PENGKHIATAN CINTA

PENGKHIATAN CINTA
Hari Itu 1


__ADS_3

"Mas, aku pamit dulu yah. Maaf hari sabtu ini kita tidak bisa bersama," kata Asmila di depan stasiun kota Cirebon.


"Ya, aku paham. Sudah, tenang saja, aku hari ini rencananya akan pergi memancing bersama mas Tomo," sahut Fuad sambil mengelus rambut istrinya.


"Wah, kapan janjiannya? kok aku tak tahu?" Asmila bertanya sambil mendelik manja.


"Kapan yah, adalah...kemarin kan kita ke rumah ibu. Aku mengobrol sama Mas Tomo, lalu dia mengajak aku memancing di pinggir sungai hari ini," kata Fuad menjelaskan.


"Hmmm, selamat bersenang- senang, jangan kelamaan mancingnya nanti mas tambah hitam legam," goda Asmila kepada suaminya.


"Hahahaha....suami seputih ini dibilang hitam," Fuad menyangkal sambil tertawa.


"Kalau mas Fuad kulitnya putih, sudah pasti istrinya bukan aku," Asmila mencibirkan bibirnya.


"Hahahaha...sudah, nanti kamu ketinggalan kereta api".


"Cium dulu dong".


Fuad mencium pipi kiri dan kanan istrinya, serta bonus kening istrinya.


Lalu Asmila berjalan menuju pintu gerbang menuju kereta api yang sudah menantinya.


Melihat istrinya sudah masuk ke dalam gerbang tadi, lalu dia juga segera menuju tempat parkir mobil dan segera melaju menuju rumah mertuanya.


"Ketemu di kantorku jam 10 nanti".


Itu pesan chat yang dikirim Asmila kepada Mario.


Pagi itu Mario juga baru saja bangun, dia sejak semalam sudah tinggal di kamar kost Asmila dan tidur di situ.


Mario ijin kepada Soraya dan anak-anaknya kalau dia tadi malam sudah ditunggu oleh temannya yang akan mengajak pergi keluar kota.


Ritual pagi Mario adalah gosok gigi sambil terbatuk-batuk mengeluarkan banyak dahak dan diakhiri dengan tetesan darah keluar dari mulutnya.


Bahkan malam hari sebelum tidur juga, ritual seperti itu selalu dia alami selama sakit kanker paru-paru itu menderanya.


Lalu Mario mengambil ponselnya dan membaca chat dari Asmila, lantas dia menjawab "oke".


Jam dinding menunjukkan pukul enam pagi, lalu Mario keluar dari kamar tidur Asmila dan menuju ke halaman depan.


"Mau kemana, pak?" tanya petugas rumah kost.


"Oh, mau jalan pagi saja, ingin tahu ada apa saja di sekitar sini," sahut Mario.


Petugas tadi tidak banyak bertanya lagi, karena yang dipahaminya kalau Mario adalah suaminya Asmila.


Mario berjalan di sekitar daerah itu, sekalian mencari sarapan pagi juga ingin tahu ada apa saja di sekitar sana.


Tepat di ujung jalan ternyata ada sebuah gereja kecil, dan di halaman gereja itu tampak seorang pria berambut putih sedang menyapu halaman yang banyak daun kering berserakan.


Entah mengapa hati kecilnya tiba-tiba ingin sekali masuk ke halaman gereja itu.


"Selamat pagi," sapa Mario.


"Oh, selamat pagi, silahkan masuk. Anda darimana?" tanya bapak tua itu.


"Saya sedang berjalan-jalan saja, kebetulan sedang menginap di rumah kost depan sana," sahut Mario sambil menunjuk ke arah bangunan mewah di depan jalan sana.


"Oh, begitu, ayo silahkan duduk, ada yang bisa saya bantu?" tanya bapak tua itu.


"Tidak juga, hanya entah mengapa saya tiba-tiba tertarik memasuki halaman gereja ini," ujar Mario lagi.


Bapak tua itu tersenyum ramah, lalu memperkenalkan dirinya.


"Saya Pendeta Mathius, anda dengan siapa?"tanyanya ramah.


"Oh, maaf pak Pendeta, nama saya Mario".


