PENGKHIATAN CINTA

PENGKHIATAN CINTA
Kecamuk 1


__ADS_3

"Mamah, ayo jujur sama Aming, semalam dia pulang jam berapa?" tanya Aming kepada Yu Chen ibunya melalui kontak telepon.


"Dia siapa Aming?" tanya balik Yu Chen walau sebenarnya sudah paham pasti maksudnya adalah ayahnya.


"Dia...bapaknya Ahan, suaminya mamah. Semalam balik jam berapa? Mabuk apa enggak?"tanya Aming dengan nada tinggi.


"Aming kok bicara sama mamah kayak gitu. Kamu coba yang sopan kalau mau menanyakan soal papah kamu".


"Masih mending begini, mamah. Daripada Aming nanya ke mamah kalau si Aliong balik jam berapa semalam. Nah, lebih kurang ajar, kan".


Yu Chen geleng-geleng kepala, dia bingung tak tahu musti bagaimana cara mendamaikan anaknya dengan ayahnya.


"Papah tadi malam pulang jam setengah dua belas".


"Mabuk dong".


"Tidak Aming, papahmu kerja. Kantornya Oom Jimmy baru mendapat pekerjaan besar, jadi mereka sekarang pasti akan sering pulang malam".


"Oh, begitu. Ya sudahlah, cuma mamah jangan bodoh dan jangan menutupi lagi kayak dulu. Kalau sampai bapaknya Ahan pulang mabuk, bilang sama Aming. Artinya orang itu sudah siap diusir sama Aming".


"Ya, mamah paham".


"Sekarang masih tidur, dong".


"Tidak, papah sekarang bangun subuh. Sembahyang, lalu bantu mamah membersihkan rumah sambil mencuci pakaian. Sebentar lagi jam setengah tujuh akan mengantar Ahan sekolah, lalu sekalian berangkat bekerja ".


"Keren juga dia sekarang, bisa bangun pagi".


"Aming, coba berikan kesempatan papahmu berubah. Belajar percaya sama papah kamu kalau papah juga sedang berusaha keras berubah".


"Mamah, percaya itu sama Tuhan bukan sama Aliong. Oke, sudah dulu yah, nanti Aming telepon lagi".


Yu Chen menangis lagi setelah menutup telepon dari anak sulungnya. Sulit baginya menguntai benang yang sudah terputus antara anaknya dengan ayahnya.


Aming punya luka batin kepada ayahnya, saat dulu melihat ibunya sering dipukul oleh ayahnya.


Aliong pulang mabuk sempoyongan, marah kepada anak istri yang menasehati.


Sampai akhirnya Aliong harus mendekam di penjara karena perbuatannya yaitu korupsi uang pembangunan yang seharusnya dipakai untuk kesejahteraan masyarakat.


Seharusnya Yu Chen bisa saja mengambil langkah bercerai dari Aliong saat suaminya mendekam lama di penjara.


Tapi Yu Chen tidak melakukan itu, dia tetap bertahan dalam pernikahannya walau harus menjalani hidup yang sulit.


Karena keputusannya dulu menikah dengan Aliong harus ditempuh dengan retaknya hubungan Yu Chen dengan keluarga besarnya.


Almarhum kedua orang tua Yu Chen tidak pernah setuju kalau dirinya menikah dengan Aliong.


Tapi dulu Yu Chen tetap pada keinginannya untuk memilih Aliong sebagai suaminya, dan berbuntut dirinya diusir dari keluarga besarnya.


"Mamah, mengapa dari tadi memegangi dan melihat botol kecap itu lama-lama. Ahan mau minta dong, nasinya mau dibubuhi kecap biar enak dimakan sama telur dadar," anak bungsunya menegur Yu Chen.


"Nah, memang aneh. Mamah sering menangis sambil melihat botol kecap. Memangnya botol kecap menyedihkan, yah mah?" tanya Ahan dengan polos.


"Hahahaha, tidak apa-apa. Mamah cuma terharu saja, dari kacang kedelai lalu diolah bisa jadi kecap," jawab Yu Chen sambil tertawa.


"Dari dulu juga begitu kali, sewaktu SD juga belajar tentang hal itu," Ahan melirik ibunya dengan aneh sambil membubuhi kecap ke atas nasinya.


