
Suasana kantor CV. Maju Mandiri berjalan tenang seperti biasanya.
Di pinggir kantor ada warung kecil nempel ke tembok sisi kanan kantor tapi tidak sampai menghalangi jalan.
Pemilik warung kecil itu namanya Agus, seorang lulusan SMA yang sulit mendapat pekerjaan dan akhirnya berjualan warung kecil-kecilan.
Agus juga punya tugas lain, dia dibayar oleh Mario sebulan sekali untuk setiap hari menyapu dan mengepel lantai serta membersihkan toilet kantor.
Tentu saja Agus senang, jadi tambahan uang untuk dia selain hampir seluruh karyawan kantor Mario membeli kopi atau jajan kecil di warungnya.
"Bang, kopi dua," kata seorang lelaki yang baru turun bersama dengan temannya dari sebuah mobil yang terparkir di depan kantor CV. Maju Mandiri.
Agus segera membuatkan kopi yang diminta oleh kedua orang tersebut.
"Ini kantor apa Bang?" tanya orang itu sambil menunjuk ke kantor milik Mario.
"Kantor kontraktor pak, yang biasa buat bangunan gitu," sahut Agus apa adanya.
"Punya siapa sih kantor ini?" tanya seorang lagi sambil menyeruput kopinya.
"Bossnya sih pak Mario".
"Oh...Mario Maliangkay yah?".
"Nah itu benar namanya itu, kok Bapak tahu?".
"Enggak tahu juga sih, cuma pernah dengar saja nama seperti itu dan ternyata benar dugaan saya," jawab pria tadi yang sekarang menyomot sebungkus kue yang ada di warung itu.
"Bang, kenal baik sama semua karyawan di kantor ini?" tanya pria berkemeja batik biru.
"Kenal pak, kan saya juga setiap pagi sebelum buka warung mendapat tambahan membersihkan kantor. Lumayan pak dapat tambahan honor dari pak Mario," sahut Agus merasa senang dengan pertanyaan tadi.
"Oh gitu, memangnya ada berapa orang karyawan di kantor ini?" tanya pria berkemeja coklat polos.
"Ibu Sela, Mbak Susi, Mas Arifin, Mas Bakti dan yang baru Mas Nana. Ada lima karyawan, jadi enam orang sama pak Mario. Tapi ada karyawan lapangan banyak, sesekali suka kemari dan ngopi di warung sini. Memang ada apa sih pak dengan kantor ini? kok Bapak berdua kayak Polisi lagi menyelidiki?" Agus mulai merasa aneh sedari tadi kedua orang ini seperti ingin tahu segala tentang kantor tersebut.
"Hahaha, bukan menyelidiki Bang, saya kan mau bangun rumah. Siapa tahu mereka bisa bantu. Gitu bang, santai bang," si kemeja batik mulai berusaha mencairkan lagi suasana.
Keduanya lalu mengorek juga apa banyak tamu atau kolega yang suka datang ke kantor itu atau tamu yang suka diajak ngopi oleh karyawan kantor.
"Pak Mario sih banyak tamu, kalau yang sering datang itu ada Kokoh Aliong namanya, suka kasih saya uang lebih. Keren deh Boss kaya raya, mobilnya juga mewah," satu nama lagi tersebut oleh Agus.
"Berarti yang tamu-tamu Pak Mario itu kebanyakan orang keturunan Tionghoa semua yah," pancingan meluncur lagi dari si kemeja coklat polos.
"Ah tidak juga, suka ada seperti orang dari Dinas apa gitu. Ada yang suka kemari sesekali, banyak kok ada haji, ada yang punya toko besi. Pokoknya banyak tamu berbagai orang, tidak hanya keturunan Tionghoa saja nasabah pak Mario sih".
"Oh suka ada orang dinas juga yah, siapa namanya? siapa tahu saya kenal. Jadi bisa dapat diskon kalau nanti jadi ambil jasa membangun di kantor ini".
"Iya namanya Mr. A, tapi gitu orangnya seperti tertutup. Datang ke sini, masuk dan ngobrol di ruangan pak Mario. Saya antar kopi juga tak suka senyum sama saya. Agak sok gimana gitu," Agus bercerita tentang sosok yang Mr. A yang sebenarnya adalah target buruan kedua orang tersebut.
"Oh berarti bukan teman saya, orang sombong sih saya tak kenal. Ah batal dapat diskon nih".
"Tenang pak, setahu saya pak Mario orangnya baik walau kadang kalau marah suka agak kasar. Tapi baik hati sih pak Mario sih," Agus memuji sosok Mario di depan kedua orang tadi.
"Oke deh bang, jadi berapa semua. Kopi dua, kue ini dua dan kacang kulit satu," kemeja coklat polos membayar apa yang baru saja mereka konsumsi, sementara kemeja batik tampak seperti sibuk dengan sebuah alat seperti perekam suara dari saku celananya.
Nana adalah insinyur sipil yang baru saja lulus dan baru sekitar satu bulan bergabung di kantor CV. Maju Mandiri.
