PENGKHIATAN CINTA

PENGKHIATAN CINTA
Hari Selasa di Rumah Mario


__ADS_3

Selasa pagi ini Soraya harus mengeluarkan ekstra energi, sedari pagi buta harus terus menegur kedua anak gadisnya yang beradu mulut terus.


"Maya, sudah pakai saja kamar mandi mama. Apa susahnya, sih?" tegur Soraya kepada anak sulungnya.


"Mama, shampoo aku ada di dalam, dan Mega itu sengaja lama-lama di dalam kamar mandi," sahut Maya dengan kesal.


"Pakai shampoo mama sajalah, apa bedanya, sih".


"No, please mama, aku tidak mau pakai shampoo selain punya aku sendiri," dasar remaja pasti ngotot tak jelas.


Soraya menghela nafas kesal juga, memang semalam hujan deras sekali dan petir bersahutan. Sampai ada petir menggelegar sangat kencang sekali, lalu mati listrik sampai pagi ini baru menyala.


"Mega, kamu ada apa di kamar mandi lama-lama? Kakakmu juga harus mandi," Soraya mengetuk pintu kamar mandi anak-anaknya sambil menanyakan apa yang anak bungsunya lakukan di dalam.


"Aku sakit perut mama, lagi buang air besar dulu. Kak Maya cerewet banget!!!" seru anaknya bungsunya dari balik pintu kamar mandi.


"Shampoo kakakmu tolong keluarkan dulu, agar kakakmu bisa mandi di kamar mandi mama," pinta Soraya.


"Nanti!!! tanggung aku masih duduk di closet!!!"teriak Mega.


"Nah, mama dengar, dia mengatakan hal yang sama kepadaku lima belas menit yang lalu. Sengaja dia sama aku," Maya protes kepada ibunya.


Soraya kembali menghela nafas, lalu berkata dengan nada cukup keras" Mega, coba kamu berdiri sebentar saja, nak. Lalu berikan shampoo kakakmu kepada mama, sekarang juga mama tunggu di pintu!!!".


Terdengar suara air pembasuh closet diputar, lalu beberapa detik kemudian pintu kamar mandi dibuka.


Mega menyerahkan sebotol shampoo milik Maya kepada ibunya, Soraya meraihnya dan menyerahkan kepada Maya.


Kedua kakak beradik saling menjulurkan lidah, lalu Maya segera berlari masuk ke kamar mandi di dalam kamar orang tuanya.


Soraya masih mematung di depan kamar mandi anaknya sambil melotot ke arah Mega.


Anak bungsunya segera menutup pintu kamar mandi dan menguncinya.


"Mama tunggu kalian di bawah, jangan lama-lama di kamar mandi!!! sebentar lagi jam tujuh pagi, kalian harus sarapan dulu sebelum ke sekolah!!!" teriak Soraya sambil turun ke lantai bawah.


"Ampun, anak dua itu, setiap hari selalu saja bertengkar. Hal kecil juga jadi besar," keluh Soraya kepada Mince.


"Maklum, anak gadis, nyonya harus sabar. Hehehe," Mince mencoba membesarkan hati majikannya.


"Oh, iya, Mince, aku lupa, nanti lain kali kalau beli beras atau beli kacang hijau, tolong periksa dulu. Jangan beli yang kualitas jelek, kamu waktu hari sabtu bikin kacang hijau biyek. Hari minggu aku menanak nasi,eh...biyek juga," Soraya sedikit mengomel kepada Mince.


"Lalu bubur kacang hijau dan nasinya bagaimana? diapakan sama nyonya?" tanya Mince.


"Bubur satu panci aku buang, kalau nasi aku berikan ke mamang hansip untuk diberikan ke ayam peliharaannya," sahut Soraya sambil memiringkan bibirnya.


"Aneh, padahal Mince beli beras di toko langganan biasa, kok," guman Mince terlihat kebingungan.