Ahan tidak tahu, kalau sebenarnya keluarga Yu Chen adalah pemilik pabrik kecap yang saat ini sedang dinikmati oleh anaknya.


"Mamah, tapi memang kecap merek Puteri Jelita ini yang paling enak kata aku sih. Soalnya aku coba kecap lain enggak enak," ujar Ahan sambil makan dengan lahap.


"Bisa saja kamu, semua kecap sama saja. Cuma memang mamah sejak dulu lebih suka dengan kecap merek ini," sahut Yu Chen sambil senyum.


"Ayo Ahan, cepat habiskan sarapanmu, jangan ngobrol dulu sama mamah. Nanti kamu terlambat," Aliong keluar kamar dan tampak sudah berpakaian rapih.


"Sarapanmu mau dibawa saja?" tanya Yu Chen kepada suaminya.


"Ya, bawakan saja nanti aku makan di kantor," jawab Aliong.


"Papah kayak anak SD," ujar Ahan sambil cekikikan sendiri.


"Biarin, kan papah sekarang memang sekolah SD lagi," sahut Aliong sambil senyum kepada anaknya dan mengedipkan sebelah matanya.


Yu Chen tersenyum penuh haru sambil berandai-andai suatu hari nanti ada Aming juga di meja itu bercengkrama gembira bersama ayahnya.


Di lain tempat Soraya juga sedang bersiap untuk mengantar kedua anaknya ke sekolah.


Pagi itu dia juga tampak sibuk menelepon Risa mahasiswa yang dia jadikan asistennya.


Seperti biasa Risa diberikan bahan materi untuk mengajar di kelas mahasiswa tingkat bawah lagi.


Sedangkan untuk mahasiswa tingkat akhir yang dipegangnya, dia kirim tugas via email. Beberapa tugas yang pastinya akan membuat kepala mereka pusing tujuh keliling, apalagi kalau bukan mengupas buku pastinya mengupas pidato presiden Amerika.


Dan harus diulas lagi dalam bahasa Inggris, lalu dikumpulkan dengan mengirim via email kepada Soraya.


"Risa, itu telepon dari dosenmu lagi?" tanya ibunya di pagi itu.


"Iya, barusan ibu Soraya minta Risa mengajar lagi di kelas tingkat bawah. Lumayan bu, kemarin saja Risa dapat honor tiga ratus ribu, kan," sahut Risa sambil senyum senang kepada ibunya.


"Semoga kamu bisa jadi dosen nanti, semoga ibu Soraya bisa memberikan dukungan kepada kamu. Tapi kamu juga jangan sampai lalai dan jangan sampai mengecewakan beliau. Nanti hilang kepercayaannya kepada kamu, nak," ibunya Risa menasehati anaknya.


"Insyaallah, Risa akan selalu mencoba menjaga amanah dari ibu Soraya. Beliau katanya sampai beberapa hari ke depan masih ada urusan, jadi Risa dipercaya untuk mengajar di kelas tingkat bawah".


"Tapi kamu juga jangan lupa dengan tugasmu, karena kamu juga masih tercatat sebagai mahasiswa di sana".


"Baik bu, Risa akan menyelesaikan semuanya dengan baik, mohon doa dari ibu," ucap Risa sambil mengecup kening ibunya.


Ibunya Risa lumpuh sudah lama karena suatu penyakit, ayahnya hanya seorang pedagang es keliling.


Walau lumpuh tapi ibunya Risa tetap berusaha membantu suaminya dengan membuat agar-agar sebagai bahan untuk dimasukan ke dalam gentong es nya nanti.


Risa bisa kuliah di kampus karena mendapat beasiswa, dulu Risa juara lomba pidato bahasa Inggris dan kebetulan Soraya menjadi juri di sekolah SMA nya.


Melihat bakat Risa, lalu Soraya mengajukan anak itu sebagai salah satu siswa yang mendapat beasiswa dari yayasan.


Karena nilai Risa yang selalu baik dan selalu mendapat peringkat tertinggi di sekolahnya, maka beasiswa juga dengan mudah dia terima.


Dan selama kuliah di kampus tersebut, nilainya selalu paling tertinggi dan dia bisa diandalkan oleh beberapa dosen untuk menggantikan mengajar di tingkat bawah.


