PENGKHIATAN CINTA

PENGKHIATAN CINTA
Big Beauty Resto 3


__ADS_3

Kilas balik tadi pagi saat Kristy baru saja turun dari lantai atas untuk membuatkan lasagna pesanan kakak sulungnya.


Sebelum masuk ke dapur Kristy harus melewati pintu utama, dan dia bertemu dengan Soraya yang baru saja datang dengan mata yang sembab.


"Ibu Soraya, apa kabar? Ada apa gerangan? Mengapa ibu seperti habis menangis?"Kristy bertanya apa adanya saat melihat kondisi Soraya.


Soraya hanya tersenyum sambil saling merangkul dan tempel pipi kiri kanan dengan Kristy.


"Ini kenalkan teman saya, Pak Fuad dan Ibu Aletha. Kami mau makan siang sambil berbincang agak lama di sini. Apakah boleh?" tanya Soraya.


"Salam kenal Pak Fuad dan Ibu Aletha. Silahkan mau lama ngobrol juga tak apa-apa asal pesan makanan yang banyak. Hahahahah," Kristy memberi salam kepada Fuad dan Aletha sekaligus menggoda Soraya.


Tapi Soraya hanya tersenyum sambil berlinang air mata lagi di pipinya.


"Bu, ada apa? coba katakan, siapa tahu aku bisa bantu," Kristy jadi merasa ikut sedih melihat Soraya bicara kepadanya sambil air matanya terus bercucuran.


"Mbak, maaf saya memotong. Lebih baik tolong carikan kami tempat duduk yang lebih privasi. Karena ada hal yang perlu kami bahas bersama," Aletha menyela sambil merengkuh pundak Soraya.


Mendengar itu Soraya hanya mengangguk kepada Kristy dengan mencoba tersenyum sambil air matanya tetap berjatuhan.


Kristy rupanya tidak paham, Soraya memang punya kelemahan yaitu kalau sedang merasa bersedih maka akan terus menangis bahkan bisa seharian.


Soraya sendiri sudah memberitahukan Aletha dan Fuad tadi di mobil.


"Maaf, saya punya kelemahan yang menyebalkan. Saya tidak bisa menahan air mata, seharian saya akan terus menangis walau sudah bisa menguasai perasaan sekalipun".


"Maafkan saya kalau nanti akan terlihat berlebihan, karena kalau ada orang bertanya pasti saya akan menangis lagi walau pertanyaan orang lain tidak ada hubungannya dengan masalah saya," itu yang tadi Soraya katakan kepada Fuad dan Aletha di dalam mobil.


Ketika menuju ke rumah makan dari rumah kost Asmila, lalu Soraya duduk kursi belakang mobilnya.


Menghilangkan rasa kesal dan amarah dengan menidurkan dirinya sejenak agar bisa menguasai perasaan.


Cuma setelah bangun, lalu diajak bicara maka dia langsung keluar air mata, walau tidak menangis tersedu-sedu tapi air mata akan terus bercucuran walau sebenarnya dirinya sudah bisa menguasai perasaannya.


Lalu Kristy menunjukan sebuah meja dan kursi yang terletak di sudut ruangan tidak jauh dari toilet.


"Tempat ini biasanya digunakan oleh anak-anak remaja yang sedang pacaran. Mungkin di sudut sini memang lebih privasi dibanding meja lainnya," ujar Kristy kepada Soraya dan kedua teman barunya.


"Oke, terima kasih Kristy. Yang penting di bagian ini jauh dari meja lain dan juga ada stop kontak, karena kami butuh untuk menyambungkan ke laptop," ujar Soraya.


"Baik, lalu ibu Soraya mau pesan apa?"tanya Kristy sambil tersenyum dan nadanya lembut


Melihat Kristy berkata selembut itu malah membuat Soraya kembali meneteskan air mata, apa saja menjadikan dirinya terharu.


Kalau kata anak muda jaman sekarang namanya lebai alias berlebihan.


"Jangan panggil ibu, sebut saja aku kakak. Panggil kak Soraya saja, aku senang sama kamu," sahut Soraya sambil pipinya basah dengan air mata.


Sementara Fuad dan Aletha yang mendengarkan menahan tawa, karena sudah tahu ternyata Soraya orangnya sangat melow sekali.


