
"Mamah, tadi malam Ahan kirim pesan. Katanya dia pulang tengah malam lagi tapi belum mabuk. Ingat yah, kalau sampai dia mabuk, segera mamah telepon Aming. Biar nanti Aming yang akan mengusir dia," kata Aming ketika menghubungi ibunya dan tak sempat membuat ibunya bicara.
"Astaga Aming, itu papah kamu. Tolong berikan kesempatan kepada papah untuk berubah," Yu Chen mencoba menenangkan anaknya.
"Mamah, dulu Aming masih kecil waktu dia mabuk dan menampar mamah, sekarang Aming sudah dewasa. Tak sudi Aming kalau sampai melihat mamah disakiti lagi sama dia," sahut Aming yang masih menyimpan luka kepada ayahnya.
"Aming, yang sabar nak. Mamah sedang mencoba memberikan kepercayaan kembali kepada papah. Jangan sampai kita membuat papah patah semangat," Yu Chen mencoba mengajak bicara anaknya baik-baik.
"Mamah, begini saja. Dia suami mamah, wajar mamah membelanya. Tapi Aming ini anak mamah, sampai kapan juga Aming tak akan mau melihat mamah terluka lagi. Jadi mohon mamah juga harus terbuka, kalau dia mabuk dan menyakiti mamah lagi, katakan kepada Aming," pinta Aming menegaskan kepada ibunya.
Yu Chen menitikan air mata, dia paham anaknya sangat sayang kepadanya. Aming dulu pernah melihat dirinya ditampar oleh Aliong yang pulang dalam keadaan mabuk sampai jatuh tersungkur ketika mencoba mengingatkan suaminya dulu.
"Baiklah, mamah pasti akan menyampaikan apapun yang terjadi. Mamah janji," ujar Yu Chen mencoba menenangkan hati anaknya yang selalu emosi kalau membahas soal ayahnya.
"Ada apa Lio?" tanya teman kerjanya Aming. Dia di tempat kerja dipanggil Lio oleh teman kerjanya, karena namanya sulit diucapkan yaitu Erickson Liauw.
Awalnya memanggil Liauw, tapi karena susah diucapkan makanya menjadi Lio dan panggilan itu sekarang sudah terlanjur menyatu dengan dirinya.
"Ah, kagak. Gue lagi ngasih tau nyokap biar tidak menanggapi orang yang gangguin nyokap gue," sahut Aming.
"Sabar bro, nyokap gue juga janda. Memang iya benar, ada saja yang gangguin. Kadang aneh cowok tua sudah bau tanah juga masih saja godain nyokap gue," ujar teman kerjanya itu.
"Namanya juga cowok, bro. Kita juga kalau kedatangan pelanggan janda seksi juga senang, kok. Hahahah," sahut Aming kepada temannya.
"Iya benar, tante janda seksi, banyak uang pasti memberi kita tips besar asal kita puji sedikit saja," teman Aming juga berpikiran sama.
"Hahahaha, dasar lu. Cowok mata keranjang, sama saja sama cowok yang suka godain nyokap kita," Aming melempar lap kotor ke tubuh temannya.
"Hahahaha, sama saja. cowok namanya juga, kalau ceweknya mau yah, kita sih pasrah saja," keduanya tertawa mentertawakan diri dan merasa bagaimana tingkah laku lelaki pada umumnya.
Cuma dari pembicaraan itu ada yang janggal, sepertinya Aming selama ini mengatakan kalau ibunya adalah seorang janda. Mungkin karena terlalu luka dengan perbuatan ayahnya dulu, sehingga tak ingin mengakui kalau dirinya masih punya ayah.
Sementara itu Jimmy sedang menikmati makan sandwich isi irisan daging dan keju, ditemani segelas susu kocok yang nikmat.
Dia tak sadar kalau di halaman depan Big Beauty Resto ada sebuah mobil mewah sedang parkir, lalu turun seorang pria memakai setelan jas berwarna hitam.