Siang itu dia sedang berjaga kantor sendirian, Arifin tidur sehabis sholat Dzuhur dan Bakti tengah main game di mejanya yang kebetulan letaknya paling sudut.
Marsela dan Susi baru saja keluar kantor mencari makan siang, keduanya ingin makan gado-gado sambil sekalian ke mini market.
"Permisi, selamat siang!!!".
"Selamat siang pak, ada yang bisa kami bantu?" Nana menyambut kedua tamu dengan ramah.
"Mas, Pak Mario ada?"tanya pria kemeja batik.
"Pak Mario sedang keluar kantor, kalau jam segini biasanya ke lapangan".
"Oh begitu yah, perginya sama Koh Aliong atau sama Mr. A?" tanya kemeja coklat polos.
"Sendiri perginya pak, kalau Koh Aliong dan Mr. A sih sudah jarang kemari. Sebenarnya ada apa yah pak?" Nana merasa aneh dengan kedua tamu ini.
"Bukan mas, saya itu janjian sama Koh Aliong dan Mr. A, katanya mau ketemuan di sini mau bahas soal proyek bendungan di Depok Barat," kemeja batik berusaha meyakinkan Nana.
"Oh begitu, biasanya sih kalau proyek ke Mbak Susi. Tapi sama sedang keluar kantor juga, saya masih baru sih di sini," Nana mulai agak bingung.
"Saya minta nomor telepon kantor atau nomor telepon Susi atau pak Mario. Apakah boleh?" Kemeja batik selalu berwajah ramah dan meminta data dari Nana.
Lalu Nana memberikan semua nomor kontak yang diminta karena alasan kedua orang tadi kuat untuk membahas proyek yang sedang berjalan.
Baik Nana ataupun Agus tak paham kalau di saku kemeja kedua pria itu ada tergantung papan nama.
Kemeja batik bernama Kodrat dan kemeja coklat polos bernama Gaufar, dan di bawah nama mereka ada tulisan auditor lalu di bawah tulisan itu terpampang " KOMISI PEMBERANTASAN KORUPSI".
Sambil Gaufar mengemudi mobil, sambil juga Kodrat memutar lagi rekaman pembicaraan antara mereka dengan Agus dan juga dengan Nana.
Di pangkuannya Kodrat ada satu bundel data tentang apa dan siapa saja yang sedang mereka bidik.
"Ok class, that's an explanation of the differences about many and much. Any question?" tanya Soraya yang baru selesai menjelaskan penggunaan dan perbedaan kata "Many" dan "Much" sebagai penunjuk banyaknya jumlah dalam bahasa Inggris.
"Miss, nanya dong. Kalau gula dan garam kan bisa dihitung. Kalau mama saya di rumah lagi masak, suka hitung satu sendok gula atau satu sendok garam. Seharusnya pakai kata "Many" dong Bu?" tanya Junel salah satu siswa pandai di kelas itu.
"No Junel, gula dan garam tidak bisa di hitung. Satu sendok atau dua sendok adalah ukuran penggunaan ketika mama mu memasak makanan. Tapi dalam satu sendok tersebut, apakah bisa kita hitung ada berapa butir gula atau garam tersebut. Sulit tentunya, sehingga gula atau garam itu kategori benda yang tak dapat dihitung dengan pasti. Jadi termasuk kategori uncountable noun. Paham yah," Soraya memberi penjelasan dengan sangat detil.
"Ah Junel, hitung sendiri tuh gula, bonyok deh tuh mata... hahahaha," biasa di kelas kalau ada yang bertanya pasti teman-teman ikut komentar.
"Junel kan rajin banget, gula aja dihitung, besok lu hitung juga kacang ijo sekilo ada berapa butir yah...hahahaha".
Kelas langsung gaduh tertawa mengejek Junel, lalu Junel juga menjulurkan lidah kepada teman yang mengejeknya.
"Ayo sudah, jangan ribut. Apa yang Junel tanyakan itu benar kok. Ayo sudah diam semua!" Soraya menenangkan kelas.
"Sekarang kalian buka buku pelajaran halaman 180, di sana ada soal tentang penggunaan kata "Many" dan "Much". Kerjakan dari halaman 180 sampai 181 sekarang!" perintah Soraya sambil menatap semua siswa yang sibuk membuka buku pelajaran.
"Banyak amat bu!!!".
"Iya Miss...ada lima puluh soal nih".
"Sudah jangan banyak protes, kerjakan saja. Kalau banyak bicara mana bisa selesai, kerjakan soal jangan pakai mulut tapi pakai otak dan tangan," Soraya tenyata tegas juga kalau sedang mengajar.
Tiba-tiba perutnya terasa sangat sakit seperti di remas dari dalam rahimnya. Soraya memejamkan mata, sambil mengelus perutnya yang membesar.
"Miss kenapa?!!!"tanya beberapa siswa yang duduk di bagian depan.
"Tidak apa-apa, ayo kalian kerjakan saja. Saya mau duduk sebentar," Soraya berusaha berjalan menuju meja guru.
"Miss, mau diambilkan air hangat?" tanya siswa yang bernama Sarah mendekati mejanya.
