PENGKHIATAN CINTA

PENGKHIATAN CINTA
Awal Hari Baru


__ADS_3

"Mama, pagi ini kami diantar Oom Jimmy ke sekolah. Nanti sore siapa yang akan menjemput? apakah mama akan menjemput kami?"tanya Maya di hari senin pagi yang merupakan hari pertama lagi masuk sekolah setelah ayahnya meninggal.


"Mama nanti yang jemput. Hari ini mama ke kampus hanya memberikan soal ujian saja, karena mahasiswa sedang musim ujian," jawab Soraya.


"Memangnya mama tidak mengawasi ujian dan tidak akan memeriksa hasil ujiannya?" tanya Mega sambil mengunyah rotinya.


"Tentu akan dong, cuma mengawasi ujiannya tidak, karena ada asisten dosen yang akan melakukannya," jawab Soraya sambil senyum.


"Kenapa kemarin ini mahasiswa mama hampir semuanya perempuan, jarang sekali yang laki-laki?" tanya Maya sambil melirik ibunya.


"Mungkin laki-laki kebanyakan kurang tertarik dengan kuliah bahasa asing," jawab Soraya.


"Iya, buktinya papa dan Oom Jimmy juga kuliahnya insinyur. Lalu Papih Robert kedokteran," sahut Mega menyela pembicaraan Maya dan ibunya.


"Bukan kuliah insinyur, tapi papa kuliah teknik sipil dan Oom Jimmy kuliah arsitektur," Maya membetulkan kalimat adiknya.


"Lalu insinyur itu apaan?"tukas Mega.


"Iiih jengkel deh, insinyur itu sebutan untuk sarjana lulusan teknik sipil dan arsitektur semacam papa dan Oom Jimmy," jawab Maya sambil kesal.


"Jawab biasa saja, kenapa sih? adiknya bertanya kok dimarahi," Soraya menegur Maya.


Maya mencibir ke arah adiknya dan tentu saja Mega juga membalasnya.


"Kalian itu sudah tidak ada papa, bukannya tambah akur. Selalu saja ribut, masalah kecil saja ribut. Ayo, kita cuma bertiga sekarang, coba saling akur adik kakak itu," Soraya menasehati kedua anaknya.


"Kami juga akur, kok. Iya kan Meg?," Maya menaikan alisnya ke arah adiknya.


"Enggak tahu," sahut Mega dengan acuh tak acuh.


Maya jadi jengkel lagi lalu berusaha mau mencubit adiknya, untung terlihat oleh Soraya, segera Soraya mendehem membuat Maya terdiam tak jadi meneruskan aksinya.


"Cepat makan, sebentar lagi Oom Jimmy datang. Dan ingat di sekolah tak usah ambil pusing dan tak usah peduli atas ucapan orang lain. Bukan kalian saja karena mama juga pasti akanmenghadapi hal yang sama. Jadi kalian harus tetap bersabar, apapun ucapan orang kalian abaikan saja," Soraya mengingatkan kedua anaknya.


Mereka mengangguk, dan tak lama terdengar bunyi klakson dari depan pagar pertanda Jimmy sudah datang menjemput kedua keponakannya.


Maya dan Mega pamit kepada ibunya, lalu segera berlari menuju mobil Jimmy.


Soraya melambaikan tangan ke arah anak-anak dan juga adik iparnya itu.


Setelah itu dia masuk lagi ke dalam dan segera memanggil Mince untuk mengambilkan handphone rusak milik Mario dan juga dus bekas untuk mengirim benda itu.


"Nyonya, ini ada laptop punya tuan juga, apakah mau sekalian dikirim?" tanya Mince.


"Hmmm, boleh juga...siapa tahu ada sesuatu yang penting di dalamnya," jawab Soraya.


Mince segera membungkus handphone dan laptop milik Mario kedalam sebuah dus, setelah itu Soraya menuliskan nama dan alamat Fuad di atas dus tersebut.


