
Asmila bersenandung kecil dan terlihat bahagia saat sedang menata perabotan di rumah barunya.
Karena hubungan antara Asmila dengan Ibu Jaka semakin memburuk, lalu Fuad menjual rumah kediaman orang tuanya dan pindah ke arah kota Cirebon.
Untung saja seorang tuan tanah di sekitar kediaman mereka dulu sangat tertarik untuk membeli rumah orang tuanya.
Setelah tawar menawar harga disepakati, lalu Fuad segera menyetujui senilai angka yang disampaikan oleh sang tuan tanah.
Kebetulan ada perumahan baru di sekitar kota, sehingga Fuad segera membeli salah satu rumah di sana.
Memang tak seluas rumah orang tuanya dulu, tapi dengan pertimbangan agar Asmila bisa tenang dan ibu mertuanya juga bisa tenang. Maka Fuad memutuskan kepindahan mereka ini, dengan harapan semua akan lebih baik.
Menjadi ibu rumah tangga tentu sesuatu yang sangat menyenangkan. Pagi hari menyiapkan sarapan, lalu membersihkan rumah. Siang hari memasak untuk makan bersama suami nanti, dan sore hari menanti kepulangan suami dari bekerja. Lalu akan menghabiskan malam bersama dengan suami.
Andai itu terjadi setiap hari tentu akan membahagiakan hati, tapi kalau suaminya pulang seminggu sekali tentu akan sangat membosankan setiap harinya.
Senin pagi Fuad pergi bekerja, dan kembali ke rumah setiap hari Jum'at malam.
Berdua dengan suami hanya bisa dua hari saja yaitu hari sabtu dan minggu saja. Walau di kalender tertera tanggal merah tapi suaminya tidak bisa libur.
Libur tanggal merah hanya hari raya saja, selebihnya tidak ada kata libur.
Kadang Asmila suka kesal, hari Sabtu juga masih saja ada telepon dari orang kantor yang menanyakan ini dan itu.
Sehingga kebersamaan Fuad dan dirinya sering kali menjadi terganggu, bahkan pernah saat hampir terjadi moment bercinta di siang hari menjadi batal padahal saat itu gairah membara sudah memuncak.
Tapi mau apalagi, terpaksa keduanya harus menunda karena biasanya Fuad terus larut dalam pembahasan pekerjaan.
"Gimana aku bisa hamil, tidur saja jarang bersama apalagi bercinta," guman Asmila dengan kesal.
"Mas, bisa tidak sih kalau hari sabtu dan minggu itu hanya milik kita berdua saja. Aku risih sekali kalau mas di rumah tapi selalu saja diganggu telepon," Asmila akhirnya mengeluarkan kekesalannya.
"Sayang, aku juga ingin bisa. Tapi sekarang ini tampaknya masih belum bisa karena di tempat kerjaku yang paham hanya beberapa orang dan salah satunya aku," Fuad dengan sabar menjelaskan kepada istrinya.
"Lantas sekarang bagaimana? kita lanjutkan atau nanti lagi?" Asmila bertanya sambil cemberut.
Fuad mendekati istrinya lalu mencium keningnya sambil mengusap kepalanya," Nanti malam kita lanjutkan, sekarang aku mengerjakan sesuatu. Maafkan aku yah".
Asmila hanya mengerucutkan bibirnya sambil berjalan keluar kamar, lalu dia masuk dapur dan menggoreng kentang lantas memakannya sendirian.
Sementara Fuad langsung menghadapi laptopnya dan sambil melihat sesuatu pada laptop sambil menelepon teman kerjanya.
Suatu siang Asmila pergi sendirian ke salah satu pusat perbelanjaan, dia ingin menghabiskan waktu di tempat itu karena sudah hampir dua bulan ini sering merasa kesepian.
Berbekal sisa uang gaji terakhirnya dia ingin berbelanja untuk keperluan pribadinya.
Asmila sudah mengundurkan diri dari tempat kerjanya ketika pindah ke rumah baru.
