
"Kamu sarapan dimana?" tanya Kristy saat melakukan video call dengan Jimmy.
"Tumben, semalam kamu video call, sekarang video call lagi. Kangen sama aku, yah," Jimmy menggodanya.
"Enggak juga, sesekali boleh dong video call," timpal Kristy.
"Aku masih di rumah, sekarang sedang sarapan pagi. Ini lihat roti isi telur mata sapi dan sayur selada, aku tambahkan mayonaise dan sedikit saus sambal," Jimmy memperlihatkan roti yang ada di piringnya.
"Hmmm, ya sudah. Aku cuma tanya saja, sebab belakangan ini kan kamu selalu sarapan di tempatku. Sejak semalam, kok kamu berubah, aneh saja sih. Sudahlah sebenarnya tidak ada apa-apa juga. Maaf yah, sudah dulu teleponnya," ujar Kristy ingin mengakhiri pembicaraan.
"Tunggu !!! sudah dulu? aku berubah? berubah apanya? semalam kamu video call aku ketika aku baru saja sampai di rumah. Sekarang ini kamu video call lagi disaat aku masih di rumah sedang sarapan. Jadi apa yang berubah dan yang aneh," sahut Jimmy sambil tertawa kecil.
"Iya, aku salah. Maaf, sudah dulu. Terima kasih," sahut Kristy sambil langsung mematikan ponselnya.
Jimmy jadi kebingungan karena Kristy tiba-tiba mematikan sambungan telepon, dan ketika Jimmy berusaha menelepon balik, ternyata tidak diangkat oleh Kristy.
Beberapa kali mencoba menghubungi, dan tidak diangkat juga, sampai Jimmy kesal sendiri akhirnya.
Lalu Jimmy mengirim pesan singkat kepada Kristy," Aku sarapan di rumah, karena pagi ini ada janji dengan kakakmu, Louis Orlando. Kalau tadi aku ke tempatmu dulu, akan jauh lagi ke kantor kakakmu. Kalau sampai aku terlambat nanti, kamu pasti tahu sendiri kan bagaimana kakakmu itu".
Terlihat kalau Kristy sudah membaca pesan itu, tapi tidak membalas apapun kepada Jimmy.
Daripada mood jadi berantakan, setelah sarapan Jimmy segera berangkat menuju The Margo's Tower, karena dirinya sudah ditunggu oleh Louis Orlando Handoyo di sana.
Setengah jam kemudian Jimmy sudah tiba di basemen parkiran The Margo's Tower, lalu setelah turun dari mobil segera masuk gedung lalu naik lift menuju lantai kantor Andreas Cheung.
"Permisi," ujar Jimmy ketika tiba di ruangan Andreas Cheung.
"Masuk Jim," sambut Louis Orlando yang tengah duduk di sofa sambil melihat laptopnya.
Sementara Andreas Cheung tengah duduk di meja kerjanya, dan hanya mengangguk saja kepada Jimmy tanpa banyak bicara.
Jimmy segera duduk di salah satu sofa yang ukurannya lebih personal.
"Jim, akhir bulan depan lantai satu bisa beres?" tanya Louis Orlando sambil meliriknya.
"Dari jadwal yang kami susun, diperkirakan akhir bulan depan lantai satu selesai. Langsung menyambung proses pengecoran untuk membangun lantai dua. Sambil berjalan juga proses pembangunan gedung aula di bagian belakang," sahut Jimmy memberikan penjelasan kepada Louis.
"Hari ini kamu jalan bersamaku, aku mau mencari keramik untuk lantai dan dinding," kata Louis yang diikuti anggukan oleh Jimmy.
"Andre, tolong transfer seratus juta rupiah ke rekening Jimmy. Aku mau beli keramik, biar Jimmy nanti bisa membayarkan uang muka kepada penjual," perintah Louis yang segera dilakukan juga oleh Andreas Cheung.
Lalu Jimmy dan Louis segera turun dari gedung tersebut menuju mobilnya, mereka berdua pergi bersama.