"Saya mau tukar pakaian, nanti tolong masukan dus ini ke mobil punya suami saya," pinta Soraya kepada Mince.


"Mobil nyonya kemana sih?" tanya Mince.


"Oh, aku beri pinjam Pendeta Yosep, kasihan istrinya sakit parah jadi harus dirawat di rumah sakit. Kasihan takut kehujanan atau misal mau bawa sesuatu dari rumah untuk istrinya. Kalau pakai sepeda motor takut kerepotan membawanya," Soraya menjelaskan kepada Mince.


Mendengar itu Mince tentu saja menganggukan kepala, memang majikannya ini orang yang sangat peduli sama orang lain.


Kadang Mince suka merasa khawatir kalau majikannya akan diperalat orang lain karena kebaikan hatinya itu.


Sementara itu di Big Beauty Resto, Kristy dan Oci sedang berbincang membahas tagihan yang harus dibayar oleh Jimmy nanti.


"Boss cantik, maaf kemarin Oci ijin setengah hari. Habis hari sabtu kemarin sungguh melelahkan. Tamu membludak di rumah ibu Soraya. Pagi hari tamu dari sekolah Maya dan Mega, teman-teman sekolah bersama guru-gurunya. Lalu siang hari tamu-tamu yang merupakan tetangga dari rumah lama Ibu Soraya dan juga tetangga-tetangga dari rumah orang tua Ibu Soraya jaman dulu. Terakhir menjelang sore, tamu dari kampusnya, mahasiswa dan semua dosen juga pegawai kampus. Sungguh Oci sangat kelelahan luar biasa," kata Oci menuturkan kondisi yang terjadi di rumah Soraya pada hari sabtu dua hari yang lalu.


"Luar biasa, padahal Pak Mario sudah dimakamkan tapi yang melayat sangat banyak, bahkan sampai beberapa hari setelahnya. Tampaknya Pak Mario orang yang sangat baik hati ketika masih hidup," komentar Kristy menanggapi cerita Oci.


"Sepertinya begitu, karena hampir semua orang yang datang kedengarannya selalu memuji kebaikan keluarga Pak Mario," sahut Oci dan diakui juga oleh Kristy.


Lalu mereka berdua sibuk menghitung jumlah pesanan makanan yang diminta oleh keluarga Soraya selama beberapa hari kemarin.


"Waktu itu sudah ada uang muka dari Ibu Rosalinda sebesar dua juta rupiah, nah kamu silahkan tagih sisanya kepada Pak Jimmy," ujar Kristy sambil memberikan rincian pesanan dan juga perhitungannya kepada Oci.


"Kok aku, kenapa tidak boss cantik sendiri saja yang menagih?" Oci merasa keheranan.


"Sudah kamu saja, sekalian beres urusannya kepada Pak Jimmy," tukas Kristy.


Oci mengangkat bahu, lalu mengambil rincian kertas tadi. Tapi tiba-tiba dia ingat sesuatu, dan menceritakan kepada Kristy.


"Boss cantik, aku baru ingat. Waktu hari jumat sore, kebetulan tidak banyak tamu saat itu. Nah, Oci ngobrol sama Pak Jimmy, dia menanyakan Boss cantik. Mungkin saja Pak Jimmy menaksir sama Boss Cantik, loh," ujar Oci dengan ceria.


"Bertanya tentang apa dia?" Kristy jadi ingin tahu juga.


Lalu Oci mulai menceritakan pembicaraannya dengan Jimmy di hari jumat sore.


Flash back sebentar ke Jumat sore.


"Mbak Oci, lagi ngapain?" tanya Jimmy yang melihat Oci sedang duduk sendirian melepas penat.


"Eh, Boss Jimmy, biasa Boss, duduk sebentar. Capek dari pagi banyak tamu, kebetulan sekarang sepi," sahut Oci sambil senyum.


"Nanti tolong saya minta rincian tagihannya yah, kalau ada sekalian nomor rekeningnya juga yah," pinta Jimmy.


