PENGKHIATAN CINTA

PENGKHIATAN CINTA
Menjelang 5


__ADS_3

Hari terus berganti, Mario merasa tubuhnya semakin lama semakin lemah.


Mau mengatakan kondisinya sebenarnya kepada seluruh keluarga, tapi bibir terasa berat sekali.


Beberapa waktu lalu sempat Robert bertanya kepada dirinya soal hasil rontgent, tapi Mario menjawab sudah ditangani oleh Samuel.


Salahnya Robert juga tidak mencari tahu kepada Samuel tentang kondisi Mario sebenarnya.


Pikir Robert pastinya Samuel sudah memberikan obat yang paling baik untuk Mario.


Sementara Robert sendiri sedang menikmati profesi barunya sebagai dokter ahli bedah jantung.


Tidak semua dokter bisa melakukan hal tersebut, sehingga dokter yang bisa menangani operasi semacam itu tentu mempunyai nilai lebih baik di antara sesama dokter apalagi di masyarakat umum.


Karena Mario kelihatan baik-baik saja setelah diberi obat oleh Samuel, maka Robert juga tidak menanyakan perihal kesehatan adiknya kepada Samuel.


Sore itu Mario sedang duduk di atas atap kantornya, seperti biasa tempat favoritnya kalau dia sedang banyak masalah adalah duduk di bawah tangki penampungan air.


Jaman dulu kalau duduk di atas sini pasti sambil menjepit sebatang rokok dan secangkir kopi.


Namun hal sudah lama tidak dia lakukan lagi semenjak Mega anak keduanya lahir.


Rokok sudah lama tidak menjadi kawannya, tapi bodohnya dia masih berkawan dengan kaum perokok.


Bertahun-tahun menjadi perokok pasif, dan hasilnya dia harus merasakan penderitaan menjadi penderita kanker paru-paru.


Ingin rasanya menceritakan kondisinya saat ini kepada keluarganya, tapi entah mengapa batinnya berkecamuk.


Dia tidak ingin keluarganya mengkhawatirkan dirinya, dia merasa tidak adil kalau sampai istrinya nanti akan merasa sedih kalau tahu dirinya sedang sekarat.


Selama pernikahannya dengan Soraya, dia selalu merasa belum bisa memberikan hal baik kepada istrinya.


Apalagi sekarang, dia juga menyimpan rasa kepada istri orang lain, wanita yang tak sengaja dikenalnya saat menginap di sebuah hotel beberapa tahun lalu.


Kalau dihitung sudah dua tahun hubungannya dengan Asmila berlangsung, dan selama dua tahun juga dia sudah membohongi Soraya.


Kenapa juga harus menjalani hubungan dengan Asmila, padahal kurang apa Soraya.


Hal itu sulit sekali untuk diceritakan, karena entah mengapa kalau bertemu Asmila ada hal yang tak bisa didapatkan dan diungkapkan kepada Soraya. Tapi Asmila bisa memberikan pencerahan dan juga Asmila bisa mengisi suatu hal lain yang tak bisa Mario dapatkan dari istrinya.


"Bang Rio, lagi apa di sini?"


tanya Jimmy yang menyusul kakaknya ke atas atap.


"Hai, duduk sini Jimmy. Menikmati sore di atas sini sangat menyenangkan sekali," sahut Mario.


"Hmmm, dari atas puncak gunung lebih menyenangkan lagi, bang. Ayo kapan ikut aku ke gunung," timpal Jimmy sambil duduk di sebelah kakaknya.


Mario tak menjawab, hanya diam saja sambil menatap mentari yang sedikit demi sedikit tenggelam.


"Minuman apa itu? kok baunya aneh sekali?" tanya Jimmy yang tak sengaja mencium aroma minuman dari gelas Mario.


"Teh herbal," sahut Mario sambil menghirup minumannya.


"Baunya menjijikkan, bang".


"Teh ini baik untuk sakit batuk yang aku rasakan".


Jimmy jadi terdiam, karena dia paham kalau kakaknya ini sering batuk-batuk. Tapi selama ini dalam pikiran Jimmy karena kakaknya sering ke lokasi pembangunan dan tak mau memakai jaket walau kehujanan sekalipun.


"Jim, kalau suatu kali nanti aku meninggal, tolong kamu teruskan perusahaan ini dan kelola dengan benar yah. Dan satu lagi tolong anak-anakku dibiayai sekolahnya sampai tamat menjadi sarjana," ujar Mario tiba-tiba tanpa ada hujan ataupun angin berkata seperti itu kepada adiknya.


