
"Jim, gue kagak masalah lu mau pacaran sama adik gue. Tapi profesional dong. Kita ada janji hari ini mau ke bengkel kayu orang tuamu. Gue dari tadi telepon enggak diangkat, kagak tahunya lu lagi ngacak-ngacak adik gue. Terlalu sekali lu!!!" Louis meluapkan kemarahannya kepada Jimmy.
"Maaf, saya tidak bermaksud mengabaikan panggilan telepon pak Louis. Hanya memang tadi saya dan Kristy sedang menyelesaikan sedikit masalah," sahut Jimmy yang terlihat hancur lebur di hadapan Louis.
"Nih, dengar, gue enggak masalah lu sama adik gue pacaran. Cuma gue enggak suka sikap lu, benar-benar enggak professional. Orang kerja enggak bisa kayak begini. Urusan pacaran bisa nanti malam kalian selesaikan, bukan menyita waktu kerja di pagi hari".
"Besok gue sudah harus ke Semarang, gue akan lama di sana sekitar hampir dua bulan. Selain nanti gue puasa, di sana juga banyak urusan pekerjaan yang harus gue beresin".
"Gue di sini cuma bantu proyek ibu gue, tapi gue membantu dengan serius. Dan gue udah pilih perusahaan lu untuk membangun proyek pembangunan kampus. Gue sudah percaya sama lu, sudah yakin, tapi sekarang lu kayak begini".
"Sungguh gue kesal, pokoknya gue minta ini terakhir kali lu urusan pacaran di jam kerja. Sampai proyek berantakan, lu sama adik gue juga bubar!!! Jangan sampai gue berpikiran membatalkan kontrak kerja kita".
Louis begitu marahnya kepada Jimmy, karena mengganggap Jimmy bekerja tidak sesuai dengan kesepakatan. Lebih mendahulukan masalah pribadi dibandingkan pekerjaannya.
"Sekali lagi saya minta maaf, saya tidak bermaksud melalaikan janji dan pekerjaan kita. Hanya antara saya dan Kristy sedang ada sedikit masalah, jadi saya tadinya mau menyelesaikan sebentar agar tidak menggangu pikiran saya selagi bekerja," sahut Jimmy.
Di saat bersamaan, Kristy baru keluar dari kamar tidurnya yang memang bersebelahan dengan ruang kerjanya.
Tadi ketika dipergoki kakaknya sedang berciuman, Kristy langsung masuk ke dalam kamar tidurnya yang letaknya kebetulan bersebelahan dengan ruang kerjanya.
Segera masuk kamar mandi, mencuci muka sambil ngomel- ngomel sendiri menyesali dan juga merasa sangat malu sampai terpergok kakaknya sedang menikmati berciuman dengan Jimmy.
"Bontot, kamu duduk di situ!!!" perintah Louis kepada Kristy sambil menunjuk kursi kosong di sebelah Jimmy.
Louis menatap adiknya dan juga Jimmy secara bergantian, tentu saja sepasang kekasih itu menjadi salah tingkah.
"Jimmy, lu umur berapa sekarang?"tanya Louis.
"Umur saya tiga puluh lima, sebentar lagi akan tiga puluh enam tahun".
"Kenapa umur segitu belum nikah!!?? kamu gay atau homo!!??" tanya Louis lagi dengan nada keras.
"Tidak, saya normal. Saya suka wanita. Belum menikah karena selama ini belum menemukan pasangan yang cocok".
"Hmmm, sekarang lu deketin adik gue, memangnya lu pikir dia bakal cocok sama lu?".
"Kami sedang mencoba saling mendalami, saling mempelajari satu sama lain. Sebenarnya kalau dibilang cocok tidaklah mungkin, karena memang sulit mendapatkan seseorang yang bisa benar-benar cocok sekali dengan kita. Hanya saja saya merasa nyaman ketika bersama Kristy," sahut Jimmy perlahan dan hati-hati.
Kristy diam saja, dia sangat segan kepada kakak sulungnya, saat ini dirinya sangat khawatir kalau hubungannya dengan Jimmy akan ditentang kakaknya.