Sepanjang jalan sambil menuju beberapa penjual keramik, mereka terus berbincang membahas masalah pekerjaan yang harus segera Jimmy lakukan.
Tiba-tiba ponsel Louis berbunyi, dan Louis tampak aneh ketika akan menjawab panggilan tersebut.
"Bontot kok video call?" ujar Louis bicara sendiri tapi terdengar oleh Jimmy yang sedang mengemudikan mobil.
"Halo, ada apa Bontot? tumben kamu video call?" tanya Louis ketika menjawab panggilan dari adik bungsunya itu.
"Iseng saja, hihihihi. Kan Ando mau pulang ke Semarang, yah? kapan sih? Aku mau ada titipan buat anak-anak juga buat Teti," sahut Kristy sambil menampilkan senyum manja kepada kakaknya.
"Iya, nanti aku sebelum pulang ke Semarang, mampir ke rumah makanmu. Aku lama di sana nanti, sebulan lebih, pokoknya selama puasa sampai setelah Idul Fitri saja," Louis juga menjawab kalimat adiknya demikian.
"Oke, aku tunggu, yah. Kelihatannya sedang di jalan, sama siapa?" Kristy bertanya menyelidiki dengan sangat manis.
"Oh, aku jalan sama Jimmy. Sedang mencari bahan untuk bangunan kampus. Tuh, lihat orangnya sedang menyetir," sahut Louis lagi sambil memiringkan ponselnya ke arah Jimmy.
Sambil tetap mengemudi Jimmy hanya melirik saja ke ponsel Louis yang tengah menampakan wajah Kristy.
"Ando, apa-apaan sih... aku kan cuma tanya Ando dimana. Sudah dulu yah, pokoknya aku tunggu Ando, kalau mau pulang ke Semarang ingat mampir dulu kemari," ujar Kristy saat menyudahi pembicaraan dengan kakaknya.
"Aneh, adik gue tiba-tiba video call, padahal biasanya dia kayak anti gitu kalau diajak video call," ujar Louis kepada Jimmy yang merasa aneh dengan tingkah Kristy.
Jimmy hanya senyum saja, sambil dalam hatinya berkata kalau dia juga sedang merasa aneh dengan tingkah Kristy sejak semalam.
"Lu suka telepon adik gue, Jim?" tanya Louis tiba-tiba dan membuat Jimmy kaget.
"Sekali- sekali saja," sahut Jimmy sambil senyum canggung.
"Kalau misal lu benar suka sama adik gue, lu maju saja tapi harus tulus dan serius. Jangan cuma memanfaatkan karena keluarga gue orang berada. Padahal keluarga kami juga enggak kaya-kaya banget sih, masih banyak yang lebih dari keluarga kami," tiba-tiba terlontar ucapan seperti itu dari bibir Louis.
Jimmy makin salah tingkah mendengar penuturan Louis yang mencengangkan seperti itu, tapi dia bingung kalau mau menanggapi pernyataan Louis tersebut.
"Kasihan adik gue, orang tua kami ribut pengen jodohin dia, terutama bapak gue. Sekarang bapak gue lagi ke Belanda, urusan bisnis sekalian mau mencoba menjodohkan adik gue sama anak rekan bisnisnya di sana," lanjut Louis lagi.
Jimmy membelalak kaget mendengar penuturan lanjutan dari Louis tersebut, dadanya tiba-tiba sesak mendengar kalimat itu.
"Cuma gue yakin kalau adik gue enggak bakalan mau. Dia sama kayak gue, enggak pernah bisa sepaham sama pemikiran bapak gue. Susah bapak gue itu suka memaksakan keinginan sendiri, sementara gue sama Kristy enggak bisa diperlakukan begitu," Louis masih melanjutkan ceritanya kepada Jimmy dan yang ini agak sedikit melegakan hati Jimmy.
"Tadi kalau tidak salah dengar, boss Louis akan puasa, apakah anda muslim?" tanya Jimmy hati-hati.
"Ya, gue muslim. Keluarga besar kami beragam kepercayaan. Sejak mama gue meninggal, lalu gue tinggal bersama nenek di Semarang. Sebenarnya itu nenek tiri, ibu sambung papaku. Tinggal di sana, lalu gue malah belajar agama Islam. Dan merasa nyaman dengan agama Islam sampai sekarang".
