PENGKHIATAN CINTA

PENGKHIATAN CINTA
Persahabatan Baru


__ADS_3

Jimmy membuka map berisi curriculum vitae milik Aliong, karena mulai minggu depan Aliong akan resmi bergabung menjadi salah satu staf lapangan di kantornya tersebut.


"Jefry Wiguna Liauw, jadi ini nama Ko Aliong yang benar?" tanya Jimmy.


"Ya ampun, ini nama yang sudah sesuai Kartu Tanda Penduduk dan juga di Kartu Keluarga. Dulu pernah pakai nama samaran Freddy, karena aku punya perusahaan fiktif bersama Mr. A," Aliong menjelaskan kepada Jimmy.


"Santai Koko, aku cuma bercanda saja. Aku tahu kok nama aslinya yang ini. Kalau nama Tionghoanya apa?"tanya Jimmy lagi.


"Aku Liauw Sen Liong, dan adikku Liauw Sen Siaw. Dulu sewaktu kecil orang tua memanggil kami Aliong dan Asiaw. Yah, gitu ciri keturunan Tionghoa, pasti semua punya dua nama dan dua panggilan," Aliong menjelaskan lagi.


"Liauw itu nama keluarga yah? semacam aku orang manado, nama Maliangkay itu nama keluarga dan anak laki-laki, cucu laki-laki seterusnya memakai Maliangkay di belakang namanya," kata Jimmy membahas nama keluarga.


"Sama bro, laki-laki penerus nama keluarga. Kebetulan anak gue dua-duanya cowok, jadi pasti ada kata Liauw di belakang namanya. Yang sulung namanya Erickson Liauw dan yang bungsu Davidson Liauw, panggilan di rumah Aming dan Ahan," Aliong menjelaskan sambil tertawa-tawa.


"Hahahaha, nama barat di sekolah, di rumah nama silat. Hahahaha," Jimmy juga tertawa mendengar penuturan Aliong.


Lalu keduanya hening sejenak setelah tertawa-tawa.


"Anak lelaki. Penerus nama keluarga. Keluarga Maliangkay agak report juga nih. Cucu lelaki cuma ada satu, cuma William anaknya Bang Robert," ujar Jimmy sambil merenung.


"Makanya elu cepetan bikin satu atau dua lagi cucu cowok. Biar nama Maliangkay jadi banyak lagi," tukas Aliong.


"Mau bikin sama siapa? emang bisa sama kucing?" timpal Jimmy sambil mendelik kepada Aliong.


"Kan sudah ada yang punya rumah makan kemarin. Kenapa tidak langsung kamu lamar saja, sih?" tanya Aliong sambil senyum-senyum.


"Astaga, Kristy. Dia bukan pacar aku, dia cuma nasabah. Lagipula kemarin dia tampak akrab sama perwira TNI. Aku bukan saingan, bro," sahut Jimmy bibirnya mencibir.


"Aduh, belum turun perang sudah menyerah. Belum tentu dia benar suka sama perwira itu, karena aku lihat Kristy itu ramah kepada siapapun," kata Aliong sambil mengingat sosok Kristy.


Jimmy terlihat menerawang membayangkan penampilan Kristy.


"Itu cewek cantik, kulitnya juga putih. Wajahnya mulus tak ada jerawat sama sekali. Cuma gemuk, yah," ujar Jimmy.


"Bukan gemuk, tapi montok dia itu, bro. Beda gemuk dengan montok. Aku yakin dia tubuhnya besar karena tulang-tulangnya juga besar. Orang yang tulangnya besar, tidak akan bisa ramping walau bagaimana juga. Tapi tubuhnya padat, aku yakin dia suka olah raga," Aliong memberitahukan Jimmy soal orang yang mempunyai konstruksi tulang besar.


"Ko Aliong tahu darimana kalau dia suka olah raga?" pancing Jimmy.


"Istri gue guru senam, dia juga tidak ramping. Tapi dia luwes dan otot-otot tubuhnya kencang. Makanya gue sayang banget sama istri. Hahahaha," Aliong menceritakan tentang penampilan istrinya.


"Oh, Cici Yu Chen itu guru senam? baru tahu aku," Jimmy tak sangka kalau istri Aliong seorang pelatih senam.


