PENGKHIATAN CINTA

PENGKHIATAN CINTA
Menjelang 2


__ADS_3

"Etha, aku itu merasa sebal sekali kalau melihat Jena. Aneh Mas Husein kok bisa-bisanya menyuruh perempuan itu tinggal di paviliun rumah keluarga yang kami tinggali," ujar Yunita terlihat kesal sekali saat menceritakan soal Jena.


"Aduh Yun, Jena itu teman adikku, mereka bersahabat lama sekali sejak awal kuliah. Sama seperti kita," sahut Aletha ketika mendengar penuturan Yunita.


"Iya, aku tahu. Tapi di mataku perempuan itu lain, terutama cara dia melirik atau bicara sama Mas Asrul. Kamu jangan terlalu tenang loh," kata Yunita lagi sambil ketus.


"Ya Allah, Yun...Yun...hahaha, Jena itu sudah kami anggap adik sendiri, bahkan Mas Asrul juga memperlakukan dia sama seperti kepada Magenta adikku," Aletha malah tertawa geli mendengar apa yang Yunita sampaikan.


"Entahlah, tapi hatiku merasa ada yang aneh dengan dia. Aku tidak nyaman melihat dia, tak pernah aku sapa atau aku tanya, malas aku melihat dia. Perasaanku mengatakan ada yang tak beres dengan perempuan itu," Yunita kembali menyatakan ketidaksukaan terhadap Jena.


"Kamu itu lucu Yun, semua orang juga kamu tak suka. Bahkan di awal kenal Mas Husein memangnya kamu suka sama dia. Hanya aku yang bisa dijawab baik-baik oleh kamu, hahahah," Aletha lagi-lagi mentertawakan sahabatnya.


"Lainlah, kalau Mas Husein sih dulu aku judesin, tapi hatiku kan penasaran sama dia. Kalau Jena sih dari awal lihat saja aku sudah sebal, walau perempuan itu diam juga aku tetap merasa sebal," Yunita bersikukuh memperlihatkan ketidaksukaannya kepada Jena.


"Hahaha, dasar kamu itu Yun. Sudahlah toh besok Jena akan pindah dari paviliun rumah keluargamu. Mungkin dia juga punya perasaan yang sama kepadamu," ujar Aletha sambil tertawa geli melihat Yunita.


"Iya alhamdulillah, akhirnya dia mau pindah, mau kost katanya. Aku sih masa bodoh saja, cuma ikut kesal saja melihat Mas Asrul tuh perhatian banget sampai membantu pindahan dia ke tempat kost nya".


"Suamiku memang baik orangnya, siapa juga dia bantu apalagi Jena yang dia anggap adik sendiri".


Yunita hanya mengangkat bahunya, hatinya masih merasa ada yang disembunyikan oleh Jena tapi entah apa dia tak tahu.


"Hoek...hoek...hoek!!!".


Jena muntah-muntah di kamar mandi tempat kostnya, sebuah kamar sederhana yang memiliki fasilitas kamar mandi di dalam kamar.


Jena menyiram muntahannya, lalu dia membersihkan mulutnya dan berjalan keluar kamar mandi.


Asrul duduk di atas kasur sambil menatap dirinya.


"Aku harus kembali ke kantor, kamu istirahat saja dulu di sini yah," ujar Asrul sambil beranjak berdiri.


"Mas, aku baru selesai muntah karena aku hamil anakmu. Aku juga disuruh mengundurkan diri karena aku hamil anakmu. Sekarang aku tak punya uang, tak punya pekerjaan karena hamil anakmu. Lalu kamu akan pergi begitu saja!?" Jena meradang kepada Asrul.


"Jena, please. Aku cuma ke kantor, nanti aku kesini lagi setelah selesai pekerjaanku," sahut Asrul meminta Jena memahaminya.


"Pulang kantor kemari??? halo!!! Jena!!!, aku pasti salah dengar!!!. Yang ada seorang Asrul akan pulang ke istana megah mertuanya dan berlindung di balik selimut hangat istri tercinta".


"Sementara aku di sini sendiri, pusing, mual dan muntah karena hamil anakmu. Sementara lelaki yang membuat aku hamil tidur nyaman di istana megah mertuanya," ujar Jena sambil tersengal karena kesal kepada Asrul.


"Sttt!!! Jena jangan berteriak begitu, nanti orang lain dengar bagaimana," Asrul mencoba meredakan amarah Jena.


