
Tujuh hari sudah acara tahlilan digelar di kediaman Ibu Kusnadi.
Hari minggu lalu Ibu Kusnadi terjatuh di kamar mandi karena lantainya licin, kakinya yang sudah tua tak mampu menahan licinnya lantai tersebut.
Kakinya terpeleset, melompat ke udara, tubuhnya ikut terangkat ke atas dan kepalanya membentur closet kamar mandi dengan sangat keras.
Darah berceceran, keluar dari hidung, telinga dan bagian belakang kepalanya. Benturan di kepala yang sangat keras itu membuat Ibu Kusnadi seketika itu juga kembali menghadap Sang Khalik.
Rasa bersalah tak akan pernah bisa hilang dari hati dan juga pikiran Asmila maupun Fuad.
"Harusnya Mila selesaikan dulu membersihkan kamar mandi itu. Semua salah Mila, semua salah Mila!!!...," ujar Mila sambil bercucuran air mata kalau mengingat kejadian hari minggu lalu.
"Untung kamu sadar, itulah kamu, dari dulu selalu saja ceroboh hidupnya. Sampai akhirnya gara-gara kamu juga Ibu Kusnadi meninggal," cetus Ibu Jaka kepada Asmila.
"Tapi Mila tak tahu kalau Ibu akan ke kamar mandi saat itu," Asmila berusaha membela diri.
"Ya tapi mana otakmu? ayo mana otakmu? jawab...cepat jawab!!!" Ibu Jaka semakin kesal kepada Asmila.
"Kalau kamu otaknya dipakai, pasti kamu bereskan dulu kamar mandinya. Lalu kalau sudah bersih dari sabun di lantai, kamu mau ngobrol sampai pagi juga tidak akan bikin orang celaka".
Pedas sekali kata-kata Ibu Jaka yang sangat menyesali perbuatan anaknya yang telah menyebabkan besannya meninggal dunia.
"Bu, andai waktu bisa diputar kembali, biar Mila saja yang jatuh dan mati. Mila berdosa kepada Ibu Kus...hu..hu..hu," Asmila terus menangis dan menyesali atas kejadian kehilangan mertuanya.
"Ya memang, lebih baik kamu yang mati. Huh...dari kecil kamu sudah susah diatur, selalu bandel. Untung saja kamu dinikahi oleh Fuad, kalau tidak, siapa juga yang mau menikahimu," Ibu Jaka memarahi Asmila.
Kadang kalau mendengar Ibu Jaka memarahi dirinya, maka Asmila suka bertanya-tanya sendiri. Sebenarnya dia anak tiri atau bukan, sebab ibunya kalau memarahi selalu menusuk ke dalam hati.
"Astagfirullah, bu...jangan begitu dong. Kasihan Mila, dia juga tidak sengaja kok, siapa yang tahu kalau Ibu Kusnadi akan masuk kamar mandi," ujar Asmida berusaha menenangkan ibunya.
Dengan mimik wajah masih terlihat penuh emosi, Ibu Jaka tetap saja menumpahkan kemarahan kepada Asmila.
"Ibu tuh merasa malu, sudah tak bisa punya anak, lalu dia sekarang yang bikin mertuanya meninggal. Ibu kesal tahu!!!".
Ibu Jaka menuding jarinya ke arah Asmila yang sedang tertunduk menangis.
"Mau bilang apa coba kalau ibu ke pengajian, semua orang pasti akan membicarakan dia, iiihhh....jengkel banget!!!".
Ibu Jaka mencubit tangan Asmila, setelah itu menjambak rambut Asmila dan menoyor kepalanya. Hal itu dilakukan karena merasa teramat kesal dan jengkel kepada anak bungsunya itu.
Asmila menjerit dan menangis tapi tak melawan hanya pasrah saja menerima perlakuan ibunya tersebut.
"IBU!!!!....Astagfirullah....sudah bu...sudah cukup," Asmida kaget dan segera melerai ibunya yang terlihat begitu marah kepada adiknya.
"Istighfar bu...istighfar...sudah jangan terbawa emosi, Ibu Kusnadi sudah tenang di sana. Kita di sini jangan ribut, nanti beliau malah akan sedih," ujar Asmida mencoba membuat suasana menjadi tenang.