Yang paling utama tentunya Soraya sebagai dosen yang membawanya ke kampus tersebut.


Setelah mengantarkan kedua anaknya ke sekolah, lalu Soraya memutar balik mobilnya menuju ke suatu tempat lain.


Tak lama dia sampai di halaman Gereja, lalu memarkirkan mobilnya dan berjalan menuju jalan kecil di samping halaman Gereja tersebut.


Soraya mengetuk pintu sebuah rumah kecil, dan tak lama pintu dibuka oleh seorang wanita.


"Nania!!!".


"Soraya!!!".


Keduanya berpelukan di depan pintu rumah kecil itu, air mata bercucuran di pipi keduanya.


"Apa kabarmu? kamu terlihat lebih sehat sekarang?" tanya Soraya.


"Soraya, terima kasih. Kalau bukan karena pertolonganmu, mungkin kemarin ini aku sudah tiada," jawab Nania.

__ADS_1


"Tidak, semua pertolongan Tuhan. Aku bahagia sekali melihat kamu sudah sehat".


Nania tersenyum bahagia melihat kedatangan sahabatnya itu.


"Ayo masuk, duduklah dulu. Aku mau buatkan kamu teh hangat".


"Terima kasih, Nania. Aku teh tanpa gula".


"Pasti, sekarang sudah tidak ada gula pasir di rumah ini. Hahahaha, aku pabrik gulanya".


"Hahahaha, tapi gulanya tak bisa dinikmati orang lain".


"Hanya aku sendiri yang bisa menikmatinya, ternyata yang manis itu menyakitkan. Hahahaha".


"Aku ikut ke dapur saja, kita berbincang di sana saja," ujar Soraya.


Nania mengangguk dan mengajaknya ke dapur di rumah itu.


"Pendeta Yosep kemana?" tanya Soraya.


"Sebentar lagi pulang, tadi pagi pergi bersama dua orang Penatua Gereja melawat orang sakit. Kamu pasti tahu, kakek tua yang suka membawa kue setiap hari minggu. Yang kue nya disimpan di depan pintu Gereja agar setiap orang boleh mengambilnya cuma-cuma. Kemarin beliau jatuh pingsan, mungkin sakit atau kelelahan. Jadi tadi lagi Yosep mengunjungi beliau," cerita Nania sambil menjerang air di kompor.


"Ya, aku ingat. Kalau tidak salah kakek itu hidup sendirian, walau kaya raya tapi anak-anaknya semua tinggal di luar negeri dan beliau hanya bersama sopir dan pembantu saja di rumah besarnya," Soraya juga tahu kakek tersebut.


"Ya itulah, harta bukan segalanya. Kaya raya tapi merana di hari tua. Semoga Yosep bisa menghibur kakek itu," sahut Nania.


Tiba-tiba pintu belakang dapur terbuka, dan Pendeta Yosep masuk ke dalam.


"Hai, sayangku, aku pulang," ucap Pendeta Yosep sambil mencium kening istrinya.


"So sweet," ujar Soraya.


"Oh, ada tamu rupanya. Apa kabar Soraya? Maaf mobilmu jadi dipakai untuk kegiatan Gereja," ujar Pendeta Yosep sambil merasa tak enak hati.


"Oh, tak apa-apa. Justru itu salah satunya kedatanganku kemari, mau menyampaikan surat kepemilikan mobil itu dan mau menyerahkan mobil itu untuk keperluan Pendeta dan juga kegiatan Gereja," sahut Soraya sambil mengeluarkan seberkas dokumen mobil dari dalam tasnya.


"Sungguh?" Pendeta Yosep terpana.


"Sungguh!" Soraya menjawab mantap.


"Terima kasih Tuhan, semoga Soraya dan keluarga besarnya diberkati selalu dan anugerah Tuhan selalu tercurah kepadamu".


"Amin".


"Ini tehmu, terima kasih Soraya. Kamu baik sekali hatinya, kami tak bisa membalas kebaikanmu. Tapi aku yakin Tuhan akan senantiasa menjaga hatimu dan memberkati setiap langkahmu," ujar Nania sambil berkaca-kaca lagi dan Soraya segera memeluknya lagi.


Pendeta Yosep sangat terharu sekali melihat keakraban istrinya dan juga sahabatnya itu.


