
Jimmy membuka dus yang ada di atas meja kerjanya, dan terlihat ada makanan yang tampaknya sangat lezat.
Di atas dus itu ada amplop kecil, bertuliskan " Selamat menikmati kesayangan".
Jimmy segera paham siapa yang telah mengirimkan makanan tersebut.
"Ini pasti perempuan genit itu yang mengirim," ujar Jimmy sambil mengangkat dus berisi makanan tadi dan membawanya keluar kantor.
"Mas Agus, mau makanan enak tidak?" tanya Jimmy kepada Agus si pedagang warung makan sebelah kantornya.
"Makanan apa, sih?" tanya Agus keheranan.
"Ini mas, namanya lasagna, masakan Italia, isinya daging dan keju," Jimmy menjelaskan.
"Walah keju, saya tidak suka keju loh," tukas Agus menolak makanan itu.
"Eh, coba dulu, atau bawa buat anak-anak di rumah," sahut Jimmy lagi mencoba merayunya.
"Iya boleh, buat anak-anak saya pasti suka keju. Soalnya kadang suka minta jajan ayam goreng keju di restoran," ujar Agus sambil menerima dus tersebut.
"Hmmm, baunya sih enak begini, kelihatannya rasanya juga enak kayak begini sih," Agus mencium makanan itu seraya tergoda untuk mencobanya.
"Enak pastinya, orang yang buat makanan ini juga cantik, loh, bahkan punya usaha makanan sendiri," Jimmy menjelaskan kepada Agus.
"Pacar mas Jimmy, yah....," tebak Agus.
"Hahahaha....bukan, cuma nasabah saja kok. Nanti kalau dia kirim makanan lagi, aku bagi lagi sama Mas Agus yah".
"Oke, siapa takut. Saya bisa bagi ke teman lain atau buat anak saya di rumah".
Jimmy mengacungkan dua jempol sambil berjalan masuk ke dalam kantornya.
"Hmmm, lasagna nya di kasih ke Agus, yah? Padahal aku juga mau loh," ujar Marsela ketika tahu habis memberikan makanan ke Agus di samping kantornya.
"Ah...mbak Sela juga dapat, kan? Dia kalau kirim makanan pasti bukan cuma buat aku saja, kok," tukas Jimmy.
"Tentulah, kami semua juga kebagian, bahkan yang untuk pak Rio juga sudah aku simpan di mejanya," ujar Marsela sambil menunjuk ke arah ruangan Mario.
"Hahaha...baguslah, semoga Bang Rio suka makanan itu".
"Jimmy, aku mau tanya. Ada apa sih, kamu sangat menolak makanan dari dia? Hampir setiap hari dia kirim makanan kemari, dan aku sangat yakin tujuannya untuk mencari perhatianmu. Lalu mengapa kamu selalu menolak?".
"Mbak Sela sayang, aku tak mau jawab. Aku yakin mbak pasti sudah tahu jawabannya," sahut Jimmy sambil mengedipkan sebelah matanya lalu berjalan masuk ke dalam ruangannya lagi.
Marsela hanya geleng-geleng kepala melihat adik kandung atasannya itu.
Jimmy sudah dia anggap seperti adik sendiri, dan memang selama ini Jimmy juga di kantor termasuk orang yang paling manja kepada Marsela dan sering mencurahkan isi hatinya kepada Marsela.
Sudah dua belas tahun lamanya Jimmy bergabung di perusahaan milik Mario kakaknya.
Dia dulu menggantikan Susi seorang arsitek di kantor itu.
Jimmy juga seorang insinyur arsitek, dulu dia sempat yakin akan masuk ke sebuah perusahaan kontraktor ternama berskala internasional di Jakarta.
Tapi entah mengapa, hasil ujiannya ternyata dinyatakan tidak lulus saat mengikuti ujian masuk di perusahaan itu.
Ketika dia sedang merasakan kekecewaan karena tidak berhasil bergabung di perusahaan bergengsi tersebut, ditambah lagi ada kabar lain yang tambah membuat hatinya hancur.
Jimmy selagi kuliah punya kekasih, gadis cantik dari fakultas lain di kampusnya yang dua angkatan di bawahnya.
Hampir tiga tahun pacaran, namun ketika Jimmy wisuda, gadis pujaannya tidak hadir tanpa alasan yang jelas.