"Makanya gue bilangin, Kristy juga mungkin tipikal yang sama kayak gini gue," sahut Aliong lagi.


"Sudahlah, ayo kita jalan. Ada job baru nih, kemarin ada orang minta kita ke lokasi di kabupaten. Katanya mau membangun gedung perkuliahan," ajak Jimmy kepada Aliong.


"Gue ikut kagak apa-apa, nih. Kan belum resmi jadi karyawan," sahut Aliong.


"Cerewet deh, ayo, ikut aku".


"Aku saja yang menyetir, biar melancarkan lagi, bro".


Jimmy lalu menyerahkan kunci mobilnya kepada Aliong, lalu mereka berdua bergerak menuju lokasi yang telah ditentukan oleh calon nasabahnya.


Disepanjang jalan mereka berbincang soal rencana Aliong nanti bergabung di kantornya Jimmy.


"Ko Aliong mau minta gaji berapa?" tanya Jimmy.


"Waduh, terserah saja. Gue sekarang jadi pemula lagi. Sekarang gue fokusnya kerja yang benar, memperbaiki hidup gue. Mengembalikan karma baik, menghilangkan karma buruk," sahut Aliong.


"Ya, setidaknya punya gambaran berapa?" tanya Jimmy lagi.


"Tidak Jim, gue sekarang bukan Aliong yang dulu. Bahkan nanti gaji gue silahkan di kirim ke rekening istri saja. Kelemahan gue adalah uang, makanya lebih baik tidak memegang uang sama sekali," jawab Aliong lagi.


"Hahahaha, siap!!!".


"Yang pasti nanti Ko Aliong pekerjaannya lebih banyak di lapangan daripada di kantor. Jadi nanti mobil ini di pegang saja sama Ko Aliong".


"Wah, jangan Jimmy. Gue cuma butuh sepeda motor, kagak butuh mobil. Sesekali saja gue pinjam mobil sih, kalau ada keperluan keluarga," sahut Aliong lagi.


"Oke, nanti aku siapkan sepeda motor yang bisa digunakan ke berbagai lokasi, khususnya buat ke proyek".


Aliong melirik Jimmy, lalu mengacungkan jempolnya dan Jimmy juga membalas acungan jempolnya itu.


Tak lama mereka tiba di suatu lahan kosong di pinggiran kota, sudah ada seorang staf suruhan Andre menanti mereka.


Orang itu menjelaskan kalau lahan tersebut milik keluarga pimpinannya yang dihibahkan untuk dijadikan sebuah perguruan tinggi.


Lalu orang itu juga memberikan foto copy denah tanah, dan mempersilahkan Jimmy untuk melakukan pemotretan lokasi juga pengukuran tanah.


"Kami minta proposal rancangan anda bisa selesai dalam beberapa hari ini. Karena nanti anak dari pimpinan kami yang tinggal di luar kota akan datang ke kota ini, dan anda harus mempresentasikan rancangan anda di hadapannya," ujar staf tersebut.


"Baik, akan kami laksanakan secepatnya. Nanti setelah rancangan bangunan dan lain-lainnya selesai, kami akan segera menghubungi bapak," sahut Jimmy.


Lalu orang tadi berlalu dengan mobilnya, menuju ke Margo's Tower untuk melaporkan pertemuannya dengan Jimmy.


Sementara Jimmy dan Aliong bekerja seharian di lahan yang sangat luas itu, mereka sambil bekerja sambil saling memberikan masukan satu sama lain untuk perkiraan denah rancangan yang akan segera mereka buat di kantor.


Jimmy akan segera menjalin kerjasama baru dengan Aliong yang pernah menjadi teman kerja kakaknya juga dulu.


Di seberang Pulau Jawa tampak Aletha sedang menceritakan kisah suaminya kepada Ratna.


Menceritakan dari awal sampai kemarin ini diberitahu oleh Polisi kalau suaminya sudah dimakamkan oleh keluarga selingkuhannya di desa dekat Kota Pagar Alam di Kabupaten Palembang.


