PENGKHIATAN CINTA

PENGKHIATAN CINTA
Setelah Oma Pergi


__ADS_3

Setelah Oma pergi untuk selamanya, Opa Jonas juga berencana akan kembali lagi ke Manado.


Tujuh hari setelah Oma meninggal, keluarga berkumpul untuk berdoa bersama, mendoakan Oma agar mendapatkan tempat yang layak di sisi Yang Maha Kuasa.


Usai berdoa masing-masing saling bercerita tentang kesan dan pengalaman indah ketika bersama Oma Elisabeth.


Opa Jonas menceritakan masa kecil mereka di Manado dulu, waktu itu Oma Elisabeth selalu menjaga dirinya bahkan selalu mendahulukan adiknya kalau punya makanan enak.


Lalu Papih Hansen juga bercerita kalau Oma Elisabeth dulu sangat mendukung Opa Henry dalam membangun usaha furniture di Jakarta.


Mulai dari nol, mulai dari makan hanya sepiring nasi dibagi tiga untuk Opa Henry, Oma Elisabeth dan Papih Hansen yang ketika itu masih kecil.


Oma Elisabeth wanita tegar, tak pernah mengeluh walau dibawa hidup susah oleh Opa Henry ketika awal pindah ke Jakarta, sampai akhirnya bisa sukses seperti sekarang.


Papih Hansen hanya tinggal meneruskan saja usaha yang sudah dirintis oleh Opa Henry dan Oma Elisabeth.


Bagi Mamih Regina juga sosok Oma Elisabeth adalah mertua yang sangat baik dan sangat bijaksana.


Tak pernah sekalipun Oma memarahi menantu, bahkan Mamih Regina yang sama sekali tak pandai memasak sampai akhirnya mahir memasak masakan Manado adalah karena kesabaran Oma Elisabeth ketika dulu mengajarinya memasak.


Giliran Robert dan Rosalinda, karena Robert tak pandai bicara maka sang istri yang bicara.


"Kalau kami sih merasa selama ini kami sudah cukup membahagiakan Oma. Apalagi Bang Robert, selama ini obat dan lain-lain semua dari siapa...tentunya dari Bang Robert".


"Kami berdua setiap datang ke rumah Oma pasti membawa kue atau makanan yang enak kesukaan Oma, jadi kami tidak terlalu menyesal dengan kepergian Oma karena kami sudah memberikan yang terbaik untuk Oma selama ini".


Robert dan Rosalinda saling tersenyum, keduanya merasa bangga karena selama ini sudah memperlakukan Oma dengan sangat spesial menurut versi mereka berdua.


Tapi semua yang ada di dalam ruangan diam saja tak ada satu orangpun yang memuji atau mengomentari mereka.


Mario menatap Soraya, karena sekarang giliran mereka yang harus menyampaikan kesan indah bersama Oma.


"Kami berdua tidak perlu untuk banyak bicara, sebab semua juga pasti tahu kalau kami dipersatukan selain memang kehendak Tuhan, juga karena campur tangan Oma sehingga kami berdua bisa bahagia sampai hari ini," ujar Mario dengan sangat tenang.


"Kami memang tidak banyak memberi kepada Oma, karena kami juga masih punya sangat banyak kebutuhan. Tapi kami berdua hanya bisa memberi perhatian dan doa untuk Oma selama ini".


"Dan yang terpenting kami berdua sudah mewujudkan keinginan Oma dan kami sudah berjanji akan saling tetap mengasihi walau Oma sudah tak ada lagi bersama kita. Apapun yang orang katakan tentang kami, tapi kami akan pegang janji itu," Soraya menatap wajah suaminya dengan sangat terharu.


Luar biasa seorang Mario berkata demikian dengan sangat tenang dan mantap, sehingga semua yang ada di ruangan menatapnya.


"Bagus Mario, tentu Papih juga Mamih sangat senang sekali mendengar apa yang barusan kamu ucapkan. Tunjukkan kalau kalian benar-benar akan memegang teguh amanat dari Oma," Papih Hansen memberi


perhatian atas yang baru saja Mario ungkapkan.


