
"Lu kemana aja bro, hilang aja kayak di telan bumi. Anak buah lu ditanya sama gue juga kagak ada yang tahu. Gimana nih masih mau proyek kagak?" tanya Aliong melalui ponselnya kepada Mario.
"Boss, gue kan di lapangan dong. Masa gue tinggal mereka begitu saja. Suwer gue banyak di lokasi belakangan ini," jawab Mario berbohong karena sebenarnya dia mulai ingin menghindari Aliong.
"Kirain lu hilang, kagak mau kerjaan lagi. Ayo hepi-hepi kita, sudah lama kagak nyanyi nih. Malam ini bisa kagak?" Aliong kembali mengajak Karaoke dan sudah pasti ada bonus mabuk.
"Jangan malam ini deh Boss, bagaimana kalau minggu depan saja. Asli gue minggu ini sibuk banget, lalu mau anter bini juga ke dokter. Sepertinya bini gue bunting lagi boss," ujar Mario mencoba meminta waktu untuk acara kumpul tak sehat itu.
Aliong akhirnya setuju dan akan menjadwalkan acara hepi-hepi itu minggu depan, dimana Mario wajib ikut serta.
Malamnya Mario membawa Soraya ke dokter spesialis kandungan, masih dengan dokter yang dulu saat menangani kehamilan Maya dan melahirkan Maya.
Dokter muda berambut panjang diikat ke belakang, tato di pergelangan tangan kiri dan celana panjang jeans serta sepatu sneaker.
"Apa kabar Ibu Soraya? hamil lagi nih? Hmmm...anak yang besar baru mau dua tahun nih. Ngebut nih ceritanya," ujar dokter Yasmin sambil menatap catatan medis milik Soraya.
Lalu dokter Yasmin menatap Soraya dan seraya bertanya, "Pasti tak ingat yah tanggal terakhir haid kapan?".
Wajah Soraya memerah sambil membenarkan apa yang barusan dokter Yasmin tanyakan.
"Ayo sini periksa, suster! tolong dibantu yah Ibu Soraya," pinta dokter Yasmin kepada perawatnya.
"Bagaimana pak Mario, oke kan jahitan saya?" goda dokter Yasmin kepada Mario.
"Hahaha...dokter ini bisa saja," sahut Mario sambil tertawa mendengar ucapan dokter Yasmin.
Saat melihat kondisi kandungan Soraya, terlihat ada dua titik hitam tapi dokter Yasmin tampak agak aneh dengan salah satu titik itu.
"Ini bukan kembar, tapi saya khawatir janin Ibu akan sedikit bermasalah. Sepertinya ini mioma," kata dokter Yasmin menjelaskan kepada Soraya dan Mario.
"Lalu resikonya apa dokter?" tanya Mario sedikit pucat dan sementara Soraya seperti biasa diam membisu.
"Mioma atau Fibromioma, itu adalah sel tumor yang tumbuh di dalam rahim. Biasanya ini tumor jinak, tapi masalahnya dia akan membesar bersama dengan janin. Akan saling berebutan dengan janin dalam mengambil asupan makanan".
"Kondisi janin baik, tapi dia saat ini berdampingan dengan mioma. Mereka akan tumbuh besar bersamaan, dan yang paling riskan adalah kematian janin karena dia rebutan makanan dan oksigen. Tapi ada juga beberapa kasus janin selamat, dan saat melahirkan nanti harus operasi caesar karena harus sekalian mengeluarkan mioma itu tadi," kata dokter Yasmin menjelaskan kepada Soraya dan Mario.
Tentu saja Soraya lemas dan mengalir air mata di pipinya, dia menjadi kesal lagi kepada Mario, karena dia ingat kalau kehamilan sekarang akibat perbuatan suaminya memaksa dirinya saat Mario mabuk.
"Dokter, penyebab bisa ada mioma itu apa?" tanya Mario berusaha tenang karena melihat istrinya sudah mulai menangis.