Kristy malah menjadi tak enak hati dan bersedih melihatnya, lalu dia meminta Oci untuk melayani pesanan makanan di mejanya Soraya.


Sementara itu Kristy ke dapur untuk membuatkan makanan dan minuman kesukaan kakak sulungnya.


Oci lalu masuk ke dapur dan berkata," Boss cantik, kasihan ibu Soraya menangis terus. Mereka sudah pesan makanan dan minuman, tapi ibu Soraya sambil memesan sambil terus bercucuran air mata".


Rupanya Oci juga jadi merasa khawatir dengan Soraya, dan Kristy memintanya untuk segera membuatkan makanan pesanan mereka sambil dirinya berpikir untuk memberitahukan keadaan Soraya kepada Jimmy atau Aliong.


Ketika mengantarkan makanan ke lantai atas, Kristy melihat kalau Jimmy baru saja akan memulai presentasi di hadapan kedua kakaknya.


Tentu saja dia tak mungkin menggangu, karena setidaknya saat itu Jimmy sedang diminta untuk menjelaskan penawaran untuk pembuatan kampus atas rencana ibunya.


Setelah Kristy sedikit menggoda kakaknya soal pembayaran dan juga minta transfer lebih untuk dirinya, lalu dia mendekati tempat duduk Aliong.


"Ko Aliong, maaf mengganggu, apakah kenal dengan ibu Soraya?" bisik Kristy ke telinga Aliong.


"Ya, tentu saja. Ada apa?" tanya Aliong keheranan.


"Ibu Soraya ada di bawah bersama dua orang teman barunya katanya. Tapi sejak tadi datang sampai sekarang, beliau masih terus menangis," Kristy memberitahu kondisi Soraya.


"Oh begitu, baik saya ke bawah sekarang," sahut Aliong sambil beranjak berdiri sambil meminta ijin kepada Jimmy untuk ke bawah mengikuti Kristy.


Jimmy hanya mengangguk sambil melanjutkan presentasi ke hadapan Louis Orlando Handoyo dan juga Andreas Cheung.


"Duduk dimana Soraya?" tanya Aliong ketika tidak terlihat ada Soraya di meja manapun.


"Ada di sana, di balik dapur dekat toilet. Ada kursi pojok yang privasi di sana," jawab Kristy dan Aliong segera berjalan cepat menuju kesana.


"Soraya, kamu kenapa?" tanya Aliong saat sudah melihat sosok Soraya.


Tentu Soraya segera menengok arah suara dan ketika melihat ada Aliong, maka serta merta air matanya kembali berjatuhan ke pipinya.


"Ko Aliong...huhuhuhu," Soraya terisak-isak sedih ketika bertemu Aliong.


"Ada apa ini? anda berdua siapa?" Aliong terlihat keheranan melihat istri sahabatnya menangis ditemani oleh orang yang belum dikenalnya.


Lantas Aliong duduk di samping Soraya, dan menatap istri sahabatnya itu dengan penuh pertanyaan.


"Ko Aliong, ini pak Fuad dan ibu Aletha. Mereka berdua adalah keluarga sesama korban kecelakaan di Palembang kemarin ini," Soraya menjelaskan sambil sedikit tersengal-sengal.


"Istri pak Fuad adalah Asmila, dan ternyata....huhuhuhu," Soraya sekarang benar menangis tersedu-sedu dihadapan Aliong.


Runtuh sudah kekuatan menahan perasaannya, sekarang Soraya menangis penuh dengan rasa luka di hati.


"Ternyata apa?" Aliong ingin tahu.


"Pak, istri saya kedapatan telah berselingkuh dengan suami ibu Soraya selama ini," Fuad mencoba menjawab pertanyaan Aliong.


"Mario selingkuh? hmmm, saya tidak yakin," Aliong malah mendebat pernyataan Fuad.


"Benar, kami baru saja dari rumah kost Asmila. Banyak pakaian Mario, bahkan pengurus tempat itu mengatakan kalau Mario sering menginap di sana," Soraya menjelaskan sambil menangis.


Aliong tertegun sejenak, lalu memandang ke arah Soraya dan berkata," Aku dulu pernah bahkan sering mengajak Mario mabuk, menyanyi di karaoke, memanggil wanita malam untuk menemani menyanyi. Tapi hanya Mario yang tak pernah tertarik dengan wanita-wanita itu".