"Oh, nomor rekening sih ada, ini nanti transfer ke rekening Boss Kristy," kata Oci sambil memberikan nomor rekening milik Kristy.


"Bank Indonesia Jaya, 234xxxx, Kristal Yelena Handoyo. Hmmm, nama yang cukup aneh," ujar Jimmy terkesan mengkritik.


"Boss aku kan mamanya orang Rusia, papanya orang Jawa. Boss Jimmy seharusnya tahu sama papanya Boss Kristy," sahut Oci memberitahu Jimmy.


Saat itu Jimmy berbincang sambil membawa segelas kopi, lalu dia bertanya siapa nama ayahnya Kristy sambil menghirup kopinya.


"Nama papanya Boss aku itu Sumargo Handoyo, itu yang punya pabrik baja ringan," jawab Oci apa adanya.


"BRUUAAAHH!!!" Jimmy tersedak lantas memuncratkan kopi yang ada di mulutnya karena terkejut mendengar nama tersebut.


"Serius?" tanya Jimmy sambil membelakakan matanya.


"Serius lah, orang Oci nih yah, kalau malam pulang itu ke rumah mewah. Ibunya Oci kan asisten rumah tangga di rumah orang tuanya Boss Kristy, lalu Oci kerja di rumah makan dan suami Oci itu sopir pribadinya tuan dan nyonya besar," Oci menjelaskan kepada Jimmy.


"Memangnya rumah orang tuanya dimana?" tanya Jimmy lagi.


"Di kawasan elite di Jakarta Selatan, pasti Boss Jimmy juga tahu daerah itu".

__ADS_1


Jimmy mengangguk-anggukan kepalanya sambil mengingat memang benar ada kawasan perumahan elite di sana.


"Kristy tinggal dimana?".


"Boss Kristy sih tinggal di lantai dua di rumah makan. Kan dulu Boss Jimmy yang merancang, ruangan kerja disebelahnya ada kamar tidur dan kamar mandi. Nah, Boss cantik tinggal di situ".


"Mengapa dia tidak tinggal di rumah orang tuanya?".


"Biasalah, orang kaya kadang sulit ditebak. Boss cantik tidak sejalan pemikirannya dengan papanya. Kalau papanya ingin Boss cantik meneruskan usaha bisnisnya, tapi Boss cantik lebih senang memasak dan punya rumah makan sendiri".


"Dia punya kakak atau adik?".


"Tuan Handoyo punya anak laki-laki bernama Louis Orlando Handoyo sekarang jadi pengusaha property di Kota Semarang tempat asalnya mereka".


"Dulu istri pertama Pak Handoyo meninggal, tak lama beliau menikah lagi dengan Nyonya Ivanna yang punya anak perempuan bernama Stevanya atau biasa dipanggil Stevie".


"Stevie? kayak pernah dengar," guman Jimmy.


"Nah, kalau Boss cantik itu anak dari pernikahan Tuan Handoyo dan Nyonya Ivanna," lengkap sekali penjelasan Oci.


"Kok, dia belum nikah?".


"Hmmm, pernah mau nikah dulu. Tapi kasihan sekali, pasti Boss Jimmy tak percaya. Boss Kristy dulu pacaran sama seorang dokter, ganteng asli. Dan Boss Kristy cinta banget sama cowok itu. Undangan sudah siap disebar, baju pengantin sudah siap tinggal dikenakan".


"Eh....pas pertemuan dua keluarga di sebuah hotel berbintang, tiba-tiba ada lelaki datang sambil menangis. Rupanya lelaki itu kekasih pacarnya Boss Kristy, tenyata walau ganteng tapi punya penyimpangan seksual. Suka sesama jenis, dan malam itu pacarnya meninggalkan Boss Kristy begitu saja. Lebih memilih lelaki itu, mereka kabur ke luar negeri," Oci memang ember mulutnya, dia membuka semua cerita tentang Kristy.


Jimmy mengangguk-anggukan kepalanya lagi, dia tiba-tiba punya rasa menyesal telah menuduh Kristy mencari perhatian kepadanya. Bahkan Jimmy begitu kasar ucapannya kepada Kristy beberapa hari sebelumnya.