"Papa menikah lagi dengan mama Ivanna, kebetulan beliau orang Rusia yang tidak punya dasar agama apapun. Akhirnya beliau memilih ikut agama papa yaitu Katolik".
"Lalu Stevie sejak menikah dengan Andreas Cheung, ikut agama suaminya itu menjadi pemeluk agama Budha. Tinggal bontot Kristy, sama dia juga tidak memeluk agama apapun dengan pasti. Katanya nanti saja ikut agama suaminya," jawaban Louis itu membuat Jimmy senang, setidaknya dia bisa punya kesempatan menjadi seorang imam dalam pernikahan kepada Kristy.
Louis menatap Jimmy yang terlihat senyum-senyum sendiri, tapi Louis tidak berkata apa-apa hanya menebak dalam hati kalau Jimmy diam-diam punya niat baik kepada adiknya.
Di tempat lain, Erika dan Chika sedang mendengarkan curahan kekesalan Yanti karena semalam tidak jadi diantar pulang oleh Jimmy.
"Sehabis kalian pergi, lalu gue masuk mobil Jimmy. Pas di depan perempatan jalan, dia menepikan mobil dan memesankan gue taksi on line".
"Alasan dia, apartemen gue terlalu kejauhan. Dia pagi ini ada janji sama orang lain, jadi tadi malam gue diturunin di jalan lalu naik taksi yang sudah dia pesan," Yanti menuturkan kekesalannya kepada kedua temannya.
"Taksinya yang bayar siapa?" tanya Chika.
"Jimmy yang bayar, kan pakai aplikasi punya dia," sahut Yanti.
"Menurut pengamatan gue sih, Jimmy kayaknya sudah kagak ada rasa sama elu. Semalam gue lihat dia ngobrol tapi sudah tidak pakai perasaan cinta lagi kalau ngomong sama elu," Erika memberitahukan penilaiannya.
"Iya, kelihatannya begitu. Tapi kalau elu mau nekad buat dapetin dia, gue sama Erika sih bakal mendukung saja. Asal paham dong, mobil Erika juga butuh minum, gue sama Erika butuh rokok," Chika langsung saja kepada intinya.
__ADS_1
"Tenang, duit gue masih banyak. Mantan suami gue juga masih ngirim, terus cowok di lantai atas juga terkadang suka ngasih duit ke gue, asal gue nemenin dia mabuk," jawab Yanti dengan entengnya.
"Mending elu kayak gue sama Chika, jadi simpanan pejabat. Mereka datang menemui kita paling seminggu sekali, tapi duit lancar, rokok jalan, pacaran sama cowok lain juga bisa. Daripada elu ngejar mantan pacar, belum tentu juga dia masih mau sama elu," Erika memberi jalan sesat lagi kepada Yanti.
"Tapi kalian berdua hidupnya kayak penuh ketakutan, takut ketahuan bininya pejabatnya, takut ketahuan sama anak buah pejabatnya. Mending gue, sama ini jalan, sama itu jalan," Yanti mencoba membela diri.
"Tapi elu ribet, pengen ngejar mantan pacar. Pasti elu pengen cari status, yakin elu pengen kawin sungguhan," tukas Chika dengan tatapan tajam.
"Nikah sungguhan untuk sekarang sih gue belum kepingin. Tapi punya kekasih tetap, gue kepingin banget," sahut Yanti membalas perkataan Chika.
"Kenapa harus mantan pacar yang elu kejar. Cowok lain bisa juga, kan?" Erika kembali mempertanyakan.
"Sambil jalan saja, gue kejar Jimmy demi memuaskan rasa penasaran karena dulu pacaran beberapa tahun lamanya, dia tidak pernah menyentuh gue sama sekali. Paling ciuman doang, itu juga ciuman sopan," Yanti membeberkan yang sebenarnya dia inginkan.
