
Soraya baru pulang dari kampusnya dan mampir ke rumah ibunya, sudah hampir dua bulan dia menikah dengan Mario dan baru kali ini dia mendapat ijin berkunjung ke rumah ibunya.
Rumah tua yang dulu reyot sekarang sudah bagus karena Mario kemarin ini sudah memperbaiki rumah mertuanya itu.
Bahkan keinginan mertuanya dibuatkan warung kecil pun di laksanakan. Mario mendirikan sebuah warung kecil untuk usaha dan juga untuk kegiatan mertuanya.
Padahal selama dua bulan ini Mario setiap bulannya memberi uang cukup untuk mertuanya dan minta merahasiakan hal itu dari Soraya.
"Mama, aku pusing dan mual terus belakangan ini, tadi juga saat jalan kemari rasanya mau pingsan saja," keluh Soraya sambil membaringkan kepalanya di pangkuan ibunya.
Enak sekali rasanya merasakan hangatnya paha ibu dan juga merasakan elusan tangan tua di kepalanya.
"Mungkin kamu hamil, apa sudah periksa ke dokter atau bidan?"tanya Ibu Wongso.
Soraya mendongak dan menatap wajah ibunya, seakan tak percaya akan apa yang dikatakan oleh ibunya.
"Masa sih hamil itu rasanya tidak enak sekali, lalu tahu aku hamil atau tidaknya bagaimana?"tanya Soraya polos sekali.
"Ya itu gejala awal orang hamil, mual dan pusing bahkan nantinya muntah-muntah. Semua wanita menikah dan hamil akan merasakan hal itu".
Soraya siang itu menggigil dan dia berbaring memakai selimut di dalam kamarnya ketika masih gadis dulu.
Menjelang sore Mario datang menjemput dan mendapati istrinya sedang tidur berbalut selimut, Ibu Wongso menjelaskan kalau Soraya kemungkinan hamil karena dia sejak tadi datang mual-mual dan muntah lalu menggigil kedinginan.
Lalu Mario mendekati tempat tidur istrinya dan menyibak rambut panjangnya yang bergelombang, dia melihat Soraya begitu pucat.
"Dia dari tadi belum makan apapun, katanya pulang dari kampusnya lalu kemari dan bilang pusing, tak lama dia mual dan muntah. Mungkin saja dia hamil, atau hanya sekedar masuk angin. Mama juga tak paham," Ibu Wongso menjelaskan kepada Mario menantu kesayangannya.
Mario membangunkan Soraya, lalu Soraya membuka matanya dengan lemah sambil memandang suaminya.
"Bangun kamu, ini minum aku yang buatkan teh manis untukmu. Minum perlahan," kata Mario tetap saja nada bicaranya sok tegas.
Soraya meminumnya walau terasa mual, tapi dia tahan rasa mualnya karena kalau dia keluarkan pasti dimarahi.
Mario keluar kamar itu, tak lama dia datang lagi membawa nasi dan sup ayam panas yang masih mengepul asapnya.
Dia menarik meja dan menyimpan kedua makanan tadi di depan Soraya, melihat saja sudah ingin muntah rasanya apalagi memakannya.
"Buka mulutmu, ayo cepat, kalau tidak aku mau nanti aku siramkan sup panas ini ke wajahmu. Ayo cepat, jangan manja, buka mulut, lalu kunyah dan telan," kata Mario sambil wajahnya terlihat garang tapi tangannya menyuapi Soraya.
Soraya terpaksa membuka mulut dan mengunyah makanan itu, sesekali dia merasa mual dan ingin memuntahkan makanan dalam mulutnya itu.
"Sempat kau memuntahkan makanan ini, lihat saja aku tarik kamu keluar dan aku jejalkan cabai ke mulutmu".
Sambil disuapi, menahan mual dan takut dimarahi, maka Soraya pasrah saja sambil perlahan mengunyah dan memakan suap demi suap nasi sup ayam tadi.
Setelah makan wajahnya terlihat tidak terlalu pucat lagi, berarti tadi dia pucat karena lapar tapi merasa mual.
"Lihat Mama, harus pakai cara Rio, baru habis makannya. Kalau tidak begitu mana mau dia makan," kata Mario sambil memperlihatkan piring dan mangkuk kosong karena sudah habis dimakan Soraya.