Saat itu Jimmy pernah mencoba menghubungi dan mencari keberadaannya, tapi gadis itu seakan hilang di telan bumi.
Dalam kegalauan karena telah gagal bekerja di perusahaan bergengsi, di saat itu pula Jimmy menerima undangan pernikahan.
Gadis kekasih hatinya akan segera menikah dengan teman lelaki yang satu klub basket dengannya.
Usut punya usut, rupanya gadis itu selama pacaran dengan Jimmy, telah mendua hati dengan salah satu teman basket Jimmy itu.
Bahkan pernikahan mereka akan segera berlangsung karena gadis itu telah hamil oleh teman basketnya Jimmy tersebut.
Salutnya Jimmy hadir ketika pernikahan itu berlangsung dan dengan gagah dia memberi selamat kepada kedua mempelai.
Tapi buruknya, sejak saat itu dia menjadi seperti anti wanita, karena sejak saat itu juga dia menjadi sering menyendiri ke gunung dan tak pernah lagi ada cerita dirinya punya pacar.
Selain ibu kandungnya yaitu Mamih Regina, ada dua orang lagi wanita yang bisa diajak bicara oleh Jimmy yaitu Soraya kakak iparnya dan Marsela sekretarisnya Mario.
"Marsela, apa ini?" tanya Mario yang baru saja masuk ke dalam ruangan kerjanya.
Marsela segera berlari menuju ruangan pimpinannya, dan menjelaskan tentang makanan yang ada di mejanya Mario tersebut.
"Kristy? maksudmu nona Kristy yang rumah makannya kita buatkan bangunannya kan?"tanya Mario sambil mengingat pengiriman makanan yang diceritakan oleh Marsela.
"Dan...tampaknya nona Kristy suka sama adikmu, boss," ujar Marsela sambil senyum lebar.
"Walah...aku baru tahu ada kisah berlanjut dari pembangunan rumah makan itu yah....hahahahah...tapi memangnya Jimmy akan suka sama dia?" Mario merasa geli membayangkan nina Kristy dan juga Jimmy adiknya.
Marsela juga jadi tertawa geli sambil mengangkat bahunya tanda tak paham soal itu.
"Jim, ini lasagna kan? enak loh..
aku suka sekali makanan ini," kata Mario ketika memasuki ruangan kerja adiknya.
Jimmy hanya melirik saja ke arah sang kakak, lalu dia melanjutkan kerjanya.
"Kelihatannya Kristy itu suka padamu, sepertinya dia cocok jadi istri, pandai memasak dan sudah pasti dia akan jadi wanita setia," goda Mario sambil menyuapkan satu sendok lasagna ke dalam mulutnya.
Jimmy menggelengkan kepalanya, lalu menghela nafas berat.
"Oke sih, wajahnya cantik, pandai memasak, punya rumah makan yang mulai terkenal. Tapi...wow...aku tak tahan dengan ukuran tubuhnya," ujar Jimmy sambil mencibirkan bibirnya.
"Jangan begitu loh, nanti kamu benaran jatuh cinta sama dia," goda Mario sambil menikmati lasagna kiriman dari wanita bernama Kristy.
Beberapa waktu lalu memang ada seorang wanita memakai jasa perusahaan Mario untuk merenovasi sebuah bangunan tua yang baru saja dibelinya.
Bangunan tua itu diubah menjadi sebuah rumah makan yang unik dan minimalis hasil garapan Jimmy.
Wanita muda yang menggunakan jasa perusahaan Mario itu sangat cantik, tapi memang tubuhnya gemuk.
Tapi justru tubuhnya yang gemuk itu yang membawa aura cantiknya.
Namanya Kristy, dan ternyata diam-diam wanita itu suka kepada Jimmy.
Jadi hampir setiap minggu selalu ada kiriman kue atau makanan lainnya ke kantor Jimmy dari rumah makan miliknya.
"Jim, besok aku mau keluar kota dalam waktu lama. Nanti aku titip kantor, yah," ujar Mario sambil menyelesaikan suapan lasagna nya yang terakhir ke dalam mulutnya.
"Mau kemana? kan proyek jembatan dan lain-lain sudah beres. Hanya ada beberapa proyek renovasi rumah mewah saja," sahut Jimmy.
__ADS_1
"Iya, aku mau pergi sama teman, ada sedikit urusan di luar kota. Jadi kantor aku titip ke kamu selama aku pergi nanti".