"Sinting Yanti, begini saja. Gue sama Chika punya prinsip sendiri, nah lu juga punya prinsip sendiri. Gue enggak mungkin nemenin elu terus mengejar Jimmy, sama Chika juga begitu. Jadi menurut gue, silahkan elu kejar Jimmy, sementara gue sama Chika membantu sekedarnya saja," Erika memutuskan untuk membatasi membantu Yanti.
"Oke, tak masalah. Aku tetap akan kejar Jimmy sampai dapat. Karena aku yakin dia sesungguhnya masih cinta kepadaku," Yanti kukuh dengan keinginannya.
Siang itu Yanti turun dari apartemennya akan berangkat menuju salon kecantikan, rencananya akan creambath dan blow rambutnya.
Ketika tiba di lobby apartemen, tidak sengaja bertabrakan dengan seorang pria asing.
"Wow...bule ganteng," ujarnya dalam hati.
"Maaf, saya tidak sengaja. Saya orang baru di sini," pria asing itu memohon maaf padanya.
"Tidak apa-apa," sahut Yanti yang cukup terkejut karena pria asing itu fasih berbahasa Indonesia.
"Saya John Dawson, baru hari ini akan tinggal di lantai tujuh belas".
"Damayanti, saya tinggal di lantai lima belas".
"Senang berkenalan dengan anda, nanti kapan-kapan saya main ke tempat anda," ujar John Dawson.
Yanti hanya tersenyum dan mengangguk, namun lirikan matanya mengundang penuh arti kepada John Dawson.
Di kampus terlihat Soraya sedang sibuk mengetik, setelah selesai mengetik tugas untuk mahasiswanya, sekarang sibuk mengetik proposal untuk diserahkan ke Stevie esok lusa.
"Sibuk amat, mau makan siang bareng enggak?" tanya Otang petugas administrasi perpustakaan yang merupakan sahabatnya.
"Aku sudah pesan tadi lewat petugas kebersihan. Sepertinya aku harus makan sambil mengetik, banyak sekali yang harus aku selesaikan hari ini," sahut Soraya menjawab Otang.
Lalu Otang menarik salah satu kursi kosong yang ada di ruangan itu dan duduk di samping Soraya.
Otang ingin tahu apa yang sedang Soraya lakukan sampai terlihat begitu sibuknya.
Kalau sudah ada Otang pasti akan ada Oti juga, karena mereka adalah Triple O, yaitu Oti, Oya dan Otang.
Tak...tok... tak... tok...!!!
Terdengar langkah sepatu dari kaki Oti yang tengah memasuki ruangan dosen.
Kebetulan siang itu hanya ada Soraya seorang diri di dalam ruangan besar itu, sehingga langkah kaki akan terdengar menggema ke seluruh ruangan.
"Benar tebakanku, nyonya Oti datang juga," bisik Otang sambil cekikikan kepada Soraya.
"Aku tidak bisa, tadi sudah minta petugas kebersihan membelikan aku makan siang. Sepertinya aku makan sambil mengetik proposal ini," sahut Soraya menjawab Oti.
"Kamu ngetik apa sih?"tanya Oti sambil menatap layar komputer di meja Soraya.
"Daftar panitia road show, ketua umum Soraya, wakil ketua umum John Dawson, sekretaris umum Tatang, Bendahara umum Irawati," Oti membaca daftar panitia acara road show.
"Oya, kamu yakin Irawati menjadi bendahara umum?" tanya Oti sambil membelalakan matanya.
Soraya menganggukan kepala dengan yakin kepada Oti, tentu saja membuat Oti menjadi mengernyitkan kening antara tidak percaya dan tidak setuju.
"Tenang say, kan kalau panitia yang menjadi bendahara kalau mau minta dana harus menemui kepala keuangan kampus, bukan?" Soraya berbisik ke telinga Oti.
Sejenak Oti terdiam, mencoba mencerna kalimat Soraya. Setelah beberapa detik kemudian dia paham, dan tertawa sekencang-kencangnya.
"Soraya ternyata jahil juga orangnya," ujar Oti sambil jarinya menunjuk Soraya.
"Kalau satu lagi jadi apa?" tanya Oti penasaran.