"Fuad itu menantu yang baik, adikmu belum bisa memberi keturunan, tapi Fuad selalu membelanya. Sekarang ibu kandungnya meninggal gara-gara kelalaian adikmu, coba kamu pikir Mida, akan seperti apa keluarga kita di mata Fuad sekarang," Ibu Jaka menyampaikan kekhawatiran kalau Fuad akan menilai buruk keluarganya.
"Menurut Mida sih Fuad tidak akan berpikir buruk kepada kita semua bu, dia orang yang baik. Hanya tinggal Mila saja yang harus memperbaiki diri, agar jangan sampai Fuad berpikir untuk berpisah dengannya," Asmida mengelus punggung adiknya yang masih menangis.
"Mila, sebaiknya kamu mulai hari ini berubah, jadilah istri yang lebih baik dan cobalah lakukan apa yang pernah almarhumah inginkan," kata Asmida berusaha menasehati adiknya.
Malam itu Asmila masih duduk di kursi teras depan rumah sambil menatap pot bunga dan tanaman yang merupakan hasil buah tangan almarhumah mertuanya.
Ada satu tanaman yang katanya bernilai tinggi dan bahkan pernah ada yang menawar untuk membelinya.
Tanaman daun lidah mertua namanya, entah darimana asal muasal julukan tanaman itu disebut demikian.
Tapi waktu itu mertuanya bersikukuh tidak menjualnya walaupun orang yang mau membeli memberikan penawaran dengan harga yang tinggi.
Asmila mengelus setiap pot bunga dan tanaman di sana, kembali air matanya banjir deras di kedua pipinya.
"Mila, ayo masuk, sudah malam ini," ajak Fuad sambil memegang bahu istrinya.
"Mas, aku sudah berbuat jahat kepadamu, aku yang sudah menghilangkan nyawa ibu. Aku ikhlas bila mas berpikir untuk menceraikanku, dosaku kepada Ibu dan Mas Fuad sudah terlalu banyak," ujar Asmila sambil tersedu-sedu.
"Siapa juga yang mau bercerai, soal kematian ibu itu sudah takdir, sudah suratan dari Yang Kuasa. Aku tak menyalahkan kamu, karena jalan hidup orang sudah ditentukan," sahut Fuad sambil duduk dihadapan Asmila.
"Mila, sudah jangan kamu hiraukan orang mau berkata apa, mungkin kemarin ini juga aku melakukan kesalahan. Aku lupa memberitahu ibu agar jangan ke kamar mandi".
"Saat itu ada pak RT datang dan mengajak berbincang, jadi aku lupa mengatakan kepada ibu agar jangan ke kamar mandi dulu," Fuad ternyata ada rasa bersalah karena dia telah lalai menyampaikan pesan istrinya.
Keduanya berpandangan, lalu Asmila memeluk suaminya dan membenamkan wajahnya ke dada bidang suaminya.
Fuad lalu membalas pelukan istrinya, dan mengelus punggung istrinya.
Dia merasakan bagaimana Asmila begitu terpukul karena dihantui rasa bersalah atas kematian ibunya.
Fuad menguatkan istrinya agar jangan terbawa emosi berlebihan, dan agar selalu yakin kalau Tuhan yang mengatur lahir, hidup dan matinya seseorang.
"Mungkin saja suatu saat aku mati karena tenggelam di laut atau sungai ya mas".
"Dasar kamu itu, mau juga aku yang tenggelam di laut karena kerjaku di tengah laut".
"Masa sih kematian jadi cita-cita, amit-amit mas".
"Loh, yang duluan cita-cita tenggelam di laut siapa?.
Sudah ayo kita tidur, sudah malam ini," kata Fuad sambil mengacak rambut Asmila.
Lalu keduanya segera masuk ke dalam rumah, dan Fuad mengunci semua pintu dan jendela.
"Kalau aku jadi Fuad, pasti sudah aku ceraikan si Asmila, perempuan tak tahu diri," terdengar celoteh dari salah satu ibu-ibu yang tengah berkumpul di Mushola desa.
Seperti biasa dua kali dalam seminggu, menjadi agenda rutin kumpulan pengajian ibu-ibu di lingkungan tempat tinggal keluarga Asmila dan Fuad.
"Iya benar, untung dia bukan menantuku. Amit-amit ih punya menantu kayak dia".