"Adik gue juga sekarang sudah tidak muda, dia juga sudah lewat kepala tiga. Gue harap kalau lu cuma mau main-main atau sekedar memanfaatkan adik gue demi pekerjaan, tolong tinggalkan adik gue sekarang juga".
"Tapi kalau benar mau serius dan benar mau menikah sama adik gue. Tolong juga tunjukkan sikap lu sebagai lelaki dewasa, hargai dia dan hormati dia layaknya seorang wanita yang belum resmi menjadi istri. Jangan sampai dirusak kehormatannya sama lu, lalu nanti dicampakkan dengan sia-sia".
Jimmy mendengar kalimat itu tentunya merasa tertantang jiwa lelakinya, dan dengan tegas dia menjawab.
"Saya serius dengan Kristy, saya berjanji akan menikah dengan adik pak Louis. Saya tidak main-main kepada Kristy, rencana saya setelah proyek selesai, saya akan segera melamar dan menikah dengannya".
Mendengar ucapan itu, Kristy jantungnya berdebar kencang, sama sekali tidak menyangka kalau Jimmy akan menjawab demikian.
Louis diam sejenak, lalu menatap adiknya dan berkata, "Sekarang kamu sendiri bagaimana, bontot? kamu juga memang suka atau tidak sama Jimmy. Kalau tidak suka, segera kalian saling menjauh. Tapi kalau suka, kamu harus segera minta dia tanggung jawab, minta segera melamar dan menikahi kamu. Jangan mau perempuan dipermainkan oleh lelaki".
Kristy tertegun, lalu menatap Jimmy yang juga sedang menatap dirinya. Kristy mencari jawaban dari sorot mata Jimmy, berharap ada pancaran pengharapan untuk mereka agar bisa bersama.
Kristy mencoba mencari arti tatapan mata Jimmy kepadanya saat ini, berharap bukan hanya sekedar tatapan hampa.
Di saat bersamaan Jimmy juga menatap mata Kristy mencoba menembus relung terdalam hati sang gadis.
"Aku juga suka sama Jimmy," jawab Kristy sambil membalas tatapan Jimmy.
Mendengar kalimat itu, Jimmy begitu bahagia, dia tersenyum sambil menatap Kristy dan meraih jemarinya.
"Oke, gue pegang ucapan kalian, jadi kalau ada apapun kalian jangan saling menyesali keputusan masing-masing. Kalian harus bisa menghadapi segala permasalahan berdua".
Keduanya saling bertatapan, lalu bersamaan memandang Louis dan mengangguk setuju atas pernyataan tersebut.
"Sekarang kamu ke bawah dulu, bontot. Masih ada yang mau aku bicarakan dengan Jimmy".
Kristy menuruti kakaknya, dia beranjak berdiri dan berjalan menuju pintu sambil tangannya meraih tangan Jimmy.
Biasa orang pacaran, jemari kalau tidak saling berkait rasanya hampa.
Begitu juga jemari Kristy dan Jimmy yang masih saling berkait, baru terlepas seiring Kristy harus segera turun ke lantai bawah.
Setelah yakin adiknya sudah turun ke lantai bawah, kemudian Louis menatap Jimmy dengan tajam.
"Jimmy, ini antara kita sebagai sesama lelaki. Gue minta lu jujur, apakah selama ini lu suka tidur dengan wanita malam bayaran? Secara lu lelaki dewasa yang lama sendiri, terakhir kapan hubungan intim sama perempuan?" tanya Louis dengan sorot mata tajam.
Jimmy terperangah atas pertanyaan yang tidak disangkanya sama sekali olehnya.
"Jujur saja saya belum pernah melakukan hubungan intim dengan perempuan manapun".
"Kalau hanya sekadar meraba-raba atau berciuman dengan perempuan pernah beberapa kali. Itu juga bukan pacar, hanya sekedar iseng sesaat kala diajak teman ke karaoke atau ke klub malam," sahut Jimmy agak gemetaran.
