PENGKHIATAN CINTA

PENGKHIATAN CINTA
Sebelum 2


__ADS_3

Mario dan Soraya memasuki halaman sebuah rumah duka, bangunan bertingkat yang hampir setiap ruangan di sana diisi oleh orang meninggal.


Dan pada umumnya yang menyewa rumah duka seperti ini adalah orang keturunan Tionghoa.


Kemarin malam Mario mendapat kabar kalau ibunya Aliong dan Asiaw meninggal dunia.


Pagi ini Mario mengajak Soraya melayat ke rumah duka tersebut.


"Turut berduka cita, semoga Asiaw dan keluarga diberikan ketabahan," kata Mario saat menyalami Asiaw adiknya Aliong.


"Terima kasih bro, mungkin ini memang yang terbaik untuk mama saya," sahut Asiaw sambil bersedih.


"Bukannya mama kemarin ini sempat di operasi di Beijing?" tanya Soraya.


"Betul bu, tapi itu justru yang malah membuat mama saya jadi semakin drop di rumah. Setelah di operasi, malah timbul lagi kanker lain di sekitar ginjalnya. Dua hari koma, lalu kemarin malam meninggal dunia," Asiaw menceritakan tentang kematian ibunya.


"Memang susah bu, kalau kena kanker. Ada yang segera sembuh setelah operasi, ada juga yang malah semakin memburuk," istrinya Asiaw menambahkan.


"Benar, kemarin ini operasi di Beijing habis ratusan juta. Tapi kami tidak penasaran, sudah mencoba memberi yang terbaik kepada orang tua," lanjut Asiaw.


Mario jadi terdiam dan terlihat memikirkan sesuatu, sedikit terpikir untuk mengikuti saran dari Asmila.


"Pap, kenapa? kok tampak tegang?" bisik Soraya saat melihat Mario wajahnya berubah setelah mendengar cerita Asiaw dan istrinya.


Mario menoleh dan menatap dalam Soraya ada beberapa detik, lalu berkata," Tidak ada apa-apa, aku hanya terkesima saja mendengar cerita Asiaw".


Tiba-tiba dari luar ruangan rumah duka terdengar ada sedikit keramaian, dan ketika dilihat ternyata Aliong datang sambil diapit oleh dua orang polisi.


Semua kerabat menyambutnya, dan Aliong terlihat sangat berduka sekali.


"Mama, kenapa tidak tunggu Aliong? Padahal bulan depan Aliong bebas, ma," rintih Aliong di depan peti jenazah ibunya.


Aliong bersimpuh sambil menangis tersedu-sedu, istri dan adiknya mendekatinya.


"Asiaw...maafkan koko yah, gara-gara koko, mama jadi sakit. Kenapa tidak tunggu koko, bulan depan koko bebas," Aliong menangis dalam rangkulan adiknya.


"Semua kehendak Tuhan, koko harus sabar. Mama juga sudah memaafkan koko," Asiaw menghibur kakaknya.


Aliong mengambil dupa, lalu bersujud sebanyak beberapa kali di depan peti jenazah dan


di hadapan foto ibunya yang terletak di ujung peti tersebut.


Terlihat Aliong memanjatkan doa sesuai dengan kepercayaannya, memohon agar dosa-dosa ibunya diampuni oleh Yang Maha Kuasa dan diterima di sisi Nya.


Ketika selesai, lalu Aliong menoleh ke seluruh ruangan dan dia melihat kehadiran Mario.


Lantas Mario mendekatinya, lalu Aliong juga menghampiri Mario.


"Bro, terima kasih sudah datang, apa kabarmu, bro?" tanya Aliong sambil merangkul Mario.


"Kabar baik, yang tabah yah, semua sudah kehendak Tuhan. Aku berharap bro Aliong kuat menghadapinya," ujar Mario sambil menepuk bahu Aliong.


"Bulan depan aku bebas, nanti aku mencarimu. Aku mau ikut kerja padamu dan Wildan," ujar Aliong kepada Mario.


"Sttt...bukan kerja, tapi gabung usaha seperti dulu dengan cara yang berbeda," sahut Mario.


"Sorry, aku dulu pernah hampir menjerumuskanmu," ujar Aliong.


"Aku juga sorry, bro. Aku tak bisa menolongmu untuk bisa bebas," sahut Mario lagi.