"Memangnya berapa lama abang akan pergi? apa mau ada proyek baru lagi? kata Bang Wildan sampai sekarang belum ada yang baru lagi," kata Jimmy terlihat agak gusar abangnya akan pergi lama.
"Nanti juga akan ada proyek baru lagi, tenang saja Wildan saat ini yang memegang jalur ke pemerintahan. Kalau tak salah akan ada proyek pembuatan taman di seluruh Jawa Barat karena Gubernur sekarang seorang arsitek juga dulunya," Mario memberi semangat kepada adiknya.
"Kalau abang pergi lama, apakah Bang Wildan akan percaya sama aku? kan selama ini aku cuma menuruti apa kata Bang Rio dan Bang Wildan saja, kan," biasa Jimmy suka keluar sifat manjanya.
"Lu di kelompok pendaki gunung bisa jadi ketua, masa di kantor kagak bisa. Dasar Jimmy, mau gue tinggalin aja kelabakan," Mario mengacak rambut adiknya lalu beranjak keluar dari ruangan itu.
Jimmy membuka laptop nya lagi, namun ketika akan mengetik dia baru sadar kalau kakaknya belum menjawab akan pergi lama kemana dan bersama siapa.
"Nanti deh aku tanyakan, ini harus selesai hari ini juga," Jimmy mendengus sambil melanjutkan pekerjaannya lagi.
Marsela mengetuk pintu ruangan Jimmy untuk meminta tanda tangan pengeluaran uang untuk tim survey ke lokasi pekerjaan baru.
"Loh, bukannya ada Bang Rio, kenapa harus aku yang tanda tangan?" tanya Jimmy keheranan.
"Kata Boss Rio biar Jimmy saja yang tanda tangan, lagipula beliau barusan pergi lagi," sahut Marsela sambil menyodorkan nota pengeluaran uang.
"Kebiasaan memang orang satu itu, kalau pergi keluar kantor langsung saja kabur tanpa memberitahu mau kemana," Jimmy menggerutu sambil menandatangani beberapa nota yang diminta oleh Marsela.
"Oke, terima kasih yah Boss Jimmy," goda Marsela sambil menutup pintu ruangan itu.
Sementara Jimmy hanya menghela nafas panjang, lalu meneruskan lagi pekerjaannya.
"Bang, ini aku berikan obat terakhir yah. Karena mau tak mau bulan depan Bang Rio harus melakukan operasi paru- paru. Akan aku lakukan demi kebaikan Bang Rio juga," ujar Samuel dengan tegas ketika siang itu Mario datang lagi meminta obat kepadanya.
"Hmmm, kamu itu berani memarahi aku sekarang, yah. Dulu kamu takut sama aku," Mario malah bercanda kepadanya.
"Bang Rio, coba serius sedikit saja. Aku khawatir sekali kalau kanker paru-paru di tubuh Bang Rio sudah semakin menyebar kemana-mana," Samuel terlihat sangat tegang sekali.
"Tenang bro, hidup itu rahasia Tuhan. Siapa tahu besok lusa aku tiba-tiba sembuh total karena ada mukjizat Tuhan," ujar Mario lagi sambil tersenyum menatap Samuel.
Samuel menatap Mario dengan kesal, tapi Mario membalas tatapan Samuel dengan cengengesan.
"Oke, terima kasih resepnya, aku mau ke depan menebus obat ini. Sudah jangan terlalu serius yah, aku mau pulang dulu," Mario menepuk bahu Samuel lalu beranjak keluar dari ruangan prakteknya Samuel.
Sementara Samuel hanya menggelengkan kepalanya karena tak habis pikir dengan Mario yang terus saja menolak untuk di operasi.
"Jena, coba kamu pikirkan lagi apa yang harus kita beli untuk keperluan Rere. Popok sudah, penutup telinga sudah, baju hangat sudah. Apalagi yah?" Asrul cukup kebingungan ketika menyusun perlengkapan untuk bayinya.
"Sudah semua kok, kan kemarin aku sudah menyiapkan semuanya," sahut Jena sambil menyusui anaknya yang mulai mengantuk.
"Oke, aku ke depan dulu yah, mencari angkutan umum yang bisa di sewa untuk mengantar kita ke terminal bis," kata Asrul sambil menghitung uang yang ada di dompetnya.