Pria itu turun ditemani seorang stafnya yang kemarin ini bertemu dengan Jimmy di lahan yang akan dibangun menjadi sebuah perguruan tinggi.
Jimmy terkejut ketika pria itu masuk ke dalam rumah makan bersama seorang pria yang memakai pakaian jas lengkap tadi.
"Selamat pagi, pak Jimmy," sapa staf tersebut.
"Pak Bambang, ehm...selamat pagi. Maaf saya tadi pagi belum sempat sarapan," Jimmy terbata-bata menjawab sapaan orang yang bernama Bambang itu sambil mulut masih mengunyah.
"Silahkan lanjutkan, saya dan Pak Andre akan ke atas dulu. Nanti pak Jimmy menyusul saja, yah," sahut staf yang bernama Bambang.
Pria bersetelan jas hanya mengangguk kepada Jimmy sambil berjalan terus menuju lantai atas.
Tentu saja Jimmy segera menghabiskan makanannya secepat mungkin, setelah itu ke toilet mencuci tangannya lalu langsung bergerak ke lantai atas.
Jimmy melangkah cepat menuju lantai atas, tapi di pertengahan tangga dia terdiam sejenak, ada pemandangan yang membuat hatinya jadi agak sedikit meradang.
Dia melihat Kristy sedang duduk disamping pria bersetelan jas sambil tangannya merangkul lengan pria itu dan kepala Kristy juga ditempelkan ke bahunya.
Sungguh terlihat sebuah pemandangan sepasang kekasih yang terlihat mesra dan manja.
Jimmy menghela nafas lalu melanjutkan langkahnya, dan dia mengulurkan tangan kepada pria bersetelan jas untuk memperkenalkan dirinya.
"Maaf pak Andre, saya belum sempat berkenalan tadi di bawah. Saya Jimmy Maliangkay, dan nanti saya yang akan membawakan presentasi," ujar Jimmy dengan menggenggam tangan Andre dengan mantap.
"Oke, saya sudah tahu anda sebelumnya. Nanti presentasi tunggu bapak Louis yang akan menilai, beliau sedang dalam perjalanan menuju kemari," sahut Andre sambil sama-sama menggenggam erat tangan Jimmy.
"Kita presentasi santai saja, tidak usah terlalu tegang dan serius," lanjut Andre sambil senyum penuh arti.
Kristy masih duduk di samping Andre, dan masih terlihat manja kepada pria itu. Sesekali melirik ke arah Jimmy yang juga sedang mencuri-curi pandang mengintip tingkah Kristy.
Padahal Jimmy tidak tahu, kalau Kristy itu adalah adik iparnya Andre. Dan sewaktu dulu Andre menikah dengan Stevie, usia Kristy masih sekitar lima belas tahun.
Jadi dari kecil memang Kristy sudah sangat manja kepada Andre, sampai sekarang di usianya yang sudah kepala tiga juga masih seperti itu. Bahkan sesekali suka minta dibelikan sesuatu kepada Andre dan Stevie, seperti kaos atau sepatu dan sejenisnya.
Beruntung semua kakak-kakak Kristy walau yang satu berbeda ibu dan satunya berbeda ayah, tetapi semua sayang kepada dirinya.
"Bontot, lagi apa kamu?" tiba-tiba seorang pria berkulit putih seperti orang bule, dan bertubuh tinggi besar naik memasuki lantai atas tersebut.
Orang itu memanggil Kristy dengan panggilan seperti barusan.
Sontak Kristy menoleh dan berteriak," Wooowww!!! Ando!!!!".
Kristy meloncat dan memeluk pria itu dengan sangat erat, bahkan sekarang kedua tangannya menggelantung di leher pria tersebut.
"Ando, kapan datang?" tanya Kristy dengan suara manja.
Pria itu memegang wajah Kristy lalu mencium keningnya, seperti orang yang mencium kekasih hatinya.
"Barusan datang, dari bandara langsung dijemput sopirnya Andre dan dibawa kemari," sahut pria tadi dengan suara besar bergema berwibawa.