"Aku cuma tujuh tahun, itu karena bantuanmu. Coba kalau kamu tidak punya bukti yang bisa meringankan, mungkin nasibku sama dengan Mr. A harus dua puluh tahun mendekam," Aliong dengan tangan masih diborgol berusaha mengacungkan jempol kepada Mario.


Tak lama datang rombongan Bhiksu yang akan memimpin acara untuk mengiring jenazah menuju ke pemakaman.


Aliong dan Asiaw berdiri di hadapan peti jenazah ibunya sesuai perintah dari Bhiksu.


Ada beberapa upacara yang dilakukan seperti membakar dupa, bersujud di hadapan peti jenazah dan membakar beberapa kertas bertuliskan seperti huruf mandarin.


Setelah itu Aliong dan Asiaw bersama beberapa kerabat lainnya menggotong peti jenazah untuk dimasukan ke dalam mobil jenazah untuk menuju pemakaman.


Mario dan Soraya ikut dalam perjalanan menuju pemakaman dengan kendaraannya pribadi.


"Iring-iringan perjalanan ke pemakaman seperti ini selalu membuatku patah semangat," ujar Soraya tiba-tiba.


"Patah semangat kenapa?"


tanya Mario.


"Ya, kehilangan orang yang paling dekat dan paling kita cintai. Papa, Oma Elisabeth, lalu mamaku, semuanya terasa sangat membuat aku sedih sekali," ujar Soraya menatap kosong ke arah depan jalan.


"Kalau mam kehilangan pap suatu saat nanti, akan merasa sedih tidak?" tanya Mario dengan nada menggoda.


"Kenapa yah selalu berkata seperti itu, bukan sekali saja pap menggoda aku dengan kalimat demikian,"Soraya melirik tajam ke arah suaminya.


"Hahahaha, barangkali saja mam tidak sedih kalau kehilangan aku. Secara dulu pernah mau meninggalkan aku," Mario jadi lebih senang menggoda istrinya.


"Astaga, itu kan jaman anak-anak masih kecil, dan buktinya mam tidak sampai hati meninggalkan pap, loh," tukas Soraya sambil gemas kepada suaminya.


"Hahahaha, mam pasti cinta banget sama pap, kan. Jadi tidak sampai hati meninggalkan aku," Mario semakin senang menggoda istrinya.


"Tapi sungguh, waktu sehabis melahirkan Mega, aku sakit hati sekali dan ingin sekali bercerai meninggalkan pap. Benci sekali melihat dirimu,pap," kata Soraya mengingat kejadian setelah melahirkan anak keduanya.


"Selama satu tahun, loh, mam membenci aku. Tega sekali waktu itu, aku masih ingat waktu itu mam membiarkan aku tidur di teras rumah mama Wongso," Mario mengingat kejadian sewaktu dulu Soraya sehabis melahirkan anak kedua sempat tinggal di rumah mertuanya karena berencana ingin cerai dari dirinya.


"Aku ingat kejadian itu, tapi kalau pap mau tahu, aku di kamar menangis tersedu-sedu. Antara kesal, benci tapi aku cinta sama pap," sahut Soraya malu-malu.


"Yang pasti selama satu tahun dulu kita berpisah, malah menjadikan kita saling belajar dan saling memahami".


"Aku minta maaf yah, sewaktu dulu di awal menikah sering sekali aku berbuat kasar kepadamu, mam," kata Mario memohon maaf kepada istrinya.


"Aduh, pap, itu sudah lama sekali. Sekarang anak kita juga sudah besar-besar, tak lama lagi mereka segera tumbuh dewasa. Aku cuma berharap kita bisa saling menyayangi sampai tua nanti," ujar Soraya menanggapi permintaan maaf suaminya.


"Aku cinta kamu, mam".


"Aku juga cinta kamu, pap".


Tak lama mobil memasuki sebuah halaman parkir besar, tenyata mereka memasuki rumah krematorium.


Di beberapa ada Tionghoa, ada yang melakukan kremasi untuk jenazah keluarga yang meninggal.

__ADS_1


Jenazah dimasukan ke dalam suatu alat khusus seperti oven, dan dibakar selama beberapa jam. Nanti setelah jenazah hancur menjadi abu, lalu dimasukkan kedalam sebuah guci untuk diserahkan kepada keluarga.


Ibunya Aliong dan Asiaw juga hari ini akan dikremasi, dan para tamu yang memiliki keyakinan yang sama bisa turut dalam upacara tersebut.