"Mengapa tidak naik kereta api saja sih, bukannya lebih enak naik kereta api kalau ke Jakarta," ujar Jena sambil meletakkan bayinya yang sudah terlelap ke tempat tidur.
"Kalau naik kereta api, kita harus ke kota lagi. Dari sini ke sana harus melewati klinik istriku, resiko kita bertemu dengannya sangat besar," sahut Asrul menjelaskan kepada Jena.
"Suami macam apa tak mau ketemu istrinya," ledek Jena kepada Asrul.
Sambil beranjak keluar dari kamar kostnya, Asrul melirik sebal kepada Jena.
Sekitar setengah kemudian Asrul datang lagi ke rumah kostnya dengan naik sebuah mobil angkutan kota.
"Ayo, kita berangkat sekarang!" ajak Asrul kepada Jena.
Jena segera mengambil gendongan bayi, lalu meraih anaknya yang sedang tidur perlahan dan menaruhnya ke dalam gendongan bayi.
Asrul mengangkuti koper dan tas besar berisi keperluan anaknya.
Ada rasa miris di hatinya, dulu sewaktu Edwin bayi kemana- mana naik mobil mewah milik mertuanya.
Sekarang bayi perempuannya harus naik angkutan kota sewaan, lalu naik bis umum menuju kota Jakarta.
Cuma menangnya bayi ini akan segera naik pesawat terbang di usia yang baru saja genap satu bulan.
Edwin naik pesawat terbang ketika sudah masuk sekolah dasar, bedanya Edwin naik pesawat ke luar negeri, sedangkan adik bayi ini naik pesawat untuk pulang kampung.
Anwar sedang naik ke tiang listrik di suatu jalan di kabupaten Semarang, katanya ada kabel korsleting dari salah satu tiang di sana yang berakibat satu lingkungan padam listrik.
Memang Anwar adalah sarjana elektronika dan dia diterima bekerja di Perusahaan Listrik Negara menjadi salah satu teknisi.
Saat sedang memperbaiki kabel yang korslet tadi, tak sengaja matanya melirik ke arah sebuah mobil tua yang sangat dikenalnya.
Mobil tua milik Asrul kakaknya tengah parkir di salah satu mini market di dekat tiang listrik itu berdiri tegak.
Tapi dia juga sangat terkejut ketika melihat orang yang baru selesai belanja dari mini market langsung masuk ke dalam mobil tersebut.
"Siapa orang itu memakai mobil Bang Asrul?" katanya dalam hati.
Anwar tentu saja tidak tahu kalau mobil tua milik kakaknya itu sudah dijual ke orang lain beberapa waktu yang lalu.
Karena tak mungkin dia segera turun untuk mengejar mobil tadi, jadi dia hanya bisa bertanya-tanya dalam hati saja.
Anwar kembali serius memperbaiki kabel di atas tiang listrik itu, sehingga dia tidak tahu kalau baru saja ada angkutan kota melewatinya dan di dalamnya ada kakaknya, Jena dan bayi mereka berdua.
"Biasanya kalau ada kabel listrik korslet seperti itu, pasti ada adik saya dan timnya yang memperbaikinya," Asrul bercerita kepada sopir angkutan umum itu ketika baru saja melewati beberapa orang yang sedang memperbaiki kabel tiang listrik.
Angkutan kota sewaan itu terus melaju menuju terminal bis, karena hari ini Asrul akan membawa Jena dan bayi mereka ke kota Jakarta.
Rencananya mereka akan menginap dulu semalam di sebuah hotel yang tidak jauh dari Bandara, besok mereka akan naik pesawat menuju kota Palembang.
Asmila sedang berbincang dengan Asmida kakaknya di kedai pecel lele milik kakak iparnya.
"Kamu memangnya mau kemana sih?" tanya Asmida mempertanyakan adiknya yang datang ke kedai mereka untuk pamit mau keluar kota dalam waktu lama.
"Aku ambil cuti, mau keluar kota sekalian mau berobat," jawab Asmila sambil menikmati nasi dan pecel lele pesanannya.
"Iya berobat dimana? lantas mengapa tidak barengan dengan Fuad berobatnya ?" tanya Asmida lagi.
"Aku berobat untuk aku dulu, nanti kalau aku sudah dinyatakan sehat baru aku bawa mas Fuad kesana," sahut Asmila.
"Ya aneh saja, masa mau berobat untuk punya anak tapi suaminya kok tidak dibawa serta," Asmida menatap adiknya dengan merasa heran.