"Ibu Soraya tenang yah, jadi begini pak, penyebab mioma itu banyak faktor. Ada karena haid tak teratur, ada riwayat keturunan, penggunaan obat hormon atau konsumsi makanan yang berlemak," kembali dokter Yasmin berusaha memberikan penjelasan dengan tenang.
Soraya berganti pakaian dibantu perawat, sementara Mario berbicara dengan dokter Yasmin.
"Solusinya apa dokter?".
"Kalau mau tunggu sampai usia kehamilan tiga bulan dulu tak apa, kita lihat apakah mioma membesar atau tidak. Atau mau langsung kuretase, yaitu janin segera diangkat," jawab dokter Yasmin.
"Semacam digugurkan kandungannya? seperti itukah dokter?" tanya Mario lagi.
"Ya benar sekali".
Soraya menggelengkan kepala, dia tak mau melakukan itu.
"Tak mau, aku tak mau kuretase. Minta waktu dulu, aku yakin dia akan baik-baik saja," kata Soraya sambil terisak-isak.
Lalu dokter Yasmin meminta mereka untuk memikirkan yang terbaik, jangan sampai nanti menyesal, karena dokter hanya bisa membantu saja memberikan solusi terbaik.
"Aku tak mau Bang, aku yakin anak ini akan baik-baik saja. Yang pasti aku tak mau kalau harus sengaja membuang janin, karena aku bukan pembunuh," Soraya tetap dengan keputusannya untuk mempertahankan janinnya walau Mario berusaha memberi solusi terbaik.
Mario tak bisa memaksa, dia akhirnya mengikuti apa yang diyakini oleh istrinya.
Suatu siang Mario akhirnya makan siang bersama dengan Aliong dan Mr. A, seperti biasa makan tapi penuh muatan politik kotor.
"Gue mau ada proyek gede nih, renovasi sekolah. Ada sekitar enam puluh lima sekolah negeri dari SD sampai SMA se kota Depok yang perlu perbaikan. Lu sanggup kagak?"tanya Mr. A kepada Mario sambil asap rokok mengepul di ruangan rumah makan.
"Perhitungan sudah di tangan gue bro, tinggal lu sanggup kagak?" Aliong ikut menambahkan pernyataan Mr. A tadi.
"Gue cuma renovasi doang kan, kagak ikut urusan lain-lainnya?" Mario juga minta penegasan dari mereka berdua.
"Ini dana gede bro, banget, jangka waktu enam bulan musti beres semua sekolah tadi. Gimana? sanggup kagak?" Mr. A bertanya lagi.
Mario menghempaskan punggungnya ke kursi sambil melipat kedua tangannya di depan dada dan tersenyum.
"Oke, gue sanggup. Tapi gue kagak mau ikut campur urusan duitnya yah. Gue cuma mengerjakan sesuai surat keputusan," Mario mencoba mempertahankan diri agar tidak sampai ikut terlibat masalah keuangan.
Aliong dan Mr. A saling bertatapan sambil menganggukan kepala.
"Rio....hai...Rio!!!" terdengar seseorang memanggil Mario ketika dia akan masuk ke mobil.
"My bro, Wildan..apa kabar?!!!" seru Mario ketika menengok dan melihat teman kuliahnya dulu memanggil namanya.
"Rio, lu masih ganteng aja deh. Apa kabar juga bro, gue sih kabarnya tajir-tajir aja... hahahaha," sahut Wildan sambil tertawa dan saling berangkulan dengan Mario.
Seperti biasa lama tak jumpa lalu saling bertanya soal masalah pekerjaan, rumah tangga dan lainnya.
"Eh, tadi gue lihat lu makan bareng sama si Aliong...Fredy Aliong tukang mobil kan?" Wildan bertanya kepada Mario.
"Ya, gue ada bisnis sedikit sama dia, dapat kecipratan kerjaan pemda bro," ujar Mario apa adanya.