"No Sarah, thank you for your attention. Please sit down and do your exercise," sahut Soraya berusaha menolak bantuan siswanya karena dia tak mau merepotkan orang lain.
Seharian itu Soraya tetap konsisten mengajar walau sesekali perutnya terasa kesakitan.
Sore harinya sepulang mengajar langsung menuju ke klinik dokter Yasmin, dan kebetulan dia mendapat nomor antrian kedua.
Soraya mengirim pesan singkat kepada suami dan juga Ibu Sunaryo, kalau dia tak segera pulang karena periksa ke dokter Yasmin.
Hanya Ibu Sunaryo yang membalas pesan singkatnya, "Ya tenang saja, periksa yang benar. Maya aman sama saya".
Sekitar pukul lima sore lewat lima belas menit, dokter Yasmin baru saja tiba. Tak lama pasien dengan nomor urut pertama segera dipanggil masuk.
Memang dokter Yasmin sengaja tak menerima pasien yang daftar sebelumnya atau sehari sebelumnya melalui telepon atau sejenisnya.
Kunjungan pasien atas dasar per kedatangan agar tidak ada yang merasa didahulukan atau dibelakangkan.
Setelah menunggu sekitar dua puluh menit, Sorayapun segera dipanggil ke ruangan praktek dokter Yasmin.
"Kenapa bu? baru dua minggu lalu ibu kemari, ada keluhan apakah?" tanya dokter Yasmin terlihat wajahnya khawatir.
"Seharian ini saya kesakitan terus dok, perut seperti di remas dari dalam," sahut Soraya yang sama khawatir sekali.
Dokter Yasmin meminta pada perawat untuk membawa Soraya ke ruangan pemeriksaan.
"Hmmm...sepertinya ini efek dari mioma itu bu. Seperti yang saya sampaikan akan ada gesekan antara janin dan mioma, saling berebutan asupan. Sementara mioma terus ikut membesar, dan sekarang ukurannya hampir setara dengan janin," dokter Yasmin menjelaskan sambil memperlihatkan di layar monitor tampilan isi rahim Soraya.
"Jadi bagaimana baiknya dokter?" tanya Soraya dengan berurai air mata.
"Tenang bu, di sini sih masih terlihat janinnya baik-baik saja. Sakit perut seperti tadi mungkin salah satu efek dari mioma ini. Tapi bisa juga dari hal lain, sepanjang detak janin teratur maka saya yakin baik- baik saja anak ibu".
Soraya kembali memakai pakaiannya dibantu oleh perawat, lalu berjalan dan duduk di hadapan dokter Yasmin.
"Bu, begini saya catat di sini, nanti dua minggu lagi periksa lagi yah. Kalau ada keluhan lain seperti ada noda darah atau keluhan lain, harus segera datang yah," kata dokter Yasmin sambil membuat catatan medis Soraya.
"Saya tidak praktek di klinik atau rumah sakit lain, hanya di klinik sendiri saja di sini. Pagi jam delapan sampai jam sebelas siang, lalu sore hari jam lima sampai selesai. Jadi ibu bisa kemari kapan saja," dokter Yasmin berusaha menenangkan Soraya.
"Ibu Soraya sendirian saja?".
Soraya menganggukan kepala.
"Saya pulang mengajar lalu langsung kemari," ujar Soraya.
"Mengajar dimana Bu?" tanya dokter Yasmin.
"Di SMP Cahaya Tri Tunggal, mengajar bahasa Inggris," jawab Soraya.
__ADS_1
"O ya, berarti Ibu Soraya guru
Bahasa Inggrisnya anak saya loh".
"Siapa nama anak dokter?".
"Julian Nelson Tampubolon, tapi dipanggil Junel oleh semua teman sekolahnya," jawab dokter Yasmin sambil senyum lebar.
Soraya jadi bingung saat diberitahu nama muridnya.
"Junel kan....dokter kan....?" Soraya kelihatan bingung.
"Ya, saya dan mamanya Junel baru sekitar dua tahun lalu menikah. Biasa bu, dua orang terluka bertemu dan akhirnya bersatu...hahahaha," dokter Yasmin bercerita dengan santai.
"Adiknya Junel yaitu Chintia Baraja, masih SD dan ikut sama saya. Mereka berdua sekarang sudah punya adik bayi bernama Nicholas Baraja," dokter Yasmin Baraja kembali menambahkan lagi cerita keluarganya.
Soraya menganggukan kepala sambil senyum-senyum, dia mulai paham arah cerita dokter tersebut.
Malam itu Mario dipaksa diajak ke tempat hiburan karaoke oleh Aliong dan Mr. A.
Alasan mereka karena sudah lama Mario tak ikut acara seperti ini, jadi sekarang harus ikut.
Ruangan karaoke VIP sudah dipesan oleh Aliong, minuman keras beralkohol jelas sudah masuk dalam paket pesanan.
Dengan langkah gontai Mario mengikuti langkah Aliong menyusuri lorong di tempat karaoke menuju ruangan VIP.
Di dalam sana ternyata sudah ada beberapa orang lain, dan semuanya adalah teman Aliong.