Sementara yang memiliki keyakinan berbeda ada tempat duduk khusus, sehingga dapat menyaksikan jalannya upacara dan juga prosesi kremasi tersebut.


Mario menggenggam tangan Soraya, lalu mereka berdua duduk di kursi untuk tamu dengan keyakinan yang berbeda.


Di tengah jalannya upacara prosesi kremasi, tiba-tiba Wildan datang juga. Saat ini Wildan sudah menjadi rekan kerja Mario, tapi karena kenal juga dengan Aliong maka dia hadir untuk menghormati keluarga Aliong.


"Bro, kalau di keluargamu juga jenazah dikremasi seperti itu?" tanya Wildan yang duduk di samping Mario.


"Tidaklah, aku kan Manado. Lain dong, kami dimakamkan seperti kalian umat muslim. Hanya bedanya jenazah umat kristiani dimasukan ke dalam peti jenazah. Begitu saja bedanya, bro," sahut Mario.


"Tapi aku pernah punya nasabah kristiani, dan jenazah keluarganya dikremasi, loh," tukas Wildan.


"Oh, biasanya itu adat Tionghoa, jadi kremasi itu lebih ke adat, bukan ketentuan di agama kristiani," jawab Mario menjelaskan.


Wildan mengangguk-anggukan kepalanya, lalu mereka menyaksikan prosesi kremasi sampai selesai dan tetap menghormati upacara tersebut.


Dari kejauhan ada sebuah mobil baru datang parkir di halaman rumah krematorium tersebut.


Lalu tak lama ada dua wanita turun dari mobil tersebut, dan Mario sangat terkejut ketika melihat salah satu wanita yang turun dari mobil itu.


Ternyata tak lain dan tak bukan, jelas sekali Asmila yang sedang berjalan menuju tempat mereka duduk, mengenakan pakaian warna hitam yang ketat dan sepatu tinggi terlihat seksi walau menghadiri acara pengkremasian.


"Waduh, Rio, itu siapa yang datang. Aku tak ikut-ikutan yah, kalau istrimu bertanya aku tak tahu apa-apa, yah...," ujar Wildan yang tahu kalau Asmila dekat dengan Mario.


Hal ini dikarenakan Asmila menawarkan asuransi hampir ke seluruh teman dan rekan kerja Mario.


Sementara Soraya duduk tenang saja menyaksikan upacara kremasi jenazah ibunya Aliong dan Asiaw.


"Eh, ada Boss Wildan," bisik Asmila sambil segera duduk di samping Wildan.


"Mila, ada nyonya, loh. Hihihi.... awas, hati-hati, aku takut saja ada acara jambak-jambakan," bisik Wildan kepada Asmila.


"Nyonya siapa?" Asmila polos tak paham.


"Itu...tuh...," Wildan menunjuk Soraya yang sedang duduk disamping Mario.


Dasar lelaki, saat Asmila melihatnya, Mario tampak sedang duduk sambil tangannya memeluk pinggang Soraya.


Asmila tersenyum ketika melihat mereka sambil menyahuti," Oh...Boss Mario".


"Kamu ngapain kemari?" tanya Wildan.


"Idiiihhh...Boss Bobby alias Koko Asiaw itu nasabah prioritas kami, masa mamanya meninggal kami tidak hadir," ujar Asmila sambil manyun kepada Wildan.


"Gue kirain lu nyariin Mario," goda Wildan.


"Astaga, Boss Wildan ada-ada saja. Memangnya saya sama Boss Mario ada apa sih?!" tukas Asmila.


"Kirain...hihihihi".


"Dasar Boss Wildan sih suka becanda saja deh".


Karena takut Wildan curiga, lalu Asmila mendekati Mario yang sedang duduk disamping Soraya.


Sontak Mario sangat terkejut, dan menjawab dengan sangat gugup.


"Eh..hmm....Asmila. Hehehe... kabar baik, kok," sahut Mario terbata-bata.


"Ini pasti Ibu Soraya, yah?" tanya Asmila lagi sambil menunjuk Soraya yang duduk disamping Mario.


"Eh, iya, ini istri saya. Kenalkan, ini Soraya istri saya".


"Mam, ini Asmila orang dari Asuransi jiwa yang aku ceritakan," ujar Mario dengan sedikit gusar.