"Kemarin kamu menanak nasi tidak?" tanya Soraya.


"Tidak, soalnya anak-anak minta dibuatkan kentang goreng sama ayam goreng tepung. Jadi Mince tidak menanak nasi, karena takut tak ada yang makan," jawab Mince.


TING TONG!!! TING TONG!!!


"Walah, siapa pagi-pagi sudah membunyikan bel?" tanya Mince sambil menengok ke jendela.


"Sudah, coba kamu temui dan tanya. Siapa yang mau bertamu di pagi hari begini," Soraya menyuruh Mince menemui tamu yang baru memencet bel tersebut.


Mince tampak berlari keluar rumah menuju ke halaman untuk menemui tamu yang tengah berdiri di depan pagar.


Soraya sedang mengoles roti dengan selai untuk sarapan pagi anak-anaknya, dan dia melihat Mince tampak membukakan pagar dan mempersilahkan dua orang pria masuk ke ruang tamu rumahnya.


"Nyonya, itu ada Polisi di depan, semalam saya kan bilang sama nyonya kalau ada Polisi telepon mau ketemu sama nyonya," kata Mince saat menemui Soraya di ruang makan.


"Polisi? mau apa sih? apa aku kemarin melanggar lalu lintas," guman Soraya sambil bangkit berdiri lalu berjalan menuju ruang tamu.


"Selamat pagi, Ibu Soraya," sapa Junel ketika melihat mantan gurunya menemui dirinya yang sedang bersama satu anggota Polisi lainnya.


"Selamat pagi, mohon maaf Pak Polisi datang ke rumah saya pagi begini. Apakah ada yang bisa saya bantu?" Soraya membalas sapaan dan bertanya maksud kedatangan Polisi ke rumahnya.


"Ibu Soraya pasti lupa, saya dulu murid ibu di SMP Cahaya Tri Tunggal".


"Oh, siapa yah? maaf saya lupa pastinya," tanya Soraya.


"Julian, saya Julian. Biasa dipanggil Junel," jawab Junel.


"Oh, Ya Tuhan, kamu Junel? Astaga, luar biasa muridku sudah jadi Komandan Polisi," Soraya sangat terkejut dan juga merasa bangga melihat muridnya sudah menjadi seorang Perwira.


"Iya, bu, ini berkat ibu juga mendidik kami dulu," sahut Junel dengan rendah hati.


"Luar biasa, saya turut bangga melihat kamu seperti sekarang," Soraya masih tak kuasa menahan rasa bangga kepada mantan muridnya itu.


"By the way, ada apa pagi ini ke rumah saya. Kalau dulu balok tiga di bahu seperti ini disebut Kapten, sekarang apa sebutannya?" Soraya bertanya sambil memegang tanda tiga balok emas di bahu Junel.


"Sekarang Ajun Komisaris Polisi namanya, bu," jawab Junel.


Soraya mengangguk sambil tersenyum lebar, melihat Soraya tampak senang seperti itu, membuat hati Junel menjadi galau.


Kedatangannya untuk menyampaikan berita duka atas kematian suami Soraya, tapi melihat Soraya begitu riang melihat dirinya, membuat hati Junel menjadi tidak karuan.


"Ibu Soraya, kedatangan saya dan teman kemari mau menyampaikan berita tidak baik".


Soraya memandang Junel sambil mengernyitkan keningnya.


Junel menelan ludah, lalu melanjutkan kalimatnya.


"Suami ibu, yaitu Bapak Mario Maliangkay telah ditemukan meninggal dunia di Kota Palembang pada hari minggu kemarin. Mobil yang ditumpangi suami ibu tergelincir ke dalam jurang, lalu masuk ke sungai dan tenggelam di sana," Junel menyampaikan berita itu kepada Soraya dengan sangat berat hati.


"Mario Maliangkay itu suami saya, dan suami saya memang keluar kota tapi bukan ke Palembang. Terakhir suami saya berkata sedang ada di kota Madura untuk meninjau proyek pekerjaannya di sana," sahut Soraya berusaha menahan perasaannya.