Jimmy menoleh kepada sang kakak, lalu berkata," Ngapain buru-buru meninggal bang. Memangnya tak mau melihat anak-anak menikah kelak?".


"Dasar bodoh memang, aku kan bilang kalau. Tapi umur orang siapa tahu, mana ada orang ingat kapan kontrak hidupnya berakhir, harusnya saat dulu tanda tangan kehidupan dibaca dulu perjanjian kontraknya seperti apa," tukas Mario sambil mendelik kepada adiknya.


"Sudah tahu tak akan pernah ada orang yang ingat kapan kontrak hidupnya berakhir, eh...malah dibahas. Berarti abang yang bodoh dong," Jimmy tak mau kalah.


"Ah sudahlah, pokoknya begitu saja, kalau suatu saat aku tak ada entah meninggal atau entah menghilang. Lakukan saja apa yang tadi aku minta kepadamu," Mario menekankan lagi kepada adiknya.


"Terserah abang saja deh, aku kok jadi pusing mendengar abang ngomong begitu. Terserah apa maunya abang saja, yang pastinya akan aku lakukan semua keinginan abang," sahut Jimmy sambil merasa sebal mendengar perkataan kakaknya.


Mario tertawa melihat ekspresi adiknya yang terlihat kesal mendengar perkataan kakaknya soal kematian.


Mana ada orang akan merasa senang kalau tiba-tiba seperti diberi pesan terakhir oleh orang yang disayanginya.


Bukan karena sekedar iseng Mario menyampaikan itu, karena siang tadi dia konsultasi lagi dengan Samuel sahabatnya Jimmy yang sudah menjadi dokter spesialis penyakit dalam.


"Bang, obat ini ibarat katup yang sementara menyumbat penyebaran sel kankernya. Tapi didalamnya sel itu terus tumbuh membesar, katup tak mungkin bisa terus menahan. Suatu saat akan terdesak dan bocor meledak ke seluruh jaringan tubuh abang," Samuel siang tadi menyampaikan penjelasan seperti itu kepada Mario.


"Solusinya apa, Sam?".


"Ya operasi, harus di operasi di buang inti selnya lalu di sinar radiasi dan di kemoterapi agar semua sel kankernya mati," lanjut Samuel lagi.


Hanya Mario bersikukuh tak mau di operasi dan masih minta obat saja dulu untuk menahan penyakitnya sementara.


Samuel tak bisa berkata banyak lagi, sebagai dokter tugasnya mengobati dan memberi solusi terbaik untuk semua pasiennya.


Kalau pasien tetap membandel, apa boleh buat. Hanya memberikan nasehat agar pikiran pasien terbuka dan mau diberikan tindakan sesuai dengan ketentuan yang seharusnya.


"Mbak As, ternyata kyai itu masih ada dan masih mengobati banyak orang sakit. Bahkan kemarin ini ada orang sakit kanker sudah stadium empat, diberikan doa dan air minum dari beliau. Tak lama sembuh dan sekarang sudah bisa beraktifitas lagi," Ratna menceritakan kepada Asmila lewat telepon soal kyai yang bisa mengobati segala macam penyakit.


"Bagaimana cara mendaftar sebagai pasien kepada kyai tersebut, Ratna?" tanya Asmila dengan semangat.


"Nah itu dia mbak, aku bertemu asistennya kemarin. Sampai dua bulan ke depan sudah penuh jadwal pasien yang datang dari berbagai penjuru Indonesia," sahut Ratna memberitahu Asmila.


"Nah, bagaimana ceritanya kalau seperti itu. Mana mungkin aku membawa temanku bolak-balik ke Bengkulu".


"Tenang Mbak, nanti aku kalau sempat mampir lagi kesana. Dan kalau bisa akan langsung saja mendaftarkan nama teman mbak As. Nanti tolong kirim chat saja yah siapa nama temannya," Ratna mencoba memberikan solusi kepada Asmila.


Tentu saja Asmila setuju sekali, dan setelah telepon berakhir segera dia mengirimkan chat kepada Ratna, memberitahukan nama teman yang akan berobat kesana.


Setelah menerima pesan dari Asmila, giliran Ratna yang menjadi bingung karena nama teman yang Asmila sebutkan dalam pesan singkatnya adalah nama seorang pria.