"Mungkin anda punya masalah atau beban hati yang tidak bisa disampaikan kepada orang lain. Anda bisa menyampaikan kepada saya, atau anda bisa masuk ke dalam ruang gereja dan berdoa di sana," Pendeta Mathius mencoba membuka percakapan dengan Mario.


Mendengar itu Mario terharu, lalu memegang tangan Pendeta tua itu sambil berkata," Saya telah berbohong, banyak kebohongan yang saya buat kepada istri dan anak-anak juga kepada orang tua. Saya ingin mohon ampun kepada Tuhan, tapi saat ini saya tidak bisa kembali ke rumah untuk menyampaikan permintaan maaf kepada mereka".


"Apa alasanmu sampai tidak memungkinan untuk kembali ke rumah dan menyampaikan permohonan maaf kepada mereka atas perbuatanmu?" tanya Pendeta Mathius sambil menatap wajah Mario dengan hangat.


"Saya sedang sekarat, saya menderita kanker paru-paru. Dan siang ini saya dengan teman akan berangkat menuju pulau Sumatera. Katanya ada orang yang bisa membuat saya segera sembuh".


Pendeta itu terdiam, lalu menatap Mario sambil berkata demikian," Nak, imanmu yang akan menyelamatkanmu. Kamu akan segera pergi siang ini ke suatu tempat yang mungkin kamu sendiri belum paham atas tempat itu".


"Aku sebagai pendeta tidak bisa


berkata banyak karena aku juga belum kenal dekat denganmu. Saranku hanya berdoalah di dalam, minta ampun kepada Tuhan. Jika masih mungkin kembalilah kepada keluargamu, tapi jika memang sudah tak mungkin berserulah kepada Tuhan. Karena hanya Tuhan yang akan menghapus dosa kita dan menyelamatkan dari maut".


Mario tersenyum penuh haru, lalu dengan bimbingan Pendeta tadi, dia memasuki ruangan Gereja dan berdoa di depan altar memohon ampun atas segala dosa yang sudah dia perbuat.


Setelah berdoa cukup lama, Mario keluar dari ruangan Gereja lalu menemui Pendeta Mathius yang masih duduk di halaman Gereja itu.


"Terima kasih Pak Pendeta, saya mohon pamit".


"Baiklah, jaga dirimu baik-baik, dan selalu ingat akan kasih Tuhan kepada kita. Iman kita kepada Tuhan yang akan menyelamatkan kita," ujar Pak Pendeta sambil menyalami dan menepuk bahu Mario.


Setelah meninggalkan halaman Gereja, lalu dia kembali lagi ke rumah kost. Dan di depan rumah kost ada seorang penjual nasi kuning keliling, lalu Mario membeli satu bungkus dan membawa nasi itu ke dalam.


Mario makan di ruangan makan rumah kost itu, beberapa orang lain sudah bangun dan menatap dirinya dengan tatapan curiga.


Tanpa ambil pusing, setelah selesai makan lalu dia kembali masuk ke kamar Asmila.


Mario duduk di atas tempat tidur, pikirannya kalut. Ingat bagaimana semalam dia minta ijin kepada Soraya istrinya, lalu kepada kedua anaknya.


Mega begitu sedih ketika dia akan pergi, dan ketika taksi datang menjemputnya, anak itu menangis semakin menjadi seakan tak ingin dirinya berangkat.


Bisa saja saat ini dia membatalkan seluruh rencana pengobatan alternatif yang ditawarkan oleh Asmila.


Tapi entah mengapa rasanya sulit untuk melakukannya, kepergian ini seperti harus dilakukan oleh dirinya.


Mario melirik jam dinding, ternyata sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Dua jam lagi dia ada janji dengan Asmila untuk bertemu di depan kantornya.


Lalu Mario berdiri dan segera meraih handuk lalu masuk ke dalam kamar mandi. Sesekali terdengar Mario batuk, dan memang begitu adanya. Dia tidak bisa terlalu lama di ruang pengap berasap, karena mandi dengan air hangat pasti ada uap tebal di sana dan itu membuat dadanya sesak.


Setelah mandi, dia duduk sebentar sambil mengatur nafas karena sepanjang mandi dia merasa sangat sesak nafas.