"Kenapa?!!! malu kalau orang lain tahu aku hamil anakmu!!!" Jena malah semakin berteriak.


Asrul menepuk dahinya, lalu dia segera memeluk Jena.


"Kenapa kamu harus marah begini sih? tenang dong. Nanti aku akan kemari, jangan seperti ini sayang. Aku nanti kemari, aku janji," ujar Asrul sambil memeluk Jena yang tengah emosi.


"Aku tak mau ditinggal mas, aku tersiksa sendirian di sini. Sementara mas akan enak di istana megah, aku tak sudi membayangkan mas enak bercinta dengan Aletha sementara aku sendiri di sini," Jena terisak-isak minta Asrul menemaninya.


"Aku nanti kemari, aku janji," ujar Asrul sambil memegang wajah Jena.


Akhirnya Jena mengijinkan Asrul pergi ke kantornya, dan dia sendiri segera merebahkan diri ke kasur di kamar kostnya tersebut.


Dan malam harinya Asrul terpaksa berbohong kepada Aletha kalau dia ada pekerjaan yang mendesak sehingga tidur di kantor.


Memang Aletha istri yang sangat pengertian, dia tanpa banyak tanya langsung mengiyakan saja ketika Asrul meminta ijin kepadanya.


Sebagai istri, mungkin Aletha termasuk istri yang baik, tapi dia sangat teledor.


Selama ini dia tak pernah mencari tahu seperti apa pekerjaan suaminya, apa yang dikerjakan suaminya dan siapa saja sebenarnya teman suaminya.


Asrul pulang malam, Aletha tidak protes. Bahkan Asrul tidak pulang juga tidak pernah berusaha mencari tahu kebenarannya suaminya ada dimana.


Aletha juga terlena dengan pekerjaannya sebagai dokter gigi. Walau memang pulang praktek dia langsung pulang ke rumah orang tuanya.


Bodohnya dia sangat jarang memeriksa rumahnya sendiri yang ditempati suaminya dengan alasan ada pekerjaan.


Jena memeluk Asrul dengan penuh cinta, dan malam itu mereka berdua berbagi kasur kecil untuk tidur. Bagi Jena yang sedang hamil muda, merupakan kebahagiaan bisa ditemani lelaki yang sudah menghamilinya.


Jena tidak sadar kalau dia sudah merebut suami orang lain, padahal istri lelaki itu sangat menyayanginya dan sudah menganggapnya sebagai adiknya sendiri.


Saat ini yang ada dibenak Jena adalah ingin memiliki Asrul sepenuhnya, karena Jena sesungguhnya sejak menjadi mahasiswa sudah menaruh hati kepada Asrul.


"Eh Pak RT, silahkan duduk," ujar pemilik rumah kost ketika ketua RT setempat mendatangi kediamannya.


"Selamat sore bu, maaf saya mengganggu," kata Pak RT kepada pemilik kost.


"Ah bapak, ada apa pak? ada yang bisa saya bantu?"tanya pemilik kost lagi.


"Begini bu, saya mendapat laporan dari tetangga sekitar. Semua merasa curiga dengan penyewa kamar kost yang di ujung barat sana. Kebanyakan menduga wanita penyewa itu sedang hamil, dan konon saya dengar dia dan pasangannya belum menikah," Pak RT menyampaikan keluhan tetangga sekitar mengenai keberadaan salah satu penyewa di rumah kost itu.


"Mungkin maksud bapak adalah Jena yah, benar saya juga curiga dia hamil pak. Dan suami saya kemarin bilang agar Jena ketika habis waktu sewa bulanannya agar jangan diterima perpanjangannya. Karena kami juga tak mau nanti tempat kost ini menjadi bahan omongan orang lain," ternyata pemilik kost juga sudah punya rencana untuk meminta Jena keluar dari rumahnya.


"Baiklah kalau begitu, saya bersyukur kalau ibu memahami keadaan tersebut. Saya hanya menyampaikan agar jangan sampai terjadi kemarahan warga kepada tempat kost ini," ujar Pak RT lagi.


Kemudian tak lama Pak RT pamit, dan pemilik kost segera menghampiri kamar Jena.


"Jena, maaf yah. Nanti kamu sampaikan kepada pak Asrul yang katanya kakakmu itu. Nanti awal bulan kalau waktu sewa habis, saya minta kamu segera pindah saja yah. Banyak yang menduga kamu hamil, saya tak mau rumah kost saya jadi omongan orang lain," pemilik kost langsung bicara begitu kepada Jena.