"Mario???".


"Pak, tadi bibik ditanya sama tetangga sebelah. Katanya di rumah ini ada penampakan perempuan hamil. Iiihhh...bibik jadi takut," ujar Bik Sumi pembantu harian yang diperintahkan bekerja di rumah yang ditinggali Asrul oleh Aletha.

__ADS_1


"Mana ada penampakan semacam itu, aneh-aneh saja Bik Sumi ini. Tetangga ngomong yang tidak jelas malah didengarkan," tukas Asrul ketika mendengar ucapan dari Bik Sumi.


"Memang agak angker sih, pak. Terutama di kamar paling atas, sering bibik dengar kayak ada orang mondar- mandir di sana," lanjut Bik Sumi.


"Bik, kan Bik Sumi menyetrika pakaian saya hanya hari senin dan kamis saja. Sisanya Bik Sumi selama ini kerja di rumah tetangga lain. Jadi maaf jangan dengarkan tetangga lain bicara tak karuan. Yang penting Bik Sumi menyetrika, lalu setelah itu pulang," Asrul memberi penekanan kepada Bik Sumi.


Tentu saja Bik Sumi agak ketakutan, karena selama ini tidak pernah melihat Asrul marah. Dan saat ini kelihatannya Asrul tidak senang dengan pernyataan Bik Sumi seperti itu.


"Mas Asrul, aku ingin pulang ke Palembang. Walau nanti mungkin keluargaku akan menghujat, tapi aku benar- benar ingin pulang kesana," ujar Jena yang tengah berbaring sambil mengelus perutnya yang kian membesar.


Asrul tidak menjawab, dia diam saja karena merasa tidak punya jawaban apapun.


Haruskah dia ikut mengantar Jena ke Palembang, atau membiarkan gadis hamil itu pulang sendirian kesana.


Kalau Asrul mengantarkan ke Palembang, bagaimana dengan Aletha istrinya.


Membiarkan perempuan hamil tanpa suami kembali ke kampung halamannya tentu akan menjadikan dirinya merasa bersalah nantinya.


Tapi untuk mengatakan yang sejujurnya kepada Aletha juga tak mungkin.


Berdiam diri dulu saja sementara sambil berpikir jalan keluar terbaik untuk masalah pelik yang dia buat sendiri.


"Aku tak bisa Mila, untuk apa harus pergi sejauh itu hanya untuk pengobatan yang tak masuk akal," ujar Mario ketika Asmila menyampaikan soal pengobatan yang dilakukan oleh seorang Kyai di seberang pulau sana.


"Rio, kata temanku banyak orang kesana bahkan dari belahan pulau lain di negara kita, bahkan katanya sebagian orang dari negara lain juga ada yang berobat kesana," Asmila menjelaskan tentang hal tersebut lagi.


"Tidak Asmila, aku tidak mau dan aku tidak bisa. Apa yang orang itu lakukan sebenarnya kita tak paham. Sekarang bukan jaman nabi yang bisa bernubuat menyentuh orang lalu sembuh. Dan orang itu bukan nabi, jadi maaf aku tak bisa," Mario menolak ajakan Asmila untuk berobat ke tempat yang ditunjukkan oleh Ratna.


"Tapi banyak orang sembuh karena kyai tadi, dan bukan hanya satu atau dua orang saja yang merasakannya".


"Ya, mungkin saja begitu. Tapi aku tak bisa, sungguh aku tak percaya akan hal seperti itu".


"Hmmm, terserahmu sajalah. Aku hanya mencoba memberikan salah satu alternatif pengobatan kepadamu. Harapanku sih, kamu mau mengikuti saranku ini karena kamu tak mau di operasi," lanjut Asmila dengan sedikit kecewa.


"Baik, terima kasih atas perhatianmu. Tapi, maaf aku tak bisa karena aku tak percaya akan hal seperti itu," Mario menghentikan mobilnya tepat di depan pintu masuk stasiun Gambir.


"Terima kasih juga, aku turun dulu, yah. Semoga kamu bisa memikirkan tawaranku lagi," ujar Asmila sambil bersiap untuk turun dari mobil Mario.


"Selamat senang-senang dengan suami tercinta, yah. Jangan memikirkan aku kalau sedang bersama suamimu," goda Mario kepada Asmila.


"Sinting kamu".


"Hei, cium dulu dong sebelum turun".