"Sabar mbak, setiap orang punya ujiannya masing-masing, tujuannya sama agar semakin berdekat kepada Allah SWT. Menyerahkan seluruh hidup kita kepada kehendakNya," ujar Ratna sambil menepuk punggung Aletha.


"Belakangan ini terkadang aku selalu merasa berdosa, mungkin saja suamiku bisa dengan wanita lain karena terlalu menuruti kehendak orang tuaku. Hampir seluruh waktu perjalanan pernikahan kami dihabiskan di rumah orang tuaku. Padahal suamiku sudah sering mengajak untuk mandiri berdua dengannya," kata Aletha sambil tersedu-sedu.


"Segala sesuatu mungkin saja terjadi. Maaf mbak, kalau menurut saya jangan juga menyalahkan diri sendiri. Apapun yang sudah terjadi sudah takdir yang Kuasa," Ratna mencoba membesarkan hati Aletha lagi.


Anwar yang mendengar sejak tadi curahan hati kakak iparnya jadi terdiam. Memang selagi masih hidup seringkali dia mendengar Asrul mengeluh karena istrinya tidak punya prinsip. Selalu mengalah dengan keputusan orang tua tanpa mempertimbangkan keinginan suami.


Fuad juga yang duduk di sebelah sopir, mau tak mau jadi mendengarkan juga curhatan yang disampaikan Aletha kepada Ratna.


Sambil mendengarkan sambil menerawang diri sendiri, mempertanyakan dalam hati apakah benar istrinya selingkuh juga dengan lelaki bernama Mario.


Kalau benar selingkuh, untuk apa juga harus selingkuh. Secara materi tidak kekurangan, setiap bulan Fuad memberi hampir seluruh gajinya kepada Asmila.


Selain itu, Asmila sendiri juga punya penghasilan dari pekerjaannya menjadi seorang agen asuransi bahkan sudah memiliki posisi tertentu.

__ADS_1


Sering Fuad mendengar wanita selingkuh karena suami tidak bisa memenuhi materinya. Ini tidak sama sekali, Fuad yakin seratus persen kalau Asmila tidak kekurangan materi.


Lantas apalagi, apakah masalah keturunan?. Harusnya Fuad sebagai lelaki berselingkuh karena istri tak juga memberi keturunan.


Tak habis pikir, semuanya misteri yang sulit diungkapkan karena orang yang melakukannya sudah tiada lagi.


"Mbak Raya, maaf yah. Sedari tadi saya tahu mbak merasa geli mendengar cara bicara kami wong Palembang. Saya pribadi tak masalah, karena sejak dulu saya ke tanah Jawa sudah sering ditertawakan karena logat bicara yang berbeda dengan umumnya orang di sana".


"Tapi maaf, nanti di desa sana, tolong ditahan dulu tertawanya. Mereka orang yang masih memegang adat, sulit menerima orang luar. Apalagi kalau sampai mbak terlihat tertawa, nanti takut disangka menghina mereka," Ratna memberitahu dan menasehati Raya.


"Dengar kamu, dari tadi tidak sopan santun. Mbak Ratna bicara tertawa terus, ada apa dengan kamu. Memangnya kamu kalau bicara bagus, logat jawa kental begitu," Anwar marah sekali kepada istrinya.


"Maafkan istri saya, Mbak Ratna. Dia memang suka seperti itu, tidak bisa dinasehati dan tidak bisa mau menurut sama orang lain," Anwar memohon maaf atas perilaku istrinya.


"Saya bukan menghina, Mbak Ratna. Saya malah suka dengan logat bicaranya, hanya saja saya tak bisa mengikuti. Apalagi kalau Mbak Ratna bicara ada unsur R nya, terdengar unik sekali. Maafkan saya, Mbak. Jangan tersinggung karena saya tidak ada maksud menghina sama sekali," Raya menjelaskan kepada Ratna sambil memohon maaf.


"Baik, aku tak apa-apa. Hanya sebentar lagi kita akan segera sampai ke desa itu. Tolong jaga sikap kalian, yah," pinta Ratna kepada Raya dan Anwar.


Mereka mulai memasuki jalan sebuah desa yang tampaknya masih sangat kental peraturan adatnya.


Di depan batas masuk desa tampak beberapa pemuda seperti sedang berjaga agar tidak sembarangan orang bisa masuk ke wilayah mereka.