"Aku kangen," kata Kristy sambil mengajak duduk Louis Orlando Handoyo yang merupakan kakak sulungnya.
Louis mengacak rambut adiknya sambil melirik ke arah Jimmy yang sedari tadi memandang mereka dengan tatapan wajah tidak suka.
"Wong lanang iku ndelok mrene, koyoke seneng karo kowe. Wonge cemburu ndelok awak dewe, dikiro aku iki pacarmu," bisik Louis dalam bahasa Jawa kepada Kristy adiknya.
(Itu cowok melihat kemari terus, sepertinya dia suka kepadamu. Terlihat cemburu kepada kamu, mungkin dikiranya aku ini pacar kamu)
Mendengar itu Kristy kontan melirik ke arah Jimmy dengan tatapan kesal, lalu menjawab kakaknya dengan bahasa Rusia.
" глупый человек(glupyy chelovek)"sahut Kristy sambil kesal sambil melirik Jimmy.
(Dasar pria bodoh)
"Hahahaha, jangan begitu, nanti malah berbalik suka, nanti kamu yang akan tergila-gila sama dia," goda Louis sambil berbisik di telinga adiknya.
"Amit-amit, idiiihhh. Memangnya di dunia cowok cuma dia doang. Sudah aku mau ke bawah sebentar, aku mau ambil makanan buat Ando," ujar Kristy sambil mengomel.
"Iya, lasagna yah. Aku kangen banget sama lasagna bikinan kamu," sahut Louis sambil mengedipkan mata kepada adiknya.
Kristy lalu segera turun untuk menyiapkan makanan kesukaan kakaknya.
"Ando, bagaimana kalau meeting kita mulai saja?" tanya Andre.
"Silahkan saja," jawab Louis Orlando tangannya mempersilahkan kepada Andre.
"Baiklah, selamat pagi menuju siang. Mohon maaf ada sedikit keterlambatan untuk meeting hari ini. Sebelumnya perkenalkan saya Andreas Cheung, saya adalah wakil direktur PT. Margo Jaya Perkasa yang merupakan perusahaan utama dari Margo Jaya grup".
"Perusahan kami bergerak di bidang peralatan konstruksi bangunan. Dan kebetulan hari ini juga kita kedatangan bapak Louis Orlando Handoyo yang merupakan salah satu direktur dari anak perusahaan Margo Jaya grup. Kebetulan beliau adalah anak sulung dari direktur utama sekaligus pemilik perusahaan kami yaitu bapak Sumargo Handoyo," kata Andre yang memperkenalkan diri dan juga perusahaannya.
"Andreas Cheung ini adik ipar saya, istri dia itu adik kedua saya dan Kristy itu adik bungsu," Louis Orlando ikut bicara.
Glek....Jimmy menelan ludah, dia ternyata sedang berhadapan langsung dengan salah satu keluarga konglomerat negeri ini.
"Ternyata yang Oci katakan itu benar, Kristy anak konglomerat itu. Astaga, alamat presentasi ini ditolak oleh Margo Jaya grup," guman Jimmy dalam hati, dan wajahnya saat ini agak pucat mendengar penuturan dari Andre dan Louis Orlando.
__ADS_1
Sekarang giliran dari pihak Jimmy yang akan memperkenalkan diri, dan diwakili oleh Aliong.
"Selamat pagi juga kepada bapak Andreas Cheung dan juga bapak Louis Orlando serta seluruh staf. Perkenalkan kami dari CV. Maju Mandiri, nama saja Jefry Wiguna Liauw tapi lebih akrab dipanggil Aliong. Dan ini adalah pimpinan perusahaan kami yaitu bapak Jimmy Maliangkay beserta staf yaitu Ferry," ujar Aliong memperkenalkan diri juga atasannya.
"Sesuai dengan permintaan dari bapak Bambang staf dari Margo Jaya grup, kalau di lahan dekat kabupaten akan didirikan perguruan tinggi. Maka dengan ini kami mencoba untuk menyampaikan proposal presentasi kami untuk rancangan bangunan tersebut".