Tanpa bisa mengelak lagi, dan Jena mau tak mau harus mengakui kalau dirinya memang benar hamil.


Dan wanita hamil tanpa ada ikatan pernikahan pasti akan menjadi gunjingan orang banyak.


Pemilik kost tidak mau kalau sampai rumah kost miliknya akan menjadi bahan gunjingan dan cemoohan orang banyak karena menampung Jena.


Asrul memutar otak, tapi rasanya semua buntu. Seakan otaknya beku ketika Jena menelepon menyampaikan apa kata pemilik rumah kost.


Rasanya seperti dipukul palu gada kepalanya, terasa berat dan sakit sekali. Bahkan ingin rasanya dia memejamkan mata lalu ketika membukanya ternyata yang dia alami cuma mimpi buruk saja.


Tapi ternyata bukan mimpi, tapi memang kenyataan kalau dia sedang dalam lingkaran mimpi buruk akibat perbuatannya sendiri.


Malam itu sekitar hampir tengah malam, Jena diminta segera turun dari mobil dan segera masuk ke dalam rumah yang ditinggali oleh Asrul.


"Mas gila, aku tinggal di sini?" Jena membelalak matanya ketika masuk lagi ke rumah itu.


"Dengar, kalau kita mencari tempat kost lagi tentu akan sama saja, kamu akan diusir lagi oleh pemilik kost. Jadi aku pikir di sini akan lebih aman".

__ADS_1


"Aman? kamu gila mas. Nanti Aletha kemari dan melihat aku di sini bagaimana?".


"Ya sudah, kalau itu terjadi apa boleh buat, aku harus menjelaskan semua yang telah terjadi".


Jena menghempaskan tubuhnya ke sofa, dia sendiri juga pusing memikirkan nasibnya.


"Jena, sudah jangan khawatir. Aku akan menjagamu, kita hadapi bersama semua ini. Kamu tidur di kamar atas, kemarin sudah aku rapihkan".


"Kalau ada Aletha kemari bagaimana, mas?" Jena merasa khawatir.


"Kamu diam saja di atas, dia tidak akan lama di rumah ini. Paling satu hari saja, anakku tak betah di sini. Asal kamu jangan turun saja, kita akan aman di sini" Asrul berusaha meyakinkan Jena.


Jena menjatuhkan dirinya kedalam pelukan Asrul, dia merasa ketakutan dan bimbang. Hanya berharap Asrul tidak meninggalkan dirinya di saat ini.


"Mas Fuad, maafkan Mila. Sepertinya aku tidak bisa pulang ke Cirebon sampai dua minggu ke depan. Paling di awal bulan nanti aku pulang ke sana," Asmila memberitahu suaminya kalau dia sementara waktu tidak bisa pulang dulu.


"Oh, tak apa-apa, ya sudah kamu selesaikan saja dulu pekerjaanmu. Aku baik-baik saja kok di sini," sahut Fuad memberi ijin istrinya.


"Mas akan kemari?"tanya Asmila.


"Sepertinya tidak, aku akan terlalu lelah kalau ke Jakarta. Sabtu aku ke Jakarta, lalu minggu kembali lagi ke Cirebon, dan senin subuh segera ke tempat kerja lagi. Akan menguras tenaga dan waktu," ujar Fuad seakan menunjukkan rasa enggan kalau harus ke Jakarta.


"Hmmm, tadinya kukira mas akan ke Jakarta menemaniku," sahut Asmila terdengar nada kecewa.


"Lain kali saja sayang, aku harus mengajukan cuti panjang dulu. Walau aku sendiri ragu akan bisa disetujui. Maafkan aku, pasti suatu hari akan menemanimu," Fuad mencoba menghibur istrinya.


"Baiklah mas, aku sayang mas".


"Aku juga sayang kamu, Mila".


Orang lurus hatinya seperti Fuad memang sangat jarang sekali.


Istri ijin tidak pulang, dia tidak punya rasa curiga sama sekali.


Kadang dalam benak muncul pemikiran apakah itu lurus hati atau memang tidak peduli.


Dua minggu tak bisa berjumpa dengan istri, bahkan istri sudah meminta untuk menyusul dirinya.


Fuad bilang tak bisa, dan lebih memilih memancing bersama dengan kawan kerjanya dari pada menyusul istrinya.


