
"Mbak, maaf mau tanya, kalau Pak Asrul ada di ruangannya atau tidak?" tanya Magenta kepada petugas administrasi kampus.
"Ada kok, masuk saja. Jadwal mengajar beliau masih dua jam lagi, tapi mungkin beliau sedang sibuk memeriksa tugas," jawab petugas tersebut.
Magenta mengangguk, lalu mencoba masuk ke ruangan dosen dan mencari Asrul.
Di dalam ruangan besar itu kebetulan hanya ada Asrul seorang sedang mengetik sesuatu pada komputernya.
Magenta celingak-celinguk takut ada orang mendengar, dan ketika yakin tak ada orang lain, maka segera dia mendekati kakak iparnya itu.
"Mas Asrul, jahat banget sih," kata Magenta tiba-tiba sehingga membuat Asrul kaget.
"Apa Gen? ampun deh kamu, hampir copot jantungku," sahut Asrul sambil mengatur nafasnya.
"Mas...duh...jahat banget sih, kenapa dosen mentorku harus Pak Wijoyo. Ampun deh....mas kan tahu kalau beliau itu killer," Magenta protes kepada kakak iparnya.
"Jadi kamu mau siapa dosen mentornya? Pak Husein atau siapa?"tanya Asrul dengan santai.
"Ya Allah, tentunya aku mau Mas Asrul dong. Masa sih adik iparnya mendapat mentor dosen lain bukan kakaknya sendiri," Magenta berkata sambil cemberut.
Asrul merasa geli melihat mimik wajah adik iparnya yang super manja itu.
"Gen, kamu pernah dengar istilah KKN?".
"Ya, Korupsi, Kolusi dan Nepotisme, terus kenapa?" Magenta bertanya balik.
"Tahu tidak arti kata Nepotisme?" tanya Asrul lagi sambil senyum.
"Tahu dong, artinya seseorang yang menyalahgunakan wewenangnya dengan mengutamakan keluarga atau kerabatnya dibanding orang yang seharusnya lebih memiliki kemampuan," jawab Magenta dengan lugas.
"Nah itu dia....!!! kamu kan adikku, masa adik sendiri dimentori oleh kakaknya. Apa kata orang lain," Asrul mencoba membuka pikiran Magenta.
"Mas...itu kan kalau pekerjaan. Aku kan mahasiswa, lain dong sama pekerjaan," Magenta tetap saja memaksa Asrul menjadi mentornya.
"Astaga Gen, memangnya aku di kampus ini cuma main petak umpet...hah...??!!!"Asrul mulai sebal karena adik iparnya tak juga paham.
"Aku ini dosen, kerjaku memberi pelajaran kepada mahasiswa. Kamu mahasiswa dan kebetulan adik iparku, jadi tak mungkin dong aku menjadi mentormu. Nanti malah nilai yang kamu dapat akan dianggap bukan nilai murni".
Magenta mendelik sambil tetap cemberut tanda tak terima dengan keputusan pihak kampus.
"Ayolah, Gen kan sudah besar, sudah mahasiswa. Buktikan dong kamu punya prestasi. Masa kakaknya jadi dosen tapi adiknya tidak bisa apa-apa," kata Asrul lagi sambil berdiri dan mengacak rambut adik iparnya.
"Iiihhh... sebel deh, tapi kok Jena bisa masuk ke kelompok yang mentornya adalah Mas Asrul. Ayo mengapa bisa begitu?" Magenta masih berusaha protes.
"Gen...Gen...., kalau Jena kan temanmu, dia bisa saja masuk ke kelompok di bawah mentoring aku. Kalau kamu kan adik ipar, beda dong," kata Asrul lagi sambil merasa ruwet dengan permintaan adik iparnya itu.
"Iya deh, Mas Asrul lebih sayang Jena daripada aku," sahut Magenta lagi sambil beranjak berdiri.
"Astagfirullah, aku harus bagaimana lagi sama adik ipar satu ini. Itu yang mengatur bukan aku, tapi pihak kampus. Ayolah jangan merajuk begitu, malu dong, masa di rumah manja lalu di kampus juga manja sih," Asrul mulai tambah jengkel karena adik iparnya tak juga mau memahami.
"Ya sudah, sekarang minta uang dong. Aku mau beli bakso, lapar nih," Magenta malah jadi minta yang lain.