Sebab selama keluarga besar Maliangkay, terutama Robert dan Rosalinda selalu merasa sangsi kepada Mario, dan selalu menerka kalau saat Oma tiada pasti Soraya juga akan dihempas.


Kemudian yang terakhir adalah giliran Jimmy, ketika Mamih Regina memanggil namanya ternyata Jimmy dengan nyenyak tidur di karpet.


Memang sedari tadi Jimmy mengambil posisi berbaring di karpet dan akhirnya terlelap dengan nikmatnya.


"Sudah Regina, tak usah kamu bangunkan dia. Lebih baik kalian antar Opa sekarang ke bandara, karena Opa juga sudah ditunggu oleh kerabat kalian di Manado sana," kata Opa Jonas kepada Papih Hansen dan Mamih Regina.


Robert dan Rosalinda juga pamit pulang, begitu juga Mario dan Soraya. Sementara Papih Hansen dan Mamih Regina segera mengantarkan Opa Jonas ke bandara.


Jimmy tidur nyenyak sekali karena semalam dia habis begadang menyelesaikan tugas menggambar denah bangunan.


Maklum dia kuliah jurusan Arsitektur di salah satu kampus terkenal, tentu saja banyak tugas yang harus dia selesaikan.


Hampir dua jam dia tidur nyenyak dan ketika membuka mata, ternyata ruang keluarga sudah kosong.


"Bik...pada kemana sih? kan tadi acara doa buat Oma," tanya Jimmy sambil masih mengantuk.


"Den Jimmy itu aneh, semua berdoa malah tidur. Sekarang Mamih dan Papih sedang pergi mengantar Opa Jonas ke bandara. Lalu Bang Robert dan Bang Mario pulang ke rumah masing-masing," sahut Bik Tati saat itu sedang mencuci buah-buahan yang baru dibelinya.


"Berarti aku tidur lama juga yah, Bik?".


"Iya dong, ada dua jam sih. orang tadi Bibik sempat belanja buah ini ke warung buah di kampung belakang. Saat kembali, Den Jimmy masih ngorok di karpet".


"HOOOAAAMMM...gitu yah, Bik bikinin mie instant dong pakai telur, lapar Bik," pinta Jimmy sambil menguap karena masih mengantuk.


"Oke...mie instannya satu bungkus atau dua bungkus?" tanya Bik Tati.


"Dua yah Bik...makasih yah... nanti antarkan ke sofa depan yah...aku mau bobo dulu lagi sambil nunggu mie nya," ujar Jimmy yang masih saja manja padahal usianya tahun depan akan dua puluh satu tahun.


Bik Tati hanya mengiyakan sambil geleng kepala melihat tingkah majikan bungsunya, sudah beranjak dewasa juga masih saja manja dan kadang sering jahil juga usil.


"Bang, aku mau bicara sesuatu apakah boleh?" tanya Soraya pada sore harinya di rumah sewa yang masih mereka tinggali.


"Ada apa sih, serius sekali tampaknya?"Mario bertanya balik karena merasa aneh.


"Tapi Bang Rio jangan marah yah".


Mario yang sedang mengetik sesuatu di laptop, langsung berhenti saat istrinya bertanya dan berkata seperti itu.


"Ada apa Aya? aku harus marah atau tidak, kan aku belum dengar juga kamu mau bicara apa".


Soraya terdiam dan duduk di hadapan Mario sambil menatap wajah suaminya.


Lalu Soraya memberanikan diri berkata perlahan sambil tetap menatap suaminya.

__ADS_1


"Kemarin Nania istrinya pendeta Yosep yang juga sahabat aku ketika kecil, memberitahu aku kalau ada lowongan kerja menjadi guru bahasa Inggris di sekolah tempatnya mengajar, " ujar Soraya sambil hati-hati bercerita kepada suaminya.


"Mengajar di SMP, karena guru bahasa Inggris yang sekarang akan mengundurkan diri karena akan ikut suaminya pindah keluar kota".


Mario mendengarkan yang disampaikan istrinya sambil menatap dalam-dalam lalu bertanya kepada Soraya.


"Kamu mengajar, lalu Maya sama siapa? dulu kamu sendiri yang mengatakan tak mau memakai pengasuh".