"Mohon maaf sebelumnya, rancangan yang nanti akan disampaikan oleh pak Jimmy, merupakan adaptasi dari rancangan bangunan sebuah Sekolah Menengah Kejuruan Pariwisata dan Perhotelan yang pernah kami renovasi beberapa tahun yang lalu".
"Bukan kami ikut campur, tapi karena kami pernah punya pengalaman membangun sebuah sekolah yang bidang akademiknya pariwisata dan perhotelan, maka kami coba sampaikan perkiraan bangunan dan juga fungsi setiap ruangan dalam bangunan. Untuk lebih lengkapnya akan segera disampaikan oleh bapak Jimmy Maliangkay," Aliong menutup pembicaraan pembukaannya.
"Sekolah pariwisata dimana?" tiba-tiba terdengar suara wanita dan ternyata suara ibu Ivanna Romanov Handoyo yang saat itu tengah tampak di layar monitor laptop milik Andre.
"Oh, iya ini ibu Ivanna Romanov Handoyo, pemilik lahan dan sekaligus ketua yayasan perguruan tinggi tersebut," ujar Andre memperkenalkan ibu mertuanya.
"Halo, salam kenal. Saya Ivanna Romanov Handoyo, saya ibunya Louis dan juga Kristy, mertuanya Andre. Hahahaha," sahut Ibu Ivanna dengan sangat ramah.
Jimmy dan Aliong tambah ciut hatinya ketika melihat wanita tersebut. Siapa yang tidak kenal, beliau adalah salah satu tokoh ternama di negeri ini.
Walau berasal dari negara asing, tapi sekarang sudah menjadi warga negara dan juga sangat cinta kepada negara kita tercinta ini.
"Salam kenal bu, senang bisa mengenal ibu dari dekat," Jimmy dan Aliong bersahutan menyapa Ibu Ivanna, mereka menempelkan kedua tangan di depan dada tanda salam kepada beliau diikuti oleh Ferry.
Jimmy tersenyum kepada Aliong dengan gigi tampak memenuhi bibirnya, tanda dia sebenarnya sangat gemetaran karena saat ini langsung berhadapan dengan orang penting.
"Maaf bu, menjawab pertanyaan ibu, yang kami jadikan proyek percontohan adalah salah satu sekolah menengah kejuruan pariwisata di bagian selatan kota ini," sahut Aliong juga dengan senyum dipaksakan.
"Oh, ya saya tahu. Saya suka konsep bangunan itu, saya pernah berkunjung ke sana," sahut Ibu Ivanna dengan ramah.
"Silahkan sampaikan konsep rancangan anda, nanti anak saya yang akan menilai," lanjut ibu Ivanna yang selalu penuh senyuman.
Aliong mempersilahkan Jimmy untuk berdiri menyampaikan presentasinya.
"Anda Jimmy?" tanya Ibu Ivanna ketika Jimmy mulai berdiri.
"Benar ibu," sahut Jimmy.
Ibu Ivanna hanya mengangguk sambil tersenyum dan tangannya memberi tanda kepada Jimmy untuk melanjutkan presentasi.
Lantas Jimmy mulai menyampaikan presentasi di pagi itu ke hadapan ibu Ivanna, Louis Orlando dan juga Andre.
Bersamaan dengan itu, Kristy naik dari lantai bawah sambil membawa makanan untuk kakak sulungnya.
Louis senang sekali menerima makanan itu, lalu dia mendengarkan presentasi sambil makan lasagna yang baru saja dibawakan adiknya.
Kristy duduk sebentar diantara kakak sulung dan kakak iparnya, dia berbisik bertanya kepada keduanya.
"Nanti yang bayar tagihan siapa? Ko Andre atau Ando?" bisik Kristy sambil melirik ke arah kedua kakaknya.
"Hmmm, Andre sajalah. Masa aku, kan aku baru datang," sahut Louis sambil menikmati makanan buatan adiknya.
Andre menghela nafas, lalu menjawab," Iya, nanti aku yang bayar. Kenapa? pasti kamu mau minta tambahan, yah".