Soraya meminum tehnya yang sudah mulai menghangat, dan dia bertanya kepada Pendeta Yosep.


"Pendeta Yosep, kalau misal kita tahu pasangan kita telah mengkhianati pernikahan. Dan saat diketahui, ternyata pasangan kita sudah tiada. Apa yang harus kita lakukan?".


"Hati terluka karena mengetahui ada pengkhianatan cinta. Tapi tak bisa melampiaskan amarah ini karena orangnya sudah tiada".


Nania terkejut mendengar penuturan Soraya, dengan mata membulat dia mempertanyakan kalimat dari sahabatnya itu.


Sambil menangis, lalu Soraya menuturkan apa yang kemarin dia temukan, juga membeberkan semua bukti yang dia lihat dari komputer milik Fuad.


Pendeta Yosep mendengarkan semua keluh kesah Soraya, dan Nania terus memegangi pundak Soraya yang tak hentinya menangis sambil berkata-kata.


Nania menatap suaminya ketika Soraya selesai mengutarakan semua yang dia ketahui tentang Mario.


Setelah Soraya mulai tenang, lalu Pendeta Yosep mulai bicara kepadanya.


"Soraya, andai Mario masih ada. Apa yang akan kamu lakukan kepadanya ketika kamu tahu kalau suamimu telah berkhianat?" tanya Pendeta Yosep.


"Oke. Andai terjadi kamu telah melukai Mario, apakah itu menjadi solusi yang menjamin rumah tangga kalian akan kembali utuh?".


Soraya terdiam, mencoba mencerna perkataan Yosep dan akhirnya dia menggelengkan kepalanya.


"Benar, kekerasan dan amarah bukan solusi. Saat ini Mario sudah tiada, tapi sedihnya di saat Mario berpulang dan di saat itu pula terbongkar aib perbuatan buruknya".


"Soraya terluka hatinya, sudah pasti. Soraya kecewa, sudah jelas. Tapi kamu mau apalagi, orangnya sudah meninggal. Saat ini yang harus Soraya lakukan adalah berdoa dan memaafkan".


"Memohon kepada Tuhan untuk mengampuni kesalahan Mario, kamu juga harus memaafkan kesalahan Mario dan kamu harus bisa mengampuni diri kamu sendiri".


"Kita tak pernah tahu, bahkan pendeta atau ahli agama mana juga tak akan pernah tahu. Apa yang terjadi ketika seseorang sudah tiada".


"Kenanglah segala kebaikan Mario semasa hidup, banyak hal baik yang sudah dia lakukan. Bahkan berapa banyak kebahagiaan yang dia sudah berikan kepada Soraya dan anak-anak".


"Dan kamu juga sendiri harus selidiki diri sendiri, apa penyebab Mario berbuat curang dalam pernikahan kalian. Jangan sampai punya pikiran kalau selama pernikahan kita sudah memberikan yang terbaik kepada pasangan dan yakin pasangan akan menerima dengan baik".


"Mungkin ada juga hal-hal yang tanpa Soraya sadari sudah dilakukan selama perjalanan pernikahan kalian. Bagi kamu mungkin bukan masalah, tapi pasangan kita yang merasakan kalau itu membuat dirinya tidak nyaman".


"Mengapa tidak terungkap, karena pasanganmu sangat mencintaimu. Dan dia telah memaafkan dan menerimamu apa adanya".


Soraya tentu saja banjir air mata ketika mendengar nasehat dari Pendeta Yosep.


"Tapi apa kesalahan saya?" Soraya mencoba menyangkal lagi.


"Soraya, tak bisa dijawab sekarang. Harus kamu sendiri yang mencari jawabannya. Akan butuh waktu lama, dan butuh pembelajaran dalam diri. Yakin suatu saat semua jawaban akan terbuka. Ikhlas dan berdoa, itu kuncinya".


Soraya terdiam dan mencoba merenungkan apa yang telah disampaikan oleh Pendeta Yosep dengan panjang dan lebar.


Hal yang sama terjadi pada Fuad, tadi setelah sholat subuh dia mencoba menghubungi seorang temannya yang menjadi salah satu pemuka agama.


Kebetulan temannya itu sedang ada waktu luang, jadi mereka bisa menelpon berlama-lama.