"Kalau urusan mabuk dia memang jagonya. Tapi main perempuan sama sekali dia tak mau. Makanya aku tak percaya kalau dia melakukan perselingkuhan".


Soraya menarik nafas berat, lalu menatap Aliong dan berkata," Aku juga awalnya tak percaya, tapi kenyataan dan buktinya semua ada".


Fuad melirik Aliong sambil salah dagunya ditopang oleh tangan kanannya, sementara jari-jari tangan kirinya mengetuk-ngetuk badan laptop miliknya.


"Berarti pak Fuad punya bukti kuatnya? bolehkah saya melihatnya?"tanya Aliong sambil membalas tatapan Fuad.


"Ada, tapi sebelumnya mari kita lihat dulu kondisi mobil yang terjungkal ke dalam sungai kemarin ini. Saya mengambil beberapa fotonya, biar kita semua bisa melihat bersama-sama "ujar Fuad mengajak Aletha, Soraya juga Aliong foto pada laptopnya.


Lalu Fuad menyalakan laptopnya dan membuka sebuah folder berjudul Palembang yang berisikan foto-foto mobil yang terjungkal masuk ke dalam sungai kemarin ini.


"Kaca belakang ini pecah, dan ada kayu menusuk dada suami saya," ujar Aletha sambil jarinya menunjuk gambar jendela bagian belakang mobil yang pecah.


Soraya merinding mendengarnya, lalu menatap Aletha.


"Saat itu suami saya sedang memeluk bayinya. Dan kata orang-orang setempat di lokasi kejadian, kayu yang menancap di dadanya itu tak sengaja terdorong oleh salah seorang tim pencari korban. Dan jenazah bayinya menyembul ke permukaan air," lanjut Aletha sambil matanya mulai memerah.


"Suami anda hanya berdua dengan bayi saja? Mengapa anda tidak ikut serta saat itu?" tanya Aliong tak paham ceritanya.

__ADS_1


Mendengar itu Aletha tersenyum, lalu terdiam sejenak sambil menarik nafas dalam-dalam, dan melanjutkan perkataannya.


"Suami saya bersama istri sirinya, dan itu bayi mereka. Istri sirinya itu dulu adalah perempuan yang sudah saya anggap adik sendiri, karena dia adalah sahabatnya adik saya di kampusnya".


Soraya terkejut lagi, lalu sambil berurai air mata, dia segera menggenggam tangan Aletha mencoba memberikan semangat kepadanya.


Aletha membalas Soraya dengan senyum saja dengan air mengalir perlahan di pipinya.


"Kalau begitu suami saya duduk di kursi tengah sini. Mengapa dia tidak membuka pintu mobil itu?" Soraya menatap lekat gambar di laptop Fuad.


"Tidak bisa dibuka, bu. Bagian tengah pintu ini menjorok ke dalam sehingga pintu tidak bisa digeser," sahut Fuad sambil menunjukkan kondisi pintu mobil.


"Soraya, lihat pintu mobil ini jenis pintu geser. Kalau tertekuk bagian relnya, maka tidak bisa digeser sama sekali. Coba kamu perhatikan, bagian rel ini tertekuk ke dalam," Aliong menunjukan kepada Soraya atas apa yang dilihatnya.


"Berarti Mario waktu itu pasti sempat mencoba membuka pintu tapi air masuk dari jendela pecah. Sehingga dia kehabisan nafas di dalam sana," Soraya membayangkan suaminya saat kejadian kemarin.


"Istri saya malah lehernya patah, kemungkinan dia membentur sesuatu yang keras atau tertimpa sesuatu benda keras yang ada di mobil tersebut," Fuad juga ikut menceritakan kondisi istrinya.


"Kalau kata orang sekitar, yang paling baik jenazahnya adalah pria berkulit putih. Mungkin pak Mario, karena suami saya jantungnya tertancap kayu, lalu istri sirinya kepalanya retak tertimpa koper berat," Aletha menyampaikan apa yang dia sempat dengar dari penuturan orang sekitar sungai kemarin.


"Bahkan yang duduk di depan, ada yang matanya tertusuk kaca mata dan sopir tangannya terbelit kemudi juga kakinya tersangkut pedal," Fuad menambahkan.