Maksud hati ingin fokus menjadi ibu rumah tangga dan berharap bisa segera hamil.
Tapi kenyataan malah Fuad yang sekarang menjadi lebih sibuk dari biasanya, katanya ada titik baru pengeboran di tengah laut.
Jarak dari kantor ke rumah sekarang sebenarnya hanya tigapuluh sampai empat puluh lima menit saja, tapi karena Fuad setiap harinya di tengah laut lepas maka pulang ke rumah mau tak mau hanya seminggu sekali saja.
Mall terbesar di kota Cirebon menyediakan berbagai macam fashion dan juga berbagai aksesories terbaru, selain itu juga sedang diadakan diskon besar-besaran.
Asmila tentu saja memilih beberapa pakaian diskon dan juga sepasang sandal sepatu yang cantik dan kebetulan turun harga.
Puas berbelanja, lalu naik ke lantai paling atas mencari pusat makanan, begitu banyak kios penjual makanan di lantai tersebut.
Akhirnya pilihannya nasi gudeg Yogya dan es teh manis, setelah membayar lalu dia duduk di salah satu bangku di sana.
"Asmila kan?"tiba-tiba ada seorang wanita menegurnya.
Asmila mendongak menatap ke arah suara dan langsung terkejut," Ulfah?".
"Haaaiiii!!!!"langsung saja keduanya berteriak sambil berpelukan.
"Mila, apa kabar?" tanya Ulfah sambil memeluk sahabatnya ketika SMA dulu.
"Ulfah, lama banget tidak bertemu. Aku baik-baik saja, kamu kemana saja sih?"Asmila memeluk erat sahabatnya itu.
"Mila, aku sudah nikah dan punya anak dua. Kamu bagaimana say?" tanya Ulfah sambil duduk di hadapan Asmila.
"Aku sudah nikah, tapi belum punya anak. Kamu kerja, Fah?" tanya Asmila melihat Ulfah begitu rapih berpakaian.
"Aku kerja santai say, dibilang kerja bisa, dibilang tidak kerja juga bisa," sahut Ulfah sambil tersenyum kepada Asmila.
"Ah aneh deh, kerja dimana? Dulu aku kerja di kosmetik, tapi dua bulan lalu aku keluar karena pindah rumah," ujar Asmila sambil menata makanan pesanannya yang baru saja datang.
"Pindah kemana kamu?".
"Perumahan di daerah Klayan".
"Wah, lumayan bagus yah lokasi di sana, dulu pernah mau membeli rumah di sana. Tapi suami tidak setuju karena terlalu jauh dengan sekolah anak. Jadi kami membeli rumah di sekitar jalan Pemuda," cerita Ulfah kepada Asmila.
"Walah, jalan Pemuda sih daerah elite, mana sanggup kami membeli rumah di sana sih," sahut Asmila dengan terkesima.
"Pasti bisalah, kalau kamu rajin bekerja pasti bisa".
"Jadi kamu kerja apa sih, Fah?".
"Ini kartu namaku, kalau tertarik nanti senin depan datang saja ke kantorku jam sembilan pagi yah. Ada seminar yang akan dibawakan oleh senior aku,"Ulfah malah memberi sebuah kartu nama yang bertuliskan nama dan alamat kantornya.
Asmila menatap kartu nama itu sambil berpikir tentang undangan seminar dari Ulfah.
"Jangan dilihat lama-lama, itu cuma namaku saja. Tapi kamu senin depan aku tunggu di kantorku yah, awas, kamu harus datang," Ulfah menepuk bahu Asmila sambil pamit karena masih ada urusan lain.
Selama beberapa hari Asmila cukup merasa galau dengan undangan seminar yang diajukan oleh Ulfah beberapa hari yang lalu.
Dia juga meminta pendapat suaminya, dan Fuad malah mendukung untuk menghadiri seminar tersebut.