"Ceweknya mana nih, masa batangan semua. Panggil dong cewek pemandu lagu, yang bisa gue apa-apain yah," kata Mr. A yang mulai setengah mabuk.
Tak lama masuk sekitar tiga orang wanita cantik berpakaian seksi.
Ketiganya menemani para boss di ruangan itu, menyanyi dan juga minum minuman keras bersama-sama.
Mario dipaksa minum terus menerus, kepalanya mulai pusing.
"Halo Jim, kamu sibuk gak?" tanya Mario ketika menelepon Jimmy adiknya.
Kebetulan saat itu Jimmy sedang santai sambil main gitar bersama sahabatnya Samuel.
"Enggak juga, ada apa Bang? lagi dimana sih? kok rame amat bang?"Jimmy malah jadi banyak bertanya.
"Jemput gue dong, di tempat karaoke Lady Escort. Gue pusing kepalanya, kagak sanggup nyetir lagi," pinta Mario kepada adiknya.
"Wah kacau, pasti lu mabuk ya Bang. Ada-ada saja deh, ya sudah tunggu,"sahut Jimmy dengan kesal.
"Sam, antar dong ke tempat karaoke Lady Escort," kata Jimmy kepada Samuel saat menutup ponselnya.
"Wah ngajakin gue ke tempat kayak gitu bro. Tumben lu banyak duit," sahut Samuel dengan mata berbinar.
"Monyong, antar gue jemput Bang Rio, dia lagi mabuk di sana. Kagak bisa balik dia, mabuk berat," Jimmy sambil memakai jaket mengomel tentang kakaknya.
"Yaaaahhhh...kirain gue mau diajak senang-senang. Kagak tahunya cuma jemput Bang Rio yang mabuk," keluh Samuel lalu dia menyalakan motor tuanya dan segera meluncur ke lokasi sambil membonceng Jimmy.
Benar saja, Mario sudah sulit untuk berdiri juga. Dunia seakan berputar, matanya merah dan benar-benar merasa pusing sekali.
Jimmy meraih kunci mobil, lalu berjalan bersama Samuel memapah Mario sambil menyusuri lorong tempat karaoke itu.
Tawa dari teman-teman Mario pecah berderai saat melihat Mario sampai harus dijemput oleh adiknya.
Setelah Mario masuk mobil, lalu Samuel naik motornya mengikuti lajunya mobil Mario yang dikemudikan oleh Jimmy menuju kediaman Mario.
Maya sudah tidur nyenyak, saat itu sudah pukul sebelas malam lewat. Saat ini Soraya sedang merasakan kesakitan di perutnya.
Usia kandungannya baru saja masuk bulan ketujuh beberapa hari yang lalu. Tapi sekarang perutnya terasa sakit sekali, lalu dia mencoba bangkit dan turun dari tempat tidur.
Baru saja kakinya menapak ke lantai, darah segar mengalir deras diantara kedua belah pahanya.
Soraya menangis ketakutan, dia mencoba meraih ponsel untuk menghubungi Mario.
Telepon tersambung tapi tak kunjung diangkat oleh Mario. Hal itu tentu membuat Soraya semakin menangis dan merasa ketakutan sekali.
Lalu dia mencoba menelpon Ibu Sunaryo, bermaksud meminta tolong karena saat ini dia hanya berdua dengan bayi dan sekarang mengalami pendarahan.
Jimmy sambil menyetir sambil mengoceh mengomel kepada kakaknya, dia kesal sekali mendapati sang kakak mabuk berat seperti itu.
"Masalahnya Abang sudah kawin tahu....kasihan Kak Aya sama Maya, mana Kak Aya lagi hamil juga. Parah lu Bang," Jimmy benar-benar jengkel luar biasa kepada Mario.
Sementara Mario sudah sangat mabuk jadi tak peduli adiknya mau bicara apa juga.
Di depan kediaman Mario terlihat Samuel yang tiba lebih dulu sedang bicara dengan sepasang orang tua yang terlihat panik.
Jimmy segera menghentikan mobil di depan rumah Mario dan segera turun mendekati Samuel yang melambaikan tangan memanggil dirinya.
"Jim, ini bapak dan ibu dari rumah depan. Katanya Kak Aya sakit pendarahan di dalam rumah. Ayo Jim masuk yuk," kata Samuel terlihat panik.
Jimmy tentu saja merasa bingung, lalu dia segera masuk ke halaman rumah, dan ketika mencoba membuka pintu ternyata tidak terkunci.
Namun saat pintu terbuka lebar, terlihat Soraya tergolek di lantai dengan darah berceceran.
"Jim, tolong aku," ujar Soraya dengan lemah.
Jimmy segera mendekati kakak iparnya dan dia semakin panik melihat kondisi Soraya seperti itu.
"Kak Aya, ayo Jimmy bawa ke rumah sakit," ujar Jimmy sambil mencoba meraih tubuh Soraya.
"Tapi di mobil ada bang Rio, gimana cara bawa kak Aya nih," Samuel juga merasa bingung.