"Yah terserah kamu saja Rio, sekarang kan kamu suaminya. Yang penting dia mau makan dan semoga saja benar dia sedang hamil," sahut Ibu Wongso.
"Aya, yuk kita pulang," ajak Mario.
"Bang, aku mau di rumah mama dulu sih, biarkan aku di sini dulu beberapa hari," rengek Soraya.
"Mau berdiri dan berjalan bersamaku...atau mau aku seret masuk ke mobil?!!!" seperti biasa Mario selalu penuh ancaman.
Ibu Wongso yang melihatnya diam saja, beliau tak mau banyak bicara karena tahu kalau Mario cuma gertak sambal saja kepada istrinya.
Mario sering mencurahkan isi hati kepada mertuanya, karena sebenarnya dia ingin sekali Soraya bisa marah atau bisa mengungkapkan perasaannya.
Entahlah perasaan suka atau perasaan tak suka, karena selama ini wanita itu cuma bisa diam saja menerima apapun perlakuan Mario atau apapun yang diberikan oleh Mario.
Sepanjang jalan menyusuri gang dari rumah Ibu Wongso menuju ke jalan besar, Mario merangkul istrinya dengan erat karena merasa takut istrinya tiba-tiba pingsan.
Orang-orang di sepanjang gang yang paham siapa mereka, merasa senang melihat kedua pengantin baru begitu romantis.
Padahal dalam hati Soraya rasanya ingin menjerit dan enggan sekali harus ikut ke rumah bersama suaminya.
Di dalam mobil pun Soraya diam saja tak banyak bicara, dan dia mendengar Mario menelepon Robert menanyakan suatu alat entah untuk apa dia tak begitu peduli.
Mario menghentikan mobil di depan apotik tak jauh dari rumah mertuanya, dia turun ke dalam apotik membeli sesuatu sementara Soraya hanya diam saja di dalam mobil sambil menggigil.
Mario masuk ke dalam mobil dan memberikan sebuah alat test kepada Soraya.
"Ini besok kamu test sendiri saat pagi hari kamu bangun. Air seni mu masukan ke dalam botol kecil yang ada dalam kotak ini lalu strip plastik panjang dimasukkan ke dalamnya".
Soraya meneliti alat yang diberikan oleh Mario, lalu menatap suaminya yang sedang menyetir mobil.
"Kalau misal aku benar hamil, apakah dia akan mencintai aku? apakah akan menjadi lembut kepadaku?" batin Soraya berharap suaminya bisa sedikit lebih baik kepadanya.
Sesampainya di rumah, Mario segera meminta Soraya beristirahat saja di dalam kamar.
Soraya menurut saja karena memang masih terasa pusing dan tidak enak badan.
Dari luar kamar terdengar sesekali Mario menelepon orang atau ada orang menelepon dirinya.
Kadang terdengar nada marah, kadang terdengar juga nada tawa, entahlah mungkin suaminya memang mood nya tidak stabil, begitu pikir Soraya.
Ketika Soraya membuka mata, jarum panjang di jam dinding tepat di angka 12 dan jarum pendek tepat di angka 6, berarti sudah menjelang malam.
Soraya mencoba bangkit walau masih merasa sangat pusing dan berjalan keluar kamar karena terdengar sangat tenang sekali di sana.
Ketika Soraya membuka pintu, dia terkejut melihat Mario tengah menyiapkan makanan matang di atas meja makan.
Soraya terkesiap, dia hanya diam saja di depan pintu sambil terbengong-bengong melihat Mario begitu cekatan menyiapkan segalanya di atas meja.
"Ayo duduk, aku yang masak ini semua jadi kamu harus makan yah,"ujar Mario dengan lembut sehingga terdengar sangat menggetarkan hati Soraya.
Seakan tak percaya, Soraya mencoba duduk di salah satu kursi sambil menatap dalam ke wajah suaminya.
"Aaakkkuuu...mau ke toilet sebentar," ujar Soraya dan dia segera mencoba bangkit, tapi Mario tiba-tiba memegang lengannya dan membimbing dia ke kamar mandi rumah sewaannya itu.
Soraya menatap kaca yang ada di dalam kamar mandi, seraya tak percaya dengan apa yang dia lihat barusan.