Fuad menceritakan semua kisahnya kepada temannya itu, dan dia mendapat jawaban yang hampir sama dengan yang Soraya dengar tadi.


"Tapi aku sudah gagal menjadi imam bagi istriku," ujar Fuad menyesali diri.


"Bro, mungkin sebagai iman kamu tidak gagal. Tapi sebagai suami mungkin ada hal yang kamu lewatkan tapi selama itu kamu anggap itu hal biasa," jawab Ustadz Fahri sahabatnya.


"Tapi apa? aku tak tahu apa yang sudah aku lakukan dan itu membuat Mila tidak terima," sahut Fuad merasa tak habis pikir.


"Bro, tak bisa segera dijawab. Semua ada prosesnya, kamu harus banyak dzikir, ikhlas dan ridho. Yang sudah terjadi biar terjadi, tetap jaga hati dan jangan menyimpan bara di dalamnya".


"Manusia selagi hidup pasti banyak salah dan dosa, walau ustadz atau pemuka agama lain juga sama punya dosa. Sekarang masih diberi kesempatan hidup, pergunakan untuk banyak istighfar, berdzikir, banyak mengaji, sholat wajib jangan dilupakan. Kalau bisa sholat malam ditegakkan, minta Allah SWT untuk membuka jalan agar hatimu ikhlas".


"Mohon ampunan kepada Yang Kuasa, mohon ampunan untuk segala dosa istrimu, dosa orang tua kita, dosamu sendiri. Ingat lupakan masa lalu itu, berusaha untuk mengosongkan diri dan pikiran dari hal-hal yang tidak baik".


"Astagfirullah, terima kasih bro Ustadz. Nanti kalau aku pulang ke Cirebon, insyaallah akan berkunjung ke rumahmu," ujar Fuad sambil berlinang air mata.


"Siap bro, ditunggu. Kalau bisa jangan hanya sekedar berkunjung. Setiap kamis malam di rumahku ada pengajian, biasanya di sini kami mengaji yassin bersama, lalu ada bacaan ayat Al-Quran lainnya. Kita kupas dan bahas bersama isinya, lalu berdoa untuk semua orang tercinta kita yang sudah tiada agar layak berada di sisiNya".


"Siap, nanti aku akan datang ke sana".


"Nah, gitu dong. Alhamdulillah, aku tunggu yah. Jangan kerja terus cari materi, semua sudah Allah sediakan untuk kita".


"Wassalamuallaikum".


"Waalaikumsalam".


Pembicaraan mereka terhenti, dan Fuad merenungi apa yang baru saja dia dengar.


"Astagfirullah, mungkin ini memang teguran dari Allah karena aku selama ini telah lalai menjadi seorang suami".

__ADS_1


Sementara pagi tadi juga di apartemen Magenta, terlihat dirinya sedang berbincang dengan sang kakak.


"Aku hari sabtu nanti pulang ke Semarang, dan akan jadi pengalaman nanti menyetir sendirian,"ujar Aletha.


"Loh, kan aku sama Reynaldi akan ikut ke sana. Bagaimana ibu ini, yah" tukas Magenta.


"Oh, iya, maaf aku lupa. Iya, kamu dan Reynaldi akan ikut. Aduh aku pikun," sahut Aletha sambil menyengir.


Lalu Aletha menghempaskan dirinya ke sofa dan terlihat merenungi sesuatu.


"Melamun lagi deh!!!" tegur Magenta.


"Hehehe, bukan melamun. Tapi tetap saja kepikiran walau sedikit. Aku masih tak paham, mengapa bisa terjadi hubungan antara mas Asrul dengan Jena," ujar Aletha sambil mengernyitkan keningnya.


Magenta ikut menghempaskan diri ke sofa dan duduk di samping kakaknya.


"Menurut aku sih, kak Etha terlalu santai. Lama sekali waktu itu Jena tinggal di rumah saat masih dijadikan kantor. Kak Etha kan jarang banget menengok ke sana, bisa dihitung jari. Ayo, ingat tidak?" ujar Magenta.


Aletha menatap wajah adiknya sambil perasaannya mulai bercampur aduk.


"Kak Etha juga tidak punya prinsip. Maaf yah, kalau aku jadi kak Etha, pasti tak akan mau berpisah dari anak dan suami. Mau nantinya susah, repot atau apapun, aku tetap akan menjalani bersama suami".