"Yah sudah, kita turunkan saja dulu pak Rio. Baru kita bawa Ibu Soraya ke rumah sakit," pak Sunaryo memberikan pencerahan.
Segera Jimmy dan Samuel memapah Mario, lalu sampai di dalam rumah mereka menggeletakan Mario di lantai.
Sementara Ibu Sunaryo meraih Maya yang sedang tidur nyenyak lalu membungkus anak kecil itu dengan selimut dan membawanya ke rumahnya.
Jimmy meraih tubuh Soraya dan membopong masuk ke dalam mobil Mario.
"Jim, aku kan bawa motor. Ini siapa yang menyetir mobilnya?" tanya Samuel kebingungan.
"Sudah biar saya saja yang menyetir mobil, nak Jimmy bisa memegang Ibu Soraya dan nak Samuel bisa bawa motornya," kembali pak Sunaryo memberikan pencerahan.
"Oh, iya, Maya gimana yah?" tiba-tiba Jimmy ingat keponakan kecilnya.
"Maya sudah aman nak Jimmy, tadi sudah dibawa oleh istri saya," ujar Pak Sunaryo lagi.
"Jim...".
"Ya Kak Aya, gimana kak?".
"Bawa aku ke klinik Baraja".
Pak Sunaryo segera paham tempat itu lalu melajukan mobil Mario menuju ke klinik yang disebutkan oleh Soraya.
"Sebentar dokter, ini teman saya mahasiswa kedokteran. Tolong jelaskan saja sama dia, saya tak paham," kata Jimmy saat dokter Yasmin berusaha menjelaskan kondisi Soraya.
Samuel lalu maju dan mendengarkan apa yang dokter Yasmin jelaskan, tapi dia tampak tak terlalu paham.
"Gini Jim, maksud dokter ini, kak Aya harus segera di operasi. Karena bayinya dalam bahaya karena didesak sama tumornya," kata Samuel berusaha menjelaskan kepada Jimmy.
"Tumor? maksudnya tumor apaan?".
"Iya, dokter itu bilang Kak Aya kondisinya bahaya karena pendarahan hebat akibat tumor sama bayinya. Gitu katanya, gue juga bingung karena pelajaran gue belum sampai situ bro," Samuel juga menjelaskan tapi malah tak jelas juga.
"Kepaksa gue harus telepon Bang Robert deh, gue kagak paham. Sial Mario malah mabuk, sinting dia," oceh Jimmy sambil menekan nomor telepon Robert.
"Bang, aku ada di klinik Baraja, ini Kak Aya pendarahan. Aku tak paham karena kata dokter di sini bayinya ada tumor jadi harus segera di operasi," Jimmy menyampaikan kondisi Soraya yang membuat Robert jadi bingung.
"Sudah kamu berikan ponsel kamu ke dokter tadi, biar aku yang tanya langsung," Robert segera meminta Jimmy menyambungkan kepada dokter Yasmin.
"Selamat malam dokter, maaf ini saya dokter Robert selaku kakak iparnya Soraya. Saya mohon penjelasan tentang kondisi adik ipar saya," pinta Robert kepada dokter Yasmin.
"Selamat malam dokter Robert, jadi begini kondisi Ibu Soraya...bla...bla...bla".
"Apakah bisa tunggu saya kesana dokter Yasmin, paling sekitar setengah jam lagi saya sampai di sana," pinta Robert.
"Tak mungkin dokter Robert, kondisi Ibu Soraya sudah sangat lemah sekali. Kalau tidak segera kami lakukan tindakan, maka bayi dan ibunya bisa tak tertolong," sahut dokter Yasmin.
"Baik kalau begitu, saya atas nama keluarga mengijinkan untuk segera melakukan tindakan. Nanti saya minta adik saya untuk menanda tangani surat ijin keluarga," Robert segera memberi ijin untuk melakukan operasi demi menyelamatkan Soraya dan bayinya.
"Jim, tak usah banyak tanya, kamu nanti tanda tangan saja apa yang pihak rumah sakit minta kepadamu. Aku segera menyusul kesana," kata Robert meminta Jimmy menuruti perintahnya.
Dan Jimmy segera melakukan apa yang diperintahkan sang kakak tanpa dia tahu apa isi surat yang baru saja perawat sodorkan kepadanya.
"Sayang, aku segera ke klinik Baraja. Kamu sama sopir segera jemput Mamih, Papih dan juga Ibu Wongso," perintah Robert kepada Rosalinda sang istri.
"Kondisi Soraya bagaimana sekarang? aku harus mengatakan apa kepada Papih, Mamih dan juga Ibu Wongso nanti?" tanya Rosalinda terlihat ikut panik.
"Aku juga belum tahu pasti, nanti aku hubungi saat sudah tiba di sana yah. Sayang, kamu segera jemput para orang tua yah," Robert segera berangkat menuju klinik dokter Yasmin.
Sepanjang jalan Robert mencoba menghubungi Mario, tapi sama sekali tak ada sahutan. Entah sedang apa dan dimana Mario sekarang, Robert masih berpikir positif kalau Mario sedang berada di lokasi pembangunan.