Setelah selesai buang air kecil dan mencuci muka, Soraya keluar dari kamar mandi dan Mario masih di sana menunggu dirinya, kemudian kembali Mario memegangi lengannya dan mereka duduk berdampingan di meja makan.
"Ayo, kamu harus makan biar cepat sehat lagi. Ini aku sendiri yang memasak semua makanan ini," kata Mario memperlihatkan ada sup ayam dan perkedel kentang.
Yang membuat Soraya takjub, selama ini mereka tidak mempunyai alat menanak nasi, sehingga setiap menanak nasi dilakukan dengan manual.
Beras dimasak dengan air secukupnya di dalam panci, lalu setelah airnya surut bersatu dengan beras diangkat dan dikukus sampai matang.
Ternyata Mario bisa membuat itu, walau terasa mual tapi Soraya mencoba memakan masakan suaminya.
Dan luar biasa, rasanya lebih enak dari buatannya selama ini, nasi lebih pulen, sup ayam terasa gurihnya dan perkedel kentang juga bercita rasa enak sekali.
"Pantas selama ini dia selalu memprotes rasa masakanku, rupanya dia pandai memasak. Malah aku harus belajar banyak dari dia," kata Soraya dalam hatinya merasa takjub kepada suaminya.
"Kamu suka tidak masakanku?" tanya Mario sambil mengambil perkedel dan mengunyahnya.
__ADS_1
"Mengapa selama ini tak bilang kalau Abang pandai memasak?"tanya Soraya sambil memandang kagum suaminya.
"Kamu tak pernah tanya, jadi ya buat apa aku bilang. Kecuali kamu tanya, pasti akan aku jawab," sahut Mario sambil mengangkat alisnya.
"Besok aku belajar memasak kepada Abang yah".
"Berani bayar berapa kamu?".
Soraya hanya senyum saja tak bisa menjawab lagi.
Pagi harinya Soraya segera melakukan test kehamilan dengan alat yang diberikan oleh suaminya kemarin.
Strip plastik dicelupkan ke air seni sesuai dengan petunjuk yang ada dalam dus, terlihat ada satu garis merah tegas ketika strip plastik itu masuk ke dalam air seninya, namun tak lama muncul lagi garis merah di samping garis sebelumnya.
Mata Soraya membulat, dia tak percaya kalau dirinya benar hamil.
Dia membuang air seni tadi dan memasukan strip tadi ke dalam plastik kecil yang ada di kotak tadi.
Lalu dia masuk ke dalam kamar dan membangunkan Mario yang masih terlelap.
"Bang Rio....Bang Rio...,"ujar Soraya sambil menepuk bahu suaminya.
"Ada apa?"tanya Mario sambil matanya masih menyipit karena masih mengantuk.
Tapi dia melihat wajah Soraya yang tampak bingung, dan dia segera bangun. Jam dinding masih menunjukkan jam empat dini hari.
"Kenapa kamu?"tanya Mario merasa heran.
"Iiinnniiii Bang...aaaakkkuuu.. hamil," sahut Soraya sambil menunjukkan strip plastik tadi.
"O, ya...mana aku lihat?"ujar Mario sambil mengambil hasil test pack dari tangan Soraya.
"Yes, nanti pagi kita ke dokter kandungan yah, kita periksa kandunganmu. Terima kasih Aya, terima kasih sekali," ujar Mario sambil memeluk Soraya dan mencium keningnya.
Soraya tampak bingung karena suaminya menjadi begitu manis kepada dirinya.
Pagi harinya Mario segera membawa istrinya ke klinik ibu dan anak yang terkenal di kota mereka.
Mencari dokter kandungan wanita tapi tak ada, akhirnya dipilih satu nama yaitu dokter Yasmin.
Ketika mereka berdua masuk ke ruangan praktek dokter Yasmin, mereka cukup kaget karena dokter itu orang yang santai sekali.
Rambutnya tampaknya panjang karena diikat ke belakang, berkacamata dan yang menarik ada tato bergambar ular yang melingkar di bunga mawar di pergelangan tangan kirinya.
"Silahkan masuk, Nyonya Soraya Wongso, kehamilan pertama. Apa yang dirasa sekarang, bu?" tanya dokter itu dengan gaya santai.