"Hehehe, nah....paham. Bayar ke rekening aku, tapi tambah sedikit saja. Aku mau beli sepatu olah raga yang baru," bisik Kristy sambil senyum lebar kepada Andre.
"Lu yang olah raga, gue yang repot. Jadi gue harus bayar berapa?" tanya Andre sambil mencebikkan bibirnya.
"Nanti aku chat deh, sekarang meeting saja dulu. Aku mau masak yang enak dulu di bawah. I Love you are, brothers," ujar Kristy sambil tersenyum kepada kedua kakaknya lalu mengedipkan sebelah matanya.
Andre dan Louis hanya geleng- geleng kepala, mereka sangat paham dengan kemanjaan Kristy. Selain itu mereka juga merasa kasihan karena si adik bungsu di usianya yang sudah memasuki kepala tiga masih juga belum punya pasangan.
Lalu Kristy bergerak menuju kursi Aliong, dan dia tampak membisikan sesuatu ke telinga Aliong.
Sejenak terlihat mata Aliong membulat, lalu dia mengangguk dan memberi kode minta ijin untuk keluar ruangan.
Jimmy memperlihatkan di layar presentasi, sorotan tampilan dari laptop yang terhubung dengan infocus, rancangan bangunan yang sudah dibuat selama beberapa hari lamanya sampai semua tim pulang malam setiap harinya.
Ibu Ivanna tampak senang dengan konsep yang Jimmy kemukakan, selama ini belum ada arsitek yang menampilkan proposal seperti yang Jimmy sampaikan.
"Rencananya di sisi barat ada sebuah mini hotel dan ada tiga type kamar, yaitu standar, deluxe dan suite room. Dilengkapi mini front office, ada mini bar juga dan mini cafe, tujuannya untuk mahasiwa perhotelan belajar secara langsung di kampus tersebut," Jimmy memaparkan salah satu bagian rancangannya.
"Untuk kitchen, nanti menyambung dengan mini resto di bagian dalam bangunan mini hotel tersebut," lanjut Jimmy.
"Saya suka sekali konsepmu, Jimmy. Luar biasa, intinya saya tertarik. Silahkan masalah lainnya sudah saya serahkan kepada Louis. Saya pamit, silahkan Louis yang akan berbincang masalah selanjutnya. Terima kasih," Ibu Ivanna terlihat sangat puas dengan presentasi Jimmy.
Namun beliau masih banyak urusan lain, sehingga selanjutnya Louis yang akan menangani.
"Jimmy, coba saya perlihatkan estimasi perhitungan biaya untuk mendirikan bangunan tersebut," pinta Louis ketika ibunya sudah pamit mundur dari meeting tersebut.
"Baiklah," Jimmy meminta Ferry untuk melanjutkan membuka slide selanjutnya.
Lalu tampilan di layar presentasi memperlihatkan deretan angka beserta nama dan perkiraan jumlah pemakaian bahan bangunan.
"Tiga puluh delapan milyar? apakah kamu tidak salah?" Louis agak tersentak melihat angka tersebut.
Andre yang duduk di sebelahnya juga ikut membulat matanya melihat tampilan angka tersebut.
"Ini sementara perkiraan yang dapat kami sampaikan," jawab Jimmy sedikit kebingungan.
"Kamu yakin memberikan nilai itu?" Louis bertanya lagi.
Jimmy mengangguk membenarkan jumlah yang ada pada proposalnya.
"Perusahaan sebelumnya memberikan nilai empat puluh lima milyar, dan kamu sekarang memberikan nilai hanya segitu. Kamu pakai bahan bangunannya merek apa ?" tanya Louis menyelidik.
"Kami sejak dulu menggunakan segala bahan bangunan dengan merek "DE MAR", baik pipa, pintu, kusen jendela dan sebagainya. Semua bahan bangunan merek itu tidak terlalu mahal, dan bahannya bagus," jawab Jimmy apa adanya.