"Ya ampun, tadi minta mentor, sekarang minta uang. Nih ambil...!"kata Asrul sambil. memberi uang sebesar sepuluh ribu kepada adik iparnya.
"Mas...pelit yah...masa ceban doang? tambah sih, kan habis makan harus minum," Magenta protes lagi kepada kakak iparnya.
(Ceban \= sepuluh ribu)
"Ya Allah Ya Rabbi, beli bakso semangkuk masih kembali loh itu, memangnya kamu mau makan berapa banyak?" Asrul melotot saat adik iparnya minta tambah uangnya.
"Selembar lagi dong, ayo mas. Masa sama adik sendiri pelit".
Sambil merasa jengkel, Asrul mengeluarkan lagi uang selembar lagi dan langsung disambar oleh Magenta.
"Makasih ya Mas Asrul yang pelit dan jahat, aku mau jajan bakso....dadah...".
Magenta berjalan sambil melompat- lompat meninggalkan ruangan dosen, sementara Asrul hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah adik iparnya.
"Hahahah...ya itulah Magenta, dari kecil manja sampai sudah menjadi mahasiswa juga. Mungkin karena Mamih terlalu memanjakan dia," Aletha tertawa saat suaminya bercerita tentang kejadian tadi siang.
"Masa aku menjadi mentor dia, nanti semua pasti akan protes dan menganggap aku tidak fair dalam memberi nilai," Asrul menjelaskan kepada istrinya yang sedang hamil besar saat itu.
(fair \= adil)
"Biarkan saja mas, memang benar harus begitu. Dan aku senang mendengar dia mendapat dosen yang killer. Biar dia menjadi dewasa dalam berpikir," sahut Aletha sambil mengelus perut besarnya.
Asrul memandang perut buncit istrinya, lalu mendekatkan kepalanya dan mencium sambil mengelus perutnya.
"Dedek kapan sih lahirnya, ayah sudah tidak sabar ingin cepat bertemu," ujar Asrul sambil terus menciumi dan mengelus perut Aletha.
"Bulan depan ayah, dedek juga sudah ingin bertemu bunda dan ayah," Aletha berkata seakan anak dalam perutnya yang berkata- kata.
Asrul mendongak, mencium pipi istrinya lalu berbaring di samping istrinya dan tidur sambil memeluk istrinya.
Husein dan Yunita sedang memilih- milih kado yang tepat untuk diberikan kepada Aletha yang baru saja melahirkan seorang bayi laki-laki.
"Baju, gendongan dan tas untuk perlengkapan bayi, pasti Etha sudah punya semua. Secara orang tuanya kaya raya begitu, pasti semua sudah disiapkan," kata Yunita yang bingung mencari kado yang tepat untuk Aletha dan bayinya.
"Jangan berpikir begitu, namanya juga kita mau memberi kado. Aku yakin apapun itu, Etha pasti akan senang menerima kado dari sahabatnya," kata Husein sambil merangkul bahu Yunita.
Ternyata benar, Husein dulu pernah meramal kalau Asrul akan bersama Aletha si gadis coklat yang manis, sedangkan dia akan bersama Yunita si gadis putih yang judes.
"Mas aneh memang, kalau memberi lagi barang yang sudah mereka miliki, untuk apa juga? nantinya malah akan disimpan atau malah dibuang," ujar Yunita dengan nada ketusnya.
"Belum tentu juga, kita cari saja yang kira-kira orang kaya tidak akan membeli tapi ternyata benda tersebut akan berguna," kata Husein sambil mencubit kecil cuping hidung kekasihnya.
Lalu keduanya mencari lagi benda- benda untuk bayi yang sekiranya tidak mungkin dibeli orang kaya tapi kalau sudah ada akan sangat berguna.
"Mas, ini dia, pasti Etha belum punya benda ini," Yunita dengan senang menunjukkan ayunan bayi yang terbuat dari bahan yang lembut dan ada tali pegas pengikatnya.
"Nah, benar ini, orang kaya pasti tidak terpikir alat seperti ini akan sangat berguna," Husein juga setuju dengan pilihan Yunita.
__ADS_1
Setelah dibungkus kado, lalu mereka berdua segera menuju ke rumah sakit tempat Aletha dirawat setelah melahirkan.
Husein membonceng Yunita dengan sepeda motor kesayangannya, dan Yunita merasa bahagia walau kekasihnya tidak memiliki mobil seperti Asrul dan Aletha.