"Memang sewaktu jenazah suami saya tiba, terlihat tidak banyak luka. Hanya tubuhnya membengkak membiru, dan ternyata Mario mengidap penyakit kanker paru-paru," ujar Soraya sambil kembali air matanya membanjir.


"Nah, berarti benar apa kata teman istri saya kemarin. Ternyata istri saya telah menghubungi temannya yang orang Palembang. Istri saya mau mengajak temannya berobat ke kyai di sana. Berarti benar istri saya mengantar suami anda," Fuad langsung teringat akan penjelasan Ratna sewaktu di Palembang kemarin.


Soraya menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Mario itu punya kakak seorang dokter terkenal, bahkan dia berobat kepada teman adiknya. Selama ini kami tidak tahu dan tidak diberitahu kalau Mario kanker paru-paru. Baru kami ketahui saat sudah meninggal. Istri macam apa aku ini," Soraya kembali tersedu-sedu.


"Soraya, sudah kamu jangan menangis terus. Kamu harus tegar, harus ikhlas. Mungkin memang sudah suratan Yang Kuasa kalau Mario harus meninggal demikian," Aliong membujuk Soraya.


"Ya, aku sudah berusaha tegar. Tapi mengapa, mengapa Mario harus menceritakan segala sakitnya bahkan pergi berobatpun bersama istri pak Fuad. Mengapa bukan aku, mengapa dia tidak mengatakan kepada aku dan meminta aku menemaninya. Aku ini istrinya... huhuhuhu," Soraya menangis lagi seakan tidak terima kenyataan yang telah terjadi.


Fuad menghela nafas, lalu tersenyum sambil berkata," Bu Soraya, kalau mau berkata begitu. Saya juga bisa, bu. Asmila istri saya, mengapa Mario harus mendatangi istri saya. Menggoda istri saya, bahkan mungkin sudah meniduri istri saya. Asmila juga punya suami, saya ini suami dia".


Aletha melihat tampaknya antara Soraya dan Fuad ada sedikit ketegangan, lalu dia segera mencoba menengahi.


"Ooo...sudahlah. Jangan saling menyalahkan. Semua sudah terjadi. Kita bertiga punya nasib yang sama, kehilangan pasangan, dikhianati pasangan. Tidak ada satupun yang bisa dibenarkan atau dipersalahkan".


"Baik Asmila maupun Mario tentu punya alasan sampai mereka menjalin hubungan dan mengkhianati kalian. Bahkan suami aku juga pastinya demikian".


"Kita sekarang berkumpul bertiga bukan untuk saling menyalahkan. Tapi seharusnya kita bisa kompak, kita bisa jadi teman bahkan jadi saudara".


"Kalau ibu Soraya masih belum bisa menahan perasaan. Lebih baik kita akhiri pertemuan ini, jangan diteruskan lagi bukti berikutnya. Karena pasti akan jauh lebih menyakitkan kalau dilihat," Aletha bicara panjang lebar memperingatkan Soraya dan Fuad.


Soraya masih menangis, lalu Aliong kembali menyodorkan air minum kepadanya.


"Benar kata ibu Aletha, kamu siap tidak untuk mengetahui kebenaran yang ada. Juga sudah siap belum melihat bukti selanjutnya. Karena nanti kamu terbawa perasaan lagi, lalu mulai menyalahkan diri sendiri dan merembet ke orang lain lagi," Aliong menjelaskan kepada Soraya.


"Saya sudah lewat masa terluka dan marahnya. Mungkin karena ibu Soraya baru paham, jadi pastinya sedikit terguncang," Fuad mulai merendahkan nada bicaranya lagi.


"Ya, aku berusaha untuk menahan semua perasaan ini. Dan aku harus bisa melihat semua bukti yang ada. Ko Aliong, jangan pergi. Temani saya di sini," pinta Soraya.


"Oke, kalau ibu Soraya yakin. Saya mau lanjutkan dengan folder berikutnya. Tapi saya mohon, jangan terbawa emosi. Karena memang benar kata mbak Aletha, lebih menyakitkan lagi semuanya," Fuad mencoba memberikan penawaran kepada Soraya.


"Saya siap, silahkan lanjutkan," pinta Soraya.


Fuad sejenak saling bertatapan dengan Aletha, lalu Aletha tersenyum canggung sambil mengangkat bahunya. Lantas Fuad menatap Soraya, dan dibalas dengan anggukan oleh Soraya.