Soraya memberikan daftar nama panitia kepada Oti, terlihat nama Anes menjadi koordinator tim pencari dana.
"Dia di bawah Ira, dong," ujar Oti sambil menatap kertas yang tercantum daftar nama panitia tersebut.
"Memang, tapi beberapa pekerjaan yang harus dilakukan seperti menemui perusahaan atau media, kan butuh surat pengantar dari sekretaris umum," sahut Soraya sambil menunjuk Otang.
Oti mengangguk-anggukan kepala, memahami apa yang direncanakan Soraya.
Rupanya Soraya ingin sedikit memberi pelajaran kepada kedua orang nyinyir itu, setidaknya nanti saat pelaksaan acara, kedua orang tadi harus berurusan dengan dirinya sebagai ketua umum, harus berurusan dengan Oti sebagai kepala keuangan kampus, juga berurusan dengan Otang untuk kepentingan surat menyurat.
"Mereka harus belajar rendah hati, juga belajar menghargai dan menghormati orang lain. Sikap mereka selama ini kepada kita selalu buruk, andai mereka ada di posisi di bawah kita. Harus meminta ijin kepada kita bertiga, setidaknya harapan aku, mereka berdua bisa sadar dan berubah,"ujar Soraya panjang lebar membeberkan rencananya kepada Oti dan Otang.
Oti paham dan mendukung rencana Soraya, sebab kedua teman mereka yang nyinyir itu sulit kalau dinasehati. Mungkin dengan cara begini, setidaknya akan membuat keduanya harus lebih bisa bertutur kata yang baik dan belajar rendah hati serta menghargai orang lain.
Otang sejak tadi terlihat santai sekali sambil mengunyah sesuatu.
"Kamu makan apa?" tanya Oti melihat Otang tampak sangat menikmati makanannya.
"Di meja Soraya ada kue, kelihatannya enak tapi tidak disentuh olehnya. Jadi aku makan saja, kasihan kue itu. nganggur," sahut Otang santai.
"Hahahaha, itu kue dari John Dawson, tadi dia membawa kue untukku. Tapi aku malas memakannya, karena itu kue keju, sementara aku tidak terlalu suka keju," Soraya menjelaskan kepada kedua temannya.
"Tidak suka keju, atau takut kepelet sama dia?" goda Otang.
"Sorry, gue kagak doyan bule. Lagian gue kan janda kaya raya kata media juga, masa nyari bule yang kerjanya dosen. Sama saja gajinya sama gue, Hahahahah," sahut Soraya sambil tertawa geli.
Lantas ketiga sahabat itu tertawa bersama-sama, merasa geli kalau ingat John Dawson yang berusaha mencuri perhatiannya Soraya.
Hari merangkak menuju petang, sementara Jimmy masih bersama Louis Orlando, bahkan sekarang mereka sudah ada janji untuk bertemu dengan salah satu pengusaha keramik terkenal di kota itu.
Malam ini mereka akan bertemu di suatu rumah makan terkenal, sambil membicarakan kerjasama untuk pembelian keramik yang akan segera dipergunakan untuk di bangunan kampus yang baru.
__ADS_1
Mengingat pasti pembicaraan akan memakan waktu lama, karena sambil makan malam dan juga negosiasi harga dan lain sebagainya.
Jimmy lalu mengirim pesan chat kepada Kristy yang isinya menyampaikan kalau hari ini dirinya tidak akan bisa ke rumah makan Big Beauty Resto untuk menemui Kristy seperti biasanya.
Kristy menerima dan membaca pesan itu, terlihat sudah ada tanda biru yang menandakan pesan sudah dibaca. Namun Jimmy sama sekali tidak mendapatkan jawaban apapun dari Kristy.
Sambil mengikuti pembicaraan antara Louis dengan pengusaha keramik, dalam hatinya merasa dongkol karena Kristy seakan sedang mempermainkan perasaannya.
Ketika perbincangan sedang serius, tiba-tiba Kristy menghubungi ponsel Louis dengan sambungan video call.