Ketika hari senin itu tiba, Asmila dengan langkah ragu dan juga tidak percaya diri, akhirnya datang ke undangan seminar yang Ulfah sampaikan beberapa hari kemarin.
Asmila disambut Ulfah dengan hangat, lalu dia dibawa ke suatu ruangan dan ternyata sudah banyak juga orang yang hadir.
__ADS_1
Seminar akhirnya dibuka dengan kata sambutan dari Ulfah Wijayanti selalu direktur agency.
Ulfah memberikan sambutan sekaligus dengan semangat berapi-api dan memberikan motivasi agar jangan pernah pantang menyerah dalam mencari peluang.
Asmila terpesona dan takjub melihat sahabatnya ketika sekolah dulu, sangat berbeda sekali Ulfah sekarang.
Dulu sama bodohnya dengan dia, karena mereka berdua adalah tim malas belajar dan rajin menyontek.
Dihukum guru sudah menjadi santapan hampir setiap hari, memanjat pohon belakang sekolah untuk kabur sering dilakukan sampai akhirnya ketahuan oleh kepala sekolah.
Bagaikan mimpi melihat Ulfah, sosok Ulfah yang dikenalnya dulu berubah seratus delapan puluh derajat menjadi sosok yang mengagumkan.
Asmila mengikuti seluruh kegiatan seminar tersebut dan merasa sangat tertarik sekali untuk bergabung.
"Kamu memberi orang lain manfaat untuk di hari tuanya, untuk ahli warisnya dan untuk masa depan juga kebaikan mereka. Bagaimana apakah kamu tertarik untuk bergabung?" tanya Ulfah kepada Asmila sambil menyodorkan sebuah formulir.
Asmila mengangguk dan segera menandatangani formulir tersebut sebagai tanda kepesertaan dia menjadi salah satu agen asuransi jiwa.
Selama satu bulan Asmila belajar mengenai produk asuransi jiwa yang ada di perusahaan itu. Ada asuransi pendidikan, asuransi kecelakaan diri, asuransi jiwa unit link dan sebagainya.
Asmila juga diajarkan cara mencari nasabah, cara menyampaikan dan menawarkan produk juga cara melayani nasabah saat membeli asuransi tersebut.
Yang menjadi target penawaran adalah tetangga sekitar, teman kerja suami dan juga saudara juga tetangga rumah lama. Tak lupa teman lama juga dimasukan Asmila ke dalam catatan calon nasabah.
"Ah, kata orang sih kalau asuransi jiwa kan yang begitu, aku yang bayar tapi nanti yang menikmati orang lain," sahut Hastomo ketika Asmila datang ke kedai pecel lamanya sambil menawarkan asuransi jiwa.
"Mas, yang dimaksud orang lain itu siapa? Bukankah kalau mas membeli asuransi jiwa nanti suatu saat ada musibah, kan yang menjadi ahli waris Nabila dan Ardan. Apakah kedua nama itu orang lain?" Asmila mencoba membuka pikiran Hastomo.
Mendengar penuturan Asmila, sejenak Hastomo berpikir, bahwa benar juga kalau misal dia meninggal yang menjadi ahli waris adalah anaknya bukan orang lain.
"Mas, takdir tidak pernah kita ketahui, kalau kita diberi umur panjang maka alhamdulillah. Tapi kalau Tuhan berkata lain, lalu ketika kita pergi, apakah akan senang melihat anak terhenti juga mimpinya?" kembali Asmila mencoba mengubah pemikiran Hastomo dan juga kebanyakan orang yang memandang buruk asuransi jiwa.
"Jadi kalau misal aku mati, apakah akan ada sejumlah uang untuk biaya sekolah anak-anakku?" tanya Hastomo sambil masih berpikir.
"Mas, Nabila dan Ardan harus tetap sekolah mengejar mimpi dan cita-cita, kalau Mas meninggal akan ada uang untuk ahli waris. Tapi kalau mas tetap hidup sampai masa polis berakhir, maka uang yang mas kumpulkan setiap bulan selama 10 tahun akan kembali lagi semua beserta dengan nilai tambahannya," Asmila menjelaskan kepada Hastomo.