Ketika tiba di klinik Baraja, lalu Jimmy segera memberitahu peristiwa sebelum Soraya dibawa ke klinik. Mario mabuk berat saat ini, sehingga Mario belum tahu apa yang terjadi pada Soraya.
Ibu Wongso menghambur ke dalam klinik, dan melihat ada Robert dan Jimmy di sana tapi menantunya tak ada.
Rosalinda segera memeluk Ibu Wongso, saat Robert memberi tahu kalau ternyata selama ini di rahim Soraya tumbuh janin dan juga tumor yang berkembang bersamaan.
__ADS_1
"Mereka kenapa tak pernah mengatakan apapun kepada kita semua. Keterlaluan Mario itu, sekarang juga masih tak bisa dihubungi," Pak Hansen merasa marah kepada Mario.
Robert memberi tanda kepada Jimmy agar tidak mengatakan kalau Mario saat ini sedang mabuk.
Dokter Yasmin keluar dari ruang operasi dengan masih menggunakan pakaian khusus untuk melakukan tindakan operasi.
"Dokter Robert, bayi Ibu Soraya sudah lahir namun kondisinya sangat kritis. Bayi itu kurang oksigen dan disinyalir di paru- parunya ada cairan, sehingga harus masuk inkubator dan harus segera disedot cairan itu. Lalu satu lagi, kondisi Ibu Soraya juga sangat lemah, dan kami terpaksa harus segera melakukan tindakan histerektomi," kata dokter Yasmin menjelaskan kepada Robert.
(*histerektomi \= pengangkatan rahim)
"Mengapa harus sampai histerektomi segala? bukankah tumornya saja diangkat tanpa harus melakukan tindakan itu?" Robert mencoba melakukan banding.
"Terjadi pelengketan pada dinding rahim, kalau tidak diangkat dan hanya dibuang tumornya, maka masih ada induknya yang menempel sehingga nanti pendarahan akan terus terjadi," tutur dokter Yasmin.
Robert minta waktu sebentar dan menjelaskan kondisi Soraya kepada Ibu Wongso dan orang tuanya.
"Sudah lakukan saja yang terbaik, mama ikhlas yang penting Soraya dan anaknya selamat," Ibu Wongso menangis tak berhenti di dalam pelukan Rosalinda.
Mamih Regina juga ikut menangis di pelukan Jimmy, sementara Papih Hansen terlihat begitu tegang menahan emosi kepada Mario.
Pak Sunaryo kembali ke rumah dengan membawa mobil milik Mario, karena Mario masih tak sadarkan diri maka kunci mobil disimpan di rumahnya.
Srek...srek...srek...!!!
Mario membuka matanya saat mendengar ada bunyi seperti itu, lalu dia mendengarkan bunyi apa gerangan.
Dilihatnya asisten rumah tangga hariannya sedang membersihkan sesuatu di lantai yang terlihat sulit membersihkannya.
Mario baru sadar kalau dia sekarang sedang dalam keadaan terbaring di lantai.
Perlahan mencoba duduk sambil memegangi kepalanya yang masih terasa berat sekali.
Asisten rumah tangga tampak sesekali melirik Mario dengan tatapan sinis.
"Mbak, lagi bersihin apa sih? Istri saya mana yah?" tanya Mario dengan mata yang mengerjap-ngerjap karena cahaya matahari memasuki jendela rumah.
"Saya lagi membersihkan darah Ibu Soraya, kasihan Ibu Soraya dijahatin sama bapak. Sekarang tuh di rumah sakit," jawab asisten rumah tangga dengan sinis dan ketus.
"Maksudnya apa?" Mario mencoba bangkit berdiri dan melangkah ke pintu kamar tepat di depan asisten rumah tangga yang sedang bersimpuh membersihkan ceceran darah Soraya semalam.
Banyak sekali tetesan darah di sana yang sudah mulai mengering, karena darah kental sehingga agak sulit dibersihkannya.
"Istri saya kenapa mbak?" Mario tercekat suaranya saat melihat banyak tetesan darah di sana.
Sementara asisten rumah tangga saat tadi pagi mendengar penuturan Ibu Sunaryo yang sedang berbincang dengan Ibu Tina sebelah rumah, dan mendapati Mario mabuk berat terkapar di lantai rumah. Asisten rumah tangga itu mengambil kesimpulan sendiri kalau Mario telah memukuli Soraya ketika mabuk semalam sampai terjadi pendarahan.
"Ya pasti enggak bakalan ingat, bapak mabuk tuh lalu ibu dipukulin sampai pendarahan di rumah sakit".
Mario menutup mulutnya dengan tangan, lalu bersandar ke tembok. Dadanya sesak, tubuhnya lemas, dia semalam mabuk sampai tak tahu apapun yang terjadi. Dan dia tak percaya kalau telah memukuli Soraya sampai darah berceceran dimana-mana.
"Maya dimana mbak?"tanya Mario dengan suara bergetar.
"Di depan sama Bu Naryo, untung saja ada Bu Naryo. Saya terakhir kerja hari ini, enggak suka saya sama bapak yang jahat sama ibu," asisten rumah tangga menampakan kemarahannya kepada Mario.