"Rio, aku dua minggu tak pulang ke Cirebon. Tadi suamiku juga sudah memberi ijin. Akan jadi menginap di rumah kost nanti malam ?"tanya Asmila saat mengontak ponsel Mario.


"Nanti aku juga minta ijin dulu kepada Mega yah. Dia yang suka marah kalau aku tidak pulang ke rumah," sahut Mario merasa lucu dengan dirinya.


Soraya tak pernah mencarinya, mau pulang malam, mau menginap di tempat kerja atau dimana saja.


Padahal Soraya menanamkan kepercayaan kepada Mario, namun anaknya terutama Mega yang selalu mencari ayahnya.


Mega jarang banyak bicara, tapi kalau ayahnya belum pulang atau tidak pulang, pasti yang banyak bertanya adalah dia.


"Papa boleh menginap di rumah teman, tapi Mega minta dibelikan dulu inhaler. Sebab mau habis persediaannya," jawaban Mega kepada Mario yang minta ijin untuk menginap di rumah temannya karena ada urusan pekerjaan.


"Ayo kita pergi dulu membeli inhaler, sekalian kita jajan dulu berdua," ajak Mario kepada anak bungsunya.


Inhaler adalah obat semprot untuk orang yang memiliki gangguan pernafasan seperti asma atau sejenisnya.


Mega memerlukan obat semprot tersebut karena sesekali dadanya sesak tidak bisa bernafas, hal itu karena bawaan sejak bayi memiliki gangguan pada paru-parunya.


"Tidaklah, Maya sibuk titip saja belikan makanan nanti kalau papa pulang," sahut Maya sambil matanya tak lepas dari ponselnya.


Mario menghela nafas, anak sulung sudah besar sudah SMA, susah diajak pergi bersama orang tuanya dan


seringnya punya acara sendiri bersama teman-temannya.


Sore itu Mario menghabiskan waktu bersama Mega, setelah membeli inhaler lalu pergi lagi wisata kuliner ke daerah yang menjual makanan pinggir jalan tapi rasanya enak sekali.


"Papa sering menginap dimana sih?"tanya Mega sambil mengunyah siomay kesukaannya.


"Di rumah teman sambil membicarakan masalah pekerjaan".


"Hmmm, Oom Jimmy juga berarti suka ikut menginap di rumah teman papa itu yah. Kan Oom Jimmy kerja di kantor papa".


Mario menelan ludah, sambil berusaha mencari kalimat yang tepat untuk menjelaskan kepada anaknya.


"Oom Jimmy pekerjaannya di belakang meja, menggambar rancangan bangunan. Kalau papa kan di lapangan, jadi harus banyak negosiasi dengan pemberi pekerjaan".


Mega menatap Mario, terlihat anak itu seperti mencoba mencerna perkataan ayahnya.


"Papa kenapa tadi bicara tidak menatap Mega? apakah papa sedang berbohong? kan papa sendiri bilang kalau orang bohong tidak berani menatap wajah orang yang sedang dibohongi olehnya," Mega menelisik ke arah mata dan wajah ayahnya.


Mario serasa ditelanjangi oleh pertanyaan anaknya, dia segera memutar otak untuk menutupi kepanikannya di hadapan anaknya.


"Mega sayang, ini papa menatap kamu. Mengapa papa harus bohong sama anak sendiri, papa sayang sama Mega dan kakak Maya," ujar Mario sambil mendekatkan wajahnya ke wajah anaknya dan menatap kedalam mata anaknya.


Mega tersenyum, lalu kepalanya disandarkan ke dada ayahnya.


Mario mengelus kepala anaknya dan menciumnya berkali-kali.


"Tadi aku ditanya oleh Mega, mengapa aku sering menginap di rumah teman, sementara adikku Jimmy yang sekantor denganku tak pernah melakukan itu," kata Mario sambil bahunya dipijat oleh Asmila.


"Lalu apa jawabanmu?" tanya Asmila dengan kedua tangannya yang lincah memijat bahu Mario.


"Aku jawab kalau aku orang lapangan, sementara tugas Jimmy menggambar di kantor. Yah, kenyataannya memang begitu bukan, aku tidak berbohong," sahut Mario sambil tertawa kecil.


"Tapi kamu tidak memberi tahu siapa nama temanmu yang rumahnya ditempati menginap olehmu, bukan?" Asmila meledek Mario.