Sungguh Jimmy juga tidak menyangka kalau Kristy ternyata anak seorang terpandang. Selama ini Jimmy pikir dia perempuan sederhana biasa saja, tapi dibalik kesederhanaannya ternyata gadis itu tidak mau menunjukkan siapa sebenarnya dirinya dan keluarganya.


Kristy mendengarkan cerita Oci sambil memicingkan kedua matanya, lama-lama jadi merasa murka juga.


"Oci, kamu itu monyong sekali. Pengen banget aku meremas bibirmu, kok bisa-bisanya kamu ceritakan semua tentang aku kepada Jimmy," ujar Kristy dengan wajah merah padam.


"Loh....biasanya tidak marah kalau ada orang bertanya, kok sekarang emosi? Ada apa gerangan?" sahut Oci yang tampak tidak takut karena sudah paham kalau Kristy marah hanya sejenak saja.


"Aku itu sebal tingkat dewa sama yang namanya Jimmy. Makanya aku jengkel kamu menceritakan tentang aku kepada orang itu," Kristy cemberut kepada Oci.


"Walah, ini sih lama-lama jadi cinta, yakin deh. Atau Boss cantik bimbang, mau pilih Laksamana Samsul atau Boss Jimmy, hahahahah," Oci malah mentertawakan Kristy.


"Dasar Oci sinting," ujar Kristy sambil berlalu menuju ruangan kantornya.


Fuad mendatangi kantor cabang tempat kerja istrinya. Dulu Asmila mengawali karirnya di kantor cabang ini sampai akhirnya bisa dialihkan ke Jakarta menjadi seorang Direktur Agency.


Setibanya di kantor itu, Fuad menanyakan alamat dan nomor kontak pemilik rumah kost yang disewa oleh Asmila di Jakarta selama ini.


Petugas administrasi kantor Asuransi Jiwa itu mencatat alamat dan nomor pengurus rumah kost yang Asmila tinggali selama ini.


"Kami hanya punya nomor kontak pengurusnya saja, kalau pemiliknya tidak punya. Kapan Pak Fuad akan ke Jakarta? kata orang kantor pusat kami, pengurus rumah kost minta bapak membawa kartu keluarga asli saat kesana dan juga kunci kamarnya," kata bagian administrasi tersebut.


"Kartu keluarga asli? Hmmm, apakah mungkin untuk memastikan kalau saya suaminya. Baiklah, akan saya bawa semuanya," sahut Fuad merasa agak sedikit rancu mendengar harus membawa kartu keluarga asli.


Ketika sedang berbincang, Asmida baru saja datang dan segera menghampiri Fuad.


"Aku lupa menyampaikan, Asmila kemarin ini sudah melunasi paket umroh untukmu dan juga Bapak Ibu. Jadi nanti awal tahun depan kalian berangkat umroh," ujar Asmida sambil memperlihatkan bukti pelunasan dari kantor tersebut.


"Iya, Asmila mendaftarkan dirimu dan juga Bapak Ibu untuk berangkat umroh," Asmida kembali menjelaskan.


Tentu saja Fuad merasa heran, karena istrinya dulu tak pernah sekalipun membahas akan mendaftarkan dirinya untuk pergi umroh.


"Asmila sendiri tidak mendaftar umroh, mengapa aku yang dia daftarkan?"Fuad masih merasa tak percaya.


"Nah itu dia, aku juga tidak paham. Asmila dulu cuma bilang kalau Fuad lebih layak berangkat umroh dibandingkan dengan dirinya," sahut Asmida yang juga tidak mengerti kenapa adiknya hanya mendaftarkan suaminya saja.


Fuad mengambil tanda bukti pelunasan untuk berangkat umroh itu, dia menatap kertas itu sampai tak terasa air mata menetes lagi di pipinya.