Tak lama sudah bisa bernafas normal lagi, lalu dia mulai mengenakan pakaiannya.


Setelah rapih, lalu dia meraih tasnya, membawa koper miliknya dan juga milik Asmila.


Menunggu sekitar lima belas menit di depan teras rumah kost, lalu muncul sebuah taksi berwarna biru.


Mario masuk ke dalamnya setelah menyimpan barang di dalam bagasi, dan taksi melaju menuju kantor Asmila.


Perjalanan dari rumah kost Asmila ke kantornya sebenarnya bisa ditempuh dalam waktu dua puluh menit saja.


Tapi hari sabtu begini jalan pasti terhalang macet di depan sebuah pasar, karena biasanya lebih ramai pengunjung di hari libur kerja.


Karyawan biasanya berbelanja kebutuhan rumah seminggu sekali, sehingga pasti pasar akan lebih padat dari biasanya.


Pukul sepuluh lebih sepuluh menit, taksi baru bisa tiba di depan kantor Asmila.


Tampak Asmila sudah menunggunya ditemani oleh seorang sekuriti kantor.


Ketika melihat sebuah taksi berhenti di depan kantornya dan terlihat Mario melambaikan tangan ke arahnya, lalu Asmila segera pamit kepada sekuriti itu dan berlari menuju taksi dan masuk ke dalamnya.


"Hai, apa kabar?"tanya Asmila sambil senyum ke arah Mario.

__ADS_1


"Hai juga, kabarku baik, kamu juga baik saja kan?"Mario membalas pertanyaan Asmila sambil memeluknya.


Mereka saling mengecup bibir, dan sopir taksi hanya diam tak berani berkata apapun melihat adegan romantis di belakang kursinya.


"Pak, ayo, lanjut ke bandara," ujar Mario dan sopir itu mengangguk sambil segera melajukan mobilnya.


"Ini kunci kamarmu," ujar Mario sambil menyerahkan sebuah anak kunci kepada Asmila.


"Pegang saja, aku juga punya satu lagi. Kan kamu bisa kapan saja ke kamar kost an," Asmila melirik genit kepada Mario.


"Kamu itu yah," kata Mario geleng-geleng kepalanya.


"Ini buku tabungan dan kartu ATM, mau kamu yang pegang atau aku saja?" tanya Asmila.


"Sudah kamu saja, aku tak mau tahu. Semoga saja uang itu bisa jadi manfaat," jawab Mario.


Asmila hanya mengangguk dan menyimpan lagi buku tabungan dan kartu ATM tadi ke dalam tasnya.


Perjalanan dari kantor Asmila menuju bandara juga macet, hari sabtu juga tetap saja tidak membuat jalan sedikit lengang.


Akhirnya pukul sebelas lewat tiga puluh menit, mereka baru bisa masuk ke gerbang bandara SS.


"Wow, perjalanan yang melelahkan yah. Belum juga naik pesawat tapi rasanya badan sudah lelah sekali," ujar Asmila ketika keluar dari taksi.


Mario membayar sejumlah uang sesuai dengan yang tertera di argo taksi tersebut.


Setelah mengeluarkan koper mereka dari bagasi taksi, lalu keduanya berjalan menuju ke loket check in dibandara.


Setelah selesai mereka duduk di ruang tunggu sambil membantu pemberitahuan keberangkatan.


"Ayo cepat, apa lagi sih yang akan dibawa?" tanya Asrul kepada Jena.


"Tak ada, cuma sebentar aku harus mengganti popok anakmu dulu. Kasihan barusan sudah penuh," sahut Jena sambil merasa sebal kepada Asrul.


"Sudah belum? lama amat ganti popok saja juga," Asrul juga kesal melihat Jena yang tampak pelan-pelan mengganti popok anaknya.


"Sabar dong!!! memangnya popok anak kucing, ini anak sendiri tapi rewel banget," Jena mulai kesal dan membentak Asrul.


"Iya, tapi ini sudah jam berapa? belum kita cari taksi, belum ini belum itu," Asrul juga balas mengomel kepada Jena.