"Eeemmm...saya sering mual dan pusing, juga susah makan apapun, kalau melihat makanan rasanya mual sekali," Soraya menjelaskan kepada dokter.
"Hanya Ibu pada catatan ini tidak hafal terakhir haid, apakah sebelumnya sering tidak teratur?".
"Iya dok, mungkin teratur tapi saya tidak pernah ingat tanggal haid saya, kalau jadi ya sudah haid saja".
"Nanti lagi jangan ya, setiap wanita harus mencatat tanggal haid terakhir, apalagi sudah menikah. Agar jangan sampai anak pertama masih kecil, tak tahunya sudah hamil lagi. Paham ya bu".
Dokter Yasmin menjelaskan dengan sangat jelas dan enak didengarkan suaranya.
"Sekarang kita ke ruangan sebelah yah, kita periksa perut ibu. Ayo... Pak Mario juga harus ikut melihat yah".
Mario tentu saja semangat ingin melihatnya, tapi ketika melihat dokter Yasmin memegang perut istrinya yang terbuka, ada rasa kesal juga.
Apalagi ketika tahu istrinya saat itu tidak memakai celana dalam, dan hanya memakai pakaian pasien saja.
Mario menatap setiap pergerakan dokter Yasmin, ada rasa khawatir istrinya diapa-apakan.
"Pak, ini kantong rahim istri Bapak Mario dan kehamilan Ibu Soraya sudah masuk delapan minggu rupanya,
dan ini coba lihat ada bentuk seukuran kacang kulit, ini adalah janinnya," dokter Yasmin menunjukkan calon bayi kecil di dalam rahim Soraya.
Mario merasa bahagia sekali, dan dia mengelus kepala istrinya, lalu Soraya mendongak dan menatap suaminya yang terlihat berkaca-kaca.
"Janinnya sehat, untuk itu ibu juga harus sehat yah. Harus makan, minum susu dan nanti saya beri vitamin juga obat penahan mual".
Lalu Mario menunggu istrinya berganti pakaian dan kembali duduk di hadapan dokter Yasmin.
"Ini resep vitamin dan obat penahan mualnya, ingat ya Ibu harus makan walau pasti merasa mual dan biasanya disertai penciuman yang sensitif".
"Untuk pak Mario, kalau misal ingin berhubungan yang pelan-pelan saja ya pak, karena usia kandungan masih sangat rawan sekali".
"Hati-hati jangan sampai jatuh, jangan bergerak terlalu aktif, banyak makan dan banyak istirahat".
Mario dan Soraya merasa puas dengan keterangan yang disampaikan oleh dokter Yasmin tadi.
"Bang, sudah tidak apa-apa dokter Yasmin juga, asal Bang Rio mau mengantar setiap periksa kandungan sebulan sekali," ujar Soraya ketika menunggu panggilan apotik.
"Oke, aku usahakan untuk menemanimu ke dokter setiap bulan. Ingat kamu juga jangan terlalu letih, sudah jangan urus dulu ini dan itu di rumah. Banyak diam saja, biar nanti aku yang urus semua".
Soraya tertegun mendengar apa yang disampaikan Mario, ternyata benar apa yang ibu mertua dan adik iparnya sampaikan.
Mario memang sifatnya keras, tapi paling peduli terhadap apapun, Soraya mulai berpikir kalau selama ini Mario suka seperti marah kalau bicara, tapi sebenarnya apa yang dia sampaikan banyak benarnya.
Secara tidak langsung Soraya sekarang lebih rapih dalam membersihkan rumah, lebih rapi juga saat menyetrika pakaian suaminya.
Lebih pandai membuat kopi kesukaan suaminya dan sudah pintar juga membuat roti untuk sarapan pagi suaminya.
Selama ini Soraya tak pernah menyentuh suaminya lebih dahulu, bahkan untuk sekedar memegang tangannya.
Tiba- tiba saja Soraya memegang tangan Mario dan menggenggamnya, Mario jadi merasa aneh, dia melirik istrinya lalu tersenyum dan membalas genggaman istrinya.
Ketika selesai membayar obat dan vitamin, Soraya menggandeng lengan suaminya. Disitu terlihat Mario merasa senang dengan apa yang dilakukan oleh Soraya.