Asmila mencibir, tapi tetap mencium pipi Mario bahkan sempat keduanya saling berciuman bibir.


"Salam buat Fuad yah, selamat bersenang-senang".


Asmila turun dari mobil tanpa berkata apa-apa lagi. Memang sore itu Mario diminta Asmila untuk mengantarkan dirinya ke stasiun Gambir.


Rencananya Asmila akan menghabiskan waktu bersama Fuad dari Jumat malam sampai tiga hari ke depan.


Kemudian Asmila masuk ke gedung stasiun dan langsung mencari kereta api menuju kota Bandung sesuai dengan tiket yang telah dipesannya.


Mario sendiri langsung melajukan mobilnya menuju ke rumah tinggalnya.


Dia segera menuju keluar pintu gerbang stasiun Bandung untuk mencari suaminya yang pasti telah menantinya di lobby penjemputan.


Asmila menengok kanan dan kiri mencari sosok suaminya, namun tak terlihat sama sekali.


Beberapa sopir taksi terus membuntuti dirinya menawarkan jasa pengantaran kepadanya.


Asmila mencoba menghubungi ponsel suaminya dan nadanya selalu sedang sibuk terus.


Dari balik pilar ada sesosok pria sedang sibuk menelpon seseorang, lalu Asmila mencoba mendekati mencari tahu apakah pria itu suaminya.


"Coba nanti periksa setiap dua jam sekali, aliran minyak dan tekanan pompa dari atas. Karena diperkirakan di lokasi itu persediaan minyak tidak terlalu banyak juga. Jadi khawatir nanti pompa akan menghisap mineral lain selain minyak bumi," ternyata benar pria tinggi besar berkemeja biru itu adalah suaminya.


Di pergelangan tangan Asmila, jam tangannya menunjukkan pukul delapan belas lewat tiga puluh menit.


Suaminya masih juga berurusan dengan pekerjaan padahal katanya sudah ijin sejak siang tadi kepada atasannya.


Asmila duduk saja di salah satu deretan bangku tempat orang menanti dijemput.


"Oke, sip, nanti kalau ada apa-apa hubungi saya lagi saja yah," terdengar Fuad mengakhiri pembicaraan dengan orang di tempat kerjanya.


Setelah menutup ponselnya, lalu Fuad melirik jam tangannya dan dia terkejut sendiri. Karena jam kedatangan kereta yang membawa istrinya pasti sudah tiba sejak tadi.


Fuad segera membalikkan badan untuk menuju ke gerbang penjemputan penumpang, tapi alangkah terkejutnya dia melihat Asmila sedang duduk sambil melipat kedua tangan di atas dadanya.


"Hai, Mila, ternyata sudah di sini. Maafkan aku tadi sedang menelepon orang kantor," ujar Fuad ketika sudah berada di samping istrinya.


"Sepuluh menit aku duduk di sini sendirian, sementara suami menengok juga tidak. Sepertinya kalau aku ada yang menculik atau ada yang membunuh juga tidak akan pernah peduli. Yang dipikirkan cuma pompa, minyak, tekanan gas, itu yang penting bukan istrinya," Asmila mengomel panjang lebar kepada suaminya.


"Jangan marah dong, ayo sayang kita pergi dari sini. Sudah ada mobil yang menanti kita, kebetulan ada perusahaan rekanan fasilitas mobil dan sopirnya selama kita di Bandung".


Asmila tak menjawab, lalu ikut berdiri dan berjalan bersama suaminya menuju sebuah mobil yang telah menantinya.


Di dalam mobil ada seorang sopir yang menanti untuk mengantarkan mereka kemana saja sesuai keinginan mereka.


"Mas, aku lapar".


"Oke, kita makan dulu. Pak, tolong antar kami ke rumah makan yang tadi sudah disebutkan oleh atasan bapak yah," kata Fuad kepada sopir tadi.


"Baik pak," kata sopir sambil langsung segera melaju menuju sebuah rumah makan yang bangunannya cukup mewah.


"Ayo, pak sopir sekalian makan bersama kami!"ajak Fuad kepada sopir itu.


"Oh, tidak pak, silahkan saja. Saya sudah ada uang makan sendiri dari atasan saya, jadi silahkan bapak dan ibu menikmati makan malam di rumah makan ini," ujar sopir tadi menolak ajakan Fuad karena sudah punya uang sendiri untuk makan dari atasannya.


Fuad dan Asmila segera turun dan masuk ke rumah makan tersebut.