"Hmmm...aku sudah berpikir tentang itu, nanti setiap pagi aku titip Maya ke rumah mama dan siang aku bawa pulang lagi".


"Kan sekolah itu tak jauh dari rumah mama, jadi tiap hari bisa titip Maya di mama, karena mengajar di sekolah, pulangnya bersamaan dengan siswa. Sehingga siang hari aku sudah bisa pulang ke rumah bersama Maya," Soraya mengutarakan argumennya.


Mario menatap tajam lalu berkata tegas ," Kamu mau mengajar di sekolah itu boleh, aku dipersilahkan, tapi..... membawa Maya bolak-balik setiap hari....NO..!!!".


Soraya terkejut mendengar jawaban Mario, tapi dia tak berani membantahnya.


"Kamu pikirkan saja yang terbaik untuk Maya, bayi umur sepuluh bulan setiap hari dibawa pergi. Kalau sakit bagaimana?".


"Aku tak mau tahu, Kamu cari cara bagaimana agar Maya tetap di rumah dengan aman. Kamu mau mengajar di mana saja silahkan. Hanya aku tak mau anak kita menjadi korban, sakit atau bagaimana karena perjalanan kesana kemari setiap hari," ujar Mario sambil kembali bekerja menghadapi laptopnya.


Sementara Soraya menjadi galau, dia ingin sekali ilmu yang dikuasainya menjadi berguna.


Kesempatan mengajar di sebuah sekolah swasta yang diberikan oleh sahabatnya, tentu membuatnya sangat semangat sekali.


Suaminya tidak melarang, hanya Mario tidak mau kalau bayi mereka setiap hari dibawa ke rumah Ibu Wongso.


Masuk akal juga karena dari rumah tinggalnya sekarang ke rumah Ibu Wongso memakan waktu setengah jam.


Sekolah masuk pukul tujuh pagi, sehingga Soraya harus pukul enam pagi keluar rumah sambil membawa bayinya.


Dan kembali lagi ke rumah menjelang sore hari, karena tak mungkin siswa pulang lalu guru juga segera pulang. Karena pasti akan ada hasil ujian atau test yang harus diperiksa.


Sore harinya Soraya tengah menyuapi Maya anaknya di halaman depan rumahnya, anak itu belum bisa jalan tapi sudah tak bisa diam.


Karena tetangga sekitar yang punya anak bayi seusia Maya selalu disuapi sambil berkeliling perumahan dengan mendudukan anaknya di roda dorong khusus. Maka Mario juga kemarin ini membelikan roda dorong seperti itu agar Soraya mudah memberi makan anaknya.


"Maya cantik, anak pintar lagi apa sayang?", Tina tetangga sebelah rumah segera saja memburu si bayi gemuk itu sambil mencubit gemas pipinya.


Maya kecil seakan paham dengan Ibu Tina yang suka dipanggil Mama Cantik, karena anak mereka bernama Chantika.


"Ada Mama Cantik, ayo buka mulutnya pintar. Kasih lihat sama Mama Cantik kalau anak Mama pintar makannya," ujar Soraya sambil segera memasukan sesendok bubur bayi ke dalam mulut anaknya.


"Hore....pintar....!!!"seru Tina sambil bertepuk tangan yang tentunya membuat bayi itu juga jadi senang.


"Soraya, bagaimana jadi kamu mengajar di sekolah itu, pak Mario sudah setuju?" tanya Tina yang paham kalau suami Soraya wataknya agak aneh.


"Boleh sih, hanya suamiku tak memberi ijin kalau Maya dibawa ke rumah mama ku setiap hari. Masuk akal sih alasannya karena takut anaknya sakit karena masuk angin atau lainnya," sahut Soraya dengan lesu.


Pekerjaan yang rumit tapi bisa dilakukan tanpa harus ada ikatan kontrak kerja tahunan. Hanya kontrak kerja beberapa minggu atau beberapa bulan saja sambil bisa mengurus rumah tangga juga.


"Ya itu, Tina tahu sendiri kan kalau Papa nya Maya sifatnya sulit ditebak. Kalau anginnya sedang baik, maka apapun juga boleh. Kalau angin sedang tak karuan, ya sudah pasti hanya marah dan ketus saja yang keluar dari mulutnya," keluh Soraya sambil lanjut menyuapi anaknya.