Sopir menghentikan mobil tepat beberapa meter di hadapan sekelompok pemuda tadi yang saat ini mulai berdiri menghadang mobil, lalu dua orang tampak berjalan maju menuju mobil.


Ratna segera turun untuk menghadapi kedua pemuda tersebut.


Melihat Ratna turun, lalu sopir segera ikut turun mendampingi Ratna.


"Kalian awak media? Kami tak terima awak media. Bikin rusuh saja kampung kami," kata salah satu pemuda itu.


"Bukan, aku ini orang Tandjung Sakti, kemari ini membawa rombongan kawan. Mereka hendak bertemu dengan keluarga almarhumah Jena," Ratna mencoba menjelaskan dengan perlahan.


"Apa maksud tujuannya hendak ketemu keluarga almarhumah Jena. Kalian hendak umumkan lagi ke media soal masalah dia dulu sewaktu masih ada. Jangan kalian ganggu kampung kami ini," pemuda tadi bersikukuh tak memberi ijin masuk.


"Di mobil ada istri sah dari suami sirinya Jena. Beliau ingin sekedar melayat ke makam suaminya dan juga ingin sekedar bersilaturahmi dengan orang tua almarhumah Jena," Ratna masih mencoba berdialog bernegosiasi dengan para pemuda tadi.


"Coba kau periksa orang di dalam mobil, pastikan bukan awak media. Kalau benar apa kata ibu ini, nanti aku minta ijin dulu kepada tetua adat," pemuda itu minta salah satu temannya memeriksa penumpang di dalam mobil tersebut.


Sopir segera membantu membukakan pintu mobil untuk memperlihatkan ada siapa saja di dalam sana.


Semakin ke kabupaten, biasanya semakin kental orang berlogat daerah.


Sebagian besar orang Palembang memang kalau mengucapkan huruf R itu seperti ada getaran, namanya R bederot.


Selain itu, kebanyakan orang Sumatera pasti nada bicaranya tinggi seperti orang bertengkar.


"Eh, Pak Sopir, ada siapa saja di mobil ini?" tanya salah satu pemuda yang disuruh memeriksa mobil tadi.


"Ini Pak Fuad dan Ibu Aletha, juga ada Pak Anwar dan Ibu Raya. Mereka hendak melayat ke makam korban tenggelam kemarin," jawab sopir.


"Yang mana istri sah almarhum Asrul?" tanya pemuda itu.


"Saya istri Asrul," sahut Aletha.


"Tadi bapak ini bilang ibu dan bapak ini pasangan. Mengapa sekarang mengaku istri Asrul?" pemuda itu menunjuk ke arah Fuad dan Aletha.


"Bukan, bapak ini bukan suami saya. Tapi saya benar istri Asrul," Aletha mencoba meyakinkan lagi pemuda tadi.


Raya dari tadi menahan tawa, dia lucu mendengar kalimat-kalimat yang diucapkan oleh pemuda itu.


"Sssttt, kamu itu. Nanti mereka marah bahaya," Anwar menegur istrinya.


"Ppffff...ppffff...pppffff...," Raya terus menahan tawanya.


Kemudian pemuda tadi meninggalkan mobil dan tampak bicara dengan pemuda yang bicara dengan Ratna.


Lalu pemuda yang bicara dengan Ratna, yang terlihat seperti pimpinan kelompok mereka terlihat memerintahkan beberapa orang untuk masuk ke dalam desa sepertinya untuk berkoordinasi dengan keluarga Jena.


Ratna kembali ke dalam mobil dan mengatakan kalau kelompok pemuda tadi sedang minta ijin kepada tetua dan juga keluarga Jena.


Mereka selama ini merasa lelah karena awak media banyak yang meliput ke pemakaman Asrul dan Jena.


Sehingga saat ini mereka tidak mau lagi ada awak media masuk ke desa mereka untuk meliput apapun.


Semua menanti di dalam mobil, tak ada satu katapun terucap. Dalam hati saling bertanya-tanya, akan ada apakah setelah pemuda tadi memasuki ke dalam desa tersebut.