"Mas!!! cari dulu saja taksinya, nanti tinggal bawa kemari jemput aku dan Rere. Gitu aja kok susah amat," Jena naik pitam.


"Heh!!! di sini itu jauh ke jalan raya, dapat taksi di sana itu harus berputar jauh kalau harus kemari lagi. Memangnya ini Semarang!!! kita di Jakarta!!! paham!!!" Asrul juga sama jadi emosi.


"Ya sudah, mas saja duluan jalan ke dekat jalan raya. Nanti aku nyusul belakangan, aku masih harus ganti baju Rere dulu," Jena coba menahan kesalnya.


"Ngaco kamu, sudah aku tunggu, tapi cepat bereskan ganti baju dan lain-lainnya. Nanti kita cari taksi bersama," Asrul mendengus tanda masih kesal kepada Jena.


Sekitar lima belas menit Jena baru selesai mengganti popok, menyeka anaknya dan mengenakan pakaian baru kepada anaknya.


Lalu setelah beres, Jena menggendong Rere anaknya dan segera menyusul Asrul yang sudah menantinya di teras penginapan.


"Mas, ayo!!!" ajak Jena yang sudah siap bersama anaknya.


"Hmmm, ayo," sahut Asrul, lalu bersama Jena dan Rere meninggalkan penginapan tersebut dengan berjalan kaki menuju jalan raya.


Sekitar lima belas menit kemudian baru mereka bisa mendapatkan taksi, dan segera naik untuk menuju ke bandara.


"Walau terhitung dekat, tapi macet boss. Jalan ke bandara selalu saja macet," kata sopir taksi kepada Asrul.


"Semoga saja tidak terlambat, karena di tiket tercantum keberangkatan pukul satu siang ini," sahut Asrul.


"Tenang boss, paling sebelum itu dijamin sudah tiba di bandara," sopir taksi tadi meyakinkan Asrul.


Benar saja menjelang pukul dua belas siang, mereka baru tiba di terminal bandara dan segera turun dari taksi.


Baru saja mereka masuk ke dalam gedung untuk melakukan check in, tiba-tiba hujan turun derasnya.


"Kepada penumpang pesawat PLB Air dengan nomor pesawat PLB123 tujuan Palembang, karena ada sesuatu hal maka keberangkatan pada pukul satu siang ini ditunda selama satu jam".


Terdengar suara pemberitahuan dari pengeras suara di dalam bandara tersebut.


Jena menghembuskan nafas kecewa karena ada penundaan keterlambatan pesawat.


Setelah Asrul selesai mengurus check in keberangkatan, lalu dia kembali ke tempat duduk Jena sambil sama merasa kecewa.


"Wah, delay deh," ujar Mario ketika mendengar pemberitahuan yang baru saja disampaikan lewat pengeras suara.


"Mungkin karena di luar hujan sangat deras sekali, jadi menunggu reda baru bisa terbang," Asmila mencoba menebak situasi saat itu.


"Ya sudah, kita cari makan dulu saja," ajak Mario.


"Ayo, sambil aku mencari Musholla," kata Asmila.


"Apa?!!! Musholla? kamu mau sholat?" mata Mario membulat kaget mendengar penuturan Asmila.


"Iya, kenapa sih? kok kaget banget mendengar aku mau sholat?" Asmila mendelik kepada Mario.


"Selama aku kenal kamu, belum pernah aku melihat kamu sholat," sahut Mario menatap tajam Asmila.


"Memang, aku jujur jarang sholat. Lagipula kalau kita sedang bersama, kita melakukan perselingkuhan. Masa aku sholat ketika selingkuh," jawaban yang mengejutkan dari Asmila.


"Hahahah...lalu sekarang kita juga bersama, tapi kamu mau sholat?" tanya Mario lagi.


"Bedalah, aku takut ini jadi sholat terakhir. Jadi aku mau minta ampun sama Allah," jawab Asmila lagi.


"Baguslah, ayo sana cepat sholat dan jangan lupa doakan aku juga".


"Jadwalmu besok minggu, kan?".


"Seharusnya, tapi tadi pagi aku sudah ke gereja dekat rumah kostmu".


"Wow...mendahului minta ampun sama Tuhan yah. Oke, sekarang giliranku".