"Fuad itu terlalu baik, sudah jelas Asmila tak bisa memberi keturunan masih dibelanya. Mana sekarang ibunya meninggal gara-gara istrinya juga".
__ADS_1
"Memang Asmila itu sejak kecil kan sudah bikin masalah, coba ingat tidak siapa yang melepaskan kambing pak Haji Darto, kan si Asmila".
"Iya benar, padahal dulu masih kecil masih SD. Dan kalau tak salah dulu tuh kolam lele pak Rahmat juga sama Asmila".
"Benar, aku ingat memang dari dulu anak Ibu Jaka yang satu itu selalu bikin masalah, tak tahunya sampai sekarang dia masih bikin masalah".
Ibu Jaka mendengar semua percakapan itu secara tak sengaja saat hendak masuk
ke dalam Musholla.
Beliau terduduk di balik pintu Musholla, sedih dan kesal perasaan yang saat ini berkecamuk di dalam hatinya.
"Asmila, sumpah aku malu punya anak seperti kamu," Ibu Jaka sesumbar dalam hatinya.
"Eh...ssstttt...kayaknya ada Ibu Jaka baru datang...sssttt!!!".
Semua ibu-ibu grup gibah itu langsung terdiam saat melihat sosok Ibu Jaka memasuki pintu Musholla.
Tak lama Ibu Ustadzah datang, beliau minta maaf datang terlambat karena kebetulan ada tamu dari luar kota.
Lalu semua ibu-ibu yang sudah berkumpul di Musholla bersama-sama membaca ayat suci dan juga mendengar petuah dari Ibu Ustadzah.
Memang benar tugas Ustad atau Ustadzah adalah menuntun orang-orang untuk mengikuti jalan Allah, hanya yang namanya manusia tak bisa seratus persen mendengar dan mengikuti setiap nasehat.
Gibah memburukan orang lain, atau sirik kepada orang sudah menjadi kesenangan yang sulit dihilangkan terutama bagi kaum hawa.
Ibu Jaka selama mendengar penuturan Ibu Ustadzah tak ada satupun ucapannya yang masuk ke dalam hati.
Telinganya seakan tertutup oleh rasa amarah, kesal dan segalanya berkecamuk di dalam hatinya.
Mulut memang terkunci tapi hati bergolak, ingin rasanya memaki setiap orang di ruangan Musholla itu. Dia tak terima kalau anaknya menjadi bahan gunjingan.
Namun dibalik semua ucapan orang banyak, dia juga merasa kesal dan marah luar biasa kepada anaknya.
Rasanya menyesal punya anak Asmila, kenapa Tuhan harus memberi dirinya anak seperti Asmila. Sudahlah sejak kecil selalu membangkang, sekarang malah membuat onar dengan kasus kematian mertuanya.
"Tiyaaaaa, Abil mau jajan dong, ayo sih Tiya," pinta Nabila anaknya Asmida yang paling besar di sore itu.
Tiya adalah kepanjangan dari Aunti Mila, namun anak kecil sulit menyebutnya sehingga yang terucap adalah Tiya dan tentu saja panggilan itu yang dipakai Nabila memanggil adik ibunya.
"Hayuk, mau jajan apa sih Bila?" tanya Asmila kepada keponakan kecilnya.
"Bila pingin ke mini market, pingin jajan es krim. Naik motor Tiya yah, sambil berdiri di depan," anak kecil itu mengajukan permintaannya kepada Asmila.
Nabila segera naik ke atas motor dan mengambil posisi berdiri sambil berpegangan pada setang motor.
"Bila, mau kemana ?" tanya Asmida saat melihat anaknya sudah berdiri di atas motor adiknya.
"Bunda, Bila mau jajan es krim sama Tiya," Nabila menjawab pertanyaan ibunya.
"Iya Kak Mida, barusan Bila pingin es krim, jadi mau aku bawa ke mini market depan," Asmila juga memberitahukan keinginan Nabila kepada kakaknya.
"Ya, hati-hati yah, Nabila jajan es krim saja yah. Setelah itu segera pulang," ujar Asmida mewanti-wanti.
Nabila memilih es krim coklat, dan anak itu begitu gembira melahap es krim itu sambil duduk di depan mini market tersebut.