"Benar, mungkin seperti itu. Tapi dari data yang kami dapat dari Kepolisian Palembang adalah demikian. Salah satu korban tenggelam adalah suami ibu".


"Junel, kamu jangan main-main. Saya yakin suami saya tidak ke Palembang, karena suami saya bilang ada di Madura," ujar Soraya sambil mulai meneteskan air mata.


Junel merasa kikuk, lalu dia memegang lengan Soraya.


"Ibu, maaf ini data yang kami terima, di dalam map ini ada cetakan foto tanda pengenal suami ibu dan juga foto kondisi suami ibu terakhir ditemukan".


Sambil gemetar Soraya meraih map tersebut dan perlahan membukanya. Di dalam map terlihat cetakan kartu tanda pengenal suaminya, tas dan barang-barang suaminya, lalu foto suaminya berada di tempat tidur khusus untuk meletakan jenazah di sebuah ruang otopsi. Dan terakhir foto wajah suaminya tercetak jelas, penuh luka dan membengkak akibat tenggelam di sungai cukup lama.


"Ayo, cepat turun, Kak Maya kalau dandan lama. Nanti mama marah, tahu!!!"ucap Mega sambil melangkah turun ke lantai bawah dan sudah memakai seragam lengkap.


"Iya, aku turun sebentar lagi. Cerewet amat sih," tukas Maya kepada adiknya.


Mega turun ke ruang makan dan melihat sudah ada setangkup roti selai dan segelas susu untuk sarapan paginya.


"Mbak Mince, ada tamu siapa?" tanya Mega sambil mengigit rotinya.


"Enggak tahu," jawab Mince.


Maya turun juga, lalu mengintip ke ruang tamu.


"Mbak Mince, tamunya mama kok Polisi?" tanya Maya.


"Hah!!! Polisi?" Mega terkejut.


"Iya, ada apa sih?" Maya bertanya lagi dan Mince hanya angkat bahu tak paham ada apa.


"Kita dengerin aja, mama sama tamunya ngobrol apa," ajak Mega dan disetujui kakaknya, lalu kedua gadis itu berjingkat mendekati tembok di samping ruang tamu dan menguping pembicaraan ibunya.


Mata kedua gadis itu membulat kaget saat menguping apa yang disampaikan oleh Polisi kepada ibunya.


"TIDAAAAKKKK!!!!" jerit Soraya ketika melihat dengan jelas cetakan wajah suaminya.


"MAMAAAA!!!"serentak kedua anaknya menghambur ke ruang tamu dan memeluk ibunya.


Ketiganya menangis sejadi-jadinya saat melihat dengan jelas wajah Mario dalam cetakan dari Polisi tadi.


Mince juga segera berlari ke ruang tamu, dan melihat apa yang terjadi. Dirinya juga sangat terkejut melihat foto wajah majikannya yang terlihat sudah tak bernyawa lagi.

__ADS_1


"Oom Jimmy," ujar Mince dan segera berlari menuju telepon di rumah tersebut.


Pagi itu Opa Hansen dan Oma Regina sedang menikmati sarapan pagi sambil melakukan video call dengan Rosalinda.


Saat ini Robert dan Rosalinda masih menikmati liburan bersama keluarga kecilnya di sebuah vila di dataran Lembang Kabupaten Bandung.


Rosalinda mengatakan kalau mereka sudah membeli sebuah vila, dan rencananya nanti akan membawa seluruh keluarga besar untuk menginap di sana.


"Tempatnya enak banget, pemandangannya luar biasa, pegunungan, banyak pepohonan dan banyak taman bunga di sini. Nanti kalau sudah selesai di renovasi, pasti kami akan membawa Papih dan Mamih menginap di sini," kata Rosalinda sambil memperlihatkan pemandangan di sekitar vila miliknya.