Lalu Asmila mencari musholla yang ada di bandara, sementara Mario mencari cafe untuk makan siang sembari menanti keberangkatan pesawat.


"Mas, lapar," Jena mulai merajuk.


"Jena, makan di sini mahal. Kita harus berhemat, makan di cafe di bandara harganya selangit".


"Lalu aku yang sedang menyusui anakmu ini harus menahan lapar, kamu tega banget membiarkan aku kelaparan".


Asrul menghela nafas merasa pusing karena Jena dari tadi mengomel terus minta ini itu dan selalu minta Asrul mengerti dirinya.


"Ya sudah, kamu tunggu sini. Aku akan cari dulu tempat makan murah di belakang


sana," ujar Asrul sambil beranjak meninggalkan Jena dan anaknya.


Asrul mengitari bandara, dan untungnya ada kantin untuk karyawan bandara, lalu dia segera memesan paket nasi dan segera kembali ke tempat Jena bersama bayinya menunggu.


"Ini gendong anakmu, aku mau makan dulu. Gantian gendong, aku lapar banget," ujar Jena sambil menyerahkan bayinya dengan kasar kepada Asrul.


Lalu Jena segera membuka bungkusan paket makanan yang dibawa Asrul tadi dan segera memakannya.


Setelah habis satu kotak bagiannya, ternyata masih terasa lapar sehingga kotak bagian Asrul juga dibukanya dan dimakannya lagi.


Asrul hanya diam saja melihat Jena seperti itu, dia menggendong anaknya sambil berdiri dan mengayun-ayunkan agar anaknya tenang.


"Sinikan Rerenya, nih habiskan makanannya. Aku sudah kenyang, sayang kalau nasinya tidak dihabiskan," ujar Jena ketika sudah selesai makan dan menyisakan setengah bagian makanannya dari kotak milik Asrul.


Lalu Asrul menyerahkan Rere kepada Jena, dan dia menerima kotak nasi bagiannya yang sudah tinggal setengah dan terlihat diacak-acak oleh Jena.

__ADS_1


"Kenapa sih, kok kayak yang jijik sama makanan itu. Habiskan cepat, masa harus beli lagi makanan lain. Bukannya hemat tapi jadi boros," Jena mengomel ketika melihat Asrul tampak seperti jijik dengan kotak makanan itu.


Jena melotot tajam menatap Asrul, antara kesal, jijik dan tak mau ribut, lalu Asrul memakan sisa makanan dan berusaha menelannya walau terasa ingin muntah.


"Mam, sedang apa kamu?"tanya Mario menelepon istrinya.


"Hai, pap, aku masih di kampus. Anak-anak sih ada di rumah, sore nanti mereka ada janji keluar makan malam sama Oom Jimmy," Soraya menjawab telepon suaminya dengan ceria.


"Oh, mau makan kemana?" tanya Mario.


"Entahlah, tapi sepertinya anak- anak minta ke Big Beauty Resto," jawab Soraya sambil tertawa kecil.


"Kayaknya mereka ingin punya tante yang pandai memasak," Mario menebak keinginan anak-anaknya.


"Sepertinya begitu, mereka tampak sulit melupakan rasa makanan di rumah makan sana," Soraya menekankan lagi.


"Mam, maafkan aku yah," ujar Mario tiba-tiba.


"Maafkan untuk kesalahan apa?" Soraya menjadi bingung.


"Yah, aku minta maaf saja, mungkin aku pernah menyakiti mam, melukai hati mam, membohongi mam, apapun hal buruk pasti seorang manusia pernah melakukannya kepada pasangannya," kata Mario sambil bibirnya bergetar.


"Hmmm, oke, aku maafkan. Tapi kalau begitu, aku juga minta maaf yang sama kepada pap," ujar Soraya merasa terharu.


"Kesalahan mam tidak sebanyak kesalahanku dan aku sudah lupa apa kesalahan yang pernah mam perbuat kepadaku. Kesalahanku sangat banyak sekali kepadamu," sahut Mario lagi tak terasa ada air menarik di ujung matanya.