"Wow....terima kasih Tante Yuyun dan Oom Husein, aku senang sekali kadonya. Nanti aku mau dong diayun-ayun pakai gantungan ini," ujar Aletha ketika membuka kado dari sahabatnya.
"Etha, memangnya ayunan begitu nanti digantung dimana?" tanya Ibu Edmun merasa aneh dengan benda yang sedang dipegang anaknya.
"Di tiang pintu bisa, kalau setahu Etha sih biasanya di tiang pintu," sahut Aletha menjawab pertanyaan ibunya.
"Mamih sih belum pernah tahu ada benda begitu, hati- hati sajalah jangan sampai cucuku terjatuh," kata Ibu Edmun sambil agak mencibir ketika melihat ayunan itu.
"Tenang saja Mamih, Etha pernah tahu kok ada bayi diayun memakai alat begini dan tidurnya nyenyak sekali," ujar Aletha menenangkan hati ibunya.
"Coba kamu lihat Yun, anaknya kok mirip Asrul semua. Tak ada sisa sedikitpun wajah Etha," kata Ibu Edmun sambil menunjuk ke tempat tidur bayi.
Yunita hanya tersenyum dan merasa bingung untuk menanggapi pernyataan Ibu Edmun.
"Tapi ada untungnya, hidung Etha kan bulat, hidung Asrul mancung karena Arab. Untung juga sih bayinya mancung jadinya," kembali Ibu Edmun berkata seperti itu soal cucunya yang baru lahir.
"Iya tante, Alhamdulillah, semoga cucu tante menjadi anak yang sholeh kelak," sahut Yunita berusaha menanggapi.
"Aamiin, harus dong Yun. Wong kakek dan neneknya saja sholeh dan sholehah, tentu cucunya juga harus begitu," Ibu Edmun membanggakan dirinya.
Yunita hanya senyum- senyum saja sambil merasa kikuk kalau bicara dengan ibunya Aletha.
"Bro, keren banget istri dirawat di ruang VIP. Berapa biaya per harinya?" tanya Husein dengan kagum.
"Bukan aku yang bayar, mertua semua yang mengatur. Ketika tiba di sini, aku mendaftar ke ruangan kelas dua. Lalu mertua datang, dan segera ganti ke VIP , " jawab Asrul dengan lesu.
"Wah, santai dong kalau mertua yang bayar, kamu tinggal ongkang-ongkang kaki tentunya. Enak banget hidupmu bro," Husein berkata seperti itu dan terlihat wajah Asrul berubah.
"Enak darimana bro, harga diri hilang bro. Aku selama ini mana dianggap oleh keluarga istriku. Apapun juga mertua turun tangan ikut campur".
"Beli rumah, itu padahal aku dan Etha sudah sepakat untuk mencicil bersama. Eh, mertua tahu, langsung dong dibayar tunai," Asrul terlihat sangat tidak senang dengan keadaan rumah tangganya.
"Lalu Aletha juga dibelikan mobil baru, padahal dia tidak minta kepada orang tuanya".
Mendengar cerita Asrul, membuat Husein malah merasa bingung kepada sahabatnya.
"Loh, bukannya malah enak bro. Kamu jadi tidak punya cicilan apapun," kata Husein.
"Enak, benar enak. Uang utuh, bisa dipakai beli keperluan lain. Tapi, aku tidak punya hak bicara sebagai suami dan menantu. Apapun bagaimana kedua mertuaku," keluh Asrul yang merasa harga dirinya terinjak.
"Dari awal menikah, semua diatur mertua. Bahkan ini cincin kawin kami juga berubah, dulu kami berdua sudah membeli sepasang cincin pilihan kami dan juga emas kawin berupa kalung".
Asrul terdiam sejenak sambil menghela nafas.
"Lalu saat hari pernikahan, semua berubah dong. Cincin modelnya berubah, dan emas kawin yang tadinya cuma kalung sepuluh gram menjadi satu set perhiasan emas dua puluh lima gram. Kami berdua kaget melihatnya," lanjut Asrul terlihat wajahnya tidak suka dengan keadaannya.
Husein menepuk bahu sahabatnya, dia ikut merasakan perasaan sahabatnya itu.
"Walau bagaimana juga, kita kan lelaki. Ingin rasanya aku punya sesuatu dari hasil jerih payahku sendiri. Istriku juga begitu, istilahnya kami berdua bekerja dan kami ingin apa yang dimiliki adalah hasil kami berdua bahu membahu," lanjut Asrul lagi dengan wajah tertekan.