"Baguslah, cuma lu kudu agak hati-hati sama Aliong. Dia tuh agak licik yah, berani main duit ke pemda. Masalahnya sekarang udah ada Komisi Pemberantasan Korupsi, takutnya lu kebawa-bawa," Wildan mengingatkan kepada Mario agar hati-hati.
"Sudah banyak orang jajaran pemerintahan kena bro, konon yang dapat bagian juga bisa kena loh," tambah Wildan lagi.
Mario paham, dan sangat terima kasih karena sudah diingatkan oleh Wildan.
__ADS_1
Lalu mereka saling bertukar kontak dan juga bertukar kartu nama.
Mario senang sekali, karena teman baiknya ternyata sudah menjadi direktur salah satu firma konsultan pembangunan di kota Jakarta.
Soraya mengelus perutnya, hatinya sangat gusar. Dia tak mau kalau sampai harus kehilangan janinnya, baginya kehamilan adalah anugerah terindah dari Tuhan.
"Dede sayang, harus kuat yah jangan patah semangat. Kita berdua harus yakin kalau dede bisa melalui ujian ini," ujarnya sambil mengelus perutnya yang masih rata.
"Soraya, kamu hamil lagi?" tanya Nania yang tak sengaja mendengar Soraya berguman.
Lalu Soraya mengangguk kepada Nania, namun dia melihat sahabatnya itu malah terlihat seperti tak senang mengetahui dirinya hamil.
"Waduh, kamu lihat tidak kontrak kerjanya kemarin. Kalau guru belum dua tahun menyelesaikan kontrak dan belum diangkat menjadi karyawan tetap tak boleh hamil dulu," kata Nania terlihat panik.
"Aku baca kok Nania, dan aku paham. Tapi sekarang nyata aku hamil, masa harus digugurkan kandungan ini?" sahut Soraya jadi kesal.
"Bukan begitu, aku kan di sekolah ini adalah kepala administrasi yang menangani baik guru maupun siswa. Sekarang aku harus bilang apa sama kepala sekolah kalau kamu hamil".
"Aku malah khawatir kalau kamu akan lama diangkat menjadi guru tetap. Dan satu hal lagi, kalau bukan karyawan tetap hanya diberi cuti melahirkan selama satu bulan saja," Nania menepuk kening berkali- kali.
"Ya sudah mau bagaimana lagi, aku sekarang hamil. Nanti mau dipecat sekarang juga, ya sudah aku terima saja kok," sahut Soraya terlihat semakin kesal.
"Bukan begitu, tidak akan dipecat sih. Hanya proses kamu menjadi guru tetap akan tertunda dan cuti melahirkan hanya dapat satu bulan saja. Begitu maksudku bukan soal dipecat," tukas Nania mencoba menjelaskan lagi.
"Terus gimana dong, aku sudah hamil. Ya sudah aku sih terima saja segala peraturan yang berlaku," sahut Soraya sambil bibirnya mengerucut.
"Kamu pakai KB tidak sih, Maya masih kecil juga, eh... sudah hamil lagi".
"Pakai pil KB sih, tapi tetap saja bisa kebobolan," jawab Soraya malu-malu.
"Dasar Mario, sakti juga dia bisa mengalahkan pil KB. Ayo menghadap kepala sekolah, nanti jelaskan kepada beliau yah," ajak Nania sambil menggandeng tangan sahabatnya.
Ibu Andrea Sagita nama kepala sekolah di sekolah itu mendengarkan penuturan Soraya, lalu beliau tertawa.
"Ckckck...kejadian lagi Bu Nania, berarti sampai hari ini sudah ada empat kasus guru hamil sebelum masa kontrak selesai. Saya pribadi tak masalah, hanya ketentuan Yayasan begitu ketat, semoga saja Ibu Soraya bisa paham," kata Ibu Andrea Sagita mencoba menjelaskan lagi.
Soraya paham, dan dia akan berusaha terus mengajar dengan sebaik mungkin sampai nanti menjelang melahirkan. Soal nanti akan diberhentikan atau lanjut, akan dia serahkan pada kebijakan sekolah saja.