Louis menatap Jimmy dengan matanya yang menyipit, sambil memperhatikan gestur tubuh Jimmy saat bicara.
"Kok gue enggak yakin, yah. Masalahnya waktu gue umur tiga puluh enam sudah punya anak tiga. Sekarang lu umur tiga puluh enam, baru mau nikahin adik gue".
"Gue paham soal nafsu birahi lelaki dewasa. Jadi lu jangan munafik di hadapan gue".
"Biar segede gitu, adik gue orangnya polos. Gue enggak mau nanti kalian nikah, terus adik gue malah kena penyakit kelamin gara-gara lu main cewek".
"Jadi jujur saja sama gue, karena gue enggak mau nanti adik gue sengsara karena tertular sesuatu dari lu!" Louis tanpa tedeng aling-aling langsung menohok Jimmy dengan pernyataannya.
"Jujur pak, saya tidak pernah melakukan hubungan badan dengan perempuan manapun juga. Saya merasa tidak bisa melakukan hubungan badan kalau bukan dengan wanita yang saya cintai".
"Masalah kebutuhan gejolak birahi selama ini hanya mimpi alami saja," sahut Jimmy mencoba menanggapi pernyataan Louis.
Tentu saja Louis tidak akan percaya begitu saja, karena sesama lelaki tentu tahu apa yang kebanyakan lelaki lajang, punya uang dan wajah tampan.
__ADS_1
Hampir sembilan puluh persen lelaki lajang mapan dan tampan pastinya suka bergonta- ganti main wanita.
Louis masih menatap tajam ke arah Jimmy dengan matanya yang kian menyipit.
"Hehehe...ya, yang tidak alami juga pernah tapi bukan hubungan badan, tahu sama tahu lah, pak," Jimmy mencoba jujur.
Melihat keseriusan jawaban Jimmy dan juga gerak tubuhnya yang tidak memancarkan kebohongan, maka Louis mulai percaya tapi dia tak mau begitu saja menunjukkan kepada Jimmy.
"Oke, tapi nanti gue minta lu harus melakukan tes ke dokter, gue musti yakin kalau lu bersih dari penyakit. Dan berhenti untuk macam- macam sama cewek enggak jelas lagi. Awas saja kalau sampai Kristy kenapa-napa, kontak kerja kita juga selesai. Paham!!!???".
"Saya paham sekali, dan saya akan sangat memperhatikan masalah ini".
"Sekarang kita turun ke bawah, gue lapar belum sarapan. Lalu antar gue ke bengkel kayu, dan nanti sore antarkan gue ke stasiun. Gue mau pulang dulu ke Semarang".
"Siap, saya laksanakan," sahut Jimmy sambil berdiri dan memberi hormat ala tentara.
Sambil turun ke lantai bawah, Louis merasa geli hatinya melihat Jimmy yang ketakutan saat di tanya-tanya tadi.
"Suatu saat lu ketemu sama bapak gue, lebih gila kalau nanya. Siap-siap saja deh lu...hihihihi," ujar Louis dalam hati menertawakan Jimmy.
Di bawah Kristy sudah menanti mereka berdua, kebetulan Louis pamit ke toilet sebentar, maka Kristy tidak menyia-nyiakan kesempatan dan langsung bertanya kepada Jimmy tentang apa yang kakaknya tanyakan lagi.
"Aahh...bukan apa-apa, kamu juga pasti tahu. Biasa soal kita, peringatan agar aku sungguh- sungguh sama kamu," sahut Jimmy menutupi yang sebenarnya.
Kristy hanya menganggukan kepala, dia mencoba yakin kepada Jimmy. Sambil menunggu Louis, sekarang Jimmy lebih berani merangkul pundak Kristy dan sesekali mencium rambutnya kala berdiri berdampingan.
Semua karyawan Kristy saling berpandangan sambil saling mengangkat alisnya masing-masing saat melihat kedekatan Jimmy dengan bossnya.
Tak lama Louis kembali dari toilet, dan Jimmy segera menurunkan lengannya dari pundak Kristy. Sontak para karyawan yang sejak tadi diam- diam mengintip langsung cekikikan.