"Ini foto diambil dari kamera ponsel Mario. Kemungkinan ini diambil secara diam-diam, dan kalau saya ingat ini kejadian dua tahun lalu. Saat pertama kali istri saya mendapat penghargaan dari direkturnya," ujar Fuad sambil memperlihatkan foto Asmila mengenakan gaun merah di suatu acara.


"Wildan !!!?" Soraya dan Aliong terkejut dan berucap nama itu bersamaan.


Lalu foto lainnya digeser, tampak juga Danu seperti sedang berkata-kata sambil membelakangi acara Asmila tersebut.


"Apakah Wildan dan Danu tahu sesuatu tentang hubungan mereka?" Soraya bertanya sambil menatap Aliong.


"Aku tak paham, saat itu aku masih di dalam," sahut Aliong.


"Aku yakin Wildan tahu, baru ingat. Sewaktu acara pengkremasian jenazah ibunya Ko Aliong. Kalau tak salah aku melihat Wildan berbincang dengan Asmila, dan mereka tampak akrab. Aku harus mempertanyakan kebenaran ini kepadanya," Soraya tiba-tiba jadi semangat lagi.


"Saya yakin, hubungan mereka dimulai sejak acara di hotel tersebut. Tapi saya lupa nama hotelnya, dan di foto juga tak ada nama hotel itu," kata Fuad sambil meneliti tampilan foto.


"Besok aku tanya sama Marsela, dia sekertaris Mario. Dan sekarang masih bekerja di kantor suamiku dulu," Soraya berbinar matanya.


"Nah, selanjutnya foto ibu pernah keluar negeri bersama keluarga rupanya".


"Iya, dulu saya satu tahun sekolah lagi di New Zealand".


"Nah, bisa jadi saat itu awal kejadiannya," Aletha tiba-tiba menyela.


"Mungkin".


"Lanjutnya mana lagi?" tanya Aliong.


"Ini percakapan chat, silahkan baca sendiri. Ada beberapa chat hasil tangkapan layar pada ponsel istri saya juga Mario".


Aliong, Soraya bahkan Aletha juga jadi ikut membaca pesan chat tersebut.


Lalu Aliong tertawa kecil sambil geleng-geleng kepala, sementara Soraya dan Aletha tampak bingung membaca chat itu.


"Tak ada apa-apa di chat mereka, hanya bertanya dimana, lalu di jawab di tempat biasa, lalu on the way. Hanya seperti itu, tak ada rayuan atau kalimat gombal," Aletha keheranan.


Fuad dan Aliong bertatapan, lalu keduanya tertawa kecil," Pak Aliong, cewek pasti tak paham".


Aliong menganggukan kepalanya mengiyakan kalimat Fuad.


"Maksudnya bagaimana?" Soraya bertanya sambil menatap Aliong.


Sambil menghela nafas, Aliong menjawab," Mereka sudah dalam hubungannya, jadi hanya mereka berdua yang sudah saling tahu tempat yang biasa mereka jadikan tempat pertemuan keduanya".


Soraya mencoba mencerna kalimat Aliong, lalu tersadar kalau sebenarnya antara Mario dan Soraya punya tempat rahasia yang hanya mereka berdua yang tahu.


Tanpa perlu menulis panjang lebar dalam chat, tapi keduanya sudah saling paham untuk bertemu dimana.


Air matanya jatuh lagi, Aletha dan Fuad kembali berpandangan sambil saling geleng kepala, karena sejak tadi Soraya terus menangis tanpa henti.


"Kalian ada di sini?" tiba-tiba terdengar suara dari belakang mereka.


Fuad dan Aletha cukup terkejut melihat ada lelaki yang wajahnya mirip dengan Mario.


Terlihat lelaki itu mendekat, lalu berbincang dengan Aliong dan Soraya. Tak lama lelaki itu berlalu dan masuk ke toilet.


"Kalau bisa, keluarga suami saya jangan sampai tahu dulu masalah ini," ujar Soraya ketika lelaki itu berlalu.


"Siapa dia?" tanya Aletha.


"Itu adik suami saya, namanya Jimmy," jawab Soraya.


"Ya, Jimmy dan saya sedang presentasi di atas. Tapi tadi Kristy pemilik rumah makan memberitahu ada Soraya menangis. Jadi saya turun meninggalkan ruangan rapat," Aliong menjelaskan kepada semuanya.