"Nah, ini dia orang yang gue cari. Sudah, aku yakin sama kamu, berarti kamu bukan tipe orang yang mengambil untung banyak, tapi mengutamakan kualitas kerja," ujar Louis menatap Jimmy dengan bangga.
"Maksudnya bagaimana, pak?" Jimmy merasa bingung.
"Hahahaha, kamu ternyata satu ide dan satu frekuensi sama kami. DE MAR adalah produk perusahaan kami, lalu kamu mencantumkan harga atas produk kami dengan ambang batas wajar. Harga disini naik sepuluh persen untuk antisipasi kenaikan harga pasar, bukan?" Louis Orlando menjelaskan kepada Jimmy.
Dan Jimmy hanya senyum canggung masih belum bisa seratus persen paham atas penjelasan Louis.
"Coba sekarang aku minta kamu tampilkan semua foto pekerjaan bangunan yang sudah pernah kalian buat," pinta Louis sambil masih merasa terkesan kepada Jimmy.
Ferry yang diberi kode oleh Jimmy, segera menampilkan foto-foto hasil bangunan yang sudah perusahaan mereka kerjakan selama bertahun-tahun mereka bekerja.
"Bendungan dan irigasi seperti ini mengingatkan aku kepada teman lama yang sudah meninggal kemarin. Namanya Mario, dia kemarin meninggal kecelakaan. Hasil pekerjaannya seperti itu, rapih dan tidak pernah mengecewakan," ujar Louis lagi sambil menatap lekat setiap foto yang ditampilkan di layar.
"Maksud bapak mungkin Mario Maliangkay?".
"Iya, benar itu namanya".
"Saya adalah adiknya" sahut Jimmy perlahan.
"Oh, kamu adiknya Mario? ngomong dong dari tadi. Kalau tahu kamu adik Mario, sudah tak perlu pakaipresentasi segala".
"Sudahlah aku deal, setuju kerjasama dengan kamu, Jimmy. Ayo sama-sama membuatkan bangun kampus untuk mamaku," jawab Louis dengan wajah yang begitu senang.
"Andre, besok kamu buatkan kontrak kerja dengan perusahaan Jimmy. Dan kamu Jimmy, besok ketemu di Margo's Tower. Kita bicarakan kontrak kerja kita, lalu siangnya kita sama-sama ke lokasi," Louis memberi perintah kepada adik ipar dan juga Jimmy.
__ADS_1
"Jadi presentasi kami perlu dilanjutkan lagi atau bagaimana, pak?" Jimmy setengah tidak percaya dengan ucapan Louis.
"Sudahlah tak usah, aku sudah paham. Cukup presentasinya, sekarang semua ikut saya ke bawah. Kita makan saja, adik saya bikin masakan enak," jawab Louis dengan santai.
Jimmy dan Ferry langsung saling menempelkan kedua telapak tangannya, saling tos tangan.
"Boss, mukjizat ini. Benar-benar bisnis besar langsung ditangani sendiri," ujar Ferry dengan gembira.
"Benar Fer, aku tak sangka. Kita bisa dapat proyek besar langsung dari tangan sendiri," Jimmy merasa sangat bangga sekali.
Merupakan prestasi bagi Jimmy dan seluruh stafnya, karena sejak awal perusahaan didirikan Mario dulu hampir semua proyek besar itu limpahan dari perusahaan lain.
Atau istilah dalam dunia kontraktor namanya sub kontrak, belum pernah murni mendapatkan proyek bernilai milyaran rupiah yang hasil keringat sendiri.
Dulu limpahan dari Mr. A dan Aliong, setelah itu keduanya masuk penjara karena korupsi dana pembangunan.
Lalu Mario bekerjasama lagi dengan Wildan dan Danu, dari mereka baru perusahaan Mario mendapat limpahan pekerjaan.
Kadang dulu Jimmy suka sedih, karena perusahaan Mario bekerja lebih lelah dibanding perusahaan Wildan dan Danu.
Tapi mendapat keuntungan lebih sedikit dibanding Wildan dan Danu.