Tentunya Louis minta ijin kepada pengusaha keramik untuk menerima panggilan tersebut, sampai Louis harus keluar ruangan untuk menjawab panggilan Kristy.
"Bontot, ngapain sih kamu dari tadi video call melulu?" tanya Louis dengan nada agak keras.
"Ando kok tidak suka adiknya telepon?" Kristy balik tanya sambil cemberut manja.
Louis Orlando paling tidak bisa kalau melihat adiknya terlihat sedih seperti itu.
"Ada apa? kamu dari tadi video call terus, ada apa sebenarnya?" tanya Louis lagi dengan nada yang mulai menurun.
"Aku cuma mau memperlihatkan hampers untuk anak-anak dan untuk Teti. Sekalian mengingatkan lagi kalau mau pulang ke Semarang nanti mampir dulu untuk mengambil semua hampers ini," sahut Kristy sambil senyum tapi terlihat sedih.
"Ampun, bontot, ini tidak biasanya kamu seperti ini. Aku dan Jimmy sedang berbincang dengan pengusaha keramik. Kami sedang serius negosiasi, lalu kamu video call," Louis mulai naik lagi nada bicaranya.
Tapi karena barusan nama Jimmy tersebut oleh Louis, mendadak Kristy senyumnya mulai lebar lagi.
"Ya, maafkan aku. Sudah hari ini tidak akan video call lagi. Maafkan yah, sudah dulu. Nanti aku tunggu Ando kemari," ujar Kristy yang mendadak ceria lagi.
Setelah menutup ponsel, Louis masih terlihat kesal dan dia kembali ke ruangan sambil memohon maaf, lalu melanjutkan pembicaraan dengan pengusaha keramik tadi.
Sambil makan malam, berbincang bisnis dan terjalin kerjasama akhirnya selesai juga, dan saat itu waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
Louis dan Jimmy bersalaman dengan tim pengusaha keramik, lalu mereka berdua kembali ke dalam mobil milik Jimmy.
"Selesai juga hari ini, besok antar aku ke pengusaha kayu jati. Karena aku ingin semua kusen pintu dan jendela memakai kayu jati, juga ada beberapa pilar diberi hiasan ornamen kayu jati," Louis mengajak Jimmy untuk berkeliling lagi esok hari.
"Boss, papa saya pengusaha kayu jati. Besok saya akan ajak boss Louis ke bengkel kerjanya. Bagaimana?" tanya Jimmy penuh harapan Louis akan tertarik.
"Bagus dong. Jemput aku besok pagi seperti tadi pagi, aku ingin melihat bengkel kerja papamu," Louis sangat tertarik dengan tawaran Jimmy.
Lalu sambil jalan menuju kediaman keluarga Sumargo Handoyo, mereka sepanjang jalan membahas soal kayu jati.
Tiba di depan kediaman Sumargo Handoyo sudah menjelang pukul sepuluh malam.
Louis segera turun, dan minta Jimmy besok menjemput dirinya di rumah keluarganya ini, tentunya Jimmy segera setuju dengan permintaan tersebut.
Jimmy lalu mengemudikan mobil untuk kembali ke rumahnya, seharian ini sangat melelahkan. Sambil menyetir dia iseng menghubungi Kristy, dan malah menjadi semakin dongkol karena yang menerima adalah Oci.
Jimmy bertanya kenapa harus Oci yang menerima panggilan telepon darinya, alasan Oci adalah boss cantik sedang ada tamu penting jadi minta dirinya yang menjawab panggilan dari Jimmy tersebut.
"Cewek aneh banget, enggak habis pikir gue. Baru pacaran lagi, ternyata yang namanya cewek dari dulu selalu bikin ruwet. Kenapa sih Kristy, ada-ada saja deh," guman Jimmy sambil mengemudikan mobilnya.
Setibanya di rumah, kebetulan opa Hansen belum tidur, jadi Jimmy segera memberitahu ayahnya kalau besok dia akan membawa nasabah besar ke bengkel kerjanya.
Tentu saja opa Hansen sangat senang dengan berita itu, dan berharap bisa menjalin kerjasama dengan nasabahnya Jimmy.