"Coba buatkan perhitungannya seperti apa biar aku bisa mempelajarinya," pinta Hastomo.
"Ini sudah aku bawa, mari aku jelaskan sebentar".
Kebetulan hari hujan, jadi pembeli juga tak ada, maka Asmila dengan lancar menjelaskan secara detail keuntungan yang akan didapatkan Hastomo kalau menjadi peserta asuransi jiwa.
Hujan berhenti, pembeli sudah mulai datang.
"Mila, aku bawa dulu ke rumah yah, mau aku bicarakan sama kakakmu. Besok aku hubungi kamu," kata Hastomo sambil meminta maaf tak bisa menemani lagi karena sudah ada pembeli.
Asmila juga pamit dengan alasan sudah malam, dan takut keburu hujan lagi.
"Terserah Mas saja, sanggup tidak lima ratus ribu untuk dua anak sebulan sekali, apakah sanggup?"Asmida bertanya balik kepada suaminya.
Dia memang tak berani banyak berkata soal keuangan, karena suaminya yang mencari uang sementara tugasnya di rumah selain menjaga kedua anaknya juga menanak nasi untuk jualan sore sampai malam hari.
"Setelah aku hitung sih, rasanya aku sanggup. Benar juga yang dikatakan Asmila, kita harus menabung buat kedua anak kita, aku juga tak mau kedua anak kita nanti hanya menjadi penjual nasi pecel lele sama seperti aku".
Akhirnya Hastomo memilih untuk membeli asuransi jiwa untuk kepentingan dan masa depan kedua anaknya.
Menawarkan produk asuransi jiwa kepada seluruh teman kerja suaminya yang dia kenal, kepada tetangga di sekitar rumahnya sambil berkenalan sambil menawarkan juga.
Banyak yang menolak tapi banyak juga yang tertarik dan menjadi peserta.
Tak terasa baru setahun bekerja dia sudah menjadi manager, dan itu menjadi kebahagiaan bagi dirinya ketika Ulfah memberitahu bahwa Asmila dengan prestasinya akhirnya bisa di posisi tersebut.
"Dan satu lagi, ini tiket perjalanan ke Singapura, kamu terpilih menjadi agen dengan pencapaian tertinggi di tahun ini dan sebagai bonus adalah perjalanan ke luar negeri," ujar Ulfah sambil memberi selamat juga selembar tiket kepada Asmila.
Sungguh merupakan kebanggaan sekaligus menambah semangat Asmila, dengan kerja kerasnya selama satu tahun membuahkan hasil yang maksimal.
"Satu lagi Mila, mulai bulan depan kamu mendapatkan gaji bulanan tetap, dan pendapatan dari setiap nasabah juga akan terus masuk ke rekening mu," kalimat Ulfah itu bagaikan mendapat kucuran air keran yang menerpa dirinya dengan deras.
Asmila mengucapkan terima kasih kepada Ulfah karena telah membimbingnya sampai berhasil seperti ini.
"Aku janji padamu, Fah, nanti pulang dari Singapura aku akan kejar target untuk menjadi direktur agency," kata Asmila penuh semangat mengucapkan kalimat itu.
Ulfah tentu saja sangat bangga karena sahabatnya sekarang sudah sama-sama sukses seperti dirinya.
Kebetulan di masa itu ada program baru di perusahaan Asuransi Jiwa tempat Asmila bekerja.
Kebijakan baru dari perusahaan yaitu asuransi Jiwa dan tabungan Umroh.
"Kalau level manager seperti kamu tidak boleh menjual produk ini, tetapi tim kamu yang harus bergerak," saat itu Asmila sedang rapat langsung dengan Direksi.
"Maksudnya bagaimana Pak Direktur?" tanya Asmila merasa bingung.