Ketika mobil melaju, ponsel Mario berbunyi dan terlihat nama Anita muncul disana.
Mario membiarkan ponselnya bunyi dan menyimpan benda itu di atas dashboard mobilnya.
"Mengapa tidak diangkat? sebenarnya siapa sih Anita itu? sering sekali nama itu muncul di ponsel abang," tanya Soraya sambil menatap suaminya.
"Seharusnya kamu bertanya nama itu lima bulan lalu, mengapa baru sekarang menanyakan kepadaku?"Mario bertanya balik kepada Soraya.
"Lima bulan lalu kan kita belum menikah, kita tiba-tiba harus mempersiapkan diri untuk menikah. Bahkan aku sendiri sampai sekarang tak pernah tahu apa yang mendasari Bang Mario mau menikahi aku?"Entah dari mana keberanian itu muncul dan kalimat itu meluncur dari bibir Soraya.
Mario tadinya mau menuju rumah, mendengar itu langsung membelokkan mobil nya ke arah lain menuju sebuah rumah makan yang memiliki pemandangan yang indah.
Soraya tampak tak paham dirinya mau dibawa kemana oleh suaminya, selalu saja diam tak banyak bicara dan tak berani bertanya.
Tak lama mereka tiba di tempat yang direncanakan Mario dan setelah masuk ke dalamnya, segera mencari tempat duduk yang menghadap pemandangan alam yang indah.
Mario memesan beberapa macam makanan, dan semua yang dipesan memiliki cita rasa segar.
"Aku sebenarnya kaget saat Oma meminta aku mengantar ke rumah Ibu Wongso. Aku juga selama ini tak pernah terlalu paham siapa saja jemaat gereja kita. Oma bilang Ibu Wongso sakit jadi ingin menjenguknya".
"Kami berdua tiba di rumahmu dan melihat kondisi kaki Ibumu yang sangat parah, kaki bengkok, mulai kelabu karena membengkak tapi tak punya biaya untuk ke dokter".
__ADS_1
Soraya mendengarkan sambil mulai berkaca-kaca karena ingat kondisi ibunya memang begitu beberapa bulan yang lalu.
"Lalu ibumu bercerita tentang anak gadisnya yang harus bekerja siang malam, siang bekerja di toko sembako dan malam mencuci lalu menyetrika pakaian orang. Walau menurutku hasil setrikanya masih kalah rapih dari aku, dan aku tahu saat gadis itu jadi istriku," Mario bercerita sambil setengah menggoda istrinya.
Soraya jadi senyum sambil mengerucutkan bibirnya.
"Aku sebenarnya biasa saja melihat gadis itu, karena tidak cantik, rambut gelombang, kurus dan kulitnya kusam. Cuma yang membuat aku penasaran adalah karena gadis itu sombong, berani menantang Oma ku dengan mengatakan akan menerima apapun juga keinginan Oma sebagai balas budi atas kebaikannya".
"Aku tanya Oma waktu pulang dari rumah gadis itu, mau ditagih apa gadis itu oleh Oma, dan jawab Oma ingin menikahkan aku dengan gadis itu".
"Asal kamu tahu, aku punya banyak pacar, hampir semua wanita yang aku ajak kenalan pasti ingin menjadi kekasihku. Entah karena melihat wajahku atau karena berpikir aku banyak uang. Yang pasti semua tak akan menolak, apalagi kalau yang meminta itu Omaku atau ibuku pasti akan merasa di atas angin".
Pelayan rumah makan datang membawa makanan yang mereka pesan, sehingga cerita Mario terhenti. Setelah semua makanan sudah tersedia di meja, sambil makan Mario meneruskan ceritanya.
"Kamu tahu tidak? aku terkejut saat Soraya Wongso menolak keinginan Oma Elisabeth. Dan aku juga kesal karena gadis itu tidak berkata "ya" atau berkata "tidak" saat aku yang meminta menjadi istriku. Dia hanya diam dan menurut saja sampai hari ini dinyatakan hamil anak dari aku".
Mario memandang Soraya yang juga sedang memandang dirinya, istrinya memang tidak secantik pacar-pacarnya tapi wanita itu sangat menarik dan tak bosan dilihat.