"Ehm...maaf yah papih ganggu, mau bicara sama Asrul sebentar," tiba-tiba Pak Edmun keluar dari kamar rawat Aletha dan bayinya.
"Oh, iya Oom, silahkan," sahut Husein sambil berdiri mempersilahkan Pak Edmun duduk di sebelah Asrul.
"Asrul, begini, besok Aletha sudah boleh pulang. Nah, nanti biar papih dan mamih saja yang menjemput, dan untuk sementara Aletha dan bayi akan tinggal di rumah papih ," kata Pak Edmun memberitahu Asrul soal istri dan anaknya.
"Hmm, apa tidak di rumah Aletha saja Papih? biar kami berdua saja yang mengurus bayi," sahut Asrul tampak keberatan dengan rencana mertuanya.
"Kalian belum pengalaman mengurus bayi, jadi daripada nanti ada apa-apa, lebih baik istri dan anakmu bersama kami dulu," Pak Edmun tetap meminta anak dan cucunya tinggal sementara bersama mereka.
Kesal rasanya hati ini, tapi mau bagaimana lagi. Kedua mertuanya kalau sekali bicara itu artinya sama dengan fatwa, harus disetujui dan dikuti.
Husein akhirnya melihat langsung bagaimana sahabatnya harus terpaksa menuruti apa yang diinginkan mertuanya tanpa bisa memberikan argumen apapun.
Dalam hatinya merasa kasihan kepada Asrul yang terlihat tak berdaya dihadapan mertuanya.
Keesokan harinya Aletha dan bayi sudah bisa pulang, dan sebagai seorang suami tentu Asrul siaga menjemput istrinya.
Saat sedang membereskan pakaian Aletha dan keperluan lain selama di rumah sakit, kedua mertuanya datang ke kamar rawat inap Aletha.
"Etha, kemarin papih sudah bicara dengan Asrul, dan dia juga sudah setuju. Kamu nanti tinggal di rumah sejahtera dulu yah, nanti kalau bayimu sudah agak besar, baru nanti bisa pulang ke rumahmu," kata Pak Edmun begitu masuk ke ruangan itu.
"Tapi aku dan Mas Asrul sudah sepakat mau membawa bayi ke rumah kami saja. Biar aku dan Mas Asrul saja berdua yang mengurus anak kami," sahut Aletha tampak tak senang dengan ide ayahnya.
"Etha, suamimu sudah setuju kok, kalian kan belum paham cara mengurus anak bayi. Jadi biar kamu di rumah mamih dulu, benar kata Papihmu, nanti kalau bayi sudah besar dan kamu sudah paham mengurusnya, silahkan dibawa pulang," Ibu Edmun langsung menambahkan kepada Aletha.
"Mas, bagaimana sih... kemarin katanya kita saja yang mengurus anak, sekarang malah aku diungsikan ke rumah Mamih dan Papih," ujar Aletha protes kepada Asrul.
Mata kedua mertuanya melotot ke arah Asrul, dan tentu saja membuat dirinya menjadi kalut tak bisa mengatakan apapun.
"Mas, gimana sih. Heran mas jadi plin-plan begini sih".
"Etha, benar kata Mamih dan Papih, sebaiknya kamu dan anak kita di rumah sejahtera dulu. Nanti aku juga akan tinggal di sana sementara," sahut Asrul dengan berat hati.
Mau tak mau, akhirnya Aletha mengikuti keinginan kedua orang tuanya, dia tinggal di rumah jalan Sejahtera tempat tinggalnya dulu ketika masih gadis bersama kedua orang tuanya.
Asrul memarkirkan mobil tuanya di depan toko milik orang tuanya. Tampak kedua orangtuanya sedang sibuk melayani pembeli, karena mereka berdagang makanan dari Arab seperti kurma, kacang arab, manisan dan sejenisnya.
Ada juga perlengkapan sholat, kitab suci, tasbih dan lain-lain.
Biasanya keturunan Arab seperti itu, menjual barang-barang dan juga makanan yang biasanya dijadikan oleh-oleh untuk orang yang pulang dari tanah suci.
Karena pada umumnya yang pulang dari tanah suci harus membagikan oleh-oleh kepada tamu yang mengantar atau menjemputnya.
