti?" tiba-tiba Fuad bertanya begitu di saat Aletha sedang meneguk kopinya.


"Uhuk...uhuk...ya...uhuk...," Aletha tersedak sampai batuk.


"Maaf, saya tak bermaksud....," Fuad merasa tak enak hati.


"Tak apa-apa, saya bersedia kok. Nanti saya temani bapak untuk bertemu Ibu Soraya," jawaban mantap meluncur dari bibir Aletha.


Ratna malam itu tidur di kamar Aletha, kebetulan di penginapan itu tempat tidurnya kebanyakan dua buah berdampingan di hampir setiap kamarnya.


"Aku ke kamar mandi dulu, kalau malam tidak cuci muka tidak enak," Ratna ijin kepada Aletha.


"Iya, silahkan saja," Aletha menjawab sambil senyum.


Saat Ratna sudah masuk ke kamar mandi, terlihat Aletha memeluk bantal sambil menatap ponselnya sambil senyum-senyum sendiri.


Dia merasa begitu bahagia karena baru saja saling bertukar nomor kontak dengan Fuad.


"Ya Allah, aku baru kehilangan suami. Tapi mengapa aku harus berjumpa Fuad dan tenyata nasibnya sama dengan aku. Intinya lagi mengapa dia harus ganteng sehingga aku jadi tergoda," ujar Aletha berbicara sendirian.


Sementara di kamar lain Anwar terlihat begitu gelisah, dia bingung nanti harus menyampaikan apa kepada orang tuanya.


Lelaki di keluarga besarnya selalu ditanamkan moral untuk setia kepada pasangan, tapi mengapa Asrul bisa tidak setia kepada istrinya.


Anwar ingat ayahnya begitu merasa terpukul ketika mendengar dari laporan polisi juga media yang menyatakan Asrul meninggal bersama dengan istri siri dan bayinya.


"Bang, sudah jangan terlalu dijadikan beban pikiran. Kita harus hadapi dengan lapang dada, dan menerima kenyataan yang sebenarnya," Raya membesarkan hati suaminya.


"Aku sudah terima apa adanya, hanya masih khawatir kepada abi dan umi. Aku masih tidak tahu apa yang harus aku sampaikan kepada mereka nanti," sahut Anwar dengan lemas.


"Aku pasti nanti akan membantu bicara kepada abi dan umi, aku juga tak tega melihat abang seperti ini. Jangan terlalu menjadi beban, semua sudah terjadi," kembali Raya menguatkan suaminya.


Anwar mengangguk sambil menghela nafas, lalu meraih tubuh Raya ke dalam pelukannya.


"Mumpung di penginapan di luar kota, apakah kita akan membuat anak?" tanya Raya sambil menatap suaminya.


"Hmmm, nanti lagi saja. Aku sedang kehilangan mood. Maafkan aku," jawab Anwar.


"Oke, mari kita tidur saja".


Raya lalu pindah ke kasurnya sendiri dan dalam beberapa detik terdengar suara nafas teratur tanda sudah nyenyak.

__ADS_1


Sementara Anwar sama sekali tidak bisa memejamkan mata, pikirannya melayang mempertanyakan apa penyebab kakaknya tidak setia kepada pasangannya.


__ADS_2