"Asmila, dan juga manager lain sekarang punya wewenang untuk mencari orang dan kalian lakukan rekrutmen untuk menjadi agen. Kalian sudah bisa membuat tim di bawah kalian," Direktur menjelaskan kepadanya dan juga untuk manager lainnya.
"Kalian cari orang sebanyak mungkin untuk menjadi tim kalian. Cari orang kompeten yang punya relasi yang banyak, sehingga kalian bisa mengembangkan dan menjual produk baru ini sebanyak mungkin," Direktur kembali memacu semangat para managernya.
"Umat muslim di Indonesia jumlahnya sangat banyak dibanding negara lain, dan semuanya ingin ke tanah suci. Menunggu kuota haji, sangat lama dan dananya juga sangat besar," Ulfah menambahkan penjelasan Direktur.
"Dengan umroh menjadi salah satu alternatif untuk bisa ke tanah suci. Menabung selama tiga tahun, lalu tahun kelima berangkat ke tanah suci. Saya yakin siapapun pasti akan ambil," lanjut Ulfah lagi penuh semangat.
Asmila manager baru dan juga dua orang manager lainnya saling berpandangan.
"Kalian bertiga saya tantang, buat tim yang banyak untuk menjual produk ini, sampai akhir tahun ini yang pencapaian paling tinggi, akan saya berikan bonus tambahan dan juga posisi baru," Direktur memberi tantangan kepada ketiga managernya.
Mau tak mau ketiganya harus menyanggupi dan mereka berusaha berpikir keras mencari strategi yang tepat untuk menjual produk ini.
"Seperti itu Kak Mida, aku yakin pasti Kak Mida bisa membawa teman yang banyak dan bersama kita jual produk umroh ini. Lumayan dari setiap satu orang yang membeli produk, maka Kak Mida mendapat komisi," Asmila menjelaskan dan membujuk kakaknya untuk bergabung.
Hastomo sambil menggoreng ikan lele sambil mendengar percakapan istri dan adik iparnya.
"Ikut saja Bun, temanmu kan banyak, ibu-ibu rumpi di sekolah Nabila. Daripada sibuk bergosip mending jualan produk umroh, jauh lebih berfaedah," ujar Hastomo sambil menyindir istrinya yang suka mengobrol tak jelas dengan ibu-ibu sambil menunggu anak di sekolah TK.
"Ya sudah kalau Mas Tomo memberi ijin tentu aku mau saja," sahut Asmida tersenyum lebar kepada adiknya.
Benar saja keesokan harinya Asmida membawa beberapa ibu-ibu rumpi ke kantornya Asmila.
__ADS_1
Setelah mengisi formulir, lalu pada hari itu juga mereka diberikan pengarahan mengenai asuransi jiwa dan tabungan umroh tersebut.
Tentu saja berisik sekali saat ibu-ibu itu bertanya ketika Asmila menjelaskan kepada mereka.
Tapi justru membuat suasana menjadi tidak monoton, penuh tawa ceria ketika penjelasan berlangsung.
Singkat kata, tim "Cabe Rawit" itu nama tim yang diketuai oleh Asmida mulai bergerak ke lapangan mencari nasabah dan juga menarik orang lain untuk bergabung menjadi agen.
Tim "Cabe Rawit" setiap bulannya unggul terus, bahkan saat ini sudah terbentuk tim dua yang digawangi oleh Ibu Cicih sahabatnya Asmida.
Namanya tim "Ombak Banyu", dan tentu saja kedua tim kembali beradu di lapangan mencari orang yang mau menjadi peserta asuransi.
Bahkan di bulan ketiga teman Asmida lainnya yaitu Ibu Sarinah juga sudah bisa membuat tim yang namakan tim " Ibu Petir".
Dengan bantuan tiga tim, tak terasa Asmila mengungguli kedua tim manager lainnya.
Bahkan di akhir tahun, Asmila dan ketiga tim asuhannya sudah tidak bisa disusul oleh kedua manager lainnya dan juga tim asuhannya masing- masing.