Asrul langsung masuk ke dalam toko dan terus menuju ruangan belakang toko yang merupakan tempat tinggal kedua orang tuanya dan juga Anwar adik lelakinya.
Dia segera membuka tudung saji di atas meja makan, rupanya ada ikan goreng dan sambal kecap.
__ADS_1
Asrul segera mencuci tangan, lalu mengambil piring dan segera menciduk nasi dari tempat nasi ke atas piring yang dipegangnya.
Lalu duduk di salah satu kursi dan segera menyambar satu ikan goreng yang diatas meja tadi.
"Ya ampun anak umi, masuk rumah tanpa salam, lalu langsung saja makan. Darimana kamu nak?" tanya Ibu Hasan ibu kandungnya Asrul.
"Lapar umi, maaf tadi tak memberi salam," sahutnya sambil mencium punggung tangan ibunya.
"Darimana nak?"Ibu Hasan bertanya lagi sambil mengelus bahu anak sulungnya.
"Habis dari rumah sakit, tadi Aletha dan bayi sudah boleh pulang hari ini".
"Alhamdulillah, dimana mereka sekarang?" tanya Ibu Hasan dengan semangat.
"Biasa, di kerajaan mertua indah," sahut Asrul asal saja.
"Astagfirullah, jangan begitu nak, mertuamu itu orang baik. Mengapa kamu sinis seperti itu. Pamali kata orang tua dulu," kata Ibu Hasan yang tidak senang mendengar ucapan anaknya.
(Pamali \= dosa/tabu, istilah bahasa daerah yang digunakan di Jawa Barat dan Jawa Tengah)
"Mertuaku baik, hanya kasihan menantunya tak punya harga diri, tak berarti," ujar Asrul sambil menikmati makanan siangnya.
"Ada apa sih sebenarnya? coba katakan pada umi," pinta Ibu Hasan ketika melihat anaknya tampak sedang tidak senang.
Asrul memandang ibunya, lalu menghela nafas teramat berat.
"Umi, sepertinya Asrul salah menikah dengan Aletha," ujar Asrul dengan wajah tertekan.
"HEH!!! JAGA MULUTMU!!!" terdengar Pak Hasan berteriak dari arah belakang Asrul dan ibunya.
"ASRUL!!!! Lelaki itu pantang bicara yang tak karuan. Dosa hukumnya, kamu itu seorang imam tapi bicara seenaknya," Pak Hasan terlihat tidak suka dengan ucapan anaknya tadi.
"Ya nak, coba katakan ada apa sebenarnya? kamu tak boleh bicara begitu, pantang nak seorang lelaki bicara yang tak seharusnya. Paham kan," Ibu Hasan dengan lembut mengelus lengan anaknya.
"Asrul merasa tak berguna, tak punya hak bicara, tak punya hak mengeluarkan pendapat, bahkan hanya untuk memiliki istri dan anak secara utuh juga tak pernah akan bisa dilakukan," akhirnya Asrul mengeluh dihadapan orang tuanya.
"Maksudnya bagaimana? apa yang menyebabkan kamu merasa seperti itu?" tanya Pak Hasan sambil mendelik.
"Kemarin sewaktu mau melahirkan, Asrul menempatkan Aletha di ruang rawat inap kelas dua. Dan Aletha juga tak masalah, lalu datang raja dan ratu, lantas istriku segera dipindahkan ke ruang VIP".
"Saat itu Aletha sempat menolak, tapi titah raja dan ratu tentu tak bisa ditolak. Akhirnya istriku pindah ruangan, dan tadi saat mau membayar biaya rumah sakit ternyata sudah dilunasi mertua. Buntutnya istri dan anakku dibawa ke istananya," Asrul mengeluarkan segala uneg-uneg di hatinya.
"Ah, kalau aku jadi Bang Asrul sih hepi dong, segala gratis. Ya kan umi," biasa Anwar adiknya selalu menyambar kata-kata walau tak paham awalnya ada apa.
"Nyamber terus kayak geledek," sahut Asrul sambil mendelik kesal kepada adiknya.
Anwar hanya cekikikan saja melihat kakaknya sewot.
"Asrul, dengar urusan jodoh itu rahasia Allah. Kamu tak bisa berkata apa yang sudah dipersatukan oleh Allah itu suatu kesalahan. Setiap yang Allah lakukan pasti ada rahasia terbaik di dalamnya, kamu jangan pernah mengeluh," Pak Hasan menasehati anak sulungnya.