Fuad dan Aletha memahami kalau tenyata kehadiran Jimmy karena kebetulan sedang ada pekerjaan di rumah makan itu.

__ADS_1


"Sebentar aku ke sana dulu, nanti aku gabung di sini," ujar Jimmy ketika selesai dari toilet.


Soraya dan Aliong tak menjawab apapun, hanya menatap Jimmy dengan bingung karena tak tahu mau berkata apa untuk menghindari agar tak usah ikut bergabung dengan mereka.


"Sudah, foto mereka berdua dan juga chat, aku simpan di tempat lain. Nanti adik suami ibu bisa melihat foto mobil terjungkal saja," Fuad mencoba menenangkan Soraya.


Sementara itu di dapur terlihat Kristy sedang mempraktekkan apa yang tadi Jimmy sampaikan kepadanya, dia lakukan resep singkat yang tadi Jimmy sebutkan.


"Iya, benar Joy, ini lebih wangi dan lebih enak. Kita salah tadi rupanya," ujar Kristy ketika ikan woku buatannya sudah matang.


"Berarti resep ini kita harus kita patenkan buat selanjutnya," sahut Joyo sang koki masak di dapurnya Kristy.


"Deal, sekarang kita lebih percaya diri kalau minggu depan kita luncurkan masakan Manado," ujar Kristy penuh semangat.


"Kayaknya resep cinta, ehem...


ehem...ehem...," sela Oci sambil berlalu dari dapur.


"Oci reseh," Kristy menghela nafas sambil sebal.


"Kalau resep panada, bagaimana, bu?" tanya Joyo kepada Kristy.


(Kue khas Manado yang isinya ikan tuna pedas, bentuknya seperti pastel)


"Itu dia, dulu sewaktu aku kecil, mama aku sering memesan kue panada dari ibu Liz namanya. Hanya orangnya sudah meninggal, aku tak tahu apakah keluarganya meneruskan usaha itu atau tidak. Karena dulu juga yang aku dengar dari mama, kalau ibu Liz itu membuat kue kalau iseng saja," Kristy ingat jaman dulu ibunya sering memesan kue khas Manado itu.


"Nah, kan ada orang Manado. Mungkin beliau paham keluarga pembuat kue itu. Biasanya orang dari suku lain, bertemu di pulau Jawa suka membentuk komunitas sendiri. Misal komunitas Sumatera, komunitas Sulawesi, Papua dan sebagainya,"Joyo mencoba memberikan masukan kepada Kristy.


"Bisa jadi, nanti coba Oci suruh tanya kepada pak Jimmy," Kristy jadi semangat lagi.


Lalu dia memanggil Oci, dan memintanya untuk bertanya kepada Jimmy tentang keluarga ibu Liz penjual kue panada.


Jimmy sudah selesai berurusan dengan Louis Orlando Handoyo dan juga Andreas Cheung. Besok dirinya ditunggu mereka di gedung Margo's Tower di bilangan pusat kota Jakarta.


Sebelum keduanya pulang terlihat baik Louis maupun Andre meminta kepada Kristy untuk menyiapkan ruangan atas nanti malam.


Tampaknya keluarga besar mereka akan makan malam di tempat ini nanti malam.


"Oke, nanti aku siapkan," ujar Kristy sambil memeluk dan mencium pipi kiri dan kanan Louis Orlando juga Andreas Cheung.


Mereka berpamitan, dan setelah keluar pintu rumah makan segera Kristy membalikkan badan tanpa memandang Jimmy dan Ferry yang juga berada di pintu.


"Ferry, kamu duluan saja ke kantor. Bawa saja mobil aku, nanti aku pulang ke kantor lagi bersama Aliong dan kakak ipar saya," ujar Jimmy kepada Ferry.


"Siap boss," sahut Ferry sambil berlalu dan Jimmy melangkah menuju meja Soraya berada tadi.


"Saya Jimmy, adik iparnya ibu Soraya. Maaf tadi saya sedang bersama klien," ujar Jimmy sambil menyalami Fuad dan Aletha.


"Kak Aya kenapa menangis?" tanya Jimmy keheranan.