Asmila menyodorkan tangan, lalu Soraya yang diberitahu oleh Mario segera menyambut uluran tangan Asmila tersebut.


"Soraya".


"Asmila".


Keduanya saling berjabatan tangan memperkenalkan diri masing-masing.


Setelah itu, Asmila segera duduk disamping Soraya, sambil berkata," Ah, duduk di sebelah ibu dosen, siapa tahu kebawa pintar".


"Ah, bisa saja Mbak Asmila," sahut Soraya sambil senyum manis kepada Asmila.


"Ibu Soraya masih mengajar?" tanya Asmila sok kenal.


"Oh, masihlah," sahut Soraya sambil tersenyum.


Asmila diam-diam melihat Soraya dari ujung kaki hingga ujung kepala.


"Baru pulang dari luar negeri, masa tidak mengajar. Keren deh ibu Soraya," ujar Asmila.


Soraya hanya mengangguk sambil tersenyum lagi.


Tak lama upacara selesai, lalu Asiaw mendekati tamu yang ikut hadir dalam upacara kremasi tersebut.


"Boss Bobby, turut berduka cita yah," ujar Asmila sambil mendekati Asiaw dan menyalaminya.


"Terima kasih, Ibu Asmila sampai hadir kemari. Saya sangat tersanjung dengan kehadiran ibu," sahut Asiaw.


Lalu tamu lain juga ikut menyalami Asiaw sambil pamit pulang.


"Bro, terima kasih sekali yah, saya tersanjung sekali nih. Bro Wildan dan Mario sampai ikut kemari. Terima kasih juga Ibu Soraya," Asiaw atau Bobby tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih kepada semua teman dan rekan kerja yang sudah hadir.


"Sama- sama, bro," sahut Mario juga Wildan.


Aliong juga mendekati adiknya yang sedang menemui tamu yang menghadiri upacara tersebut.


"Aliong, yang kuat bro," ujar Wildan sambil menyalaminya walau tangan Aliong dalam keadaan terborgol.


"Bulan depan aku bebas, nanti aku ikut kalian, yah," ujar Aliong kepada Wildan.


"Siap, bro. Aman... nanti aku yang atur," sahut Wildan.

__ADS_1


"Aku balik dulu yah, sekali lagi terima kasih, Bro Wildan juga Bro Mario. Sekarang sudah waktunya aku kembali lagi ke dalam," Aliong menyebut kata dalam yang maksudnya adalah penjara.


Mario, Wildan dan Asiaw mengantar Aliong menuju mobil polisi yang akan membawanya kembali ke penjara untuk menghabiskan sisa masa tahanannya.


Soraya berdiri agak jauh melihat suaminya mengantarkan Aliong.


Tiba-tiba istri Aliong berdiri di samping Soraya dan berkata, "Soraya, aku iri hati padamu. Suamimu sama-sama terjerumus oleh A, tapi bisa bebas begitu saja".


"Bahkan kamu kemarin ini pergi ke luar negeri untuk kuliah lagi. Sungguh luar biasa, sekarang kamu meraih gelar master".


"Tapi kamu tidak pernah merasakan susahnya ditinggal suami disaat anak-anak butuh biaya sekolah, butuh uang untuk hidup sehari-hari".


"Aku doakan kamu suatu saat akan merasakan hal itu, aku tak terima kamu bisa bahagia dengan Mario. Sementara aku dan Aliong menderita," ujar istri Aliong sambil setelah puas berkata begitu, meninggalkan Soraya yang masih bengong karena tiba-tiba harus mendengar perkataan seperti itu.


Mario melambaikan tangan memanggil Soraya untuk mengajak pulang.


Soraya berjalan menghampiri Mario, belum juga tiba ke hadapan suaminya, terlihat Asmila mendekati Mario dan mengatakan sesuatu.


"Nanti malam kita ketemu," kata Asmila sambil berlalu.


Mario hanya mengangguk tapi tak berkata apa-apa.


"Pap, bicara apa orang asuransi itu?" tanya Soraya ketika tiba di hadapan suaminya.


"Ah.. tidak, cuma pamit pulang saja," sahut Mario sambil merangkul Soraya lalu berjalan bersama menuju mobil.


Soraya terdiam di dalam mobil, dia masih tak habis pikir dengan apa yang dikatakan oleh istrinya Aliong.


"Ada apa, mam?"tanya Mario yang merasa heran melihat Soraya.