Waktu berjalan, tiga bulan sudah usia kandungan Soraya. Selama dua bulan kemarin, dokter Yasmin mengatakan kalau sekarang posisi janin dan mioma tidak berdekatan. Tapi nanti seiring janin akan membesar, maka mioma juga akan ikut membesar, sehingga dokter tetap khawatir kalau janin akan kekurangan oksigen.
Hari itu Soraya memeriksakan kandungannya yang sudah tiga bulan, dan kembali dokter Yasmin masih dengan analisa yang sama.
"Janin sehat bu, tapi berada di posisi berhadapan dengan mioma yang ada di rahim ibu. Mau tak mau nanti sebelum sembilan bulan, dan kondisi janin mengkhawatirkan, maka saya akan ambil tindakan bedah caesar walaupun usia kandungan belum cukup umur," dokter Yasmin menjelaskan kondisi janin Soraya saat ini.
"Perkiraan di bulan ke berapa hal itu akan terjadi?"tanya Soraya merasa panik.
"Mungkin saat di usia kandungan tujuh atau delapan bulan, dan kalau bayi nanti berat badannya belum cukup maka akan masuk ke dalam inkubator," jawab dokter Yasmin lagi.
Soraya tampak lemas saat mendengar penjelasan dari dokter Yasmin, ingin pingsan rasanya. Dia takut kalau sampai kehilangan bayi yang ada dalam kandungannya.
"Halo Marsela, ini aku Aliong," terdengar seseorang bicara seperti itu saat Marsela mengangkat ponselnya.
"Ya ini nomor sementara saja. Dengar Sela, sebentar lagi akan ada orang suruhanku namanya Acul. Nanti kamu berikan semua berkas perusahaan CV. FIKTIF kepada orang itu yah, jangan sampai ada yang tersisa satupun," perintah Aliong kepada Marsela.
"Satu lagi Sela, kalau besok atau kapan ada yang menanyakan Fredy Wiguna atau Aliong, kamu jawab saja tak tahu yah. Dan kamu katakan juga kepada tim yang lain," kata Aliong lagi dengan nada terburu-buru.
Marsela hanya mengiyakan saja, setelah ponsel ditutup lalu dia segera membereskan semua berkas CV. FIKTIF sesuai permintaan Aliong. Semua berkas dimasukan ke dalam dus besar sambil menunggu seseorang bernama Acul.
"Mbak Sela, ini dus apa?" tanya Susi saat melihat ada kotak dus besar di dekat meja Marsela.
"Entah, barusan Koh Aliong minta semua berkas CV. FIKTIF dimasukan ke dalam dus dan nanti akan diambil oleh Acul ," sahut Marsela yang sama merasa tak paham.
"Wow, mungkin saja si Koh Aliong sudah tak berbisnis lagi sama pak Mario yah. Aku senang sekali kalau seperti itu," Susi tampak senang kalau hal itu benar.
Marsela juga melirik Susi dan keduanya tersenyum senang berharap benar kalau Boss mereka tak akan ada urusan lagi dengan Aliong.
Soraya sudah semakin besar perutnya padahal sekarang usia kandungannya baru saja di bulan kelima.
Terakhir kemarin dari dokter Yasmin lagi periksa, dan katanya janin sehat walau mioma juga turut membesar.
Selama ini Soraya maupun Mario sepakat untuk tidak memberitahukan kondisi kehamilan Soraya kepada seluruh keluarga besarnya.
Mamih Regina maupun Ibu Wongso mengangap Soraya baik-baik saja dengan kehamilan keduanya ini.
Perhatian semua tertuju kepada Maya yang sekarang sudah berusia dua tahun lebih.
Anak itu sekarang banyak bicara dan bertanya apa saja yang dia lihat. Terutama Ibu Sunaryo yang setiap harinya bersama anak itu, walau kadang merasa lelah karena mengikuti Maya yang tak mau diam, namun hatinya senang sekali karena Maya tumbuh sehat dan ceria.