Petugas administrasi dan juga Asmida melihat itu jadi turut bersedih lagi. Keduanya segera mengambil tisue karena tak tahan air mata ikut mengalir.


"Aku tak tahu harus berkata apa, bagiku ini merupakan hadiah terindah yang diberikan oleh almarhumah istriku. Bagaimana caranya mengucap terima kasih kepadanya, aku sungguh terharu," ujar Fuad dengan bibir gemetaran.


"Kita hanya bisa berdoa dan memohon ampunan kepada Allah. Agar almarhumah juga diberikan ampunan dan dilapangkan jalannya serta ditempatkan di surganya Allah SWT," sahut Asmida sambil terisak-isak.


Fuad menganggukan kepala, dan dia merangkul serta menepuk bahu kakak iparnya, keduanya saling memberikan semangat agar bisa mengikhlaskan kepergian Asmila.


"Kak Mida, maaf sampaikan kepada Bapak dan Ibu, entah besok atau lusa saya akan ke Jakarta lalu akan menuju Palembang. Saya mau ke lokasi kejadian, ingin tahu dan ingin menabur bunga juga di sana," kata Fuad.


"Iya, nanti akan aku sampaikan kepada Bapak dan Ibu. Kamu juga hati-hati di dalam perjalanan, jangan lupa untuk selalu berdzikir," Asmida menasehati adik iparnya.


Fuad kembali mengangguk, lalu dia pamit kepada Asmida dan petugas administrasi kantor tersebut.


Ketika hendak masuk ke mobilnya, Fuad menerima pesan singkat dari Soraya yang mengatakan kalau dirinya sudah mengirimkan handphone beserta laptop milik suaminya.


Fuad membalas singkat pesan tersebut," Siap, terima kasih".


Di kota lain Aletha tengah mempersiapkan diri untuk berangkat ke Palembang.


"Jadi kalian akan naik mobil ke Jakarta?" tanya Ibu Edmun.


"Iya, aku cuti dua bulan ini. Jadi aku mau refreshing dulu, mendinginkan hati dan pikiran," jawab Aletha kepada ibunya.


"Tapi bagaimana nanti kalau Edwin mencari kamu?" tanya Ibu Edmun lagi.


"Hmmm, aku seminggu di Jakarta bersama Genta, di Palembang cuma beberapa hari saja. Asal sudah ketemu dengan keluarga Jena, sudah silaturahmi dan aku mendapat jawaban jelas alasan Mas Asrul dimakamkan di sana. Ya sudah, aku balik lagi kemari dan sisa cuti akan aku habiskan bersama Edwin," jawab Aletha.


"Kamu bersama Anwar dan istrinya nanti, sementara mereka tidak mungkin bisa cuti lama seperti kamu. Bagaimana jadinya nanti?" Ibu Edmun masih merasa resah.


"Mamih, kami bertiga berangkat ke Jakarta naik mobil. Lalu besoknya atau lusa setelah mendapat tiket, langsung terbang ke Palembang. Beres urusan di sana kembali ke Jakarta, aku tinggal di apartemen Genta sementara Anwar dan Raya bisa kembali duluan," Aletha menjelaskan lagi kepada ibunya.


"Ya sudah, tapi kamu sudah bicara dengan anakmu belum? Mamih khawatir nanti dia menangis terus karena ditinggal lama sama kamu," Ibu Edmun terus merasa khawatir, mungkin karena faktor baru ada yang meninggal anggota keluarganya.


"Sudah, dan Edwin paham. Walau memang awalnya menangis dan merengek minta ikut, tapi sudah Etha beri pengertian dan anak itu paham," sahut Aletha lagi.


Tak lama Anwar tiba dengan membawa mobil yang diambil dari rumah Asrul dan Aletha yang selama ini kosong.


Mobil keluaran baru yang jarang digunakan, sejak dibelikan oleh orang tua Aletha sampai saat ini, bisa dihitung dengan jari berapa kali mobil tersebut dijalankan.


"Kamu sudah cek ke bengkel untuk tahu kondisi mobilnya?" tanya Aletha ketika Anwar dan istrinya Raya baru saja tiba.