Opa Hansen punya keinginan untuk bisa memberikan bantuan keuangan kepada anak-anaknya Mario.
Walau sebenarnya kedua anak Mario tidak kekurangan finansial, tapi sebagai seorang kakek ada rasa ingin memberi dikarenakan ayah kedua anak itu sekarang sudah tiada.
Setelah mandi dan memakai pakaian tidur, Jimmy masih berusaha menghubungi Kristy. Bahkan mencoba dengan video call, tiga kali mencoba dan tidak dijawab juga.
"Aku yakin kamu lagi marah sama aku, tapi coba jelaskan apa salahku?".
Itu pesan yang Jimmy kirim kepada Kristy, lima menit kemudian warna biru sudah tampak di pemberitahuan pesan, tanda penerima pesan sudah membacanya.
Dan hanya dibaca saja, sampai menjelang terlelap tidak ada balasan, Jimmy kesal dan ditinggal tidur saja ponselnya.
Padahal di seberang sana Kristy ingin sekali Jimmy menelepon lagi, tapi ternyata tidak ada lagi panggilan telepon dari Jimmy.
Mau menelepon balik, tapi rasa gengsi terlalu tinggi. Malas saja kalau harus mendahului menelepon, walau dalam hati sebenarnya sangat ingin mendengar suara Jimmy dan meluapkan kekesalannya.
Malam itu Kristy mencoba untuk tidur, walau masih terasa sesak di dada tapi setidaknya harus beristirahat agar esok pagi badan bisa lebih segar untuk menjalani aktivitas.
Di keheningan malam, tanpa ada siapapun yang tahu, dari balik cerobong asap dapur ada sesosok orang berpakaian hitam dan bertopeng hitam, turun perlahan dan berjalan sangat hati-hati.
Setapak demi setapak menaiki anak tangga menuju ruangan pribadi Kristy.
Walaupun pintu terkunci, namun dengan bantuan sebuah alat kecil, pegangan pintu bisa dibuka secara hati-hati agar tidak mengeluarkan bunyi.
Melewati meja dan kursi kantor kecil sebagai tempat kerja Kristy, lalu pintu menuju kamar tidur juga dengan mudahnya dibuka tanpa mengeluarkan suara apapun.
Terlihat Kristy sedang terlelap, sambil memeluk guling kecil dan tubuhnya menyamping ke kanan menghadap ke arah tembok.
Sosok yang mengenakan pakaian serba hitam itu menatap tubuh Kristy yang membelakanginya.
Orang itu mendengarkan suara nafas Kristy yang terlelap, sesekali ada dengkuran kecil yang keluar dari bibirnya.
Lalu sosok orang itu tampak mencoba untuk menatap wajah Kristy, tapi ternyata Kristy begitu lelap tidurnya.
Tangannya menyibakkan rambut Kristy yang bergelombang, dan mencium kening gadis itu perlahan.
Merasakan seperti ada yang menyentuh dirinya, maka Kristy terjaga dan segera bangun dari tidurnya.
Dilihatnya sekeliling ruangan tidak ada apapun, lalu dia turun dari tempat tidur memeriksa pintu kamarnya.
Ternyata masih terkunci, tapi penasaran dan dia mencoba memeriksa pintu ruang kantor yang letaknya bersebelahan dengan kamar tidurnya.
"Terkunci semua," bisik Kristy sambil kembali ke kamar tidurnya.
Dilihatnya jam dinding masih menunjukkan pukul 02.35 dini hari, matanya masih sangat berat, sehingga kembali ke tempat tidur melanjutkan mimpinya lagi.
Sementara sosok orang tadi sudah kembali ke dapur, dan loncat ke atas memasuki lubang cerobong asap lalu menutupinya kembali dengan hati-hati.
Tak lama sosok tadi sudah ada di seberang jalan di depan Big Beauty Resto, menatap ke arah rumah makan itu dengan senyum tersungging di bibirnya.
__ADS_1
Ada rasa bahagia di hati sosok orang itu karena telah berhasil mengecup kening sang gadis pujaan hatinya.