"Selamat malam, selamat datang di rumah makan kami," sambut seorang pelayan rumah makan tersebut.


"Selamat malam, apakah sudah ada reservasi meja atas nama Fuad Kusnadi?" tanya Fuad kepada pelayan tadi.


"Baik, mohon tunggu sebentar. Kami periksa dulu catatan kami," jawab pelayan tadi.

__ADS_1


"Muhammad Fuad Kusnadi dari Perusahaan Minyak Negara," Fuad mengangguk setelah pelayan menyebutkan namanya dengan lengkap.


"Silahkan bapak dan ibu ikut dengan saya," ajak pelayan tadi lalu menunjukkan meja yang sudah tertulis nama Fuad di sana.


"Silahkan ini menunya, bapak dan ibu mau pesan sekarang? atau nanti menghubungi kami kembali?" tanya pelayan tadi.


"Kami pilih dulu, nanti kami panggil kembali," sahut Fuad.


"Baik, saya Rio nanti dapat memanggil saya kembali untuk melayani pesanan bapak dan ibu," Asmila terhenyak ketika pelayan itu menyebutkan namanya.


Diam-diam Asmila merasa berdebar jantungnya, merasa seakan lingkungan seputarnya menyindir halus kepada dirinya.


Setelah terpilih beberapa macam makanan, lalu Fuad kembali memanggil pelayan bernama Rio tadi.


Fuad menyampaikan pesanan dan pelayan bernama Rio tadi mencatat dan mengulang kembali pesanan Fuad dan Asmila agar tidak salah pemesanan.


Setelah yakin kemudian dia pergi ke dapur untuk menyampaikan pesanan Fuad dan Asmila.


Sekitar setengah jam kemudian semua pesanan datang sesuai keinginan Fuad dan Asmila.


Setelah makan mereka menuju hotel yang juga sudah dipesan sebelumnya oleh atasannya sopir tadi.


"Hmmm, hotel bintang lima. Luar biasa sekali, mas," ujar Asmila merasa bahagia sekali.


"Iya, aku kemarin cuma bilang mau ke Bandung. Lalu rekanan


tersebut langsung saja memberi akomodasi semewah ini," sahut Fuad yang juga merasa takjub.


"Selamat malam, selamat datang di hotel mewah. Saya Soraya, ada yang bisa saya bantu?"kembali Asmila serasa tersindir oleh kehidupan, karena tiba-tiba petugas hotel bernama sama dengan seseorang yang jauh di sana.


Setelah diperiksa dan nama Fuad memang benar sudah tercatat di sana, kemudian petugas hotel memberikan kunci kamar untuknya.


"Silahkan pak, kamar 808 dan ini voucher untuk sarapan besok pagi. Selamat beristirahat dan menikmati layanan kami. Terima kasih," petugas bernama Soraya itu menyampaikan kunci dan voucher dengan ramah.


Fuad dan Asmila segera memasuki lift menuju lantai delapan, setibanya di atas segera mencari dan memasuki kamar tersebut.


"Wooowww...suite room".


Sepasang suami istri itu begitu terkejut karena mendapatkan kamar yang tidak biasa, tapi kelas kamar yang mewah.


Asmila segera membaringkan tubuhnya ke atas tempat tidur yang busanya sangat empuk dan lembut.


Harapannya Fuad akan segera memeluknya, mengajaknya bercinta, tapi kenyataan lain sekali.


Fuad langsung mandi dan melaksanakan ibadah sholat yang tertinggal, tentunya Asmila juga segera mengikuti apa yang dilakukan suaminya.


Setelah itu Fuad malah mengajak Asmila berkeliling kota Bandung di malam hari, Asmila tentunya menyambut dengan senang hati ajakan itu.


Mereka berkeliling kota diantar oleh sopir tadi, melihat beberapa tempat keramaian di kota itu.


Lalu menikmati jajanan kuliner malam hari dan setelah itu kembali ke hotel, ternyata sopir juga sudah dipesankan satu kamar tidur di sana sehingga selalu siaga kapan saja Fuad memerlukan jasa pengantarannya.


Malam hari Fuad dan Asmila bercinta, seperti biasa Fuad melakukannya penuh dengan kelembutan dan kasih sayang.


Asmila memandang wajah suaminya yang terlelap selepas bercinta, dia malah ingat dulu di awal kenal Mario pernah melakukan adegan percintaan yang heboh seperti di film-film luar negeri.