"Sudah, ini bukti pembayaran pemeriksaan mobilnya. Tadi ganti oli dan periksa seluruh mesinnya," sahut Anwar.

__ADS_1


"Oke, berarti kita siap berangkat, yah?"tanya Aletha lagi.


"Siap".


Kemudian Aletha pamit kepada anaknya dan kepada kedua orang tuanya.


"Bunda, nanti kirimkan foto makan ayah," pinta Edmun.


"Iya, nanti bunda kirim, Edwin jangan nakal yah, harus turut sama Opa dan Oma".


"Etha, Anwar, nanti kalian kalau tiba di desa mereka, tolong jaga bicara dan jaga sikap. Jangan terbawa emosi, karena kita tidak tahu adat dan kebiasaan orang lain pulau," Pak Edmun menasehati Aletha dan juga Anwar.


"Raya, tolong kamu jaga suamimu nanti di sana. Ingatkan kakakmu dan suamimu, jangan sampai memancing pembicaraan yang bisa menyulut keributan," lanjut Pak Edmun lagi.


Raya menganggukan kepalanya, lalu Aletha dan Anwar juga bersama-sama menyampaikan akan saling menjaga dan saling mengingatkan satu sama lain.


"Ingat yah pesan Papih, lain daerah, lain budaya, lain bahasa, jangan sampai keluar kalimat yang bisa menyakitkan hati orang lain," Ibu Edmun juga turut menasehati ketiganya.


Aletha mencium dan memeluk anaknya, lalu ketiganya pamit kepada Bapak dan Ibu Edmun. Mobil segera melaju meninggalkan kota Semarang untuk menuju ke Jakarta.


"Anwar, kita jalan santai saja. Kalau ada kuliner enak, kita berhenti dulu. Bawa hepi perjalanan kita ini," ujar Aletha.


"Siap, pastilah. Kalau bukan bersama Mbak Aletha, kapan kami akan ke Jakarta. Setidaknya saya dan Raya sekalian jalan-jalan bulan madu," sahut Anwar.


"Hmmm, bulan madu dalam kesedihan dan kegalauan," timpal Raya.


"Sudah, kita bertiga tidak boleh galau dan sedih. Kita harus semangat untuk mencari kebenaran alasan tentang Mas Asrul. Yang penting kita bertiga jangan sampai punya pikiran negatif kepada beliau," kata Aletha yang duduk di kursi belakang.


Anwar dan Raya merasa sangat terharu mendengar ucapan Aletha, setidaknya dia istri yang seharusnya terluka dan terpukul. Tapi Aletha tetap tegar dan semangat, bahkan Aletha yang selalu mengingatkan kepada Anwar agar jangan punya rasa benci dan kecewa kepada almarhum kakaknya.


Pagi itu di rumah sakit Robert mencari Samuel, namun perawat mengatakan kalau Samuel belum datang.


Lalu Robert minta tolong kalau Samuel datang harus segera menemuinya di ruangan kerjanya.


Tentu saja Robert sebagai wakil direktur rumah sakit, selain memiliki ruangan praktek juga memiliki ruangan kerja khusus untuk menangani masalah internal rumah sakit tersebut.


Sekitar satu jam kemudian, Samuel mengetuk pintu ruangan kerja Robert. Lalu dia dipersilahkan masuk oleh Robert dan segera duduk di kursi di hadapan meja kerja Robert.


"Sam, aku kenal kamu sejak kamu masih remaja. Kamu teman baik Jimmy adikku, sehingga aku yakin kamu pasti sangat mengenal aku dan juga Mario," Robert memulai kalimatnya ketika berhadapan dengan Samuel.


"Iya, benar boss. Mohon maaf ada apa sebenarnya, sampai saya dipanggil menghadap kemari?" tanya Samuel merasa kebingungan.