"Sabar Soraya, pasti akan ada jalan keluarnya. Eh...kalau mbak yang suka bantu kamu bersih-bersih rumah itu memang tak bisa sekalian mengurus bayimu?" tanya Tina yang ingat kalau Soraya punya asisten rumah tangga yang pulang siang hari setelah tugasnya beres.


"Aku sudah tanya, dia tak bisa karena pulang dari rumahku lalu ke rumah lain lagi di perumahan seberang sana".


"Sebenarnya aku juga bisa sendiri membereskan rumah, tapi suamiku bersikeras untuk mengambil jasa asisten rumah tangga panggilan begitu," ujar Soraya lagi menuntaskan sisa bubur satu sendok kecil lagi ke mulut anaknya.


"Senang melihat Maya makan, dulu Chantika susah makan waktu seumur Maya. Untung sekarang sudah mulai agak banyak makannya," kata Tina yang sangat gemas melihat anaknya Soraya.


"Untung anakku gemuk, kalau kurus seperti Chantika pasti aku sudah habis dimarahi setiap hari oleh suamiku... hahaha...," ujar Soraya sambil membayangkan andai Maya sekurus Chantika.


"Hahahah...untung saja mas Soni suamiku tak seaneh pak Mario. Kalau saja sifatnya begitu tentu aku sudah kabur sejak lama...hahahaha," sahut Tina juga sehingga mereka berdua tertawa geli dengan kelakar mereka sendiri.


"Aduh ibu-ibu muda ketawa enak sekali, lagi bahas apa sih? boleh ikutan dong," tiba-tiba Ibu Sunaryo yang rumahnya tepat di seberang rumah Soraya datang menghampiri.


Ibu Sunaryo itu istri pensiunan seorang tentara, suaminya Pak Sunaryo dulu bertugas di Angkatan Laut namun sekarang setelah pensiun mereka hanya berkebun sambil sesekali mengasuh cucu-cucunya.


"Ini cucu Oma sudah pintar, tambah gemuk saja bikin gemas deh," ujar Ibu Sunaryo ketika melihat Maya yang tengah tertawa-tawa ketika melihat mamanya tertawa.


"Ayo bu, sini duduk di teras, ini Tina bercanda saja dari tadi," sahut Soraya sambil masih tertawa geli.


Lalu Soraya, Tina dan Ibu Sunaryo bercerita tentang seputar perumahan dan juga tentang kehidupan sehari-hari.


Sambil sesekali mengajak Maya bicara karena bayi itu mulai ribut kalau tidak diajak bicara.


"Kalau suamimu tak memberi ijin membawa Maya ke rumah mama mu, ya sudah titip saja sama saya. Orang saya sama Pak Sunaryo kan di rumah cuma berdua saja tak ada kesibukan, jadi ada Maya bisa membuat kami ada kesibukan ," Ibu Sunaryo memberi jalan kepada Soraya.


"Tapi bagaimana yah, saya jadi tak enak hati sama Ibu Sunaryo," kata Soraya dengan merasa sungkan.


"Sudah jangan sungkan, pagi hari kamu bawa Maya ke rumahku. Sediakan pakaiannya lalu susunya dan makanannya, jangan lupa semua keperluan bayi seperti tissue basah, popoknya dan.... semua keperluan Maya. Nanti sepulang mengajar baru kamu ambil ke rumah kami," Ibu Sunaryo menegaskan dengan senyum lebar.


Soraya masih tampak galau tak bisa langsung menjawab apapun kepada Ibu Sunaryo, melihat itu sepertinya Ibu Sunaryo paham, mungkin Soraya memikirkan bayaran untuknya.


"Soraya, kamu tak usah memikirkan berapa harus membayarku, kalau kamu punya rejeki, kamu bisa beri aku seikhlas mu dan sepantasnya. Bagiku dengan kamu percaya menitipkan Maya kepadaku saja sudah menjadi kebahagiaan tersendiri," ujar Ibu Sunaryo ketika melihat Soraya yang masih terlihat galau.