"Air di Lembang dingin, mana kuat mandi di sana. Kami sudah tua begini, bisa-bisa beku. Hahahaha," ujar Mamih Regina.


"Jangan khawatir, kami sudah siapkan alat pemanas air di kamar mandi. Mamih jangan takut kedinginan, yah," sahut Rosalinda lagi.


"Iya, terima kasih sebelumnya. Doakan saja Mamih dan Papih sehat selalu, agar sesekali bisa ikut menginap di vila milik kalian," ujar Oma Regina ketika mengakhiri pembicaraan dengan Rosalinda menantunya.


"Bang Robert keren sekali, sekarang sudah terbeli vila di Kebun Bunga Kota Lembang. Pasti sebentar lagi nyonya Rosalinda bakalan pesta terus setiap minggu. Semua teman dia undang kesana," komentar Jimmy yang ikut mendengar pembicaraan itu sambil sarapan pagi.


"Biar saja, toh Rosa dan Robert punya rejekinya sendiri. Biarkan saja mereka mau bagaimana juga. Uang mereka sendiri, tidak menyusahkan kita," sahut Opa Hansen.


"Papih sama Mamih sih bisa berkata begitu, tapi kami adik- adik Bang Robert merasa tidak nyaman dengan teman-temannya Kak Rosa. Semuanya sok high class".


"Waktu aku di Amerika, waktu aku di Australia, waktu ke Jepang, Eropa, Perancis...


aaahhh...semuanya sok luar negeri. Malas mendengarnya juga," ujar Jimmy sambil menghabiskan nasi goreng yang merupakan menu sarapannya pagi itu.


"Ya memang begitu, Rosa keluarganya juga orang berada, lalu Robert juga menjadi dokter yang sukses. Jadi mereka banyak uang, rasanya wajar saja," Opa Hansen terus membela Robert dan istrinya.


"Hmmm, iya deh yang paling sukses cuma Bang Robert. Kalau Bang Rio sama aku sih cuma ecek-ecek, dapat bisnis juga recehan," Jimmy menyindir halus ayahnya.


"Haduh, tidak seperti itu. Semua anak Papih sukses, Mario dan kamu punya usaha yang bagus, kok. Walau memang tidak bisa menyaingi kesuksesan Robert," sahut Opa Hansen lagi.


Jimmy hanya diam saja, sambil minum teh hangat setelah menghabiskan nasi gorengnya.


KRIIIINNNGG!!! KRRIIIINNGG!!!


Telepon rumah Opa Hansen berbunyi, lalu Bik Tati segera berlari dari dapur menuju ke meja telepon.


"Halo, dengan kediaman Bapak Hansen Maliangkay. Ada yang bisa saya bantu?" sambut Bik Tati ketika menerima telepon.


"Halo, Bik Tati, ini Mince. Astagfirullah, Pak Rio meninggal," kata Mince dari seberang sana.


"APA!!!...kamu jangan becanda Mince!!! hardik Bik Tati.


"Demi Allah, di sini ada Polisi. Katanya Pak Rio meninggal di Palembang. Itu Bik yang ada di berita televisi, mobil yang tenggelam," Mince menjelaskan.


"Astagfirullah, innalillahi wa innalillahi rojiun benarkah itu?" Bik Tati gemetar.


"Iya, Bik...cepat Bik minta tolong Oom Jimmy datang kemari," pinta Mince.


"Iya, nanti aku bilang sama dia. Mince...aku sedih. Astagfirullah, Ya Allah, kenapa bisa terjadi kepada Bang Rio," Bik Tati menangis tersedu-sedu.


"Bik Tati...!!! siapa sih yang telepon?" Jimmy menghampiri Bik Tati yang sejak tadi menjawab telepon dari seseorang.


"Bang Jimmy, ini....huhuhuhu," Bik Tati tak bisa berkata apa-apa hanya memberikan telepon kepada Jimmy.