Sejak masuk ke dalam mobil istrinya diam saja tapi terlihat sedang memikirkan sesuatu.


"Tidak apa-apa, cuma sedikit lapar saja," jawab Soraya.


"Oh, oke kita makan dulu, mau makan apa, mam?" tanya Mario.


"Mie ayam kayaknya enak, pap".


"Kok, mie ayam?" Mario merasa kurang berselera.


"Jadi apa dong?" tanya balik Soraya.


"Hmmm, bagaimana kalau nasi padang saja?" ajak Mario.


"Ayo, menarik juga," Soraya setuju saja dengan keinginan suaminya.


Lalu mereka segera menuju salah satu rumah makan nasi padang yang cukup terkenal di kota itu.


Keduanya sangat menikmati makanan di rumah makan itu, apalagi makanan favorit mereka berdua selalu tersedia dan sangat enak rasanya yaitu ayam pop.


Setelah selesai makan, lalu mereka kembali ke rumah, anak-anak kebetulan sudah pulang sekolah juga.


Lalu mereka berbincang bersama di sore hari bersama anak-anak, kecuali Mega yang selalu lebih banyak diam.


Rasanya Mega ingin sekali bertanya kepada ayahnya tentang sesuatu yang dia temukan beberapa waktu yang lalu, saat membongkar koper ayahnya bersama Mince.


Tapi mulutnya terasa berat sekali walau di dalam hatinya sudah ingin meledak rasanya.


Betapa tidak, waktu itu dia membongkar koper ayahnya yang baru pulang dari luar kota.


Mega menemukan celana dalam wanita di dalam koper pakaian ayahnya.


Kesal dan jengkel yang dia rasakan tapi tak juga bisa dia ungkapkan kepada siapapun.


Memang benar beberapa waktu kemarin, Mario ijin sekitar dua hari keluar kota.


Memang benar keluar kota bersama Wildan, hanya dia setelah selesai urusan tak langsung pulang ke rumahnya.


Mario malah memilih bertemu dengan Asmila dan menginap semalam bersamanya.


Di malam itu Mario sebenarnya sudah berkata tidak akan menginap, tapi Asmila memaksa bahkan Asmila menggagahi Mario di malam itu.


Asmila merasa kesal karena bercinta dengan suaminya terasa hambar, dan memuaskan hasratnya kepada Mario.


Tapi sayang waktu itu, Mario juga sedang lelah sehingga apa yang dibayangkan Asmila malah tak terjadi.


Saking kesalnya, Asmila diam-diam memasukan sebuah celana dalam miliknya ke dalam koper Mario.


Sialnya, ternyata bukan Soraya yang membuka tapi malahan anaknya beserta pembantu rumah tangganya.


Malamnya Mario ijin kepada Soraya untuk ke rumah Wildan, tapi ternyata bukan ke rumah Wildan tapi malah ke tempat lain.


"Aku sepertinya memilih untuk berobat ke kyai yang berada di tempat tinggal lawanmu saja," kata Mario saat bertemu Asmila.


"Serius?" tanya Asmila.


"Iya, aku ingin mencoba dulu daripada memilih di operasi. Bukannya sembuh malah nanti semakin menyebar kemana-mana," ujar Mario lagi.


"Oke, kapan kamu bisa?".


"Dua minggu lagi dari sekarang, nanti kamu saja yang atur segalanya, yah," pinta Mario.


"Oke siap boss".


"Mila, kamu masih butuh penyelesaian masalah kemarin ini saat aku kelelahan?" tanya Mario.


"Hahahaha....butuh jelas dong, tapi tak bisa boss, aku sedang halangan," sahut Asmila sambil meledek Mario.


"Kacau dong, kamu yang melanggar komitmen, kamu yang mengajak, kemarin aku tak bisa. Eh...sekarang malah membalasnya," Mario kesal jadinya.


"Tenang saudara, masih ada cara lain menuju Baghdad," kata Asmila.


"Kok...Baghdad?" Mario keheranan.


"Sttt....diam...mau atau tidak?".


"Mau dong".


"Makanya diam, jangan banyak omong," lalu Asmila menurunkan tubuhnya di depan Mario.

__ADS_1


Selanjutnya entah apa yang terjadi, yang pasti Mario diberikan sesuatu yang tak pernah dia lakukan bersama Soraya istrinya.


__ADS_2