"Sebelumnya saya ucapkan terima kasih, tapi nanti saya bicarakan dulu dengan suami. Karena saya tak berani mengambil keputusan sendiri," ujar Soraya sambil senyum tapi masih tampak gelisah.


Benar saja ketika malam harinya Soraya menyampaikan masalah penitipan anak kepada suaminya, lalu dia malah di damprat oleh Mario.

__ADS_1


"Kamu itu bodoh atau apa sih?!!!, Ibu Sunaryo itu sudah tua, lalu kamu menitipkan anak kita kepada mereka. Dimana otakmu?!!!"bentak Mario terlihat begitu kesal kepada Soraya.


"Taapppiiii...".


"Diam!!! dengar...!!! salah satu alasanku tak mau Maya dibawa ke rumah mama mu karena beliau sudah tua. Aku juga tak mau Maya dititip kepada Mamih. Dia anak kita, dan aku mau kita yang urus".


"Perkara kamu mau mengajar silahkan saja, tapi anak kita harus tetap dijaga dengan benar," Mario menggebrak meja dengan keras, lalu masuk kamar dan membanting pintu dengan sangat keras sekali.


GABBRRRUUUKKK !!!!


"Uwaaaa....uwaaaa....!!!" Maya terdengar menangis dari dalam kamar.


Anak itu tadi sedang tidur, mungkin mendengar ayahnya menutup pintu dengan keras sekali membuatnya terbangun karena terkejut.


Soraya segera menghambur ke dalam kamar, tapi Mario sedang memeluk anaknya dan menimangnya agar tidur kembali.


Tangan Mario memberi tanda agar Soraya keluar kamar, karena dia ingin berdua saja dengan bayinya.


Malamnya Soraya tidur di karpet di bawah tempat tidur mereka, karena tak mungkin dia tidur di atas tempat tidur karena kaki Mario melintang melebar memenuhi seluruh tempat tidur tersebut.


Tengah malam seperti biasa Maya akan menangis karena haus dan popoknya sudah penuh jadi harus segera ganti popok dan disusui oleh Soraya.


Selesai ganti pakaian, ganti popok dan disusui, lalu Maya kecil tidur lagi. Soraya meletakan anaknya perlahan ke samping suaminya.


Ketika akan tidur lagi di karpet, terdengar Mario berucap," Istri bodoh, tidur yang benar di atas. Nanti anakmu nangis lagi kalau tidak dekat mamanya".


Soraya menatap suaminya yang tengah bergeser memberikan dia ruang untuk tidur dekat bayi mereka.


Sambil menghela nafas Soraya beringsut mendekati anaknya dan berbaring di antara anaknya dan juga suaminya.


Mario memang pribadi yang sulit diterka, walau bicara pedas tapi dia sangat peduli kepada keluarga apalagi kepada anaknya.


Soraya melirik punggung Mario yang terlihat sudah bernafas dengan teratur pertanda sudah nyenyak, lalu melirik bayi kecilnya yang makin besar makin susah kalau ditutupi selimut.


Dikecupnya kening anaknya sambil dielus kepalanya, kadang ada pikiran buruk melintas.


Kalau saja belum punya anak, dan Oma meninggal kemarin, tentu saja sekarang dia sudah kabur dari Mario.


Tapi mungkin Tuhan punya rencana lain, karena saat ini sudah ada Natalia Mayana Maliangkay bersama mereka.


Tak mungkin bisa lari dari Mario, karena bayi ini adalah anak mereka dan suaminya sangat menyayanginya lebih dari apapun.


Pagi hari Mario seperti biasa membawa Maya berjemur di halaman depan rumahnya.


Pak Sunaryo dan Ibu Sunaryo datang menghampiri dirinya yang tengah menggendong anaknya.


"Selamat pagi Nak Mario, kami senang sekali mendengar akhirnya Maya jadi dititipkan kepada kami. Selama ini kami hanya berdua saja, anak dan cucu datang berkunjung lama-lama sekali. Kalau nanti ada Maya menemani kami berdua tentunya membuat kami bahagia sekali," Pak Sunaryo mencurahkan kegembiraannya karena tahu kalau Maya akan dititipkan kepada istrinya saat nanti Soraya mulai mengajar.