Semua ibu-ibu yang tadinya hanya wanita rumahan biasa yang kerjanya membersihkan rumah, mengantar anak sekolah, mengurus segala urusan rumah tangga. Sekarang mereka sudah berubah, penampilan dan juga gaya bicara juga lainnya berubah total.
Mereka sekarang menjadi wanita karier yang juga masih bisa menangani rumah tangga dengan baik.
"Ibu-ibu, kita ucapkan selamat kepada Asmila, sekarang sudah menjadi Agency Manager. Kita doakan tahun depan jadi Direktur yah," KATA Asmida di sebuah rumah makan.
Saat itu Asmila mengajak seluruh timnya untuk makan bersama di rumah makan tersebut.
Dalam rangka syukuran kalau timnya sudah melewati target dan juga pengangkatan Asmila naik level lagi menjadi Agency Manager atau setahap di bawah Direktur.
"Alhamdulillah, ini semua adalah kerja keras kita semua. Tim "Cabe Rawit", " Ombak Banyu" dan " Ibu Petir", semua telah membantu saya dan membantu kita semua. Dan tahun ini hanya seluruh tim dibawah mentor Asmila yang mendapat bonus".
"Mari kita tepuk tangan untuk keberhasilan kita!"ajak Asmila kepada seluruh timnya dan tentu saja semua ibu-ibu di bawah asuhannya menyambut dengan gembira.
"Ibu-ibu!!!"teriak Ibu Cicih.
"Kita harus giat dan semangat lagi semuanya yah, tahun depan Asmila menjadi Direktur, maka saya, ibu Asmida dan Ibu Sarinah, Insyaallah menjadi Unit Manager. Dan sudah pasti semua ibu-ibu akan menjadi ketua tim seperti kami," Ibu Cicih begitu bersemangat sampai ngos-ngosan bicaranya.
"Minum dulu...hahaha...minum dulu," ibu-ibu serempak menyodorkan air sambil tertawa-tawa.
"Glek...glek...glek...aaahhh".
"Alhamdulillah!!!! Ayo lanjut lagi bu...hahahaha," ibu-ibu mengomentari lagi.
"Maaf saya saking semangat sampai kehabisan nafas... hahahah," sahut Ibu Cicih sambil tertawa dan disambut oleh yang lainnya.
"Saya lanjut lagi yah, jadi begini kalau kami jadi Unit Manager dan ibu-ibu naik menjadi Ketua Tim, tentu anggota tim Asmila akan semakin besar dan peluang kita untuk terus maju semakin terbuka lebar".
"Aamiin....," serempak di jawab oleh semua yang hadir.
"Luar biasa, mari kita tepuk tangan sekali lagi untuk keberhasilan kita semua!" ajak Asmida yang akan menutup kata sambutan tersebut.
Setelah itu mereka berdoa bersama yang dipimpin langsung oleh Asmida, lalu makan bersama-sama dengan bahagia.
"Kak Mida, nanti aku beli tabungan Umroh untuk Bapak, Ibu dan Mas Fuad. Aku yang bayar, tapi nanti Kak Mida masukan ke tim yang masih kurang yah. Biar semua tim di akhir tahun ini tercatat baik semuanya," kata Asmila kepada kakaknya.
"Oke, nanti aku diskusikan sama Ibu Cicih dan juga Ibu Sarinah. Sebab mereka yang tahu anggotanya yang mana yang belum maksimal, kalau di tim aku semuanya sudah terpenuhi," jawab Asmida dengan mantap.
Asmila akhirnya merasakan juga bangga dan bahagia sudah bisa membawa orang lain menjadi sukses.
Tahun berikutnya ternyata gerakan ibu-ibu semakin kencang, dan semuanya berusaha melewati target seperti tahun sebelumnya.
Direktur Utama di kantor pusat Jakarta sampai pernah sengaja datang ke Cirebon untuk menemui seluruh tim dibawah mentoring Asmila.