Lalu ketiganya makan bersama dan selama makan seperti biasa Louis membahas masalah pekerjaan yang harus dilakukan oleh Jimmy.
Setelah selesai makan, lalu Louis meminta sopir mobil Andreas Cheung untuk memindahkan barang- barang bawaannya ke mobil Jimmy.
"Mana hampers untuk istri dan anakku?" tanya Louis kepada adiknya.
Lalu Oci mengeluarkan sebuah keranjang cantik berisi kue-kue dan makanan kering, keranjang itu bertutup plastik dan di atasnya dihiasi pita, sehingga tampak sangat cantik sekali.
"Lihat adik gue orangnya kreatif, dia bisa bungkus sesuatu jadi keren dan cantik seperti ini. Harapan gue, bontot juga bisa pintar dalam menentukan pasangan hidup. Agar bisa bahagia ke depannya," ujar Louis sambil memperlihatkan hampers yang dibuat oleh adiknya itu.
JLEB...terasa nyelekit di telinga Jimmy perkataan itu, tapi mau tak mau Jimmy harus menerimanya.
Saat Jimmy sudah siap duduk di dalam mobilnya karena akan mengantarkan Louis, tapi terlihat kakak beradik masih bicara di depan pintu masuk rumah makan.
"Bontot, papa lagi carikan kamu jodoh cowok Belanda. Bagaimana nanti kalau sampai dia ke Indonesia?"tanya Jimmy.
"Iya, papa reseh sekali. Sudah ada yang telepon. Namanya Paulo Antony, kadang chat sama aku tapi malas membalasnya. Aku kurang suka sama caranya memperkenalkan diri dan bertanya kepadaku," sahut Kristy terlihat sedikit kesal.
"Hahahaha, apa karena kamu sudah terlanjur suka sama Jimmy? Aku belum seratus persen mendukung hubungan kalian. Banyak juga yang musti dipelajari tentang Jimmy," ujar Louis lagi kepada adiknya.
"Ya, aku jujur memang suka dan sayang Jimmy. Tapi aku juga tetap hati-hati, tidak mau sampai salah pilih lagi seperti dulu," sahut Kristy sambil tersenyum malu.
"Aku pulang dulu ke Semarang, hati-hati kamu di sini. Aku sebenarnya khawatir kamu tinggal di rumah makan. Padahal ada apartemen papa di sekitar sini, tinggal pilih salah satu untuk kamu tempati".
"Oke, bontot, pikirkan saja yang terbaik untukmu. Hati-hati, yah".
"Ando juga hati-hati di perjalanan. Itu banyak sekali barang yang dibawa, merepotkan tidak? Apa mau naik pesawat papa?" tanya Kristy terlihat khawatir.
"Hahahaha, no...no...no..., naik kereta api saja. Sudah pesan tiketnya buat nanti sore. Naik pesawat papa nanti panjang urusannya," jawab Louis Orlando sambil tertawa.
Kedua kakak beradik saling tertawa karena keduanya saling paham kalau mereka kurang sepaham dengan Sumargo Handoyo ayahnya mereka.
Sepanjang perjalanan menuju ke bengkel kayu milik Opa Hansen, sudah pasti Jimmy mendapatkan banyak telunjuk Louis yang ditujukan kepadanya.
Soal pekerjaan pembangunan kampus ibunya yang harus sesuai dengan jadwal, tentang kerapihan dan profesionalitas pekerjaan.
Masalah hubungan dia dan adiknya juga tidak luput dari ocehan Louis, setidaknya harapan Louis Jimmy harus bisa membedakan urusan pekerjaan dengan urusan pribadi.
"Jangan kira lu bisa begitu saja diterima di keluarga gue, itu suaminya Stevie si Andreas Cheung dulu juga harus bisa nunjukin kinerjanya dan profesionalitasnya dulu baru bisa diterima jadi menantu".