Dari semua yang berada di dalam mobil, Aletha yang paling tegang wajahnya. Sedangkan yang paling seakan tak punya bahan pikiran adalah Raya.


Tak lama pemuda yang tadi disuruh menemui seseorang di kampung, terlihat sudah kembali lagi dan menyampaikan sesuatu kepada ketua kelompoknya.


Lalu ketua kelompoknya melambai ke arah mobil dan melihat itu, Ratna segera turun dari mobil dan berlari ke arah pemuda tadi.


"Kalian boleh masuk, nanti kalian kami antar ke pendopo desa. Tetua kami ingin bicara dengan kalian, baru setelah itu kalian boleh melihat makam para korban tenggelam," ucap pemuda itu kepada Ratna.


"Baik, saya sampaikan kepada mereka sekarang".


Tak lama setelah Ratna menyampaikan kepada Aletha, lalu segera Aletha bersama Anwar dan Raya ikut turun dari mobil untuk memasuki kampung tersebut.


Mobil tidak diperbolehkan masuk, sehingga mereka harus berjalan kaki.


Fuad yang tadinya tidak mau ikut, namun Anwar mengajaknya sehingga dia juga jadi merasa penasaran dan ingin tahu ada apa sebenarnya kisah keluarga mereka.


Ratna jelas harus mendampingi, karena tetua adat tidak mau berbahasa Indonesia sama sekali, mereka hanya berkata-kata dengan bahasa daerah.


Ada sekitar tiga pemuda yang mengawal sambil saling bercakap-cakap.


Raya senyum-senyum sambil sesekali terlihat menahan tawa setiap mendengar para pemuda tadi bercakap-cakap.


Salah satunya melihat tingkah Raya dan terlihat agak tersinggung.


"Ngapolah dio ketawo-ketawoe?"tanya pemuda itu kepada Ratna.


"Ngato adat kito dak?".


(*Mengapa dia tertawa terus? Apakah menghina adat kita?)


"Bukan mak itu, mahap bae. Betino itu seneng samo adat Plembang. Cuman jingok kito bebaso nih lucu ujinyo," jawab Ratna kepada pemuda yang bertanya itu.


"Katek maksud ngehino idak".

__ADS_1


(*Bukan begitu, mohon maaf. Wanita itu suka dengan adat Palembang. Hanya saja dia merasa lucu dengan cara bicara kita


Tak ada maksud hendak menghina kita)


"Memang wong plembang tu pinter ngawak!!!. Caro wong jawo ngomong pun cak semelo di kuping kito !!!" pemuda yang bertanya tadi mengomel sambil melirik Raya.


(*Memangnya orang Palembang itu pelawak. Cara orang Jawa bicara juga terdengar aneh di telinga kita)


Setelah beberapa menit berjalan, akhirnya mereka tiba di sebuah pendopo desa, lalu para pemuda tadi meminta rombongan Aletha untuk menunggu di tempat itu.


"Kamu tadi keterlaluan, aku yakin pemuda tadi marah kepadamu. Karena dia bertanya sesuatu kepada Mbak Ratna sambil melirik kepadamu," Anwar kembali mengomeli kepada istrinya.


"Iya, maaf aku ini paling susah menahan tawa, kalau ada hal yang aku anggap lucu pasti aku tak bisa tahan. Maafkan aku bang," bisik Raya sambil merasa bersalah.


Tak lama terlihat rombongan orang-orang berjalan menuju ke pendopo.


Tenyata yang akan menghadapi rombongan Aletha adalah Bicek Mala, diikuti oleh kedua orang tuanya Jena.


Bicek Mala duduk di hadapan rombongan Aletha, kemudian orang tua Jena duduk di samping kirinya sambil menunduk.


"Siapa yang orang Palembang di antara kalian ?" tanya Bicek Mala dengan logat Palembang kental juga nada dingin dan berwajah datar.


Kali ini Raya tidak bisa cekikikan, yang ada malah merasa tegang dengan suasana di pendopo tersebut.


Lalu Ratna maju dan memperkenalkan diri sebagai wong Palembang asli, juga memberitahukan siapa saja yang ikut beserta dengan dirinya dan menyampaikan maksud kedatangannya ke desa tersebut.