"Aku mau tanya sama kamu, mengapa kamu tahu Mario sakit kanker paru-paru, tapi kamu diam saja tidak menyampaikan dan memberitahu kepada aku. Ada apa dengan kamu, Samuel?" Robert bertanya dengan nada penuh kemarahan.


"Astaga, maafkan saya dokter Robert. Sungguh bukan saya tidak mau memberitahu, tapi Bang Mario sendiri mengatakan kepada saya kalau beliau yang akan menyampaikan kepada keluarga. Dan ketika beliau periksa ulang lagi, beliau mengatakan kalau semua keluarga sudah tahu tentang penyakitnya," Samuel menjelaskan apa adanya kepada Robert.


"Hmmm, tapi Mario sampai akhir hayatnya tidak pernah menyampaikan apapun kepada keluarga bahkan kepada istrinya sekalipun. Aku pernah bertanya juga dia menjawab sudah diberikan obat dari kamu," sanggah Robert.


"Iya, benar saya memberikan obat kepada Bang Mario. Dan saya sudah menyarankan beliau untuk berobat ke dokter paru-paru juga onkologi, agar beliau bisa segera di operasi. Karena kankernya sudah masuk ke tahap stadium tiga," ujar Samuel menjelaskan lagi kepada Robert.


"Lalu apa alasan Mario yang kamu ketahui tentang dia yang tidak mau di operasi?" tanya Robert lagi.


"Saya tidak paham, boss. Saya sudah berkali-kali menasehati beliau sejak tiga bulan lalu agar segera di operasi. Tapi entah mengapa beliau selalu menolak, hanya minta obat dan obat lagi," sahut Samuel yang mengeluhkan kalau Mario adalah salah satu pasien bandelnya.


"Aku sudah melihat catatan medisnya, dan kalau aku analisa Mario sudah lebih dari satu tahun terkena penyakit itu. Karena proses menuju stadium tiga itu butuh waktu cukup lama. Jadi dia kanker sudah bertahun-tahun lamanya," ujar Robert sambil melihat hasil rontgent dan juga hasil cek darah Mario di laboratorium.


"Ketika awal datang ke rumah sakit, sebenarnya beliau mencari dokter Robert. Tapi waktu itu dokter sedang menangani operasi jantung, sehingga Bang Mario yang kebetulan bertemu dengan saya, langsung saya tangani. Kalau tidak salah Bang Mario sudah membawa hasil rontgent dari laboratorium di luar rumah sakit".


"Saat pertama saya periksa hasil rontgent, saya juga kaget, lalu waktu itu saya berdiskusi dengan dokter paru-paru. Jadi waktu itu Bang Mario diberi obat sementara untuk meredakan batuk, melegakan nafas dan juga peredam penyebaran kankernya," Samuel menjelaskan kepada atasannya dengan panjang lebar.


Robert meneliti semua catatan medis Mario, sambil hatinya berkecamuk antara merasa bersalah karena lalai sampai tidak paham adik kandungnya sakit dan tidak dia ketahui. Juga Robert merasa kecewa kepada Samuel yang diam saja dan tidak mendiskusikan penyakitnya Mario kepada dirinya.


"Sam, aku sekarang adalah atasan kalian. Posisiku dokter senior di rumah sakit ini. Kasus ini menjadi pembelajaran buat kamu, aku dan semua jajaran tenaga medis di rumah sakit ini. Pasien dalam kondisi apapun, bahkan yang punya catatan penyakit yang membahayakan. Tolong diskusikan dengan dokter senior, atau kalau perlu kita rapat komite untuk mencari solusi dalam upaya menyembuhkan pasien. Semoga kamu paham," ujar Robert menekankan kepada Samuel.


"Maafkan saya dokter Robert, saya mengakui kesalahan ini. Saya tidak segera mengambil tindakan untuk Bang Mario. Ke depannya saya akan selalu berkoordinasi dengan dokter dalam menangani pasien bermasalah," jawab Samuel sambil memohon maaf kepada Robert.


Dalam hatinya Samuel juga akan kembali mengunjungi Soraya dan akan menjelaskan serta memohon maaf karena tidak bisa menangani Mario dengan sebaik mungkin.