Mario bangkit berdiri dan berjalan ke arah rumah Ibu Sunaryo untuk melihat Maya.
"Papa!!!!" teriak Maya saat melihat ayahnya berjalan ke arahnya.
Ibu Sunaryo menggendong Maya, dan Pak Sunaryo segera mendekati Mario.
"Pak, istri saya kenapa?" tanya Mario sambil berkaca-kaca.
"Soraya di rumah sakit, sekarang Mario mandi dulu. Nanti saya antar ke rumah sakit," kata Pak Sunaryo sambil memegang bahu Mario.
"Tapi pak....".
"Ya saya paham, sudah turuti saja apa kata saya. Nanti saya jelaskan di jalan, sekarang bersihkan saja dirimu dulu," sebagai pensiunan Marinir tentu saja Pak Sunaryo tegas orangnya.
Mario kembali ke rumahnya, dan segera mandi, sambil melakukan itu semua sambil otaknya berpikir keras karena dia tak tahu apa yang terjadi dan merasa diri tak mungkin sampai memukuli istrinya.
"Ini roti dan susu, bawalah dan makan di jalan yah," kata Ibu Sunaryo sambil memberikan sebuah bungkusan plastik kepada Mario.
Setelah memeluk dan mencium anaknya, lalu Mario masuk ke dalam mobil dan Pak Sunaryo segera melajukan mobil menuju rumah sakit.
Pak Sunaryo hanya bercerita bagian yang dia ketahui, yaitu Soraya menelepon istrinya sambil minta tolong. Lalu adik Mario dan kawannya datang ke rumah, Mario dipapah ke rumah dalam kondisi tak sadarkan diri karena mabuk berat.
"Soraya kami bawa ke rumah sakit, tapi saya tak lama di sana karena saya minta ijin pulang karena kasihan Maya takut menangis mencari ibunya. Istri saya pasti kewalahan kalau anakmu sudah mengamuk. Jadi saya tak paham lagi apa yang terjadi selanjutnya, yang terakhir saya tahu adikmu menelpon seseorang bernama Robert," Pak Sunaryo menuturkan apa yang diketahuinya semalam.
"Maaf saya bolak-balik membawa mobilmu ini, karena saya pikir pagi ini pasti Mario butuh bantuan untuk ke rumah sakit".
Mario terdiam sambil memakan roti dan minum susu yang dibawakan Ibu Sunaryo, sebenarnya mual minum susu tapi terpaksa karena tak enak hati kepada Pak Sunaryo.
Sampai di depan rumah sakit lalu Pak Sunaryo ijin pulang memakai angkutan umum, namun Mario menyuruh membawa saja mobilnya karena ada adik dan saudaranya di rumah sakit.
Mario menitipkan beberapa lembar uang untuk membeli keperluan Maya, dan tak hentinya meminta maaf karena merepotkan Pak Sunaryo.
Setelah pak Sunaryo pergi, lalu Mario melangkah menuju ke dalam klinik Rumah Sakit Ibu dan Anak Baraja.
Mario bertanya ke petugas jaga, dimana istrinya di rawat.
"Ibu Soraya Wongso dirawat di ruang ICU. Bapak lurus saja, nanti ada tangga naik ke lantai dua, letak ruangan ICU ada di sebelah kanan," petugas jaga menjelaskan kepada Mario.
Sebenarnya cukup beruntung punya menantu dan ipar seperti Rosalinda, orang yang ingin selalu tampil untuk dipuji orang lain.
Sejak semalam sampai pagi ini selalu berusaha tampil sebagai orang yang paling peduli.
Makanan dan minuman, minyak angin untuk orang tua, tissue kering dan basah, dan berbagai macam keperluan pasti Rosalinda sigap menyediakan.
Dan tentunya pelukan hangat untuk Ibu Wongso dan Mamih Regina selalu dia berikan, walau terlihat berlebihan tapi disaat begini malah jadi lumayan menguntungkan.
"Kakak Ipar lu sebenarnya baik bro, dari semalam gue makan terus nih. Dia beli makanan banyak banget kayak lagi piknik kita nih," bisik Samuel yang terus menemani Jimmy.
"Memang baik, perhatian juga kok orangnya. Cuma lu lihat saja gayanya berlebihan kayak orang di sinetron gitu bro. Dan selalu bilang untung yah aku bawakan ini, untung yah aku belikan itu. Kalau tak ada Bang Robert dan aku pasti kacau. Kayak gitu yang bikin sebel," sahut Jimmy sambil memperagakan gaya bicara Rosalinda.
"Hahaha...gila lu Jim. Tapi yang bikin gue kagak kuat sih kalau kakak ipar lu jalan atau bergerak yah. Bunyi semua tangan sama kakinya, gemerincing bro...hahahah," Jimmy dan Samuel cekakakan di ujung koridor ruang tunggu ICU.