"Sudah rejekimu punya mertua kaya raya, terima saja jangan jadikan beban. Istri dan anak sekarang berada di rumah mertuamu, mungkin mereka punya alasan. Misal ingin mengajari istrimu cara mengurus bayi atau hal lain. Jangan berprasangka buruk selalu, menempatkan diri tak berguna segala dan menilai mertuamu seenaknya".
"Benar apa kata abimu, dan umi juga sependapat begitu. Jangan menilai buruk kepada mertua, pasti mereka punya alasan tertentu dengan membawa anak dan istrimu ke rumah mereka," Ibu Hasan juga menasehati Asrul.
Tiba-tiba ponsel Asrul berbunyi dan terlihat nama Aletha di sana.
"Ya, ada apa Etha?".
"Assalamualaikum, mas Asrul," terdengar suara istrinya dari seberang sana.
"Walaikumsalam, ada apa?" sahut Asrul.
"Mas, nanti malam kalau kemari sekalian bawakan aku baju tidur yah. Lalu koper baju bayi yang warna merah sekalian tolong bawakan juga. Mas tidur di sini juga kan?" terdengar Aletha memintanya untuk tidur bersama di rumah mertuanya.
Asrul memandang ke arah ibu dan ayahnya, keduanya memang tak mendengar ucapan menantunya tapi mereka sudah bisa menebaknya.
Kedua orang tuanya menganggukan kepala ke arah Asrul yang terlihat sangat galau.
"Ya, nanti aku kesana sehabis maghrib, tolong kamu chat saja yah apa yang harus aku bawa," jawab Asrul sambil menghela nafas.
"Belajar bersyukur atas apa yang kita miliki, jangan suka berpikir buruk. Tapi cobalah menyikapi segala sesuatu dengan positif," ujar Pak Hasan lagi sambil memandang wajah anaknya.
Asrul tak berkata apa-apa lagi, dia segera beranjak membawa piring kotornya dan mencucinya di dapur.
Pak Hasan dan Ibu Hasan sejak dahulu tak pernah punya pembantu rumah tangga, segala sesuatu dilakukan sendiri dan hal itu mereka terapkan kepada kedua anak lelakinya.
Asrul dan Anwar walau terpaut usia yang cukup jauh, tetapi keduanya merupakan anak yang mandiri sejak kecil dan keduanya saling menyayangi.
Saat ini Asrul mencoba meraba hati dan pikirannya, mencoba untuk melepaskan sejenak egonya sebagai seorang lelaki dan juga seorang suami.
Mungkin ada benarnya apa yang dilakukan kedua mertuanya, tapi mungkin juga kedua mertuanya terlalu berlebihan dalam menyayangi anak dan menantu ditambah sekarang ada cucu.
Asrul hanya bisa mencoba untuk merendahkan egonya agar jangan sampai terjadi salah paham dengan kedua mertuanya.
Sore harinya Asrul datang ke rumah mertuanya sambil membawa semua pesanan istrinya.
Pak Edmun dan Ibu Edmun menyambut kedatangan menantunya dengan gembira.
Mereka lalu makan malam bersama, dan Aletha juga makan di meja makan sambil belajar jalan.
"Jahitannya masih terasa linu," kata Aletha saat dituntun oleh Asrul menuju ruang makan.
"Pelan- pelan saja, orang dicabut gigi juga kan tidak sehari langsung sembuh," ujar Asrul menggoda istrinya.
"Lainlah jahitan gigi dengan jahitan melahirkan. Mas ini ada-ada saja," kata Aletha sambil mencubit kecil pipi suaminya.
Saat keduanya sedang menikmati makanan yang sudah terhidang di atas meja, tiba-tiba Pak Edmun berkata sesuatu kepada Asrul dan Aletha.
"Kalian berdua tak usah khawatir soal mengurus bayi, besok pagi ada baby sitter datang. Urusan gajiannya nanti biar papih dan mamih yang mengatur ".
Tentunya Asrul dan Aletha jadi saling berpandangan, ada rasa kesal tapi tak bisa diucapkan.
__ADS_1
Kalau memang akan ada baby sitter, lalu untuk apa juga Aletha dan bayi mereka tinggal di rumah mertuanya.
Asrul hanya mengurut dada, walau rasa kesal tapi hanya bisa disimpan saja dalam hati.