Rombongan Aletha hanya mendengar dan mencoba memahami apa yang sedang dibicarakan antara Ratna dengan salah satu tetua adat tersebut.


Lantas Bicek Mala tampak lehernya bergerak dan memandang tajam ke arah Aletha.


"Katakan kepada perempuan itu, suaminya sudah memilih Jena. Walau misalkan mereka hidup juga, suaminya sudah ingin menjadi warga sini. Suaminya tidak bahagia menikah dengan perempuan itu," kata Bicek Mala kepada Ratna sambil jarinya menunjuk ke arah Aletha.


Tentu saja Aletha merasa gemetar ditunjuk oleh Bicek Mala, tapi dia tidak paham apa maksud yang dikatakan Bicek Mala kepada Ratna.


"Jenazah datang dalam keadaan hampir membusuk karena lama terendam air sungai. Mereka sudah suami istri secara agama, jadi jenazah mereka dimakamkan menjadi satu berikut bayinya," lanjut Bicek Mala masih dengan nada dingin yang sama.


"Walaupun masih hidup, lelaki itu tak bisa kembali ke tanah Jawa. Dia sudah menjadi bagian dari kami, jadi ikatan dengan perempuan itu sebenarnya sudah lama putus ketika Jena bersatu dengan suaminya".


Ratna tentu saja bingung karena mau tak mau nanti harus menyampaikan apa yang dikatakan Bicek ini kepada Aletha.


"Apakah kami boleh melihat makam suaminya itu?" tanya Ratna perlahan.


Bicek Mala diam sejenak, lalu sambil menarik nafas beliau berkata," Silahkan, nanti para pemuda yang akan menunjukkan tempatnya. Hanya setelah mengunjungi makamnya, kalian harus segera pergi dari kampung kami. Jangan pernah datang lagi, anggap saja suami Jena tidak pernah ada dalam kehidupan kalian. Karena dia sudah menjadi bagian dari kami selamanya," ucap Bicek Mala mengakhiri pertemuan itu.


Ketika Bicek Mala hendak beranjak pergi, tiba-tiba Aletha mengatakan bahwa dia ingin memberikan sedikit uang untuk keluarganya Jena.


"Jangan kalian menerima apapun dari mereka, sudah jangan ada lagi ikatan dengan mereka. Mereka harus paham kalau sekarang suami Jena sudah menjadi bagian dari kita, dan tidak akan pernah ada hubungan lagi dengan mereka. Cukup kenangan yang baik sesama hidupnya yang akan menjadi milik mereka," Bicek Mala menegur keluarga Almarhumah Jena agar jangan menerima apapun dari Aletha.


Kemudian Bicek Mala pergi meninggalkan rombongan Aletha dengan diikuti oleh keluarga Jena yang sama sekali tidak bisa bicara apapun.


Pelan-pelan Ratna menyampaikan apa yang tadi disampaikan tetua adat kepadanya, dengan berat hari dia harus mengatakan itu semua kepada Aletha dan Anwar.


Tentu saja Aletha menangis sejadi-jadinya, apalagi ketika harus menerima pernyataan kalau Asrul ternyata semasih hidup merasakan tidak bahagia bersama dirinya.


Anwar hanya menunduk, dia juga merasa bingung dan tak habis pikir kalau kakaknya bisa mengatakan soal tidak bahagia hidup dengan Aletha kepada keluarga Jena.


Berarti ketika hidup dulu dan berselingkuh dengan Jena, rupanya Asrul mengutarakan rasa tidak bahagia itu kepada Jena dan diteruskan kisah itu kepada keluarga Jena.


"Aku harus mengatakan apa kepada abi dan umi nanti kalau pulang?" bisik hati Anwar yang terlalu pusing memikirkan hal itu.


"Kami antar kalian ke makam tersebut, kalian tidak bisa lama-lama tinggal di sini," ujar ketua pemuda seakan mengusir mereka.


Lantas mereka mengikuti pemuda tadi menuju makam Asrul dan Jena juga bayi mereka.


Hati istri mana yang tidak terluka, ketika menghadapi kenyataan bahwa di dalam tanah sekarang ada tiga terbaring yang dinyatakan sebagai keluarga.