"Hahaha, ya mengapa yah aku tidak berani menyebutkan namamu," Mario tertawa dan menyadarkan kepalanya ke paha Asmila.


"Seharusnya kamu berani menyebutkan namaku, kan aku ini cuma temanmu," Asmila mengelus rambut Mario lalu mengecup keningnya.


"Suatu saat namamu akan tersebut, tapi aku tak tahu apa yang akan terjadi nanti," sahut Mario sambil tangannya meraih kepala Asmila dan mereka saling berciuman.


"Aku ingin tahu, kenapa Jimmy bisa bergabung di kantormu?" tanya Asmila sambil duduknya pindah di samping Mario yang sejak tadi duduk di lantai di samping tempat tidur.


Mario meraih bahu Asmila merangkul dengan erat.


"Waktu itu adikku baru lulus sarjana arsitek, dia penuh harapan akan diterima bekerja di sebuah perusahaan kontraktor ternama".

__ADS_1


"Tapi hasil testnya gagal, dan bersamaan dengan itu ada kejadian kekasihnya dihamili oleh teman kampusnya".


"Waktu itu ada arsitek lain di kantorku namanya Susi, namun dia menikah dan harus ikut suaminya ke luar pulau. Jadi aku ajak adikku itu bergabung saja di kantorku, untung dia bersedia," Mario menceritakan kisah Jimmy yang bergabung dikantornya.


"Tapi katanya adikmu masih belum menikah sampai sekarang, apakah dia masih belum move on ?" tanya Asmila.


"Mungkin, setahu aku dia sangat terluka waktu itu, karena pacarnya itu katanya cewek tercantik di kampusnya. Berhasil jadi pacarnya, Jimmy bahagia dan bangga, tapi saat Jimmy wisuda mendapat berita kalau pacarnya hamil".


"Tragis memang kejadian yang dia alami saat itu, semoga saja suatu saat dia akan bertemu dengan perempuan yang baik-baik seperti istriku," ujar Mario.


"Apa!!! berarti aku bukan perempuan baik-baik?!!!"jerit Asmila sambil mencubit Mario.


"Aku tidak menyebut begitu, aku cuma bilang istriku perempuan baik-baik. Hahahah...aku hanya menilai istriku," Mario tertawa menggoda Asmila.


"Jadi aku perempuan seperti apa?" Asmila melotot memandang Mario.


Mario tertawa geli sambil menutup mulutnya," Aku tidak punya hak menilai kamu".


"Sialan Mario," Asmila mendelik kesal kepada Mario.


"Hahaha...maaf...hahaha...tapi memang aku tak bisa menilai Asmila Maryana...hahahah," Mario memeluk Asmila dari belakang.


Mereka saling terdiam karena keduanya menikmati pelukan itu, Asmila bahkan memejamkan matanya karena merasakan kehangatan tubuh Mario.


"Rio, ternyata perusahaanku punya produk asuransi jiwa yang tidak harus menyertakan hasil test kesehatan kalau mau jadi peserta asuransi," Asmila ingat kalau beberapa hari yang lalu Mario sempat menanyakan soal asuransi jiwa.


"Oh, seperti bagaimana prosesnya?"tanya Mario sambil tetap memeluk Asmila.


"Kemarin kamu bilang uang tabunganmu ada sekitar lima ratus juta untuk biaya kuliah anak-anakmu".


"Nanti aku pecah menjadi dua polis asuransi, lalu uang disimpan selama lima tahun dan baru bisa dicairkan ditahun ke tujuh".


"Kalau kamu masih hidup di tahun ketujuh, maka uang di masing-masing polis yang semula dua ratus lima puluh juta akan bertambah menjadi empat ratus juta," Asmila menjelaskan perhitungannya.


"Hmmm, lima ratus juta lalu di tahun ketujuh akan menjadi delapan ratus juta. Wow!!! melebihi nilai deposito di bank," Mario membelalak dan tertarik dengan penawaran Asmila.


"Ada lagi kelebihannya, nanti kamu akan mendapat pengembalian uang atau cash back sebesar lima persen," ujar Asmila lagi.


"Oke deal, besok kamu yang atur saja, nanti aku ke bank untuk mengurus pengambilan uang tabungannya," kata Mario yang sepakat dengan penawaran Asmila.


"Kamu tahu Rio, kalau kamu meninggal dalam masa periode polis berjalan, apalagi kalau meninggalnya karena kecelakaan. Anak-anakmu akan mendapat warisan masing-masing satu milyar rupiah," Asmila melanjutkan penjelasannya.