Setelah selesai es krim, anak itu minta berkeliling dulu sebelum pulang ke rumah.
Saat mengendarai sepeda motor dengan santai, tiba-tiba ada sebuah sepeda motor dari arah belakang melaju dengan kencang sekali.
Sepeda motor itu berusaha menyalip sepeda motor yang sedang dikendarai oleh Asmila, namun dari arah berlawanan ada sebuah mobil yang juga melaju kencang.
Sepeda motor itu berusaha menghindari mobil itu, sehingga menyenggol sepeda motor Asmila.
Tak ayal, Asmila kehilangan keseimbangan sehingga sepeda motor yang dikendarainya terjatuh.
Sialnya Nabila terlempar ke sisi jalan terguling-guling dan tubuhnya tentu saja terluka.
Asmila yang sama-sama terjatuh dengan kaki kirinya tergencet motor, segera berusaha membebaskan kakinya. Untung saja orang sekitar segera membantunya, sementara sepeda motor yang menyenggolnya segera kabur tanpa peduli dengan kondisi Asmila.
Setelah kaki Asmila bebas, sambil menahan sakit dan terpincang-pincang dia segera mendekati keponakannya yang menangis menjerit-jerit.
Kaki, tangan dan sebagian wajahnya terluka dan darahnya berceceran.
Asmila segera menelepon kakaknya," Kak Mida, tolong kami jatuh di jalan dekat pasar. Nabila terluka parah".
Tentu saja Asmida panik dan segera berlari ke jalan depan mencari suaminya.
Hastomo suaminya Asmida adalah seorang penjual nasi pecel lele, ayam goreng dan sejenisnya yang biasa mangkal di pinggir jalan di dekat ujung jalan perumahan tersebut.
Sore itu Hastomo sedang mempersiapkan jualannya, karena seperti biasa dia berjualan dari sore hari sampai menjelang tengah malam.
"Mas Tomo!!!!".
Tentu saja Hastomo terkejut melihat istrinya berlari sambil berteriak memanggil namanya.
"Mas...Nabila, mas Nabila".
"Ada apa? kenapa Nabila?" tanya Hastomo saat melihat istrinya panik.
"Nabila jatuh dari motornya Asmila, mereka sekarang ada di dekat pasar," jawab Asmida sambil menangis.
"Astagfirullah, hayuk cepat kesana," tanpa pikir panjang lagi Hastomo segera meraih sepeda motornya dan membonceng istrinya mencari anak dan adik iparnya.
Hastomo melaju kencang, hati dan pikirannya tak menentu, tentu saja kondisi anaknya yang menjadi pikirannya.
Tak lama dia melihat orang berkerumun, dan segera saja Hastomo menuju ke arah kerumunan tersebut.
Asmida segera terjun dari jok belakang dan segera menghambur melihat kondisi anaknya.
__ADS_1
"Bundaaaaa!!!! Bundaaaa!!!".
Asmida segera memeluk anaknya, Hastomo juga langsung menghampiri anaknya setelah memarkirkan sepeda motornya.
"Ayo, kita ke PUSKESMAS" kata Hastomo sambil segera memangku anaknya yang masih menangis kesakitan karena luka di tubuhnya.
Asmida memeluk anaknya ketika duduk di jok belakang motor, lalu Hastomo segera membawa anaknya menuju PUSKEMAS terdekat.
Asmila mengucapkan terima kasih kepada orang-orang sekitar yang telah menolongnya, setelah itu dia beranjak naik sepeda motor menyusul kakaknya ke PUSKESMAS.
"Mida kemana yah, ini Ardan menangis terus," Pak Jaka sedang menggendong Ardan cucunya yang masih bayi anak keduanya Asmida.
"Ya Allah, kenapa Ardan menangis terus? kemana Mida?"tanya Ibu Jaka saat baru tiba ke rumah sepulang dari pengajian.
"Justru barusan bapak dengar Ardan menangis, jadi bapak tengok ke kamarnya Mida. Dan anak ini sendirian, bapak tak tahu Mida kemana," sahut Pak Jaka yang kebingungan juga karena cucunya terus menangis mencari ibunya.
Ibu Jaka berusaha menenangkan sang cucu, mengajak melihat mainan atau memberinya makanan.