"Halo, dengan siapa ini?" tanya Jimmy.


"Oom Jimmy...ini Mince....".


Lalu Jimmy mendengar penuturan Mince yang menyampaikan apa yang telah terjadi kepada kakaknya.


Jimmy menutup telepon tanpa berkata apapun, dia sangat terkejut mendengar berita kakaknya meninggal dunia.


"Bik Tati, jangan bicara apapun sama Mamih dan Papih. Aku mau ke rumah Bang Rio sekarang juga," kata Jimmy yang langsung pergi tanpa pamit kepada kedua orang tuanya.


"Jimmy mau kemana, Tati? Siapa yang telepon itu?" tanya Oma Regina.


"Tidak tahu nyonya, mungkin urusan pekerjaan Bang Jimmy," sahut Bik Tati yang sudah bekerja di rumah itu sejak masih muda dulu.


Tati segera berlari ke halaman belakang rumah, dia menangis di bawah pohon mangga.


Sejak awal bekerja sampai usianya tua sekarang, dia tidak mau menikah lagi. Lebih memilih setia saja bekerja di rumah itu.


Masih ingat di benaknya, dia yang dulu menyuapi Mario di bawah pohon ini ketika Mario masih usia lima tahun.


Dia juga yang selalu menghibur Mario yang sering cemburu karena punya adik kecil lagi.


Tati juga yang mengantar jemput Mario saat masih di Sekolah Dasar, baru ketika Mario masuk SMP tugasnya beralih menjadi mengurusi Jimmy adiknya.


"Mario...huhuhu...ada apa denganmu. Ya Allah, kenapa harus Mario, apa salah dan dosanya," Tati menangis tapi berusaha agar jangan sampai terdengar Opa Hansen dan Oma Regina.


Jimmy mengemudi menuju rumah Mario sambil air mata mengalir di kedua pipinya.


Setibanya di depan rumah Mario, dia langsung turun dan masuk ke dalam rumah kakaknya.


Dia melihat masih ada dua orang Polisi, dan kedua keponakannya segera memeluk dirinya ketika berdiri di depan ruang tamu.


Junel segera menyampaikan tentang Mario kepada Jimmy, membuat Jimmy terduduk lemas di lantai karena kedua kakinya tak mampu menahan tubuhnya yang gemetar mendengar penuturan tentang Mario.


"Jenazah kakak saya ada dimana sekarang?" tanya Jimmy kepada Junel.


"Masih ada di Laboratorium Forensik Kepolisian Palembang. Kami menunggu pihak keluarga untuk menandatangi surat pernyataan untuk pengiriman jenazah ke kota ini," Junel menerangkan kepada Jimmy.


"Apakah sudah ditanda tangan oleh kakak ipar saya?".


"Belum, karena Ibu Soraya sejak tadi masih belum bisa diajak bicara apapun lagi".


"Kalau saya yang mewakili, bagaimana?" tanya Jimmy.


"Silahkan, yang penting ada penanggung jawab dari pihak keluarga," sahut Junel sambil menyodorkan selembar surat untuk bisa mengeluarkan jenazah dari Kepolisian Kota Palembang.


Segera Jimmy menandatangi surat pernyataan itu, lalu Junel beserta anggota Polisi lain segera pamit untuk mengurus kepulangan Jenazah dari Palembang .


Jimmy mengeluarkan handphone dari sakunya dan menekan nomor Robert.


Sementara Robert sendiri sedang cuti dari Rumah sakit, dia bersama Rosalinda istrinya sedang meneliti setiap ruangan vila yang baru saja dibelinya.


Rencananya akan merenovasi vila tersebut, karena bangunan lama jadi sudah banyak yang harus diperbaiki.


"Papih!!!! Oom Jimmy telepon!!!" teriak Annabella.


"Angkat saja, tanyakan ada apa telepon ke Papih?" pinta Robert kepada anaknya.