"Waaahhh...aku tertarik sekali, dan aku memang tak mau mati karena penyakit ini. Aku lebih memilih mati kecelakaan, apalagi anak-anakku akan mendapat uang sebanyak itu," Mario asal saja bicaranya.


"Biasa ngelantur, Rio gila," ujar Asmila sebal dengan ucapan Mario.


"Nanti dulu, kalau aku hari ini membayar premi lalu menjadi peserta, tapi besok harinya aku mati kecelakaan. Apakah uang satu milyar itu akan cair?"tanya Mario.


"Jangankan besok, pagi kamu bayar premi, tanda tangan perjanjian polis, sore kamu kecelakaan juga uang satu milyar akan cair ," jawab Asmila dengan kesal.


"Cup...Cup...Cup".


Mario mencium bibir Asmila, lalu berkata lagi," Aku ambil program itu, besok tolong kamu urus yah".


Asmila diam saja sambil menatap sebal kepada Mario yang bicaranya asal saja tidak berpikir dulu.


"Kamu tahu tidak, kata orang jaman dulu pamali kalau bicara ngawur," kata Asmila sambil terlihat jengkel sekali.


Mario mencubit pipi Asmila dengan gemas.


"Istrinya Fuad kalau marah tambah gemesin deh".


Asmila membuang nafas kesal, lalu mencubit pinggang Mario sekeras mungkin sampai Mario menjerit kesakitan.


"Ampun!!!Ampun bu!!!".


Asmila tertawa ketika Mario terlihat kesakitan.


Jam dinding menunjukkan hampir tengah malam, keduanya tampak sudah mengantuk.


"Tidur yuk!" ajak Mario.


"Ayo, tapi sesuai perjanjian kita. NO MAKING LOVE!!!" ujar Asmila sambil telunjuknya ditujukan ke ujung hidung Mario.


"No making love," sahut Mario juga.


Lalu keduanya naik ke tempat tidur dan mereka terpejam sambil berpelukan.


Keduanya sepakat untuk tidak melakukan hubungan intim, mereka berusaha saling menjaga hasrat masing-masing.


Hubungan intim tak sengaja terjadi saat tahun lalu mereka berdua mabuk di hotel.


Setelah itu, keduanya berusaha sepakat tetap saling menyayangi tapi tidak sampai berhubungan intim lagi.


Sekarang mungkin bisa dijaga, tapi suatu hari nanti mana bisa tahu apa yang akan terjadi kepada keduanya.


Sementara di negeri seberang Soraya malam itu sedang bersama teman-temannya, mereka mempersiapkan diri untuk wisuda strata 3 esok hari.


Ada temannya yang berasal dari India, Singapura, Vietnam dan beberapa orang asli Selandia Baru.


"Suatu hari nanti kita harus bertemu lagi, kita harus saling berkunjung ke negara kita masing-masing," ujar temannya yang dari Vietnam.


(note : khayalkan pembicaraan mereka dalam bahasa Inggris yah)


"Tentu dong, nanti kita suatu saat berkunjung, pasti kita masing-masing sudah menjadi professor di universitas masing-masing," khayalan teman asal India.


"Kalau aku sudah pasti, nanti pulang akan menjadi rektor. Begitu juga Soraya, kan?" teman orang Singapura mengatakan seperti itu.


"Katanya begitu, tapi belum tahu juga, kita berdoa saja. Saling mendoakan agar kita semua pulang dari sini bisa menyalurkan ilmu kita kepada semua generasi muda di negara kita masing-masing," sahut Soraya dengan bijaksana.


Keempat wanita bersahabat berbeda negara itu saling berpelukan, hampir dua tahun mereka bersama mencari ilmu di Selandia Baru.


Kini mereka semua lulus dengan nilai terbaik untuk dibawa ke negara masing-masing.


Mengorbankan waktu untuk bersama keluarga, besok wisuda dan minggu depan mereka akan kembali ke negara masing-masing.


Rasa rindu kepada orang-orang tercinta menyelimuti hati keempat sahabat berbeda negara itu.

__ADS_1


"We should keep in touch, give each other good news or bad news. And pray for each other so that we will always be successful".


(Kita harus saling tetap saling menghubungi, saling memberi kabar baik atau buruk. Dan saling mendoakan agar sukses selalu)


__ADS_2