"Kak Etha terlalu mudah dibujuk Papih dan Mamih. Mohon maaf, bagiku Papih dan Mamih terlalu takut anak-anaknya merasakan hidup miskin dan susah. Jadinya mereka mengambil langkah untuk mengatur rumah tangga anak," Magenta mengeluarkan uneg-uneg yang selama ini dia simpan.


"Dan bodohnya, seorang Aletha menuruti saja keinginan mereka tanpa melakukan apapun. Padahal mas Asrul sudah menunjukkan protes, tapi Aletha Nayoan tampaknya tidak menyadari hal itu".


Aletha menarik nafas berat, lalu berkata kepada Magenta.


"Kenapa dulu kamu tidak mengingatkan aku?".


Magenta melirik kepada sang kakak dan berkata," Pernahkah suara Magenta didengar? yang ada Magenta selalu harus mendengar".


"Gen, apakah selama kalian kuliah dan bersahabat dulu, pernahkah Jena memperlihatkan gelagat ingin menggoda suamiku?".


Magenta terdiam sejenak, terlihat dia sedang mengingat- ingat masa lalu.


"Pernah ada pertanyaan dari Jena, tapi aku tidak yakin apa maksudnya. Waktu itu dia bertanya, apakah kak Etha tidak takut membiarkan pak Asrul sendirian. Siapa tahu ada wanita lain menggodanya," sahut Magenta ketika ingat pembicaraannya dengan Jena dulu.


"Bisa jadi waktu itu sudah terjadi hubungan terlarang antara suamiku dengan Jena".


Magenta mendekati kakaknya, lalu memeluknya.


"Sister, sudahlah lupakan. Walau kak Etha sakit hati dan terluka, tapi mau bagaimana lagi. Keduanya sudah tak ada lagi di dunia ini".


Aletha tersenyum sambil berlinang air mata, lalu Magenta memegang wajah sang kakak.


"Move on, ayo semangat. Aku ingin melihat kakak tercintaku ini tertawa ceria lagi, atau mengajak aku berantem lagi. Melihat kak Etha terlalu diam, rasanya aku juga hilang semangat".


"Aku pasti move on, yakin pasti kakakmu ini akan segera bangkit lagi".


Magenta mencium pipi kiri dan kanan sang kakak, lalu memeluknya lagi dengan erat.


Pagi itu juga Jimmy terlihat bersama Aliong dan Ferry baru saja tiba di Margo's Tower.


Setelah bertanya kepada petugas penjaga, lalu mereka memasuki lift dan naik menuju ke lantai sepuluh di gedung itu.


"Selamat pagi, selamat datang di Margo's Tower kantor utama. Ada yang bisa kami bantu?" sapa ramah petugas penerima tamu di lantai tersebut.


"Selamat pagi, maaf kami mau bertemu dengan bapak Louis Orlando dan bapak Andreas Cheung," ujar Jimmy.


"Apakah sudah ada janji? bapak semua dari mana?" tanya petugas itu lagi.


"Sudah, kami sudah ada janji. Kami dari CV. Maju Mandiri, saya Jimmy Maliangkay. Kemarin pak Louis meminta kami untuk bertemu dengannya di kantor ini," Jimmy menjelaskan.


"Baiklah, mohon ditunggu sebentar. Silahkan duduk di ruang tamu di bilik kanan ruangan ini, saya akan menghubungi bapak Louis dan bapak Andreas," petugas tadi meminta Jimmy dan kawan-kawannya untuk menunggu di ruangan tamu yang sudah disediakan.


Terlihat petugas tadi menelepon menghubungi kedua atasannya yang dicari oleh Jimmy.


Tak lama petugas penerima tamu yang imut dan cantik jelita itu tampak berjalan mendatangi ruangan tempat Jimmy dan kedua stafnya menunggu.


"Pak Jimmy, baru saja pak Louis meminta anda bertiga naik ke lantai dua puluh dua. Beliau sedang menanti anda di lantai tersebut," ujar petugas tadi sambil senyum manis.


"Baik, terima kasih," sahut Jimmy sambil segera bangkit sambil mengajak Aliong dan Ferry segera naik ke dalam lift.


Di dalam lift Ferry mencoba menggoda atasannya," Boss Jimmy, tadi cewek cantik banget. Masa tidak tertarik sama gadis secantik itu?".