Annabella malah mendekati ayahnya sambil menyerahkan ponsel milik ayahnya.


"Papih saja, aku lagi sibuk membalas chat di grup kampus," katanya sambil segera berlalu dengan tangan dan pandangan yang tak lepas dari ponselnya.


"Astaga anak jaman sekarang, tak bisa sedetikpun lepas dari ponsel," ujar Rosalinda sambil geleng-geleng kepala melihat kelakuan anak gadisnya.


"Sama saja dengan mamihnya," sindir Robert sambil menahan geli.


Rosalinda langsung cemberut setelah mendengar ucapan suaminya itu.


"Halo, ada apa Jimmy? tumben telepon aku?" tanya Robert setengah becanda.


Jimmy memberitahu kakak sulungnya tentang Mario, sontak Robert matanya melotot dan kakinya lemas lalu terjatuh.


"Papih!!!! ada apa???!!!!" teriak Rosalinda ketika melihat suaminya jatuh terduduk.


Robert tak bisa berkata apapun hanya diam sambil air matanya turun di pipinya.


"Ada apa???!!!" Rosalinda panik sambil mengguncang tubuh suaminya.


Robert hanya menatap istrinya dan menyerahkan ponselnya untuk menanyakan sendiri kepada Jimmy.


"Jimmy, ada apa? ini abangmu jadi lemas dan terjatuh!" Rosalinda terdengar agak kesal kepada Jimmy.


Lalu Jimmy memberitahu Rosalinda tentang kematian Mario.

__ADS_1


"O My GOD, kami pulang sekarang!!!" teriak Rosalinda.


"Ada apa sih?" tanya William anak sulung mereka.


"Cepat kamu menyetir mobil, kita pulang sekarang juga. Oom Mario meninggal," ujar Rosalinda sambil membantu Robert berdiri.


"Meninggal? Oom Mario meninggal?" William ekspresinya terkejut.


"Iya, kamu lihat di televisi, ada mobil tenggelam di Palembang. Nah, salah satu korbannya adalah paman kalian," Rosalinda menggandeng Robert yang tengah berjalan bagai orang linglung.


"Ya ampun," William menepuk dahinya tak percaya hal seperti itu terjadi pada keluarganya.


"Sudah panggil adikmu, Mamih dan Papih menunggu di dalam mobil. Kalian segera kunci villa dan kamu bawa mobil ke Depok," untung Rosalinda memang tegar dan ahli dalam menangani masalah seperti begini.


Annabella tentu saja kaget mendengar penuturan kakaknya, lalu dia segera membantu menutup dan mengunci semua pintu dan jendela di dalam vila.


Setelah semua terkunci rapat, kedua adik kakak ini segera masuk mobil.


Terlihat Robert ayah mereka sedang menangis sambil dipeluk ibunya, tentu saja Robert sangat terpukul sekali dengan kejadian ini.


Kristy menghentikan mobilnya di depan kantor Jimmy, tapi terlihat semua karyawan keluar kantor dan bersiap-siap hendak pergi ke suatu tempat.


Untung Kristy melihat Marsela yang sedang mengunci kantor bersama seorang karyawan lainnya.


"Ibu Marsela, mengapa kantor tutup? saya mau kirim paket nasi sesuai pesanan Ibu Marsela kemarin," tegur Kristy kepada Marsela.


"Astaga, benar aku lupa kalau nanti akan ada meeting. Tapi kami baru saja mendapat kabar dari Pak Jimmy kalau Pak Mario meninggal," sahut Marsela.


Kristy tentu saja terkejut mendengarnya, dan segera bertanya," Sekarang semua akan ke rumah Pak Mario, kah?".


Marsela menganggukan kepala sambil berurai air mata, lalu dia melangkah menuju warung di samping kantornya untuk menitipkan kunci kantor kepada Agus pemilik warung.


"Ibu Marsela, akan ke rumah Pak Mario bersama siapa?" tanya Kristy.