Robert mendekati Jimmy dan Samuel lalu berkata," Jim, tolong sekarang juga kamu ke rumah sakit tempat aku kerja sama ke PMI, ambil darah golongan A pesanan dokter Robert. Di masing-masing tempat satu labu, kamu nanti tanya saja ke petugas yah, bilang pesanan dokter Robert".
"Sayang, mereka naik apa perginya, apa mau naik mobil aku saja?" nyonya besar sudah muncul saja tiba-tiba.
"Sudah tak usah, naik motor saja lebih cepat. Karena Soraya masih butuh banyak transfusi darah, masih lemah sekali kondisinya. Tolong beri uang saja kepada mereka untuk pengganti biaya perawatan darah dan ongkos bahan bakar," kata Robert kepada Rosalinda istrinya.
Lalu Rosalinda membuka dompet mahalnya, dan terlihat barisan uang kertas tertata rapih lalu Jimmy diberikan satu lembar berwarna merah, tapi dasar Jimmy iseng dan meminta lagi satu lembar biru dengan alasan untuk beli minum di jalan, tanpa banyak bicara langsung satu lembar biru meluncur lagi ke tangan Jimmy.
"Jim...," Mario memanggil adiknya ketika tiba di lantai dua.
Jimmy menoleh dan langsung naik pitam.
"Mau apa Bang kemari? sana pergi mabuk sana...kagak punya hati lu Bang, kasihan Kak Aya tahu!!!"
Robert segera menghampiri, lalu menarik Mario.
"Jim, sudah pergi ambil darah. Mario urusan gue," kata Robert sambil menarik Mario ke dalam.
Cring...cring...cring..Rosalinda berlari kecil mengikuti langkah Robert dan Mario.
Papih Hansen langsung berdiri dengan tangan mengepal saat melihat Mario datang.
"Papih...sudah...sabar... biar Bang Robert yang menangani. Semua akan aman sama Bang Robert," Rosalinda memegang tangan Papih Hansen, lalu Mamih Regina juga menarik tangan suaminya untuk duduk lagi.
Robert menceritakan kejadian yang dialami Soraya dan anak bayinya Mario saat ini.
Untung Robert seorang dokter jadi punya hak istimewa di berbagai rumah sakit atau klinik lain.
Robert memperlihatkan kondisi bayinya Mario, seorang bayi perempuan kecil yang lemah tergeletak di dalam inkubator.
Seluruh tubuh kecil itu penuh dengan selang yang bergelantungan, ada selang oksigen dan juga selang untuk membersihkan paru-parunya.
Disamping inkubator ada alat pendeteksi detak jantung dan alat asupan obat dan vitamin.
"Anakmu bisa begini selain karena ada mioma dalam rahim istrimu, juga karena asap rokok," kata Robert dengan tegas kepada Mario.
Dan tentu saja Mario tak kuasa menahan tangis melihat bayi kecilnya dengan kondisi seperti itu.
Bayi yang dilahirkan di minggu ke tiga puluh atau sekitar tujuh bulan kandungan, semalam istrinya menjalani operasi caesar untuk mengeluarkan anaknya itu.
Lahir dengan berat hanya 1,9 kilogram, dan kondisi paru-parunya yang basah sehingga harus segera ditindak agar bertahan hidup.
"Bang Robert, anakku bisa selamat tidak?" tanya Mario sambil beruraian air mata.
"Dokter hanya bisa berusaha, tergantung kekuatan tubuh dia dan juga doa kita semua".
"Maafkan papa nak, papa yang salah sampai kamu begini. Kamu harus kuat nak, papa sayang kamu," kata Mario sambil berjongkok di hadapan inkubator.
"Ayo sekarang kita tengok istrimu, dia masih sangat lemah. Sudah sadar tapi masih lemah sekali dan belum bisa diajak bicara," ajak Robert sambil menarik tangan Mario.
Soraya sama saja kondisinya dengan anak bayinya, seluruh tubuhnya dipenuhi selang, dsn sama ada alat pendeteksi detak jantung juga disamping tempat tidurnya
"Rio, jangan pernah kamu mempermasalahkan soal rahimnya. Dia tak mungkin lagi memberi keturunan untukmu. Kasihan sekali istrimu, semalam terpaksa harus diangkat rahimnya karena tumor sudah melekat ke seluruh dinding rahimnya".
"Bang Robert, aku cuma ingin istri dan anakku selamat. Aku tak peduli apapun itu, aku yang paling bersalah kepada mereka saat ini. Aku rela kalau nyawaku diambil untuk menggantikan mereka saat ini," Mario terisak-isak saat melihat kondisi Soraya.
"Bang Rio....," terdengar Soraya memanggil suaminya dengan suara yang sangat lemah.
Mario segera menemui istrinya, lalu Soraya menatap dan matanya mengerjap memberi tanda ingin membisikan sesuatu kepada suaminya.
__ADS_1
Lalu Mario mendekatkan telinganya ke bibir Soraya, dan terlihat Soraya berkata sesuatu kepadanya.
Mata Mario membelalak, tapi dia mengangguk dan mencium kening Soraya sambil berkata ," Maafkan aku sayang, lakukanlah apapun juga kalau itu sebagai upah perbuatanku".