Jimmy melirik Ferry sambil berkata," Fer, perasaan pikiran lu isinya cewek melulu. Bisa enggak sesekali ngomong yang lain".


"Wajar dong boss, cowok kan pasti senang lihat cewek cantik".


"Hmmm, wajar juga dong kalau gaji lu dipotong lima puluh persen".


"Wah....gawat. Jangan dong, maaf boss. Saya kan cuma ingin boss segera nikah".


Jimmy cuma melirik Ferry sambil memasang wajah cemberut.


Aliong cuma tertawa cekikikan sendirian, merasa geli melihat Ferry menggoda Jimmy tapi tak berhasil.


Akhirnya mereka tiba di lantai dua puluh dua, dan di lantai itu juga ada petugas penerima tamu lagi.


"Selamat datang pak Jimmy dan kawan-kawannya. Silahkan masuk, pak Louis sudah menanti kedatangan anda bertiga," ujar petugas itu sambil mengantar mereka bertiga menuju ke sebuah ruangan.


Lalu Jimmy dan kawan-kawannya diajak masuk ke dalam sebuah ruangan besar.


Di dalamnya ada Louis yang sedang duduk santai berbincang dengan sepasang suami istri yang usianya sekitar berusia di awal enam puluh tahunan.


"Hai, Jimmy, ayo masuk!".


"Ayo silahkan masuk semua, silahkan duduk di sini bersama kami," ajak ibu Ivanna Romanov Handoyo.


Tentu saja Jimmy dan kawan-kawannya merasa gemetar melihat sepasang suami istri tersebut.


Sumargo Handoyo dan istrinya sedang duduk santai sambil berbincang-bincang dengan Louis.


Jimmy, Aliong dan Ferry segera maju mendekat, lalu mengulurkan tangan memberi salam kepada Sumargo Handoyo dan keluarganya.


Setelah itu mereka duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut, dan Louis mulai mengajaknya bicara soal pembangunan kampus.


"Jimmy, pada dasarnya kami sudah cocok dengan proposal yang kemarin kamu ajukan. Cuma perlu kamu ketahui, aku orang yang tegas, walau terlihat santai tapi aku tidak bisa kerja santai dan sembarangan".


"Dalam kontrak kerja nanti tercantum jangka waktu pengerjaan kampus itu hanya selama dua belas bulan saja. Dan aku tidak mau ada sub kontrak, kamu mau ajak rekanan bekerja sama tapi aku tak mau ada bendera perusahaan lain selain perusahaan kamu".


Lalu Andre tampak masuk ke ruangan itu sambil membawa berkas berupa surat kontrak kerja.


Berkas tadi diberikan kepada Jimmy untuk dipelajari terlebih dahulu sebelum menanda tangani.


"Berkas ini masih draft kontrak, silahkan kalian bahas dulu di kantor anda. Nanti hubungi saya kalau sudah siap untuk menanda tangani," ujar Andre sambil berlalu lagi dari ruangan tersebut.


"Jimmy, saya berharap kamu bisa melaksanakan pembangunan kampus dengan baik. Saya yakin kamu bisa, dan saya minta jangan sampai membuat saya kecewa," pak Sumargo Handoyo ikut bicara dan membuat Jimmy semakin gemetaran.


"Baik, saya dan tim akan berusaha memberikan yang terbaik kepada bapak dan juga berusaha menyelesaikan pembangunan sesuai dengan yang telah direncanakan," sahut Jimmy dengan nada bergetar.


"Saya berharap Jimmy segera mempelajari dan menandatangani kontrak kerja, karena harapan saya minggu depan sudah bisa melakukan peletakan batu pertama," ibu Ivanna turut menyampaikan keinginannya.


"Baik ibu, kami akan mencoba semaksimal mungkin untuk segera mempelajari kontrak dan melakukan penandatanganan".


"Saya suka kepada kamu, Jimmy. Tolong jangan kecewakan saya juga," ujar Ibu Ivanna sambil senyum manis.

__ADS_1


Jimmy tersenyum sambil pikirannya berkecamuk, ada rasa bangga tapi juga ada rasa takut kalau tidak berhasil melakukan keinginannya keluarga Sumargo Handoyo.


__ADS_2