Padahal sudah jelas secara hukum dan juga agama kalau Asrul adalah suami sahnya Aletha.


Dia hanya bisa melihat gundukan tanah merah saja, tanpa bisa melihat jenazah suaminya untuk terakhir kalinya.


Tangis berderai membasahi pipinya, dan Ratna dengan tulus memegangi tubuh Aletha yang terlihat terguncang hebat mendapati kenyataan seperti itu.


Pemuda yang mengantar menceritakan kalau Asrul dadanya robek karena tertancap kayu yang menembus ke jantungnya.


Sementara Jena kepalanya retak terhantam sesuatu, bahkan ketika jenazahnya tiba di desa mereka, dari telinga dan hidung Jena masih mengucur darah akibat retakan dari kepalanya itu.


"Hanya bayi perempuan mereka terlihat mulus dan bersih, bayi itu didekap ayahnya. Walau dadanya tertusuk kayu, tapi Asrul terlihat begitu sayang kepada anaknya," cerita pemuda itu yang menuturkan secara detail penampakan jenazah ketiganya saat dimandikan kemarin ini.


"Mas Asrul, berbahagialah bersama anak dan istrimu di sana. Aku sudah memaafkan semua kesalahan kalian, maafkan juga bila aku punya salah. Selamat tinggal, aku tidak akan pernah bisa kembali lagi kesini. Damailah bersama keluargamu di keabadian," ujar Aletha sambil memegangi papan nisan yang tertancap di makam ketiganya.


Lalu mereka diantar lagi ke mobil oleh pemuda tadi, sopir sejak tadi menanti di depan batas desa, lalu segera membukakan pintu ketika rombongan Aletha datang.


Ratna pamit kepada pemuda tadi, dan ketika Aletha hendak memberi uang saku, lagi-lagi ditolak.


"Maaf, itu kebiasaan orang kota. Kami disini tak boleh menerima hal seperti itu," sahut pemuda tadi ketika Aletha menanyakan kenapa menolak pemberiannya.


Aletha paham dan tidak memaksa agar mereka mau menerima pemberiannya tersebut.


Ratna terlihat jengkel sekali, ketika mobil melaju meninggalkan desa itu dan mulai ada sinyal di ponselnya.


Suaminya sejak tadi tidak bisa dihubungi, padahal sejak dari sungai sampai sekarang mereka melaju meninggalkan desa sudah ada sekitar lima jam lamanya.


Akhirnya ketika mobil sudah tiba di jalan besar, suami Ratna berhasil dihubungi tapi Ratna malah menjadi naik darah mendengar jawaban suaminya.


"Dik, aku tadi mengikuti mobil kalian dari belakang. Lalu aku mampir dulu sebentar ke warung beli minum, ternyata aku kehilangan arah. Aku cari tak ketemu, aku telepon tak ada sinyal. Jadi aku pulang saja, paling nanti kamu menyusul pulang naik bis," enteng sekali memang Bang Ali menjawab pertanyaan istrinya.


"Mbak Ratna, ikut saya dulu ke Palembang. Menginap semalam menemani aku, walau baru kenal tapi aku senang sekali seharian ini dibantu dan ditemani Mbak Ratna. Ayo, temani aku, biar aku yang minta ijin sama suami mbak," pinta Aletha.


Ratna lalu menyampaikan perihal ajakan Aletha kepada suaminya, lagi-lagi Bang Ali menjawab santai.


"Tak apa, temani saja ibu itu. Siapa tahu besok kamu dikasih rejeki banyak, lumayan buat dibawa ke rumah," goda Ali dengan santai.


Ratna menutup teleponnya dan mengatakan suaminya memberi ijin untuk menemani Aletha.


"Tapi saya tak bawa baju apapun," ujar Ratna.


"Nanti kita mall di kota, aku belikan buat Mbak juga buat anak dan suaminya," jawab Aletha.


"Jangan, merepotkan nantinya," sahut Aletha.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, sebagai tanda terima kasih juga tanda persahabatan kita," jawab Aletha lagi.


Ratna terdiam, sambil dalam hati tersenyum, ternyata benar tebakan suaminya kalau dia akan diberi rejeki oleh Aletha.


__ADS_2