Sekarang Jimmy merasa sangat bangga dan bahagia sekali, selama bekerja di bawah kepemimpinan kakaknya dulu, baru sekarang dia bisa mendapat gebrakan pekerjaan bernilai milyaran rupiah dari tangan sendiri.
Hanya saja Jimmy merasa bingung, tadi dia bersama Aliong saat awal presentasi.
Tapi tak lama tadi presentasi dimulai, Kristy seperti mengajak Aliong ke lantai bawah dan sampai sekarang masih belum kembali lagi ke pertemuan ini.
"Fer, tadi Ko Aliong bilang apa sama kamu? setahu aku tadi dia memberi kode minta ijin mau ikut ke bawah sama Kristy?" tanya Jimmy ketika membantu Ferry membereskan laptop dan bahan presentasinya.
"Saya malah tak paham boss Jimmy, soalnya tadi ibu Kristy membisikan sesuatu ke telinga ko Aliong. Setelah itu keduanya turun ke bawah sampai sekarang," sahut Ferry menjelaskan kepada Jimmy.
"Aneh, ada apa yah?" Jimmy bertanya-tanya sendiri.
"Coba tadi yang dibisikin itu telinga saya, pasti langsung saya tarik bahunya dan saya cium bibirnya," Ferry membayangkan kalau dirinya yang tadi dibisiki oleh Kristy.
"Ferry, itu masih ada kakak iparnya. Lu mau dibatalin proyek ini!," bisik Jimmy sambil melotot kepada Ferry.
Memang di lantai atas ini masih ada Andre yang juga sedang memastikan laptopnya untuk kemudian dibereskan oleh Bambang yang merupakan asistennya.
"Ups....maaf boss, semoga tidak kedengaran tadi," sahut Ferry sambil menutup mulutnya dengan tangan kirinya.
"Ayo!!! kita ke bawah. Sudah ditunggu makan siang oleh Pak Louis Orlando," ajak Bambang yang diberi perintah oleh Andre yang baru saja sudah mendahului menuju lantai bawah.
"Cepat Fer !!! sekalian kita cari ko Aliong. Kemana dia, main kabur saja," gerutu Jimmy sambil mulai melangkah menuju lantai bawah diikuti oleh Ferry di belakangnya.
Sambil turun keduanya sambil melayangkan pandangan ke seluruh bagian di lantai bawah, dan tidak tampak sosok Aliong
sama sekali.
Keduanya malah dipanggil oleh Louis Orlando untuk segera duduk di meja khusus yang sudah disediakan oleh Kristy.
"Ini lihat, adikku masak masakan Manado. Ayam Rica, sup ikan kuah asam dan ikan woku. Tadi aku bilang sama dia, berani sekali masak masakan Manado. Kan ada Jimmy, loh".
"Lalu dia jawab, memangnya Jimmy paham memasak, paling juga tahunya cuma makan doang. Ayo, buktikan kalau benar orang Manado pasti bisa menilai masakan adikku ini," Louis menjelaskan sambil memberi tantangan kepada Jimmy soal rasa masakan adiknya.
Tapi Jimmy tidak menjawab, hanya tertawa saja, lalu mereka segera diajak makan oleh Louis Orlando karena dia ingin sekali Jimmy menilai masakan adiknya.
Jimmy duduk di salah satu kursi di dekat Louis, lalu mengambil nasi ke atas piring dan mulai menyendok beberapa lauk yang tersaji ke atas piringnya.
Lalu Jimmy berdoa sebelum makan, dan Louis yang melihatnya memberikan nilai lebih sebab jarang lelaki berdoa sebelum makan.
Jimmy mulai mencoba ayam rica tersebut, dan terasa enak di lidahnya. Rasa pedasnya cocok di lidahnya yang memang terbiasa dengan makanan pedas.
Lalu dia mulai mencoba ikan woku, dan tiba-tiba dia merasa ada yang sedikit aneh dengan rasanya.
Enak tapi ada sedikit yang kurang pas dengan lidahnya, karena ikan woku adalah salah satu makanan favoritnya.