"Iya benar nak Mario, kemarin bapak sampai membersihkan ranjang bayi anak kami dulu. Sudah lama tak dipakai sejak cucu kami yang sudah usia delapan tahun terakhir memakainya. Tapi masih bagus loh, karena jaman dulu kami membeli yang kualitas terbaik," Ibu Sunaryo juga tak kalah senang beliau sangat suka cita akan ada Maya bersama mereka.


Mario tentu saja terdiam, karena semalam dia habis marah kepada istrinya soal penitipan anak kepada Ibu Sunaryo yang sudah tua.


Tapi rupanya Mario salah sangka, Ibu Sunaryo termasuk seorang ibu tua yang masih lincah dan enerjik. Sehingga beliau sangat semangat ketika meminta untuk mengurus Maya kalau Soraya mengajar.


Ibu Sunaryo memasang tangan untuk menggendong Maya, dan bayi itu yang sudah kenal dengan beliau tentu saja mau berpindah begitu saja dari gendongan ayahnya ke pelukan Ibu Sunaryo tanpa menangis sedikitpun malah terlihat bahagia.


Mario tak bisa bicara apa-apa lagi selain terpaksa tersenyum walau dalam hati dia masih merasa tak rela.


Dengan riang kedua orang tua tadi membawa Maya ke rumah mereka.


Soraya keluar rumah sambil membawa mangkuk kecil berisi bubur sup untuk anaknya beserta air putih dalam botol minum kecil.


"Bang Rio, Maya dimana?" tanya Soraya kaget karena suaminya duduk sendirian tidak bersama anaknya.


Mario bangkit dari kursi teras rumah menuju ke dalam sambil berkata ," Kamu urus saja yah, Maya ada di rumah Ibu Sunaryo. Aku cuma minta jangan sampai Maya sakit ketika sedang berada di tangan orang lain".


Soraya hanya diam saja masih merasa bingung, lalu segera menyusul Maya ke rumah Ibu Sunaryo. Dan terlihat anaknya sedang tertawa-tawa karena digoda oleh pak Sunaryo yang ternyata punya banyak mainan anak kecil punya cucunya ketika mereka kecil dulu.


Maya kecil terlihat betah sekali karena di rumah itu ada satu sudut ruangan beralas karpet tebal untuk anak-anak.


Banyak mainan untuk anak kecil yang berbunyi dan bergerak sehingga matanya berbinar-binar senang dengan suasana rumah Bapak dan Ibu Sunaryo.


Makan juga menjadi semakin lahap karena dia bahagia banyak mainan di rumah itu.


Setelah selesai makan, lalu Maya dibawa pulang dulu untuk dimandikan. Soraya bercerita kepada Mario tentang suasana di rumah Pak Sunaryo, sementara Mario hanya mendengarkan saja tanpa ekspresi.


Setelah sarapan Mario segera berangkat ke kantornya, sementara Soraya menyusui Maya yang terlihat mulai mengantuk.


Maya tertidur nyenyak dan Soraya menghubungi Nania mengatakan kalau besok dia sudah siap untuk mengajar di sekolah tersebut.


Nania tentu saja senang mendengarnya dan minta Soraya menyiapkan beberapa dokumen yang harus dibawa besok saat datang ke sekolah.


Sementara Maya tidur, lalu Soraya segera menyiapkan segala dokumen pribadi yang diminta oleh Nania untuk dibawa esok hari.


Malamnya Soraya juga ijin kepada Mario kalau besok dia akan segera mengajar di sekolah swasta tersebut.


Mario hanya mengangguk saja tanpa ada komentar apapun keluar dari mulutnya, sebagai istri sebenarnya ingin sekali mendapat dukungan dari suami tapi kenyataan lain.


Dalam hati hanya bisa berdoa kepada Tuhan, semoga saja mengajar ini akan menjadi awal baik bagi kariernya.

__ADS_1


Soraya jujur tidak ingin terlalu bergantung kepada suami, dia ingin bisa mandiri.


Dalam hati terdalam selalu terselip perasaan kalau suatu saat Mario mungkin saja akan meninggalkan dia bersama anaknya.


__ADS_2