Tapi memang bayi berusia delapan belas bulan itu terus menangis walau neneknya sudah berusaha mengalihkan perhatian anak kecil itu.
Tak lama Hastomo datang, dan di belakang sepeda motornya tampak Asmida sedang menggendong Nabila.
"Kamu darimana Mida, ini anakmu nangis terus," Ibu Jaka langsung saja bertanya saat anak dan menantunya tiba.
Tapi belum sempat Asmida menjawab, Ibu Jaka terkejut. melihat Nabila yang wajah dan sekujur tubuhnya penuh luka.
"Tadi sore Nabila pergi dengan Mila naik motor, mereka ke mini market. Lalu pulangnya Nabila pingin jalan-jalan dulu. Tak tahunya mereka tak sengaja di senggol motor lain yang mengebut," Hastomo dengan tenang menjelaskan kepada kedua mertuanya.
"Waduh Asmila yah, benar dia itu membawa sial. Awas biar aku marahi dia!!!" Ibu Jaka langsung saja bagai dibakar api membara ingin melabrak Asmila.
"Sudah bu, sudah, Asmila juga luka kakinya. Tadi yang telah membayar pengobatan Nabila juga dia kok. Biarkan Mila di rumahnya istirahat," Hastomo berusaha menenangkan mertuanya.
"Tomo, kamu itu tahu apa, jelas dia itu selalu membuat masalah selama ini".
"Ya, Tomo paham bu, tapi sudah. Ini sudah malam, Nabila juga masih kesakitan. Sepertinya dia akan senang kalau ditemani neneknya".
Ibu Jaka menghela nafas kesal, tapi benar juga apa kata Hastomo, cucunya saat ini terlihat masih menangis. Sementara Asmida juga repot dengan Ardan anak keduanya.
Lalu Ibu Jaka segera beranjak menemani Nabila, karena Asmida juga tampak repot dengan anak keduanya.
"Lalu Nabila bagaimana sekarang?" tanya Fuad ketika istrinya menelepon dirinya memberi kabar kalau baru saja terjatuh dari motor karena di senggol motor lain.
"Nabila sudah di rumah, tadi segera kami bawa ke PUSKESMAS. Sekarang sudah di rumah, nanti setelah mandi aku akan ke seberang," jawab Asmila sambil meringis menahan sakit karena luka di dengkulnya.
"Ya sudah, nanti aku telepon mas Tomo minta maaf, dan kamu juga nanti setelah mandi segera obati lagi lukanya," kata Fuad diakhir pembicaraan dengan istrinya.
Setelah mandi dan mengobati luka di dengkul kaki kirinya, Asmila segera mengunci pintu rumah dan menyeberang jalan menuju ke rumah orang tuanya.
Pikirannya tertuju kepada keponakannya yang terluka parah, dia juga merasa sangat bersalah karena tidak bisa menahan keponakannya agar tidak terjungkal.
Baru saja kakinya menapak di pintu depan rumah orang tuanya, maka sedetik kemudian terdengar kalimat-kalimat menyakitkan keluar dari mulut ibunya.
"Kamu belum puas membunuh mertua sendiri, sekarang mau mengorbankan keponakan juga...terlalu kamu," Ibu Jaka berkata setajam itu sambil tangan kanannya melayang ke pipi Asmila.
"Bu, sudah cukup. Sudah, sudah, kamu mau apa kemari Mila. Sudah sana pulang, Nabila sudah tidur. Sana kamu pulang jangan membuat ibumu semakin marah," Pak Jaka segera menghentikan kemarahan istrinya dengan mengusir Mila untung pulang ke rumah suaminya.
Tanpa bicara apapun Asmila segera pergi meninggalkan rumah orang tuanya, pipinya terasa panas karena tangan ibunya tadi mendarat keras di sana.
Namun perih di pipi tak bisa mengalahkan rasa perih di hati. Jelas hatinya terasa bagai diiris sembilu tajam karena ibu kandungnya semakin hari seakan semakin membencinya.
"Fuad minta maaf kalau Asmila sudah membuat masalah kemarin," ujar Fuad dihadapan kedua mertuanya dan juga kedua kakak iparnya.
"Namanya juga musibah, lagipula Asmila memang tak sengaja disenggol motor lain yang mengebut," sahut Hastomo yang selalu tenang.