Jujur Asmila sangat menikmati momen itu, karena sepanjang pernikahan dengan Fuad, tak pernah suaminya melakukan hal-hal yang ekstrim saat bercinta.


Yang Fuad lakukan selama ini hanya biasa-biasa saja, yang penting bisa saling memberikan kenikmatan lalu setelahnya tidur bersama.


"Mungkin Mario juga begitu dengan istrinya, makanya waktu itu begitu gila sekali yang kami lakukan," batin Asmila malam itu sambil mengenang saat bercinta dengan liar dengan Mario.


Diusapnya rambut suaminya, lalu dikecup kecil pipi suaminya sambil berkata,


"Maafkan aku, mas".


Keesokan harinya mereka berjalan-jalan ke beberapa tempat wisata yang terletak di Kabupaten Bandung.


Berfoto, berjalan-jalan dan makan berbagai macam kuliner khas kota Bandung.


Setelah itu berbelanja, karena kota Bandung adalah pusat belanja fashion yang murah dan bagus-bagus.


Malamnya kembali ke hotel dan terjadi lagi bercinta lagi, dan Fuad melakukan hal yang biasa mereka lakukan selama bertahun-tahun menikah.


Asmila menerima saja perlakuan halus Fuad, walau dalam hatinya berkecamuk ingin bercinta seperti yang pernah dia lakukan dengan pria lain yaitu Mario.


Tiga hari tiga malam bersama suami, dan Fuad juga menurut tidak memegang ponsel karena disita oleh Asmila.


Sekarang Asmila juga tidak bisa menuntut lebih kepada suaminya, karena memang pada dasarnya Fuad adalah pria lembut hati dan baik hatinya.


"Terima kasih, mas. Kapan lagi kita bisa berdua begini, aku ingin kita liburan kemana ke luar negeri bersamamu. Tapi apakah mungkin bisa kita lakukan?" Asmila mengatakan itu sambil memeluk erat suaminya.


"Aku janji awal tahun depan akan mengajukan cuti panjang, kita ke dokter bersama. Lalu kita pergi berbulan madu ke luar negeri, kita bikin anak di sana," ujar Fuad sambil menatap istrinya.


"Serius?" tanya Asmila.


Fuad menganggukan kepala, lalu mencium bibir istrinya.


"Aku serius, jadi aku akan nanti akan mengerjakan dulu beberapa pekerjaan lalu aku minta cuti panjang kepada atasanku," kata Fuad lagi.


"Janji ya, mas".


"Ya, aku janji, Mila".


Sementara di rumah Mario dan Soraya tengah berbincang berdua di dalam kamar tidur.


"Mam, ini aku simpan di laci sini yah. Polis asuransi jiwa yang kemarin aku beli. Kalau nanti aku kenapa-napa, jangan lupa yah urus polis ini biar cair klaim asuransinya," kata Mario sambil menyimpan dua berkas ke dalam sebuah laci di kamar tidur mereka.


"Aku heran sama pap, sejak kemarin ini selalu saja berkata begitu. Kalau aku kenapa-napa, kalau aku meninggal, kalau aku pergi. Memangnya ada apa, sih? Selalu bikin orang merinding ketakutan mendengar ucapanmu, pap," Soraya tampak sebal dengan ungkapan yang sering diucapkan oleh suaminya.


"Kenapa harus merinding ketakutan, mam. Orang kan semua akan meninggal, dan tidak ada yang pernah tahu kapan akan meninggal," sahut Mario santai.


"Memangnya pap tidak mau melihat kedua anak gadis kita sarjana, lalu kerja, menikah dan memberi kita cucu. Pap memangnya tak mau kelak mengantarkan anak gadis kita memakai gaun pengantin dan berjalan di altar untuk mengucap janji," Soraya kembali memprotes suaminya.


"Hahahah....aku mau dong, tentunya aku mau, mam. Tapi yang aku sampaikan adalah siapa tahu, mungkin saja aku tidak bisa melakukan itu," ujar Mario lagi.


"Entahlah, aku malas membahas hal itu, sungguh yang pap ucapkan itu membuat aku merinding ketakutan," tukas Soraya sambil berlalu keluar dari kamar tidur mereka.

__ADS_1


Entah mau kemana, yang pasti dia sedang kesal dengan ucapan suaminya yang selalu mengatakan hal demikian.


__ADS_2