"Saya salut sama kamu Asmila, baru kali ini dari seluruh cabang di seluruh Indonesia. Hanya cabang ini yang punya tim paling banyak dan semuanya bekerja keras," Direktur Utama memuji kinerja Asmila dan seluruh timnya.
"Akhir tahun ini kalau sampai terlewati lagi, saya yang akan tanda tangan langsung. Kamu naik jadi Direktur Agency, biar Ulfah saya tarik ke pusat dan kamu yang eksis di sini," lanjut Direktur Utama lagi.
Ulfah yang namanya tersebut juga merasa bangga, sebab ada wacana dia akan ditarik ke kantor pusat, berarti posisi yang lebih tinggi telah menantinya.
"Siap pak, akan saya usahakan semaksimal mungkin dan saya juga berterima kasih atas dukungannya selama ini," sahut Asmila yang tentunya juga merasa bangga dan bahagia mendapat dukungan langsung dari orang nomor satu di perusahaannya.
"Maju terus, aku bangga kok kamu bisa berhasil. Aku bukan tipe suami yang takut tersaingi oleh istri, malah aku bangga punya istri yang luar biasa," Fuad juga mendukungnya sehingga Asmila tidak ragu untuk terus melangkah.
Namun masih terselip rasa sedih, kalau Ibu kandungnya masih juga tak mau bertemu dengan dirinya.
Walau Asmida sudah membujuk dan memberitahu bagaimana keberhasilan Asmila sekarang.
Ibu Jaka tetap bersikukuh pada pendiriannya, beliau terlalu banyak mendengar perkataan orang lain yang negatif tentang Asmila.
Menjadi suatu hal yang aneh sekali, seorang ibu lebih percaya omongan miring orang lain daripada mencari kebenaran langsung tentang anaknya.
Seluruh keluarga besar sangat menyesalkan tindakan Ibu Jaka, tak seharusnya seorang ibu kandung memperlakukan anak perempuannya sedemikian rupa.
Setahun bisa dilewati dan tim Asmila tentunya melewati target lagi seperti biasanya.
Dia naik menjadi Direktur Agency, mempunyai ruangan sendiri, ada sekertaris yang mengatur jadwalnya dan selalu memimpin rapat dan memberikan seminar.
Suatu hari setelah selesai menjadi pembicara di seminar seluruh Jawa Barat di kota Bandung, Asmila sedang mengeluarkan tas besarnya dari sebuah taksi yang mengantarnya.
Asmila kesal sekali karena sopir taksi tampak acuh tak acuh, sama sekali tak mau membantu dirinya malah asyik bertelepon dengan pacarnya.
Tak sengaja saat Asmila menarik koper besar dari bagasi mobil, tubuhnya ikut terdorong dan menabrak seorang lelaki.
Entah mengapa hari itu membuat dirinya kesal seharian, padahal nanti malam akan ada acara gala dinner yang diadakan oleh direktur utama di hotel berbintang.
Sudahlah repot mengeluarkan koper besar dari bagasi mobil, dan saat memasuki kereta ternyata kursinya telah ditempati oleh seorang pria.
Sialnya lagi pria itu malah mendengkur dengan nyenyaknya walau Asmila sudah berusaha membangunkannya.
Dan yang terakhir membuat kesal lagi adalah malam harinya ketika dia selesai berdandan lalu keluar dari kamar hotelnya.
Dilihatnya pria yang tadi duduk sebangku dengannya di kereta ternyata tepat berada di sebelah kamarnya.
Tapi pria menyebalkan itu diam-diam punya pesona yang sulit untuk diingkari.
Malam itu Asmila dan pria menyebalkan akhirnya menjadi teman dan mereka mencari jajanan kuliner di tengah malam sambil saling berbincang penuh keakraban.
__ADS_1
Dalam hati Asmila maupun pria yang ternyata bernama Mario Maliangkay, mereka akan berusaha menjaga diri dan hanya sekedar berteman saja.
Tapi mana tahu, sekedar berteman yang bagaimana, dua orang dewasa saling berteman belum tentu baik.