"Ini Pak Fuad dan Ibu Aletha baru dari Palembang. Mereka sesama keluarga korban kecelakaan kemarin. Dan tadi pak Fuad memperlihatkan foto kecelakaan kemarin, kebetulan mobil yang terjungkal belum di tarik ke darat," Aliong menjelaskan kepada Jimmy.


"Oh, apakah boleh saya lihat?" pinta Jimmy kepada Fuad.


Tentu Fuad memperlihatkan sambil mencoba kembali menerangkan kondisi saat kecelakaan seperti yang dia dengar dari penduduk sekitar lokasi kejadian.


"Saya tidak sangka, kakak saya bisa meninggal dengan cara begini. Yah, tentu bapak dan ibu juga sama dengan kami, tidak menyangka bisa terjadi seperti begini," Jimmy mencoba memberikan komentar saat melihat foto tersebut.


"Boleh saya minta salinan foto itu?" tanya Jimmy kepada Fuad.


"Tentu boleh, mau via email atau bluetooth?" tanya Fuad.


"Bluetooth saja," sahut Jimmy sambil mengaktifkan perangkatnya.


"Jimmy, jangan diperlihatkan kepada mamih dan papih. Aku takut mereka bersedih juga seperti aku," ujar Soraya.


"Tidaklah, nanti aku mau perlihatkan kepada bang Robert. Tenang saja kak Aya," sahut Jimmy.


"Sudah jam dua siang, aku harus jemput anak-anak," tiba-tiba Soraya terkejut saat melihat jam dinding.


"Ayo, kita jemput bersama. Ko Aliong yang menyetir," ujar Jimmy.


"Kami naik taksi saja, yah," Fuad dan Aletha merasa tak enak hati.


"Jangan, ayo bersama saja. Kita harus lebih saling mengenal, punya pengalaman yang sama maka alangkah baiknya kita jadi saudara," Jimmy menepuk bahu Fuad dan keduanya tersenyum.


"Pak Jimmy!!!"panggil Oci tiba-tiba.


"Ada apa?" tanya Jimmy.


"Boss, tadi boss cantik minta aku menanyakan kepada pak Jimmy. Apakah tahu keluarga ibu Liz, orang Manado yang dulu suka membuat kue panada?" tanya Oci.


"Oh, tahu banget dong. Kenapa memangnya?".


"Oh, begitu. Boss cantik mau belajar membuat kue itu, apakah boss Jimmy tahu alamatnya?" tanya Oci lagi.


"Tahu banget, dari tadi aku bilang juga," sahut Jimmy lagi.


"Minta dong alamatnya".


"Suruh boss kamu yang minta sendiri sama aku".


Oci cekikikan mendengar itu, lalu segera masuk dapur untuk menyampaikan kepada Kristy.


Aliong tengah membayar pesanan makanan dan minuman dari meja Soraya.


Tampak Fuad juga mengeluarkan dompet merasa tak enak hati, tapi Aliong menolak karena dia memang sudah memegang uang dari Marsela tadi pagi.


Aliong segera meminta kwitansi, dan ternyata pesanan yang dia bayar hanya dari meja Soraya saja, karena pesanan rapat sudah dibayar oleh Andreas Cheung.


Kristy keluar dapur dengan wajah cemberut, lalu mendekati Jimmy.


Sambil menahan perasaan jengkel dia mencoba bicara kepada Jimmy meminta alamat ibu Liz tersebut.


"Ada tiga syaratnya," ujar Jimmy.


"Apa syaratnya," sahut Kristy dengan ketus.


"Hmmm, nomor satu saya minta maaf atas ucapan saya kemarin ini. Jadi tolong maafkan saya," ujar Jimmy sambil menatap Kristy.


Sambil menelan ludah, Kristy menjawab," Ya, saya maafkan".


"Nomor dua, tolong buka blokir nomor saya di ponsel anda".


"Oke, ini sudah saya buka blokirnya".


"Nah, nomor tiga....," Jimmy sengaja menahan bicaranya.


"Apa nomor tiga?"tanya Kristy.


"Nanti lagi nomor tiga. Sekarang tunggu nanti malam saya kirim chat alamatnya ibu Liz," sahut Jimmy sambil senyum penuh kemenangan.


Kristy terlihat sebal dan jengkel melihat ulah Jimmy yang seakan mempermainkan dirinya.

__ADS_1


__ADS_2