"Dan yang bikin aku kesal sampai hari ini, istriku selalu diam dan diam. Aku ditelepon wanita lain, diam, aku ajak kemana, diam, aku beri ini dan itu, diam, bahkan aku marah juga diam".
"Aku ingin tahu sekarang, apa isi hatimu selama ini. Aku tak habis pikir punya istri yang diam dan diam, cobalah bicara apa kamu sebenarnya tak suka dengan pernikahan ini atau bagaimana?".
Soraya ditanya begitu tentu saja jadi diam, dan Mario memandang wajahnya yang kelihatan berpikir untuk mencoba menjawab pertanyaan tadi.
"Perempuan pasti akan senang kalau melihat ada seorang pria tampan tiba-tiba ada di rumahnya, dan Oma pria tampan itu memberi bantuan yang sangat banyak untuk pengobatan mama ku".
"Aku juga senang melihat pria itu, tapi aku juga takut kepadanya".
"Apa yang kamu takuti waktu itu?" tanya Mario merasa aneh.
Wajah Soraya berubah merah lalu dia menjawab perlahan,
"Aku takut suka dan jatuh hati pada pria itu".
Mario tertawa mendengarnya, lalu memintanya meneruskan ceritanya lagi.
"Jujur ketika Oma meminta aku menikah dengan Bang Rio, saat itu aku takut sekali. Terbayang olehku seorang lelaki tampan memiliki istri buruk rupa seperti aku, dan kami menikah atas permintaan Oma pula. Aku malah menjadi kasihan kepada Abang, aku tak mau nanti Abang akan sedih karena setiap hari harus melihat aku yang tak pernah abang suka".
"Tapi kemudian Abang yang minta, aku tak jawab ya atau tidak, karena waktu itu aku serasa ketiban durian runtuh, ada cowok ganteng tiba-tiba mengajak nikah".
Mario tambah kencang tertawanya mendengar ucapan istrinya yang tenyata bisa juga bicara agak lucu.
"Setelah itu selama tiga bulan, aku langsung harus persiapan menikah tanpa aku bisa kenal dengan Mario Maliangkay lebih dekat. Aku langsung diberi pendidikan ini dan itu oleh Oma dan Mamih Regina tentang melayani Mario Maliangkay".
"Hahahaha...pendidikan...hahaha...kamu ternyata lucu yah... hahahahaha!!!!!"seru Mario merasa geli mendengar perkataan istrinya.
"Sampai sudah menikah juga kan aku masih menerima pendidikan dari suami, apa yang aku lakukan selama ini selalu tidak sesuai dengan keinginan tuan muda Mario," ujar Soraya sambil menatap suaminya yang terus menerus senyum atau tertawa saat mendengar perkataan jujurnya.
"Aku bahkan sampai hari ini masih bertanya, aku dinikahi apakah untuk menjadi istri atau menjadi pembantu spesialnya tuan muda Mario Maliangkay, " ucap Soraya mengakhiri perkataannya.
Lalu mereka melanjutkan makannya, dan Soraya tampak senang karena Mario memesan puding buah kiwi untuknya jadi ada rasa asam segar pada makanan itu.
Selesai makan kemudian Mario duduk di sebelah Soraya, menggenggam kedua tangannya dan menatapnya dalam ke mata Soraya.
"Lelaki tak akan menikah kalau tak suka atau tak cinta, bahkan lelaki harus punya rasa kepada seorang wanita kalau bercinta dengannya. Aku cinta kepada istriku, dan bagiku kamu itu istriku bukan pembantu spesial seperti yang kamu pikirkan".
Soraya menatap wajah suaminya dan senyum manis mendengar kalimat itu.
"Kamu cinta tidak sama tuan muda Mario Maliangkay? atau kamu hanya ingin sekedar menjadi pembantu spesial baginya?"tanya Mario sambil setengah menggoda istrinya.
Soraya wajahnya semburat memerah dan tertunduk malu, lalu Mario mengangkat dagunya sambil menanyakan lagi hal yang sama.
"Aku cinta sama tuan muda Mario Maliangkay, dan aku ini istrinya tuan muda Mario Maliangkay, " jawab Soraya dengan senyum lebar sambil menatap wajah suaminya.