"Saya naik angkutan umum saja, karena yang lain sudah mendahului naik sepeda motor masing- masing," jawab Marsela.


"Sudah Ibu Marsela bersama saya saja, tapi tolong tunjukkan rumahnya karena saya belum pernah tahu rumah beliau," Marsela menuruti apa kata Kristy dan dia menunjukkan jalan menuju rumah Mario.


"Mbak Sela!!!" seru Jimmy ketika tiba di halaman rumah Mario.


Jimmy menghambur kepada Marsela dan memeluknya sambil menangis, karena Jimmy selama ini merasa Marsela sudah seperti kakak sendiri baginya.


Lalu Marsela memapah Jimmy dan mereka masuk ke rumah untuk menemui Soraya.


Begitu melihat Marsela, otomatis Soraya menangis lagi sambil memeluk Marsela.


"Ibu Sela, kenapa harus Mario...huhuhuhu," tangis Soraya dalam pelukan Marsela.


Melihat Soraya menangis, tentu Marsela juga ikut menangis. Setidaknya sudah lebih dari dua puluh tahun dia bekerja bersama Mario, sejak dia masih gadis sampai punya anak tiga sekarang.


"Sabar, sabar Mbak Soraya. Semua yang terjadi dalam hidup kita adalah rencana Tuhan," hanya itu yang bisa Marsela ucapkan karena saat perasaan dia sendiri juga tak menentu.


"Ibu Kristy? kamu di sini juga?" Jimmy kaget ketika baru menyadari ada kehadiran Kristy di rumah Mario.


"Iya, saya baru saja datang bersama Ibu Marsela. Saya turut berduka cita, Pak Jimmy," ujar Kristy dan hanya dijawab dengan anggukan dan senyuman oleh Jimmy.


Wildan melihat halaman rumah Mario sudah banyak mobil dan sepeda motor. Tadinya dia dengan Danu akan meeting bersama Jimmy di kantor milik Mario. Tapi dia mendapat kabar dari Marsela kalau Mario meninggal, jadi dia datang kemari.


Di dalam rumah Mario sudah banyak orang, sebagian besar karyawan kantor Mario dan juga beberapa tetangga yang ingin tahu ada apa di rumah Mario.


Wildan melihat Mince tampak sibuk menjelaskan yang sebenarnya kepada beberapa orang sekitar.


Sama juga, saat melihat kedatangan Wildan juga Danu langsung saja Soraya menangis lagi karena selama ini keduanya adalah sahabatnya Mario.


William juga baru tiba di depan rumah Mario, dia bersama adiknya dan kedua orang tuanya.


Mince melihat kedatangan keluarga Robert, segera masuk ke dalam memanggil Jimmy.


Robert dipapah oleh William dan Rosalinda, sementara Annabella langsung menemui Maya dan Mega. Ketiganya segera berpelukan sambil menangis tersedu-sedu.


"Kak Rosa....Bang Robert....," Soraya berjalan menuju kakak iparnya sambil menangis.


"Kenapa harus Mario...huhuhu," kembali Soraya menangis seperti itu, dia belum bisa menerima kenyataan.


Rosalinda dan Robert juga hanya bisa menangis, tak tahu harus berkata apa selain perasaan sedih mendalam.


"Papih dan Mamih harus diberitahu. Siapa yang siap memberitahu mereka?"tanya Robert sambil air matanya berurai.


"Biar aku dan Wiliam," ujar Rosalinda.


"Mamih, tapi kalau Opa dan Oma mau kemari. Siapa yang bisa memenangkan mereka? aku menyetir mobil, Mamih pasti kerepotan mengurusi Opa dan Oma kalau sendiri," kata William sedikit kebingungan.


Kristy tak sengaja mendengar pembicaraan tersebut, lalu menawarkan diri kepada William.


"Maaf, kalau saya ikut dan nanti saya yang menyetir bagaimana?" tanya Kristy.