"Aku pergi bersama teman yang juga mau berobat karena sakit kanker. Jadi aku ikut bersama dia, tak mungkin aku membawa Mas Fuad untuk saat ini," Asmila mencoba menjelaskan kepada sang kakak.
"Kapan berangkatnya kalian?".
"Nanti hari sabtu".
"Loh, suamimu kan baru hari sabtu bisa pulang ke rumah. Kamu malah mau pergi sama temanmu," sergah Asmida.
"Yaelah....sebentar lagi Mas Fuad akan menjemput dan akan makan di sini, kok. Santai saja Kak Mida, aku juga tidak gila meninggalkan suami tanpa ijin," tukas Asmila sambil melirik sebal kepada kakaknya.
"Oh, begitu, syukur dong. Aku kira kamu mau macam-macam kepada suamimu," ujar Asmida yang terlihat lega hatinya.
Hastomo sejak tadi hanya memperhatikan kedua kakak beradik itu yang saling beradu mulut.
__ADS_1
"Eh, Kak Mida, aku kemarin ini sudah melunasi semua cicilan tabungan Umroh untuk Bapak, Ibu dan Mas Fuad. Nanti bukti lunas pasti akan diserahkan kepada Kak Mida di kantor cabang sini".
"Cicilan kami dilunasi tidak, Mila?" tanya Hastomo menggodanya.
"No way, Kak Mida itu urusannya, nanti juga dari pelunasanku ini akan ada sebagian masuk ke rekeningnya," sahut Asmila cepat.
"Ibu Boss pelit....hahahaha," Hastomo tertawa tergelak.
Asmila menjulurkan lidahnya ke arah Hastomo, lalu kembali melanjutkan makan nasi pecel lelenya.
"Bapak, Ibu dan Mas Fuad akan berangkat tahun depan, nanti tolong Kak Mida yang sampaikan kepada semuanya yah," ujar Asmila yang terasa aneh di telinga Asmida.
"Kenapa harus aku?Sampaikan saja olehmu sendiri," Asmida menolaknya.
"Kalau aku yang menyampaikan namanya bukan kejutan lagi dong".
Asmida mengangkat bahunya, lalu dia membantu suaminya.
Tak lama sebuah mobil berhenti di depan kedai pecel lele milik Hastomo, dan keluarlah Fuad dari dalamnya.
"Mas Tomo, Kak Mida," sapa Fuad kepada kedua kakak iparnya.
"Hai, ayo masuk. Itu Asmila duduk di ujung," kata Hastomo dan terlihat oleh Fuad dari ujung kedai ada istrinya sedang melambai ke arahnya.
Fuad segera mendekati Asmila.
"Mas, sudah makan belum?".
"Belum, aku juga lapar".
"Fuad!!! mau makan sama apa? lele atau ayam goreng?" teriak Hastomo.
"Hmmm, nasi pecel lele saja mas, biar sama dengan Mila," sahut Fuad.
Hastomo mengacungkan jempolnya, lalu segera mengolah pesanan Fuad.
Selesai makan Fuad mengajak Asmila untuk menjenguk mertuanya yang rumahnya tak jauh dari kedai itu.
"Sudah malam, mas. Lain kali sajalah ketemu ibunya, takut sudah istirahat malah jadi mengganggu nantinya," Asmila berusaha menolak ajakan suaminya.
"Iya, kalau jam segini biasanya ibu sudah tidur dengan anak- anakku," sahut Asmida juga.
"Jadi bagaimana dong?" Fuad merasa tak enak hatinya.
"Besok saja lagi kalian kemari, sekalian membawakan ibu makanan kesukaannya," Hastomo mencoba memberikan saran.
"Oke deh, besok lagi kita kemari lagi yah," ujar Fuad sambil pamit pulang setelah membayar semua makanan yang tadi dipesan olehnya dan istrinya.
"Mas nanti sabtu saja ke rumah ibu, setelah mengantar aku ke stasiun," Asmila membuka pembicaraan di dalam mobil.
"Kenapa tidak besok saja sih? Besok kita beli makanan enak, lalu kita makan siang di rumah ibu dan bapak," ajak Fuad.
"Malas aku tuh kalau ketemu ibu, buntutnya pasti aku akan diomeli segala macam," keluh Asmila.