Lain halnya dengan Jimmy, pagi itu setelah mengantar kedua keponakannya ke sekolah, lalu dia mengajak seluruh tim di kantornya untuk rapat.


"Sekarang kakak saya Pak Mario sudah meninggalkan kita semua untuk selama-lamanya. Saya secara pribadi dan juga mewakili keluarga mengucapkan terima kasih atas atensi yang diberikan oleh teman-teman semua," ujar Jimmy di dalam rapat tersebut.


"Jujur saja, saya secara pribadi masih sangat kehilangan. Namun perusahaan masih harus tetap berjalan karena ada tanggung jawab perusahaan ini kepada teman-teman semua".


"Dalam hal ini, sementara waktu saya sampaikan kepemimpinan perusahaan akan ditangani oleh saya selaku adik kandung dari Bapak Mario. Saya mohon dukungan dari teman-teman semua, karena pasti saya akan banyak kekurangan. Karena selama ini yang memimpin dan menggerakan roda perusahaan adalah kakak saya. Jadi saya mohon kerjasama tim harus lebih kita perkuat lagi, dan jangan sungkan untuk mengkoreksi diri saya dalam perjalanan menggantikan posisi kakak saya sekarang," Jimmy menyampaikan pesan yang begitu berat sekali.


Jujur dia tidak siap tiba-tiba harus menggantikan Mario, karena Mario terkenal sangat gesit kalau berada di lapangan.


Sementara dia selama ini hanya diam di kantor menjadi ahli merancang dan menggambar, sementara di hadapannya sekarang ada menumpuk tugas memeriksa pekerjaan ke lapangan ke lokasi kerja yang tempatnya kadang sulit dijangkau.


Semua staf perusahan bersepakat akan saling membantu, terutama di awal akan membantu Jimmy untuk melakukan tugas memeriksa ke lokasi pekerjaan secara langsung.


Hari itu juga Asiaw sedang berada di depan halaman rumah tahanan, karena hari itu kakaknya yang dipanggil Aliong sudah dinyatakan bebas setelah tujuh tahun mendekam di dalam sel.


Aliong berjalan dengan gagahnya, dia bisa bebas menikmati udara dan juga suasana hari itu tanpa harus ada borgol menjerat tangannya.


Dia berpelukan dengan Asiaw di depan halaman rumah tahanan itu, lalu keduanya segera masuk ke dalam mobil milik Asiaw.


"Ko Aliong, apakah sudah mendengar berita buruk?" tanya Asiaw.


"Berita apa?" tanya Aliong.


"Koko belum tahu tentang Mario?" tanya Asiaw lagi.


"Mario? ada apa dengan dia?" tanya Aliong yang tiba-tiba punya pikiran kalau Mario juga masuk penjara.


"Mario meninggal, seminggu yang lalu," jawab Asiaw.


"Ah...ngaco kamu. Kalau bicara jangan sembarangan," tukas Aliong.


"Masa Koko tidak mendengar berita di penjara. Mario meninggal kecelakaan di Palembang, mobilnya masuk jurang dan tenggelam," Asiaw memberitahukan lagi.


"Hah!!! iya aku tahu ada kecelakaan mobil tenggelam di Palembang. Tapi aku tak menyangka kalau korbannya Mario. Astaga, bro...kamu kenapa tidak menunggu aku bebas," Aliong bersedih sekali harus mendengar berita itu.


"Besok Koko ke rumahnya saja, Soraya sangat terpukul dan masih harus diberi semangat." ujar Asiaw meminta Aliong untuk menemui Soraya nanti.


"Iya, besok aku akan ke sana. Hari ini antar aku ke laut mau tabur bunga untuk mama dan papa, lalu kalau misalkan sempat antarkan juga aku ke makamnya Mario," Pinta Aliong.


Tentu saja Asiaw bersedia mengantarkan kakaknya ke kedua tempat tersebut.

__ADS_1


__ADS_2