"Anda siapa?" tanya Rosalinda.


"Hmmm, saya Kristy temannya Jimmy," jawab Kristy.


"Ayo, ikut kami," ajak Rosalinda.


Sebelum pergi Kristy menitipkan mobilnya kepada Marsela, dan mengatakan ada kotak makanan di mobilnya.


Dia minta dibagikan saja makanan itu, takut ada yang belum sempat sarapan dari rumah atau kantor.


Di dalam mobil William, tampak Kristy diam saja di kursi belakang, sementara Rosalinda tentu saja sibuk menghubungi semua kerabat dan teman-temannya membagikan kabar duka tersebut.


Sesampainya di rumah Opa dan Oma, terlihat kedua orang tua itu sedang duduk santai menikmati suasana menjelang siang di halaman belakang rumah mereka.


Tati terlihat sibuk menyapu halaman karena banyak daun rontok, tetapi sejak tadi membelakangi majikannya karena dia sedang menangis.


Setiap anak punya kunci pembuka gembok di pintu pagar rumah Opa dan Oma, begitu juga Rosalinda. Sehingga mereka bisa masuk tanpa harus membunyikan bel rumah seperti tamu pada umumnya.


"Mamih!!! Papih!!!" panggil Rosalinda.


"Oma!!!Opa!!!!" William juga memanggil nenek dan kakeknya.


"Hai, kok kalian ada disini? tadi Rosa telepon Mamih ada di Lembang," Oma Regina kaget sekali melihat menantunya ada di rumahnya, padahal baru beberapa jam yang lalu bilang ada di Lembang.


"Iya, Rosa mau bicara sama Papih dan Mamih," ujarnya sambil menuntun ibu mertuanya ke tempat ayah mertuanya duduk.


"Loh, ada Rosa dan Willy?" Opa Hansen juga kaget.


William duduk di samping kakeknya, sementara Rosalinda duduk di samping Oma Regina sambil memegang tangannya.


"Papih....Mamih....begini...".


Rosalinda menyampaikan berita kematian Mario kepada kedua mertuanya.


"Tidak Rosa, kamu bohong. Kenapa kamu bicara begitu. Kamu bohong kan...huhuhuhu," Oma Regina tidak terima dengan ucapan Rosalinda.


Tapi Rosalinda hanya bisa menganggukan kepala menyatakan bahwa yang dia ucapkan benar.


"Tidak Mario, tidak mungkin. Bawa Mamih ke rumah Mario, dia ada di sana, kalian jahat membohongi orang tua," Oma Regina meronta, segera Rosalinda memeluknya agar tenang.


Opa Hansen diam saja tapi wajahnya memucat, lalu perlahan berdiri dan berkata," Willy, bawa Opa ke rumah Mario".


Tati juga menangis, dan dia ingin ikut ke rumah Mario. Lalu Rosalinda memerintahkan Tati untuk mengemasi pakaian Opa dan Oma, karena pasti keduanya harus tinggal sementara di rumah Mario.


Tati juga membawa beberapa pakaiannya, karena dia juga mau tak mau harus berada di rumah Mario untuk beberapa waktu.


"Bik Tati, nanti di mobil duduk di depan yah sama Mbak Kristy. Aku dan Opa di kursi paling belakang, lalu Mamih dan Oma di kursi tengah," William mengatur posisi duduk.


"Ini siapa?" tanya Opa Hansen ketika melihat Kristy.


"Hmmm, pacarnya Jimmy," jawab Rosalinda.


Kristy matanya membulat kebingungan, dia belum sempat menjawab siapa dirinya. Tahu-tahu sudah dicap demikian oleh anggota keluarga Jimmy, bukannya senang hati tapi jadi bingung dan resah.

__ADS_1


"Ampun, bagaimana kalau Jimmy menilai aku mencari perhatian kepadanya," guman Kristy dalam hati sambil mengemudi menuju rumah Mario.


__ADS_2