Mario memeluk istrinya, dan dia tak peduli walau banyak mata yang memandang ke arah mereka.
Suami memeluk dan mencium kening istrinya di tempat umum tentu bukan masalah, apalagi istrinya sedang hamil muda.
Di dalam mobil menuju rumah, suasana sekarang menjadi lebih cair, ternyata Soraya bisa memberikan kehangatan dan dia juga banyak bicara dan cerita tentang skripsinya dan juga hal lain-lain.
Saat santai berbincang, ponsel Mario berbunyi lagi dan muncul nama Anita lagi.
"Kamu tidak akan angkat? dia itu wanita yang mencium aku di supermarket, dan dia tak percaya walau aku sudah bilang kepadanya kalau aku sudah punya istri," ujar Mario sambil melirik Soraya.
Soraya diam sebentar, lalu menatap suaminya dan meraih ponsel milik suaminya.
"Halo, Mario sayang....!!!" seru suara dari seberang sana.
"Maaf ini saya istrinya Mario, ada apa yah menelepon suami saya terus?"ujar Soraya dengan nada ketus dan Mario cukup kaget mendengarnya.
"Masa sih istrinya, kamu bohong yah!!!"teriak suara dari sana lagi.
"Untuk apa bohong, memang saya istri Mario. Saya harap anda jangan ganggu suami saya lagi atau saya nanti laporkan anda ke Polisi karena mengganggu kenyamanan orang lain," Soraya berkata tegas dan wanita tadi segera menutup teleponnya.
Mario tertawa mendengar istrinya yang pendiam ternyata lumayan tajam juga kalau sudah bicara keras.
Soraya menyimpan ponsel suaminya dan wanita tadi tampaknya tidak berani menelepon lagi.
Lalu Soraya menanyakan beberapa nama yang sering muncul di ponsel suaminya.
Mario tak menjawab, malah membawa istrinya ke kantornya. Lalu Soraya dikenalkan kepada Marsela sekretarisnya dan Susi arsitektur di kantornya.
Dan memang Soraya pernah melihat wajah keduanya saat resepsi pernikahan mereka beberapa bulan lalu.
"Sehari setelah kita menikah, Marsela dan Susi mencari aku, karena ada sedikit masalah dengan proyek yang sedang kami kerjakan," Mario menjelaskan kepada Soraya karena dia juga tahu pasti nama mereka sering muncul di ponselnya.
Soraya mengangguk dan tersenyum kepada suaminya.
Tak lama di kantor, lalu Mario mengajak Soraya berbelanja terutama membeli susu ibu hamil, kemudian mereka menuju pulang ke rumah.
Di jalan Mario menggoda lagi istrinya ," Aya, kamu memang kusam wajahnya kurang cerah harus perawatan kosmetik tapi nanti saja karena sedang hamil. Cuma aku suka dengan body mu, dan aku bersyukur kepada Tuhan, walau diberi istri kurus tapi asetnya ternyata mantap".
"Maksudnya apa?" tanya Soraya bingung.
"Hahaha...istriku buah dadanya ternyata besar, dan aku bahagia sekali waktu pertama kali membuka pakaianmu," kata Mario sambil tertawa sambil mencolek Soraya.
"Nakal sekali Bang Rio... hahaha...tapi aku juga bersyukur karena keinginanku dikabulkan juga oleh Tuhan," balas Soraya kepada suaminya.
"Apa itu?".
"Hahahaha....dari dulu aku berharap punya suami yang memiliki bulu dada...dan ternyata punya dong...haha!!!" seru Soraya tertawa tapi terlihat malu wajahnya.
"Hahaha...istriku juga nakal yah rupanya...hahahah".
"Ya boleh dong punya pikiran nakal sama suami sendiri," ujar Soraya mulai berani manja.
"Nanti yah kalau anak kita sudah lahir, kamu akan aku ajak heboh. Kemarin kamu diam saja, jadi aku tak bisa memberi kehebohan," kata Mario sambil mengedipkan mata kepada istrinya.
"Maksudnya apa sih?".
"Sssttt...nanti saja kalau bikin anak kedua...hahahah".
__ADS_1
Soraya hanya senyum saja, dan sejak saat itu dia merasakan bahagia menjadi istrinya Mario Maliangkay.