"Lu belum ketemu bapak gue, dia masih di Belanda. Nanti pulang dan dengar hubungan kalian tentu tidak akan lebih banyak pertanyaan dibanding gue. Paham enggak lu!!!".
Sepanjang jalan Jimmy berkali-kali mengeluarkan kata "Maaf, "Paham" dan "Janji, kasihan sekali kalau melihatnya.
Tapi mau tak mau harus Jimmy lakukan, setidaknya dalam hati kecilnya dia sudah hendak meyakini untuk mengambil keputusan akan menikah dengan Kristy.
Setibanya di bengkel kerja Opa Hansen, keduanya disambut dengan penuh keramahan oleh kakek tua yang masih produktif itu.
Louis terkesima melihat beberapa karyawan bengkel kayu yang sedang menyelesaikan pesanan lemari kayu jati yang sangat rapih dan elegan.
"Saya kira harus ke Jawa Tengah dulu untuk memesan furniture dari kayu, ternyata di Jakarta juga ada. Oom sejak kapan usaha ini?"tanya Louis.
"Sudah lama sekali, sejak orang tua oom pindah kemari, berarti sekitar tahun 1940 an, waktu itu oom juga masih kecil, mereka memulai usaha di sini dari nol".
"Memang usaha keluarga besar kami di Manado juga kayu jati seperti ini. Sampai sekarang masih ada perkebunan kayu jati yang dikelola oleh keluarga besar Maliangkay sana. Sesekali oom juga masih mendapat keuntungan kalau sudah ada yang panen banyak di sana," sahut Opa Hansen menjelaskan kepada Louis.
"Anak oom yang membantu di sini siapa?".
"Hahaha, nah itu dia. Robert jadi dokter, Mario dan Jimmy menjadi insinyur. Dan salah oom ketiganya dulu tidak ada yang diarahkan ke perkayuan. Dulu oom pikir ingin anak - anak harus lebih sukses daripada hanya usaha kayu".
"Tapi sayang juga yah oom, kalau tidak ada penerus".
"Oom masih punya harapan nanti ada cucu atau cucu mantu yang tertarik dengan bidang ini," sahut Opa Hansen tetap optimis.
Louis sangat senang berkenalan dengan ayahnya Jimmy, di usia yang tidak beda jauh dengan ayahnya tapi memiliki karakter berbeda.
Beliau tidak memaksakan ketiga anaknya untuk melanjutkan usahanya, dan yakin saja suatu saat pasti akan ada yang bisa melanjutkan usahanya walau bukan salah satu dari anak-anaknya.
Sementara Louis dan Kristy harus seperti perang dingin kalau bertemu ayahnya sendiri, bisa duduk ngobrol bersama asal jangan membahas masalah bisnis karena pasti akan jadi perang badai nantinya.
__ADS_1
Louis melihat-lihat beberapa karyawan yang masih mengerjakan lemari dan beberapa meja, lalu dibawa juga melihat ke gudang kayu jati yang terletak di belakang bengkel tersebut.
"Ini ada sebagian kayu dari Manado, tapi ongkos kirim kemari jatuhnya mahal. Jadi kebanyakan oom beli dari Jawa Tengah".
"Wah, jauh sekali beli kayu dari Manado?" Louis terkesima.
"Iya, kan oom dapat bagian, daripada dibagi uang oleh mereka, jadi oom minta kayu saja malah oom yang bayar ongkos kirimnya. Kasihan di sana banyak yang masih keluarga harus ditolong, jadi adik saya dengan saya perjanjiannya seperti itu".
"Alhamdulillah oom, senang mendengar oom begitu bijak".
"Oom sudah tua, mau apalagi, walau usaha makin lama banyak saingan dan makin sedikit orang yang tertarik kayu jati. Tapi oom yakin akan ada jalannya, dan sampai sekarang masih bisa makan, bisa bayar karyawan dan bisa kasih jajan cucu sesekali".
Lalu Louis dan opa Hansen saling tertawa akrab, sungguh Louis sangat senang dengan kepribadian ayahnya Jimmy tersebut.