Hari itu sabtu sore, Soraya sedang menyuapi Maya makan di halaman rumah Ibu Sunaryo.
"Itu mobil siapa berhenti di muka rumahmu?" tanya Ibu Sunaryo kepada Soraya.
"Saya juga tak tahu siapa, apa mungkin mereka tamunya Bang Rio yah," ujar Soraya yang melihat ada mobil berhenti di depan rumah yang disewanya selama ini.
Lalu Soraya pamit dan minta tolong Ibu Sunaryo untuk menyuapi Maya sebentar.
"Maaf, bapak-bapak ini mencari siapa ?" tanya Soraya kepada dua orang lelaki yang sedang berdiri di depan pagar rumah sewanya.
"Oh, kami mencari rumah Mario Maliangkay, apakah benar tinggal di rumah ini?" tanya Aliong yang saat itu datang bersama Mr. A.
"Ya benar pak, saya istrinya. Pak Mario belum pulang," sahut Soraya kepada Aliong dan Mr. A.
"Oh, begini bu, kami teman Mario. Dari tadi saya hubungi ponselnya, tapi tak terhubung terus. Kami ada perlu soal pekerjaan pembangunan," kata Aliong menjelaskan kepada Soraya.
"Kalau begitu silahkan masuk dulu saja pak, nanti saya coba menghubungi suami saya. Siapa tahu bisa terhubung," ujar Soraya sambil membuka pintu pagar dan mengajak kedua tamu suaminya masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Bang, ada tamu di rumah sedang menunggu. Katanya mau membicarakan soal bangunan," kata Soraya lewat ponselnya memberitahu Mario.
"Siapa namanya?" tanya Mario.
"Kalau aku tak salah dengar sih, katanya Aliong namanya".
"Hmmm...ya sudah suruh tunggu saja, aku masih di jalan".
Mario segera memacu mobil agar segera bisa tiba di rumah. Padahal dia sedang ada di lokasi pembangunan bendungan di pinggiran kota Jakarta.
Setibanya di rumah, Mario segera masuk ke rumah dan mendapati ada Aliong dan Mr. A sedang duduk di kursi meja makan.
"Rio...Rio...aduuhhh kontaktor bangunan rumahnya kecil begini. Duit lu kemana selama ini, katanya lagi bangun rumah," ujar Aliong ketika Mario tiba di pintu rumah.
"Ini rumah sewaan bro, rumah gue belum beres masih kacau. Lagipula belum ada waktu buat beresin rumah sendiri," sahut Mario sambil langsung menarik kursi dan duduk di hadapan mereka berdua.
Aliong dan Mr. A segera membuka pembicaraan tanpa membuang waktu lagi, mereka membahas soal dana renovasi sekolah yang berjumlah besar.
"Rio, kenapa lu seperti yang menghindar dari kami. Apa lu kagak sanggup dengan pekerjaan baru renovasi sekolah itu, hah!!!???" tanya Mr. A terlihat kesal kepada Mario.
"Gue sanggup kok, cuma gue belum bisa sepakat sama perhitungan yang kalian buat untuk gue. Sumpah gue takut, kalian bikin nilai gila-gilaan," sahut Mario sambil membuka bungkus rokok dan menarik sebatang dari dalamnya.
Mario menyalakan sebatang rokok dan menghisap dalam- dalam sambil berkata," Susi arsitek gue sama tim nya sudah survey ke dua puluh sekolah, dan ternyata yang parah hanya sepuluh sekolah saja. Sisanya cuma perbaikan sedikit-sedikit saja".
"Sementara lu pasang harga perbaikan per sekolah masing- masing dua ratus lima puluh juta rupiah, berarti ada dana tiga belas milyar untuk perbaikan semua sekolah itu. Gue takut bro, karena tidak semua sekolah harus diperbaiki dengan nilai sebanyak itu," Mario terlihat gemetar tangannya sambil menghisap rokoknya.