"Jangan begitu, tidak baik seperti itu. Kita sebagai anak harus bisa memaklumi sifat orang tua kita. Almarhumah ibuku juga dulu kan sifatnya tahu sendiri bagaimana. Tapi kamu bisa memakluminya," Fuad menasehati istrinya.
Asmila mengangguk, lalu memegang lengan atas suaminya dan mengelusnya berkali-kali.
"Pap besok malam akan berangkatnya?" tanya Soraya sambil melipat beberapa pakaian suaminya ke dalam koper.
"Iya, aku besok malam ada meeting dulu. Lalu Sabtu pagi baru berangkat ke lokasi. Tapi nanti jangan marah yah, aku sepertinya akan sulit dihubungi karena lokasi proyek di pedalaman Madura," Mario menjelaskan kepada Soraya.
"Madura? kata Jimmy waktu itu proyek Madura sudah selesai. Mengapa sekarang ada lagi?" Soraya kaget sekaligus merasa heran mendengar penjelasan suaminya.
"Ada sedikit pekerjaan baru, tapi entah bagaimana aku belum paham. Yang pasti mungkin aku lama perginya nanti," sahut Mario tapi tak menatap wajah Soraya.
"Berapa lama?".
"Belum tahu pasti, mam. Nanti setelah aku tiba di sana baru bisa tahu perkiraan waktunya".
"Nanti pap jelaskan kepada Mega, anak itu nanti marah kalau tahu papanya pergi lama," pinta Soraya sambil melanjutkan merapihkan pakaian Mario.
Lalu Mario beranjak keluar kamar untuk menemui anak bungsunya.
"Mengapa semua kemeja dan kaos warna putih yang aku masukan ke dalam koper?" Soraya merasa heran sendiri dengan yang dia lakukan.
"Harus aku bongkar lagi deh," keluh Soraya sambil menghempaskan dirinya duduk di tempat tidur.
Baru saja mau membongkar koper untuk mengganti pakaian suaminya, tiba-tiba anaknya berteriak dari lantai bawah.
"MAMA!!!! KATA PAPA CEPAT KE BAWAH!!!".
"Hmmm....Iya....tunggu!!!!".
Soraya terpaksa meninggalkan koper yang belum dia ganti pakaiannya itu, lalu segera menuju ke lantai bawah.
"Ada apa sih?" tanya Soraya kepada Mega setibanya di lantai bawah.
"Kata papa kita jajan es krim, ayo, papa sudah menunggu di mobil," Maya menarik tangan ibunya.
"Mama pakai daster begini, nanti mama tukar baju dulu".
"Kata papa buruan, ayo, mama tak usah tukar baju," Mega juga mendorong ibunya ke arah garasi.
Benar saja Mario sudah ada di dalam mobil menanti istri dan kedua anaknya.
"Pap, ini mama cuma pakai daster loh".
"Papa juga pakai celana pendek, kok, tenang saja mam".
Lalu mereka naik ke dalam mobil dan segera melaju menuju sebuah kedai es krim yang tak jauh dari perumahan mereka.
Soraya paham kalau ini upaya Mario untuk merayu anaknya agar jangan marah karena dirinya akan pergi keluar kota cukup lama.
Setelah selesai makan es krim, lalu mereka berkeliling kota sebentar sambil berbincang ramai di dalam mobil.
Entah mengapa, malam itu Soraya melihat suaminya begitu tampan sekali. Luar biasa sekali tampannya dibanding biasanya penampilan suaminya.
Ingin rasanya Soraya mengucapkan hal itu, tapi rasanya sulit sekali mengutarakannya.
Malam itu rasanya bahagia sekali, makan es krim, jalan-jalan sambil bercanda tawa di dalam mobil.
"Besok pagi papa antar kalian ke sekolah, dan sorenya papa akan jemput kalian juga," kata Mario yang tentunya membuat kedua gadisnya sangat bahagia sekali.
Soraya tak sempat mengganti pakaian di dalam koper, karena ketika masuk ke dalam kamar Mario mengajaknya bercinta.
Entah mengapa malam itu mereka bercinta penuh dengan kehangatan, terasa sangat halus dan penuh dengan kemesraan dalam setiap desah nafas yang keluar dari bibir keduanya.
Sepanjang malam Soraya dan Mario tidur berpelukan, rasanya tak ingin melepaskan pelukan yang penuh dengan berbagai perasaan yang sulit diungkapkan.
__ADS_1