"Masalahnya bukan tak sengajanya, tapi si Mila memang dari dulu selalu saja bikin masalah. Kesal aku sama dia," Ibu Jaka menyela dengan berapi-api.
"Bu, bagaimana juga Asmila itu anak kita. Janganlah ibu terlalu keras sama dia. Kejadian kemarin kan musibah, lagipula Hastomo dan Asmida sama sekali tidak mempermasalahkan," Pak Jaka mencoba menyadarkan istrinya.
"Ya benar, dia anak kita. Tapi coba bapak ingat-ingat, dari kecil dia itu selalu bikin masalah. Bahkan terkenal dia itu anak perempuan tapi selalu bikin onar. Entah melepaskan kambing orang, memecahkan akuarium di rumah orang, bahkan dulu waktu Pak Kusnadi masih ada. Itu ayam peliharaannya lepas semua. Kamu juga pasti ingat bukan, nak Fuad?" Ibu Jaka terus menyerocos membahas soal Asmila.
Fuad tentu saja ingat, waktu kecil dulu dia harus mengejar ayam peliharaan ayahnya yang terlepas semua dari kandang.
Ketika itu Asmila tengah berlari menghindari sapu lidi ibunya, seperti biasa dia selalu bersembunyi di belakang kandang ayam milik Pak Kusnadi.
Entah bagaimana bisa, Asmila tiba-tiba merobohkan kandang ayam itu sehingga semua ayam lepas berhamburan.
Rupanya dia berusaha naik ke atas pohon dengan cara menaiki atap kandang ayam, tapi mungkin kayu atap kandang sudah lapuk sehingga kakinya terjerembab ke dalam kandang. Ketika berusaha melepaskan kakinya, kandang ayamnya terguling dan roboh berantakan.
Tapi Asmila kecil ketika itu bertanggung jawab, dia membantu Fuad mengejar ayam satu per satu lalu dimasukan ke dalam kurungan sementara.
"Sungguh ibu lelah melihat dia, selalu ada saja masalah kalau dengan dia itu. Sampai ibumu harus meninggal akibat perbuatan Asmila yang teledor," Ibu Jaka melanjutkan kekesalannya kepada Asmila.
"Bu, almarhumah ibu saya sudah tenang di sana. Beliau meninggal dengan cara itu mungkin sudah takdir. Saya pribadi juga mungkin ikut andil saat kejadian kemarin, karena saya lupa menyampaikan pesan Mila agar Ibu jangan dulu ke kamar mandi," Fuad dengan bijak menjelaskan kepada ibu mertuanya.
"Nak Fuad dari dulu memang selalu baik, selalu membela dia. Tapi memang nyatanya dia itu selalu bikin masalah. Ada saja urusan yang tidak benar dengan dia".
Ibu Jaka menghela nafas panjang, lalu dengan lantang beliau berkata," Ibu menyesal punya anak dia, kayaknya kalau suatu saat Asmila mati duluan akan lebih baik. Ibu sudah tak sudi melihat dia lagi".
"Hus...Astagfirullah...eling bu, nyebut. Ibu sudah berlebihan," Pak Jaka terperanjat saat mendengar istrinya berkata demikian.
Bukan saja Pak Jaka, tapi semua yang ada di ruangan itu. Fuad, Hastomo dan juga Asmida yang sejak tadi tidak ikut menimbrung karena sedang sibuk menyuapi kedua anaknya.
Rupanya Ibu Jaka lupa kalau ucapan seorang ibu itu adalah doa, pantang seorang ibu berucap sesuatu kepada anaknya.
Seburuk apapun prilaku seorang anak seharusnya didoakan oleh ibunya agar kelak bisa berubah, bukan di beri sumpah serapah seperti itu.
Fuad sangat menyesali ucapan mertuanya, tapi tak mungkin juga dia berkata apa-apa.
Sifat Ibu Jaka memang terkenal emosional, kadang suka berbuat atau berucap yang di luar nalar.
__ADS_1
"Sabar yah Fuad, kamu paham bukan bagaimana sifat mertua kita," ujar Hastomo sambil menepuk bahu Fuad ketika akan Fuad akan berpamitan.
Fuad hanya senyum sambil menganggukan kepala, lalu pamit pulang.