"Lu takut apa? lu cuma beresin doang, urusan duit kan gue sama Mr. A yang pegang. Lu kerjain beresin sekolah itu semua, nanti gue tinggal bayar tagihan yang lu kirim ke gue," sahut Aliong terlihat kesal kepada pernyataan Mario.
"Rio, ini proyek sudah cair dananya, sekarang sudah ada di tangan gue. Lu tinggal jalanin perbaikan sekolah saja, apa susahnya sih!!!" Mr. A juga mulai terlihat kesal kepada Mario.
"Masalahnya kalian gila, itu dana sebesar itu untuk apa. Gue yang kagak paham, dana itu akan banyak sekali selisih kelebihannya. Selama ini gue paham kalian selalu markup nilai, tapi gue lihat masih batas wajar. Sekarang sudah keterlaluan, gue menyerah. Bukan tak sanggup untuk mengerjakan proyek, tapi tak sanggup dengan dana sebesar itu," Mario menatap balik kepada Aliong dan Mr. A.
"Kagak bisa Rio, dikontrak kerja nama perusahaan lu sudah tercatat dan juga nama lu sudah ada. Kalau lu lari dari kontrak kerja ini, malah kami yang akan menuntut ganti rugi sama perusahaan lu," Mr. A mengacungkan berkas kontrak kerja untuk proyek tersebut.
"Gimana lu mau ganti rugi bro, duit aja lu kagak punya. Usaha lu pas-pasan, dulu sampai mau jual mobil buat bayar hutang karena duit lu dibawa kabur orang. Gue bantu lu, gue kasih lu kerjaan sampai lu bisa bayar semua hutang".
"Sekarang lu mau lari dari kontrak, lalu kalau lu sampai dituntut mau bayar pakai apa ...haaahhh??!!. Lihat bini lu lagi bunting, anak lu masih kecil. Lu mau bikin mereka sengsara, kagak bisa makan, kagak bisa hidup nyaman gara-gara lu melanggar kontrak kerja," ujar Aliong mulai mengungkit apa yang sudah pernah dia lakukan kepada Mario.
Mendengar itu Mario tambah kesal hatinya, tapi dia saat itu memang sulit mengelak. Dia harus menerima pekerjaan itu walau sangat beresiko tinggi.
Mario mencoba memutar otak, bagaimana caranya agar dia bisa selamat kalau sampai ada sesuatu terjadi. Karena pasti mau tak mau, suatu hari nanti Aliong dan Mr. A akan kena masalah korupsi.
"Oke, gue ambil pekerjaan itu. Tapi gue perbaiki hanya dua puluh sekolah yah, karena itu yang sudah disurvey oleh tim perusahaan gue. Sisanya kalian bisa lakukan bersama perusahaan lain. Toh, proyek ini dikejar target enam bulan. Gue takut kalau keteteran," ujar Mario mencoba negosiasi dengan Aliong dan Mr. A.
Mr. A tampak berpikir saat Mario selesai berkata seperti tadi, mereka tetap saling adu argumentasi.
Soraya harus menyediakan makan malam, maka mau tak mau dia segera membuat nasi goreng.
Maya masih disimpan di rumah Ibu Sunaryo, karena di rumah asap rokok mengepul tak berhenti. Mario dan dua orang lelaki lainnya itu terus berbincang saling adu mulut. Entah apa yang mereka bahas, karena Soraya tak paham soal pekerjaan suaminya.
Sambil memasak sambil harus menghadapi asap rokok, saat nasi goreng matang segera disajikan di meja makan.
Ketiganya makan dulu tapi tetap pembicaraan terasa saling ngotot. Di telinga Soraya terdengar kedua orang tamu itu seakan memaksa suaminya untuk menerima uang dalam jumlah besar dan melakukan sesuatu.
Tapi Mario tampak bersikeras menolak menerima uang tadi, dan suaminya tetap pada pada pendiriannya bahwa dia akan menerima uang setelah pekerjaan selesai dan sesuai dengan tagihan yang diajukan oleh suaminya.