"Eeemmm, kok kita jadi melow, sudah ah, pokoknya semua kesalahan pap dan kesalahan mam sudah sama-sama dimaafkan. Kita minta ampun sama saja Tuhan agar menghapus kesalahan kita. Kita cerita yang lain sajalah," Soraya memutuskan percakapan permintaan maaf barusan.


"Hehehehe, sesekali melow tak apalah".


Dari jauh terlihat Asmila yang baru selesai sholat mendekati ke arah cafe.


"Mam, temanku sudah datang lagi. Tadi dia habis sholat dulu. Aku pamit yah, nanti sepertinya beberapa jam ke depan aku akan susah dihubungi. Titip anak-anak, yah," ujar Mario mengakhiri percakapannya.


Soraya mengiyakan ucapan Mario barusan, entah mengapa terasa merinding mendengar ucapan itu. Tapi dia mencoba berpikir positif, karena memang Mario kalau sedang di luar kota di proyek pembangunan jembatan atau irigasi memang agak sulit dihubungi.


Soraya kembali memeriksa tugas mahasiswanya, dan berusaha melupakan ucapan suaminya yang agak terasa aneh tadi.


"Maaf sholatnya agak lama, aku menjamak sholat ashar bersamaan setelah sholat dzuhur," kata Asmila sambil menarik kursi dan duduk di hadapan Mario.


"Ya, aku paham karena sewaktu kuliah dulu temanku yang muslim juga sering melakukan hal seperti itu," sahut Mario.


Rupanya Mario sudah memesan makanan ringan, sehingga Asmila tinggal menikmatinya.


"Tadi setelah sholat entah mengapa aku ingin sekali menelepon suamiku. Lalu aku meneleponnya, dia tampaknya sangat senang hari ini karena berhasil memancing ikan yang besar di sungai. Sejak tadi pagi dia dan kakak iparku pergi memancing di sungai yang letaknya agak di luar kota tempat tinggal kami," Asmila sambil mengunyah makanan sambil menceritakan tentang suaminya kepada Mario.


"Memangnya tidak hujan di sana?" tanya Mario.


"Sepertinya belum, kadang hujan tidak merata. Tapi dia bilang sih air sungainya tinggi seperti sedang pasang, kalau salah pijak dan terpeleset bisa saja tenggelam terbawa arus," jawab Asmila.


"Biasanya kalau begitu sebenarnya sedang ada hujan di daerah lain, namun aliran airnya sampai ke sungai itu jadi debit air naik seperti laut pasang," Mario menjelaskan.


"Hmmm, tukang jembatan dan irigasi memang pasti paham sekali soal air".


"Tidak juga, hanya seringnya demikian setahu aku. Tapi soal tenggelam aku tak punya pengalaman, hahahaha," sahut Mario.


"Sesekali mencoba tenggelam kayaknya mengasyikan," celoteh Asmila.


"Sinting kamu".


"Hahahaha, becanda boss".


Di sebuah daerah di kota Palembang di tepi sebuah sungai, sedang ada perdebatan sengit antara tiga orang pria.


Salah satunya bernama Darman orang yang jaman dulu pernah membawa kabur uang perusahaannya Mario.


"Sabar bang, jangan emosi dulu. Aku bisa bayar tapi nanti dulu, beri aku waktu beberapa hari lagi," kata orang yang tengah didesak oleh Darman dan Codot .


Orang yang bernama Codot itu adalah panggilan anak buahnya Darman yang sekarang sudah menjadi preman di kota Palembang.


Codot menempelkan pisau ke leher orang tadi yang terlihat pasrah, sambil duduk sambil mengangkat kedua tangannya.


"Kau bilang minggu lalu minta waktu, hari ini masih saja minta waktu. Macam mana kau selalu mengelak terus begini," kata Codot sambil mulai menggerak-gerakan pisaunya ke leher orang tadi.


"Kau sudah lama minta waktu terus, aku sudah baik hati tidak menagih bunga berjalan sama kau. Tapi memang kau baj*ngan, brengs*k, tak tahu diuntung," Darman menjambak rambut orang itu dan menekan kepala orang itu ke sebuah pohon.