"Anak lelaki tiga, tinggal Jimmy yang belum menikah. Padahal oom dan tante sudah ingin lihat dia berumah tangga. Katanya sudah ada dekat dengan gadis yang punya usaha rumah makan, tapi tidak tahu lagi kelanjutannya. Dia tertutup sekali soal hubungan dengan perempuan," keluh opa Hansen kepada Louis.
"Sabar oom, yakin saja anak oom pasti akan menikah. Anak lelaki pasti punya rencana sendiri".
"Semoga saja seperti itu".
Lalu Louis mengajak Jimmy dan opa Hansen berbincang mengenai rencana pemasangan kayu jati sebagai kusen pintu dan jendela di seluruh bangunan kampus yang akan sedang Jimmy laksanakan.
Menyusul nanti meja dan kursi untuk di ruang dosen dan di beberapa bagian tempat lainnya.
"Kalau bangku mahasiswa juga oom bisa buat, bukan dari kayu jati tapi kayu sengon atau orang biasanya menyebut albasia. Lebih kuat dibanding bangku yang banyak dijual di pabrikan pada umumnya".
"Hmmm, boleh juga, saya tertarik. Nanti apakah oom bisa membuatkan pembayarannya kepada kami?"tanya Louis.
"Tentu bisa, ada bagian administrasi di dalam, nanti dia yang bantu oom membuat penawaran dan lain-lainnya".
"Oke, Jimmy nanti tolong penawarannya kalau sudah jadi kirim kepadaku, nanti kalau sudah disetujui kamu hubungi Andreas Cheung untuk pemberian uang muka".
Jimmy mengiyakan yang diperintahkan oleh Louis, dan itu agak membuat opa Hansen sedikit aneh sebab biasanya Jimmy tidak menurut seperti itu kepada nasabah.
Rupanya opa Hansen memang belum paham kalau Louis adalah kakak kandungnya kekasih Jimmy.
Setelah itu Louis berpamitan kepada opa Hansen, karena hari mulai sore dan dia harus segera menuju stasiun kereta api.
Mengingat kemacetan kota Jakarta, maka diusahakan harus mengejar waktu lebih awal agar tidak terlambat tiba di stasiun.
"Ingat yah Jim, apa yang tadi sudah gue minta sama elu. Tolong dilakukan semuanya dengan sebaik mungkin. Terima kasih sudah mengantarkan ke stasiun. Titip Kristy, awas jangan macam-macam sama adik gue!!!" ujar Louis yang ujung-ujungnya sedikit ancaman kepada Jimmy.
Tidak banyak bicara, Jimmy hanya mengangguk saja dan mengiyakan semua perkataan Louis.
"Untung lu abangnya Kristy, kalau bukan sudah gue turunin dari mobil dari tadi juga," batin Jimmy ketika Louis sudah turun dari mobilnya.
Memang bagaimana juga antar sesama lelaki, apalagi dengan kondisi posisi seperti Jimmy saat ini. Di satu sisi terikat kontrak pekerjaan, di sisi lain mulai menjalin hubungan dengan adik perempuan yanh memberikannya pekerjaan.
Lalu setelah dari stasiun Jimmy segera menuju kantornya, setidaknya sudah beberapa hari dia tidak menginjakkan kaki ke kantornya karena bepergian terus bersama Louis.
Setibanya di kantor, Jimmy langsung masuk ke dalam ruangannya sambil sebelumnya seperti biasa memanggil Marsela dan Ferry sebagai orang-orang andalannya.
Lalu seperti biasa Marsela dan Ferry memberikan laporan pekerjaan selama Jimmy tidak masuk kantor beberapa hari kemarin.
Setelah mendengarkan laporan, kemudian Jimmy melakukan video call kepada Aliong, berempat di ruangan kerja Jimmy membahas masalah karyawan lapangan yang kemungkinan banyak yang akan menjalankan ibadah puasa beberapa hari ke depan.
Akhirnya sepakat jam masuk kerja lebih lambat satu jam dan pulang kerja lebih cepat satu jam dari biasanya.