Soraya hanya diam saja sambil berbenah di dapur setelah selesai memasak, dan setelah ketiga pria itu makan juga segera membereskan meja dan mencuci piring. Setelah itu Soraya segera keluar rumah lagi menuju ke rumah Ibu Sunaryo karena Maya ada di sana.
"Aduh pusing kepala, di rumah bau asap rokok. Bang Rio dan kedua tamunya tak berhenti merokok. Semakin serius bicara malah semakin serius juga merokoknya," Soraya mengeluh kepada Ibu Sunaryo.
"Itulah lelaki, dulu Pak Sunaryo juga perokok berat. Baru bisa berhenti merokok setelah di vonis harus operasi jantung. Akhirnya operasi jantung juga sekitar sepuluh tahun yang lalu," Ibu Sunaryo juga cerita kalau dulu suaminya sama seperti Mario.
"Benar yah bu, aneh sekali sama lelaki. Kalau tidak ketemu rokok sehari saja, itu seakan mereka kehilangan harta karun. Bang Rio itu sampai rela kehujanan untuk membeli rokok di warung depan sana," Soraya kembali menceritakan suaminya yang tak bisa lepas dari rokok.
Jam dinding menunjuk pukul delapan malam, dan Maya tampak sudah mengantuk.
"Mama bobo...huk...huk...bobo
...ayo bobo!" ajak Maya pada Soraya dan anak itu terlihat sangat mengantuk sekali.
"Sayang bobo di sini dulu yah, tunggu tamu papa pulang. Rumahnya bau asap nak," Soraya mencoba menjelaskan kepada anaknya.
"Mama...bobo cana...bobo di lumah...," anak kecil memang tak bisa tidur di tempat lain selain di rumahnya dan di kamarnya.
"Nanti yah, bobo di sini dulu yah sayang di rumah Oma sini yah anak pintar, " Ibu Sunaryo juga berusaha merayu Maya.
"Hua...hua...Mama bobo...mau bobo lumah...hua...hua ," Maya malah menangis kencang karena ingin pulang dan tidur di rumahnya.
Mario mendengar anaknya menangis dari seberang sana, dia pamit sebentar untuk menjemput anaknya.
"Kamu kenapa sih, anak sudah mengantuk ingin pulang malah tak boleh. Aneh sekali, ayo sini Maya sayang, sini nak sama Papa yuk," Mario melirik tajam dan seperti biasa selalu ketus kepada istri.
Kemudian Mario dan Soraya pamit kepada Bapak dan Ibu Sunaryo sambil Mario menggendong Maya yang terlihat sudah sangat mengantuk.
"Bang, di rumah kita banyak asap rokok. Aku takut Maya sesak kalau harus mencium bau asap rokok," ujar Soraya mencoba menyadarkan Mario.
"Ah, selalu berlebihan kamu tuh, sudah jangan banyak bicara. Tinggal tidur saja di kamar, jendela kamar kamu buka saja. Kan jendela juga diberi kawat nyamuk, jadi tak bisa nyamuk masuk. Pasang kipas anginnya, biar asap rokok hilang ," Mario malah mengomel kepada Soraya.
Mario...oh...Mario, mungkin Maya kuat dengan asap rokok, tapi bagaimana dengan janin di perut istrimu.
Kadang lelaki suka begitu, kalau sedang sibuk dan banyak pikiran, maka apapun juga boleh dilakukan.
Bukan hari itu saja kejadian merokok banyak orang di rumahnya, setelah sepakat dengan keputusan untuk proyek tersebut maka semakin hari semakin banyak tamu ke rumah Mario.
Mr. A dan Aliong jelas tamu tetap, lalu ada lagi mandor, ada lagi orang toko dan lain- lain yang terkait dengan proyek.
__ADS_1
Dan semua lelaki itu merokok, rumah sewa mereka kecil penuh asap rokok setiap harinya.
Soraya hanya bisa mengelus dada saja, karena tahu sendiri bagaimana Mario kalau dinasehati malah menjadi marah besar.