"Bang, mohon pengertiannya, aku belum ada uang. Jarang sekali ada tarikan, jarang yang menyewa mobilku belakangan ini. Mohon sabar bang," orang yang tengah diancam itu tampak ketakutan.


"Tiga bulan kau bilang sabar, lebih dari sabar. B*ngs*t Kau!!!".


"Judi saja kau mau, pinjam uang untuk judi saja kau nekad. Giliran bayar kabur terus, mengelak terus. Mau jadi mayat kau ini, Yaaahhh!!!" Codot juga ikut membentak.


"Jangan bang, aku tahu aku salah, aku minta waktu lagi bang. Atau bawa saja mobilku, aku tak masalah. Asal jangan bunuh aku, tolong bang," orang itu gemetar ketakutan sampai menangis.


"Aku bawa mobil kau, nanti kau lapor polisi. Apa jaminannya kau tidak akan lapor polisi?" tanya Darman.


"Aku janji bang, bawa saja mobil itu, tapi jangan bunuh aku. Masih ada anak istri di rumah, bang," orang itu berkata sambil kedua telapak tangannya ditempelkan memohon pengampunan dari Darman dan Codot.


"Oke, aku pegang kata-katamu. Akan ku bawa mobilmu sebagai bayaran hutang kepadaku. Dan kau akan aku bungkam agar tidak lapor polisi," ujar Darman sambil melirik Codot memberi kode kepadanya.


Codot paham, lalu pisau tadi segera ditancapkan ke leher orang itu.


Mata orang itu melotot, tapi tak bisa berkata-kata lagi. Darah berhamburan dari lehernya, tubuhnya menggelepar dan dalam hitungan detik terdiam kaku dengan darah mengalir terus dari lehernya.


Codot menendang orang yang sudah menjadi mayat itu, lalu mendorongnya masuk ke dalam sungai.


Darman dan Codot segera mengambil mobil orang tadi, dan melaju kabur menuju ke kota Palembang.


"Kita cari duit pakai mobil ini, sebelum kita jual ke Bengkulu," kata Darman.


"Siap boss, kita mangkal di dekat bandara. Biasanya suka ada orang yang butuh keluar kota," sahut Codot.


Darman mengangguk setuju, lalu mereka segera menuju ke sana.


Panggilan penumpang yang akan berangkat menuju kota Palembang dengan pesawat PLB Air dengan nomor pesawat PLB123, sudah beberapa kali diumumkan.


Saat ini Mario dan Asmila tengah berjalan di lorong menuju ke pesawat, di belakang mereka tampak suami istri membawa bayi.


Sambil berjalan kedua suami istri itu terdengar beradu mulut terus, entah apa yang diributkan tapi terdengar berbisik sekali.


Mario dan Asmila senyum-senyum saja melihat mereka.


Kebetulan sekali suami istri itu duduknya berseberangan dengan kursinya Mario dan Asmila.


Sekarang suami istri itu terlihat ribut soal siapa yang akan mendekap bayi saat pesawat nanti lepas landas.


Asmila yang mendengar jadi ikut kesal, lalu dia berdiri mendekati keduanya.


"Maaf bu, setahu saya nanti pesawat lepas landas sebaiknya bayinya didekap sambil disusui, dan telinganya di tutup kapas atau tissue," kata Asmila menjelaskan kepada Jena.


Terlihat Jena seperti malas kalau harus menyusui anaknya, tapi mendengar ucapan Asmila lalu mau tak mau dia menuruti juga.


Asrul dan Jena cukup sadar kalau perdebatan mereka sejak tadi membuat orang lain merasa terganggu.


Setelah semua penumpang naik, lalu terdengar pengumuman kalau pesawat akan segera lepas landas.


Beberapa pramugari terlihat menjelaskan tata cara yang harus dilakukan selama penerbangan dan memberi instruksi penggunaan alat keselamatan apabila ada keadaan darurat secara tiba-tiba.


Setelah itu pramugari memeriksa semua keadaan penumpang termasuk memberi nasehat yang sama seperti yang Asmila sampaikan kepada Jena tadi.


Sambil mendekap Rere dan memberinya minum susu, lalu pesawat PLB Air mulai lepas landas meninggalkan kota Jakarta menuju Palembang.

__ADS_1


__ADS_2