Istirahat tetap satu jam untuk melaksanakan ibadah sholat, dan untuk karyawan yang tinggal di mess mendapatkan jatah makan sahur yang di pesan dari penjual nasi sekitar.
"Nanti ko Aliong catat siapa saja yang puasa dan tidur di mess, biar mpok yang jual nasi setiap subuh kirim makanan. Nanti bayarannya per minggu, sekalian pembayaran gaji mingguan," ujar Jimmy.
"Oke siap boss!!!" seru Aliong dari seberang sana.
Sambungan ponsel ditutup, lalu Jimmy menanyakan kepada Marsela maupun Ferry apakah ada berkas yang harus ditanda tangani olehnya.
"Ada, nanti diantar oleh Dewi kemari," sahut Marsela.
"Dewi?"Jimmy kaget mendengar nama itu.
"Loh, kan itu karyawan baru yang katanya keponakan pak Wildan. Boss sendiri yang memberikan berkas lamaran kerjanya kepada kami," timpal Ferry.
"Oh...sudah diterima, ya sudah mana berkasnya. Biar aku selesaikan sekarang semuanya," sahut Jimmy sambil membuka laptopnya.
Ferry dan Marsela saling berpandangan sambil mengangkat alis, entah ada rahasia apa diantara keduanya yang akan diberikan kepada Jimmy.
Keduanya segera keluar ruangan kerja Jimmy sambil senyum-senyum yang hanya dimengerti oleh mereka.
Jimmy memeriksa e-mail masuk, lalu memeriksa laporan keuangan dicocokkan dengan yang tadi disampaikan oleh Marsela. Dan memeriksa progress pekerjaan di beberapa tempat, disesuaikan dengan laporan dari Ferry.
Ketika sedang serius menatap laptopnya, tiba-tiba pintu diketuk dan ketika Jimmy menengok ke arah pintu, matanya terbelalak terpana melihat sosok seorang gadis yang berdiri di sana.
Muda, tinggi, kulitnya putih, dan tentunya cantik jelita, membuat jantung Jimmy sempat berhenti berdetak beberapa detik saat melihatnya.
"Permisi, pak Jimmy. Saya Dewi karyawan baru, maaf saya mau menyerahkan beberapa berkas untuk ditanda tangani bapak," ujar karyawan baru yang bernama Dewi itu dengan suaranya yang lembut sedikit mendesah.
"Oh, ya silahkan masuk. Simpan di meja saja berkasnya," sahut Jimmy sambil segera memalingkan wajahnya ke laptop agar tidak terlihat kalau sedang salah tingkah.
"Maaf pak, kata ibu Marsela dan pak Ferry saya diminta menunggu semua berkas ini sampai selesai ditanda tangani bapak. Karena harus segera di proses oleh mereka," pinta Dewi sesuai perintah Marsela dan Ferry.
"Hmmm, ya sudah, bawa kemari semua berkasnya," sahut Jimmy tapi tidak menatap Dewi.
Lantas Dewi berjalan ke samping meja Jimmy untuk menyerahkan berkas-berkas yang harus ditanda tangani.
Dewi berdiri di samping Jimmy dan wangi aroma parfum dari tubuh Dewi mulai terendus oleh hidung Jimmy, mau tak mau Jimmy mulai pusing kepala berada di dekat wanita muda yang cantik dan wangi seperti itu.
Selesai menanda tangan, lalu Jimmy menyerahkan kepada Dewi, dan diterima oleh Dewi dengan anggukan dan senyum yang manis menggoda.
"Sialan, baru gue jadian sama Kristy. Muncul kayak gini di kantor gue, pasti ini kerjaan Marsela sama Ferry," gerutu Jimmy ketika Dewi sudah keluar kantor.
__ADS_1
"Astaga, Ya Tuhan, gue kagak mau kayak bang Rio. Belum nikah saja godaan banyak begini, semoga gue kalau sudah nikah nanti jauh dari godaan".
Jimmy berusaha untuk hidup lebih baik dari kakaknya, dia tidak mau mati sia-sia seperti kakaknya dulu.