Lalu setelah itu, Jimmy mengambil mangkuk kecil yang ada di depan piringnya dan mulai menyendok sup ikan kuah asam.
Lalu dia mulai mencobanya, dan yang ini rasanya sangat lezat bahkan jauh lebih enak dibanding buatan ibunya.
"Bagaimana rasanya? tadi perhatikan kamu kurang suka dengan ikan woku itu," Louis tenyata sedari tadi memperhatikan Jimmy makan.
Tentu saja Jimmy terkejut, dan dia mencoba memberikan komentar.
"Nanti dulu, aku panggil dulu Kristy," ujar Louis menahan Jimmy yang siap berkomentar.
Lalu Louis Orlando memanggil adiknya dan terlihat Kristy berlari kecil mendekati kakaknya.
"Bontot, dengar ini orang Manado mau kasih komentar masakan kamu," kata Louis sambil tertawa.
"Ayo, Jimmy silahkan bicara!" kata Louis lagi kepada Jimmy.
Sambil menelan ludah, lalu Jimmy mencoba berkomentar.
"Ayam rica enak sekali pas bumbunya, sup ikan kuah asam apalagi sangat enak. Sepertinya buatan mamih saya juga kalah," Jimmy memberi komentar begitu membuat Kristy terlihat senang.
"Hanya ikan woku ada yang sedikit kurang," begitu komentar Jimmy.
"Kurang apa?"tanya Kristy yang akhirnya bertanya langsung kepada Jimmy.
"Hmmm, mungkin kemirinya tadi langsung digoreng saja, yah. Seharusnya disangrai dulu sampai kecoklatan baru digerus dicampur dengan bumbu lain".
Kristy mendelik ke arah Jimmy sambil cemberut, tapi dalam hatinya membenarkan apa yang dikatakan Jimmy barusan.
"Satu lagi, kalau ikan woku lebih enak pakai tomat hijau atau kalau tidak ada pakai tomat ceri yang kecil. Agar rasa asamnya jadi lebih keluar dan terasa segar," Jimmy memberikan pendapatnya untuk masakan buatan Kristy tersebut.
"Terima kasih sarannya, nanti saya akan coba lagi," jawab Kristy sambil setengah cemberut lalu kembali ke dapur.
"Hahahaha, adikku itu memang begitu kalau diberitahu. Cemberut tapi sambil dipikirkan, dan nanti kalau dia masak lagi pasti akan mencoba apa yang tadi kamu katakan. Maklum dia bungsu dan usia kami berbeda sangat jauh," Louis mentertawakan sambil menjelaskan kepada Jimmy perihal adiknya yang manja.
Setelah makan, Jimmy pamit ingin ke toilet. Letak toilet cukup jauh dari tempat duduk mereka, harus berputar sedikit ke arah dapur.
Dan ketika Jimmy berjalan menuju toilet, dia melihat ada Soraya tengah duduk bersama seorang wanita dan pria, juga
tampak ada Aliong duduk di samping Soraya yang terlihat sedang menangis.
Pantas Aliong tidak terlihat sejak tadi, karena tempat duduk Aliong bersama Soraya dan kedua orang yang tak Jimmy kenal itu terhalang oleh dapur.
"Ko Aliong, kak Soraya, sedang apa di sini?" tanya Jimmy membuat Soraya dan Aliong terkejut.
Mata Soraya sembab, dan wajahnya penuh dengan air mata.
"Jim, kamu mau kemana?" tanya Aliong.
"Aku mau ke toilet, tapi melihat kalian tenyata ada di sini," sahut Jimmy.
"Sudah kamu ke toilet dulu, lalu selesaikan urusan dengan mereka. Baru setelah selesai nanti gabung kemari," ujar Aliong.
Jimmy mengangguk, lalu dia tak bertanya lagi dan segera masuk ke toilet.
__ADS_1
Ketika Jimmy sudah terlihat masuk ke toilet, lalu Soraya berkata," Kalau bisa, keluarga suamiku jangan sampai tahu dulu masalah ini".